"Hai, Kamu Sakha kan? Aku Alana, panggil saja Lana." Suara itu meluncur lembut, seperti alunan melodi yang tiba-tiba memecah keheningan.
Seorang gadis berdiri di hadapan Sakha, sosoknya bagai lukisan yang hidup, membuat pemuda itu terpaku sejenak. Matanya yang sejak tadi menatap layar ponsel, mendadak tertarik mendongak.
Gadis itu mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman, sebuah ajakan yang menggantung di udara. Namun, Sakha tidak bergeming sedikitpun, membeku dalam kebingungan. Ia hanya menatap gadis itu tanpa menjawab, seolah waktu berhenti berputar.
Mereka bertatapan selama beberapa saat, hingga akhirnya, Lana menurunkan tangannya, menyerah pada kebisuan Sakha. Senyumnya perlahan memudar, digantikan raut kekecewaan yang samar.
Sakha merutuk dalam hatinya, menyesali kebodohannya. Kenapa ia tidak menyambut uluran tangan itu? Tidak ada salahnya bersalaman dengan teman sekelas, bukan?
Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang menahannya, sebuah tembok tak terlihat yang memisahkan dirinya dari dunia luar. Tapi hatinya juga sedikit menyalahkan gadis itu, yang dirasa terlalu cepat menyerah padanya. Seharusnya ia lebih bersabar, menunggunya hingga ia mau membuka diri.
Lana, atau Alana Putri, adalah salah satu teman sekelas Sakha. Sejak kemunculannya sebagai murid baru, gadis itu entah kenapa berhasil mencuri perhatiannya, seperti magnet yang menarik pandangannya.
Bagaimana tidak?
Sejak awal pelajaran dimulai, guru di kelasnya sering sekali memanggil dan menyebut nama gadis itu. Pastilah ia salah satu bintang di sekolah mereka, seorang gadis pintar atau berprestasi.
Lana mengibas-ngibaskan telapak tangannya, menyadari Sakha yang sepertinya tenggelam dalam lamunannya. Sakha mengerjap, tersadar dari kebekuannya, langsung mengubah duduknya menjadi lebih tegap.
Ia berdehem, berusaha menutupi kegugupannya.
"Kenapa?" tanyanya dingin, suara yang lebih tajam dari yang ia maksudkan.
"Hmm..Pak Guru ingin aku antar kamu keliling untuk memperkenalkan sekolah kita, juga ke perpustakaan untuk pinjam beberapa buku yang mungkin kamu butuhkan." Suara Lana kembali lembut, namun ada sedikit keraguan di dalamnya.
Sakha bersandar di kursinya, enggan beranjak dari zona nyamannya. Sebetulnya ia malas keluar kelas, ia tidak suka suasana bising di luar kelas, apalagi saat jam istirahat.
"Bagaimana?" Lana menunggu jawaban pemuda itu, matanya menatap Sakha dengan penuh harap.
"Oke." Jawaban singkat Sakha meluncur, sebuah persetujuan yang terdengar enggan.
Lana langsung tersenyum, senyum yang tiba-tiba menerangi wajahnya, bagai matahari yang muncul setelah badai.
Sakha seolah terhipnotis oleh senyum itu.
Senyumnya tampak tulus, hangat, dan mempesona. Sakha yakin semua yang melihat senyumnya akan merasakan kenyamanan yang sulit dijelaskan, sebuah perasaan yang menenangkan jiwa.
Sakha berusaha menahan dirinya, agar tidak terjebak oleh pesona senyum itu. Ia yakin senyum gadis itu tidaklah sepenuhnya tulus seperti yang ia kira. Seseorang yang bisa tersenyum dengan mudahnya, tertawa tanpa ragu sedikitpun, biasanya menyembunyikan luka dalam atau memakai topeng untuk menyembunyikan aibnya. Gadis itu, Lana, pasti salah satunya. Sakha mendengus, meragukan ketulusan di balik senyum itu.
