" sayanggggggggggggg" senyum ku merekah mendengar suara tersebut memanggil ku dengan sebutan sayang
" Andra " tentu aku menyambut pelukan hangat dari nya
" Kamu dari mana aja sih, lama banget tau " ujar ku mengeluh kepada pria sederhana yang ada di depan ku ini
" Maaf sayang, tadi ada pelanggan yang buru buru jadi aku harus memperbaiki motor nya yang bocor terlebih dahulu" Kekasih ku Andra , laki laki yang sederhana namun mampu membuat hati ku bergetar. Andra Memiliki sebuah bengkel motor warisan dari almarhum ayah nya . Memang dia tidak sekaya raya suami mbak Adila mas Vano yang di puji puji oleh papa mama tapi tanggung jawab dan kasih sayang nya tulus kepada ku
Oh ya aku Arabela, gadis dua puluh empat tahun yang baru saja menyelesaikan gelar sarjana di salah satu perguruan tinggi no satu di negeri ini. Aku masih menikmati indahnya jadi pengangguran bukan nya tidak ada pekerja an yang menerima ku, mas Vano sudah menawarkan untuk bekerja di perusahaan nya namun aku menolak karena enggan satu kantor dengan suami Kaka ku sendiri mbak Adila.
" Hmmm sayang aku yakin suatu saat kamu pasti akan menjadi pengusaha bengkel tersukses di kota ini bahkan di negeri ini " ujar ku berdoa tulus untuk nya
" Semuanya itu akan terjadi bila kamu selalu ada di sisi ku Ara " ujar nya dengan senyum dan menampakkan lesung pipi diwajahnya ah Andra kau bertambah tampan saja
" Hahah kamu ini, ada dan tidak ada aku di sisi kamu, kamu harus tetap menjadi orang sukses di kemudian hari " entah kenapa kalimat itu keluar begitu saja dari bibir tanpa aku sengaja
" CK kamu ngomong apa sih sayang, aku ngak mau kita jauh , aku mau kita selalu bersama" aku tahu Andra begitu mencintai ku , begitu pun dengan aku. Meskipun papa mama tidak setuju seratus persen dengan Andra tapi aku yakin lambat laun hati papa mama akan luluh dengan ketulusan nya.
Grrrrr grrrrrr getaran ponsel di dalam tas membuat aku sedikit terkejut
" Papa " aku mengernyit kening , tumben sekali papa menghubungi ku apa mbak Kinan akan melahirkan?
" Halo pap"
"[Kamu dimana Ra? Bisa pulang sekarang, papa mama mau pergi keluar kasihan mbak mu sendiri di rumah dalam keadaan hamil besar ] ujar papa di seberang sana
" Oke siap pa, aku pulang " aku memutuskan sambungan telefon seluler
" Harus pulang sekarang?" Ujar Andra menyelipkan anak rambut di belakang telinga ku
" Iya , papa mama mau pergi, kasihan mbak Dila di rumah sendiri " papa mama tidak akan tenang bila mbak Dila tidak ada yang menemani nya walaupun di rumah sudah ada bik siti asisten rumah tangga
" Ayok aku antar pulang" Andra yang pengertian dan peduli aku semakin jatuh hati kepadanya
"Oke " aku menyambut uluran tangan nya menuju parkir tanaman kota ini.
Dengan memakai helem berwana pink aku menaiki motor metik kesayangan Andra. Motor berwarna hitam dan sedikit motif pink warna kesukaan ku.
" Sampai " Andra menghentikan motor nya di depan rumah dengan senyuman
" Om Tante" sapa Andra kepada mama papa yang berdiri di dekat pintu masuk . Seperti biasa Mama papa hanya mengangguk dan sedikit senyum.
