Cahaya mentari memasuki setiap inti celah sebuah rumah. Adapun kilauannya ikut menerangi alas lemari kayu berukuran sedang, dimana terdapat beberapa bingkai foto yang tertata cukup apik dengan selingan vas bunga lili juga terlihat menambah kesan hangat nan elegan, lemari kayu antik tersebut.
Samar terdengar suara seorang anak kecil, dia berteriak dibarengi dengan langkah kaki cepatnya. Anak lelaki itu bertubuh cukup kecil, memakai seragam sekolah serta menggendong tas ransel yang memiliki ukuran lebih besar dari tubuhnya. Wajah anak itu sedikit memerah di kulit putih pasinya, diikuti mimik wajah sedikit khawatir atau mungkin kesal karena terlihat juga kerutan diantara kedua alis tebalnya.
"Kak Damar, ayo cepetan!" teriaknya sangat kencang.
Guratan tegang dan tulang wajah anak kecil itu semakin tegas. Deru napas yang awalnya tidak terdengar, kini terdengar berderu seperti seorang atlet lari yang baru saja menyelesaikan sebuah pertandingan.
Damar, anak lelaki yang dipanggilnya hanya tersenyum dan dengan posisi merunduk karena sedang mengikat tali sepatu yang akan dikenakannya pagi itu dengan tetap tenang. Dia tidak menggubris hingga menyelesaikan membuat simpul rapi pada kedua sepatu berwarna hitam itu, barulah dia mengubah posisi agak merunduknya menjadi tegak.
Kepalanya menoleh dengan senyum yang masih terkembang, hangat, itu kesan guratan dibibir merah yang diberikan Damar pada anak lelaki bertubuh sama tinggi dengannya itu dan berdiri diluar pintu rumah mereka. Helaan napas dibubuhi sedikit oleh Damar sembari menjawab,
"Sabar dek, kalau kamu nggak mau nunggu. Duluan aja nggak apa - apa."
Serangkaian kalimat tenang yang coba diberikan Damar pada Sang Adik, malah membuat sebuah derap langkah sepatu mendekat.
Tap...
Tap...
Tap...
Seorang wanita muda, bergaun putih agak kecoklatan selutut menghampiri ambang pintu rumah. Wanita itu memegang gagang pintu berbentuk bulat sembari memandang Damar dan juga anak lelaki yang sudah berdiri berdampingan dengan sebuah sepeda di luar rumah. Bukan hanya Damar yang menghela napas, wanita muda itu pun menghela napasnya cukup dalam dengan kedua alis yang naik.
"Ada apa ini, dek?" tanya wanita muda itu.
Anak lelaki dan sepedanya kemudian menurunkan dongkrak benda besi itu dengan kedua tangan yang memegang masing - masing tali ranselnya. Wajah merah, mimik wajah yang kini terlihat jelas cukup kesal, dia berjalan mendekat sembari melihat kearah Damar yang masih dengan wajah tenang keluar dan mengambil sepedanya dari garasi kecil disamping rumah itu.
"Itu Ma, Kak Damar lelet banget. Aku bisa telat ini!"
Kini jawaban anak lelaki itu lebih panjang dari kalimat teriakannya untuk Damar.
Helaan napas kembali terdengar dari wanita muda itu dengan kedua tangan yang perlahan dilipat ke depan dadanya, sedangkan Damar yang sudah mendorong pelan sepedanya mengeluarkan suara tawa kecil nan renyahnya.
"Shut, jangan teriak - teriak begitu!" tegur wanita muda itu sembari mengacungkan satu jari telunjuk ke depan bibir agak tebal dengan polesan perona naturalnya.
Disaat yang sama Damar sudah berada disamping Sang Adik, lalu satu tangannya menepuk pundak anak lelaki yang memiliki tinggi badan sama dengannya itu. Sang Adik pun menoleh dengan bibirnya yang berubah maju selepas terkena teguran Sang Ibu.
"Yang bakalan telat itu bukan cuman kamu, dek. Aku juga pasti telat."
Lagi - lagi Damar memberikan pernyataan lembut nan santainya. Senyum hangat itu pun tidak pernah lepas dari wajah tampan Damar, anak lelaki itu lalu mendongkrak sepedanya dan mendekat ke arah Sang Ibu. Dijulurkan satu tangannya yang kemudian disambut jabatan dari Sang Ibu.
"Ma, kami berangkat dulu ya." pamit Damar setelah mencium punggung tangan Sang Ibu.
Wanita muda yang masih berdiri diambang pintu itu, kemudian mengelus puncak kepala Damar sesaat yang dilanjutkan dengan mengeluh kulit wajah Sang Anak.
Senyuman cantik nan hangat terlihat dari wanita ramping itu, dia menganggur dengan kerjaan matanya. Damar pun perlahan mundur dan kembali ke tempat sepedanya berada.
"Adek...," panggil agak keras wanita muda itu pada anaknya yang sedaritadi merengut akibat rasa kesal yang memuncak.
Anak lelaki yang sangat pandai berteriak itu sudah sempat melepas dongkrak sepedanya dan kini terpaksa kembali membuat benda besi itu berdiri ke posisi awal. Dia berjalan agak membungkuk meraih tangan Sang Ibu dengan agak malas, mencium punggung tangan Sang Ibu dengan napas yang menghela hingga membuat wanita muda dihadapannya itu meraih dagu cukup lancip bocah SD itu.
"Kamu hati - hati dijalan, belajar yang rajin, coba latih untuk mengurangi sifat temperanmu dan tidak sabaran itu. Hehm...," sebuah teguran lembut penuh makna kembali diberikan oleh wanita muda itu pada Sang Putra.
Kini anak lelaki itu hanya bisa menganggur dengan mata berbinar dan mimik wajah penuh rasa bersalah yang tiba - tiba muncul.
Elusan lembut diberikan sebagai sentuhan terakhir, sebelum kedua anak lelaki itu kemudian menaiki sepedanya dan berangkat untuk menuju tujuan akhir mereka yaitu sekolah.
Setelah mengantar kedua malaikat kecilnya, wanita muda itu tadinya berniat masuk. Namun...