Ia mengikuti langkah Lana, yang berjalan di depannya sambil menjelaskan berbagai ruangan atau area yang mereka lewati. Setiap mereka berjalan, beberapa orang tampak menyapa gadis itu dengan ramah, senyum dan sapaan yang akrab.
Sakha dapat melihat, Lana adalah gadis yang cukup populer, dikelilingi aura persahabatan. Ia memang cukup cantik, namun penampilannya sederhana, tidak seperti gadis populer lain yang memakai riasan tebal atau aksesoris heboh. Lalu apa yang membuat gadis itu dikenal dan disukai banyak orang? Sakha semakin dibuat penasaran, ingin menguak misteri di balik senyum dan keramahan Lana.
Lana lalu mengajaknya memasuki perpustakaan, sebuah tempat yang tenang dan penuh dengan aroma buku. Di sana, ia menunjukkan buku-buku yang Sakha butuhkan, membantu pemuda itu melakukan peminjaman. Saat menunggu proses peminjaman bukunya, gadis itu berkeliling sendiri, matanya berbinar melihat area buku-buku seni dan desain. Terlihat sekali kalau gadis itu sangat tertarik akan seni, ia bahkan tidak menghiraukan Sakha dan asyik tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Ehem," Sakha berdehem, berusaha menarik perhatian Lana. Gadis itu menoleh padanya, matanya kembali berbinar.
Sakha memberi kode dengan kepalanya, mengisyaratkan bahwa ia sudah selesai dan mengajak gadis itu keluar. Lana buru-buru bangkit mendekatinya, senyumnya kembali merekah, dan mereka pun berjalan keluar perpustakaan bersama.
"Mau ke kantin?" tanya Lana saat keduanya melewati kantin yang siang itu tidak terlalu ramai. Sakha menggeleng, menolak ajakan itu. Lana mengangguk mengerti, ia menyadari bahwa Sakha adalah tipe orang yang pendiam, lebih suka menyendiri.
Saat hendak melewati kantin, tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh seseorang yang berteriak memanggil nama Lana.
"Lana!" Suara itu nyaring, penuh semangat. Lana menoleh ke asal suara, mendapati sahabatnya, Dilla, sedang melambai ke arahnya, mengajaknya masuk. Lana menatap Sakha sebentar, seolah meminta izin, lalu berganti melihat ke arah Dilla.
"Masuk sebentar yuk?" ajak Lana ragu, ada sedikit keraguan dalam suaranya.
Sakha membeku, mata Lana yang bulat menatapnya penuh harap. Tanpa sadar, Sakha mengangguk, sebuah persetujuan yang keluar begitu saja. Mulut Lana langsung tertarik membentuk senyuman lebar, senyum yang menular. Keduanya lalu memasuki kantin, mendekati Dilla yang saat itu sedang makan dengan pacarnya, Joshua, sang ketua OSIS.
Lana mengenalkan Sakha pada Dilla dan Joshua. Mereka lalu berbincang-bincang sebentar, namun Sakha merasa canggung berada di tengah-tengah keakraban mereka. Ia dapat melihat keakraban Lana dengan Dilla dan Joshua, persahabatan yang tulus dan hangat.
Terlihat Lana dan Dilla adalah sahabat dekat, bahkan Dilla sempat menyuapi Lana makanan yang sedang ia makan, Lana pun tanpa canggung menerima suapan itu.
Mereka tidak lama di kantin, karena sepertinya Lana menyadari ketidaknyamanan Sakha. Akhirnya, gadis itu pamit, dan mereka berdua segera kembali ke kelas. Jam istirahat masih cukup lama, Lana berencana mengerjakan beberapa latihan soal sebelum jam pelajaran berikutnya dimulai. Hari itu, Lana membawa bekal, jadi ia tidak membeli makanan di kantin.
Lana memperhatikan Sakha yang sudah kembali ke kursinya, merebahkan kepalanya di meja.
