NovelToon NovelToon

The Kings And The Woman

Bab-1

Di balik jendela kaca besar yang menghadap taman luas, Selene Callista Ravenshire duduk dengan anggun di kursi berlapis beludru. Teh chamomile di tangannya mengeluarkan aroma lembut, sementara buku filsafat Yunani terbuka di pangkuannya. Namun, matanya yang biru seperti lautan tidak benar-benar fokus pada tulisan di halaman itu.

Sudah satu tahun sejak ia memutuskan pensiun dari istana Inggris. Sebagai wanita termuda yang pernah menjadi penasihat kerajaan, hidupnya dulu penuh dengan intrik, diplomasi, dan keputusan-keputusan besar.

Selene cerdas, logis, dan dingin seperti es di musim dingin Inggris. Orang-orang sering menggambarkannya sebagai wanita tak tersentuh—tidak mudah tersenyum, tidak mudah terpengaruh, dan tidak tertarik pada hal-hal yang dianggap remeh.

Satu-satunya hal yang masih menarik perhatiannya adalah pengetahuan. Sejak kecil, dia terobsesi dengan sejarah, filsafat, dan peradaban kuno. Terutama kebudayaan Yunani dan Timur Tengah yang penuh dengan legenda serta misteri.

Meski begitu, setelah pensiun, ia memilih kehidupan yang jauh dari hiruk-pikuk istana. Hari-harinya dihabiskan dengan membaca, berjalan di taman pribadi miliknya, dan sesekali menulis jurnal refleksi.

Namun, hidup tenang itu tampaknya tidak akan bertahan lama.

Di atas meja di sampingnya, bel berdenting pelan. Salah satu pelayan pribadinya masuk dan membungkuk sopan.

“Nona, ada telepon dari Lady Cassandra Beaumont.”

Selene meletakkan bukunya, mengambil telepon, dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Cassandra,” sapanya dengan nada datar.

"Selene, kau benar-benar terisolasi di mansion mewahmu. Aku hampir mengira kau sudah menjadi pertapa."

Selene mendengus pelan. "Apa yang kau inginkan?"

"Aku ingin mengundangmu ke rumahku. Aku baru saja mendapat koleksi artefak baru. Kau akan menyukainya, aku yakin."

"Aku tidak mengoleksi benda antik."

"Tapi kau menyukai sejarah."

Selene terdiam sejenak. Cassandra memang mengenalnya dengan baik.

"Baiklah," jawabnya akhirnya. "Aku akan datang."

Esok harinya, Selene tiba di kediaman Cassandra, sebuah rumah besar bergaya Victoria dengan taman yang dipenuhi mawar merah.

Mereka menikmati teh di taman sebelum akhirnya Cassandra mengajaknya ke sebuah ruangan tersembunyi di lantai dua.

Saat pintu besar terbuka, Selene disambut oleh pemandangan ratusan artefak kuno—patung Mesir, perhiasan Babilonia, pedang dari Timur Tengah, dan gulungan papirus.

"Aku baru saja mendapat koleksi ini dari Timur," Cassandra menjelaskan dengan penuh semangat. "Beberapa ditemukan di reruntuhan kota yang hilang."

Selene melangkah dengan hati-hati, matanya mengamati benda-benda itu dengan ketertarikan yang tidak bisa disembunyikan. Meski ia bukan kolektor, ada sesuatu dalam ruangan ini yang membuatnya ingin menyelidikinya lebih jauh.

“Ambil satu sebagai hadiah,” kata Cassandra tiba-tiba.

Selene menghela napas. “Aku tidak tertarik.”

"Ayolah, pilih satu. Aku ingin tahu seleramu."

Dengan malas, Selene menyusuri ruangan. Matanya akhirnya tertarik pada sebuah cincin emas dengan ukiran aneh dan batu safir biru di tengahnya.

“Ini menarik.”

"Oh, itu ditemukan di Hattusa, ibukota Kekaisaran Hittite."

“Cincin yang bagus,” Cassandra mengangguk puas. “Aku menemukannya di reruntuhan Hattusa. Konon, itu milik seorang putri yang menghilang secara misterius.”

