"Assalamualaikum, Bu," salam Afra yang baru saja datang setelah bekerja sebagai kasir di salah satu minimarket swasta yang ada di dekat rumahnya.
"Waalaikumsalam, kamu bawa uang gak? ini Adek kamu butuh uang buat bayar uang sekolah, Ibu gak punya uang soalnya," ucap Ibu Mila.
"Afra cuma punya uang 200 ribu, Bu soalnya Afra juga belum gajian," ucap Afra.
"Yaudah mana uangnya?" tanya Ibu Mila.
Afra pun memberikan uang tersebut pada Ibunya dan Ibu Mila segera mengambilnya, "Besok kamu cari hutangan ke orang ya Ra, buat biaya sekolah adik kamu. Kamu gak kasihan apa dia udah nunggu beberapa bulan loh di sekolah," ucap Ibu Mila.
"Tapi, Bu. Bukannya Afra sudah kasih uang buat bayar sekolahnya Fia ya," ucap Afra.
"Uangnya kepake buat beli beras sama telur itu, kamu gak kasihan apa di rumah gak ada apa-apa. Belum lagi bayar hutang ke warungnya Mbak Sekar," ucap Ibu Mila.
"Yaudah, besok Afra coba cari tambahan," ucap Afra.
"Kurang 400 ribu loh, Ra," ucap Ibu Mila.
"Iya, Bu," ucap Afra.
Beginilah hidup Afra Afiyah Balqis atau biasa dipanggil Afra, ia bekerja sebagai kasir di salah satu minimarket swasta yang ada di dekat rumahnya, Afra berasal dari keluarga dengan ekonomi sulit. Ayahnya bernama Amar, bekerja sebagai kuli panggul di pasar, sedangkan Ibunya bernama Mila, berjualan nasi campur di dekat pasar lalu adik perempuannya yang bernama Sofia yang sekarang kelas 2 SMA.
Hidupnya memang serba pas-pasan, namun Afra tidak pernah menyerah apalagi melihat keadaan Ayah dan Ibunya yang terus bekerja meksipun mendapatkan hasil yang tidak seberapa.
Di dalam kamar, Afra mengambil sebuah tas kecil yang ada di lemari bagian bawah, ia pun melihat isi yang ada di dalam tas tersebut. Dimana di dalam tas tersebut tidak ada apapun, hanya ada beberapa kertas kosong.
"Bulan ini aku boros banget, biasanya sampai pertengahan bulan, uangku masih ada sisa. Tapi, sekarang uangku benar-benar habis," gumam Afra.
Afra melihat beberapa barang yang ada di dalam kamarnya, "Apa aku jual aja ya beberapa barang-barangku, tapi masalahnya hampir semua barang-barangku udah aku jual, yang ada cuma gamis, kerudung sama beberapa buku," lanjut Afra.
Pagi harinya, Afra bangun dan ia segera berangkat kerja karena ia shift pagi hari ini. Tak lama setelah itu, ia pun sampai di tempat ia bekerja.
"Ra, kayaknya ada yang lagi merhatiin kamu tuh," ucap Hilya salah satu rekan kerja Afra.
"Maksudnya?" tanya Afra.
"Tuh lihat di rak roti, laki-laki itu dari tadi lihatin kamu terus, suka sama kamu sih kataku," ucap Hilya.
"Gak lah, siapa aku ini. Cantik juga gak, kaya apalagi," ucap Afra.
"Gak ada yang tau perasaan orang, jadi bisa aja dia suka sama kamu," ucap Hilya dan Afra hanya menggelengkan kepalanya.
Hilya ini termasuk rekan kerja dan sahabat bagi Afra karena mereka sudah lama bersama, mereka bersama sejak SMP bahkan Afra bekerja disini berkat bantuan Hilya, dimana Hilya sudah bekerja di minimarket ini sejak lulus SMA, sedangkan Afra saat itu berjualan ikan di pasar serta bekerja di beberapa tempat sudah pernah ia coba hingga salah satu pegawai minimarket tersebut keluar Hilya pun menawarkan pada Afra dan tentunya ini kesempatan yang tidak akan Afra sia-siakan.
Terhitung sudah 4 tahun Afra bekerja di tempat tersebut, meskipun gajinya tidak terlalu besar. Namun, Afra tetap bersyukur karena gajinya mampu menjadi tambahan biaya hidupnya dan keluarganya.
