NovelToon NovelToon

Terjebak Diantara Cinta Dan Dendam

Bab 1 : TDCDD

...Happy Reading...

...***********...

Mobil sport berwarna merah berhenti tepat di halaman sebuah mansion mewah. Beberapa pelayan sudah berdiri berjejer diteras rumah untuk menyambut. Nampak seorang pria berperawakan tinggi, memiliki hidung mancung dan rahang tegas turun dari dalam mobil. Tubuhnya yang gagah dan atletis dibalut dengan kaos berwarna putih dan jaket kulit berwarna hitam semakin menambah pesonanya.

Dia adalah Finn Edison, pria berusia 29 tahun itu baru saja menginjakkan kembali kakinya di tanah kelahirannya setelah hampir dua puluh satu tahun lamanya bersembunyi di Perancis. Alasan Finn kembali adalah untuk membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuanya dimasa lalu. Bertahun-tahun Finn menunggu saat ini tiba, dia akan membuat orang-orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya merasakan ganjaran yang sama.

Finn sudah menjadi anak yatim-piatu sejak berusia 8 tahun, dia diangkat anak oleh seorang konglomerat bernama Mark Edison. Saat itu Tuan Mark menyelamatkan Finn dari kejaran para penjahat yang hendak membunuhnya. Menyadari nyawa Finn terancam, Tuan Mark dan istrinya membawa Finn keluar negeri dan menetap disana, mereka juga menutup rapat identitas Finn yang sebenarnya. Namun sayangnya istri Mark meninggal sepuluh tahun lalu karena sakit kanker yang dideritanya. Saat ini Tuan Mark tidak memiliki siapapun lagi selain Finn sebagai penerusnya.

"Selamat datang kembali putraku. Setelah dua puluh satu tahun, akhirnya kamu mau menginjakkan kakimu kembali di negara ini," Tuan Mark memeluk tubuh putranya. Setelah istrinya meninggal, Tuan Mark memang memilih tinggal di dalam negeri, sementara Finn memilih untuk tetap di Perancis saat itu.

"Aku pulang untuk melakukan misiku, Yah. Yaitu membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuaku," jawab Finn, keduanya saling melepaskan pelukan.

Tuan Mark menepuk pundak Finn dan memintanya untuk duduk, "Kali ini apa yang bisa Ayah lakukan untukmu?"

"Aku ingin Ayah mengatur perjodohanku dengan putri keluarga Milano. Aku dengar mereka memiliki seorang putri yang cantik, namanya Selena Milano. Aku ingin menjadikannya sebagai calon istriku,"

"Apa kamu yakin ingin bertunangan dengan putri keluarga Milano?" Tuan Mark sedikit ragu, namun melihat wajah Finn yang nampak serius, dia tau jika putranya itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

"Aku tidak benar-benar ingin menikahinya, aku hanya ingin menjadikan dia sebagai alat untuk balas dendam." Finn mengeraskan rahangnya, matanya menatap tajam. Dengan kedua matanya sendiri, dia telah menyaksikan bagaimana kedua orang tuanya dibunuh secara sadis oleh orang-orang tak berhati nurani.

Tuan Mark bisa melihat dendam yang begitu besar dalam diri putranya. Tanpa sepengetahuan Finn, dia memang sudah mencari tau tentang keluarga Milano. Bahkan perusahaan mereka sudah saling bekerjasama sejak dua tahun terakhir ini. Tuan Mark sudah mengantisipasi jika hal ini akan terjadi, Finn kembali untuk membalas dendam.

"Ya, Ayah mengenal Selena. Jika itu keinginanmu, Ayah akan melamarkan Selena untukmu. Kapan kamu ingin bertemu dengan keluarga Milano?" tanya Tuan Mark.

"Secepatnya lebih baik. Bagaimana jika besok malam?"

Tuan Mark mengangguk setuju, "Akan Ayah atur semuanya."

Finn bergegas bangun disusul oleh Tuan Mark.

"Kamu mau kemana Finn? Kamu baru saja kembali, apa kamu mau pergi lagi? Ayah sudah menyiapkan kamar untuk kamu dilantai atas, beristirahatlah disana," ujar Tuan Mark.

"Maaf Yah, tapi aku akan tinggal di apartement untuk sementara ini. Riyan sudah menyiapkan semuanya untukku," ujar Finn. Riyan adalah satu-satunya sahabat baik Finn selama di Perancis. Finn selalu menutup diri hingga dia tidak memiliki banyak teman.

