NovelToon NovelToon

Pemuas Nafsu Istri Sang Ketua Mafia

Jeritan Malam

Di tengah pepohonan rindang yang rapat, sebuah mobil melaju kencang membelah jalanan hutan yang sepi. Suara mesinnya memecah keheningan alam, bagaikan alunan musik yang asing di telinga penghuni hutan. Debu beterbangan di belakang mobil, mengikuti jejaknya yang bagaikan garis lurus di atas tanah berbatu.

Cahaya lampu mobil menerobos kabut tipis, menyingkap bayang-bayang pepohonan yang seperti raksasa di sisi jalan. Sesekali, sepasang mata hewan liar terlihat berbinar di kegelapan, tertegun melihat kehadiran sang pengemudi yang tak diundang.

Kecepatan mobil tak berkurang, seakan sang pengemudi dikejar waktu. Jalanan berkelok meliuk dilalui dengan lincah, tanpa rasa takut sedikitpun. Daun-daun kering beterbangan menghantam kaca mobil.

Air mata mengalir deras di pipi seorang gadis kecil yang duduk di kursi penumpan, membasahi wajahnya yang polos. Isaknya pilu terdengar di dalam kabin mobil yang melaju kencang, bagaikan alunan lagu kesedihan yang tak berujung.

Di usianya yang masih belia, dia tak mengerti mengapa harus terjebak dalam situasi ini. Rasa takut dan kebingungan menyelimuti hatinya, sementara mobil terus melaju tanpa henti, membawanya ke tempat yang tak diketahui.

Bonekanya tergeletak tak berdaya di pangkuannya, tak mampu memberikan ketenangan yang dia cari. Disamping itu ada seorang anak laki laki yang berumur sekitar tujuh tahun yang sedang berusaha untuk menenangkan adiknya yang sedang menangis ketakutan di sana.

"Shuttt Yoona tenanglah, jangan terus menangis." Elamnya sembari menepuk pundak gadis kecil itu.

"Aku takut, kenapa mobilnya berjalan sangat cepat sekali, aku takut kak." Isaknya yang ketakutan sembari sesekali menatap ke arah luar jendela mobil yang hanya terlihat gelapnya malam dan pepohonan yang berjajar rapi di tepian jalan sehingga menciptakan Nuansa yang begitu sepi dan menakutkan.

"Kumohon berhentilah menangis, aku akan menyuruh supir untuk mengurangi kecepatannya." Ujarnya namun usahanya itu tidak membuahkan hasil apapun adik perempuannya itu masih terus menangis kencang.

"Pak tolong kurangi kecepatannya, Yoona tidak bisa berhenti menangis karena ketakutan, kumohon pelankan mobilnya." Pinta anak laki laki itu namun tidak ada respon sama sekali.

"Pak supir kumohon, jangan membuat Yoona terus menangis, pelankan mobilnya." Ujarnya namun hasilnya tetap sama tidak ada jawaban ataupun respon dari supir yang saat ini sedang membawa mobil itu.

Anak laki laki itu mulai kesal dan memutuskan untuk mendekatkan dirinya pada sang supir, namun ketika dia melihat ke arah kursi depan, dan jantungnya terhenti sesaat.

Di sana, tergeletaklah sang sopir, tubuhnya terkulai dengan posisi yang tidak wajar. Wajahnya pucat pasi, dengan kaki yang masih terus menginjak pedal gas dengan kelajuan penuh. Sebuah pisau llberlumuran darah tertancap di lehernya, meninggalkan luka yang mengerikan. Anak laki laki itu terpaku di kursinya, ketakutan mencekam seluruh tubuhnya. Dia tidak bisa mengeluarkan suara, hanya bisa ternganga ke arah sopir yang telah tewas.

"Kak Varo, ada apa?" Tanya gadis kecil itu yang membuyarkan semua lamunannya.

"Tidak ada apa apa Yoona." Jawabnya sembari memberanikan diri untuk merangkak maju ke arah kursi kemudi dan membuka kunci pintu mobil.

Varo si anak kecil laki laki itu mulai paham dengan situasi yang ia dapati saat ini, supir itu tidak sedang dibunuh, melainkan membunuh dirinya sendiri untuk melancarkan aksi rencananya. Varo mulai membuka kaca cendela miliknya dan mengintip ke arah luar jendela mobil hingga ia melihat sebuah terowongan gelap yang masih terletak berkilo-kilo meter dari sana.

Yoona si gadis kecil masih terjebak dalam tangisan ketakutannya, dia terus memanggil nama papa nya karena sangking takutnya, dia tidak bisa mengendalikan pikirannya, yang dia pikirkan hanyalah menangis dan berharap mobil itu segera berhenti.

Varo melepas baju sweater panjang yang ia kenakan, dan langsung melilitkan nya di area kepala dan wajah Yoona, "apa yang kau lakukan kak?"

"Menurutlah padaku."

"Kak Varo aku takut, mobilnya kenapa tidak berhenti juga." Rengek nya .

"Mobilnya akan berhenti Yoona, jika kau keluar dari sini."

"Apa?"

Varo melihat sekilas ke arah luar jendela "aku benar benar minta maaf Yoona, tapi ini semua demi kau."

"Kak Varo."

"Setelah ini hiduplah dengan baik, dan kumohon jangan pernah menangis." Lanjutnya sembari menatap lekat ke arah adik perempuannya itu.

"Kak Varo, apa yang kau katakan?" Tanyanya namun Varo tidak menjawab dan langsung membuka pintu mobil yang ada di samping Yoona.

"Tutuplah matamu." Pinta Varo yang sontak membuat Yoona menutup kedua matanya.

"Maafkan aku Yoona, kumohon bertahanlah." Ucap Varo yang terakhir kali sembari melepaskan sabuk pengaman milik Yoona, dan mendorong tubuh gadis itu dengan begitu kuat hingga keluar paksa dari dalam mobil.

Yoona yang merasa tubuhnya terlempar keluar sontak membuka kedua matanya dan menjerit begitu keras. Tubuh gadis itu terguling-guling di aspal, merasakan benturan keras yang menggetarkan seluruh tubuhnya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya, dan teriakannya tertahan di tenggorokan.