"Apa dia tidak lapar?" Lana bertanya pada dirinya sendiri, khawatir melihat Sakha yang belum makan. Terlintas di pikirannya untuk berbagi bekal, namun ia ragu. Sejak awal, ia merasa Sakha bersikap dingin padanya, dan ia bukanlah tipe orang yang memaksakan diri.
Lana menggembungkan pipinya, ragu-ragu. Ia menghela napas panjang, memutuskan untuk menawari bekalnya pada Sakha, meskipun mungkin akan ditolak.
"Tok..tok.." Lana mengetuk meja tempat Sakha merebahkan kepalanya, suara ketukan yang lembut.
Pemuda itu bergerak perlahan, mengangkat kepalanya. Matanya menangkap sosok Lana yang berdiri di depannya, menatapnya ragu sambil membawa kotak bekal.
"Aku bawa bekal, kamu mau?" Lana menyodorkan kotak bekalnya, sebuah tawaran yang tulus.
"Ini apa?" tanya Sakha bingung, matanya menatap kotak bekal itu.
"Sandwich dan apel. Kamu mau? Aku lihat kamu belum makan sama sekali," jelas Lana, menyodorkan bekalnya lebih dekat.
Sakha memperhatikan sandwich itu, tampak menggiurkan. Namun, ia gengsi menerima pemberian orang lain. Sakha menelan ludahnya, tergiur karena pagi tadi ia tidak sempat sarapan, dan kantin terlalu ramai. Sakha memang tidak terlalu memperhatikan pola makannya, beberapa kali neneknya mengomel, namun ia acuh. Jujur saja, Sakha bukan orang yang tertarik dengan makanan, ia makan hanya untuk bertahan hidup. Baginya, semua rasa makanan sama saja, ia tidak mengerti orang-orang yang menilai makanan enak dengan berlebihan.
Sakha mengambil kotak bekal itu, membuat Lana tersenyum lega. Sakha memperhatikan perubahan raut wajah gadis itu, sepertinya mudah membuatnya tersenyum.
"Baik, aku akan memakannya," ucap Sakha, suara yang terdengar datar.
Lana menepuk tangannya senang.
"Oke, selamat makan, Sakha." Lana berbalik, senyumnya merekah bagai bunga yang mekar di musim semi, sebuah ekspresi kebahagiaan yang tulus.
"Tunggu!" Suara Sakha memecah keheningan, sebuah perintah yang tiba-tiba.
Langkah Lana terhenti, ia berbalik menghadap Sakha, alisnya terangkat tanda tanya.
"Kenapa?" tanyanya lembut, namun ada sedikit kebingungan dalam suaranya.
"Jangan tersenyum!" ucap Sakha dingin, matanya menatap tajam, raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang kentara, bagai badai yang siap menerjang.
"Maksudnya?" Lana bertanya polos, matanya yang bulat menatap Sakha dengan bingung, seperti anak kecil yang tidak mengerti mengapa ia dilarang tertawa.
"Jangan selalu tersenyum, itu terlihat bodoh dan menyebalkan," kata Sakha, kata-katanya menusuk seperti duri.
Ucapan Sakha membuat Lana terkesiap, senyumnya memudar, digantikan ekspresi terkejut dan sedikit terluka.
Ia terdiam sejenak, berusaha mencerna kata-kata Sakha, seperti mencoba memahami teka-teki yang rumit.
Setelah menguasai dirinya, Lana berdiri tegak, menatap Sakha tanpa ragu. Ia menatap Sakha tanpa berkedip, lalu perlahan menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman yang sulit diartikan, senyum yang dingin dan misterius, bagai topeng yang menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
"Aku tidak peduli, karena aku tersenyum untuk diriku sendiri, bukan untukmu ataupun orang lain," ucap Lana tegas, suaranya mengandung nada keberanian yang baru.
Lana memperhatikan wajah Sakha yang minim ekspresi, bagai patung batu yang tak tergerak. Setiap Lana berbicara, Sakha hanya menatapnya acuh, seolah kata-kata Lana hanyalah angin lalu.
