Pagi itu, di sebuah rumah kontrakan kecil, dua pemuda sedang bercanda santai sebelum memulai aktivitas masing-masing. Mereka adalah Ardian Pratama. pemuda sederhana dengan wajah tampan, dan Reza Arkan. sahabat sekaligus teman 1 kontrakan.
"Lo hari ini kuliah jam berapa ar, ?" tanya reza sambil mengunyah roti.
"Jam sembilan. Lo mau bareng?" tawar Ardian.
"Gue naik angkot aja, soalnya mau ketemu dekan buat ngurus skripsi." jawab Reza.
"Ngomong-ngomong, gimana skripsi lo?" tanya Reza lagi.
"Tinggal dua kali sidang lagi, semoga cepat kelar." jawab Ardi.
reza mengangguk paham.
"Oh, oke-oke. Ya udah, gue berangkat duluan."
"Oke, hati-hati," sahut Ardi.
Saat Reza sudah berjalan keluar, tiba-tiba Ardi berteriak.
"Eh, Gus! Tunggu bentar!" panggil Ardi.
reza berhenti dengan wajah kesal. "Apa sih, teriak-teriak nggak jelas? Gue buru-buru, tau!"
"Lo ada duit nggak? Gue pinjam dulu buat bensin." kata ardi cengengesan.
reza melotot.
"Brengsek lo! Gue kira ada urusan penting. tau nya pinjam duit.!" seru reza dengan kesal.
"Yaelah bro. Gue bokek, gajian masih seminggu lagi. Ntar gue ganti, sumpah!"
Agus menghela napas panjang sebelum akhirnya merogoh kantong dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribu.
"Nih, tapi jangan lama-lama balikin nya.!"
Ardi mengambil uang itu dengan santai.
"Yaelah, rez, lima puluh ribu aja lo ngomel panjang lebar. Tapi makasih, ya. Siapa tahu hari ini gue dapet tips dari pelanggan restoran." jawab Ardi cengengesan.
Reza mendengus dan tersenyum mengejek.
"Ngarep amat lo dapat tips dari pelanggan.!"
"Namanya juga usaha. Doa orang ganteng biasanya dikabulkan." kata ardi tertawa.
"Sialan lo! Udah dibantuin malah nyebelin!" seru reza mengumpat.
"Iya-iya, makasih Reza arkan. Lo emang sahabat gue yang terbaik... meskipun pelitnya kebangetan!" goda Ardana.
"Sialan lo! Ya udah, gue berangkat dulu. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam. Hati-hati!"
kemudian Ardi masuk ke dalam rumah kontrakan nya.
Jam delapan, Ardi sudah selesai mandi. Ia bercermin dan tersenyum puas.
"Mandi udah, wangi udah, cakep pun udah. Meski duit lagi seret, yang penting tetap percaya diri," gumamnya sambil merapikan rambut.
Namun, begitu keluar rumah, langkahnya terhenti ketika melihat seorang perempuan berdiri di depan kontrakan. Perempuan itu adalah Dini, pemilik kontrakan, seorang janda anak satu yang ditinggal suaminya meninggal.
"Eh, Mas Ardi. Mau berangkat kuliah, ya?" sapa Dini dengan senyum manis.
"Iya, Mbak. Saya mau berangkat nih," jawab Ardana sopan.
Dini merajuk. "Ih, Mas Ardi, masih manggil aku Mbak aja. Aku kan belum tua-tua amat." seru dino dengan mengedip-ngedip kan mata nya dengan genit.
Ardi hanya bisa tersenyum kaku. "Eh... iya Dini." sahut Ardi dengan malas.
"Nah gitu dong!" kata Dini mengedipkan mata menggoda Ardi.
Dalam hati, Ardana bergidik ngeri. "Amit-amit, ada aja perempuan model begini!"
"Iya- iya, Din. Aku berangkat dulu, ya! Soalnya aku harus cepat bertemu dengan" kata Ardi dengan berasaan. Dan dengan cepat ia buru-buru lari menuju motornya dan segera menyalakan mesin.
Saat sudah cukup jauh dari kontrakan, Ardi menghela napas lega. "Amit-amit, kok ada aja perempuan kayak gitu," gumamnya yang merasa jijik selalu di Pepet janda muda pemilik rumah kontrakan nya itu.
Setibanya di kampus, Ardi melihat jam tangannya.
"Aduh! Udah jam sembilan! Bisa telat gue ketemu dekan!" Dengan panik, ia berlari menuju ruangan dekan.
