NovelToon NovelToon

Adharma

Hidup Yang Tenang

Langit Kota Sentral Raya tampak mendung saat Guntur Darma melangkah ke dalam area pergudangan Sentral Logistik, tempatnya bekerja sejak lima tahun lalu. Udara pagi masih terasa segar, tetapi hiruk-pikuk aktivitas di dalam gudang sudah dimulai sejak subuh. Truk-truk pengangkut datang dan pergi, mengantarkan barang ke berbagai sudut kota.

Darma mengencangkan tali ranselnya dan menyapa satpam di pintu masuk. “Pagi, Pak Didi.”

Satpam tua itu mengangguk. “Pagi, Darma. Datang pagi seperti biasa?”

Darma tersenyum. “Kalau telat, nanti bos ngomel.”

Ia berjalan melewati barisan rak tinggi berisi berbagai jenis barang, mulai dari peralatan elektronik, bahan makanan, hingga pakaian. Gudang ini adalah salah satu yang terbesar di kota, menjadi pusat distribusi untuk banyak perusahaan besar.

Di meja administrasi, Darma meletakkan tasnya dan mulai memeriksa dokumen pengiriman hari ini. Sebagai staf yang mengurus data barang keluar-masuk, pekerjaannya menuntut ketelitian.

Baru saja ia duduk, seorang pria berperawakan besar menghampirinya. Doni, rekan kerjanya yang selalu ceria, membawa dua cangkir kopi. “Pagi, bos pekerja keras.”

Darma tertawa kecil. “Kopi pagi-pagi? Biasanya kamu minum teh.”

Doni duduk di kursi sebelahnya dan menyerahkan satu cangkir. “Khusus buatmu, biar semangat.”

Darma menghirup aroma kopi itu sebelum menyesapnya. Pahit dan kuat, persis seperti hidupnya. “Terima kasih. Kau sendiri bagaimana? Anak-anak sehat?”

Doni mengangguk. “Iya, alhamdulillah. Oh ya, nanti siang katanya ada inspeksi dari manajemen pusat. Jangan sampai ada kesalahan di dokumen.”

Darma menghela napas. Inspeksi seperti ini biasanya berarti kerja tambahan. Tapi ia tidak keberatan. “Baik, aku akan cek lagi semua laporan.”

Setelah obrolan singkat, Darma mulai tenggelam dalam pekerjaannya. Jemarinya lincah menari di atas keyboard, mencocokkan daftar barang dengan laporan pengiriman. Ia memastikan tidak ada yang terlewat.

Tiba-tiba, seorang supervisor bernama Pak Jaya datang dengan wajah serius. “Darma, ikut saya sebentar.”

Darma bangkit dan mengikuti atasannya ke sebuah sudut gudang. Pak Jaya menyerahkan sebuah dokumen. “Ini laporan pengiriman ke luar kota minggu lalu. Ada kejanggalan di angka stok.”

Darma mengambil kertas itu dan mengamati isinya. Matanya menyipit, membaca dengan teliti setiap angka. Ada selisih barang yang cukup signifikan. “Seharusnya jumlah ini tidak berbeda jauh dengan laporan awal. Saya akan periksa ulang.”

Pak Jaya mengangguk. “Bagus. Aku percaya padamu, Darma.”

Darma kembali ke mejanya dan mulai meneliti laporan dengan saksama. Ia tidak suka jika ada data yang tidak akurat. Setiap angka harus benar, karena satu kesalahan kecil bisa berarti kerugian besar.

Selama beberapa jam, ia berkutat dengan data. Berkali-kali ia membandingkan catatan di komputer dengan laporan manual. Hingga akhirnya, ia menemukan sesuatu yang aneh. Ada barang yang seharusnya tidak dikirim, tetapi tercatat telah keluar dari gudang.

Darma mengernyit. “Aneh. Ini seperti ada manipulasi data…”

Ia menatap angka-angka itu dengan perasaan tidak enak. Namun, sebelum bisa menyelidiki lebih lanjut, Doni datang dan menepuk bahunya. “Hei, sudah siang. Makan dulu, nanti kau sakit.”