Brak...
Suara hantaman keras membuat langkahnya terhenti. Dia berbalik dengan cepat, turun agak pelan dari anak tangga depan pintu rumahnya dan dilanjutkan dengan berlari kearah jalan besar asal suara itu. Gerak tubuhnya terhenti ditengah jalan dengan kedua tangan yang perlahan bergetar dan dinaikkan guna menutupi bibirnya. Tatapan nanar dengan suara berdengung yang seketika timbul di kedua daun telinga dan membuat kepalanya sakit, tanpa perlu waktu lama tubuh rampingnya pun ambruk.
xxxxxxxx
25 Tahun kemudian...
Suara bising knalpot kendaraan disertai hantaman nyaring klaksonnya, memenuhi semua lajur juga jalur jalanan pusat kota pagi itu. Sebuah mobil dengan tipe SUV mewah memasuki sebuah halaman cukup luas, salah satu gedung pencakar langit yang berdiri tegak dengan ketinggiannya memecah kilau sinar mentari dan terpantul dari semua kaca yang mengelilinginya.
Seorang pria paruh baya berpakaian batik dengan celana kain dan sepatu berwarna hitamnya keluar dari arah kemudian. Pria itu sedikit berlari kearah pintu penumpang sebelah kanan lalu membukanya.
Sepatu sniker, celana kain berwarna hitam dengan atasan semi formal terlihat menempel ditubuh tinggi tegap seorang lelaki dewasa berwajah tidak begitu tampan, namun berwibawa yang perlahan keluar dari mobil mewah itu.
"Maaf Mas. Mas, mau saya tunggu atau tinggal?" tanya pria paruh baya berbau batik yang berprofesi sebagai supir pribadi itu pada lelaki tidak begitu tampan dihadapannya, dengan mimik wajah ramah serta gestur tubuh hormatnya.
Lelaki berwajah tirus, kulit putih pucat serta tatanan rambut klimis dengan poni komanya mengguratkan senyum yang tidak kalah ramah pada Sang Supir.
Dia menggelang, sembari memasukkan satu tangan ke salah satu saku celananya.
"Pak Yusuf pulang saja dulu. Nanti sekitar jam 5 sore baru kembali lagi." jawab lelaki itu.
Setelahnya, ketika hendak melanjutkan langkah lelaki muda itu sedikit memutar kembali tubuhnya kearah Pak Yusuf. Sang Supir yang juga hendak melangkah pergi pun menurunkan niatnya dan mendekat kearah Sang Majikan dengan kedua alis yang naik.
"Satu lagi Pak, kalau Amam tanya soal saya sudah makan belum? Bilang saja sudah, juga bilang padanya, jangan telpon - telpon ke kantor karena hari ini saya pasti pulang tepat waktu." lanjut lelaki muda itu.
Mimik Pak Yusuf sedikit khawatir selepas mendengar jawaban majikannya itu, hingga membuat lelaki tidak begitu tampan itu kembali berdiri tegak lurus menghadap dirinya. Helaan napas singkat terdengar dari lelaki muda itu dihadapkan Sang Supir, awalnya dia berniat menjelaskan sesuatu kembali. Namun, perhatian sudut mata lelaki muda itu teralihkan oleh siluet seseorang yang dikenalnya.
Kekhawatiran Pak Yusuf bertambah dengan ekspresi bingungnya, ketika dilihat pandangan mata Sang Majikan teralihkan hingga membuatnya mengikuti arah pandang lelaki muda itu.
"Mas, maaf. Mas, lagi liat...," pertanyaan yang bercampur pernyataan dari Pak Yusuf tersela oleh gerakan cepat Sang Majikan yang ingin berlalu dari hadapannya sembari menepuk pelan salah satu pundak pria paruh baya itu.
"Pak, Pak Yusuf saya harus pergi...," hanya sekelebat kalimat singkat terdengar ke telinga pria paruh baya itu.
Tertegun, hanya itu ekspresi terakhir yang dilakukan oleh Pak Yusuf ketika melihat Sang Majikan yang menghilang begitu saja dari hadapannya.
Danar Perkasa, nama lelaki tidak begitu tampan dan juga sudah membuat Sang Supir kebingungan itu sedikit berlari dengan arah pandang yang cukup liar. Ia melintasi juga memasuki hampir semua celah di lantai dasar gedung perkantoran itu. Sesekali mengangguk dan tersenyum tipis ketika bertemu beberapa bawahannya. Napas yang masih cukup terkendali namun tidak dengan panas tubuh yang mulai dirasanya, sedikit digulung pakaian tambahan yang dikenakannya dan memperlihatkan urat - urat maskulin di kulit pucat pasinya yang mulai bermunculan. Pandangan yang tetap mirip elang, Danar hendak meneruskan pencarian terpaksa berhenti karena sebuah panggilan telepon. Sedikit mengumpat juga mengelus kepala bagian belakang, ia merogoh salah satu saku celananya. Diabaikannya panggilan telepon itu sambil dia berbicara dengan suara yang cukup kecil,
"Ck, dia memang gesit. Aku selalu terlambat, tapi aku yakin cepat atau lambat kita pasti akan bertemu."
Pandangan mata Danar kini melihat kearah salah satu dinding kaca yang memantulkan cerminan dirinya. Mimik wajah licik dan senyum miring diguratkannya tipis sambil kemudian dia pergi berbalik arah dan berlalu.
xxxxxxxx
"Dengan Luna Saphira...," panggil seorang wanita bertubuh tambun memakai setelah blouse berwarna pastel berbalut blazer coklat agak tua lengkap dengan rok selutut berwarna hitam juga sepatu hak tinggi berwarna senada dengan rok yang dikenakannya. Wanita itu melihat ke sebuah berkas yang dibawanya, lalu mengalihkan pandangan kearah ruang tunggu. Senyum ramah juga anggukan kepala dilakukan wanita itu, ketika orang yang dipanggilnya berdiri lalu berjalan agak cepat menuju ke tempat ia berdiri.