"Baiklah jika itu keinginanmu. Kapanpun kamu mau kamu bisa tinggal disini, ini adalah rumahmu, Finn."

"Terimakasih, Ayah."

Keduanya berjalan beriringan menuju ke teras rumah. Tuan Mark memeluk putranya sebentar sebelum Finn masuk ke dalam mobil. Dalam gelapnya malam tanpa bintang Finn melajukan mobilnya sendiri menuju ke alamat apartemen yang sudah dikirimkan oleh Riyan.

💛

💛

💛

Seorang gadis sedang berlari kencang, dibelakangnya dua orang pria berbadan tinggi tegap tengah mengejarnya. Butiran keringat sudah memenuhi keningnya, gadis itu bahkan melepaskan sepatu hak tingginya dan menentengnya supaya dia bisa berlari lebih cepat.

"Nona berhenti...!!!"

Dua lelaki dibelakangnya terus berteriak memintanya untuk berhenti, namun gadis itu tetap berlari tanpa tau arah tujuan. Hingga dia melihat sebuah mobil datang melintas, gadis itu langsung berdiri di tengah-tengah jalan, dia menjatuhkan sepatunya dan melambai-lambaikan kedua tangannya pada mobil tersebut.

Seketika mobil itu berhenti dengan jarak satu meter didepannya. Gadis itu meraih kembali sepatunya yang dia jatuhkan diatas aspal, buru-buru dia berlari ke sisi mobil dan mengetuk kaca mobilnya dengan keras.

Kaca mobil terbuka, tatapannya bertemu dengan tatapan dingin seorang pria. Pria itu adalah Finn.

"Tuan, tolong selamatkan saya. Mereka mau menculik dan menjual saya pada laki-laki hidung belang," dengan nafas terputus-putus, gadis itu memohon. Finn hanya menunjuk dengan dagunya, memberikan isyarat pada gadis itu supaya naik ke dalam mobilnya.

Dua orang dibelakangnya semakin dekat, buru-buru gadis itu naik ke dalam mobil. Finn melihat ke arah spion samping, lalu dia melajukan kencang mobilnya saat dua pria itu sudah berada tepat di belakang mobil.

Gadis itu menarik nafas lega saat mobil yang dinaikinya sudah melaju jauh, dia menyenderkan tubuhnya pada punggung jok lalu menoleh ke arah Finn.

"Terimakasih, aku akan membayar ongkos mobilmu," gadis itu membuka tas selempang yang dipakainya dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari sana, namun aksinya terhenti saat Finn menghentikan mobilnya secara mendadak.

"Turun,"

Gadis itu melebarkan kedua matanya, "A-apa...?"

"Aku bilang turun dari mobilku, apa kamu tuli?" Finn melirik pada lembaran uang yang ada ditangan gadis itu. "Simpan saja uangmu untuk ongkos pulang, sekarang cepat turun dari dalam mobilku!"

"Apa kamu serius menyuruhku untuk turun?" gadis itu mencebik kesal. "Apa kamu tidak punya hati nurani, hah? Menurunkan seorang gadis sendirian di pinggiran jalan!"

Finn turun dari dalam mobil lebih dulu, lalu dia menarik tangan gadis itu hingga turun dari dalam mobilnya.

"Itu bukan urusanku, dan juga kita tidak saling kenal. Disini banyak mobil berlalu lalang, kamu bisa mencari taksi dari sini," tak ingin mendengar bantahan, Finn masuk ke dalam mobilnya kembali dan melajukannya pergi.

Sikap dingin Finn bukan sekali ini saja. Selama di Perancis, banyak wanita yang berlomba-lomba untuk mendekatinya, namun Finn selalu menolak wanita-wanita itu. Baginya, cinta bukanlah prioritas utama, saat ini tujuan utamanya adalah membalas dendam pada Andreas Milano. Nyawa harus dibayar dengan nyawa!

...✨✨✨...

Bab 2 : TDCDD

Plakkkk...

Sebuah tamparan mendarat keras di wajah Giselle saat dia telah sampai di kediaman utama keluarga Milano. Dengan wajah memerah penuh amarah, Tuan Andreas menatap kesal pada putri keduanya itu.