Darma tersentak dari pikirannya dan melihat jam dinding. Sudah hampir jam satu siang. Ia menghela napas dan mengangguk. “Baik, aku ikut.”

Di kantin, Darma mengambil sepiring nasi dengan lauk sederhana. Ia duduk bersama Doni dan beberapa rekan kerja lain.

“Kau terlihat serius sekali,” kata Doni sambil mengunyah. “Ada masalah?”

Darma mengaduk nasi di piringnya, berpikir sejenak sebelum menjawab. “Mungkin ada kesalahan di laporan stok. Aku sedang menyelidiki.”

Doni mengangkat alis. “Kesalahan biasa atau sesuatu yang besar?”

Darma menatapnya. “Aku belum tahu.”

Obrolan mereka terhenti saat beberapa manajer dari kantor pusat tiba untuk inspeksi. Beberapa karyawan mulai terlihat gelisah, sementara Darma tetap tenang. Ia tahu pekerjaannya bersih, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sore harinya, Darma kembali fokus pada laporannya. Namun, ada sesuatu di benaknya yang mengganggu. Ia merasa ada kejanggalan dalam sistem. Tetapi untuk saat ini, ia tidak memiliki bukti cukup.

Jam menunjukkan pukul tujuh malam saat ia akhirnya berkemas untuk pulang. Hari ini panjang, tetapi masih ada esok.

Saat ia berjalan keluar dari gudang, langit sudah gelap. Kota Sentral Raya tampak ramai dengan cahaya lampu jalan dan suara kendaraan yang berlalu-lalang.

Darma menghela napas. Ia tidak tahu bahwa hidupnya yang damai ini tidak akan bertahan lama.

Darma menaiki sepeda motornya dan melaju pelan menuju rumah. Udara malam di Kota Sentral Raya terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu jalan menerangi aspal yang mulai retak di beberapa bagian, tanda kota ini tak sepenuhnya dirawat dengan baik.

Setelah sekitar lima belas menit berkendara, ia akhirnya sampai di rumahnya—sebuah rumah sederhana dengan cat putih yang mulai pudar. Ia mematikan mesin motor, lalu mengetuk pintu dua kali sebelum membukanya sendiri.

Begitu masuk, aroma masakan yang hangat langsung menyambutnya. Dari dapur, seorang wanita dengan rambut sebahu dan senyum lembut berjalan menghampirinya. Sinta, istrinya.

“Kamu pulang terlambat lagi?” tanyanya sambil tersenyum kecil.

Darma menaruh tasnya di meja. “Ada kerjaan tambahan. Inspeksi dari kantor pusat.”

Sinta menghela napas dan mengusap lengannya lembut. “Kamu kerja terlalu keras, Darma. Jangan sampai lupa istirahat.”

Sebelum Darma sempat menjawab, suara langkah kecil terdengar dari arah ruang tengah. Seorang gadis kecil berlari menghampirinya dengan mata berbinar. “Ayah pulang!”

Darma langsung berjongkok dan merentangkan tangannya. Dwi Handayani, putrinya yang baru berusia lima tahun, langsung melompat ke pelukannya.

“Ayah bawa apa buat Dwi?” tanyanya dengan wajah penuh harap.

Darma terkekeh dan mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya—sebatang cokelat kecil. “Ini untuk gadis kecil Ayah.”

Dwi mengambilnya dengan wajah gembira. “Makasih, Ayah!”

Sinta hanya menggeleng, tetapi senyumnya tetap menghiasi wajahnya. “Kamu selalu saja membelikan sesuatu untuknya.”

Darma mengangkat bahu. “Dia kan anak Ayah.”

Mereka bertiga lalu menuju meja makan. Makanan sederhana tersaji di atas meja—sayur sop, tempe goreng, dan ikan bakar. Darma menatap keluarganya sejenak sebelum mulai makan.

Di saat seperti ini, ia merasa hidupnya sudah cukup. Sederhana, tetapi bahagia.

Namun, kebahagiaan ini tidak akan bertahan lama.