Mobil yang membawanya terus melaju, meninggalkan Yoona yang tergeletak tak berdaya di tepi jalan dengan darah yang terus mengalir keluar dari kepalanya yang tidak sengaja terbentur batu besar. Masih dalam keadaan sadar sehingga dengan pandangan yang begitu remang remang ia menyaksikan mobil yang masuk kedalam sebuah terowongan gelap dan terdengar suara ledakan yang begitu dahsyat seakan akan mobil itu menabarak sesuatu, namun beberapa saat kemudian dengan tubuh lemas dan wajahnya pucat pasi, serta darah yang mengalir dari luka-luka di tubuhnya, hingga mewarnai bajunya dengan warna merah yang mengerikan. Gadis kecil itu akhirnya tergeletak lemas tidak sadarkan diri.

~

~

~

***

Sebuah ruangan yang remang-remang, dihiasi dengan lampu kristal yang berkilauan dan dekorasi yang elegan. Diiringi alunan musik jazz yang menenangkan, aroma koktail yang menggoda memenuhi udara. Derit pintu besi terdengar ketika seorang gadis tiba tiba membuka dan masuk kedalam area ramai. Langkah kakinya bagaikan alunan musik yang memesona saat dia memasuki bar remang-remang itu. Rambutnya yang panjang terurai indah membingkai wajahnya yang cantik, dihiasi riasan natural yang menonjolkan kecantikan alaminya. Matanya yang berwarna cokelat gelap berbinar dengan rasa percaya diri, memancarkan aura menggoda yang tak tertahankan.

Gadis cantik itu mengenakan gaun berwarna hitam yang menempel sempurna di tubuhnya yang ramping, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah tanpa terlalu vulgar. Belahan dadanya yang rendah dihiasi kalung liontin yang berkilauan, dan rok mininya memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus. Meskipun penampilannya tidak terlalu sexy seperti wanita yang ada disana, namun ia berhasil menjadi pusat perhatian para pengunjung bar yang didominasi pria. Setiap langkahnya diiringi gumaman kagum dan tatapan penuh gairah dari para lelaki yang terpesona oleh kecantikannya.

Gadis berjalan dengan anggun menuju bar, aroma parfum mahalnya menebar pesona di udara. Dia memesan segelas martini dan duduk di salah satu kursi tinggi, mencondongkan tubuhnya ke arah bartender dengan senyum menggoda. Suaranya yang lembut dan memesona saat berbicara membuat para pria di sekitarnya semakin tergoda.

"Hey manis, apa kau sendiri?" Tanya pria tinggi yang tiba tiba datang dan menarik kursi di sampingnya.

"Tidak juga." Jawabnya singkat sembari meneguk minuman alkohol miliknua tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.

Dengan begitu berani pria itu langsung menenggerkan lengannya di atas pundak gadis yang ada disampingnya "sepertinya kau sedang ada masalah." Tebaknya sembari menatap gadis itu dengan begitu dalam, dan mengharapkan respon lebih darinya.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Tentu saja aku tahu, wajah cantikmu tidak bisa berbohong Darling." Jawabnya sembari tersenyum dan meraba paha kiri gadis itu

"Ngomong ngomong siapa namamu?"

Gadis berwajah cantik itu hanya bisa tersenyum sembari sesekali melirik ke arah tangan yang sedari tadi bermain di atas kulit mulusnya.

"Panggil saja aku Yoona darling." Jawabnya dengan tatapan dan lantunan suara yang begitu menggoda hasrat dan pikiran.

Namun di tengah keramaian itu tiba-tiba, suara dering telepon memecah suasana di antara mereka. Yoona melirik ke arah ponselnya yang terletak di atas meja Bar. Dia melihat layar ponselnya yang menunjukkan nama kontak yang begitu ia kenal. Gadis itu hanya tersenyum tipis sembari melirik kearah ponselnya yang terus berbunyi hingga mati dengan sendirinya.

"Siapa dia? Dia kekasihmu?" Tanya pria itu yang berhasil nembaca nama kontak yang muncul di ponsel gadis itu.

"Bukan, lebih tepatnya dia tunanganku."

"Ahh kau sudah bertunangan rupanya, apa dia tahu kau kemari sendiri?"

"Untuk apa dia tahu kalau yang ada dipikiranya hanyalah wanita lain."

"Ohh jadi dia selingkuh darimu?" Tanyanya dan keyva sontak mengangguk merespon pertanyaannya itu.

"Berani sekali dia selingkuh dari wanita secantik dirimu Yoona." Lanjutnya sembari menatap wanita yang sedang meneguk minumannya yang ke empat kalinya.

"Apa kau mau menghibur ku? Sebab aku kemari ingin mendapatkan hiburan" Tanya nya singkat dan membuat mata pria itu seketika jernih seakan akan ia tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat seperti itu.

"Dengan senang hati aku mau menghiburmu, memang dikondisi seperti ini paling cocok bermain untuk menghilangkan beban pikiran." Jawabnya yang menerima tawaran Yoona dengan sepenuh hati dan jiwa.

"Sebentar, aku akan memesankan kamar VIP untuk kita bersenang senang."

"Tidak, aku tidak mau melakukannya disini, disini terlalu ramai, tidak enak jika semua orang mendengar nya." Pinta Yoona dengan senyuman menggodanya.

"Ahh padahal kamar disini sangat kedap suara sehingga kau bisa melenguh sepuas hatimu tanpa harus menghiraukan suasana luar, tapi aku mengerti, baiklah kau ingin dimana Darling."

"Ikutlah dengan ku." Pintanya lagi sembari beranjak dari tempat duduknya.

Yoona membawa pria itu keluar dari keramaian dan membawanya masuk kedalam mobil Aston Martin miliknya, dan melajukan mobilnya itu dengan kecepatan penuh meninggalkan tempat ramai itu.

Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, mobil mewah itu akhirnya memasuki sebuah daerah yang sangat sepi. Di sekelilingnya hanya ada hutan lebat dan pegunungan yang menjulang tinggi. Jalanan menjadi semakin sempit dan rusak sehingga menimbulkan goncangan di dalam mobil itu.

"Kau sebenarnya ingin kemana hmm, kenapa terlihat sangat jauh sekali."

Yoona tersenyum tipis sembari menatap jalanan yang ia tempuh sekarang. "Kita sudah sampai." Jawabnya singkat setelah memberhentikan mobilnya itu tepat di tengah jalan hutan yang begitu sepi dan gelap.

"Kenapa kita kemari?" Tanya pria itu kebingungan dan menimbulkan senyuman Yoona hingga terlihat deretan giginya.

"Kau bilang, kau ingin menghiburku bukan, maka hiburlah aku disini."

"Disini?" Tanyanya lagi sementara itu Yoona mulai melepas sabuk pengaman miliknya dan mendekatkan dirinya pada pria yang sedari tadi ada di sampingnya.

"Buatlah aku senang, aku ingin mendengar jeritan paling kerasmu." Ucapnya ketika jarak nya sudah begitu dekat dengannya.

