Pagi ini terasa dingin dari hari biasanya, semua orang sampai enggan meninggalkan pembaringan.
Tapi tidak untuk seorang gadis kecil yang berusia 8 tahun, pagi yang begitu dingin ini tidak menyurutkannya untuk mengambil daun pisang untuk dagangannya di kebun kecil milik peninggalan sang nenek.
Gadis kecil ini hanya hidup sendiri setelah sang nenek meninggal satu tahun lalu, gadis kecil itu bernama Maharani Qirani.
Maharani Qirani biasa di panggil Rani, Rani sedari bayi hanya tinggal dengan sang nenek yang lebih tepatnya bukan nenek kandung.
Wanita yang di panggil nenek oleh rani adalah seorang pembantu dari kedua orang tuan kandung Rani.
Rani di buang kedua orang tuanya karena orang tuanya hanya ingin seorang putra bukan putri.
Saat sang ayah tau yang lahir bukanlah seorang putra ia sangat marah, begitu juga ibunya yang sangat kecewa bahkan sang ibu tidak mau menyusui putrinya dari lahir dan tidak mau melihat wajah sang putri.
Karena ibunya berpikir akibat kelahiran putrinya ia akan kehilangan suami serta kenyamanan yang ia miliki saat ini.
Jadi setelah sampai di rumah ia menyuruh sang pembantu untuk membuang putrinya di manapun.
Bibi pembantu yang saat itu melihat kecantikan sang anak sang majikan pun sangat tersentuh dan memiliki pesanan kasihan dan sedih.
Ia pun setuju untuk membuang anak majikan tapi ia juga mengajukan berhenti kerja dengan alasan jika dia sudah tidak sanggup bekerja karena sakit.
Sang majikan pun menyetujui dan memberikan gaji dan membayar bibi karena mau membuang bayi itu.
Setelah selesai bebenah dan pamit pergi, bibi pun pergi dari rumah mewah itu.
Bukanya membuang bayi malang itu, bibi justru membawanya pergi jauh dari kota menuju desa pegunungan.
Bibi tidak tega membuang bayi itu, ia pun berniat membesarkan bayi itu dengan tangannya sendiri, jadi bibi pergi ke desa yang tidak ada yang mengenalnya.
Bayi itu di beri nama Maharani Qirani, bibi memberi nama itu berharap Rani kelak menjadi ratu yang bercahaya.
Rani tumbuh dalam asuhan bibi selama 7 tahun karena setelah itu bibi meninggal karena sakit dan saat ini Rani tinggal sendirian di rumah kecil peninggalan bibi yang menjadi neneknya.
Rani anak yang sangat cantik, ceria dan juga sangat pintar, karena ia saat ini tinggal sendirian ia harus mencari uang untuk biaya sekolah dan hidupnya sehari hari, dengan cara menjual makanan yang dia buat sendiri.
Semasa hidupnya bersama sang nenek ia selalu di ajarkan banyak hal untuk bekalnya di masa depan.
Karena kepintarannya juga ia mendapatkan beasiswa selama sekolah. Jadi uang yang dia dapatkan dari hasil jualannya cukup untuk keperluannya.
Sebenarnya sebelum meninggal sang nenek sudah memberi tau siapa dirinya yang sebenarnya, awalnya ia sangat terkejut dan juga sedih tapi setelah itu ia sudah mengambil keputusan jika ia tidak akan pernah mau kembali kepada orang tuanya apapun yang terjadi.
Karena itu iya memilih tetap di kampung yang jauh dan menghidupi dirinya sendiri.
Seperti sekarang ini Rani sedang mengambil hasil kebun kecil yang ada di sebelah rumah untuk bahan jualannya.
"Rani hari ini jualan gak nak?" Tanya ibu RT disana yang lewat di depan rumah Rani.