Namun, karena terlalu terburu-buru, ia tanpa sengaja menabrak seorang perempuan yang sedang membawa tumpukan buku.
"Braak!"
"Eh, maaf-maaf, Mbak! Saya nggak sengaja!" ucap Ardi buru-buru.
Perempuan itu mendelik kesal. "Maaf-maaf? Kalau jalan pakai mata bisa nggak?"
Ardi menggaruk kepalanya. "Eh, perasaan gue jalan pakai kaki, deh," gumamnya pelan.
"Apa lo bilang?!" bentak perempuan itu semakin marah.
"Nggak ada kok Mbak! Saya buru-buru, makanya nggak sengaja," kilah Ardi sambil membantu membereskan buku yang berserakan.
Setelah selesai, Ardi menyodorkan tangannya. "Oh ya, saya Ardi. Nama Mbak siapa?" tanyanya ramah.
Perempuan itu hanya menatap sinis dan menjawab singkat.
"Nggak penting." Lalu, ia pergi begitu saja.
Ardi yang di tinggalkan begitu saja hanya bisa melongo.
" Ih cantik-cantik galak amat! Kayak orang lagi dapet aja!.!" gumam Ardi.
Namun, ia segera menggelengkan kepala.
"Ah, sudahlah. Mending buru-buru ke ruangan dekan sebelum gue kena semprot!"
Dua jam kemudian, Ardi keluar dari ruangan dekan dengan wajah lega.
"Akhirnya selesai juga!" Ia segera mengambil ponsel dan menelepon reza.
"Bro, lo di mana? Udah kelar belum?"
"Udah nih, gue lagi sama Nia. Kenapa?" jawab Reza santai.
"Sialan! Pacaran mulu. Udah, ayok ke kantin!"
"Oke, lo duluan aja. Gue nyusul." jawab Reza.
Saat berjalan menuju kantin, tanpa sengaja ardi hampir menabrak seseorang lagi. Dan kali ini, perempuan yang tadi pagi ia tabrak!
"Eh, lo lagi?!" ujar perempuan itu dengan nada kesal.
"Eh, Mbak! Maaf, maaf, nggak sengaja!" Ardi uru-buru meminta maaf.
"Kenapa sih gue apes banget ketemu lo lagi?! Hobi lo nabrak orang ya?" bentaknya.
"Tapi Mbak juga nggak hati-hati," sahut Ardi spontan.
"Eh lo masih berani nyalahin gue?!"
"Iya, iya, maaf. Gitu aja sewot, nanti cepet tua," jawab Ardi asal.
"Lo tuh ya...!" Perempuan itu mendelik tajam sebelum akhirnya pergi dengan mendengus kesal.
Ardi hanya bisa menghela napas. "Ah, mendingan gue ke kantin aja daripada mikirin cewek barbar itu." gumam Ardi.
Sementara itu, di dalam kelas, seorang perempuan duduk dengan wajah kesal. Ia adalah Nayla Azzahra. gadis yang dua kali ditabrak Ardi hari ini.
"Kenapa lo, Ay? Muka lo kusut banget," tanya sahabatnya, Dina.
"Aku kesel, Din! Di rumah kena ceramah, di kampus malah ketemu cowok aneh!" jawab Nayla kesal.
Dina tertawa. "Aneh gimana?"
nayla mendengus. "Pagi-pagi ditabrak, siang mau ditabrak lagi! Kayaknya tiap ketemu tuh cowok hobinya nabrak gue!" jawab Nayla yang menceritakan Ardi.
Dina semakin tertawa. "Hati-hati, Ay! Jangan-jangan lo bakal suka sama dia!" seru Dina yang langsung mendapatkan raut wajah bergidik dari nayla
"iuw Amit-amit!" jawab Nayla.
"Halah udah, ayo lah Ay. Gak usah jaim. Itung-itung siapa tahu setelah kenal sama cowok itu, lo bisa move on dari Iqbal."
Dina menyenggol lengan nayla sambil tersenyum menggoda.
"ih apaan kok bawa-bawa Iqbal segala.!" jawab Nayla.
beberapa bulan yang lalu. flashback nayla.
Pesan masuk di ponsel Nayla.
Iqbal: "Halo, sayang. Lagi di mana?"
Nayla mengetik cepat.
"Masih di kampus. Ada apa?"
Iqbal: "Oh, gak ada apa-apa kok. Cuma kayaknya nanti kita gak jadi keluar, sayang. Soalnya aku masih di kantor, nanti ada meeting sama klien. Maaf, ya."