"Selamat Pagi, Bu. Saya Luna Saphira...," jawab seorang perempuan bertubuh lumayan ramping, berambut lurus kaku berwarna coklat kehitaman. Perempuan muda itu memakai setelah baju lengan panjang putih dan celana kain berwarna hitam senada dengan sepatu dengan hak pendeknya.
Wanita tambun tadi, lalu menggiring Luna masuk ke ruangan dibelakang dirinya. Di dalam ruangan itu sudah ada sekitar 3 orang lainnya yang sedang duduk berhadapan dengan sebuah meja panjang. Mereka juga sedang memperhatikan beberapa berkas para pelamar.
Luna duduk di sebuah kursi dihadapkan meja para pewawancara, perempuan muda itu terlihat tenang dengan senyuman ramah serta manis yang diguratkannya sedaritadi. Tidak membutuhkan waktu lama hingga salah seorang pewawancara langsung mendongak dan mengulang kembali memanggil nama lengkap Luna, diteruskan dengan melontarkan beberapa pertanyaan. Luna yang tidak seberapa tinggi dengan posisi duduknya yang tegap menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan dengan lihai juga ekspresi yang sangat meyakinkan.
Hingga beberapa kali, semua pewawancara tertegun dan sesekali menganggukkan kepala mereka.
"Baik. Terimakasih banyak atas partisipasi Mbak Luna dalam sesi wawancara kali ini. Untuk pengumuman hasil wawancara hari ini kan diberikan melalui sebuah pesan singkat 2 minggu dari hari ini." terang salah seorang pewawancara.
Luna pun menjawab dengan sopan juga kepalanya mengangguk pelan sembari melontarkan senyum tipis. Perempuan rambut lurus itu kemudian keluar perlahan dari ruangan yang cukup luas tadi, dia berjalan dilorong gedung sebuah kantor yang sangat besar dengan pondasi kokoh mengelilinginya untuk menuju ke pintu utama. Namun, belum sampai di mulut pintu, langkah kaki Luna terhenti begitu pula dengan gerakan tangannya yang berjalan sembari memainkan gawai pintarnya.
"Luna...," teriakan yang cukup keras dan hampir bergema.
"Kak - Winda?" gumam Luna yang belum menoleh kearah asal suara.
Perlahan diturunkan gawai pintar itu, ditelan salivanya dalam, perlahan ia berbalik dengan ekspresi wajah penuh ketegangan tergurat samar. Tidak butuh waktu lama untuk mempertegas ekspresi wajah itu, ketika seorang wanita dengan perut yang sangat besar cenderung buncit mendekat kearahnya.
"Dek, kamu lagi ngapain disini?" tanya wanita yang ternyata hamil itu.
Sedikit panik dengan merapikan sedikit rambutnya kebelakang telinga juga berpikir secepat kilat untuk membuat sebuah jawaban atau lebih tepatnya alasan yang sudah pasti berbohong. Namun sangat disayangkan, wanita hamil bernama Winda itu nampaknya sudah mengetahui alasan Luna ada digedung tempatnya bekerja. Belum sempat menjawab tangan Luna sudah dipegang lalu ditarik oleh Winda, sambil membawa minuman kemasan ditangan yang lain, Winda dan Luna naik ke arah rooftop.
"Jangan bilang kamu ngelamar OG...," ucap tegas Winda saat mereka sudah duduk berhadapan di salah satu sudut rooftop gedung itu.
Masih terdiam dan hanya bisa meneguk salivanya, Luna pun mengangguk pelan. Suara hantaman agak keras dilakukan Winda keatas meja dihadapannya dengan gelas minuman.
"Kak, please denger dulu. Aku bisa jelasin semuanya dengan jujur, tapi Kakak janji jangan histeris. Kenapa? karena 2 faktor. Pertama, malu ini ditempat umum dan yang terakhir Baby D bisa denger jelas suara ibunya yang menggelegar...," Luna mencoba menjelaskan sekaligus menenangkan Sang Kakak.
Helaan napas panjang Winda berhembus dengan mata yang dipejamkannya juga satu tangannya memberi sinyal untuk Luna menjelaskan.
Kemudian Luna mulai menjelaskan semua kronologis yang dialaminya hingga harus melamar dengan posisi cleaning service di tempat Winda bekerja.
"Tidak dengan menjadi OG, Na. Kamu tau kan konskuensinya kalau jadi tukang bersih - bersih di perusahaan besar ini. Mas Bagas bakal marah besar kalau dia tau, nggak, pokoknya nggak boleh...," Winda akhirnya melampiaskan rasa kesalnya pada Luna.
Tidak pantang menyerah sambil masih mencoba membujuk dan menenangkan Luna mengelus kedua lengan Winda dengan ekspresi sedikit memelasnya.
"Kak, cari kerja setelah COVID itu nggak gampang. Ditambah aku yang cuman lulusan SMA ini, aku juga punya planning lanjut kuliah dengan gaji yang bakal aku sisihkan. hehm, hehm...," bujuk Luna.
"Pulang, kamu sebaiknya pulang. Kalau kamu memang di PHK dikerjaan sebelumnya, bukan OG solusinya. Kita cari solusi yang lain...," jawab Winda.
Ekspresi wajah Luna yang awal sendu dan juga sangat memelas, berubah menjadi kaku dan tegang.
"Sampai kapan pun, aku nggak akan pernah menginjakkan kaki di rumah terkutuk itu...," ucapan Luna kini membuat wajah Winda pun turut serta berubah dengan helaan napas panjangnya.
********
Aroma maskulin merebak disebuah ruang kerja sangat luas. Ruangan itu bukan hanya berisikan meja dan kursi kerja melainkan serangkaian sofa empuk juga televisi cukup besar nampak menghiasi dinding di depannya. Danar lelaki tidak begitu tampan dan selalu berat wajah dingin serta angkuh itu terlihat sedang tenggelam sangat dalam pada berkas - berkas pekerjaannya. Urat - urat tegas di kulit putih pucat lelaki itu mulai bermunculan seiring dengan kerutan di kedua alis tebalnya terbentuk saat membaca sebuah laporan.
Tok...