"Jualan bu, ini tinggal ambil daun pisang lalu semua selesai, apa ibu mau beli?" Tanya Rani
"Iya itu bapak sama ido mau minta beliin nasi kuning di kamu untuk bekal" jawab ibu RT
"Baik bu, apa mau beli sekarang bu?" Tanya Rani
"Kalau bisa iya mau sekarang, ini tempatnya sudah ibu bawa" jawab ibu RT
"Baik bu... ayo masuk dulu bu kedalam Rani belum sempat menata di depan" jawab Rani kecil
"Yaudah ayo... Kamu bangun jam berapa Rani sudah matang saja dagangannya?" Tanya Bu RT
"Dari jam 3 bu, kan pulang sekolah kemarin Rani cicil kerajaan jadi gak begitu repot" jawab Rani ramah.
Ibu RT yang melihat Rani ceria bagaikan tidak ada beban pun sangat kagum, gadis kecil yang tinggal sendirian begitu mandiri. Rani bersikap dewasa disaat belum waktunya.
Anak anak lagi sibuk bermain sebelum sekolah, tapi Rani sibuk memasak dan jualan setiap hari.
Untuk saja para tetangga di kampung itu semua sangat baik dengan Rani. mereka selalu membeli dagangan Rani dan menjaga Rani tanpa di ketahui Rani.
"Bu mana tempatnya, Rani isi dulu" ujar Rani yang melihat ibu RT melamun
Ibu RT yang mendengar suara Rani pun tersentak, "Iya ini Ran, ibu beli yang sepuluh ribuannya 3, sama gorengan itu juga 10 ribu" jawab ibu RT
"Baik bu" jawab Rani sembari memasukan semua pesanan ibu RT.
Rani melayani dengan sangat cekatan, walau masih kecil tapi masakannya sangat enak. Semua ibu ibu pun kagum dengan Rani masakannya sangat sama persis masakan neneknya.
Tidak lama kemudian Rani pun selesai menyiapkan pesanan bu RT, "ibu ini sudah selesai semuanya empat puluh ribu ya bu"
"Iya ini uangnya pas ya" jawab ibu RT
"Terima kasih bu udah jadi pembeli pertama Rani" jawab Rani
"iya sama sama ibu pulang dulu ya" jawab ibu RT lalu pulang.
Belum sempat Rani beranjak banyak yang berdatangan untuk membeli lagi dagangan Rani.
Pukul 9 pagi semua sudah habis, Rani merasa sangat bersyukur dan bahagia.
"Alhamdulillah semua habis, ayo Rani semangat bersih bersih lalu istirahat sebentar lalu siap sekolah" ujar Rani pada dirinya sendiri.
Lalu ia pun mulai membersihkan semua tempat tempat kue tadi.
...****************...
Siang harinya
Rani sudah bersiap pergi sekolah dan mengunci semua pintu rumah dan jendela.
"Rani... Ayo berangkat bersama" ujar seorang anak perempuan bersama teman laki lakinya yang berdiri di depan jalan rumah Rani
"Bila, Egi... Kalian belum berangkat juga, Ayo berangkat" jawab Rani lalu ia berangkat sekolah bertiga.
Disepanjang jalan menuju sekolah mereka banyak bercerita dan bercanda.
Hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah.
"Wah lihatlah anak miskin sekolah, ngapain sekolah jualan saja sana nanti gak bisa makan lagi kalau gak jualan hahaha" ejek salah satu anak di sekolah itu, ia dari kampung sebelah yang bersekolah di sana
"He Dila jaga bica kamu gak sopan... Apa salahnya jualan berati dia bisa cari uang sendiri gak kayak kamu yang bisanya minta orang tua" ujar Bila kesal
"Iya kamu ini sehari gak ganggu Rani gak bisa apa, semakin kamu ganggu Rani semakin nunjukin kalau kamu itu iri dengan Rani. Kamu itu masih kecil gak pantas begitu kita semua teman" ujar Egi
Mendengar ucapan Egi Dila melihat Rani dengan sinis dan berkata kasar.