Selene mengangkat alis, tetapi tidak terlalu memikirkan cerita itu. Dia menyelipkan cincin itu ke jarinya—dan segalanya berubah.

Beberapa hari setelah kunjungannya ke rumah Cassandra, Selene menerima undangan pesta dari seorang bangsawan. Tema pesta itu aneh—semua tamu harus mengenakan pakaian bergaya kuno.

Selene hampir menolak, tetapi akhirnya ia datang, mengenakan gaun putih panjang ala wanita Yunani dengan aksesori emas.

Di pesta itu, para tamu berbincang tentang politik, seni, dan sejarah. Namun, Selene cepat merasa bosan.

Setelah beberapa jam, ia akhirnya mencari tempat sepi untuk beristirahat.

Selene Callista Ravenshire berdiri di dekat balkon, memandang bintang-bintang dengan tatapan kosong.

Gaun sutra keemasan yang membalut tubuhnya begitu anggun, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan cara yang tidak berlebihan. Rambut biru tergerai lembut, kilauannya memantulkan cahaya lilin yang memenuhi ruangan.

Dia menggunakan pewarna di rambut nya, meskipun begitu seluruh bangsawan masih mengenal, mengenal mata indah itu.

Para pria terpikat olehnya, tetapi tak satu pun berani mendekati wanita dengan sorot mata sedingin es itu.

"Kau terlihat bosan," suara seorang wanita menyela pikirannya.

Selene menoleh dan mendapati Cassandra, teman lamanya, berdiri di sampingnya dengan segelas anggur.

"Aku memang bosan," jawab Selene tanpa basa-basi.

"Kalau begitu, mungkin aku bisa membuat malam ini lebih menarik." Cassandra tersenyum penuh arti dan mengangkat tangannya, menunjukkan sebuah cincin berwarna emas dengan ukiran unik.

Selene mengernyit. Itu adalah cincin yang tadi siang ia ambil dari koleksi Cassandra—hanya karena temannya memaksanya memilih satu benda.

"Cincinnya cocok sekali denganmu," ujar Cassandra sambil menyesap anggurnya. "Seolah dibuat khusus untukmu."

"Ah.. Setelah dipikir-pikir,para bangsawan itu masih bisa mengenali mu meskipun kau menggunakan rambut palsu dan...itu terasa asli."dia menyentuh rambut milik selene.

"hm... rambut palsu?ini pewarna rambut..mungkin akan hilang sekitar satu bulan...ah, terimakasih untuk salon di depan universitas Cambridge..."dia berbicara sambil melihat cincin itu

"Asli...? memang sampai seperti itu kau harus melakukan nya?."dia menatap Selena dengan kebingungan dan terkejut.

"memang nya, kenapa?aku ingin menggunakan Penampilan baru.."balas nya melirik Cassandra.

Gila

Penampilan baru?

Apakah dia tidak tahu, seluruh bangsawan di inggris ini terobsesi dengan nya karena penampilan nya yang begitu indah

Rambut emas khas Inggris tapi karena berdarah Yunani, rambut nya semakin indah,seakan akan sungai emas ,mata biru yang indah, bijaksana tapi juga sedingin es.

para wanita mencoba meniru penampilan nya meskipun tidak bisa.

Tapi-dia seakan akan bosan.

Ha.

Selene tetap Selene ya...

"mau bagaimana penampilan mu,semua orang akan tetap terpesona." dia mengangkat bahu nya

Selene tidak menanggapi. Ia menatap cincin di jarinya. Ada sesuatu yang aneh...

"hm.."

"ada apa?."kata temannya menghisap secangkir anggur

Selene membuka cincin di jari nya dan mengarahkan nya ke arah bulan di atas balkon seakan akan menerawang nya,"harus ku akui cincin ini indah.."

"Apa?."