Penampilan Giselle bahkan sangat berantakan. Dress putih pendek selutut yang dipakainya terlihat lusuh dan penuh dengan noda tanah. Giselle bahkan datang tanpa alas kaki, karena sepatu miliknya tertinggal di dalam mobil pria yang menolongnya tadi.

Giselle Milano, gadis berusia 23 tahun itu adalah putri dari istri kedua Andreas Milano. Sudah sejak berusia 2 tahun keberadaan Gisel disembunyikan, dia dianggap sudah mati bersama dengan ibunya. Dirumah pengasingan Giselle hanya tinggal dengan ditemani oleh seorang pelayan wanita.

"Berapa kali Papa bilang jangan meninggalkan rumah pengasingan! Bagaimana jika ada yang mengenali kamu sebagai putri keluarga Milano, hah?! Kamu mau buat malu Papamu ini?!!"

"Malu???" Giselle menatap jengah pada lelaki berumur setengah abad lebih yang sedang berdiri dihadapannya. "Aku adalah putri kandungmu, kenapa kamu harus malu karena keberadaanku? Hanya karena kesalahan yang ibuku lakukan dimasa lalu, kenapa aku juga harus ikut menanggung akibatnya???"

Sonia yang sedari menonton akhirnya ikut maju. Sonia adalah istri pertama Andreas.

"Ibu kamu sudah berbuat zina, dia berselingkuh dibelakang Papa kamu. Dan didalam tubuh kamu itu mengalir darah seorang wanita pezina! Apa kata orang jika keluarga Milano memiliki keturunan seperti kamu ini!!!"

Selena mendekat, merangkul Giselle dan mengusap-usap lembut lengannya. Selena merupakan putri dari Sonia dan Andreas, usianya dua tahun lebih tua dari Giselle.

"Ma, Pa, sudah! Biarkan Giselle memiliki kebebasan, dia juga berhak untuk diakui sebagai anggota keluarga Milano. Sudah cukup Giselle menderita dan hidup sendiri selama dua puluh satu tahun ini,"

"Diam kamu Selena!" Sonia menarik tangan Selena menjauh dari Giselle. "Dia pantas mendapatkan semua ini. Selena, lebih baik sekarang kamu tidur dan beristirahatlah, besok malam kita akan mengadakan pertemuan dengan keluarga Edison, kami akan membicarakan tentang rencana perjodohan kamu dengan putra mereka."

"Perjodohan?" Giselle memicingkan kedua matanya, "Jangan lupa Nyonya Sonia, keluarga Milano memiliki dua orang putri," ucapnya penuh penekan.

"Lalu apa masalahnya?" Sonia bersedekap dada, menatap tidak suka pada putri dari madunya. "Jangan harap kamu akan dinikahi oleh laki-laki dari kalangan terhormat. Ibumu saja adalah wanita murahan yang mau tidur dengan siapa saja, jadi jangan bermimpi menjadi bagian dari keluarga Edison, keluarga paling terpandang di negeri ini!"

"Jangan bicara buruk tentang ibuku!" suaranya meninggi, Giselle tidak suka kesalahan mendiang ibunya selalu diungkit-ungkit.

"Cukup!!!" bentak Tuan Andreas. "Giselle, pulang kerumah pengasinan sekarang dan jangan pernah menginjakkan kaki lagi di kediaman utama. Para bodyguard akan mengantarkan kamu dan jangan membuat masalah lagi jika tidak ingin Papa memberi hukuman cambuk!"

Dua orang pria yang tadi mengejar Giselle sudah berdiri di sana, mereka bukanlah penjahat yang akan menjual Giselle seperti yang gadis itu katakan tadi pada pria yang menolongnya. Tapi mereka adalah anak buah Tuan Andreas yang bertugas untuk menjaga Giselle karena putrinya itu sering membuat masalah.

💙

💙

💙

"Darimana saja Finn? Aku sudah menunggumu dari dua jam yang lalu, bahkan mataku ini sudah sangat berat. Aku merindukan kasur empukku,"

Finn menerobos masuk tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya. Riyan menutup pintu apartemen, lalu mengekor di belakang Finn. Netranya menangkap sepatu wanita yang ditenteng oleh Finn.

Mungkin karena ini adalah untuk pertama kalinya Finn menginjakkan kakinya kembali di negeri ini, hingga dia membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai ke apartemen. Finn masih merasa asing dengan jalanan dikota itu.

