NovelToon NovelToon

PUSAKA NAGA API

Prolog

Berita munculnya pedang pusaka terkuat Naga Api membuat dunia persilatan heboh. Para pendekar dari berbagai aliran berebutan untuk mendapatkannya. Mereka begitu berambisi mendapatkan pusaka terkuat itu karena bisa menjadi jaminan akan menjadi penguasa dunia persilatan.

Pedang pusaka tersebut memiliki kekuatan Api abadi yang berasal dari alam Naga dan mampu menggetarkan istana Khayangan. Selain itu, di dalam pedang pusaka tersebut juga bersemayam seekor Naga yang juga memiliki kekuatan mengerikan. Maka tak heran jika semua pendekar berebut untuk mendapatkannya. Namun, hanya orang terpilih yang berhak mendapatkan pusaka tersebut.

Tak disangka, Dirga-lah yang mendapat kesempatan tersebut. Tapi sebelum kekuatan besar pusaka terkuat itu bisa sepenuhnya dia kuasai, dia harus menemukan seorang pertapa tua yang hidup di atas gunung untuk bisa menyempurnakan kekuatan pedang pusaka tersebut.

Dirga sendiri adalah seorang pemuda tampan yang mengalami lupa ingatan. Dia terpisah dari rombongannya ketika sedang berburu dan terjatuh dari sebuah bukit terjal. Kepalanya terbentur batu dan tubuhnya terbawa aliran sungai yang deras, hingga akhirnya dia ditemukan beberapa orang yang merupakan sindikat penjualan manusia, ketika berada di pinggir sungai dalam keadaan pingsan.

***

Bab 1

Sindikat Penjualan Manusia

Bab 1-3

Sindikat Penjualan Manusia

Terik siang itu. Di saat sang Surya dengan gagahnya bertengger di atas kepala. Terlihatlah serombongan manusia yang sekiranya berjumlah 30 orang, sedang melintasi jalan setapak dan hendak memasuki sebuah hutan.

Di antara mereka, terdapat 2 orang berkuda yang berada di depan memimpin perjalanan, dan dua orang berkuda lainnya yang berada di belakang.

Ada juga 15 orang lainnya yang berpakaian ala pendekar, berjalan sambil sesekali memberikan tendangan kecil kepada 8 orang lelaki muda yang berjalan sempoyongan. Kaki mereka terikat satu sama lain dan membuat ayunan langkah yang seharusnya bisa bebas melandai, menjadi sedikit sulit dibuatnya.

Terdapat pula sebuah gerobak yang di atasnya terpasang sebuah kerangkeng besi dan diisi 5 orang gadis muda. Raut wajah mereka dipenuhi rasa takut yang teramat sangat. Mata mereka sembab saking seringnya air mata mengalir deras dari sudut mata mereka.

"Tangkapan kita beberapa hari ini lumayan banyak, Restu. Ketua pasti akan senang dengan hasil yang kita dapatkan," ucap lelaki berperawakan besar dan salah satu telinganya memakai anting.

"Kau benar, Barda. Tampaknya kita akan mendapat perhargaan dari ketua, hahaha!"

Restu tersenyum lebar sambil memandang pemuda tampan yang berjalan paling belakang di antara 8 orang yang terikat kakinya. "Yang lainnya kita jual ke tempat biasa, tapi pemuda itu nanti kita bawa ke tempatnya Nyi Ratih. Dia pasti akan senang dan berani membayar mahal dengan pemuda yang kita bawa kali ini."

"Idemu bagus juga, Restu. Khusus pemuda itu, nanti kita bilang kepada ketua jika harganya sama saja, selebihnya buat kita," balas Barda. Senyum liciknya mengembang lebar membayangkan keuntungan yang akan didapatkannya.

"Kau memang paling pintar jika berpikir tentang keuntungan, Barda." Restu tersenyum lebar.

Pemuda yang dimaksud mereka berdua, memiliki paras tampan. Tubuhnya tegap, dengan rambut hitam legam panjang sebahu.Selain itu, dia juga memiliki tatapan mata tajam selayaknya burung elang yang mengintai mangsa.

Meskipun terlihat begitu tegar menghadapi kenyataan yang sedang dialaminya, rasa letih tergambar jelas di raut wajahnya. Tak hentinya mereka berjalan, membuat peluh yang membasahi pakaiannya tak jua mengering.