"Kamu pernah dengar ungkapan, jangan tersenyum karena kamu bahagia, tapi tersenyumlah karena kamu ingin bahagia?" tanya Lana, suaranya mengandung sedikit nada menantang.
Detik berikutnya, Lana berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Sakha yang terdiam. Ia kembali ke bangkunya, mengambil sandwich dari kotak bekalnya, dan mulai memakannya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia tampak sama sekali tidak terganggu oleh ucapan Sakha, atau mungkin tepatnya... berpura-pura tidak peduli, menyembunyikan perasaannya di balik topeng ketenangan.
"Lana, tolong ke sini sebentar," suara bariton Pak Dani membelah keheningan kelas, memanggil Lana dari dunianya sendiri.
Dengan langkah sedikit ragu, Lana menghampiri Pak Dani yang berdiri di dekat Sakha. Raut wajah gurunya tampak serius, namun penuh harap.
"Lana, Bapak ingin meminta bantuanmu. Beberapa hari ke depan, bisakah kamu membimbing Sakha dalam beberapa mata pelajaran? Bapak melihat nilainya sedikit tertinggal. Bapak yakin kamu bisa membantunya."
Mata Lana membulat sempurna, terkejut dengan permintaan tak terduga itu. Ia menoleh ke arah Sakha, yang berdiri tegak dengan ekspresi datar, seolah tak peduli dengan apa yang sedang dibicarakan.
"Tapi, Pak..." Lana tergagap, mencari kata-kata yang tepat. "Tapi, mungkin Sakha keberatan. Kenapa tidak Rio saja, Pak? Nilai Rio juga bagus."
"Hmm, Bapak rasa kamu lebih cocok untuk mengajar. Kamu lebih sabar dan detail. Sudah, kamu saja yang bantu Sakha, ya," Pak Dani menepuk bahu Lana, lalu beralih menatap Sakha. "Kamu tidak keberatan, kan, diajar oleh Lana? Dia anak yang baik dan prestasinya tidak perlu diragukan lagi."
Sakha hanya mengangguk singkat, tanpa ekspresi. Sikapnya yang acuh tak acuh itu membuat Lana semakin bingung. Ia tahu Sakha pasti tidak senang dengan ide ini, tapi kenapa dia tidak menolak?
Lana merasa seperti tersesat dalam kebingungan. Bagaimana mungkin dia, yang baru mengenal Sakha, harus mengajarinya? Apalagi dengan sikap dingin dan ketus pemuda itu, metode pengajaran seperti apa yang harus ia gunakan? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di benaknya, membuatnya semakin frustrasi.
-------
"Kenapa kamu tadi tidak menolak?" Lana menunduk sambil memainkan ujung sepatunya. Kedua bibirnya mengerucut. Ia menatap malas punggung Sakha yang tengah berdiri membelakanginya.
Siang itu sepulang sekolah keduanya berada di depan gerbang sekolah. Mereka sedang menunggu supir keluarga Sakha yang akan datang menjemputnya.
Sesuai permintaan wali kelas mereka, Lana akan belajar bersama pemuda itu dan membantunya untuk menjelaskan beberapa materi yang tertinggal atau masih tidak dimengerti olehnya.
"Kenapa harus menolak?" Sakha menoleh sekilas, melihat sejenak ekspresi Lana yang tampak kesal padanya.
Biasanya Lana selalu memasang wajah ramah dan senyum di wajahnya, tapi ternyata ekspresi kesalnya terlihat cukup menggemaskan, pikir Sakha.
"Bukankah kamu keberatan?" Lana menghentakkan kakinya, ia lalu bergerak mendekat ke samping pemuda itu dan menatapnya.
Mata bening milik Lana membulat, membuat wajah gadis itu terlihat seperti anak anjing kecil yang sedang merajuk. Sakha sampai menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi Lana yang baginya terlihat lucu.
"Aku tidak pernah keberatan." jawab Sakha santai.