Kota Yang Sakit

Setelah makan malam, Darma duduk di ruang tamu dengan Dwi di pangkuannya. Gadis kecil itu sibuk memainkan boneka beruang kesayangannya, sementara Sinta merapikan meja makan di dapur. Televisi di sudut ruangan menayangkan berita malam, menampilkan laporan tentang peristiwa kriminal terbaru di Kota Sentral Raya.

"Seorang pria ditemukan tewas di kawasan pasar malam, diduga korban perampokan bersenjata. Polisi masih menyelidiki, namun hingga kini belum ada tersangka yang ditahan."

Darma menghela napas panjang, matanya tetap terpaku pada layar. Kota ini semakin kacau. Setiap hari ada berita pembunuhan, perampokan, atau korupsi pejabat. Polisi hanya diam atau malah ikut bermain di dalamnya.

Sinta datang dan duduk di sampingnya, memperhatikan ekspresi suaminya yang terlihat muram. “Berita lagi?” tanyanya lembut.

Darma mengangguk. “Setiap hari sama saja, Sin. Kota ini… sudah terlalu rusak.”

Sinta menatap suaminya dengan penuh perhatian. “Darma, kamu tidak bisa terus-menerus memikirkan hal seperti ini. Kamu sudah bekerja keras, pulang ke rumah dengan selamat, dan masih bisa bersama kami. Itu yang terpenting.”

Darma menggenggam tangan istrinya. “Aku tahu. Tapi rasanya aku muak. Orang-orang jahat terus berbuat sesuka hati, sementara kita hanya bisa melihat dan berharap keadaan membaik.”

Sinta mengelus punggung tangannya, mencoba menenangkan. “Kita hanya orang biasa, Darma. Kita tidak bisa melawan sistem yang sudah kotor seperti ini.”

Darma terdiam, tetapi di dalam hatinya, ia merasa marah. Apakah memang tidak ada yang bisa dilakukan? Apakah semua orang hanya harus menerima kenyataan bahwa Kota Sentral Raya akan selamanya berada di bawah kendali orang-orang korup?

Dwi menguap kecil di pangkuannya, membuat Darma tersadar dari pikirannya. Ia tersenyum dan membelai rambut anaknya. “Sudah ngantuk, Nak?”

Dwi mengangguk pelan. “Ayah, cerita dulu sebelum tidur…”

Darma mengangkat putrinya dan membawanya ke kamar. “Baiklah, cerita apa kali ini?”

Sinta mengikuti dari belakang, tersenyum melihat kehangatan suaminya terhadap anak mereka. Meskipun Darma sering terlihat tegas dan serius, bagi Dwi, ia selalu menjadi ayah yang penuh kasih sayang.

Di dalam kamar, Darma duduk di tepi ranjang sementara Dwi sudah nyaman di balik selimutnya. “Mmm… cerita pahlawan aja, Ayah,” pinta Dwi dengan mata berbinar.

Darma tersenyum kecil. “Baik. Dengar baik-baik, ya.”

Ia mulai bercerita tentang seorang pejuang yang melindungi rakyatnya dari kejahatan. Seorang pria yang berjuang sendirian di tengah kota yang penuh kebusukan.

Tanpa sadar, cerita yang ia sampaikan adalah gambaran dari pikirannya sendiri.

Dwi mulai terlelap sebelum cerita selesai. Darma mengecup kening putrinya dengan lembut, lalu menatapnya sejenak. Ada perasaan damai setiap kali ia melihat wajah polos anaknya.

Saat ia keluar kamar, Sinta sudah menunggunya di ruang tamu dengan ekspresi khawatir. “Darma… kamu baik-baik saja?”

Darma duduk di samping istrinya, menyandarkan kepalanya ke sofa. “Aku hanya merasa marah, Sin. Kota ini tidak seharusnya seperti ini. Seharusnya kita bisa hidup dengan tenang tanpa takut dirampok, diperas, atau dikhianati oleh pemerintah kita sendiri.”

Sinta menghela napas dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. “Aku mengerti. Aku juga takut. Tapi kita harus tetap bersyukur, Darma. Setidaknya kita masih memiliki satu sama lain.”