" Oke aku pulang dulu ya" Andra pamit karena Andrs sedikit sadar atas sedikit penolakan yang di berikan oleh mama papa
" Makasih sayang, hati hati di jalan "aku melambaikan tangan ketika motor Andra mulai pergi meninggalkan pagar rumah
" Ngak panas Ra, naik motor Mulu" ujar mama di saat aku sampai di dalam rumah
" Ngak dong ma, orang adem pun karena cinta nya Andra hehehe" ujar ku bercanda, menanggapi celotehan mama. Bukan kali ini saja tapi setiap kali papa mama berucap sedikit sinis, aku selalu menanggapinya dengan santai
" Ara Ara , kamu belum tau aja rasanya berumah tangga jika kekurangan materi nak " ujar mama menggeleng kan kepala sedang kan papa membelai kepala ku seperti anak kecil saja bukan?
" Tenang saja ma, Andra akan menjadi pengusaha sukses kok " jawab aku meyakini mama dengan memeluk papa yang ikut geleng geleng kepala
" Ya sudah sukses dulu baru boleh nikahi kamu, mama papa membesarkan kamu dan mbak Dila penuh perjuangan supaya kalian tidak kekurangan apa pun, mama papa ngak mau suami kamu kelak membawa kamu ikut menderita" ocehan mama untuk keseribu kali nya mungkin hehehe
" CK CK Arabela tidak akan kekurangan materi ma, semua akan tercukupi oleh mas Vano" Mbak Dila yang datang dari dalam kamar nya
" Kenapa harus Vano yang akan mencukupi kebutuhan nya Arabela, itu tidak bagus " jawab papa tidak terima , aneh kenapa mbak Adila tiba tiba berucap seperti itu
" Iya betul yang di ucapkan oleh Dila pah, jika Ara mau menerima tawaran Vano untuk bekerja di salah satu cabang perusahaan nya. Nah masalah nya anak bontot mu ini ngeyel dan keras kepala " ucap mama menengahi, apa betul itu yang di maksud mbak Dila. Ah sudah lah masa bodo tapi memang mbak aku yang satu ini sangat lah beruntung memiliki suami dan keluarga mertua yang sangat baik dan tentunya kata Raya heheheh
" Ya sudah berhubung pembicaraan kita ini tidak akan ada pangkal ujungnya, ayok mah kita berangkat sekarang" ujar papa kepada mama
" Tenang saja pa, akan ada ujungnya kok hehehe pokoknya Ara akan bahagia pah , bersama dengan keponakan nya ini" tunjuk mbak Dila ke perut nya
" Hahahah amin " ujar mama papa serentak, tapi tunggu kenapa aku yang harus bahagia bersama bayi di dalam perut mbak Dila , bukankah seharusnya mbak Dila yang berbahagia bersama anak anak nya kelak ?
Setelah mobil papa mama keluar pagar , mbak Dila mengekori ku hingga ke kamar
" Kamu sangat mencintai Andra?" Tanya mbak Dila seperti mengintrogasi aku
"Sangat dong mbak" jawab ku jujur
" Hmmm cinta itu boleh, tapi di dalam rumah tangga yang di butuhkan tidak hanya cinta cinta cinta , tapi juga butuh materi yang cukup, saling menghargai, pengertian, saling percaya dan komunikasi yang intens " ujar mbak Dila duduk di atas ranjang ku
" Andra memang belum kaya mba tapi selain harta dia sudah memiliki semua yang mbak bilang barusan" bela ku terhadap Andra
" Hmmm mbak percaya itu Ra, nanti mbak titip anak mbak ya Ra" ujar mbak Dila mengelus perut buncitnya
" Mbak mau pergi liburan satu bulan full dengan mas Vano , tidak masalah aku akan menjaga anak mbak dengan baik " ujar ku tersenyum.
Sudah satu bulan mbak Dila berada di rumah kelahiran nya ini. Sedangkan mas Vano masih di kota jakarta, tuntunan pekerjaan tidak bisa membuat nya stay di sini dari awal tapi kata mbak Dila, mas Vano besok pagi sudah on the way ke sini, kota Bandung.
