Dante Salvatore, ketua mafia paling berbahaya di Italia, menemukan mayat seorang pengkhianat yang dibunuh dengan cara sadis dan tidak biasa.
"Siapa yang menemukannya?" Tanya Dante saat melihat seorang mayat penuh darah menggantung di langit-langit gedung tua itu.
"Salah satu anak buah kita." Ucap Luca, tangan kanan Dante.
Ia menemukan pesan misterius di mayat tersebut. Hanya bahasa Sanskerta yang berarti "penghianat", menunjukkan bahwa lelaki yang mati itu adalah penghianat.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Dante.
Luca menggeleng pelan. “Belum ada petunjuk jelas. Tidak ada saksi. Kamera pengawas di sekitar gedung ini juga sudah dirusak sebelum pembunuhan terjadi.”
Dante menyipitkan matanya, menatap mayat yang tergantung dengan leher hampir putus, tubuhnya penuh luka sayatan yang terlihat dilakukan dengan pisau kecil dan presisi. Ini bukan pekerjaan amatir. Ini eksekusi yang direncanakan dengan hati-hati.
Luca mendekat, menyodorkan secarik kertas yang ditemukan di genggaman korban. Kertas itu lusuh, tapi tulisan di atasnya masih jelas terbaca: "Darah dibalas darah."
Dante meremas kertas itu di tangannya. Bahasa Sanskerta. Sebuah pesan yang hanya orang tertentu yang bisa mengartikannya.
"Apa kita punya musuh yang menggunakan gaya seperti ini?" tanya Dante, nada suaranya tenang, tapi ada ancaman mengintai di baliknya.
Luca berpikir sejenak sebelum menjawab, "Tidak ada yang menggunakan Sanskerta... kecuali satu kelompok di Eropa Timur yang pernah berurusan dengan kita lima tahun lalu. Tapi mereka sudah dibasmi habis."
Dante menghela napas, matanya kembali tertuju pada tubuh tak bernyawa itu. "Lalu ini siapa?"
"Orang baru?" tawar Luca.
Atau... seseorang yang ingin mengalihkan perhatian.
Saat itu, salah satu anak buah Dante berlari masuk, wajahnya tegang.
"Tuan, kami menemukan sesuatu di luar gedung."
Dante dan Luca segera keluar. Di tembok belakang gedung, sebuah simbol besar terukir kasar di batu bata yang sudah tua—huruf V, dicat merah seperti darah.
"V?" Luca mengernyit. "Siapa yang memakai inisial ini?"
Dante memandangi simbol itu dengan ekspresi tak terbaca. Nama itu tidak familiar.
Luca mengamati simbol V yang tertulis di tembok, wajahnya penuh tanda tanya. “Ini bisa siapa saja, tapi aku tidak ingat ada musuh atau kelompok yang menggunakan inisial ini.”
Dante tetap diam, pikirannya berputar cepat. Ini bukan gaya pembunuhan biasa. Luka-luka itu terlalu bersih, terlalu terencana. Ini bukan pembunuhan karena emosi, tapi eksekusi.
“Tuan, kami memeriksa barang-barang korban,” salah satu anak buah mereka melapor. “Dompetnya masih ada, uangnya tidak diambil, tapi ada satu hal menarik.”
Luca mengambil barang yang diberikan anak buahnya—sebuah liontin kecil, sederhana, tetapi di belakangnya terukir nama Valeria.
Dante menyipitkan mata. “Valeria?”
Luca menggeleng. “Tidak ada catatan tentang nama ini dalam daftar musuh kita.”
“Cari tahu,” perintah Dante. “Cari semua orang dengan nama Valeria di kota ini. Aku ingin tahu siapa dia.”
Sementara itu, Valeria duduk di sebuah kafe kecil di Roma, menikmati secangkir kopi tanpa tahu bahwa namanya baru saja menjadi pusat perhatian salah satu mafia paling berbahaya di Italia.