JLEBB!!!

"AAGRRHHHH!!!" Jeritnya ketika sebuah belati tajam menanjam dalam di bidang dada kirinya.

"Cih lemah, baru satu tusukan sudah lemas."

"Dasar wanita b4jingan, apa yang kau lakukan, kau ingin membunuhku!!!" Ucap pria itu yang sepertinya sedang menahan rasa sakit disana.

"Siapa bilang aku ingin membunuhmu," Yoona memiringkan kepalanya dan tersenyum smirik ke arahnya "kau bilang yang mau menghiburku? Apa kau lupa darling? Jadi sekarang hiburlah diriku ini sampai puas." Jawabannya yang semakin mendekatkan dirinya dan menginjak telapak kaki pria itu dengan sepatu heels tingginya.

"Dasar wanita psikopat, enyalah kau dasar b4jingan!!!" Berontak nya yang terus memberontak keluar dari dalam mobil itu.

JLEBB!!!

"ARGHHH!!!" jeritnya kembali saat belati lain menancap di bidang dada kanannya.

"Ups...aku sengaja." Senang nya sembari sesekali mengeluarkan tawanya seakan ia senang dengan semua itu.

"Panggil aku Bloody Queen darling."

Yoona kembali menarik belati miliknya, lalu meraih tangan kanan pria itu dan langsung membelah daging telapak nya begitu saja sehingga lagi lagi membuat korbannya menjerit kesakitan.

"Kenapa kau hanya menjerit, ayo kau bilang ingin bermain denganku darling, mana sentuhan kecil yang kau berikan tadi?" Ucapnya sembari mengusapkan telapak tangan pria yang penuh dengan darah kental itu pada paha kirinya.

"Kau tadi bilang ingin mendengar suara lenguhanku kan, maka berikan dulu jiwamu setelah itu kau baru bisa mendengar nya." Lanjutnya tanpa menghiraukan suara jeritan kesakitan yang terus keluar dari mulut pria di depannya.

"Paha mulusku terkotori oleh tanganmu, jadi kau juga harus membersihkannya dengan darahmu."

"Ahh sial, aku suka sekali aroma ini." Racaunya ketika aroma kental manis mulai merebak di dalam mobilnya yang masih tertutup rapat.

Suara jeritan itu menggema di malam yang sunyi. Penuh dengan rasa ketakutan dan kesakitan yang teramat dalam. Seolah-olah jiwa tercabik-cabik dan raga diremas tanpa ampun.Tubuh itu terkulai lemas berlumuran darah. Matanya melotot ketakutan, mulutnya ternganga lebar, mengeluarkan suara jeritan yang pilu. Sementara gadis itu tidak sedikitpun merasa takut, bahkan dia begitu senang saat dia menjerit semakin keras.

Setiap tarikan napas terasa seperti tusukan pisau di dadanya. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya gemetar tak terkendali. Dia ingin berteriak minta tolong, tapi suaranya sudah habis. Dia ingin melarikan diri, tapi kakinya tak mampu bergerak. Hanya rasa sakit dan ketakutan yang menemaninya. Dia merasa sendirian di dunia ini, dihantui oleh bayang-bayang kematian yang semakin dekat.

Jeritannya perlahan-lahan mereda, digantikan oleh suara tangisan yang lirih. Dia menutup matanya, dan semuanya menjadi gelap.Dia telah pergi. Kematian telah membawanya pergi dari dunia ini.

"Sayang sekali sudah selesai, padahal aku masih ingin lebih lama." Yoona mendengus kasar sembari menatap tubuh pria yang begitu mengerikan itu.

Yoona Sierra Queen, itulah namanya, putri tunggal cantik dari keluarga William yang merupakan keluarga konglomerat yang merangkap sebagai keluarga Mafia. Bloody Queen itulah julukannya sebab ia begitu suka dengan aroma darah kental.

Gadis cantik itu keluar dari dalam mobilnya sembari membawa benda persegi panjang miliknya dan mulai menghubungi salah satu nomor disana.

"Datanglah kemari, kalian harus membereskan mainanku, dan iya bawakan baju ganti." Ucapnya yang sedang berbicara dengan orang yang ada di dalam panggilan teleponnya.

Yoona menutup panggilan teleponnya secara sepihak, dan tidak lama kemudian terlihat sebuah panggilan masuk dari dalam ponselnya. dengan ekspresi yang sangat ragu, gadis itu menghusap layar ponselnya hingga panggilan itu terhubung.

"Hallo"

[Honey, astaga kenapa kau baru mengangkat teleponku?]

"Aku tidak tahu, aku sedang mandi tadi ada apa?"

[Aku sangat merindukanmu, kenapa kau sulit sekali untuk bertemu denganmu hmm]

"Mau bagaimana lagi, papa bilang kita tidak boleh bertemu karena pernikahan kita besok lusa, jadi simpan rindumu itu."

[Kenapa harus ada hal semacam itu, tapi ngomong ngomong apa kau tidak merindukanku?]

"Tentu saja aku merindukanmu honey, apa kau tidak tahu betapa tersiksanya aku di dalam rumah ini."

"Begini saja, apa kau mau menemani ku belanja besok."

[Kau bilang tidak boleh keluar rumah?]

"Kalau hanya belanja, aku bisa bujuk papa, dan dia pasti mengijinkan ku, jadi tunggu aku di mall besok."

[Baiklah, aku tidak sabar bertemu denganmu.]

Yoona tersenyum tipis ketika mendengar kalimat itu, "Aku yang lebih tidak sabar bertemu denganmu, see you honey." Ucapnya yang langsung menutup panggilan nya.

"Apa kau sedang tersesat Noona?" Ucap seorang pria tiba tiba yang baru saja tiba di sana dan membuat Yoona seketika menatap ke arahnya.

Yoona mengamati penampilan pria itu dari ujung kaki sampai ujung rambut, pria yang mempunyai tinggi 170 memakai kaos hitam dan celana jeans bersepatu. "Siapa kau?" Tanya Yoona.

"Kau habis menghabisi seseorang?" Tanya pria itu ketika melihat paha gadis itu yang berlumuran darah.

"Kau mau juga, aku bisa melakukan hal yang sama untukmu."

Pria itu tersenyum manis sembari menatap sekilas gadis didepannya "aku sudah bosan melihat darah, lagi pula aku tidak sengaja lewat dan bertemu denganmu."

"Aku pemilik bar di sekitar daerah ini, kalau ada waktu luang kau bisa mampir kesana." Lanjut pria itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Yoona disana.