"Pfftt apa ini? teman ku lene  tiba tiba mengatakan hal yang aneh..."kata nya, tertawa kecil, selene menatap nya dengan datar,dia menurunkan cicin nya dan bersandar di balkon nya,"lebih baik keluar dari balkon ini."kata nya menatap tajam

Teman nya itu hanya tertawa dan mengusap air mata nya dan berkata,"Baiklah... aku akan mematuhi perintah dari Selena Calista Ravenshire..."dia memegang bahu Selena dan meminum seteguk anggur itu dan pergi.

Sepasang mata itu menatap punggung wanita itu dengan tatapan kesal dan kedua tangan Selena menopang di dinding balkon sambil menggenggam cincin itu,saat dia mengarah kan cincin itu ke arah punggung teman nya itu,dia melihat sebuah tulisan aneh,"eh... Cassandra... apakah cincin ini ada tulisan?."kata nya

Cassandra menoleh dan mengangkat alis nya,"tulisan?itu tidak mungkin..aku sudah memeriksa semua barang barang ku,tidak terkecuali cincin itu,dan kau-kau hanya suka sejarah,kau tidak mungkin menyadari itu adalah tulisan,kau akan mengatakan "oh ukiran?." Kau akan mengatakan itu,lagian memang nya ada tulisan yang bisa di ukir dengan cincin sekecil itu?."kata nya, menatap Selena yang melihat cincin itu.

"Begitu kah? Berarti aku sedang berhalusinasi.."kata nya menyentuh kening nya.

Teman nya menarik sudut bibir nya dan tersenyum lembut,dia berbalik dan melambaikan tangan nya,"Astaga... Selena wanita cantik dan bangsawan berpengaruh bisa berhalusinasi yang bahkan kehadirannya saja di tunggu tunggu? apakah matahari terbit dari Utara?."kata nya pergi Menuju ballroom

Selena mengerutkan keningnya dan mengenakan cincin nya,dia menghela nafas nya dengan berat dan memainkan rambut nya,"cih.Aku juga Manusia, tahu."kata nya berjalan menuju ballroom menyusul teman nya.

Sebuah sensasi dingin menjalar ke ujung jarinya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Kenapa perasaannya tidak enak?

Perlahan, ia mencoba melepas cincin itu dari jarinya...

Namun, begitu jari-jarinya mengendur—

Denyut.

Angin kencang tiba-tiba berhembus, mengguncang seluruh balkon.

"Apa—"

Dunia di sekitarnya berputar. Langit, bintang-bintang, bangunan... semuanya memudar dalam sekejap.

Selene jatuh.

Dan semuanya menjadi gelap.

Bab-2

Angin dingin membelai wajahnya.

Perlahan, Selene membuka matanya.

Tapi ini bukan mansion Montclair.

Alih-alih balkon dengan pemandangan kota, ia berdiri di tengah hutan yang sunyi. Cahaya bulan memantul di permukaan danau yang luas di hadapannya, menciptakan pemandangan yang tidak seharusnya ada di zamannya.

Apa yang terjadi?

Ia menunduk. Gaun emasnya masih melekat di tubuhnya, sutranya terasa nyata di kulit.

Sialan

Hm?

Dia melihat danau yang memancarkan wajah nya di atas air,mata nya tertegun, penampilan yang begitu familiar, Sangat muda,seakan akan-

"apa ini?Kenapa aku kembali ke umur-17 Tahun?."dia menyentuh wajah nya dan mata nya tertegun, ekspresi wajah nya begitu kejut,panik dan nafas nya seperti akan meledak.

Pikirannya berputar cepat.

Tidak mungkin ini mimpi. Tidak mungkin ilusi.

Selene menyentuh cincin di jarinya, matanya menelusuri ukiran aneh yang sebelumnya ia lihat di balkon. Apakah benda ini yang membawanya ke sini?

Tidak ada penjelasan ilmiah untuk ini. Tetapi sebagai seorang penasihat kerajaan, ia tahu satu hal: jika sebuah situasi tidak bisa dijelaskan, maka yang harus dilakukan adalah beradaptasi.

Tarik napas. Kendalikan diri. Analisis keadaan.

Langkah pertama: di mana ini?

Langkah kedua: apakah tempat ini berbahaya?