Mata Nayla sedikit meredup membaca pesan itu. Sudah kesekian kalinya Iqbal membatalkan janji. Tapi, seperti biasa, ia hanya menelan kekecewaannya sendiri.
"Iya, gak apa-apa," balasnya singkat.
Begitu pesan terkirim, teleponnya berdering. Iqbal menelepon.
"Halo, sayang. Makasih ya udah ngerti pekerjaanku. Aku tutup ya, bye," ucap Iqbal buru-buru sebelum nayla sempat mengatakan apa pun.
Panggilan terputus.
Dina yang sejak tadi memperhatikan raut wajah sahabatnya langsung bertanya, "Kenapa lagi, Ay? Masih tentang si cowok itu?"
"Biasa. Katanya gak bisa keluar, ada meeting sama kliennya," jawab nayla, mencoba terdengar santai meski nada suaranya tak bisa menyembunyikan rasa kecewa.
"Loe percaya begitu aja?" tanya Dina mengernyit curiga.
"Udah, Din. Jangan mulai. Mending kita keluar cari angin."
"Oke! Gas, kan!" sahut Dina semangat.
Di Kafe
nayla dan Dina melangkah masuk ke dalam kafe yang cukup ramai sore itu. Namun, baru beberapa langkah, Dina tiba-tiba menarik tangan Nayla dengan keras hingga langkahnya terhenti.
"Heh, ada apa sih Din? Untung gue gak kepeleset!" gerutu Nayla yang tak terima tiba-tiba di tarik oleh dina.
"Udah, lo gak usah bawel. Mending lihat ke arah sana!" kata Dina menunjuk ke sudut kafe, dengan ekspresi yang kesal sekaligus serius.
"Apa sih?" Nayla mengikuti arah pandangan Dina.
"Itu bukannya Iqbal?" bisik Dina.
Mata nayla langsung tertuju ke meja dekat jendela. Seorang pria duduk dengan seorang wanita, tampak tertawa bersama. Dari posturnya, sekilas memang mirip dengan Iqbal.
"Ngada-ngada aja lo. Tadi dia bilang ada meeting di kantor." kata Nayla.
"Makanya, lo lihat dulu yang bener!" kata Dina tak sabar.
Perlahan, Nayla memperhatikan pria itu lebih seksama. Hatinya mulai tak tenang.
"Dari posturnya sih… iya, kayaknya iqbal" gumam nayla.
"Halah, kelamaan lo mikir. Mending langsung samperin aja!" kata Dina, lalu menarik tangan nayla menuju meja Iqbal.
"IQBAL!" suara nayla menggelegar. Saat sampai di dekat meja Iqbal. Ia tak menyangka. Iqbal yang kata nya ada meeting justru berduaan dengan perempuan lain.
iqbal yang sedang menyuapkan makanan langsung menoleh kaget. Wajahnya seketika pucat saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Sayang… ngapain kamu di sini?" tanyanya gugup.
Nayla menatapnya tajam. "Harusnya aku yang nanya! Kamu bilang tadi ada meeting di kantor kan? Tapi kenapa kamu ada di sini sama cewek lain?!" tanya Nayla.
Iqbal tampak semakin panik. "Sayang, ini gak seperti yang kamu pikirkan!"
"Oh, jadi gue harus percaya begitu aja, ya? Padahal jelas-jelas gue lihat sendiri lo suap-suapan mesra sama dia?!" suara nayla meninggi.
Iqbal buru-buru mencari alasan. "Sayang, tadi tuh kita emang meeting di kantor. Tapi karena suasana kantor kurang nyaman, jadi klien aku ngajak meeting di sini. Percaya sama aku, ya?"
"Klien?!" tawa sinis keluar dari bibir Nayla.
"Gue gak buta, Iqbal. Klien mana yang suap-suapan sambil ketawa mesra kayak gitu? Udah cukup. Gue mau kita putus!" kata Nayla dengan lantang.
Iqbal terkejut. Ia buru-buru meraih tangan Nayla. tapi Nayla langsung menepisnya.
"Sayang, tolong dengerin aku dulu!" mohon Iqbal.
Dina, yang sejak tadi menahan emosi, akhirnya ikut bicara. "Udah, Bal! Loe gak usah banyak alasan! Gue sama Nayla udah lihat semuanya!"
Dina langsung menarik tangan nayla keluar dari kafe, meninggalkan Iqbal yang hanya bisa mematung.
Begitu masuk ke dalam mobil, air mata Nayla tak bisa terbendung lagi. Ia menangis terisak.