Darma memejamkan mata. Untuk saat ini, hanya keluarganya yang membuatnya tetap waras.

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa sesuatu harus berubah.

Dan jika tidak ada yang berani mengambil tindakan, maka mungkin dialah yang harus melakukannya.

Darma masih bersandar di sofa dengan mata terpejam, sementara Sinta tetap berada di sampingnya, kepalanya menyandar di bahunya. Keheningan di antara mereka terasa nyaman. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, mengiringi malam yang semakin larut.

Sinta mengangkat kepalanya dan menatap suaminya dengan lembut. “Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang di luar kendalimu, Darma. Aku tidak ingin kamu terlalu terbebani.”

Darma membuka matanya dan tersenyum tipis. “Aku tahu, Sin. Hanya saja… rasanya sulit untuk diam saja.”

Sinta mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Darma dengan lembut. “Yang paling penting bagiku adalah kamu tetap di sini… bersamaku, bersama Dwi. Kamu adalah dunia kami.”

Darma menatap mata istrinya dalam-dalam. Ada ketulusan di sana, ada cinta yang sudah bertahun-tahun menemani hidupnya. Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat tangan Sinta dan mengecupnya pelan.

“Kamu selalu tahu bagaimana menenangkanku,” bisiknya.

Sinta tersenyum. “Karena aku mengenalmu lebih dari siapa pun.”

Darma membalas senyumannya, lalu menariknya perlahan ke dalam pelukan. Hangat. Wangi khas tubuh istrinya membuatnya merasa tenang. Ia mengecup puncak kepala Sinta sebelum menurunkan wajahnya dan menyentuhkan bibirnya ke keningnya, lalu ke pipinya, dan akhirnya ke bibirnya.

Sinta tidak menolak. Sebaliknya, ia membalasnya dengan penuh kasih. Ciuman mereka lambat, lembut, tetapi penuh arti. Tidak ada urgensi, hanya dua hati yang saling berbagi kehangatan setelah hari yang melelahkan.

Saat mereka berpisah, Sinta menatapnya dengan pipi yang sedikit memerah. “Sudah lama kamu tidak seperti ini.”

Darma tersenyum miring. “Mungkin aku perlu diingatkan kalau aku punya istri yang luar biasa.”

Sinta tertawa kecil, lalu berdiri dan menarik tangan suaminya. “Kalau begitu, ayo ke kamar.”

Darma mengikuti tanpa ragu, membiarkan dirinya tenggelam dalam cinta istrinya—sebuah ketenangan yang akan menjadi kenangan berharga sebelum badai besar menimpa hidupnya.

Pagi Hari dengan luka

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamar, menyapu lembut wajah Sinta yang masih terlelap di sisi Darma. Udara pagi masih sejuk, namun suara ayam berkokok dan kendaraan yang mulai berlalu lalang di luar rumah menjadi tanda bahwa hari baru telah dimulai.

Darma masih tertidur lelap di sampingnya, wajahnya terlihat lebih tenang dibanding semalam. Sinta tersenyum kecil, mengingat percakapan mereka sebelum tidur. Ia tahu betapa kerasnya suaminya bekerja dan seberapa besar beban yang ia tanggung. Namun, saat ini, yang bisa ia lakukan hanyalah memastikan bahwa Darma memiliki tempat pulang yang nyaman—rumah yang penuh cinta.

Pelan-pelan, Sinta bangkit dari tempat tidur, berusaha tidak membangunkan suaminya. Ia melirik ke arah jam dinding. Sudah hampir pukul enam. Itu berarti sudah waktunya menyiapkan sarapan dan membangunkan Dwi untuk bersiap ke sekolah.

Sinta berjalan keluar kamar dan langsung menuju dapur. Ia menyingsingkan lengan bajunya dan mulai menyiapkan bahan-bahan untuk sarapan. Pagi ini, ia memutuskan untuk membuat nasi goreng sederhana dengan telur mata sapi—menu favorit Dwi.