"Jangan melamun, Dirga! Jaga pandanganmu!" Selarik bentakan yang diiringi tebasan ranting kayu, mendarat telak di punggung pemuda itu.

Tebasan ranting kayu tersebut tak ayal membuat pemuda bernama Dirga, menggeliat menahan sakit. Walaupun begitu, tidak sedikitpun terdengar rintih kesakitan keluar dari tubuhnya. Bahkan pandangannya menatap tajam lelaki yang baru saja memukulnya.

"Kau berani melawan!"

Bugh!

Kembali sebuah bentakan yang kali ini diakhiri dengan sebuah pukulan keras mengenai ulu hati, membuat Dirga sampai membungkukkan tubuhnya. Napasnya serasa terhenti untuk beberapa saat saking telaknya pukulan yang mendarat. Bahkan pemuda tampan itu akhirnya memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Tidak berhenti sampai disitu saja Dirga menjadi sansak hidup kebiadaban lelaki tersebut. Sebuah pukulan yang tak kalah keras mendarat di keningnya hingga membuatnya jatuh menghujam tanah.

Akibat pukulan yang mengenai keningnya, pandangan mata pemuda tampan itu begitu nanar menatap bumi yang serasa berputar cepat bagai roda kereta. Dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa saja yang ada di sekitarnya, semuanya seolah hanya berupa bayangan tak berbentuk.

Rombongan itupun terhenti tepat di bibir hutan, setelah Dirga tergeletak di tanah.

"Apa yang kau lakukan, Darsa? Hentikan!"

Bentak Restu dari atas kudanya. Lelaki berumur 40 tahunan itu menghentikan ulah Darso yang hendak melepaskan tendangan ke tubuh Dirga.

Setali tiga uang dengan Restu, Barda menggeram marah melihat apa yang dilakukan Darsa kepada Dirga. Dia melompat turun dari kudanya menyusul Restu yang lebih dulu berjalan mendekati Darsa.

Restu dan Barda tentu tidak mau aset berharganya untuk meraih keuntungan besar, menjadi berkurang karena ulah Darsa. Jika pemuda itu sampai mengalami luka-luka, tentu harganya akan turun drastis dan tidak sesuai bayangan yang ada di pikiran mereka berdua.

Sesuai yang mereka ketahui, Nyi Ratih hanya mau membeli pemuda yang sehat dan bertenaga untuk melayani nafsunya. Dan apa yang dilakukan Darsa dengan menghajar Dirga, tentu tidak sesuai dengan keinginan Nyi Ratih.

Darsa menatap heran dengan bentakan yang ditujukan Restu terhadapnya. Apalagi ditambah dengan turunnya mereka berdua dari kudanya masing-masing, dan berjalan ke arahnya dengan tatapan penuh emosi.

Di lain sisi, Dirga yang masih dalam keadaan tergeletak di tanah, sedikit merasa bersyukur karena ada yang menghentikan hajaran Darsa kepadanya. Jika tidak, besar kemungkinan dia tidak akan bisa menjaga kesadarannya. Rasa letih dan lapar yang mendera, membuat fisiknya melemah secara drastis setelah pukulan Darsa mendarat di ulu hati dan keningnya.

"Kenapa kau menghajarnya Darsa!? Apa kau ingin harganya turun dengan kau menghajarnya?!" hardik Barda. Hampir saja Darsa mengacaukan rencana yang sudah dibuatnya bersama Restu.

Darsa bingung dengan sikap mereka berdua. Selama ini keduanya tidak pernah protes atau bahkan sampai menghardik, ketika dia menghajar orang-orang yang akan mereka jual. Tapi kali ini sikap keduanya sangat jauh berbeda dan tidak seperti biasanya.

"Kenapa kalian berdua membelanya? Dia hanya budak yang akan kita jual!" Darsa mencoba membantah.

"Berani kau membantah lagi, aku pastikan kau yang akan kami jual!" Restu menggeram kesal dengan bantahan Darsa.

"Selama ini hanya kau yang suka memukul ataupun menghajar orang-orang yang akan kita jual, Darsa. Apa kau tidak tahu jika harga orang-orang yang kau hajar itu bisa turun, jika ada luka di tubuh mereka?" Barda menimpali ucapan Restu.