Bersambung
"He Dila jaga bica kamu gak sopan... Apa salahnya jualan berati dia bisa cari uang sendiri gak kayak kamu yang bisanya minta orang tua" ujar Bila kesal
"Iya kamu ini sehari gak ganggu Rani gak bisa apa, semakin kamu ganggu Rani semakin nunjukin kalau kamu itu iri dengan Rani. Kamu itu masih kecil gak pantas begitu kita semua teman" ujar Egi
Mendengar ucapan Egi Dila melihat Rani dengan sinis dan berkata kasar.
"Iri... Sorry ya gak level apa lagi jadi temanya, dan kalian ngapain mau jadi teman anak miskin itu, nanti ketularan miskin lo, apa lagi dia gak punya orang tua ih ngeri" jawab Dila lalu pergi
"Sudah jangan ladeni Dila, biarkan saja dia mau bicara apa, ayo masuk bentar lagi bel sekolah berbunyi" ujar Rani
"Kamu kok diam saja si Rani di hina Dila, dia itu sudah kurang ajar" kesal Bila
"Biarkan saja jika di ladeni nanti gak selesai selesai, aku mau kesekolahan untuk belajar bukan berantem" jawab Rani
"Yaudah ayo kita masuk kekelas, Fajar sudah nunggu kita di kelas" ujar Egi
lalu mereka pun masuk kekelas.
*
*
*
Hari hari terus berlalu kegiatan Rani masih seperti biasa berjualan dan juga sekolah.
Karena hari ini hari Sabtu Rani tidak ada kegiatan sekolah, jadi setelah selesai jualan ia pun pergi menuju pasar untuk membeli bahan yang sudah habis.
Di sepanjang perjalanan ia banyak di sapa oleh orang orang yang mengenalnya.
Sesampainya di pasar Rani pun mulai berbelanja untuk bahan masakannya untuk selama seminggu.
Setelah selesai belaja Rani pulang menggunakan becak yang ia pesan untuk mengantar nya pulang.
Sesampainya dirumah Rani pun mulai menyusun semua belanjaannya.
Setelah itu Rani mulai membuat beberapa makanan untuk jualan esok paginya.
Karena terlalu sibuk sampai rani tidak sadar jika hari sudah semakin gelap.
"Eh sudah magrib aja, perasaan baru sebentar buat kuenya" ujar Rani sembari melihat kue yang ia buat saat ia melihat betapa kagetnya jika ia sudah menyelesaikan semua kue buatannya dan hanya tinggal di masak esok paginya.
"Alhamdulillah semua sudah selesai" ujar Rani senang lalu membereskan semuanya.
Setelah beres Rani pun membersikan tubuhnya lalu pergi istirahat.
Tapi baru saja ia akan tidur terdengar ketukan di pintu belakang rumahnya, tapi karena takut ia pun hanya mendiamkannya saja sampai ketukan itu berhenti.
Pagi harinya seperti biasa Rani bangun sangat pagi untuk memasak dagangannya, karena keasikan memasak Rani sampai tidak sadar jika hari sudah mulai terang walau masih remang remang.
"Eh sudah hampir terang, aku ambil daun dulu untuk alas" ujar Rani lalu membuka pintu belakang.
Saat pintu terbuka tiba tiba terlihat seseorang yang penuh luka terjatuh akibat pintu di buka.
"Ahhhhh..!" Seru Ranita terkejut.
"S... Sisss...siapa ini, kenapa tubuhnya penuh luka?" Bingung Rani melihat orang itu.
Karena khawatir dan kasihan Rani pun mendekati orang itu secara perlahan.