Tok...
Tok...
Ketukkan 3 kali terdengar dari luar ruangannya. Danar menghela napas singkat dan tanpa melihat kearah asal suara, lelaki itu memberi perintah Sang Tamu untuk masuk dan perlahan daun pintu yang terbuat dari campuran besi itu terbuka. Sosok lelaki muda tampan dengan perawakan cukup pendek masuk dengan langkah penuh keraguannya. Sembari berjalan mendekat kearah Danar, terlihat kartu tanda pengenal yang dikenakannya pun ikut bergoyang hingga menimbulkan suara kecil yang sampai mengusik telinga Sang Atasan hingga kedua alis nya pun ikut naik secara perlahan. Disaat bersamaan wajah lelaki berkulit pucat itu seketika berubah merekah ketika dilihat kehadiran Sang Tamu.
"Sean, duduk..." ujar Danar dengan senyum yang sangat jarang ditunjukkan pada para bawahannya yang lain.
Lelaki muda bernama Sean itu membalas senyuman Danar, namun bahasa tubuhnya menolak untuk duduk hingga membuat atasannya tersebut merasakan sebuah keanehan.
"Terimakasih Pak. Hehm, begini Pak...," ucap Sean sambil membenahi intonasi suaranya yang agak serak dan agak bergetar.
Danar merubah posisi duduk dari tegak menjadi bersandar di dinding kursi dengan kedua tangan terjalin di bawah ujung dasinya. Perlahan dilepas kacamata minus yang dikenakannya dengan pandangan lurus ke hadapan Sean.
"Ini berkas hasil wawancara kemarin dan juga...," lagi - lagi ucapan Sean terhenti, kali ini sambil menyerahkan satu lagi sebuah amplop berdampingan dengan berkas tadi.
Pandangan ramah Danar seketika hilang, bukan karena berkas wawancara namun karena kertas tebal satunya. Helaan napas panjang terdengar jelas, mata sinis, tatapan menyipit terlihat jelas dari wajah Danar.
"Mmm, Pak. Sebelumnya saya ingin berterimakasih atas semua sikap juga kesempatan baik yang selalu Bapak juga PT. ABS berikan...," ucapan Sean membuat ekspresi kaku juga dingin Danar bangkit.
Diteguk salivanya sekali dengan bulir keringat kecil mulai muncul di kening Sean. Danar sudah membaca judul amplop tersebut dan yang tersisa kini hanya tatapan daftarnya pada salah satu orang kepercayaannya itu. Selain ucapan - ucapan yang selalu tidak lengkap, lelaki tampan itu mengambil sesuatu dari dalam jas yang dikenakannya dan kembali diberikannya pada Danar.
"Jika, ada waktu besar harapan saya untuk Bapak datang dan bertemu dengan...," lagi dan lagi ucapannya terhenti, namun kali ini bukan karena dirinya melainkan Danar yang memotong.
"Keluar...," perintah singkat lelaki tidak begitu tampan itu.
Debaran jantung Sean meningkat, walaupun sebenarnya dia sudah mempersiapkan diri untuk semua kemungkinan terburuk saat menyerahkan surat pengunduran diri serta undangan pernikahannya pada Danar. Namun, ini kali pertama dan terakhirnya mendapatkan perlakuan dingin dari Sang Atasan. Lelaki muda tampan itu memperlihatkan senyum lebar singkat, tatapan tulus serta anggukan kepala sekali sebelum akhirnya berbalik dan keluar dari ruangan Danar.
Sepeninggal Sean, Danar terdiam dan membeku cukup lama dengan pandangan datar pada kedua benda yang diserahkan oleh bawahan kepercayaannya itu. Hingga tiba - tiba terdengar suara tawa kecil yang perlahan menjadi sedikit terbahak.
Brak...
Semua berkas yang awalnya tertata cukup rapi diatas mejanya kini sudah berserakan diatas lantai. Danar menghentakkan telapak tangannya keatas meja itu beberapa kali, guna melampiaskan kekesalannya.
"Harus berapa orang berbakat lagi yang pergi dari sini hanya karena...what? kasih sayang? cinta? komitmen? what the...," ucapnya sambil mengumpat dan tatapan datar yang berubah bengis terlihat disertai deru napas yang terdengar cukup cepat. Direnggangkan simpul dasinya agar dia bisa bernapas lebih lega, masih dalam kondisi amarah yang meletup - letup, Danar menarik salah satu lacinya dan mengambil sebuah korek.
Tubuhnya agak tertunduk guna mengambil surat undangan pernikahan Sean, lalu disulut api dari ujung kertas cukup tebal itu. Kemudian dilempar undangan yang mulai terbakar itu ke tempat sampah stainless di dekatnya, tidak lupa dimatikannya lebih dulu sensor api di dalam ruangannya itu.
Setelah puas melihat undangan itu terbakar habis, senyum kejamnya kembali muncul dan perlahan dia berjongkok untuk memungut semua berkas dilantai. Pandangan datar dan dinginnya sekali lagi berubah menjadi senang seperti habis memenangkan sebuah pertandingan.
"I found it...," ucapnya singkat sembari mengangkat selembar kertas.
Dengan posisi berdiri, satu tangannya mengambil gagang telepon dan dia langsung menghubungkan ke sebuah nomer. Perintah tegas, lugas dan jelas terdengar jelas. Selepas itu satu jarinya memukul - mukul pelan ujung kertas yang diambilnya dengan senyum menyeringai.
xxxxxxxx
Seorang pria agak tua dengan tanda pengenal yang bergoyang terlihat tenang keluar dari ruangan Danar sembari membawa sebuah berkas. Pak Nurdin nama yang terpampang jelas di tanda pengenal itu, berpakaian kemeja kotak - kotak biru berjalan dengan pikiran yang tidak begitu fokus akibat permintaan Danar Sang Atasan. Danar memberikan sebuah perintah tidak lazim dipikiran Pak Nurdin sendiri.
"Siapa Luna Saphira?" batin Pak Nurdin yang kini sudah keluar dari dalam lift dan terus berjalan kearah ruang divisinya berada.