Darsa terdiam tak berani untuk membantah lagi. Selain karena di dalam perkumpulan posisinya ada di bawah keduanya, secara ilmu kanuragan dia juga ada di bawah mereka berdua.

"Kita beristirahat di sini dulu sebelum melanjutkan perjalanan melewati hutan itu!" ucap seorang lelaki yang baru saja berada di dekat mereka bertiga. pandangannya tertuju kepada Dirga yang masih tergeletak di tanah.

"Biar dia beristirahat dulu sampai fisiknya kembali pulih! Dan kau Darsa, sebagai hukuman atas apa yang kau lakukan kepadanya, kau harus merawatnya!" sambung lelaki itu.

Barda dan Restu mengangguk setuju dengan ucapan rekannya tersebut. Rombongan yang berjumlah lebih dari 30 orang itupun akhirnya beristirahat di bibir hutan.

Dengan penuh rasa kesal, Darsa mau tak mau harus menuruti perintah untuknya. Dia melepaskan rantai yang membelenggu kaki Dirga dan memapahnya menuju sebuah pohon besar yang rindang.

Masih dengan berpura-pura lemah, Dirga berjalan terhuyung-huyung dipapah Darsa. Dalam pikirannya, lepasnya rantai yang mengikat kakinya adalah sebuah kesempatan besar buatnya untuk melarikan diri, dan dia tinggal menanti Darsa lengah, sambil memulihkan fisiknya, terutama rasa pusing yang menderanya.

"Kau ini bikin repot saja!" Darsa mendengus kesal.

BAB 2

Kau ini bikin repot saja!" Darsa mendengus kesal.

"Aku mohon maaf, Tuan. Seharusnya aku tak bersikap seperti itu tadi," balas Dirga lirih. "Aku haus dan lapar, jadi secara refleks aku bersikap menantang Tuan."

Darsa sedikit trenyuh dengan ucapan Dirga.

Meskipun terkenal emosional dan kejam, tapi dia masih punya rasa simpati. "Kau tunggu di sini, dan jangan kemana-mana! Aku akan mengambilkan air dan sedikit makanan untukmu."

Merasa mendapat kesempatan baik, pikirannya pun bekerja. Sambil memandang tubuh Darsa yang berjalan menjauhinya, Dirga mengambil napas panjang untuk melonggarkan jalur pernapasannya.

Setelah itu, dia bangkit perlahan dan kemudian berlari sekencang-kencangnya.

"Darsa Goblok! Pemuda itu melarikan diri. Cepat kejar dia!" Restu berseru keras. Tanpa sengaja dia melihat Dirga berlari kencang masuk ke dalam hutan.

Darsa seketika menolehkan kepalanya dan kemudian berlari mengejar, setelah tidak melihat Dirga di tempatnya semula.

Di belakang Darsa, 5 anggota sindikat penjualan manusia tersebut juga berlari untuk menyusul Darsa.

"Berhenti kau, Bangsat!" teriak Darsa sambil terus berlari mengejar Dirga. Napasnya memburu kencang seiring ayunan langkahnya yang juga cepat.

Berjarak 30 meter di depan Darsa, degup jantung Dirga berdetak begitu cepat bagai genderang perang yang ditabuh berulang-ulang. Tidak sedikitpun pemuda tampan itu menoleh ke belakang untuk mengetahui sedekat apa keberadaan Darsa yang mengejarnya.

Dirga terus berlari sekuat tenaga. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya menyelamatkan diri dari kejaran orang-orang yang ingin menjualnya.

"Berhenti kau, Dirga! Jangan lari!" Teriak Darsa lagi.

Dirga adalah nama yang diberikan pemuda itu kepada orang-orang yang telah menangkapnya.

Sesungguhnya dia tidak ingat siapa namanya dan dari mana dia berasal. Dia juga tidak ingat apapun, selain tiba-tiba saja tersadar di bibir sungai yang beraliran deras.

Dan saat dalam perjalanan mencari makanan untuk mengisi perutnya yang keroncongan, sindikat penjualan manusia itu menemukan dan menangkapnya.

Secara perlahan, jarak antara Dirga dan Darsa semakin dekat. Kualitas fisik dan ilmu kanuragan tentu yang menjadi pembedanya.