Mbak Dila Memilih melahirkan di sini , karena enggan berjauhan dengan mama papa , mas Vano pun setuju karena yang aku tahu mas Vano begitu mencintai mbak ku yang cantik ini
****
"Aaaaaaaaaaaaa sakit " pekikan dari kamar mbak Dila membuat aku terperanjat kaget, dengan mata yang belum sempurna melek aku berlari menuruni anak tangga dengan cepat
" Cepat hubungi mas mu Ra, mbak kamu mau melahirkan" teriak mama setelah melihat aku menuruni tangga
" Baik mah " dengan cepat kilat aku berlari kembali ke kamar untuk mengambil ponsel, sungguh aku lupa jika di rumah ini juga memiliki telepon. Aku panik dan aku gugup Mendengar teriakan kesakitan mbak Dila , kenapa malah perut ku yang ikut mules
" Ara, papa mama dan mbak mu duluan ke rumah sakit nanti kamu nyusul bersama mas mu ya, " teriak papa dari bawah
" Iya pah" jawab ku dengan cepat mengotak Atik ponsel di tangan
Yess tersambung " halo mas Vano, itu mbak...."
[ Iya Ra, mas lagi di jalan sebentar lagi sampai rumah . Tapi jangan bilang sama mbak mu ya, karena mas mau kasih kejutan ke mbak Dila, mas sengaja berangkat shubuh biar pagi sampai rumah ] ujar mas Vano tidak membiarkan aku berbicara
" Oke mas , tapi mbak Dila mau melahirkan mas, sekarang udah berangkat duluan ke rumah sakit , mas sebaik nya putar ke rumah sakit saja " cittttttttttttt ucapan ku berhenti di saat mendengar decitan rem mobil di depan rumah
Mas Vano iya itu mobil mas Vano , aku melihat dari jendela kamar .
" Mas Vano" dengan nafas ngos-ngosan karena berlari dari atas hingga ke teras rumah
" Kenapa mas malah bengong begitu, cepat ke rumah sakit " teriak ku kembali setelah melihat kebingungan mas Vano di dalam mobil
" Mas ngak tahu apa yang akan mas lakukan Ra, bunga iya bunga " dengan cepat ia menoleh ke Bangku belakang mengambil buket bunga mawar putih yang segar
" CK kenapa malah sibuk dengan bunga sih mas, ayok cepat ke rumah sakit " ujar ku duduk di samping mas Vano
" Oke baik , tapi tunggu" mas Vano melirik ke arah ku dari bawah hingga atas
" Apa kamu ke rumah sakit hanya memakai piyama tidur begini?" Ujar nya menunjuk ke arah ku
" Ya tuhan , aku lupa mas tunggu lima menit " dengan secepat kilat aku mengganti baju apa ada nya dan tidak lupa menguncir rambut yang sedikit ikal di bawah nya
" Sudah siap?" Ujar mas Vano memajukan mobil ke rumah sakit tempat mbak Dila melahirkan
" Mas yakin anak mas cantik seperti mbak mu, ahhh tapi kalau mirip mas yang ganteng ini juga tidak masalah " racau mas Vano di dalam mobil
" Hanya mbak Dila yang menyebutkan jikalau mas ganteng hahaha " di dalam ketegangan ini tetap harus ada tawa bukan?