"Hah?" Lana mengernyitkan dahinya.
"Apa?"
"Bukannya kamu tidak nyaman sama aku, harusnya kamu minta belajar dengan Rio. Dia.."
"Nope. It's okay, you're better choice."
Lana memicingkan matanya curiga.
"Jangan sampai kamu buat aku kesal ya, saat kita belajar nanti."
"Aku tidak pernah buat kamu kesal." tukas Sakha singkat.
Lana tercengang sampai membulatkan matanya. "Woah..kau luar biasa!"
"Memangnya aku pernah buat kamu kesal?"tanyanya dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Hmmm..enggak..enggak sama sekali." tegas Lana sembari menarik nafas panjang.
Sepertinya pemuda di depannya ini memang sengaja memancing emosinya, jadi Lana berusaha menahan dirinya agar tidak terpancing.
"Jadi berapa menit lagi kita tunggu jemputan kamu?" tanya Lana sembari menatap jalanan yang sudah sedikit sepi.
"Sebentar lagi."
"Kenapa enggak pakai angkutan umum? Kan bisa lebih cepat." Lana memajukan tubuhnya sedikit ke arah jalan raya, ia menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan jemputan milik Sakha.
Mereka sudah menunggu hampir satu jam dan menurut Lana itu waktu yang cukup lama, ia sangat tidak suka membuang waktu. Waktu satu jam bisa ia manfaatkan untuk mengerjakan soal-soal latihan, belajar memasak atau mengecek tanaman-tanaman yang ada di kebun kecilnya.
"Lagipula kamu kan sudah besar, kenapa masih diantar jemput." seloroh gadis itu.
"Ternyata kamu cerewet juga ya."
Tiba-tiba sebuah kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi, untunglah Sakha menyadari hal tersebut. Dengan refleksnya yang cepat, ia menarik tas punggung yang dikenakan oleh Lana, membuat gadis itu langsung terhuyung ke belakang.
Sakha segera menarik gadis itu ke pelukannya, Lana yang terkejut hanya bisa memejamkan matanya. Ia dapat merasakan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi itu hampir menyerempetnya, membuat angin kencang menyapu wajahnya sebelum akhirnya Sakha menarik dan menyembunyikan tubuh gadis itu dalam pelukannya.
Lana dapat mendengar degup jantung Sakha yang berdetak lebih cepat dan deru nafasnya yang memburu. Gadis itu mendongak, mendapati wajah pemuda itu yang menegang.
Setelah dirasa sudah aman, Lana berusaha melepaskan dirinya dari pelukan pemuda itu, namun cengkraman tangan Sakha di tubuhnya terasa sangat kuat.
"Sa..Kha.." ucap Lana yang mulai merasa sesak.
Sakha Masih terdiam tak bergeming.
"Sakha..lepas.."tukas Lana lirih.
Sakha akhirnya tersadar dan cepat-cepat melepas pelukannya pada Lana. Gadis itu memperhatikan wajah Sakha yang terlihat pucat dan berkeringat.
"Kamu baik-baik saja?"
Sakha tidak menjawab, tiba-tiba pandangannya sedikit kabur ia pun bersandar pada gerbang yang ada di belakangnya. Lana yang terkejut memegang lengannya.
"Kamu sakit? Kenapa tiba-tiba pucat dan berkeringat?" Lana terlihat panik.
Sakha tidak menjawab dan hanya berusaha mengambil nafas panjang untuk menetralkan perasaannya yang berkecamuk juga kepalanya yang mendadak terasa pusing.
Lana menyentuh kening Sakha dengan telapak tangannya. Suhu tubuh pemuda itu terasa dingin. Lana semakin khawatir.
"Kita ke rumah sakit saja ya? A..aku..cari taxi dulu."
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekitar berusaha mencari taxi yang bisa ia pakai untuk mengantarkan Sakha ke rumah sakit terdekat. Ia khawatir kalau pemuda itu punya riwayat penyakit yang perlu penanganan cepat.