Dirga adalah sosok pemuda yang bahkan tidak mengenal ilmu Kanuragan sama sekali. Meski memiliki fisik tubuh yang tegap, itu bukan berarti didapatkannya dari hasil berlatih kanuragan. Tapi karena bawaan orok sejak lahir.

Di tambah pula dengan perut yang belum terisi, entah sejak kapan dia lupa, membuat ayunan langkahnya semakin melemah.

Berbeda dengan Darsa, walau hanya pendekar biasa, tapi setidaknya itu lebih baik dari Dirga.Kondisi fisiknya juga lebih terlatih menahan tekanan lelah yang mendera.

Sambil terus berlari, Dirga akhirnya menolehkan kepalanya ke belakang. Dan benar apa yang tertangkap instingnya yang mengatakan jika jarak antar mereka berdua tidak jauh lagi.

"Aku tidak boleh tertangkap lagi!" teriaknya dalam hati. Dia melakukannya untuk menumbuhkan semangatnya yang mulai meredup.

Tapi berbekal semangat saja tampaknya belum cukup buatnya jika tidak dibarengi fisik yang kuat. Pada akhirnya, sebuah tendangan yang dilepaskan Darsa dari belakang, membuat pemuda tampan 17 tahun itu terhempas dan jatuh bergulingan di atas tanah yang beralaskan dedaunan kering.

Bugh!

"Aaakh!"

Dirga akhirnya mengeluarkan pekik kesakitan pertamanya. Rasa lelah, lapar dan haus yang membaur menjadi satu, seolah merajam kulit dan tubuhnya. Tendangan Darsa yang mengena telak di punggungnya, dirasakannya serasa sengatan puluhan tawon yang menghakiminya.

"Bangsat kau!" Darsa mendelik lebar menatap Dirga. "Kalau kau tidak dilindungi mereka berdua, pasti aku sudah membunuhmu! Menyusahkanku saja!" dengusnya kesal.

Dirga hanya diam tak membalas. Pikirannya masih berpacu mencari cara untuk meloloskan diri dari tangan Darsa.

Tak berselang lama, Lima anggota sindikat penjualan manusia lainnya yang menyusul Darsa, akhirnya tiba di tempat itu.

"Sebaiknya kita bawa langsung saja, Darsa! Kalau kau menghajarnya, aku kuatir Barda dan Restu malah yang akan menghajarmu," ucap salah seorang anggota yang baru datang. Matanya menatap Dirga yang masih tergeletak di tanah tanpa ada pergerakan sama sekali.

Masih dengan rasa geram, kesal dan marah yang menyatu di pikirannya, Darsa membalas ucapan temannya, "Kau urus dia, Topan. Dan jangan dekatkan dia padaku, atau aku akan khilaf dan membunuhnya!"

"Baiklah, biar aku yang mengurusnya. Sebaiknya kau kembali terlebih dahulu. Apalagi pemuda itu sepertinya sedang pingsan," jawab Topan, dengan pandangan tetap terarah ke tubuh Dirga.

Darsa menghela napas kesal sebelum melangkah pergi. Sedangkan Topan mendekati tubuh Dirga yang masih tetap terlihat tidak bergerak sedikitpun.

3 anggota mengikuti langkah Darsa meninggalkan tempat itu, sedang satu anggota lainnya masih bertahan untuk membantu Topan, apabila memang diharuskan untuk mengangkat tubuh pemuda tampan itu.

Gelengan kepala Topan menjadi petunjuk kekecewaannya atas terjadinya peristiwa yang membuat perjalanan mereka terhenti. Dia juga sedikit menyayangkan dengan sikap tempramental yang dimiliki Darsa. Bukan kali ini saja temannya itu menghajar korban yang hendak mereka jual.

Dirga sendiri masih menunggu kesempatan untuk kembali melarikan diri. Sambil berpura-pura pingsan, matanya terpejam dan pikirannya terperas mencari kesempatan itu.

"Ada-ada saja," ucap Topan, yang diakhiri dengan hembusan napas berat keluar dari bibirnya. Lelaki itu berjongkok di dekat tubuh Dirga untuk memeriksa kondisi tubuh pemuda tampan tersebut.