Dia tidak menyesal membunuh pria itu. Dia sudah mengkhianatinya. Pria itu telah menjual informasi penting yang hampir membuat Valeria terbunuh. Dia tidak akan membiarkan pengkhianatan itu begitu saja.
Namun, dia tidak pernah menyangka bahwa mayatnya akan ditemukan oleh Dante Salvatore.
Dan kini, tanpa Valeria sadari, Dante sedang memburunya.
Malam itu, pesta gala diadakan di salah satu hotel paling mewah di Roma. Para tamu mengenakan pakaian terbaik mereka, menikmati alunan musik klasik dan anggur mahal. Lampu kristal berkilauan di langit-langit, sementara pelayan berlalu-lalang membawa nampan berisi sampanye.
Di antara keramaian itu, Valeria berdiri anggun dengan gaun hitam berbelahan tinggi, segelas anggur merah di tangannya. Matanya mengamati sekeliling dengan tenang. Dia tidak menyangka akan datang ke pesta ini, tapi undangan dari rekannya terlalu menarik untuk ditolak.
Yang tidak ia sadari, di sudut ruangan, Dante Salvatore sedang memperhatikannya.
Luca berdiri di samping Dante, mengangkat dagunya ke arah Valeria. “Itu dia.”
Dante tidak langsung bereaksi. Matanya mengamati wanita itu dengan penuh minat. Cantik. Elegan. Dan tidak terlihat seperti seorang pembunuh. Tapi dia tahu lebih baik daripada menilai seseorang hanya dari penampilan.
Dante menyesap anggurnya, lalu berbicara pelan, “Apa kita sudah mendapatkan informasi tentang dia?”
Luca mengangguk. “Namanya Valeria Moretti, pengusaha seni. Tidak ada catatan kriminal, tapi memiliki koneksi dengan orang-orang yang cukup berbahaya. Dan yang menarik, tidak ada bukti bahwa dia mengenal korban yang kita temukan.”
Dante tersenyum tipis. “Tapi namanya ada di liontin pria itu.”
“Ya, itu yang jadi misteri.”
Dante menaruh gelasnya di meja dan melangkah santai ke arah Valeria. Luca hanya menghela napas dan membiarkan bosnya melakukan apa yang diinginkannya.
Ketika Dante mendekat, Valeria baru menyadari kehadirannya. Matanya bertemu dengan mata Dante—tatapan tajam penuh kekuasaan.
Dia tidak mengenal pria ini. Tapi, entah kenapa, ada sesuatu tentangnya yang membuat perutnya sedikit bergejolak.
Dante tersenyum tipis dan mengulurkan tangan. “Bolehkah aku menemani Anda minum malam ini, Signorina?”
Valeria menatapnya dengan hati-hati, sebelum akhirnya menganggukkan kepala. “Tentu. Dan Anda siapa?”
Dante tersenyum lebih lebar. “Dante Salvatore.”
Valeria merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Dia pernah mendengar nama itu. Tapi kenapa seorang pria seperti dia ingin bicara dengannya?
Tanpa sadar, malam itu menjadi awal dari permainan yang jauh lebih berbahaya dari yang Valeria bayangkan.
Roma
Valeria tetap tenang, meskipun namanya Dante Salvatore membuat dadanya terasa sedikit sesak. Nama itu bukan nama biasa. Seorang mafia, salah satu yang paling berbahaya di Italia.
Tapi mengapa dia ingin berbicara dengannya?
Dia menyembunyikan kegelisahannya di balik senyum anggun. “Dante Salvatore?” Ia menyesap anggurnya perlahan. “Nama yang menarik. Tapi aku rasa kita belum pernah bertemu sebelumnya.”
Dante mengangkat alis, seolah menantang. “Belum. Tapi mungkin kita memang seharusnya bertemu.”
Valeria tertawa kecil. “Begitukah?”