Pria agak tua itu kemudian membuka berkas yang dibawanya dan kertas pertama yang dilihatnya adalah kertas profil Luna. Pak Nurdin membacanya dengan sesama dengan salah satu alis yang naik kemudian pandangannya beralih ke sudut ruangan.
"Profil seorang lulusan Sma biasa dan dari keluarga yang sepertinya biasa juga. Cukup aneh melihat ketertarikan Pak Danar pada seorang gadis biasa yang melamar sebagai cleaning service." ucap pelan pria agak tua itu.
Beberapa jam sebelumnya...
Danar sudah terlihat lebih tenang selepas mendapat kejutan besar dari salah satu karyawan berbakat juga sangat dia percaya, Sean. Lelaki bertubuh atletis itu berdiri sambil memandang sebuah lukisan abstrak yang terpajang diruangannya.
Sebuah ketukan pintu terdengar kembali, kali ini dengan cukup cepat lelaki tidak begitu tampan itu membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah mejanya. Tamu yang masuk kali ini adalah seorang pria agak tua berpakaian kemeja kotak - kotak biru.
"Apa Bapak sudah mendapatkan kabar dari Sean?" tanya Danar sembari membenahi posisi duduknya.
Pak Nurdin menjawab disertai anggukan kepala. Danar pun ikut mengangguk sambil menyerahkan sebuah berkas kepada pria agak tua yang berdiri di depan mejanya. Pak Nurdin pun mengambil berkas itu sambil bertanya,
"Bapak sudah selesai memeriksa hasil wawancara ini?"
"Sudah, ada salah satu calon staff baru cleaning service bernama Luna Saphira, pastikan perempuan itu diterima disini bukan di anak perusahaan ABS...," jawab serta perintah Danar jelas.
Pak Nurdin dibuat bingung oleh Danar, dipandang sampul berkas ditangannya. Danar yang melihat hal itu memandang dengan tatapan datar khasnya dengan saling menautkan kedua jemarinya.
"Apa begitu sulit untuk mewujudkan permintaan saya, Pak?" tanya Danar dengan satu alis yang naik.
Dengan cepat Pak Nurdin meneguk saliva dan menggelengkan kepala.
"Tentu tidak Pak Danar...," jawab pria agak tua itu dengan suara agak bergetar.
xxxxxxxx
Disebuah jalan cukup lebar dan memasuki kawasan perumahan, berdiri kokoh sebuah bangunan lantai 3 yang merupakan rumah kontrakkan. disanalah seorang perempuan muda bernama Luna Saphira menetap, perempuan itu kini terlihat sedang bersenandung di dalam kamar mandi sambil membasuh seluruh tubuhnya dengan air dingin yang turun dari shower. Luna mengusap pelan helaian rambut juga kulitnya yang putih langsat. Cukup lama perempuan manis itu mandi hingga tanpa ia ketahui sebuah pesan singkat masuk ke gawai pintarnya.
"Wiuh, seger bener...," ujar perempuan berambut lurus kaku nan panjang itu.
Kemudian dengan alat pengering rambut dia duduk di depan cermin meja riasnya. Luna nampak memandang pantulan cermin dirinya.
"Kira - kira aku bakal keterima nggak, ya? Kalau keterima berarti aku bakalan satu kantor sama Kak Winda. Nah, kalau Kak Winda ember? Trus Mas Bagas tau, pasti...ck," gumamnya membayangkan masa depan yang belum pasti.
Untuk menenangkan diri dengan cepat dia menggelengkan kepalanya dan melanjutkan mengerikan rambut. Selepas dirasa cukup kering, sebagai seorang perempuan kebanyakan, Luna melanjutkan ritual perawatan kulit wajah setelah melempar handuknya kesembarang tempat. Saat sedang asik dengan ritualnya, tiba - tiba dia teringat akan gawai pintar yang sempat dia biarkan menganggur. Kedua matanya yang cukup indah menyisir area dekat meja rias hingga benda yang dicarinya ditemukan. Saat sedang memegang gawai itu dengan satu tangan yang lain tetap mengusap obat kecantikannya, perlahan gerakan Luna melambat dengan diiringi kedua pupil yang melebar. Dia berdiri dengan mulut yang agak terbuka kini, sebenarnya ingin bersuara namun tidak ada suara yang keluar.
"Ya Tuhan, terimakasih. Sebagai hambaMu yang benar - benar kurang taat dan bersyukur, Engkau selalu baik. Kalau boleh, ini kalau boleh Tuhan. Satu lagi, kali ini bener - bener satu lagi. Tolong lancarkan proses training dan selama hamba bekerja di PT. ABS minim kesalahan. Oh, oh, dapet atasan yang sangat - sangat baik dan nggak galak sama sekali. Oke Tuhan?" pinta Luna dengan suara lumayan keras serta kerlingan diselipkan antara kedua jemari yang bertaut dan kepala menengadahnya.
Suara doa Luna yang cukup keras membuat beberapa tetangganya terkejut dan juga menggelengkan kepala. Karena kegirangan juga dipeluk dan dicium gawai pintarnya dengan sedikit tari - tarian kecil dilakukan sebagai tanda perayaan atas semua doanya yang terkabul.
xxxxxxxx
Suara musik sangat kencang terdengar jelas, lampu kerlap - kerlip disertai gerakan memutar juga terlihat segerombolan orang meluk - liukkan tubuh tidak karuan. Samar terlihat seorang perempuan muda dengan wajah sangat merah dan sudah dibantu jalan oleh seorang lelaki tinggi.