Tak berselang lama, pria yang dimaksud Hilya tadi sudah ada di hadapan mereka untuk membayar belanjaannya, "Ini, Mbak," ucap pria tersebut.
"Iya, Kak," ucap Afra dengan ramah laku ia pun menghitung belanjaan pria tersebut.
"Totalnya 97 ribu, Kak," ucap Afra.
"Ini Mbak," ucapnya.
"Uangnya 100 ribu ya Kak..... Ini kembaliannya Kak," ucap Afra.
"Mbak," panggil pria tersebut.
"Iya, ada yang bisa saya bantu Kak?" tanya Afra.
"Mbak mau jadi istri kedua saya, saya juragan di desa saya, saya kaya Mbak. Mbak pasti gak nyangka kan kalau saya ini juragan padahal saya masih muda, itu karena orangtua saya yang sudah kaya, saya yakin Mbak gak akan menyesal, gimana Mbak? Mbak mau kan jadi istri kedua saya? saya sudah tertarik sama Mbak sejak saya masuk ke dalam minimarket ini," tanya pria tersebut.
"Maaf, Kak. Saya menolak untuk dijadikan istri kedua, saya tidak menyukai pria yang sudah menikah," ucap Afra.
"Kalau begitu saya akan ceraikan istri saya, gimana Mbak?" tanta pria tersebut yang membuat Afra terkejut bukan main.
"Pernikahan bukan sebuah mainan Kak, sekali lagi saya minta maaf karena saya mencari yang belum menikah," ucap Afra.
"Jual mahal banget sih, dasar lo...," ucap pria tersebut terhenti lantaran Hilya yang terlebih dahulu menyela ucapannya.
"Dasar apa hah! udah punya istri juga masih aja gak tau diri, setia dong jadi cowok. Gak takut apa kena karma," ucap Hilya dnegan emosi yang meluap-luap," ucap Hilya.
Pria tersebut tidak menanggapi dan segera keluar dari minimarket tersebut. "Huh, capek banget habis ngomel-ngomel. Gila sih ya tuh orang, udah gak ganteng, tapi sok ganteng," ucap Hilya.
"Sabar," ucap Afra.
"Padahal, aku mau istiqomah buat lebih baik loh, tapi ada aja cobaannya," ucap Hilya.
"Justru dengan adanya ujian ini, perjalanan istiqomah kamu akan jadi indah," ucap Afra.
"Iya ya, kenapa aku gak kepikiran," ucap Hilya.
"Allah juga mau menguji keseriusan kamu, Allah mau tau kamu niat istiqomah ini dengan serius atau cuma main-main, gak ada namanya istiqomah akan berjalan mulus, bisa jadi nanti bakal ada ujian yang lebih berat lagi," ucap Afra.
"Indahnya punya sahabat kayak kamu, makasih ya Ra, udah mau mengingatkan," ucap Hilya.
"Iya sama-sama, bukannya persahabatan itu memang seperti ini ya saling mengingatkan untuk hal yang lebih baik," ucap Afra.
Sore harinya, saat Afra dalam perjalanan pulang tiba-tiba ia melihat seorang anak kecil yang menangis di pinggir jalan, Afra pun menghampiri anak kecil tersebut.
"Adek, kenapa nangis?" tanya Afra.
"Kakak, Kenan lapar hiks hiks," ucap anak kecil tersebut yang bernama Kenan.
"Mana Ayah sama Ibunya Kenan?" tanya Afra.
"Kenan gak tau, Kenan tadi lari buat ngejar bola ini," ucap Kenan dan menunjukkan sebuah bola pada Afra.
"Yaudah, Kenan mau makan apa?" tanya Afra.
"Kenan mau roti," ucap Kenan dan menunjuk sebuah toko roti yang harganya cukup mahal bagi Afra.
.
.
.
Bersambung.....
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA SEMUANYA 🍒
Kalau kalian suka dengan cerita Author jangan lupa kasih LIKE, KOMENTAR, mau kasih HADIAH juga gapapa, VOTE juga boleh, jangan lupa juga buat kasih author bintang (⭐) di kolom komentar ya supaya author tambah semangat nulisnya dan bisa up bab setiap hari.
Follow juga akun instagram Author : @elaretaa
Afra tentu saja ragu membelikan roti untuk Kenan pasalnya harga roti di toko tersebut tidak cocok dengan dompetnya yang begitu pemilih soal harga.