Hingga beberapa saat kemudian sebuah sorot lampu mobil perlahan menerangi jalanan yang sepi dan remang remang itu, hingga terlihat tiga mobil mewah yang tiba tiba terparkir di sana dan keluarlah lebih dari 5 orang pria dari dalam mobil itu

"Maafkan kami sedikit terlambat Noona." Ucap salah satu pria yang berpakaian serba hitam.

"Tidak masalah, kalian bersihkan mobilku, dan bakar saja sampah yang ada di dalamnya." Perintahnya yang langsung pergi masuk ke salah satu mobil yang mereka bawa.

"Baik Noona." Jawabnya serentak

dengan tubuh yang membungkuk sembilan puluh derajat pada gadis yang sama sekali tidak menghiraukan mereka.

Selingkuh

Cahaya terang perlahan menerangi teras rumah dan terlihat 4 mobil mewah yang baru saja melintas melewati gerbang rumah mewah itu. Melihat kedatangan ke empat mobil itu, para penjaga langsung berbondong bondong menghampiri salah satu mobil untuk menyambut kedatangan tuan rumah mereka. Salah satu pria bertubuh kekar mulai membuka pintu mobil dan seorang gadis yang kini memakai pakaian berwarna merah keluar dan masuk ke kediamannya.

"Yoona." Panggil seorang pria berumur 45 tahunan itu pada putrinya yang baru saja masuk kedalam rumah dan membuat sang pemilik nama itu sontak menatapnya.

"Kau habis dari mana saja sayang, kau habis bermain lagi hari ini?" Tanya seorang wanita yang juga berdiri di sana.

"Hanya sebentar Ma." Jawabnya singkat sembari menatap ke dua orang tuanya itu.

"Yoona, besok lusa kau akan menikah, jadi jagalah kesehatan mu dan jangan terlalu sering tidur malam agar kulitmu tetap terawat dengan sehat."

"Tentu saja Ma, dan iya Pa, dihari pernikahan ku besok lusa, Yoona juga ingin memberi hadiah untuk papa." Jawab gadis itu sembari menatap pria berkumis di depanya.

"Hadiah? Hadiah apa sayang?" Tanyanya pada putrinya yang masih berumur 20 tahun itu.

Yoona tersenyum mendengar pertanyaan papanya itu seakan akan senyumnya itu selalu memiliki banyak arti dibaliknya. "Nanti papa juga tahu, tunggu saja, papa pasti akan senang dengan hadiah yang ku berikan." Jawabnya singkat lalu langsung pergi begitu saja dari hadapan kedua orang tuanya.

***

[Keesokan harinya]

Sesuai rencana hari ini Yoona pergi ke mall untuk berbelanja bersama sang kekasih, gadis itu membeli banyak sekali barang seperti pakaian, aksesoris dan alat make up hingga tidak bisa di hitung berapa pengeluaran yang sudah ia habiskan, dia asal ambil dan beli tanpa harus peduli dengan digit yang ia keluarkan.

Sebuah gerbang besi baru saja terbuka oleh seorang pria tua ketika melihat sorot lampu mobil yang tiba disana. Setelah pintu gerbang itu terbuka sepenuhnya pemilik mobil itu langsung melajukan mobilnua untukm masuk kedalam dan berhenti di depan terasnya.

"Wahh sudah lama sekali aku tidak kemari." Ucap Yoona sembari menatap ke arah luar rumah yang terlihat begitu mewah.

"Setelah besok kau akan tinggal disini dengan ku honey." Sahut pria yang sedari tadi duduk di kursi kemudi.

"Bagaimana kalau kita buat BBQ, sepertinya aku menyimpan daging sapi di kulkas, pasti akan sangat menyenangkan." Lanjutnya sementara Yoona hanya tersenyum sembari menatapnya.

Yoona tersenyum manis menatap ke arah pria yang ada didepannya. "Sebenarnya aku mengajakmu kemari karena aku ingin menanyakan sesuatu padamu Luan." Ucapnya dengan begitu serius seakan akan banyak sekali pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada pria didepannya itu.

"Apa itu?"

Yoona menghela nafas panjang sembari sesekali menunduk "Apa kau mencintaiku?" Tanyanya tiba tiba.

"Apa yang kau tanyakan ini honey, pernikahan kita sudah dekat, dan kau masih meragukan hal semacam itu?"

"Tapi kenapa kau akhir akhir ini sering menghindar dariku, bahkan kau jarang menghubungi ku, kau tidak berniat bermain di belakangku kan?" Tanyanya lagi dengan penuh harapan yang sudah ia pendam di hatinya.

"Yoona, kita sudah kenal sejak SMA iya kan, dan kau tahu betul bagaimana aku begitu juga sebaliknya, jangan mengkhawatirkan hal semacam itu, kau satu satunya wanita yang ku cintai." Jawabnya yang kemudian terdengar suara dering ponsel disana.

"Sebentar Honey." Ujarnya yang ingin mengangkat teleponnya itu.

" Lihatlah,kau menghindar dari ku lagi kan, Luan lihat dan jawab aku,apa kau mencintai ku?" Tanyanya yang langsung menarik kemeja pria itu sehingga membuatnya berpaling dari handphonenya itu, dan membuat jaraknya semakin dekat dengannya

Mendengar hal itu pria yang kini jaraknya begitu dekat denganmu seketika menatapnya dengan begitu lekat sembari tersenyum dengan begitu manis.

Cupp

"I love you honey" Ucapnya setelah berhasil mengecup bibir gadis itu sekilas.

" tunggu sebentar aku mengangkat telepon dulu" Lanjutnya yang kembali memalingkan pandangannya lagi untuk bermaksud mengangkat panggilan yang terus masuk ke dalam ponselnya..

"Luan... " panggilnya yang membuat pria itu menoleh kearahnya lagi, melihat hal itu Yoona langsung menarik kerah kemejanya dan mencium bibirnya begitu saja yang membuat pria itu lagi lagi mengacuhkan ponsel miliknya itu.

Gadis cantik itu perlahan mulai melumat bibir pria itu, sehingga membuatnya pemilik bibir itu terlena dengan suasana yang membuatnya perlahan mulai membalas semua sentuhan yang dia berikan padanya

"Ada apa honey" Tanya Luan setelah berhasil memojokkan gadis itu di kursi mobilnya itu.

" Aku tidak mau kau mengacuhkan ku Luan." Jawabnya sembari menatap pria yang kini posisinya begitu dekat dengannya.

" Kenapa?"