Perempuan itu terlihat dibawa keluar dari keramaian tadi menuju sebuah parkiran mobil. Sebuah sedan mewah telah menunggu keduanya, mobil itu dikendarai oleh Si Lelaki dan Si Perempuan diletakkan di kursi sebelahnya, sesekali dipandang wajah perempuan itu dengan senyum miring nan puasnya. Hotel megah, itu tujuan dari mobil Si Lelaki. Setelah naik melalui lift untuk menuju ke kamar yang telah dipesan, Si Lelaki yang menggendong Si Perempuan terlihat menurunkannya secara perlahan untuk menutup pintu kamar, perempuan muda itu dapat berdiri namun sangat lemah juga lunglai. Saat akan berbalik dan berniat menggendong kembali Si Perempuan, wajah Si Lelaki sudah lebih dulu dipegang dengan kedua tangan perempuan muda itu dan bibirnya menempel dengan cukup kasar ke bibir Si Lelaki. Perbuatannya itu membuat mata Si Lelaki terbelalak sesaat, namun kemudian dengan gerakan perlahan membalas perbuatan Si Perempuan dengan lembut hingga malam panas diantara keduanya tidak bisa dihindari.
"Argh...," Luna berteriak cukup kencang dan kedua matanya terbuka dan kedua tangan yang sudah lebih dulu bergerak seperti memberikan perlawanan terhadap sesuatu.
Perempuan manis itu langsung bangun dan terduduk dengan peluh yang membasahi wajah dan lehernya. Digelengkan kepalanya, lalu pandangan mata Luna menyisir keadaan sekitarnya beberapa saat sebelum tarikan napas panjang dengan hembusan yang dalam dilakukannya. Satu tangan perempuan muda itu mengurut pelan dadanya untuk memberikan sinyal aman.
"Nggak, nggak, itu nggak nyata. Mimpi, iya, itu mimpi. Sebaiknya aku mandi lalu doa malam agar merasa lebih tenang." ujarnya pelan.
Saat sedang mandi, Luna tidak serta merta melupakan kejadian tadi. dibawa guyuran air, kepalanya merunduk dengan kedua mata yang terbuka.
"Sial*n, kenapa harus mimpi kayak gitu sih? Pertanda sial kah? Nggak, denger Luna itu semua nggak pernah terjadi. Nggak...," batinnya sambil kemudian mendongak dan kemudian melanjutkan mandi.
Ditempat lain, Danar sedang duduk dengan sangat santai. Ditemani segelas minuman beralkohol dengan alunan musik favoritnya, terlihat jelas ekspresi rileksasinya. Sesekali diambil dan diputar pelan gelas cembung minumannya, dicium aroma minuman itu baru setelahnya diteguk pelan. Kedua matanya yang tertutup perlahan terbuka dengan senyum lebar menatap gelas dihadapannya.
"Luna - Saphira. Hehehe, kita lihat. Apa kali ini, kamu akan berhasil kabur lagi?" ucapnya santai dengan aksen licik khasnya.
Diacungkan tinggi gelas minuman itu tinggi ke depan seperti gerakan bersulang, lalu diteguk habis minuman itu dengan senyum sangat lebar menghiasi wajah lumayan tampannya malam itu.
Malam yang sama, ditempat berbeda. Begitu juga dengan harapan mereka yang juga tidak sama. Danar dan Luna, akankah takdir bisa memenuhi secara adil harapan mereka atau malah sebaliknya?.
********
Dua mata saling beradu dengan jarak yang hampir tidak ada. Satu tangan agak kurus terlihat agak bergetar. Senyum licik terlihat dengan satu alis yang terangkat. Suasana hangat berubah menjadi sangat dingin, melebihi dinginnya daerah Fairbanks, Amerika. Perlahan sepasang mata mendekati sepasang mata lainnya yang berdiri tepat dihadapannya.
"Hello, Luna - Saphira...," ucap Danar tatkala mereka benar - benar sudah berada dijarak yang sangat dekat.
Dari alam bawah sadarnya Luna seketika menjulurkan tangannya dan menyentuh dada Danar, memberikan sedikit dorongan untuk menahan tubuh lelaki lumayan tampan itu. Tawa renyah kecil terdengar dari Danar walau hanya sesaat.
Beberapa jam sebelumnya...
Di kamar kontrakkan yang tidak begitu luas, Luna terlihat sedang bersiap dengan wajah lesu dan kantung mata cukup besar tidak lupa rona kehitaman alami menghiasinya. Sesekali bibir mungilnya terbuka cukup lebar, rasa kantuk menyerangnya tiada henti pagi itu. Bahkan untuk memegang sebuah sisir pun dirasa tidak sanggup, perlahan diletakkan sisir itu dengan pandangan masih lurus kearah pantulan dirinya di cermin. Ditepuk cukup keras kedua pipi dengan kedua tangannya, hembusan napas sangat dalam Luna terdengar jelas. Dirubah posisi duduknya menjadi lebih tegak dengan dada yang dibusungkan, ditepuk bergantian kedua lengannya dengan mengeluarkan suara penuh semangat. Perempuan muda itu berusaha mengeluarkan semangat berapi - apinya kembali.
"Luna Saphira, dengar. Semua kejadian semalam hanyalah mimpi. Iya, hanya mimpi. Hari ini adalah hari pertamaku kerja di perusahaan besar juga mentereng. So, semangat. Semangat...," ucapan motivasinya pagi itu dikeluarkan dengan suara tegas dan jelas hingga tenaga 0% nya, kini telah terisi kembali dan menjadi 100%.
Setelah itu dilanjutkan menata kembali wajah, rambut serta merapikan pakaiannya. Luna lalu berdiri dengan wajah yang sudah terbalut riasan natural serta rambut yang dikepang rapi. Diambil tas selempang agak besarnya, lalu dia berbalik untuk menuju ke arah pintu kamar, namun langkahnya sempat dihentikan dan dia berputar sekali lagi untuk memeriksa keadaan kamarnya sebelum benar - benar pergi.
Kini senyum hangat serta ramahnya kembali muncul, langkah kakinya pun dirasa sangat ringan. Hari itu perempuan berambut lurus kaku itu memutuskan memakai alat transportasi kereta, walaupun memakan waktu lebih lama namun bebas dari kemacetan jalanan. Setelah memindai kartu untuk memasuki peron, pandangan nya agak terkejut ketika kereta yang hendak ia tumpangi sudah mulai dikerubungi oleh para penumpang lain yang kebanyakan adalah pekerja seperti dirinya. Agak berlari kecil, Luna mencoba masuk menyusup diantara gerombolan orang di salah satu pintu kereta hingga akhirnya dia berhasil masuk ditambah mendapat tempat duduk dekat dengan pintu keluar. Baru saja duduk dan menghela napasnya sesaat, kedua mata Luna sudah kembali terusik oleh seorang wanita yang terlihat sedang menggendong bayinya serta membawa beberapa barang yang cukup berat. Kebetulan wanita itu berdiri tidak jauh darinya hingga Luna meraih dan membuat Si Wanita menoleh kearahnya.