Lana melihat satu mobil yang berjarak kurang lebih 200m dari tempat mereka berada. Lana hendak melambaikan tangannya untuk memanggil taxi tersebut namun tiba-tiba tangan Sakha menahannya.
"Aku baik-baik saja." ucapnya dengan suara lemah
"Kamu yakin?" Lana Masih tidak percaya.
Sakha mengangguk lalu berusaha berdiri dengan tegap. Lana segera membantu memapahnya, lengan Sakha merangkul gadis itu sampai membuatnya terhuyung.
Lana yang sebetulnya cukup tinggi, terasa sangat kecil jika dibandingkan dengan Sakha yang memiliki tinggi 178cm. Tubuhnya seperti tenggelam dibalik badan kekar milik pemuda itu.
Tak lama menunggu untunglah supir pribadi milik keluarga Sakha akhirnya datang, pria paruh baya yang berpenampilan sederhana itu nampak terkejut melihat Sakha yang pucat dan sedang bersama dengan seorang gadis. Banyak yang ingin ia tanyakan tapi ia tunda dan dengan segera turun dari mobilnya untuk membantu Sakha memasuki mobil.
Lana menemani Sakha duduk di kursi belakang.
Lana lalu mengambil botol air mineralnya yang tadi baru ia beli di kantin. Ia segera membuka segel botol tersebut dan menyodorkannya pada Sakha.
Sakha meminum air yang diberikan oleh Lana, lalu menyandarkan kepalanya yang masih sedikit pusing.
Lana menjelaskan kepada supirnya, tentang Sakha yang tadi menolongnya dari sebuah mobil yang hampir menyerempetnya, setelah itu tiba-tiba saja kondisi Sakha seperti ini.
Supir tersebut hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan menenangkan Lana kalau tuannya akan baik-baik saja.
Lana menatap Sakha yang terlihat lemas, ia lalu menyentuh kepala pemuda itu yang untunglah kini suhunya sudah kembali normal.
Tiba-tiba Sakha membuka matanya, tangan pemuda itu terangkat lalu menggenggam jemari Lana.
Lana terdiam mematung. Keduanya bertatapan seolah saling berbicara.
"Jangan membuatku cemas." tukas Sakha lirih.
Lana terpaku, bingung dengan ucapan pemuda itu.
Siapa yang membuatnya cemas? Bukankah ia yang sakit dan sejak tadi membuatku khawatir.
"Belajarnya dibatalkan saja ya? Sepertinya kamu perlu istirahat," ujar Lana, nada suaranya penuh kekhawatiran, sambil memapah Sakha memasuki rumah megah itu. Wajah pucat Sakha membuatnya tak tega, ia merasa bertanggung jawab atas kondisi pemuda itu.
"Jangan. Aku tidak apa-apa," tolak Sakha, suaranya lemah namun tegas.
"Kamu yakin?" Lana menatapnya dengan mata penuh selidik.
Sakha mengangguk, lalu berujar, "Di kamarku saja."
"Hah?" Lana terkejut, alisnya terangkat.
"Di sana," Sakha menunjuk ke arah kamarnya dengan dagu.
"Ngapain di kamar kamu?" tanya Lana, bingung.
"Ya belajar."
"Kenapa harus di kamar?" sergah Lana, matanya memicing curiga. "Di sini saja," pintanya, menunjuk ruang tamu yang nyaman.
"Buku-buku ada di kamar," jelas Sakha, berusaha meyakinkan.
"Ya tinggal diambil," Lana mengernyitkan dahi, tak habis pikir.
"Memangnya kenapa kalau di kamar? Toh kita cuma belajar," gumam Sakha, nada suaranya terdengar sedikit kesal.
"Sepertinya kau tidak bisa melihat, aku beritahu ya... kalau aku adalah seorang gadis. Tidak baik anak gadis berada di kamar seorang pemuda yang bahkan bukan keluarganya," jelas Lana, senyum palsu menghiasi wajahnya. "Jadi, cepat kau ambil buku-buku yang dibutuhkan. Lalu kita belajar di sini," tukas Lana bersikeras, sambil menjatuhkan diri di sofa empuk.