" Apa aku membutuhkan sebuah alasan." Jawabnya sembari meraba jakunnya itu lalu kembali melumat bibirnya kembali dengan begitu agresif nya. Sementara Luan yang merasakan hal itu sontak membuat nya membalas semua itu sembari memeluk tubuh nya dengan begitu eratnya.

" Kau menginginkannya, pernikahan kita besok sayang,aku tidak akan bisa terkendali jika kau berkata iya." Tanyanya sedangkan Yoona hanya tersenyum menatapnya.

" kenapa harus menunggu besok honey kalau kita bisa melakukannya sekarang, dan tidak ada kata tidak bagiku." Ujarnya sembari membuka satu persatu kancing kemeja pria itu

Mendengar hal itu membuat Luan langsung melumat bibir Cherry nya begitu saja, sehingga suasana di dalam mobil itu semakin panas ketika lumatan mereka mulai begitu agresif dan kasar.

" Sebentar Honey." Kata Luan yang sudah tel4nj4ng dada karenanya lalu keluar begitu saja dari dalam mobilnya,dan tidak lama kemudian pintu mobil yang ada di samping Yoona tiba tiba terbuka olehnya dan dia pun langsung menggendong gadis itu masuk kedalam rumahnya.

Pria itu membawa Yoona masuk kedalam kamarnya yang berada di lantai atas, sesampainya disana pria itu langsung melemparnya begitu saja diatas kasur big size miliknya.

" Luan...,Aku sangatlah mencintaimu,aku sangat berharap besar kau tidak menghianatiku " harapnya pada pria yang sudah berada di atas tubuh gadis itu, dan tidak sabar untuk mengeksekusinya.

" Aku tahu itu." Jawabnya sembari berusaha membuka baju yang masih Yoona kenakan itu.

"Honey...." Panggilnya yang langsung mengalungkan lengannya pada leher pria yang ada di depannya, lalu mencium dan melumat bibirnya kembali sehingga dia berhasil merubah posisinya saat ini, Yoona terus mencium dan melumat bibirnya itu dengan begitu agresifnya seakan akan dia ingin membuatnya terlena dengannya.

" Aku sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini Luan, ,tapi kau membuat ku harus terpaksa menjebak mu di saat seperti ini."

" Apa maksudmu Honey?" Tanya nya keheranan sedangkan gadis itu langsung mengambil sebuah belati panjang yang sedari tadi dia simpan di baju belakang dan langsung menusukkan belati itu tepat perutnya.

JLEBB

"ARGHHHH....apa yang kau lakukan."

"kau yang membuat ku harus seperti ini Luan, jika kau tidak melakukan kesalahan yang fatal, baby kita pasti sudah terbentuk disini." Cetusnya sambil memperdalam tusukannya itu sehingga membuat pria itu seketika memuntahkan darah dari dalam mulutnya.

" Aku sangat kecewa padamu." Lanjutnya sedangkan pria itu perlahan kehilangan kesadarannya begitu saja.

Melihat hal itu membuat Yoona merasa lebih lega,namun entah kenapa membuat hatinya terasa begitu sakit, sebab ia tidak pernah menyangka pria yag begitu ia cintai akan tiada di tangannya.

Yoona turun dari ranjang itu dan mengambil ponselnya untuk menghubungi salah satu nomor disana.

" kau sudah menangani wanita itu kan?"

"Sudah Noona, sesuai perintah Noona gadis ini sekarang aman dengan kita."

Yoona tersenyum tipis sembari menatap Luan yang masih tergeletak di atas ranjang dengan pisau yang menancap di perutnya "siksa dia, kalian boleh menyentuh atau menyetubuhi nya sepuas hati kalian, tapi jangan sampai dia mati sebelum aku sampai disana."

[Baik Noona, tapi apa tidak apa apa jika kita memainkannya.]

"Dia hanyalah jalang, tugas jalang hanyalah untuk memuaskan bukan, aku akan memberi kalian bonus jika kalian bisa melakukannya di depan ku."

[Baik Noona, terimakasih] Jawabnya yang membuat Yoona langsung mematikan panggilnya begitu saja.

" seharusnya keluarga kita bersatu karena pernikahan kita Luan,tapi sayang sekali aku terpaksa harus mengambil nyawa dan termasuk kekuasaan keluarga mu." Lanjutnya lalu pergi keluar begitu saja dari dalam rumah itu untuk melanjutkan misinya.

***

Di tengah keheningan pukul 02.00, dunia seolah berhenti sejenak, menawarkan kelonggaran dari laju kehidupan modern yang tiada henti. Ini adalah waktu untuk menghargai keindahan malam yang sederhana, untuk menemukan kenyamanan dalam ketenangan kegelapan. Suasana malam ini sungguh sangat berbeda dengan suasana malam sebelumnya dimana entah kenapa malam ini terasa lebih dingin bagaikan musim salju yang melanda di tengah musim panas.

Namun ketengangan gelapan itu hanya berlaku di luar tempat terbuka, berbeda dengan suasana sebuah Bar yang saat ini masih begitu ramai ramainya, meskipun jam sudah menunjukkan pukul dua pagi tetap saja suara kerasnya musik jazz dan lampu disco tidak pernah berhenti.

"Oughh Ahhhh yeahh faster babyy" Desah seorang wanita yang sedang menikmati benda besar yang sedari tadi sedang bermain riang di dalam kawah milknya.

"Ahhh kau sangat nikmat sekali sayang, Ahhh tuan Laurent seperti biasa kau benar benar hebat,,,,Ahhh,,,,"lenguhnya sembari mempercepat temponya hingga benar benar mencapai puncak kepuasan nya.

"Baguslah kalau kau menyukainya, aku sendiri juga tidak tahu banyak tentang hal semacam itu." Jawab pria yang sedari tadi duduk di atas sofa sembari meneguk minumannya dan menjadi saksi mata ganasnya percintaan dua orang yang ada di atas ranjang bahkan sudah beronde ronde lamanya.

Pria itu tertawa remeh sembari menatap pria yang sedang asik meneguk minumannya di sofa yang berada tidak jauh dari sana "tidak mungkin, kau pemilik bar ini, tidak mungkin kau tidak tahu macam macam kualitas para jalangmu."

"Bar ini baru ku bangun dua hari yang lalu, jalang jalang itu dengan suka rela mendaftar kemari, aku bahkan tidak pernah mencari ataupun membuka lowongan disini." Jawab Laurent.

"Jadi kau belum pernah merasakan kenikmatan duniawi ini Tuan Laurent?"