"Sejak kapan seorang Finn Edison mau menenteng sepatu wanita? Apa tadi sebelum kesini kamu berkencan dulu dengan seorang wanita?" goda Riyan.

Finn meletakkan sepatu ditangannya disamping sofa, lalu dia membuka jaketnya dan duduk di atas sofa.

"Tutup mulutmu. Jika kamu keluar, bantu aku untuk membuang sepatu itu," titah Finn. Sebenarnya tadi dia sudah sempat membuang sepatu itu ditempat sampah begitu turun dari mobil, tapi entah mengapa hatinya tergerak untuk memungutnya kembali.

Riyan mengambil amplop coklat diatas meja dan menyerahkannya pada Finn. "Menurut sumber, keluarga Andreas memiliki dua orang putri dari dua orang istri yang berbeda. Tapi istri kedua dan anaknya sudah meninggal dua puluh satu tahun yang lalu. Tidak begitu jelas apa penyebab kematiannya. Jadi saat ini target yang tepat untuk membalaskan dendammu pada Tuan Andreas adalah Selena,"

Finn menatap foto Selena yang baru saja dia keluarkan dari dalam amplop. Masa kecilnya telah dirampas oleh ayah dari wanita yang sedang dia tatap fotonya itu. Darah Finn kembali mendidih, dia melempar foto-foto itu keatas meja.

"Dimana kamu menyimpannya?" Finn bangun dari duduknya, menatap Riyan yang masih berdiri disana.

"Didalam laci nakas kamarmu, disebelah sana," tunjuknya pada pintu kamar yang terletak di samping ruangan tersebut.

Finn masuk ke dalam kamarnya, membuka laci nakas dan mengeluarkan sebuah pistol dari dalam sana. Selama tinggal di Perancis, Finn sudah mengikuti latihan menembak dan belajar ilmu bela diri. Dia sudah mempersiapkan dirinya secara matang untuk misi balas dendamnya ini.

Dulu, ayah Finn bekerja untuk keluarga Milano dan menjadi orang kepercayaan Tuan Andreas. Saat mengetahui bisnis senjata api ilegal yang sedang dijalankan oleh tuannya, Bram memilih mundur dan tidak ingin terlibat lebih jauh demi keluarga kecilnya. Namun keputusan Bram untuk mundur membuat kemarahan Andreas meluap-luap. Khawatir Bram akan membocorkan bisnis yang baru saja dia rintis, Andreas memilih untuk menghabisi nyawa Bram dan keluarganya. Untuk menutupi kebusukannya, Andreas membuat kejadian itu seolah-olah adalah murni kejadian perampokan.

"Tunggulah saatnya Andreas Milano. Secara perlahan, aku akan mengirimmu ke neraka!"

...✨✨✨...

📝 Jangan lupa untuk subscribe, like dan komen. Jika berkenan boleh beri gift dan bintang 5 nya... Terimakasih 🙏🥰

Bab 3 : TDCDD

Bersama dengan Riyan, Finn mengunjungi rumah lamanya. Finn memakirkan mobilnya di halaman rumah yang tidak terlalu luas itu. Suasana disekitar rumah nampak sangat sunyi. Rumah itu sudah tidak layak pakai lagi karena sudah bertahun-tahun kosong, dindingnya sudah retak, lantainya berdebu dan atapnya bocor.

Perlahan, Finn melangkahkan kakinya masuk. Barang-barang didalam rumah berserakan di mana-mana, persis sama seperti saat terakhir Finn melihatnya, saat rumahnya di obrak-abrik oleh beberapa orang pria dimalam kejadian naas itu.

"Uhukkk... Uhukkk..." Riyan terbatuk-batuk, dia menutup mulutnya dengan tangan. "Finn, kamu mau mencari apa sih kesini?" Protesnya. Sebelumnya Finn tidak mengatakan jika mereka akan datang ke tempat itu, Finn hanya mengatakan jika mereka akan makan siang diluar.

Finn berjongkok, dia meraih foto yang terbingkai di atas lantai dan membaliknya. Foto itu sudah blur, gambarnya sudah tidak jelas, itu adalah foto dirinya dan kedua orang tuanya. Dulu saat Finn pergi dia tidak sempat membawa apapun yang bisa dia jadikan kenangan karena anak buah Andreas Milano sudah keburu mengejarnya, sementara ayahnya yang mencoba menghalangi ditusuk dengan pisau tajam.