" CK seperti kamu menganggap tampan pacar kamu Andra yang punya bengkel itu bukan?" Mas Vano memang mengetahui tentang Andra, sama seperti mbak Dila , mas Vano pun juga tidak menentang hubungan kami hanya saja suami mbak ku itu wanti wanti untuk jangan terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan untuk masa depan kelak
" Andra memang tampan dan jauh lebih tampan dari mas Vano " mendengar ucapan ku mas Vano tertawa dengan ngakak
" Tapi aku jauh lebih kaya dari dia " mas Vano yang selalu ingin menang, dia memang seperti itu, mbak Dila saja bingung kenapa suami nya ini tingkat percaya dirinya sangat tinggi . Meskipun benar dia tampan dan kaya raya
Tidak membutuhkan waktu lama mobil memasuki parkiran rumah sakit tempat mbak Kinan melahirkan
" Sampai" dengan cepat aku turun dari mobil tidak sabar rasanya ingin melihat keponakan ku yang cantik
Namun langkah ku berhenti saat tidak ada langkah kaki yang mengekori dari belakang dengan spontan aku menengok kebelakang
" Mas Vano " pekik ku melihat mas Vano malah mondar mandir tidak jelas dengan buket bunga mawar putih yang di tangan
" Jangan terlalu gugup mas, ngak malu apa sama keponakan ku yang akan lahir?" Aku dan mas Vano memang selalu suka becanda dari mbak Dila menjalin hubungan dari masa kuliah. Mas Vano yang tampan dan kaya raya, pengusaha terkenal dan sukses di negri ini menyukai dan mencintai mbak Adila. Hmmm tidak bisa di pungkiri kecantikan mbak ku itu , kelembutan nya dalam berbicara serta keanggunan nya membuat pria yang sedang gugup ini sangat mencintai nya.
" Mas deg deg kan Ra, bagaimana ini " ujarnya dengan wajah serius
" Berdoa saja yang baik baik " jawab ku menenangkan .
[ Ara, mbak mu sedang di ruangan operasi " pesan dari mama sedikit membuat ku takut
" Vano , Ara " suara Mama yang bergetar di kursi tunggu ruangan operasi. Kenapa operasi kenapa tidak normal bukan kah mbak Dila tadi sudah kontraksi? Apa yang terjadi , aku berdoa dan berharap mbak Dila baik baik saja
" Ma pah bagaimana dila" tanya mas Vano tegang
" Dila harus di operasi karena tensi nya yang terlalu tinggi " door dari kapan Kakak ku Tersebut Memiliki riwayat tensi tinggi. Tidak kenapa perasaan takut menghantui ku tuhan , sungguh aku belum siap kehilangan nya . Dan mengapa aku merasa rapuh mendengar kan apa yang di ucapkan papa
" Apa? Tensi tinggi tapi Dila tidak pernah memiliki riwayat tensi tinggi pah " ucap Vano rapuh mendudukkan bokong nya dengan lesu di atas kursi. Aku tahu saat ini mas Vano memiliki ketakutan yang besar seperti apa yang aku rasakan sekarang.
" Semua akan baik baik saja, berdoa saja " ucap ku menenangkan semua nya
" Iya Ara benar " semua orang yang di sana mengangguk setuju bertepatan dengan di buka nya pintu operasi
" Dokter bagaimana keadaan istri saya?" Pertanyaan pertama yang muncul dari bibir mas Vano . Dokter perempuan tersebut terdiam dan menghela nafas panjang
" Setelah tadi mengalami tensi tinggi dan kejang namun di saat berjalan nya operasi pasien mengalami pendarahan hebat " bruakkk mas Vano yang hampir jatuh di topang papa sedang kan mama pertahan nya roboh dan terduduk di kursi
" Operasi nya berjalan lancar, ibuk Dila melahirkan seorang bayi mungil yang cantik namun keadaan buk Dila untuk sekarang ini sangat lemah . Meskipun sudah di lakukan transfusi darah tetap saja tidak ......'"
" Istri saya akan baik baik saja " ucap mas Vano dengan suara yang bergetar
" Itulah yang kita harapkan bersama " ujar dokter tersebut mengangguk
" Bisakah kami menemui mbak Dila?" Tanya ku kepada dokter, aku berharap dengan ada nya kami di samping nya mbak Dila kembali kuat dan kondisi nya membaik
" Belum , sekarang pasien masih di ruangan isolasi untuk dilakukan observasi dan...."