"Cih aku tidak mau milikku masuk kedalam milik jalang jalang itu, itu sama saja aku membiarkan mereka menikmati permainanku." Celetuknya.

"Kalau Tuan tidak mau memberikan kenikmatan kepada mereka, maka suruh mereka untuk memuaskan tuan tanpa harus memasukan kedalam intimnya." Sahutnya yang membuat pria itu seketika tersenyum kecut tanpa menatapnya sama sekali.

"Apa tuan Laurent mau melihatnya, saya akan menunjukan bagaimana caranya." Lanjutnya.

Pria itu mulai duduk di tepi ranjang "Heyy, berjongkok dan ulum milikku." Pintanya.

"Yess baby." Jawab wanita itu yang langsung turun dari ranjang dan mulai berjongkok di depannya dan mengulum batang besar miliknya.

Laurent yang melihat hal itu hanya tertawa menggeleng, jujur dia hanya berani melihat tapi tidak untuk mencoba sebab membayangkan nya sendiri saja sudah membuat nya bergidik geli.

Kriett!!!

terdengar suara derit pintu kayu yang terbuka oleh seseorang dan membuat Laurent sontak menatap ke arah pria yang memakai pakaian rapi dan masuk kedalam kamar tersebut.

"Ada apa?" Tanya Laurent sementara pelayan itu mulai membisikkan sesuatu di telinga pria itu.

"Kau bersenang senanglah tuan Keiro, aku sedang ada tamu di luar, panggil saja pelayan disini jika kau butuh sesuatu." Ujar Laurent yang kemudian langsung keluar begitu saja dari dalam kamar itu bersama pelayan yang memanggilnya.

Pria berpostur tinggi itu keluar dan mulai menuruni satu persatu anak tangga hingga suara keramaian bar semakin terdengar jelas. Dan ketika ia sampai di lantai bawah sorot matanya langsung tertuju pada seorang gadis memakai dress putih yang penuh dengan bercak darah. Gadis itu duduk seorang diri sembari menyembunyikan wajah cantik nya itu.

"Ku kira kau tidak akan berkunjung kemari." Ucap Laurent sembari berjalan mendekatinya hingga sontak membuatnya langsung menatapnya.

"Kau pemilik bar ini kan? Rekomendasikan alkohol paling enak disini." Pinta Yoona yang membuat pria itu tersenyum menatapnya.

"Alkohol yang paling enak adalah alkohol pribadi milikku, kau ingin mencobanya?" Ujarnya sembari menyodorkan gelas kaca miliknya.

Yoona hanya menatap pemberian nya itu tanpa merespon pemberian Laurent hingga membuat Laurent langsung meletakan gelasnya itu di atas meja yang ada di depan Yoona.

Laurent duduk di sofa depan Yoona dan menatap lekat gadis itu "pistolmu sangat cantik, apa kau habis membunuh seseorang lagi." Tebak pria itu ketika melihat sebuah pistol yang masih ia pegang.

"Bukan seseorang, tapi sekeluarga." Jawabnya singkat sementara pria itu mengangguk percaya sebab dilihat dari penampilan Yoona yang benar benar kacau dan penuh dengan bercak darah.

"Ahh kemarin ku dengar ada keluarga besar yang mati karena dibantai habis habisan oleh seseorang."

"Besok kau juga akan mendengar berita yang sama dan aku akan masuk ke dalam nya." Sahut Yoona.

Yoona mengambil gelas kaca yang Laurent letakan tadi dan meneguk minuman yang masih ada disana "kau memiliki tempat yang begitu menakjubkan." Lanjutnya.

Laurent tersenyum smirik kearahnya, "namaku Laurent, pemilik bar ini, siap namamu Noona."

"Panggil saja aku Yoona."

"Sepertinya kau benar benar sedang banyak masalah, apa kau mau menonton adegan panas." Tawarnya.

Yoona menghela nafas dan menatap Laurent "aku sudah bosan, sebab aku sudah menontonnya tadi,bahkan jauh lebih menyenangkan sebab di selingi jeritan." Jawabnya yang mengingatkan kejadian sebelum ia kemari dan melihat wanita yang sedang digilir oleh lima orang suruhannya.

~

~

~

***

[Lima tahun kemudian, New York Amerika Serikat]

"Apa Tuan menyetujui ide dan saran yang saya katakan tadi?" Tanya seorang pria muda yang berpakaian begitu rapi pada pria tua yang duduk bersama dua wanita di sebuah halaman belakang rumah yang begitu megah dan disuguhi taman indah di depannya.

"Tentu saja Leo, rencanamu itu pasti akan sangat menguntungkan bagiku."

"pilihan yang bagus Tuan." Jawabnya hingga beberapa saat kemudian seorang pelayan laki laki pun menghampiri mereka sembari membawakan dua gelas wine untuk mereka.

"ku dengar kau lahir di Mexico, apa setelah dari sini kau ada niatan kembali ke sana ? "

" Tentu saja Tuan,saya akan kembali kesana."

" Why "

" Karena calon istri saya sudah menunggu disana"

" Wow, benarkah,siapa dia."

" wanita paling cantik di dunia ini." Jawabnya sembari tersenyum membayangkan betapa cantiknya wanita yang telah ia tunggu selama berpuluhan tahun lamanya.

" astaga,aku doakan semoga kau cepat menikahi nya." Ucapnya sedangkan Leo hanya tersenyum lalu bersulang dengannya.

" itu pasti Tuan." Ujarnya sembari meminum Wine nya begitu juga dengan pria pria tua itu.

Namun entah kenapa beberapa saat kemudian setelah Pria tua itu meminum segelas wine dia merasa dadanya tiba tiba begitu sakit yang membuat kedua wanita yang ada di sampingnya itu panik,sedangkan Leo dan beberapa penjaga disana sama sekali tidak menghiraukannya.

Leo tersenyum smirik sembari meneguk wine terakhirnya " 3...2...1 " ucapnya dan disaat yang bersamaan pria tua itu tergeletak begitu saja disana.

" Agrhh astaga apa yang sedang terjadi " teriak salah satu wanita yang ada di sana, mementara Leo perlahan berjalan mendekat ke arahnya.

"maafkan aku paman,dan terima kasih atas doanya."

"Luca, urus dua wanita itu , bunuh saja mereka ,aku tidak mau meninggalkan noda disini." Lanjutnya sembari mulai mengambil sampel iris mata pria tua itu.

" Baik Tuan."

" kau sudah mengatur penerbangan ku bukan?"

" penerbangan tuan pukul 2 siang nanti."

" baguslah." Ucapnya lalu pergi begitu saja dari tempat itu.