Dirga sedikit membuka matanya ketika merasakan pergelangan tangan kirinya dipegang seseorang. Dan yang pertama tertangkap oleh matanya adalah pedang yang tergantung di pinggang Topan.

Menurutnya, itu adalah kesempatan yang dicarinya. Dirga menunggu sampai Topan lengah baru akan bertindak.

"Broto, ke sinilah!" panggil Topan seraya memandang temannya itu.

Mendapat kesempatan lengahnya lelaki yang baru saja memeriksa keadaannya, Dirga bereaksi cepat dengan mencabut pedang yang tergantung di pinggang Topan, dan dengan cepat pula dia menusuk perut lelaki tersebut.

"Aaaakh!" Topan menjerit keras, dan seketika berdiri dengan pedang masih menancap di perutnya. Langkahnya terayun mundur terhuyung sambil memegangi pedangnya sendiri yang sudah tertancap di perutnya.

"Ka-kau ...!" ucap Topan terbata-bata sebelum tubuhnya ambruk menghujam bumi.

Dirga memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali berlari sekuat tenaganya yang tersisa. Kali ini adalah kesempatan terakhirnya untuk meloloskan diri. Jika sampai tertangkap lagi, besar kemungkinan dia akan dibunuh Darsa.

Broto sempat terkejut dengan kejadian cepat yang menimpa Topan. Sekuat tenaga dia memanggil Darsa serta ketiga temannya yang belum jauh.

"Darsa ... Pemuda itu kabur!" teriak Broto seraya menunjuk Dirga yang sedang berlari kencang.

Darsa dan ketiga anggota lainnya seketika menolehkan kepalanya mendengar seruan Broto. Tanpa berpikir panjang, mereka berlari kembali ke tempat semula.

"Bangsat!" hardik Darsa setelah melihat tubuh Topan yang sudah tidak berdaya. "Cepat kejar dia dan bunuh! Jangan biarkan dia lolos!"

Kelima anggota sindikat penjualan manusia itupun berlari mengejar Dirga dengan pedang yang sudah terhunus di tangan. Mereka sudah tidak berpikir untuk menangkap pemuda tampan itu hidup-hidup, melainkan membunuhnya untuk membalas kematian Topan.

Sesungguhnya, Dirga sempat shock dengan pembunuhan pertama yang dilakukannya. Dia tidak pernah terpikir untuk melakukan pembunuhan sekalipun. Membunuh hewan saja dia tidak merasa iba, apalagi membunuh manusia.

"Berhenti, Bajingan! Kau harus membayar kematian temanku!" teriak Darsa, sambil terus berlari mengejar Dirga.

Emosinya yang sudah memuncak, membuatnya melupakan perintah yang diberikan Barda untuk menangkap Dirga hidup-hidup. Kematian Topan adalah alasan yang akan diberikannya kepada Barda dan Restu, jika berhasil membunuh Dirga.

Seperti semula, secara perlahan laju lari Dirga bisa tersusul oleh Darsa dan yang lainnya. Tanpa memberi ampun lagi, posisi Darsa yang paling dekat dengan pemuda tampan itu, mengayunkan pedangnya dan dengan tepat mengenai punggung Dirga.

"Mati kau!"

"Aaakhk!"

Dirga memekik keras ketika ujung bilah pedang Darsa mengoyak kulitnya dan daging tubuhnya.

Darah segar seketika mengalir deras dari luka lebar menganga di punggungnya.

Meskipun luka di punggungnya begitu menyiksanya, Dirga tidak berniat untuk berhenti.

Dia terus berlari dan berlari, hingga tanpa sadar dia terperosok ke dalam sebuah lubang, mirip pintu gua dalam tanah, yang tidak terlihat oleh kedua bola matanya.

"Aaaaaaaa!" teriakan panjang keluar dari bibir Dirga untuk beberapa saat, sebelum akhirnya benar-benar menghilang tertelan bumi.

Darsa dan keempat anggota yang lainnya seketika menghentikan ayunan langkah kakinya di bibir lubang yang cukup lebar tersebut.

"Tampaknya lubang ini sangat dalam. Mustahil bila dia bisa selamat," ucap Darsa seraya melemparkan sebutir batu ke dalam lubang tersebut.

BAB 3

Darsa dan keempat anggota yang lainnya seketika menghentikan ayunan langkah kakinya di bibir lubang yang cukup lebar tersebut.