Dina menatapnya penuh simpati.
"Udah Ay. Jangan nangis buat cowok brengsek kayak dia." hibur Dina.
"Tapi Din… gue gak tahu salah gue apa sampai dia tega ngelakuin ini ke gue."
"Salah lo cuma satu: terlalu percaya sama dia," ucap Dina pelan.
Nayla hanya diam, tangannya menggenggam erat rok yang ia kenakan.
"Gue udah bilang dari dulu kalau Iqbal itu playboy. Loe gak percaya," tambah Dina.
"Tapi, Din…"
"Gak ada tapi-tapian! Gue gak mau lihat lo nangisin cowok kayak dia. Udah, mending kita shopping aja!"
Nayla menggeleng lemah. "Gak Din. Gue gak berselera. Pulang aja." tolak Nayla.
Dina menghela napas. "Oke. Ayo pulang. Gue aja yang nyetir, lo jangan nyetir sambil nangis. Nanti malah nabrak orang." usul Dina.
nayla hanya mengangguk pelan.
*flashback off.*
Kembali ke Kantin Kampus
Dina akhirnya berhasil membujuk nayla untuk pergi ke kantin setelah Nayla beberapa kali menolak ajakan Dina.
"Lo mau pesen apa Ay?" tanya Dina.
"Terserah lo aja."
Dina pun memesan dua jus buah dan dua mangkuk bakso.
Tak jauh dari mereka, dua pria sedang duduk sambil mengobrol.
"Ar, coba lihat cewek di meja nomor tujuh," kata reza tiba-tiba.
Ardi yang dipanggil reza, mengikuti arah pandangan temannya.
"Eh, tunggu… kayaknya gue kenal cewek itu," gumamnya saat melihat punggung gadis yang duduk di meja kantin nomor tujuh itu.
"Serius? Kenapa lo gak pernah bilang punya kenalan bidadari?" ledek Reza yang merasa temen nya mulai menghayal lagi.
Ardi berpikir sejenak, lalu matanya membelalak ia ingat siapa gadis yang ada di meja nomor 7 itu. "Ah! Itu cewek yang tadi nabrak gue di tangga!" seru Ardi.
"Hah? Serius lo? Kalau emang itu dia, kenapa gak lo ajak kenalan sekalian?" tanya Reza.
"Halah, malas gue. Cewek tukang ngamuk gitu." jawab Ardi akhirnya.
Reza tertawa. "Sudah gak apa, justru cewek galak seperti dia, yang nanti bisa bikin lo move on dari Rania.!" kata Reza.
Ardi menggeleng. "Ogah. Yang ada malah rambut gue cepat putih mendengarkan mulut nya yang gak mau berhenti.!" sahut ardi
sedangkan di meja Nayla..
"Ay coba lo lihat tuh cowok di pojok," kata Dina tiba-tiba menunjuk Ardi dan Reza.
"Halah, paling-paling nanti lo bilang 'ih, gantengnya'," sahut Nayla malas.
"Yee, hitung-hitung cuci mata!" jawab Dina tersenyum mendengar ledekan Nayla.
Nayla hanya mendengus. ."kalau suka langsung ajak aja pacaran, gak perlu kamu lihatin terus begitu.!" kata Nayla.
"Kenapa gue, Lo aja. Kon Lo yang gak bisa move on dari Iqbal.?" goda Dina.
"Gak minat," jawab nayla singkat.
Dina menghela napas kecewa. "Sayang banget, padahal ganteng loh."
Di sudut kantin kampus sendiri. dua pemuda tampak duduk berseberangan sambil bercanda dan saling mengejek. Mereka adalah Ardi dan reza, dua sahabat yang selalu bersama.
"Bro, kayaknya kita harus mulai mikirin masa depan," ucap Ardi tiba-tiba, ekspresinya serius.
Reza yang masih asyik memandangi dua gadis yang baru saja keluar dari kantin, nayla dan Dina, tak langsung menanggapi ucapan sahabatnya. Matanya masih terpaku pada sosok dua gadis cantik itu yang semakin menghilang.
Melihat itu, Ardi mendengus kesal. Ia mengerlingkan mata dan menepuk bahu sahabatnya.
"Yaelah za! Gue ajak ngomong malah lo asyik mandangin cewek. Ingat, lo udah punya pacar. Lagian, yang lo lihat juga udah pergi!" kata Ardi yang menyadarkan Reza.
reza tertawa kecil dan mengangkat bahu. "Mumpung ada pemandangan bro. Hidup lo tuh terlalu datar. Lo harus belajar menikmati keindahan." ucap Reza menasehati sahabat nya.