Dante mengangguk. “Katakan padaku, Valeria Moretti...” Ia sengaja menyebut namanya, ingin melihat reaksi wanita itu. “Apa bisnis seni yang kau jalani sering membuatmu berada di sekitar orang-orang yang... berbahaya?”
Seketika, Valeria merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya. Jadi ini bukan kebetulan. Dante memang mencarinya.
Namun, dia tidak bisa menunjukkan kegugupan.
Dia tersenyum lebih lebar, matanya berbinar penuh percaya diri. “Bisnis seni terkadang memiliki pelanggan yang unik. Tapi aku lebih tertarik pada seni daripada orang-orangnya.”
Dante mendekat sedikit, membiarkan aromanya yang khas menyelimuti Valeria. “Menarik. Karena aku menemukan sesuatu yang berhubungan dengan namamu beberapa hari yang lalu.”
Valeria tetap tersenyum, meskipun dalam hatinya, ia tahu bahaya sedang mengintainya.
"Benarkah? Dan apa yang kau temukan?" tanyanya dengan nada main-main.
Dante menatap dalam ke matanya, lalu tersenyum tipis. “Sebuah liontin... dengan namamu terukir di belakangnya.”
Sekarang, Valeria tahu pasti ini bukan hanya pertemuan kebetulan.
Valeria adalah seorang psikopat yang senang membunuh dan memainkan pikirannya terhadap korbannya.
Ketika mereka bertemu, Dante langsung terpikat pada Valeria—bukan karena kecantikannya, tapi karena kegilaan yang ia lihat di matanya.
Valeria tidak menunjukkan reaksi berlebihan saat mendengar kata-kata Dante. Sebuah liontin dengan namanya? Itu menarik, tapi bukan sesuatu yang membuatnya gentar.
Sebaliknya, dia menyesap anggurnya dengan tenang, lalu menatap Dante dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Aku tidak ingat pernah memiliki liontin seperti itu,” katanya, suaranya lembut namun mengandung tantangan halus. “Mungkin seseorang ingin bermain denganmu, Tuan Salvatore.”
Dante tersenyum samar. Dia bukan pria yang mudah dipermainkan, tapi sesuatu dalam tatapan Valeria membuatnya merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan—rasa penasaran.
Matanya.
Mata Valeria tidak seperti kebanyakan wanita yang pernah ia temui. Mereka bukan mata seseorang yang ketakutan, bukan pula mata seseorang yang polos. Ada sesuatu yang gelap di dalamnya, sesuatu yang liar dan penuh perhitungan.
Dante tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa tertarik.
Bukan karena kecantikannya—meskipun Valeria memang cantik. Bukan karena caranya berbicara—meskipun suaranya memiliki nada yang hampir hipnotis. Tapi karena dia melihat sesuatu di balik mata itu.
Kegilaan.
Sama seperti yang ada dalam dirinya.
Dia mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Jadi menurutmu ini hanya permainan?” tanyanya, suaranya rendah, hampir terdengar seperti bisikan.
Valeria menyandarkan tubuhnya ke meja, mempersempit jarak di antara mereka. “Segalanya adalah permainan, Dante,” katanya, sudut bibirnya melengkung dalam senyum penuh arti. “Tinggal siapa yang menang dan siapa yang kalah.”
Dante terkekeh kecil. “Dan kau selalu menang?”
Valeria tidak langsung menjawab. Dia mengangkat bahu, seolah itu bukan sesuatu yang penting. Tapi matanya berbicara lebih banyak dari kata-katanya. Dia tidak pernah kalah.
Atau setidaknya, dia belum pernah menemukan lawan yang sepadan.
Dante tahu saat itu juga—dia menginginkan wanita ini.
Bukan untuk mencintainya.
Bukan untuk memilikinya.
Tapi untuk memahami kegilaan yang tersembunyi di balik senyumannya.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia bertemu seseorang yang mungkin sama gilanya dengan dirinya.