"Silahkan Bu...," ucap Luna sambil berdiri dan memberi ruang untuk Si Wanita berjalan kearah tempat duduk yang ditawarkan olehnya.
"Terimakasih banyak, Mbak...," jawab Si Wanita dengan senyum lebar nan hangatnya.
Luna membalas ucapannya dan tersenyum, sepanjang perjalanan Luna bermain bersama bayi Si Wanita hingga tidak menyadari ada sepasang mata yang sedaritadi memperhatikannya dari jarak yang tidak begitu jauh. Seorang lelaki berkacamata hitam dan memakai masker duduk dengan menyilangkan satu kakinya juga bersidekap, memperhatikan semua perbuatan Luna pagi itu. Senyum lebar terkembang dibalik masker mulut yang dikenakannya.
30 menit, kereta itu membawa semua penumpangnya menuju ke stasiun tujuan. Setelah berpamitan kilat dengan Si Wanita dan bayinya, Luna turun dan melanjutkan perjalanan dengan kedua kakinya. Sekitar 10 menit kemudian sampailah dia disebuah jalan setapak cukup besar dengan pedistrian yang tertata apik hingga sangat nyaman untuk dilalui. PT. Anugerah Bintang Sukses ( ABS ), terpampang jelas nama perusahaan tempatnya bekerja, sekali lagi dirapikan rambut dan juga pakaiannya. Langkah kaki Luna semakin bersemangat menuju ke lobi utama dan berniat naik ke area divisinya berada. Saat sudah memasuki lift dan baru akan menekan tombol tutup, tiba - tiba dirinya dikejutkan oleh suara teriakan seseorang,
"Tunggu...,"
Bukan hanya berteriak, orang itu juga berlari kearah lift yang akan dinaiki oleh Luna, secara refleksi Luna menekan tombol "tahan pintu" untuk menunggu orang itu. Suara tarikan napas tersengalnya terdengar jelas setelah dia berhasil masuk dan menabrak sedikit dinding lift.
"Huft, maaf ya mbak dan - terimakasih...," ucapnya sambil mengatur napas serta membuka masker wajah juga kacamata yang dikenakannya.
Luna hanya tersenyum dan mengangguk, disaat yang sama orang itu lalu merubah posisi berdirinya, kini sudah sejajar dengan Luna serta menjulurkan satu tangannya guna berkenalan dengan perempuan manis itu.
"Dimas, mbak...," ucap orang itu yang ternyata adalah seorang lelaki muda tampan berkulit sawo matang dan cukup tinggi, berambut ikal.
Luna melihat sesaat kearah wajah Dimas lalu uluran tangannya. Senyum ramah dan hangat perempuan itu kembali muncul dan disambut juluran tangan Dimas dengan juga memperkenalkan dirinya. Perbincangan singkat pun terjadi hingga keduanya tahu bahwa mereka teman satu divisi. Luna dan Dimas akhirnya sampai di lantai yang mereka tuju, mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke ruangan tempat semua karyawan baru yang lolos tes serta wawancara. Cukup banyak peserta yang lolos dan menjalani masa training, juga sudah berkumpul sesuai dengan divisi mereka. Sekitar 5 menit dari kehadiran Luna dan Dimas, seorang pria agak muda berpakaian semi formal masuk dengan membawa sebuah berkas tebal. Kedatangan pria itu membuat seisi ruangan yang awalnya terdengar agak riuh, seketika hening.
"Selamat Pagi dan selamat datang di PT. Anugerah Bintang Sukses atau sering kami sebut PT. ABS...," ucap pria itu menggunakan mikrofon dan berdiri di sebuah mimbar kecil dihadapan semua peserta training hari itu.
Semua peserta pun menjawab salam sapa pria agak muda itu begitu juga dengan senyum ramah serta lebarnya dibalas bersamaan. Kemudian pria yang bernama Steven itu membacakan serangkaian kalimat pembukaan acara dari berkas yang dibawanya. Upacara penerimaan karyawan baru dilanjutkan dengan sesi training awal setelah pembagian karyawan sesuai dengan divisi mereka masing - masing.
Luna sendiri sudah berada di kelompok divisinya dan mulai berkenalan dengan semua temannya kecuali Dimas, kemudian dilanjutkan dengan berkenalan dengan sejumlah atasan mereka.
Para atasan Luna dan kawan - kawan langsung menggiring mereka ke ruangan Divisi Penanggung Jawab Kebersihan gedung perkantoran PT. ABS, juga sedikit menjelaskan dan memberitahu anak perusahaan ABS, dimana anak perusahaan itu berada di gedung yang sama.
Kemudian dilanjutkan dengan sesi pembekalan materi sebelum sesi praktek.
"Fiuh..," suara pelan disertai hembusan napas sedikit kelelahan terdengar dari Luna.
Perempuan muda itu bersandar sambil duduk di salah satu sudut ruangan istirahat divisinya ketika mereka diberi waktu istirahat 1 jam, tidak lupa dia memijat dan memukul pelan bagian kaki terutama betisnya yang terasa tegang dengan kedua mata yang terpejam, ketika dibuka matanya, Luna dikejutkan dengan sebuah minuman kaleng yang tiba - tiba muncul di depan matanya.
"Hehehe, minum Luna...," tawar seorang perempuan muda seumuran dengannya. Perawakan perempuan muda itu lebih pendek namun lebih ramping dengan rambut lurus tipis yang dicepol sederhana.