" Dokter pasien semakin lemah.." panggilan suster yang di dalam menghentikan dokter perempuan ini berbicara
Dengan cepat pintu tersebut kembali menutup
" Ya Allah aku belum siap untuk kehilangan mbak Ara, tolong selamatkan dia "
" ma , semua akan baik baik saja " ucap papa mengusap bahu wanita yang telah melahirkan aku dan mbak Dila
" pah " kenapa mama malah menangis seperti itu " mama takut pah, mama takut dengan ucapan yang di lontarkan Ara di dalam mobil tadi " kenapa mama malah melirik ke arah ku dan mas Vano yang sedang mondar mandir di depan ruangan operasi dan pasti nya mas Vano tidak mendengar kan apa yang di ucapkan mama
Apa yang di bicarakan mama dan papa , aku tidak ingin tahu yang ingin aku ketahui adalah keadaan mbak Kinan sekarang.
" Keluarga mbak Dila “ panggil suster setelah pintu terbuka
" Iya bagaimana istri saya?" Mas Vano dengan suara bergetar dan memiliki rasa kwatir di matanya
" Semuanya di persilakan masuk " Enggan menjawab pertanyaan mas Vano, malah kami semua di suruh masuk
Saat memasuki ruangan dingin tersebut, aku bertambah kwatir dengan alat yang berbunyi bunyi di atas samping mbak Dila. Kenapa Kakak ku memakai alat alat seperti itu? Bukan kah itu untuk mendeteksi organ vital seseorang apa kah Kakak ku ini begitu lemah nya sekarang? Dengan cepat aku menggeleng kan kepala
" Sayang " ucap mas Vano dengan bunga di tangan. Dengan permintaan mas Vano perawat memperbolehkan nya untuk membawa buket bunga tersebut ke ruangan yang dingin ini
Seperti biasa apa pun yang di rasakan oleh perempuan yang tengah berbaring lemah tersebut dia tetap akan menampilkan senyuman cantik dan indah di bibir nya.
" Mas , anak kita " ujar mbak Dila lemah sambil melirik ke samping nya . Aku baru sadar ada bayi merah di sebelah kanan mbak Dila . Keponakan ku yang cantik sama seperti mbak Dila mereka sangat mirip.
" Cantik seperti kamu sayang" mas Vano mencium kening mbak Dila" terimakasih telah berjuang dan terimakasih telah memberikan mas seorang putri" sambung mas Vano
" Mawar nya sangat cantik mas, aku selalu menyukai nya. Tapi untuk selanjutnya boleh kah aku meminta yang lain " ujar mbak Dila, mbak kenapa bibir dah wajah mu pucat seperti itu, kenapa mbak sangat lemah
" Apa pun keinginan kamu sayang, semuanya akan mas Kabulkan" ucapan mas Vano yang tidak pernah di ragu kan oleh mbak Dila, begitu juga dengan aku beserta mama dan papa
" Untuk seterusnya aku mau mas membeli mawar merah bercampur dengan bunga anyelir putih " ucap mbak Dila di iringi dengan tawa ringan dalam senyuman. Tunggu kenapa bunga mawar merah dan anyelir putih, itu adalah dua bunga kesukaan ku dan aku akan bahagia jika Andra menggabungkan kedua bunga tersebut dalam satu buket
" Apa pun itu sayang, mas akan berikan. Tapi kenapa sekarang bunga kesukaan mu berubah hmm tapi tidak masalah yang penting kita selalu bersama" mas Vano mengusap lembut kepala mbak Dila
" Ara " tangan lemah tersebut mengulur ke arah ku
" Mbak" aku dengan cepat menyambut dan beralih di samping kiri mbak Dila
" Mbak minta maaf mungkin untuk seterusnya kamu akan kewalahan dan kecapean untuk mengurus bayi mbak, apa kamu keberatan?" Kata demi kata yang keluar dari bibir mbak Kinan tapi kenapa ini , kenapa mbak Dila malah menangis
" Tentu aku sangat senang membantu mbak untuk menjaga keponakan ku ini mbak. Tapi kalau nanti mbak udah kembali ke Jakarta tentu aku tidak bisa sering sering berkunjung karena aku tidak akan bisa meninggalkan papa mama " Jawab ku mengambang entah kemana, aku bingung suasana apa ini? Dan kenapa mama malah menangis di samping ku
" Kamu akan ikut ke jakarta bersama mas Vano Ra " ucap mbak Dila membuat mata ku membulat
" Kenapa...." Sebelum aku menyelesaikan omongan ku , mbak Ara seperti sesak nafas berat dan kondisi nya semakin lemah
" Mbak ..."