"Kita beli yang lain aja mau?" tanya Afra.
"Gak mau, maunya roti itu. Umi sama Abi biasanya beliin Kenan roti itu," ucap Kenan.
'Ya Allah, gimana ini. Aku sebenarnya mau bantu, tapi uangku tinggal 50 ribu dan kalau aku belikan dia roti disana berarti uangku habis..... Astagfirullah Afra, apa yang kamu pikirkan, kamu mementingkan urusan dunia, tapi aku emang lagi gak ada uang,'
Namun, karena tidak tega, Afra pun menuruti apa yang diinginkan Kenan. "Yaudah, ayo kita ke sana," ucap Afra dan menggandeng tangan mungil Kenan.
Beberapa saat kemudian, Afra dan Kenan pun sudah ada di dalam toko roti tersebut. Ini adalah pertama kalinya Afra masuk ke dalam toko roti ini, Afra begitu takjub karena interior toko tersebut begitu bagus.
Kenan mengambil roti yang ia inginkan lalu memberikannya pada Afra, "Kakak mau beli yang mana?" tanya Kenan.
"Eh, Kakak gak beli kok. Kakak cuma nemenin kamu aja," ucap Afra.
Tentu saja Afra masih sayang uangnya, ia tidak mungkin menghabiskan uangnya untuk beli roti yang harganya tidak masuk akal itu. Bukannya pelit, hanya saja Afra bukan berasal dari keluarga kaya.
"Kenapa Kak?" tanya Kenan.
"Hem, Kakak kurang suka manis," ucap Afra.
"Pasti karena Kakak udah manis ya makanya Kakak gak suka manis," ucap Kenan yang begitu polos.
Mendengar jawaban Kenan, Afra pun tertawa pelan, "Kamu ini tau aja ya kalau Kakak ini udah manis, jadi gak butuh lagi yang manis-manis," ucap Afra.
"Yaudah sekarang ayo kita kit bayar," ajak Afra dan diangguki Kenan.
Saat sampai di depan kasir, Afra pun membuka dompetnya. Namun saat akan mengambil uang tiba-tiba Kenan memberikan selembar uang seratus ribu pada Afra.
"Loh, kamu dapat uang darimana?" tanya Afra.
"Dari Umi, Kak," ucap Kenan dan menunjukkan beberapa lembar uang yang ada di kantong celananya.
"Umi selalu siapin uang buat Kenan, Kak. Biar kalau Kenan mau apa-apa Kenan bisa beli," ucap Kenan.
'Beruntungnya Kenan, dia bisa mendapatkan apa yang dia mau sejak kecil. Bahkan orangtuanya memberikannya uang sebanyak ini, astagfirullah Afra kenapa sih akhir-akhir ini kamu sering gak bersyukur,'
"Gapapa pakai uang Kakak aja, kamu simpan uang kamu ya," ucap Afra.
"Jangan Kak, kata Umi kalau mau beli apa-apa harus pakai uang Kenan sendiri makanya Umi sampai siapin uang buat Kenan. Ini Kak," ucap Kenan.
Afra pun mengambil uang tersebut dan membayar roti pesanan Kenan, tak lama setelah itu Afra segera memberikan sisa uang tersebut pada Kenan dan menyimpannya di kantong celananya.
Afra dan Kenan pun keluar dari toko roti tersebut dan tak lama setelah mereka keluar, seorang perempuan dengan memakai gamis dan juga cadar datang menghampiri mereka.
"Astaga Kenan, Umi cariin dimana-mana kok gak ada ternyata kamu ada di disini, Umi khawatir banget sama kamu sayang, Umi takut kamu kenapa-napa," ucap perempuan bercadar tersebut dengan memeluk Kenan.
"Maafin Kenan, Umi. Tadi Kenan ngejar bola ini terus Kenan pengen roti, tapi Kenan gak berani masuk untung ada Kakak cantik yang bantu Kenan," ucap Kenan dan tersenyum pada perempuan tersebut.
"Astaghfirullah, sayang ingat ya lain kali gak boleh kayak gitu lagi, kalau mau sesuatu Kenan harus tunggu Umi atau Abi dan gak boleh sendirian lagi," ucap perempuan tersebut.
"Iya, Umi. Kenan minta maaf," ucap Kenan.