Dante memandangi Valeria seolah sedang menelanjangi pikirannya. Namun, Valeria hanya tersenyum, menikmati perhatian itu. Dia tahu tatapan seperti ini. Tatapan seseorang yang mencoba memahami apa yang tersembunyi di balik ketenangannya.
Tapi Dante bukan pria biasa.
Dan itu membuatnya semakin menarik.
“Kalau semuanya adalah permainan,” kata Dante pelan, “apa kau sudah menemukan seseorang yang cukup menarik untuk diajak bermain?”
Valeria tersenyum kecil. “Belum ada yang cukup menantang.”
Dante tertawa kecil. “Mungkin kau hanya belum bertemu lawan yang sepadan.”
Mata mereka bertemu lagi, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Valeria merasa ada sedikit percikan antusiasme di dalam dirinya. Dante berbeda.
Bukan karena statusnya sebagai mafia.
Bukan karena kekuasaannya.
Tapi karena dia tidak takut padanya.
Kebanyakan pria akan merasa gelisah di dekatnya, meskipun mereka tidak tahu kenapa. Valeria selalu bisa merasakan ketakutan samar dalam tatapan mereka, dalam nada suara mereka.
Tapi Dante?
Dia menikmati ini.
Seolah dia bisa melihat sesuatu dalam dirinya yang orang lain tidak bisa.
Valeria menyesap anggurnya perlahan, lalu menatap Dante dengan tatapan yang lebih dalam. “Jadi, Tuan Salvatore... apa tujuanmu sebenarnya berbicara denganku?”
Dante menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatapnya dengan tatapan penuh ketertarikan. “Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu.”
Valeria tertawa pelan. “Dan apa yang membuatmu berpikir aku akan membiarkanmu tahu?”
Dante tersenyum. “Karena aku juga suka bermain, Valeria.”
Valeria menyukai tantangan. Dan itu hanya membuatnya semakin tertarik.
Setelah pesta usai, Valeria melangkah masuk ke apartemennya yang mewah di pusat kota. Ia melepaskan gaun hitamnya, membiarkannya jatuh ke lantai sebelum mengenakan jubah satin dan menyalakan sebatang rokok.
Matanya menatap bayangannya sendiri di cermin besar di depan tempat tidur. Dante Salvatore.
Nama itu terus berputar di kepalanya.
Bukan hanya karena siapa dia—seorang mafia yang ditakuti—tapi karena bagaimana dia melihatnya.
Dante tidak takut.
Bahkan lebih dari itu, dia tampak tertarik.
Valeria tersenyum tipis, mengembuskan asap rokoknya ke udara. “Kau menyenangkan, Dante,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Tapi seberapa jauh kau bisa bermain?”
Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Kau cantik malam ini.”
Valeria mengangkat alis, lalu tersenyum. Dante.
Dia tidak terkejut. Pria seperti Dante tidak akan membiarkan seseorang yang menarik perhatiannya begitu saja.
Jari-jarinya mengetik balasan.
“Kau juga tidak buruk.”
Hanya butuh beberapa detik sebelum balasan datang.
“Aku ingin tahu bagaimana wajahmu saat kau memb*nuh seseorang.”
Jantung Valeria berdebar. Bukan karena takut—tapi karena antisipasi.
Tidak ada basa-basi. Tidak ada kepura-puraan. Dante tahu sesuatu.
Dan itu membuatnya semakin menarik.
Valeria menyesap rokoknya sekali lagi, lalu mengetik balasan yang sederhana.
“Mungkin suatu hari nanti kau akan melihatnya sendiri.”
Lalu dia mematikan ponselnya, melemparkannya ke atas meja, dan membiarkan senyumnya semakin melebar.
Permainan baru saja dimulai.
---
Di tempat lain, Dante duduk di ruang kerjanya, memandangi ponselnya dengan ekspresi penuh minat. Dia tidak salah menilai wanita itu.
Valeria bukan wanita biasa.
Dia berbahaya. Gelap. Tak terduga.
Dan itu membuat Dante semakin ingin memilikinya.