" Sayang "
" Dila " ujar mama papa dan mas Vano berbarengan
" Aku akan memanggil dokter" namun tangan ku di tahan kuat
" Ti tidak ada waktu lagi Ra"
" Ma pa aku minta maaf dan terimakasih telah menjadi kedua orang tua ku, Dila bahagia menjadi anak papa mama" suara mbak Dila lemah
" Papa mama tolong wujud kan keinginan Dila , Dila hanya percaya kepada Ara " kenapa mama papa hanya menangis, ada apa ini . Sedangkan mas Vano yang mengerti akan situasi ini dia hanya menggeleng kan kepala
" Sayang dari tadi kamu bicara ngelantur, seperti nya efek bius. Aku disini bersama mu kita akan selalu bersama" ujar mas Vano menggenggam tangan mbak Adila
" Mas terimakasih telah memilih aku sebagai istri dan menjadi kan aku seorang istri. Aku ikhlas ridho dan bahagia mas selama hidup bersama kamu beberapa tahun ini. Sekarang aku sudah tidak sanggup lagi , aku titip kan anak kita Alana ya mas , aku hanya percaya kepada Ara Adik kandung ku sendiri sebagai pengganti aku mas , tolong Kabulkan keinginan ku " ujar mbak Dila tertatih-tatih untuk menyelesaikan bicaranya
" Tidak sayang, mas hanya ingin kamu tidak yang lain nya untuk menjadi ibu dari anak kita " roboh sudah pertahan mas Vano yang sedari tadi ia bangun . Air mata lelaki tersebut runtuh seperti air mengalir
" Sudah tidak ada waktu lagi mas"
" Nak bertahan lah , mama papa menyayangi mu " mama mencium mbak Dila dengan lembut
" Sudah tidak ada waktu lagi ma, maafkan kesalahan Dila pah mah "
" Mbak Dila aku mohon bertahan dan kuat lah " tangis ku pecah
" Ja jangan menangis Ra, mbak titipkan Alana ya Ra, hanya kamu yang mbak percaya, berbahagia lah bersama mas Vano " tiiiitttttttttttt alat yang ada di atas samping mbak Dila itu berbunyi panjang.
Semuanya roboh, dunia ku gelap. Mama menangis histeris di dalam pelukan papah yang juga meneteskan air mata. Mas Vano, lihatlah dia menangis sambil memeluk mbak Dila.
***
Disinilah kami sekarang, onggokan tanah merah yang masih basah . Rasanya air mata ku tidak pernah habis menangisi kepergian mbak Dila.
Papa yang selalu mencoba kuat demi bisa memberi kekuatan kepada mama yang drop dan jatuh pingsan sesekali menyeka air mata nya . Mas Vano dengan mata yang memerah dengan tangan mengepal , entahlah sepertinya mas Vano yang paling hancur atas kehilangan mbak Dila.
Mas Vano hanya banyak diam , dia ingin marah tapi tidak tahu kepada siapa ia meluapkan kemarahannya. Mas Vano ingin memaki tetapi dia bingung siapa yang ingin ia maki, itulah yang aku lihat sekarang
" Vano ikhlas kan Dila nak" ujar Tante Astrid mama nya mas Vano , mertua mbak Dila
" Kita harus pulang, sebelum hujan " ujar perempuan paro baya tersebut
" Sebentar lagi mah, vano masih ingin disini " jawab dingin mas Vano, beberapa jam yang lalu pria ini dengan sikap hangat dan humble nya bisa menghibur semua orang tetapi lihat lah sekarang jangankan mendengarkan dia berbicara, melihat matanya saja sangat menakutkan
" Beri dia waktu mah, lebih baik kita menunggu di mobil" ujar lelaki paro baya yang masih muda di bandingkan umur nya om Bram papah nya mas Vano.