"Lah, apa hubungannya sama gue? Gue ngajak ngobrol soal masa depan, lo malah sibuk merhatiin cewek!" gerutu Ardi.
"Emang lo tadi ngomong apa?" tanya reza polos.
"Tuh kan! Gara-gara cewek, lo jadi budek," sindir Ardi jengah.
Reza tertawa , "Serius bro. Gue beneran nggak denger."
Arsi menghela napas panjang.
"Gue bilang, masa sih kita mau hidup begini terus? Nggak pengen buka usaha? Gue capek dipandang sebelah mata." ucap Ardi dengan serius.
Reza kini langsung memasang ekspresi serius mendengar pertanyaan Ardi..
"Gue juga kepikiran sih ar. Cuma gue bingung mau usaha apa."
"Lo ada ide?" tanya Ardi ke Reza.
"Belum. Tapi menurut gue, yang penting kita kumpulin modal dulu. Abis itu baru kita pikirin usaha yang cocok," usul Reza.
"Iya juga ya," Ardana mengangguk setuju.
"Gini aja, setelah kita lulus, kita cari kerja dulu. Minimal setahun buat ngumpulin tabungan bagai mana.!" kata Ardi mendapatkan ide.
"Setuju, bro! Gue yakin kita bisa sukses!" sahut reza penuh semangat.
"Udah yuk cabut. Gue masih ada urusan," kata Ardi sambil beranjak berdiri.
tanpa terasa hari sudah sore.
Sore itu, Nayla baru saja pulang kuliah. Saat sampai di gerbang rumah, ia menyapa satpam yang berjaga, Pak Karjo.
"Sore Pak Karjo."
"Sore juga, Non. Kok langsung pulang? Biasanya mampir ke suatu tempat dulu," tanya Pak Karjo ramah.
"Lagi males keluar," sahut Nayla ringan.
"Papa udah pulang belum?" tanya Nayla.
"Udah Non. Tadi pulang lebih awal." jawab pak Karjo dengan sopan.
"Oh, ya udah. Saya masuk dulu ya."
Setelah memarkir kan mobil nya di garasi, Nayla melangkah masuk ke rumah. Ia berpapasan dengan salah satu pembantu nya.
"Non nayla udah pulang?" sapa pembantu itu.
"Udah Bik. Papa ada?" tanya Nayla.
"Ada, Non, lagi di ruang tamu."
"Kalau gitu, bikinin aku jus jeruk, ya? Nanti antar ke ruang tamu aja." pinta nayla
"Siap Non!"
kemudian Nayla langsung, masuk ke ruang tamu, langkahnya langsung terhenti. Matanya membelalak kaget.
"Kamu ngapain di sini?!" serunya tajam sambil melihat orang yang paling di benci nya.
Di sana, berdiri seorang pria yang sangat dikenalnya Iqbal, mantan pacarnya.
Iqbal berdiri dan tersenyum tipis.
"Aku datang ingin menjelaskan kesalahpahaman kita Ay. Tolong dengerin aku dulu." jawab Iqbal.
Mendengar itu, emosi nayla langsung memuncak.
"Kesalahpahaman? Apa yang aku lihat dengan mata kepala ku sendiri itu bukan kesalahpahaman! Kita udah putus, dan aku nggak mau dengar penjelasan apa pun dari kamu!" kata Nayla dengan tegas.
Pak Andi, ayah Nayla, yang sedari tadi duduk di sofa dalam diam. mencoba menenangkan putrinya.
"Sayang, nggak boleh begitu." kata pak Andi.
"Papa! Kenapa Papa malah nyuruh dia masuk rumah? Kenapa nggak langsung usir aja?" bentak Nayla kesal.
Iqbal menarik napas panjang, lalu menoleh ke Pak Andi.
"Maaf Om, kalau kedatangan saya nggak diinginkan. Saya pamit dulu." kata Reza mencoba mencari muka dengan papa nya Nayla.
Pak Andi hanya mengangguk.
"Hati-hati, salam buat ayah kamu." jawab pak Andi yang tidak menghentikan keinginan Iqbal.
"Iya Om. Saya sampaikan."
Sebelum pergi, Iqbal kembali menatap Nayla.
"Ay aku harap kamu mau ngasih aku kesempatan buat jelasin semuanya." pinta Iqbal untuk terakhir kali nya.
Nayla menatapnya dingin.