"Iya, Umi maafin," ucap perempuan tersebut.
"Kenan sayang, Umi," ucap Kenan lalu memeluk perempuan yang Kenan panggil Umi.
Perempuan tersebut pun berdiri lalu menatap Afra, "Makasih ya Mbak karena sudah mau membantu anak saya," ucap perempuan tersebut.
"Iya, Mbak. Saya senang bisa membantu Kenan," ucap Afra.
"Perkenalkan nama saya Hira, saya orangtuanya Kenan, saya tadi sedang mengobrol dengan teman saya dan saya gak sadar kalau ternyata Kenan pergi. Saya benar-benar berterimakasih sama Mbak, ini ada rezeki untuk Mbak karena sudah membantu Kenan," ucap perempuan yang bernama Hira itu.
"Terimakasih Mbak, saya membantu Kenan Dengan ikhlas. Saya tidak mengharapkan imbalan apapun," ucap Afra.
"Iya, saya tau Mbak ikhlas membantu anak saya. Hanya saja saya juga ikhlas memberikan ini, ini salah satu oleh-oleh dari daerah tempat saya tinggal, saya memberikan ini sebagai oleh-oleh. Saya benar-benar ikhlas memberikannya," ucap Hira.
Afra ragu untuk mengambilnya karena jika Afra mengambil pemberian itu, takutnya Hira berpikir yang buruk-buruk tentang dirinya padahal Afra hanya ingin membantu Kenan tanpa mengharapkan apapun dan seolah mengerti apa yang sedang ada di pikiran Afra, Hira pun tersenyum lalu mengambil tangan Afra dan memberikan paperbag tersebut pada Afra.
"Ambil Mbak, saya sangat menghargai Mbak. Saya memberikan ini bukan berarti saya merendahkan Mbak atau apapun itu, justru sebaliknya, saya sangat berterimakasih sama Mbak. Anggap saja ini sebagai rasa terimakasih saya atau hadiah dari saya," ucap Hira.
"Saya yang harusnya berterimakasih sama Mbak karena Mbak sudah baik sama saya," ucap Afra dan Hira pun tersenyum di balik cadarnya.
"Kalau boleh tau Mbak namanya siapa ya?" tanya Hira.
"Nama saya Afra, Mbak," ucap Afra.
"Masyaallah, nama yang cantik secantik Mbak Afra," ucap Hira.
"Masa nama saya cantik Mbak, arti nama saya debu loh Mbak," ucap Afra.
"Bukannya bagus, debu itu dianggap sebagai simbol kesederhanaan dan kerendahan hati, karena debu adalah bagian dari elemen alam yang paling kecil namun penting. Nama mbak m juga sering loh digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki sifat rendah hati, tulus, dan bersahaja. Jadi, bukankah nama Mbak begitu cantik, sama seperti artinya insyaallah Mbak Afra adalah perempuan yang rendah hati," ucap Hira.
"Masyaallah, makasih ya Mbak. Saya sebenarnya sempat kurang percaya diri dengan nama saya, tapi dengan penjelasan Mbak Hira, saya jadi paham begitu cantiknya nama saya," ucap Afra.
"Alhamdulillah, Mbak," ucap Hira.
Setelah mengobrol, mereka pun berpisah karena hari semakin sore dan takutnya Ibu Mila menunggu Afra.
Tak lama setelah itu, Afra pun smpai di rumah dan begitu ia masuk, Ibu Mila sudah menunggunya. "Kamu udah pulang, gimana udah dapat uangnya?" tanya Ibu Mila.
"Bu, Afra ini baru pulang kerja, gak bisa ya nunggu Afra bersih-bersih dulu setelah itu Ibu boleh tanya-tanya soal uang," ucap Afra.
"Ibu kan cuma mau pastikan saja Ra, tinggal bilang aja sih susah banget," ucap Ibu Mila.
.
.
.
Bersambung.....
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA SEMUANYA 🍒
Kalau kalian suka dengan cerita Author jangan lupa kasih LIKE, KOMENTAR, mau kasih HADIAH juga gapapa, VOTE juga boleh, jangan lupa juga buat kasih author bintang (⭐) di kolom komentar ya supaya author tambah semangat nulisnya dan bisa up bab setiap hari.