Dengan kaki yang tertatih pelan mas Vano sampai juga dimana mobil kami terparkir. Tidak ada satu kata pun yang terlontar dari mulut mas Vano hingga sampai rumah .
Mas Vano langsung memasuki kamar yang biasa dia huni dengan mbak Dila. Tidak ada yang memanggil atau mengajak mas Vano bicara, semua orang memberi mas Vano waktu untuk bertenang , tidak ada yang lebih menyakitkan selain kehilangan belahan jiwa untuk selamanya seperti yang di alami oleh mas Vano yang kehilangan kakak ku mbak Dila.
Alana , bayi merah tersebut masih di rumah sakit . Mama papa bilang dokter belum memperbolehkan Alana untuk kami bawa pulang, entah apa alasan nya aku pun tidak bertanya karena sampai detik ini dada dan hati ku masih sesak .
" Apa yang harus kita lakukan buk Ajeng " samar samar terdengar suara Tante Astrid di ruangan tamu .
Entah apa yang sedang mereka bicarakan, mungkin mengenai Alana, apa kah Alana akan di jakarta bersama mas Vano dan mereka atau bersama kami disini di Bandung. Hati ku menginginkan Alana berada disini bersama kami. Tapi aku tidak mau egois karena dia masih memiliki papa yaitu mas Vano.
Tidak aku hiraukan apa jawaban dan obrolan mereka lebih baik aku ke kamar untuk menata hati untuk ikhlas meskipun tidak mudah. Mbak kenapa secepat ini kau tinggalkan kami , air mata ku jatuh lagi.
***
POV AUTHOR
Setelah Vano dan Ara memasuki kamar mereka masing masing. Namun lain hal nya dengan kedua orang tua mereka , para orang tua melakukan perundingan untuk masa yang akan datang tentu saja mengenai Alana
" Buk Astrid pak Bram , Dila memiliki sebuah amanah tapi kami bingung apa harus mewujudkan semua keinginan nya " Ajeng memulai pembicaraan
" Apa maksud buk Ajeng? Apa ada yang di inginkan Dila sebelum meninggal dunia?" Tanya buk Astrid , yang di jawab anggukan oleh buk Ajeng dan pak Roy papa nya Dilal dan Ara.
" Di dalam perjalanan menuju rumah sakit Dila mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat ibu dan pak Bram sedikit terkejut" buk Ajeng mengingat kejadian tadi pagi di dalam mobil di dalam perjalanan menuju rumah sakit
" Ma sakit , Dila ngak kuat lagi " ujar Dila yang memegang erat tangan buk Ajeng di kursi belakang kemudi
" Sabar nak, nyebut Gusti Allah, sebut nama nya nak " Ajeng yang ikut panik juga meneteskan air mata Melihat kesakitan yang dirasakan oleh putri sulung nya tersebut
" Pa ma , jika terjadi sesuatu kepada Dila tolong nikah kan Ara dengan mas Vano. Hanya kepada Ara , Dila mempercayai anak dan suami Dila ma pa " ujar Dila di sela merasakan sakit yang luar biasa
" Aaaaa sakit ma " teriak Dila dengan mata yang setengah terpejam
" Jangan ngomong macam macam nak, bertahan dan kuat lah demi anak mu " ujar pak Roy yang sedang di kemudi mobil
" Nak, anak kamu butuh kamu, bukan orang lain atau pun adik mu Ara , jadi mama mohon bertahan lah sebentar lagi kita sampai dan jangan berbicara macam macam lagi" Isak tangis buk Ajeng
" Apa salah nya jika Ara menikah dengan Vano " Tanggapan Bram setelah mendengar cerita dari Ajeng
" Demi Alana cucu kita " sambung Astrid setelah itu
" Jika mereka tidak mau kita bisa apa pak Bram? Apa lagi di antara mereka tidak ada cinta sama sekali" kekhawatiran Ajeng jika pernikahan Antara Vano dan Ara tetap di langsung kan
" Cinta bisa tumbuh kapan saja ma, cinta dan kasih sayang bisa hadir di kala sering bersama" kini pak Roy ikut berbicara, hati nya sangat berat untuk memaksa Ara menikah dengan suami kakak nya Dila. Tapi memikirkan cucu Alana dan permintaan Kinan putra Sulungnya, Roy harus melakukan ini semua
" Maafkan papa nak , kamu harus berkorban besar Disini" gumam hati Roy dengan memejamkan mata
" Baiklah sekarang kita sudah menemukan jalan nya, setelah tujuh hari nanti kita akan bicarakan kepada Vano dan Ara. Semoga mereka bisa berfikir jernih untuk masa depan Alana " ujar pak bram, meskipun berfikir sedikit egois demi kepentingan cucu nya Alana dan mengorbankan Ara di dalam nya, Bram bisa apa? Bram pun tidak bisa membayangkan jika Alana di asuh oleh perempuan lain nantinya . Jika Ara adalah adik kandung mendiang Dila yang sudah pasti bisa menyayangi keponakan nya, mereka pun sudah tahu betul bagaimana sifat dan karakter Ara .