"Nggak ada kesempatan kedua. Aku muak lihat kamu. Sekarang pergi!" teriak Nayla.
Iqbal hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya melangkah keluar. Namun, dalam hati, ia berkata:
"Tunggu aja Ay. Setelah aku berhasil mendekati papa kamu, gue bakal taklukan kamu. perusahan ku lagi butuh suntikan dana dari perusahaan pap mu. Kalau nggak? aku juga nggak bakal repot-repot ngejar cewek macam kamu.!" batin Iqbal. ternyata Iqbal mendekati Nayla hanya untuk urusan bisnis. supaya bisnis orang tua nya selalu mendapatkan suntikan dana dari perusahan papa nya Nayla.
Setelah kepergian Iqbal, nayla menoleh ke ayahnya dengan kesal.
"Papa, tumben banget pulang awal. Biasanya lupa kalau punya anak di rumah." seru Nayla.
Pak Andi menghela napas.
"Papa kerja juga buat kamu Sayang. Buat masa depan kamu." jawab pak Andi.
"Ya udah, terserah Papa. Aku ke kamar dulu." jawab Nayla yang malas berdebat dengan papa nya.
Saat Nayla hendak naik ke lantai atas, pembantu rumahnya datang membawa segelas jus jeruk.
"Non, ini minumannya gimana?"
"Antar ke kamar aja, Bik," jawabnya cepat sebelum melangkah pergi.
Keesokan harinya, di kampus, Nayla berjalan berdampingan dengan Dina.
"Eh, Din, kemarin gue kesel banget pas pulang kampus," keluh Nayla.
Dina menoleh. "Kesel kenapa lagi?"
"Gimana gue nggak kesel? Baru masuk rumah, eh, udah lihat cowok brengsek itu."
"Cowok brengsek? Siapa?" tanya Dina mengeryitkan kening nya.
"Siapa lagi kalau bukan Iqbal!" jawab Nayla dengan wajah kesal.
"Hah? Ngapain dia ke rumah lo?" tanya Dina terkejut
"Ya ngemis-ngemis minta kesempatan buat jelasin."
Dina mendengus. "Terus, lo kasih kesempatan?"
"Ya nggak lah! Gue bego apa? Udah jelas dia selingkuh di depan mata gue!"
Dina tersenyum puas. "Bagus deh kalau lo udah sadar. Gue kira lo masih bucin."
"Najis! Gue muak lihat mukanya!"
Dina tertawa kecil. "Udah, lupakan aja. Yang penting jangan kasih dia kesempatan lagi."
Namun Saat mereka berbelok di tikungan, tiba-tiba brakk! Nayla kembali bertabrakan dengan seseorang.
"Ih, kenapa sih di kampus ini orang-orang jalannya nggak pake mata?" gerutunya sambil memungut buku yang berserakan.
Lalu terdengar suara laki-laki yang familiar. "Maaf, Mbak! Nggak sengaja."
nayla mengangkat wajah dan langsung terbelalak.
"Elo lagi?!" teriak Nayla dengan marah saat menyadari orang yang menabrak Ardi kembali.
Ardi tersenyum kikuk. "Serius, Mbak, gue nggak sengaja." kata Ardi.
"Lo hobi banget sih nabrak gue?" bentak nayla kesal.
Dari samping, Dina hanya bisa terkikik melihat pertengkaran kecil itu. Ia berbisik pelan ke Nayla.
"Duh, si Ardi ini ganteng juga ya."
nayla melirik temannya dengan tajam. "Din, gue colok mata lo sekarang juga ya kalau masih ngomong begitu" marah nayla
Dina hanya tertawa kecil.
"Ya jangan Nay, ini mata masih pengen mandangin tuh cowok ganteng." jawab Dina.
"Idih, jaim dikit kek jadi cewek Din." kata Nayla yang merasa risih mendengar sikap centil Dina.
Dina yang melihat Nayla sewot hanya tertawa kecil. "Udah deh, gak usah sewot-sewot amat."
"Bagaimana gue gak sewot?! Tuh cowok gak punya mata apa?! Hobinya nabrak gue mulu! Bikin mood gue ilang aja!" ucap Nayla kesal.
Dina yang melihat Nayla marah-marah mencoba menasihatinya. "Udah deh, gak usah marah-marah! Nanti cepet tua baru tau rasa."
Nayla yang mendengar nasihat Dina yang menurutnya tidak bermutu langsung melotot. "Temen apaan lo?! Malah doain gue yang jelek-jelek!" ungkap Nayla kesal.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!