Rahang Finn mengeras, matanya memerah menahan gejolak amarah dalam dirinya. Hatinya begitu tersayat setiap kali mengingat kejadian malam itu. Suara tangisan dan permohonan ampun ibunya bahkan tidak dihiraukan oleh orang-orang tak berhati itu, mereka memukul dan menyiksa kedua orang tuanya dengan sangat keji dan sadis.

Finn mengajak Riyan keluar dari rumah itu, mereka bertanya pada orang-orang sekitar tentang keberadaan makam kedua orang tua Finn. Namun tidak ada satupun yang mengetahuinya, mungkin karena kejadian itu sudah sangat lama sekali.

Finn mengusap wajahnya kasar, menyadarkan tubuhnya pada sisi mobil. Disampingnya, Riyan tak banyak berkomentar, dia bisa memahami perasaan Finn saat ini.

"Cari tau dimana kedua orang tuaku dimakamkan, aku ingin mengunjungi makam mereka," titah Finn.

"Siap bos!" jawab Riyan bersemangat seraya memberi hormat.

💚

💚

💚

Giselle baru saja selesai mandi, dia berdiri di depan cermin dan membuka tali bathrobe yang mengikat di pinggangnya, menurunkan bagian atasnya sampai ke dada.

Giselle memutar tubuhnya, dari dalam pantulan cermin, dia menatap bekas luka cambuk yang dia dapatkan satu bulan lalu. Walaupun sudah tidak sakit, tapi luka itu masih meninggalkan bekas ditubuhnya. Kulit mulusnya menjadi belang-belang mirip seperti kulit harimau.

Meskipun sudah tau pasti akan kena hukum, Giselle tidak pernah kapok. Siang itu dia memanjat pagar dan kabur dari rumah pengasingan. Papanya marah besar karena Giselle datang ke kediaman utama, apalagi saat itu sedang ada banyak tamu, yaitu teman-teman arisan mama Sonia. Tak ingin merasa malu, Sonia memperkenalkan Giselle sebagai putri dari salah satu pelayan dirumahnya, setelah itu dia mengadukan kejadian itu pada suaminya dan berakhir suaminya itu menghukum Giselle dengan sepuluh kali cambukan.

Tok... Tok... Tok...

Pintu kamar diketuk dari luar, Giselle memakai kembali bathrobenya dengan benar.

"Masuk...!" seru Giselle.

"Gis..." pintu kamar terbuka berbarengan dengan sosok seorang gadis yang usianya sebaya dengan Giselle. Gadis itu bernama Kayla, sahabat baik Giselle.

Kayla adalah satu-satunya orang yang boleh dekat dan bersahabat dengan Giselle, karena dia adalah anak dari salah satu pelayan dikediaman utama keluarga Milano. Tuan Andreas mengijinkan Giselle berteman dengan Kayla supaya putrinya itu tidak merasa kesepian. Sepertinya dalam hal ini Tuan Andreas memiliki sisi baik sebagai seorang ayah untuk Giselle.

"Malam ini kamu nginep ya? Aku mau kabur lagi," ujar Giselle, dia ikut duduk di samping Kayla, ditepian ranjang.

"Cari masalah aja sih Gis, mau dicambuk lagi sama Papa kamu yang galak itu?" Kayla sudah terbiasa memanggil Giselle dengan sebutan nama, bukan nona. Semua itu karena Giselle yang memintanya supaya tidak ada rasa canggung diantara mereka.

Kayla mengeluarkan sepotong kertas yang dilipat-lipat dan memberikannya pada Giselle. Semalam Giselle menelfon dan menyuruhnya untuk menjadi detektif dadakan. Alhasil, Kayla terpaksa harus mengendap-endap seperti maling demi bisa mendengar obrolan Tuan Andreas bersama dengan istri dan anaknya diruang tengah pagi ini. Mereka sedang membicarakan tentang rencana perjodohan Selena dan Finn. Dari obrolan itulah Kayla mengetahui alamat restaurant yang akan didatangi oleh mereka nanti malam.

"Itu alamatnya udah aku catat. Makan malamnya malam ini jam tujuh malam. Emang kamu mau ngapain sih?" tanya Kayla penasaran.

Giselle memandangi tulisan yang tertulis di dalam kertas berwarna putih itu, dia tersenyum senang.

"Mau merebut calon suami kak Selena..."

...✨✨✨...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!