Jika Dila kalem dan anggun maka Ara juga tidak kalah cantik dengan jiwa nya yang periang dan penyayang.
POV AUTHOR end
***
Grrrrr grrr grrrrr getaran ponsel di atas nakas membuat aku terbangun dalam tidur. Aku tertidur dalam tangis.
" Andra " nama itu tertera di dalam ponsel, aku bahkan lupa mengabarinya jika mbak Dila sudah tiada
[ Hallo sayang , maaf aku baru tahu dari Anton jika mbak Dila sudah tiada. Kamu yang sabar dan ikhlas ya , inshaAllah nanti aku ke rumah kamu ] ucap Andra di seberang sana
" Hiks hiks hiks aku ngak kuat Andra, mbak ku satu satunya telah pergi meninggalkan aku , meninggal kan kami semua " tangis ku kembali tidak terbendung
[Iya sayang, kamu harus kuat jangan buat mbak Dila sedih dengan air mata mu , kuatlah] Andra yang selalu ada di waktu aku rapuh dan terluka
" Apa aku akan sanggup melihat Alana, bayi mbak Dila di besar kan Tanpa mbak Dila ibu kandung nya " air mata ku tumpah jika membayangkan semua itu , keponakan ku sudah tidak mempunyai ibu kandung lagi
[Aku mengerti akan kekhawatiran kamu sayang, ada kita yang akan memberi kasih sayang berlimpah kepada nya ] aku tidak meragukan ucapan Andra , dia lelaki yang tulus mencintai ku dan ikhlas dalam memberi tanpa imbalan sedikit pun
" Iya Andra , terimakasih. Aku akan siap siap dulu karena sebentar lagi akan ada pengajian pembacaan tahlilan" ucap ku sebelum mematikan sambungan telepon
[Iya sayang, tunggu aku di rumah mu , aku mencintai mu Ara ] terimakasih atas senyum yang masih terukir di bibir ku ini Andra. Kamu paling pandai dalam mengubah tangis ku menjadi senyum
" Ara cepat lah bersiap nak, sebentar lagi akan ada pengajian untuk mbak mu " entah dari kapan mamah berdiri di ambang kamar ku
" Iya mah " aku bangkit dari kasur untuk segera bersiap
" Nak, apa kamu menyayangi mbak mu Dila dan buah hati nya Alana ?" Tanya macam apa yang keluar dari mulut wanita yang telah melahirkan ku ini
" Tentu aku sangat menyayangi mereka mah, Jika aku bisa dan mampu aku rela mengganti kan mbak Dila di dalam tanah sana mah tapi...."
" Husstt jangan berbicara seperti itu lagi nak, hanya kamu satu satu nya yang mama papa punya sekarang selain Alana , mama ngak mau lagi kehilangan anak mama " ucap mama menangis memeluk ku, sama seperti nya aku pun penuh dengan air mata sekarang
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!