"Tuan... Tuan apa anda bisa mendengar ku, apa anda bisa bangun?" Tanya Rani
"To...long... To... Lo... Ng!" Seru pelan pria itu
"Iya tuan akan saya tolong tapi saya akan memanggil orang dulu untuk membantu tuan" jawab Rani pelan
"Ja... Ngan... Pa... Ng... Gil" ujar pria itu terbata
"kenapa tuan, saya tidak kuat membawa anda. Saya hanya tinggal sendirian" jawab Rani bingung
"Tapi coba ayo berdiri tuan saya bantu" ujar Rani lagi.
Lalu Rani pun membantu pria itu secara perlahan, sedangkan pria itu yang masih memiliki tenaga sedikit juga berusaha bangun di bantu Rani.
Rani membawa pria itu kekamar almarhum sang nenek, sesampainya di kamar Rani membaringkan pria itu secara perlahan.
Dengan berani Rani membuka baju pakaian pria tu hingga tersisa celana pendek pria itu lalu Rani mengambilkan selimut untuk pria itu.
"Tuan anda tunggu di sini saya akan ambil air dan juga obat" ujar Rania lalu ia memasak air untuk membuat obat dan juga membersihkan tubuh pria itu.
Tidak lama Rani datang membawa baskom untuk membersihkan tubuh pria itu.
Dengan perlahan Rania membersihkan semua darah yang ada di tubuh pria itu.
Luka luka di tubuhnya di bersihkan oleh Rani dan memberikan air pembersih luka agar tidak infeksi.
Setelah semua bersih Rani memberikan obat antiseptik di setiap luka pria itu.
"Tuan anda tunggu sebentar ya saya buatkan obat dulu" ujar Rani lalu pergi kedapur
Rani membuat obat tradisional yang ia pelajari dari seseorang, setelah mengolah obat obatan itu Rani menyaringnya, setelah selesai Rania juga menyiapkan makanan untuk pria itu.
"Tuan apa anda bisa duduk sebentar saya bawakan obat dan juga makanan" tanya Rani Dan pria itu pun mengangguk lemah.
Rani pun membantu pria itu duduk dan memberikan air minum pada pria itu setelah nya menyuapi makanan pada pria itu.
Pria itu sepertinya sangat lapar karena makanan yang di berikan Rani habis tak bersisa membuat Rani tersenyum lucu.
"Tuan anda ternyata lemas karena lapar ya, Karena sepertinya anda sangat kuat menahan luka di tubuh anda, anda sangat hebat" ujar Rania sembari tersenyum, Pria itu pun tersenyum kecil.
"Sekarang tuan minum obat ini dulu ya, Rani gak punya obat lain di rumah sedangkan tuan gak mau kerumah sakit, jadi Rani hanya tau obat ini tapi insyaallah bisa membantu tuan " ujar Rani dengan sungguh sungguh.
Pria itu memandang Rani lalu obat hitam yang sepertinya sangat mengerikan itu.
Iya sangat ragu menelan obat itu tapi melihat kesungguhan dan kepedulian Rani pria itu puntidak tega menolak jadi dengan perlahan ia pun meminum obat itu sampai habis.
"Pahit" ujar pria itu pelan
"Hehehe tentu pahit tuan namanya juga obat, ini makan permen jahe ini agar tidak terasa pahit. Lebih baik tuan istirahat dulu ya Rani mau jualan dulu di depan rumah, pasti sudah banyak yang menunggu" ujar Rani
Mendengar itu... dalam hati pria itu sangat banyak yang ingin di tanyakan pada Rani tapi pria itu belum kuat karena menahan sakit semalaman.
Jadi pria itu hanya bisa mengangguk saja dengan setuju.
Rani pun pergi dengan senyumnya lalu menuju dapur dan mulai mengeluarkan semua dagangannya.
Baru saja Rani keluar sudah banyak orang yang datang, "Rani kok tumben jam segini baru keluar apa kamu sakit?" Tanya tetangganya
"Tidak bu Rani hanya kesiangan saja, jadi mau beli apa bu?" Ujar Rani ramah lalu mulai membuka semua yang ia jual pagi ini.