"Tampaknya lubang ini sangat dalam. Mustahil bila dia bisa selamat," ucap Darsa seraya melemparkan sebutir batu ke dalam lubang tersebut.

"Jika Restu dan Barda bertanya, jawab saja pemuda tadi mati sesuai yang kalian lihat. Sekarang ayo kita pergi dari sini!" lanjut Darsa sambil berlalu meninggalkan bibir lubang.

Keempat temannya menyusul ayunan langkah kaki Darsa yang berjalan cepat menjauh. Pikiran mereka masih tertuju pada kematian Topan yang selama ini selalu bersama mereka.

Tubuh Dirga sendiri langsung pingsan begitu terjatuh ke dalam lubang. Pemuda tampan itu terus meluncur memasuki lubang berbentuk lorong panjang dan licin, hingga akhirnya terhenti dan terhempas di suatu tempat yang dipenuhi tumbuhan seperti lumut sedikit panjang, tapi memiliki warna biru keunguan.

Terdapat juga cukup banyak pepohonan tinggi yang berdiri menjulang seolah tidak memiliki batas. Puluhan kera yang bisa dibilang penghuni tempat itu, bermain dan begitu riang bergelantungan di akar-akar yang begitu panjang hingga mencapai dasar.

Saking asyiknya kera-kera itu bermain, mereka tampaknya belum menyadari kehadiran sosok asing yang sama sekali berbeda dengan bentuk tubuh dan wajah mereka.

Untuk beberapa saat lamanya tidak ada pergerakan sama sekali dari tubuh pemuda tampan itu. Pakaian yang menutupi tubuhnya terkoyak di beberapa bagian, akibat bergesekan dengan batu di saat meluncur deras di dalam lubang.

Hanya hembusan napas pelan yang menjadi pertanda jika nyawa Dirga masih bersemayam di dalam tubuhnya.

Hingga pada akhirnya, puluhan kera itu itu saling berteriak bersahutan satu sama lain, begitu menyadari ada manusia yang sudah memasuki tempat mereka.

Seperti dikomando, kera-kera itu berkerumun memutari tubuh Dirga. Gerak dan tingkah laku mereka seolah menggambarkan rasa penasaran dan penuh pertanyaan.

Tak berapa lama, kumpulan kera yang mengerumuni tubuh Dirga tersibak membuka jalan, ketika sesosok kera yang besar dan memiliki tubuh seukuran manusia normal, berjalan mendekati tubuh pemuda tampan tersebut. Di kepalanya tersemat sebuah benda mirip mahkota yang terbuat dari akar-akaran.

Kera besar itu berjongkok begitu berada di samping tubuh Dirga. Tangannya bergerak memeriksa denyut nadi pemuda tampan tersebut, sebelum tiba-tiba berkata selayaknya manusia, "Angkat tubuhnya dan bawa ke pondokku!"

Belasan kera bergerak mengangkat tubuh Dirga, dan membawanya pergi menuju pondok tempat kera besar berdiam.

Meskipun dengan satu tangan mengangkat tubuh Dirga, belasan kera itu begitu lincah bergerak sambil bergelantungan di akar yang menggantung, hingga sampai di sebuah pondok kayu yang ternyata berada di atas sebuah pohon besar.

Dengan hati-hati, belasan kera itu meletakkan tubuh Dirga di lantai pondok yang terbuat dari papan kayu. Entah siapa yang membuat pondok itu, tapi garapannya begitu rapi selayaknya buatan manusia.

Tak berselang lama, Kera besar bermahkota menyusul memasuki pondok. Di salah satu tangannya, cukup banyak tergenggam lumut yang berwarna biru keunguan.

Pandangan matanya tertuju tajam menatap tubuh Dirga yang masih belum juga siuman dari pingsannya. Tak berapa lama terdengar helaan napas panjang keluar dari bibirnya.

"Setelah sekian lama, akhirnya ada manusia lagi yang memasuki tempat ini," ucapnya pelan.

Kera besar tersebut duduk di samping tubuh Dirga. Dengan telaten dia melumuri luka di punggung pemuda tampan itu menggunakan lumut biru keunguan yang dibawanya.Sebuah keajaiban pun terjadi, setelah luka terbuka yang berada di punggung Dirga sepenuhnya terbaluri lumut biru keunguan, luka terbuka itu menutup rapat tanpa bekas sama sekali. Hanya bekas darah yang sudah mengering sebagai pertanda pernah ada luka terbuka di punggung pemuda tampan tersebut.