---
Udara di dalam ruangan dingin dan berbau logam. Lampu gantung berkelap-kelip redup, menerangi sosok Valeria yang duduk di kursi dengan tangan terikat di belakang punggungnya.
Di sekelilingnya, beberapa anak buah Dante berjaga. Mereka mengira wanita itu akan panik, berteriak, atau setidaknya menunjukkan sedikit ketakutan.
Tapi Valeria hanya tersenyum.
Matanya penuh antisipasi, seperti seorang anak kecil yang baru saja menemukan permainan baru.
Pintu besar di ujung ruangan terbuka. Langkah berat bergema di lantai beton, disusul oleh suara yang dalam dan dingin.
“Kudengar kau suka permainan, Valeria.”
Dante.
Dia berjalan mendekat, menatapnya dengan ketertarikan yang lebih dalam dari sebelumnya.
“Apa ini caramu menguji nyaliku, Dante?” Valeria bertanya santai, seolah tidak peduli dengan posisinya yang ‘tertangkap’. “Kalau begitu, kau harus mencoba lebih keras.”
Dante terkekeh kecil. Tidak ada ketakutan. Tidak ada kepanikan.
Hanya gairah terhadap permainan ini.
Dia berlutut di depan Valeria, mengangkat dagunya dengan ujung jarinya. “Biasanya orang yang duduk di kursi ini menangis, memohon, atau setidaknya mengutukku.”
Valeria mencondongkan tubuh sedikit ke depan, membiarkan napasnya hampir menyentuh wajah Dante. “Kau pikir aku seperti mereka?”
Dante tersenyum. “Tidak. Itu yang membuatmu menarik.”
Tanpa peringatan, Valeria menggigit bibir bawahnya sedikit, matanya berbinar penuh kenikmatan. “Lalu, apa selanjutnya? Kau akan mengancamku? Menyakitiku? Membunuhku?”
Dante mengamati ekspresi wajahnya. Tidak ada ketakutan. Tidak ada rasa terancam.
Dia benar-benar menikmati ini.
Dan entah kenapa, itu membuat Dante semakin tertarik.
Tapi sebelum dia bisa berkata lebih jauh, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, Valeria melompat dari kursinya—tali yang mengikat tangannya ternyata sudah dia lepaskan.
Dalam hitungan detik, dia menarik pisau dari pinggang salah satu anak buah Dante dan men*kamnya tepat di tenggorokan.
Darah menyembur. Pria itu mengerang, lalu jatuh ke lantai, tubuhnya bergetar sebelum akhirnya diam tak bergerak.
Ruangan menjadi hening.
Anak buah Dante yang lain langsung mengangkat senjata mereka, siap menembak.
Tapi Dante mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk mundur.
Dia menatap Valeria yang berdiri di sana dengan senyum menggoda, darah mengotori gaun satin yang masih ia kenakan.
Dia tidak melarikan diri. Tidak mencari jalan keluar.
Sebaliknya, dia menatap Dante dengan penuh tantangan.
Seolah dia baru saja memberinya hadiah.
Dante mendekat, memandang tubuh tak bernyawa yang tergeletak di lantai, lalu kembali menatap Valeria.
Alih-alih marah, dia justru tertawa kecil.
“Seharusnya aku marah, tapi entah kenapa, aku justru semakin menyukaimu.”
Valeria menyeringai. “Aku hanya ingin melihat reaksimu.”
Dante mendekat lagi, kali ini hampir menempel padanya. Tangannya terangkat, menyentuh wajah Valeria dengan kelembutan yang bertolak belakang dengan situasi di sekitar mereka.
“Aku tidak tahu siapa yang lebih gila di antara kita,” gumamnya.
Valeria tertawa pelan, lalu berbisik, “Mungkin kita harus mencari tahu bersama.”
Mata mereka bertemu, dan di dalam kegelapan, dua jiwa yang sama gilanya saling menemukan satu sama lain.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!