"Semuanya terlihat sangat enak Rani, aku sampai bingung mau beli yang Nana" ujar salah satu teman Rani
Bersambung
Baru saja Rani keluar sudah banyak orang yang datang, "Rani kok tumben jam segini baru keluar apa kamu sakit?" Tanya tetangganya
"Tidak bu Rani hanya kesiangan saja, jadi mau beli apa bu?" Ujar Rani ramah lalu mulai membuka semua yang ia jual pagi ini.
"Semuanya terlihat sangat enak Rani, aku sampai bingung mau beli yang Nana" ujar salah satu teman Rani
"Hehehe kalau gitu beli semua saja " jawab Rani dengan bercanda.
"Is kamu ini bikin aku galau" ujar temanya
"Lalu ibu mau yang mana?" tanya Rani lagi
"Ibu beli nasi kuningnya 3 sama gorengannya 15 ribu ya" ujar ibu itu
"Biak bu, tunggu sebentar ya" jawab Rani lalu mulai menyiapkan pesanan ibu tadi.
Tidak terasa semua dagangannya sudah habis hanya tersisa tiga gorengan saja.
Saat itu Rani melihat anak kecil yang menandanginya Rania pun tersenyum lalu mengambil goreng yang tersisa.
" Apa kamu mau ini dek, kalau mau boleh ambil ini tapi maaf ya hanya sedikit"
"Beneran kak ini untuk Lilo" tanya anak kecil itu
"Iya bener, ni ambil saja gak usah bayar besok jika kamu mau lagi datang kemari ya akan kakak kasih lebih" ujar Rani kasihan melihat anak kecil itu
Mendengar ucapan Rani anak itu sangat terharu, ia hampir menangis jika tidak ingat malu.
"Terima kasih kak, terima kasih banyak semoga kakak selalu di berikan rezeki yang banyak dan sehat selalu" doa anak itu lalu pamit pulang menemui adiknya yang sedang kelaparan di rumah.
Rani yang melihat anak itu lari pun khawatir jika jatuh.
Setelah anak itu tidak terlihat lagi Rani pun membereskan semua dagangannya lalu masuk rumah dan membersikannya.
Setelah semua selesai, Rani memasak untuk dirinya dan pria tadi pagi.
Setelah semua matang Rani pun membawa makanan itu kekamar bersama obat lagi.
Rani melihat pria itu sudah bangun pun tersenyum, "Tuan ayo kita makan siang dulu lalu minum obat"
Mendengar kata obat wajah pria itu sangat pucat takut pahit.
"Hehehe... tenang ada permen jahe ini agar tidak pahit" ujar Rani yang tau jika pria itu tidak kuat minum obat pahit.
Setelah itu Rani menyuapi pria itu lagi dan seperti tadi makanannya habis tak tersisa.
Lalu Rani memberi obat lagi dan memberi permen.
"Alhamdulillah selesai, bagaimana tuan apa masih ada yang sakit, jika perlu ke puskesmas saya ayo Rani bawa kesana" ujar Rani
"Tidak perlu saya sudah merasa lebih baik dengan obat pemberian kamu walau sangat pahit" jawab pria itu
"Baiklah jika begitu, oh iya apa tuan tidak menghubungi keluarga tuan pasti mereka khawatir, jika di lihat tuan bukan orang sini pasti dari kota" jawab Rani
"Nanti saja batrai hp saya habis dan tidak ada charger" jawab pria itu
"Oh begitu tapi maaf tuan saya tidak bisa bantu soal itu karena Rani gak punya hp bagaimana mau punya charger hehehe atau mau Rani bantu charger di warnet" jawab Rani
"iya tapi nanti saja, saya gak mau membuat keluarga saya khawatir" jawab pria itu
"Baiklah tuan" jawab Rani lagi.
...****************...
Hari hari berlalu begitu cepat tidak terasa sudah satu bulan pria itu berada di rumah Rani.