"Oke... kalau begitu di ruang keluarga saja, di sana," tunjuk Sakha, mengalah.
"Baiklah," Lana mengikuti arah yang ditunjuk Sakha, melangkah menuju ruang keluarga yang luas.
Sakha segera berlari ke kamarnya, mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian santai, mencuci wajahnya yang pucat, lalu kembali ke ruang keluarga.
Saat ia tiba, pemandangan yang dilihatnya membuat hatinya mencelos. Lana tampak asyik bercengkrama dengan Berry, kucing kesayangan neneknya. Gadis itu menggendong Berry dengan lembut, mengelus bulu halusnya, dan Berry tampak nyaman dalam pelukannya.
Padahal, Berry selalu mencakar, berlari menjauh, dan menatap sinis padanya. Tapi dengan Lana, kucing itu langsung akrab, seolah mereka sudah berteman lama.
"Dasar kucing genit!" batin Sakha, cemburu melihat keakraban mereka.
...--------...
"Sakha, ini kucing kamu? Lucu!" Lana memasang wajah menggemaskan, matanya menyipit membentak eye smile yang cantik.
Sakha mematung, terkesima dengan ekspresi yang baru pertama kali ia lihat.
"Namanya siapa? Gemas sekali kucingnya. Bulunya lembut banget." Lana mengelus Berry dengan penuh kasih sayang, membuat kucing itu terlihat semakin nyaman dalam pelukannya.
"Berry." Sakha menjawab sambil berjalan mendekat dan duduk di samping gadis itu.
"Berry..Berry..kamu lucuuuu banget." Lana semakin mengeratkan pelukannya pada kucing itu. Berry yang dipeluk dengan erat, tampak tidak keberatan dan terlihat semakin menenggelamkan dirinya ke tubuh Lana.
"Jangan sampai dia mati tercekik, nenekku bisa marah."
Lana langsung tersadar dan melonggarkan pelukannya. Ia terkekeh pelan.
"Nanti main lagi yang Berry, sekarang kakak mau belajar dulu." Lana mengangkat tubuh Berry dari pangkuannya lalu meletakkan kucing itu dengan hati hati di karpet.
"Oke, kita mulai dengan pelajaran Kimia saja ya." pinta Lana.
Sakha hanya menjawab dengan menghela nafas malas, namun pemuda itu menurut dan membuka buku pelajarannya.
Selanjutnya, Lana mulai menjelaskan materi yang menurut Sakha sulit, ia lalu menyuruh Sakha menjawab beberapa pertanyaan yang ada di buku mereka.
Awalnya Sakha mengira Lana hanya siswi pintar biasa, namun mendengar dan memperhatikan bagaimana gadis itu berusaha menjelaskan materi pelajaran kepadanya, ia akhirnya mengerti kenapa Lana bisa menjadi siswi berprestasi di sekolah.
Banyak orang yang bisa belajar dengan baik, namun tidak semua orang pandai mengajar. Menurut Sakha, gadis itu termasuk yang bisa melakukan keduanya, caranya menjelaskan materi sangat sederhana dan sama sekali tidak terkesan menggurui. Selain itu Lana memilih metode interaktif sehingga proses belajar mereka terasa seperti diskusi. Sakha, sama sekali tidak merasa gadis itu menganggapnya bodoh karena harus mengajarinya. Lana tidak menunjukan dirinya lebih pintar atau superior dibanding dirinya. Diam-diam Sakha merasa kagum padanya.
-----------
"Sakha...nenek pulang."
Selang beberapa jam setelah mereka belajar, sebuah suara terdengar dari arah pintu depan. Derap langkah kecil dapat mereka dengar dan berjalan mendekati ruang keluarga.