Follow juga akun instagram Author : @elaretaa
"Afra capek banget, Bu. Afra istirahat dulu ya, nanti kalau udah mendingan Afra bicara lagi sama Ibu," ucap Afra lalu ia pun masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, Afra segera membersihkan tubuhnya lalu setelah itu Afra memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu, niat Afra hanya berbaring sebentar. Namun, Afra justru ketiduran hingga tanpa sadar ketika ia terbangun Ternyata sudah jam 9 malam dan untung saja Afra sudah melaksanakan sholat tadi sehingga Afra pun merasa tenang.
"Udah jam 9," gumam Afra.
Saat Afra hendak kembali terlelap tiba-tiba ia teringat pemberian Hira tadi, mau tidak mau Afra pun bangun dan membuka isi dari paperbag pemberian Hira. Begitu Afra membukanya ternyata di dalam paperbag tersebut berisikan sebuah kue lapis dengan berbagai macam rasa, bukan hanya kue lapis, ternyata di dalamnya juga terdapat buah kering.
"Alhamdulillah, Mbak Hira baik banget," ucap Afra.
Afra pun mengambil kue dan cemilan tersebut hendak membawanya ke luar. Namun, ia teringat dengan amplop yang di berikan Hira lalu Afra pun mengurungkan niatnya dan memilih untuk mengambil amplop yang ada di tasnya lalu membuka dan betapa terkejutnya Afra ketika melihat uang sebesar 500 ribu tersebut.
"Astagfirullah, ini Mbak Hira gak salah ngasih apa. Haduh aku tadi gak minta nomornya Mbak Hira lagi, aku gak mungkin ambil uang ini," gumam Afra.
Namun, tiba-tiba perkataan Ibu Mila tadi saat Afra baru sampai di rumah membuatnya ragu, ia ingin menggunakan uang tersebut, namun ia takut.
"Ya Allah, maafin Afra. Mbak Hira kalau suatu saat Afra ketemu lagi sama Mbak Hira, Afra bakal ganti uangnya Mbak Hira, Afra janji," gumam Afra lalu ia pun memutuskan untuk menggunakan uang tersebut.
Afra pun keluar dari kamar dan ia menuju ruang tamu dimana disana sudah ada Ibu Mila, Ayah Amar dan juga Fia. "Mbak," panggil Fia.
"Ini, tadi Mbak ada rezeki ada orang baik ngasih kue ke Mbak," ucap Afra.
"Dari siapa? kamu gak minta-minta ke orang kan? Ra, Ibu tau kalau kita ini memang dari keluarga yang serba kekurangannya, tapi kamu jangan pernah minta-minta sama orang," ucap Ibu Mila.
Afra pun tersenyum mendengar ucapan Ibu Mila, "Alhamdulillah, Bu. Afra gak minta-minta kok, Afra di kasih, Afra sudah menolaknya berulang kali, tapi sepertinya memang rezeki Afra makanya Afra ambil," ucap Afra dan diangguki Ibu Mila.
"Ini, makan Dek," ucap Afra dan memberikan kue lapis tersebut ke Fia.
Mereka pun menikmati makanan tersebut dnegan nikmat, "Enak Mbak kue lapisnya, ini kayaknya pertama kalinya Fia makan kue kayak gini," ucap Fia.
"Adek kamu suka, Ra. Kapan-kapan kamu tanya ke orang yang ngasih ini ya, nanti kamu beli lagi," ucap Ibu Mila.
"Iya, Bu. InsyaAllah kalau ada rezeki ya, Afra bakal beliin," ucap Afra.
"Oh iya, ini Bu. Untuk uang buat biaya sekolahnya Fia, Afra udah ada," ucap Afra.
"Biaya apa Mbak?" tanya Fia.
"Anak kecil gak usah tau," ucap I u Mila.
"Ibu minta uang ke Afra lagi?" tanta Ayah Amar.
"Salah ya?" tanya Ibu Mila dengan tanpa rasa bersalah lalu mengambil uang tersebut dan menghitungnya.
Namun, baru saja Ibu Mila hendak menaruh uang tersebut ke sakunya, Fia terlebih dahulu mengambil uang tersebut dan mengembalikannya pada Afra.
"Mbak, uangnya buat apa sebenarnya? apa yang Ibu bilang ke Mbak? Ibu diam, jangan bicara apa-apa," tanya Fia.
"Kata Ibu biaya sekolah kamu belum dibayar, Mbak udah ngasih beberapa waktu yang laku. Tapi, uangnya di pakai Ibu buat kebutuhan lain," ucap Afra.