Keadaannya pun sudah baik baik saja, Rani mengurus pria itu sangat baik hingga pria itu sembuh total.
Belum lagi obat yang di berikan Rani benar benar berkhasiat sangat bagus untuk kesembuhan pria itu.
Sudah seminggu ini pria itu merasakan sembuh total dan baru seminggu ini ia bisa melihat bagaimana kehidupan Rani yang sesungguhnya.
Rani yang hidup sendiri dan berjuang hidup untuk dirinya sendiri, pria itu sangat sedih dan juga kagum dengan Rani.
Ia baru percaya jika Rani lah yang memasak setiap hari untuknya dan untuk dagangannya.
Saat ini pria itu sedang berdiri di dekat jendela kamar untuk melihat kegiatan Rani yang berjualan di depan rumahnya.
Ia tersenyum haru melihat Rani, tidak lama tersara getaran notifikasi dari handphone miliknya. Iya baru semalam hp miliknya di charger dan penuh.
"Halo" jawab pria itu
"Tuan... ini anda tuan Daris Abimanyu?" tanya orang di sana penuh harap
"Iya ini aku, juli apa kau lupa dengan suaraku?" Tanya tuan Daris
"Maaf tuan... tuan apa anda baik baik saja, bagaimana keadaan anda tuan" tanya juli sang asisten
"Aku baik baik saja, Juli apa kepintaran orang orang kita tidak ada kemajuan hingga tidak bisa menemukanku" marah tuan Daris
"Maaf tuan kami memang salah kami baru mendapatkan titik anda satu minggu yang lalu, kami juga baru selesai menangkap pelaku kecelakaan tuan dan mereka semua sudah di markas kita" jawab juli
"Lalu bagaimana dengan keluarga ku?" Tanya tuan Daris
"Semua baik baik saja tuan, walau nyonya tidak percaya jika anda kehilangan signal dalam perjalanan bisnis. Putra putra anda juga semakin curiga pada kami, tuan kami akan menjemput anda sore ini karena perusahaan sangat membutuhkan anda, hilangnya anda banyak yang mulai berulah" jawab juli lagi
Mendengar itu tuan Daris terdiam lalu memandangi Rani.
"Baik aku akan kirim lokasinya dan jangan mencolok bawa mobil biasa saja dan suruh orang orang kita untuk memantau dari jauh saja" jawab tuan Daris.
"Baik tuan saya mengerti" jawab juli lalu panggilan pun selesai.
Tuan Daris terus memandangi Rani, lalu mengirim pesan pada Juli lagi jika ia meminta dua bodyguard untuk menjaga seseorang selama dia pulang.
Tidak lama Rani pun masuk rumah karena semua dagangannya sudah habis.
"Tuan apa anda butuh sesuatu?" Tanya Rani yang melihat Daris datang mendekati Rani
"Tidak ada tapi ada yang mau aku bicarakan padamu, mari duduk disana" ajak tuan Daris
"Baiklah" jawab Rani
Setelah itu mereka pun duduk di sana.
"Rani aku ingin mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan mu selama ini yang sudah merawat ku dengan baik. Kamu sangat luar biasa nak" ujar Yuan Daris
"Rani karena aku sudah sembuh maka hari ini aku akan pulang, apa Rani mau ikut dengan ku?" Ujar tuan Daris penuh harap
Rani memandang tuan dari dengan lekat, "Rani tidak bisa meninggalkan rumah ini begitu saja, Rani dari baru lahir tinggal di sini bersama nenek. Rani juga sekolah disini" jawab Rani
"kalau tuan mau pulang tidak apa apa kasihan keluarga tuan pasti menunggu tuan disana. Rani akan tetap disini" jawab Rani lagi
Tuan Daris yang mendengar itu sangat sedih jika harus meninggalkan Rani sendirian, tapi ia juga tidak bisa memaksa Rani
Bersambung
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!