Lana yang saat itu sedang membereskan peralatan sekolahnya menoleh ke arah sumber suara. Kegiatan belajar mereka sudah selesai, jadi Lana memutuskan untuk segera pulang. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 7 malam. Ia berencana akan menggunakan transportasi umum untuk pulang.
"Nek." Sakha menyapa neneknya yang baru saja datang.
Seorang wanita paruh baya berusia sekitar 60 tahunan berjalan mendekat ke arah Lana dan Sakha. Raut wajah nenek tampak terkejut saat dilihatnya seorang gadis remaja yang cantik sedang berada di rumahnya. Matanya bergantian menatap Sakha dan Lana seolah bertanya siapa gadis ini dan apa yang sedang mereka lakukan di sana.
Lana segera berdiri dan memberanikan dirinya untuk mendekati nenek dari Sakha.
"Selamat malam, nek. Kenalkan saya Lana, teman sekelasnya Sakha." Lana mencium punggung tangan nenek dengan sopan dan berusaha tersenyum ramah walau sedikit canggung.
"Malam. Kamu cantik sekali." Nenek terlihat sumringah menyambut kedatangan Lana. "Oh, nama nenek, Yasmin. Jadi kamu bisa panggil nenek Yasmin saja."ujarnya seraya mengelus lembut kepala gadis itu.
Lana sedikit terhenyak dengan sikap nenek Yasmin yang sangat ramah padanya walaupun mereka baru pertama kali bertemu. Sifat nenek Yasmin berbanding terbalik dengan cucunya, yakni Sakha yang selalu tampak dingin dan tidak pernah tersenyum.
"Lana sudah mau pulang, nek."ujar Sakha.
"Eh kok pulang. Menginap saja di sini. Sudah malam. Lagipula besok akhir pekan, sekolah libur."
"Eh?" Lana terlihat gelagapan dan menoleh bingung ke arah Sakha.
"Jangan nek. Lana pulang saja."tolak gadis itu sopan.
"Ya sudah, tapi nanti pulangnya diantar Pak Izal saja ya, berbahaya naik transportasi umum malam-malam."
"Enggak perlu nek, merepotkan." respon Lana sungkan.
"Enggak repot sama sekali. Nanti pokoknya kamu pulangnya diantar Pak Izal, titik. Oh iya, kalian sudah makan?"
Sakha menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Astaga, Sakha kamu bagaimana sih. Ada tamu tidak disuguhi makanan apapun, bener-bener kamu ya." seloroh nenek yang terlihat kesal pada cucunya tersebut.
"Ayo makan dulu. Sebentar nenek minta bi Maya menyiapkan makanannya, enggak akan lama kok. Kamu duduk dulu ya sayang." pinta nenek sopan.
"Lana makan dirumah saja nek." Lana Masih merasa canggung dan malu jika harus menerima makan gratis di hari pertamanya berkunjung ke sana.
"Enggak boleh, kamu harus makan malam di sini. Tunggu ya, nenek ke dalam sebentar. Nanti kalau makanannya sudah siap, nenek panggil."
Nenek lalu buru-buru pergi dan tidak menghiraukan penolakan gadis itu.
Lana memainkan jemarinya gugup. Ia menoleh pada Sakha, khawatir pemuda itu akan keberatan dengan dirinya yang tanpa tahu malu ikut makan malam di rumahnya.
Namun, Sakha tampak santai dan membereskan buku-buku di meja yang masih berserakan.
Lana lalu berjongkok di samping pemuda itu.
"Sakha, memangnya tidak apa-apa aku makan di sini? Kamu keberatan ya?" Kening gadis itu berkerut menyiratkan kekhawatiran.
Sakha menatap sejenak wajah Lana yang terlihat khawatir.
Tangannya bergerak mendekati wajah gadis itu, lalu tiba-tiba ia meletakkan telapak tangannya di atas kepala Lana.
Gadis itu mendongak bingung, matanya mengerjap.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Turuti saja kata nenek. Nanti aku antar kamu pulang."
"Eh?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!