Saat minyak mulai panas di wajan, terdengar suara pintu kamar kecil yang terbuka. Tak lama kemudian, langkah kecil terdengar mendekat.

“Ibu…”

Sinta menoleh dan tersenyum melihat Dwi berdiri di ambang pintu dapur, masih mengusap matanya yang mengantuk. Rambutnya berantakan, tetapi ekspresi polosnya tetap menggemaskan.

“Kamu sudah bangun, Sayang?” Sinta mendekat dan mengusap kepala putrinya lembut.

Dwi mengangguk pelan. “Aku mimpi tentang Ayah semalam,” katanya sambil tersenyum kecil.

Sinta tersenyum, menuntun putrinya duduk di kursi. “Mimpi apa?”

Dwi menguap kecil sebelum menjawab, “Ayah jadi pahlawan… dia lawan orang jahat.”

Sinta terkekeh. “Wah, Ayah pasti suka kalau dengar itu.”

Dwi tersenyum senang, lalu mengayunkan kakinya kecil-kecil sambil menunggu sarapan.

Sinta kembali ke dapur, menyelesaikan memasak nasi goreng dan menyiapkan segelas susu untuk Dwi. Tak lama kemudian, suara langkah berat terdengar dari arah kamar tidur mereka.

Darma muncul di ambang pintu dapur, mengusap matanya yang masih mengantuk. “Wangi apa ini?” tanyanya dengan suara serak.

“Nasi goreng,” jawab Sinta sambil tersenyum.

Darma melangkah mendekat dan mencium puncak kepala istrinya sebelum duduk di samping Dwi. “Pagi, Nak.”

“Pagi, Ayah!” jawab Dwi ceria.

Sinta menaruh piring berisi nasi goreng di meja. “Makan dulu sebelum berangkat kerja.”

Darma mengangguk dan mulai makan, sementara Sinta menyuapi Dwi yang masih setengah mengantuk. Suasana pagi yang hangat ini terasa begitu biasa—tetapi juga sangat berharga.

Namun, mereka tidak tahu bahwa momen-momen seperti ini akan segera menjadi kenangan terakhir yang paling berharga.

Darma berjalan menuju halte angkot setelah berpamitan dengan Sinta dan Dwi. Udara pagi masih terasa segar, tetapi pikirannya tetap dipenuhi oleh kekhawatiran terhadap keadaan kota ini.

Saat melewati gang sempit yang biasa ia lewati, Darma mendengar suara gaduh dari kejauhan. Ia mempercepat langkahnya dan melihat seorang pemuda sedang dikeroyok oleh tiga orang preman. Mereka terlihat mabuk, meskipun matahari baru saja naik.

“Hei, cukup!” seru Darma, mendekat dengan ekspresi tajam.

Para preman menoleh. Salah satu dari mereka—yang tubuhnya paling besar—menyeringai. “Wah, pagi-pagi sudah ada yang mau cari masalah.”

Pemuda yang mereka hajar tergeletak di tanah, wajahnya penuh luka lebam. Darma mengepalkan tangan. Ia bisa saja pergi dan berpura-pura tidak melihat, seperti kebanyakan orang di kota ini. Tapi itu bukan dirinya.

Salah satu preman melangkah maju dengan senyum meremehkan. “Mau sok jadi pahlawan, ha?”

Tanpa peringatan, pria itu melayangkan pukulan.

Darma menghindar dengan mudah, lalu menangkis tangan preman itu dan membantingnya ke tanah dengan gerakan cepat.

Dua preman lainnya tersentak. Namun, alih-alih mundur, mereka justru menyerang bersamaan.

Darma bergerak refleks. Sejak kecil, ia telah berlatih silat, dan pengalaman bertahun-tahun telah mengasah insting bertarungnya. Ia menangkis serangan pertama, lalu menyikut rahang lawannya dengan keras. Preman itu terhuyung ke belakang.

Namun, preman terakhir berhasil menyarangkan pukulan ke wajahnya. Darma tersentak ke belakang, merasakan darah mengalir dari sudut bibirnya.

Ia mengusap luka itu dengan punggung tangannya, lalu menatap preman yang tersisa dengan tatapan dingin. “Itu saja?” tanyanya datar.