"Astagfirullah, jadi selama ini Ibu bohongin Mbak Afra," ucap Fia.
"Bohongin maksudnya?" tanya Afra.
"Mbak, Fia itu dapat beasiswa dan Fia tidak perlu membayar uang sekolah lagi," ucap Fia.
Afra pun menatap Ibu Mila yang saat ini mengalihkan pandangan dari Afra, "Selama ini Ibu bohongin Afra. Bu, Afra udah capek-capek nyari sana sini nyari buat biaya sekolah Fia dan ternyata semua ini cuma akal-akalan Ibu," ucap Afra.
"Gak ikhlas kamu?" tanya Ibu Mila.
"Iya, Afra gak ikhlas. Ibu gak tau kan gimana Afra nyarinya susah payah, Bu. Terus buat apa uang itu? buat Ibu arisan iya?" tanya Afra.
"Kamu udah berani ya sama orangtua," ucap Ibu Mila.
"Kenapa? Ibu mau bilang Afra durhaka iya?" tanya Afra.
Afra langsung memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar, ia sedang tidak ingin bertemu dengan Ibu Mila. Sakit tentu saja sakit, selama ini Ibu Mila selalu menuntut Afra untuk membiayai sekolah Fia, namun nyatanya semua itu hanyalah tipu dari Ibu Mila.
Fia sendiri saat ini bersekolah di madrasah aliyah berbasis pondok pesantren di dekat rumahnya, Fia tidak masuk ke pondok pesantren dan hanya bersekolah di sana, Fia juga mendapat beasiswa dari ustadzahnya karena Fia adalah seorang penghafal Al-Qur'an dimana Fia sudah menghafal 5 juz.
Afra sendiri tidak tau mengenai beasiswa tersebut karena selama ini Ibu Mila yang sudah menipunya dan karena Afra tidak mau menjadi anak yang durhaka, Afra pun mengikuti apa saja yang dikatakan Ibu Mila dan kesalahan Afra adalah ia tidak menanyakan pada Fia terlebih dahulu mengenai biaya sekolahnya.
Fia sendiri juga tidak memberitahu Afra karena Ibu Mila mengatakan jika Afra sudah mengetahui mengenai beasiswanya, Fia tidak berpikir jika Ibunya akan membohongi Kakaknya.
Tak lama setelah itu, pintu kamar Afra diketuk dan suara Fia terdengar dari luar lalu Afra pun mempersilahkan Fia masuk, "Mbak, maafin Fia ya. Harusnya Fia dari awal bilang soal beasiswa yang Fia dapat," ucap Fia.
"Gapapa, Ibu pasti udah bohongin kamu juga kan?" tanya Afra dan diangguki Fia.
"Mbak," panggil Fia.
"Iya," jawab Afra.
"Kayaknya Fia mau mondok aja, Ustadzah Jihan nawarin Fia buat mondok biar hafalan Fia terjaga, Mbak gak perlu khawatir karena semua biaya sudah ditanggung sama beasiswa itu, tapi karena Fia memang maunya sekolah makanya Fia gak pakai beasiswa buat mondok nya dan setelah kejadian ini Fia jadi pengen mondok Mbak," ucap Fia.
"Mbak justru senang kalau kamu mau mondok, Dek. Mbak kan dari dulu juga pengennya kamu mondok," ucap Afra.
"Tapi, Ibu...," Ibu Mila memang tidak setuju jika Fi mondok, dengan alasan tidak ingin jauh dari anak-anaknya.
"Kamu gak usah khawatir soal Ibu, biar Mbak yang bicara sama Ibu," ucap Afra.
"Makasih ya Mbak," ucap Fia.
"Sama-sama, nanti kalau kamu udah mondok, kmu ambil semua ilmu yang baik-baik dan kamu gunakan di kehidupan sehari-hari kamu ya," ucap Afra.
.
.
.
Bersambung.....
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA SEMUANYA 🍒
Kalau kalian suka dengan cerita Author jangan lupa kasih LIKE, KOMENTAR, mau kasih HADIAH juga gapapa, VOTE juga boleh, jangan lupa juga buat kasih author bintang (⭐) di kolom komentar ya supaya author tambah semangat nulisnya dan bisa up bab setiap hari.
Follow juga akun instagram Author : @elaretaa
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!