Langkah ketiga: siapa yang bisa dia percayai?

Langkah keempat:Kenapa aku berubah di umur ku-17 tahun?

Sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, ia mendengar suara langkah kaki dari belakang.

Jantungnya mencelos.

Dengan cepat, ia berbalik.

Dan di bawah sinar bulan, dia melihatnya.

Seorang remaja muda, seperti berumur 16 tahun berdiri di antara pepohonan.

Rambut biru kehitaman pekat tergerai hingga bahunya, mata gelapnya menatapnya dengan keheranan.

Jubah biru tua yang dikenakannya menunjukkan statusnya-bukan rakyat biasa. Pedang perunggu yang tergantung di pinggangnya berkilauan dalam cahaya redup.

Tatapan mereka bertemu.

Sejenak, hanya ada keheningan.

Pria itu tidak bergerak, tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Selene-seolah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini.

Tapi bukan hanya keterkejutan yang tampak di wajahnya.

Ada sesuatu yang lain.

Kekaguman.

Dia ingin bertanya, ingin mendekat, tetapi lidahnya terasa kelu.

Siapa wanita ini?

Dan kenapa... dia tidak bisa mengalihkan pandangannya?

Gaun satin berwarna biru gelapnya memeluk tubuhnya dengan sempurna, menampilkan keanggunan yang sepadan dengan kecantikannya. Rambut biru panjang yang indah , seperti langit membentang di bawah rambut nya dan berkilauan di bawah cahaya bulan.

Dia tidak tahu siapa gadis ini. Tapi yang pasti, dia belum pernah melihat seseorang seindah ini dalam hidupnya.

Dan tanpa dia sadari, hatinya yang selalu tenang mulai bergetar untuk pertama kalinya.

yang lembut, menciptakan bayangan perak di atas permukaan air yang tenang. Hutan di sekelilingnya sunyi, hanya suara angin yang berbisik lembut di antara dedaunan.

Selene Calista Ravenshire berdiri di tepi danau, gaunnya yang elegan masih sedikit berdebu karena tanah hutan yang lembap. Tapi itu bukan hal yang dia pikirkan saat ini.

Sepasang mata birunya menatap pria di depannya-sang pangeran Hittite yang muncul dari balik pepohonan.

Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.

Dia tidak mengenal pria ini, tidak memahami mengapa dirinya ada di tempat asing ini. Tapi tatapan mereka bertemu-mata gelap pangeran itu yang penuh misteri dan keheningan, bertabrakan dengan mata birunya yang jernih dan menusuk.

Selene terbungkam.

Dia tidak berbicara, tidak bergerak. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Entah karena keterkejutan atau karena sesuatu yang lain.

Tanpa sepatah kata pun, dia memalingkan wajahnya dan berbalik, meninggalkan pria itu begitu saja. Langkahnya ringan, hampir tanpa suara, seperti bayangan yang menghilang di bawah sinar bulan.

Namun, pangeran itu tidak mengalihkan pandangannya dari sosoknya.

Aku tidak tahu aku Dimana...

Aku harus tenang

Pakaian yang aneh

Pertama aku harus memperhatikan hal di sekitar ku,lebih dari itu aku harus bertahan hidup.

Pangeran Hittite itu tetap berdiri di tempatnya, matanya masih mengikuti langkah Selene yang semakin menjauh. Rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih dalam-sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan-menggerakkan kakinya untuk maju.

Tanpa pikir panjang, dia mengikuti wanita asing itu.

Selene berjalan cepat, hampir seperti berlari kecil, meskipun tetap mempertahankan keanggunannya. Gaunnya yang panjang sedikit menghalangi gerakannya, tetapi dia tidak peduli. Dia tidak tahu di mana dia berada, siapa pria itu, atau bagaimana bisa terdampar di dunia ini. Yang dia tahu hanyalah instingnya-bahwa dia harus pergi dari sana.

Namun, suara langkah kaki yang mengikuti di belakangnya membuatnya sadar bahwa dia tidak sendirian.

Selene mempercepat langkahnya, tetapi pangeran itu juga melakukannya.