Preman itu ragu sejenak, lalu mencoba menyerang lagi. Kali ini, Darma tak memberi kesempatan. Ia menendang lutut lawannya, membuatnya kehilangan keseimbangan, lalu melayangkan pukulan terakhir yang membuatnya tersungkur ke tanah.

Ketiga preman itu kini terkapar, merintih kesakitan. Darma menghela napas, lalu menghampiri pemuda yang masih tergeletak.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya, mengulurkan tangan.

Pemuda itu mengangguk lemah dan menerima bantuan Darma untuk berdiri. “Terima kasih… kalau bukan karena Anda, saya mungkin sudah habis.”

Darma mengangguk kecil. “Lain kali, berhati-hatilah.”

Setelah memastikan pemuda itu bisa berjalan, Darma kembali melanjutkan perjalanannya ke kantor. Luka di wajahnya masih terasa perih, tetapi lebih dari itu—ia merasa semakin yakin.

Kota ini butuh seseorang yang bisa melawan kejahatan.

Dan mungkin, hanya dia yang bisa melakukannya.

Darma melangkah masuk ke kantor dengan langkah tenang, meskipun rasa perih di wajahnya masih terasa. Ia tidak terlalu peduli dengan luka itu, tetapi reaksi orang-orang di sekitarnya berbeda.

Begitu ia melewati pintu utama, beberapa rekan kerja yang sedang berbincang langsung menghentikan percakapan mereka dan menatapnya dengan mata membesar. Seorang wanita di bagian administrasi bahkan menutup mulutnya dengan tangan, terkejut.

“Darma! Wajahmu kenapa?” seru seorang rekan kerja, Anton, yang langsung menghampirinya.

Darma hanya mengusap darah kering di sudut bibirnya dan tersenyum kecil. “Kecelakaan kecil.”

Anton mengernyit. “Kecelakaan macam apa yang bisa bikin mukamu kayak gitu?”

Sebelum Darma sempat menjawab, supervisor mereka, Pak Jaya, keluar dari ruangannya dengan ekspresi serius. “Darma, masuk ke ruang saya.”

Ruangan itu sunyi sejenak. Rekan-rekan kerja Darma saling bertukar pandang, penasaran dengan apa yang terjadi.

Darma hanya mengangguk dan mengikuti Pak Jaya ke dalam ruangan. Begitu pintu tertutup, pria paruh baya itu menatapnya dengan tajam.

“Ada apa dengan wajahmu?” tanyanya langsung.

Darma menghela napas. “Saya membantu seseorang yang dikeroyok preman tadi pagi.”

Pak Jaya mengusap wajahnya dengan tangan. “Darma… saya tahu kamu orang baik, tapi kota ini bukan tempat untuk main jadi pahlawan. Preman-preman di sini bukan sekadar pengganggu jalanan. Mereka punya backing. Kamu bisa dalam masalah besar kalau berurusan dengan mereka.”

Darma terdiam. Ia tahu maksud atasannya itu. Kota Sentral Raya bukan tempat yang aman, dan hukum di sini lebih sering berpihak pada yang punya kuasa.

Pak Jaya menghela napas panjang sebelum melanjutkan, “Saya tidak ingin kehilangan karyawan terbaik saya. Lain kali, biarkan saja polisi yang menangani.”

Darma tersenyum tipis. “Polisi?” Ia tertawa kecil, tetapi tidak ada humor dalam suaranya. “Saya rasa mereka juga bagian dari masalah di kota ini.”

Pak Jaya terdiam. Ia tidak bisa membantahnya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya berkata, “Kalau begitu, paling tidak, hati-hati.”

Darma mengangguk. “Tentu, Pak.”

Dengan itu, ia keluar dari ruangan dan kembali ke mejanya, mencoba menjalani hari seperti biasa. Tetapi di dalam hatinya, ia tahu—hari ini bukan hari biasa. Luka di wajahnya adalah pengingat bahwa kejahatan di kota ini nyata, dan seseorang harus melakukan sesuatu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!