Kera besar itu sedikit tersenyum memandang keajaiban yang baru saja terjadi di depannya. Meski itu bukan hal pertama yang dilihatnya, tapi dia tidak menduga jika lumut biru keunguan itu juga bisa berfungsi kepada manusia.

Selama ini, dia dan para kera yang merupakan rakyatnya, mengkonsumsi lumut biru keunguan itu sehari hari. Selain sebagai obat penyembuh, lumut tersebut juga berfungsi untuk memperpanjang umur mereka. Tak heran jika kera besar itu dan rakyatnya bisa berumur hingga ribuan tahun.

Selang dua hari dalam masa pingsannya, Dirga menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya. Pemuda tampan itu kemudian bangkit dan duduk sambil memandang sekeliling. Dia juga merasakan luka perih yang berada di punggungnya sudah menghilang sama sekali. Bahkan ketika dia meraba punggungnya, tak sedikitpun dia merasakan adanya bekas luka tertebas pedang.

"Aneh sekali!" Dirga mengernyitkan dahinya. Selain keanehan yang dialami punggungnya, pemandangan yang asing kini sedang tertangkap kedua bola matanya.

"Di mana aku sekarang? Apa aku sedang berada di nirwana? Tapi kenapa Nirwana bentuknya seperti ini?" ucapnya lirih seraya menggaruk kepalanya pelan.

Penasaran dengan tempatnya sekarang, pemuda tampan itu kemudian berdiri menuju pintu yang tertutup rapat.

Jantung Dirga serasa copot dari tempatnya, begitu dia membuka pintu. Hampir saja dia terjatuh ke bawah andai tidak sempat meraih daun pintu untuk berpegangan.

Yang terlihat di depan matanya adalah dirinya sekarang berada di atas sebuah pohon yang begitu tinggi. Dia tidak bisa membayangkannya bagaimana bentuk tubuhnya jika tadi sampai terjatuh ke bawah.

Dirga melangkah mundur dan kembali menutup pintu rapat. Setelah itu dia di lantai papan kayu untuk menata degup jantungnya yang berdebar kencang.

Baru juga dia bisa menstabilkan detak jantung dan napasnya, tiba-tiba saja pintu terbuka dari luar.

Tak ayal, detak jantung Dirga yang sudah normal, harus kembali berdetak kencang setelah seekor kera besar yang berdiri dan berjalan selayaknya manusia memasuki pondok tersebut.

Pemuda tampan itu beringsut ketakutan hingga me sudut ruangan. Kedua lututnya dipeluk begitu erat dengan wajah yang terbenam di dalamnya.

"Baguslah kalau kau sudah siuman, Anak muda,"ucap kera besar itu dengan senyum merekah di bibirnya.

Dirga memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya memandang kera besar yang berdiri di depannya. "Kau siapa? Kenapa kau bisa bicara? Apa benar aku sedang berada di Nirwana?" berondongnya.

Kera besar itu tidak marah meski diberondong Dirga dengan banyak pertanyaan.

"Aku akan menjawabnya satu persatu," balas kera besar itu sebelum duduk bersila di depan Dirga. "Namaku adalah Sarwana. Aku adalah raja kera yang memimpin di dalam jurang Panguripan ini. Dan kau tidak sedang berada di Nirwana karena kau masih hidup."

Dirga menghela napas lega. Dia merasa sudah mati dan sedang berada di Nirwana. Terlebih ketika mendengar ada seekor kera besar yang bisa berbicara.

"Sekarang ganti aku yang bertanya kepadamu. Katakan siapa dirimu dan kenapa kau ada di sini?" tanya kera besar bernama Sarwana tersebut.

Dirga menggeleng pelan, "Aku tidak tahu siapa aku dan dari mana aku berasal."

Pemuda tampan itu kemudian mengambil napas panjang sebelum bercerita tentang kejadian yang menimpanya sebelum berada di jurang Panguripan.

Sarwana menganggukkan kepalanya berulang-ulang, sambil memahami cerita yang disampaikan pemuda tampan di depannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!