Tawaran

Saat sinar fajar pertama mewarnai langit dengan warna emas dan merah jambu, iring-iringan mobil mewah yang berkilauan muncul dari cakrawala, siluetnya sangat kontras dengan latar belakang warna pastel. Konvoi tersebut, yang merupakan bukti kemewahan dan keagungan, meliuk-liuk melewati jalan-jalan yang berkelok-kelok, kehadirannya menarik perhatian dan menarik perhatian.

Saat prosesi mendekati tujuannya, sebuah rumah megah muncul dari lanskap hijau, struktur megahnya mendominasi cakrawala. Rumah besar tersebut, yang merupakan simbol kekayaan dan kekuasaan, berdiri sebagai bukti kemakmuran penghuninya.

Konvoi itu dengan anggun berhenti di pintu masuk mansion yang megah, gerbang megahnya berayun terbuka seperti lengan penyambutan. Mobil-mobil itu, satu per satu, meluncur melalui gerbang yang melengkung, mesinnya mendengkur dalam dengungan yang tersinkronisasi.

Satu persatu penghuni mobil itu mulai keluar dari sarangnya begitu juga dengan penghuni mobil yang berhenti tepat di depan pintu masuk rumah. Seseorang berjas hitam rapi mulai membuka pintu mobil itu dan seorang pria tampan berpostur tinggi dengan memakai jas navy perpaduan hitam itu keluar dari dalam mobil yang ia tumpangi.

"Selamat datang di kediaman keluarga Wiliam,Tuan muda Alexander, Sekarang Tuan Bessr sudah menunggu kedatangan anda di dalam,mari saya antar. " Sambut salah satu pria dengan senyum ramahnya yang berjaga disana.

Mendengar hal itu,pria itu sama sekali tidak merespon nya,dan menatap BG itu dengan dinginnya, sedangkan BG itu langsung berjalan mengantarkan nya masuk kedalam rumah besar itu. Namun ketika mereka ingin masuk ke dalam rumah itu,kedua pintu rumah itu sudah terlebih dahulu terbuka, melihat hal itu mereka semua pun dengan seketika menghentikan langkah mereka dan seorang gadis cantik keluar dengan diikuti beberapa BG di belakangnya.

Melihat hal itu semua BG yang ada disana langsung membungkukkan badan memberikan hormat,sedangkan gadis itu tetap acuh tidak menghiraukan mereka dan berjalan meninggalkan rumah itu. Sedangkan pria muda tadi hanya melihat gadis itu berjalan melewatinya begitu saja tanpa melihat ataupun melirik ke arahnya.

" Siapa Dia ?" Tanyanya yang masih menatap punggungnya yang perhalan menghilang dari pandangannya.

" Dia Noona Yoona, dia putri tunggal di keluarga ini tuan." Jawab Luca yang merupakan asisten pribadinya.

"Yoona? (Smirik) astaga aku hampir tidak mengenalinya, ternyata dia lebih cantik dari pada yang ada di foto."

" Mari Tuan " Ajak BG itu yang kemudian mulai masih ke kediaman rumah itu Di bersama asisten pribadinya itu.

Dan beberapa menit kemudian mereka pun sampai di sebuah taman belakang rumah itu,disana mereka melihat banyak sekali tanaman hias dan pepohonan yang cocok digunakan untuk bersantai.

"Permisi tuan Wiliam,tuan muda Alexander sudah sampai." ucapnya yang membuat pria tua itu menoleh ke arah mereka.

Vigor menatap kearah pria muda disana dan kembali menatap asisten pribadinya "pergilah dan ingat apa yang ku katakan tadi." Ucapnya pada asistennya.

"Baik Tuan." Jawab asistennya itu sembari membungkukkan badannya dan pergi begitu juga dengan BG yang datang tadi.

" Astaga Leo putraku,,,,,akhirnya kau kemari juga mengunjungi pamanmu ini, aku sudah lama sekali tidak bertemu denganmu." Serunya sembari memeluk pria itu.

Leo hanya bisa tersenyum sembari membalas pelukannya "iya Paman." Jawabnya singkat dan membuat Vigor melepaskan pelukannya itu

"Lihatlah, kau sudah semakin besar sekarang, terakhir aku lihat kau dulu masih setinggi lutut paman bahkan kalah tinggi dengan Yoona, dan sekarang kau sudah sangat besar dan tampan." Ucapnya sembari melihat penampilan keseluruhan Leo saat ini.

" Ayo ayo duduklah,ceritakan bagaimana kabarmu di Canada hmm?" Tanyanya.

" kabarku sangat baik baik saja paman, bagaimana dengan paman." Jawabnya sembari duduk di depannya.

" Seperti yang kau lihat sekarang Leo, aku juga sangat baik baik saja, yahh meskipun umurku benar benar sudah tua " keluh pria yang berumur lebih dari setengah abad tapi tetap awet muda

" meskipun sudah tua paman sama sekali tidak berubah,paman masih tetap tampan dan awet muda seperti dulu." Pujinya sembari tersenyum pada pria yang duduk di depannya itu.

Vigor tertawa sekilas "kau ini ada ada saja,kau tahu perkataan mu itu bertolak belakang dengan putriku."

" putri paman? Sepertinya aku bertemu dengannya sekilas tadi di luar." Sahutnya ketika teringat akan sesuatu.

" benarkah?lalu bagaimana menurut mu dia cantik bukan?apa kau menyukainya?" tanyanya yang membuat Yoongi terdiam dan seketika tersenyum sembari menundukkan kepalanya, seakan akan dia tersipu malu ingin menjawabnya.

" Astaga,,,, sepertinya aku akan mendapatkan menantu sebentar lagi, aku dan Noah juga sempat berfikiran untuk menjodohkan kalian berdua, karena kalian sudah berteman dekat sejak kecil, dan aku cukup sedih karena Luna memindahkan sekolahmu di Canada.

Leo menatap Vigor dengan begitu lekat, " tapi sekarang aku sudah ada disini, dan kalau itu memang benar,aku dengan senang hati akan menyetujuinya paman,karena aku benar benar menyukai putri paman." Ucapnya dengan terus terang.

"benarkah?ahh baiklah aku akan bicarakan hal ini dengan putri ku,dan dan aku akan segera mengajarimu nanti." Jawabnya kegirangan.

Leo tersenyum sembari meminum secangkir teh yang di sajikan tadi, "aku tunggu kabarnya baiknya paman."

Mereka berdua kembali senyap dan menikmati minuman yang ada didepan mereka masing masing sembari menikmati ketenangan alam sekitar.