Akhirnya, saat jarak mereka semakin dekat, pangeran itu berbicara untuk pertama kalinya, suaranya rendah tetapi penuh kewibawaan.

"Berhenti."

Selene mengabaikannya.

"Aku tidak tahu siapa kau, tetapi kau tidak bisa berlari di dalam hutan ini sendirian."

Dia masih tidak menjawab, masih terus melangkah, berharap bisa menemukan tempat untuk bersembunyi atau sekadar menjauh dari pria itu.

Namun, dia tidak memperhitungkan akar pohon besar yang mencuat dari tanah.

Langkahnya tersandung.

Selene hampir jatuh, tetapi dalam sekejap, sepasang tangan kuat menangkap pergelangan tangannya dan menariknya dengan cepat.

Tubuhnya terhenti dalam satu tarikan halus, membuatnya berdiri hanya beberapa inci dari pria itu. Nafasnya tercekat, dan untuk pertama kalinya, dia melihat wajahnya lebih dekat-rahangnya yang tegas, tatapan gelap yang menusuk, dan sedikit ketegangan di wajahnya.

"Sudah kubilang, berhenti."

Selene mengangkat kepalanya, menatap pangeran itu dengan sorot mata tajamnya, menyembunyikan rasa panik yang mulai muncul di dadanya.

"Lepaskan aku." Suaranya datar, tenang, penuh wibawa-seperti seorang penasihat kerajaan yang terbiasa memberi perintah.

Pangeran itu menatapnya sejenak, seolah menilai keberanian dan ketenangan yang jarang ia lihat dalam diri seorang wanita. Lalu, perlahan, dia melepaskan pergelangan tangan Selene.

Bab-3

Matanya yang biru tetap menatap tajam, menyelidik, mencoba membaca ekspresi pangeran muda di hadapannya.

Pangeran itu juga tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat. Hanya ada kesunyian di antara mereka, diiringi gemerisik daun dan suara angin yang berbisik lembut di antara pepohonan.

Setelah beberapa detik yang terasa begitu panjang, pangeran itu akhirnya melepaskan napas perlahan.

"Dari mana asal mu?."kata nya

Selena Menaiki alis nya dan melepaskan dirinya,dia berbalik pergi, pangeran itu yang sangat aneh itu mengerutkan keningnya,"Hei! kau tidak mendengar kan ku?!."

Tidak ada respon.

"Siapa nama mu?."

Tidak ada respon

"Kenapa pakaian mu sangat aneh?."

Tidak ada respon

Selena tidak merespon setiap perkataan nya,dia menimbang nimbang situasi nya, pakaian, bahasa, penampilan, lokasi semua nya,dia menimbang nya.

"Langkah pertama,aku harus tahu dimana ini..."kata batin nya.

Pria muda itu menarik tangan Selena dan berkata,"Hei! kenapa kau tidak menjawab ku!?."dia Menaiki suara nya dan menatap nya,"dari mana asal mu?."

Selena Menatap mata pria itu dan terdiam sejenak.

Benar juga.

Aku lupa .

"Ya,Aku tersesat."jawab nya tenang melepaskan tangan yang di tarik oleh nya, sepasang mata dalam dan misterius itu menatap nya,"Kau tersesat?kenapa kau tidak ikut dengan ku?."

Selene menegang. "Dan kenapa aku harus ikut dengan seseorang yang bahkan tidak kukenal?"

Pangeran itu menyipitkan mata, seperti menimbang sesuatu dalam benaknya.

"Jika kau memang tersesat, maka kau seharusnya ikut denganku."

Mata selena menatap pria itu dan berkata dengan nada rendah,"Apa hubungan nya aku yang tersesat dan ikut dengan mu?."tanya nya.

"Karena di luar sana lebih berbahaya daripada yang kau kira," jawabnya singkat.

Pangeran itu mendekat selangkah, cukup dekat sehingga Selene bisa mencium samar aroma kayu dan dedaunan dari pakaiannya. Dia tidak menunjukkan ancaman, tetapi juga tidak menawarkan kenyamanan.