Luna tersenyum lalu mengambil kaleng minuman itu dan mempersilahkan teman satu divisinya itu untuk duduk. Ningning nama perempuan muda itu, dia tidak kalah ramah dari Luna namun sedikit lebih ceriwis saat berbicara. Mereka pun bersenda - gurau sambil berusaha saling mengenal pribadi masing - masing. Selepas waktu istirahat usai, sesi training pembekalan materi pun dilanjutkan, mulai dari pengenalan ruangan secara gambar, produk pembersih yang digunakan serta Standar Operasional Perusahaan ( SOP ) pun tidak luput dari materi hari itu.
"Baik, terimakasih atas kerjasama kalian pada hari ini. Sekali lagi saya sampaikan selamat datang juga selamat bergabung dengan PT. ABS, untuk schedule besok akan ada Ibu rahma yang membagi langsung tugas serta tim kalian dan juga ruangan tempat kalian bekerja." jelas Pak Steven selaku tutor juga pembicara pembuka acara training hari itu, dengan sesekali melihat kearah Ibu Rahma serta memperkenalkan secara tidak langsung kehadapan bawahannya. Ibu Rahma pun tersenyum lebar dan mengangguk pelan kearah peserta didiknya.
Setelah itu, Luna dan semu temannya bersiap untuk pulang. Perempuan berkepang itu melihat kearah jam tangan yang dikenakannya dan menaikkan kedua alis sambil mengambil tali tas, dia bermaksud untuk melangkah pergi. Namun, langkah terhenti ketika satu lengannya digenggam cukup erat oleh seseorang hingga membuat tubuhnya sedikit berputar kearah samping belakang.
"Na, Na, kamu mau pulang bareng aku nggak? Kebetulan kita searah...," tanya Ningning.
"Boleh. Ayo...," jawab Luna tanpa pikir panjang.
Mereka pun melangkah menuju pintu keluar, namun lagi - lagi langkah Luna terhenti oleh Ningning. Kini kedua alis Luna kembali naik saat melihat kearah Ningning.
"Tapi, aku ke toilet dulu ya. Kebelet...," ucap Ningning lagi dengan senyum menyengirnya.
Luna hanya mengangguk dengan senyum manisnya, diikuti langkah Ningning keluar ruangan dan menuju ke toilet terdekat. Saat Ningning ada di dalam toilet, Luna yang sendirian di sebuah koridor sangat luas serta cukup panjang itu kemudian melihat kearah sebuah dinding yang berhiaskan sebuah pajangan. Layaknya perusahaan besar, PT. ABS pun memanjang sejarah, visi dan misi, serta para pendiri dan jajarannya. Semua pajangan itu dilindungi sebuah kaca, saat sedang asik membaca perlahan tulisan dipajangan itu, pandangan mata Luna tiba - tiba berubah membulat ketika dilihat pantulan seseorang dibelakangnya. Segurat wajah yang dikenalnya, lalu dengan cepat dia berbalik untuk memastikan. Mata keduanya sudah beradu pandang dari jarak yang tidak begitu jauh, sosok itu berjalan mendekat sedangkan Luna berjalan mundur hingga menabrak dinding pajangan dan baru hendak menghindar, dengan gerakan cepat sosok itu menahan tubuh dan gerakan Luna dengan gebrakan satu tangannya pada kaca pajangan hingga terdengar sesaat suara gebrakan agak keras dan juga bergema.
"Hehehe, mau kabur lagi? Hem...," tanya sosok itu.
Masih dengan ekspresi licik mengarah ke bengis, sosok itu semakin mendekatkan tubuhnya kearah Luna hingga membuat perempuan itu menjulurkan tangannya secara tiba - tiba hingga mengenai dada sosok dihadapannya. Luna tidak berani melihat sosok itu, dia terus agak merunduk dengan tangan yang sedikit mendorong tubuh sosok yang ternyata adalah seorang lelaki. Senyum licik lelaki itu berganti senyum lebar disertai tawa kecil, tanpa aba - aba ditariknya satu tangan Luna hingga mata keduanya beradu. Napas Luna tidak karuan sama dengan detak jantungnya, ketika dia bisa melihat jelas warna retina lelaki dihadapannya juga mencium aroma napas dan wangi tubuh lelaki itu, karena tubuh mereka hanya berjarak beberapa milimeter saja.
"Danar. Ingat namaku dengan baik, Danar - Perkasa. Aku tidak perlu kan, menjelaskan seberapa perkasa diriku?" ucap Danar berbisik ke telinga Luna dengan kalimat menggodanya.
Pupil mata Luna membesar, kedua tangan yang awalnya digunakan untuk tameng kini lemas tak berdaya. Kedua kakinya diatur sekuat mungkin untuk bisa berdiri, walaupun sendi juga ototnya tiba - tiba menjadi lemas ketika mendengar ucapan Danar.
"See you very soon, my love...," ucap Danar lagi sambil melepas perlahan tangan Luna dan berlalu dari hadapan perempuan yang masih tertegun kaku sambil menahan rasa lemas di sekujur tubuhnya.
Telinga Luna berdengung, pikirannya ketika kosong hingga dia tidak mendengar suara panggilan dari Ningning.
"Na...," panggil Ningning agak keras sambil menepuk lalu digoyang ujung pundak Luna.
Sangat terkejut dan juga reflek, Luna langsung mengambil satu pergelangan tangan Ningning dan agak menyeret temannya itu, buru - buru menuju ke lift terdekat. Di dalam pikiran Luna hanya harus pergi secepat mungkin dari area itu dan jangan sampai bertemu dengan Danar lagi.
Disisi lain, Danar terlihat berjalan menuju ke ruangannya dengan hati sangat riang - gembira. Satu tangannya masuk ke saku celana, dia bersandar ke dinding lift ketika sudah di dalamnya. Tawa kecil terus terdengar dengan sesekali kepalanya tertunduk mengingat kejadian barusan.
Ting...
Suara lift yang tiba dilantai tujuan lelaki muda itu. Pintunya pun terbuka, ekspresi wajah Danar juga masih sama saat keluar namun baru melangkah beberapa meter, ekspresi senang itu langsung sirna ketika dilihat seseorang sudah menunggunya tepat di depan pintu ruangan lelaki lumayan tampan itu.
********
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!