"Ahh iya,aku sudah membawakan barang yang paman inginkan." Lanjutnya sambil meletakkan cangkir nya.

Leo melirik sekilas pada pria yang sedari tadi berdiri di belakangnya "Luca bawa kemari."

Mendengar permintaan tuannya itu Luca pun langsung berjalan mendekati mereka sambil membawa sebuah tas di tangannya.

" ini tuan." Ucapnya sembari meletakkan tas itu di atas meja.

Leo membuka tas besar itu dan mengambil sebuah benda kecil yang sedari tadi ia simpan di sana. "ini barang yang paman inginkan."

"aku sudah membantu paman mengambil sampel iris tuan Bert, tapi aku masih penasaran kenapa paman sangat ingin sampel ini."

" Wahh Hebat,,,,bagaimana kau bisa mendapatkannya, padahal penjagaan Bert cukup ketat, aku saja hampir nyaris terbunuh olehnya." Ucapnya namun Leo hanya tersenyum mendengarnya.

'yah karena memang dari awal para penjaga tuan Bert adalah anak buahku.' Batin Leo sembari menatap pria tua yang sedang kegirangan itu.

" paman belum menjawab pertanyaan ku tadi,kenapa paman ingin sekali mendapatkannya, apa paman punya misi sehingga membutuhkan benda ini."

" Apa kau tahu tentang si topeng hitam?" Tanyanya

"Si topeng hitam?maksud paman mafia tanpa wajah yang sudah membantai keluarga Anthony dan merebut semua kekayaannya lima tahun yang lalu itu?"

"kau tahu tentang hal itu?"

"Tentu saja, di masa masa itu orang Canada banyak membicarakannya, karena banyak yang tahu kalau tuan Anthony menyimpan semua kekayaannya di suatu tempat di Italy." Jawabnya.

" itulah maksudku, kenapa aku menyuruhmu untuk mengambil sampel iris mata tuan Bert, karena banyak yang bilang kekayaan Anthony ada di ruangan bawah gunung italy, dan ruangan itu hanya bisa di buka oleh pemilik kekayaan itu sendiri dan para kerabatnya."

"Benarkah, tapi jika si topeng hitam itu sudah mengambil alih semuanya, kemungkinan ruang bawah tanah itu juga sudah menjadi miliknya paman."

"Tidak Leo, kekayaan ruang bawah tanah itu murni milik keluarga besar Anthony, dan yang bisa membukanya hanyalah tuan Bert dan tuan Anthony, kalau tidak salah si topeng hitam itu belum bisa membuka ruangan itu sampai sekarang."

"Tapi pasti dia masih menjaga ruangan itu agar tidak ada siapapun yang bisa membukanya, sebelum ia mengetahui pemilik kuncinya."

"Itulah kenapa aku meminta bantuanmu Leo, kita harus bergerak lebih cepat darinya." Ucap tuan Vigor sembari memainkan benda kecil yang sedari tadi ia pegang.

" tapi bagaimana jika cara itu gagal? Paman tahu sendiri dia saja bisa menghabisi satu keluarga besar mafia tanpa bantuan siapapun, pasti bukan hal yang sulit untuknya menghalangi kita."

" Itulah kenapa aku ingin aku ingin minta bantuan darimu, aku ingin kau mencari tahu siapa si topeng hitam itu Leo, jika kita mengetahui kedok aslinya akan lebih mudah bagi kita untuk menghancurkannya." Ujarnya.

"Kau pandai dalam hal penyelidikan, apa lagi kau punya wilayah luas di luar sana lebih dari si topeng hitam itu."

" kau tenang saja jika kita berhasil,aku akan membagi separuh kekayaan nya denganmu." Lanjutnya dengan begitu meyakinkan.

" Tawaran yang cukup menarik," Leo mengangguk singkat sembari berpikir sejenak mengenai tawaran yang pamannya itu berikan "baiklah aku akan melakukan nya untukmu paman." Jawab nya.

" Serius?"

" tentu saja, tapi paman ada syaratnya, aku akan melakukan hal itu asal paman mau melakukan hal yang besar untukku " ucapnya yang seketika mengubah topik pembicaraanya itu.

" tentu saja,aku sudah menganggap mu sebagai putraku sendiri Leo, katakan apa yang kau mau hmm?" Tanyanya

" Tepati omongan paman tadi, jadikan aku menantu keluarga ini." Ucapnya dengan begitu meyakinkan sembari menatap tajam ke arah pria tua itu.

" kau menginginkan putriku? Pasti aku akan memberikannya padamu, bukankah sudah aku katakan tadi."

" akan aku pastikan pernikahan kalian akan diadakan Minggu ini, kau jangan khawatir, atau begini saja, ayo kita makan malam bersama, ajak Luna kemari, anggap saja ini perayaan kepulangan mu dan terima kasihku,sekalian membicarakan tentang pernikahan kalian." Ajaknya

" Tentu saja paman, kita akan datang nanti malam." Jawabnya sembari tersenyum menatap pria yang ada di depannya.

Mereka berdua pun mulai bersantai sambil meminum secangkir tehnya kembali yang telah di siapkan tadi.

Sementara Leo merasa puas sebab rencananya berjalan begitu lancar hari ini, seakan akan dia langsung mendapatkan lampu hijau kemenangannya.

Sedangkan di sisi lain, di tempat yang jauh, tapatnya di sekitar 3 meter dari tempat dua pria itu terdapat dua wanita yang sedari tadi memantau kedua pria itu dari kejauhan.

" Yoona, kau lihat pria muda itu?dia adalah targetmu selanjutnya."

" dia Leonard David Alexander, putra sulung dari keluarga Alexander, yang memiliki kekuasaan tertinggi setelah keluarga kita, jika kau mengingatnya dia adalah teman masa kecil mu dulu,tapi sekarang kau harus bisa mentargetkan nya sebagai mangsamu berikutnya."

"Leonard?" jawabmu datar tanpa menatap wanita yang sedari tadi mengoceh di sampingnyaitu.

" kudengar pria itu sangat jenius dan licik,buktinya dia bisa mendapatkan sampel iris tuan Bert dengan mudah"

" dan beberapa hari yang lalu, papamu membicarakan perjodohan yan ingin ia lakukan dengan keluarga Alexander, dia berencana menikahkan mu dengannya."

" menikah kan aku dengan nya?"

"Benar,,,,jika itu memang terjadi,terima saja tawarannya, melalui pernikahan itu kau bisa menaklukkan semua kekayaan keluarganya." Pinta nya sementara Yoona hanya diam sembari menatap dua pria yang sedari tadi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!