"Siapa namamu?" tanyanya lagi.

Selene tidak langsung menjawab.

"aku tidak mau memberitahukan nama ku.."kata nya,berjalan pergi

Pria itu menatap ke tanah dan berjalan menghalangi Selena,"Nama ku,Hattusili... bagaimana dirimu,nona?."kata nya menyentuh rambut kuning keemasan milik Selena.

Hattusili.....

Itu....nama raja Hittie

Ayahnya adalah muwatali II

Pangeran dari Kerajaan Hittie, kerajaan yang bisa menyaingi Mesir dan musuh Mesir yang abadi.

Apakah aku... terlempar di tanah Hittie....

Ah.

Ini sungguh gila....

Dia terdiam dan bibirnya sejenak terbungkam,dia kembali sadar dan menyampingkan segala emosi yang ada.

"Nesharra," ucapnya akhirnya, membiarkan nama itu mengalir begitu saja dari bibirnya.

Pangeran itu menatapnya lebih lama kali ini, seolah menyimpan nama itu di dalam ingatannya.

Lalu, untuk pertama kalinya, sudut bibirnya terangkat sedikit—bukan senyuman penuh, tetapi cukup untuk menunjukkan ketertarikannya.

"Nesharra....," katanya perlahan,"Itu indah...."dia mencium rambut Selena dengan lembut.

Selena tetap diam, tak bergerak sedikit pun saat Hattusili mencium rambutnya. Matanya yang biru menatap pria muda di depannya tanpa ekspresi, seolah mencoba menimbang situasi yang baru saja terjadi.

Hattusili mundur sedikit, memperhatikan reaksi Selena—atau yang sekarang telah ia kenal sebagai Nesharra. Bibirnya masih melengkung samar, namun sorot matanya dipenuhi ketertarikan yang sulit dibaca.

"Nesharra... ikutlah dengan ku..."dia menatap Nesharra dengan tegas

"Jika kau benar-benar tersesat," katanya, "maka kau membutuhkan perlindungan."

Sepasang mata biru milik Selena bertemu dengan mata hitam pekat Hattusili. Dalam sepersekian detik itu, Selena menyadari satu hal—

Dia baru saja menarik perhatian pria yang kelak menjadi salah satu penguasa paling berbahaya di zamannya.

Dari balik pepohonan, seorang pria tiba-tiba muncul.

Dia tinggi, mengenakan jubah gelap yang berdebu, dan matanya tajam seperti elang. Ada sesuatu dalam cara dia berjalan—tenang, penuh perhitungan, seolah setiap gerakannya telah dipikirkan sebelumnya.

Selena langsung merasa ada yang aneh.

Hattusili mengerutkan keningnya begitu melihat pria itu.

"Kau," katanya, suaranya datar, tetapi ada ketegangan di dalamnya.

Pria itu menyilangkan tangan di dada. "Pangeran Hattusili, aku harus berbicara denganmu. Sekarang."

Hattusili mendengus pelan, tampak tidak menyukai gangguan ini. Dia menoleh ke Selena. "Tunggu di sini. Aku tidak akan lama."

Selena menatapnya sebentar, lalu berpura-pura menurut.Dia tidak tahu siapa pria itu, tetapi tatapan dan nada bicaranya membuatnya yakin bahwa pembicaraan mereka penting. Jika dia tetap di sini, dia bisa terseret dalam urusan yang bukan miliknya.

Langkahnya semakin cepat. Dia menunduk, menyelinap di antara pepohonan, berusaha menjauh sejauh mungkin sebelum Hattusili menyadari kepergiannya.

Angin malam berhembus, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Hattusili baru saja hendak berbicara dengan pria misterius itu ketika sesuatu di ujung penglihatannya menarik perhatiannya.

Sekilas, ia melihat gaun Selena bergerak di antara pepohonan, anggun seperti bayangan yang menghilang ke dalam gelapnya malam.

Matanya membelalak.

Dia pergi?

Dalam sekejap, ketertarikannya pada percakapan ini memudar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!