NovelToon NovelToon

Since The Beginning In You

Prolog

Hari pertama masuk sekolah, setelah libur tahun baru yang panjang.

Nama sekolah menengah atas ini adalah SMA KAMORZA, terletak di pusat kota Jakarta Selatan. Pagar besi sekolah yang tinggi sudah terbuka, artinya sudah ada yang datang lebih dulu di hari pertama ini. Gedung berlantai 3 yang besar dari sekolah masih tampak sama, didominasi oleh warna putih dan kaca yang memantulkan cahaya dari matahari. Terdapat sebuah jam besar yang menempel di dinding gedung pertama, Suasana juga sudah mulai ramai kembali dengan para siswa/siswi yang berangkat sekolah lagi.

Ditengah lorong kelas 11 dilantai dua, seseorang anak perempuan yang memakai jaket, dengan seragam kotak-kotak hitam dan merah, berjalan menelusuri lorong itu sambil membaca sebuah novel romance.

Ya, Dia adalah FELYN ROSALIE. Murid pecinta novel yang duduk di kelas 11 IPS 3, kelasnya terletak di tengah lantai dua tersebut. Sambil berjalan dengan sangat santai, ia tak menghiraukan sekelilingnya yang sudah ramai dengan murid-murid dari kelas lain yang memperhatikannya.

"Ih, itu anak masih aja sama ya?" bisik salah satu siswi yang berdiri di depan pintu kelas 11 IPS 4.

"Suka banget sih baca buku sambil jalan gitu," bisik yang lain.

"Padahal cantik, lho, tapi hobinya gak guna banget. Ahahaha." ucap salah satu anak laki-laki yang berjalan melewatinya.

Tentu saja siapa yang tidak akan jengkel dengan omongan gak penting itu. Felyn sengaja menghiraukan mereka, karena hari ini dia sedang sangat fokus membaca novelnya yang baru saja dibelinya kemarin. Dia pun masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di kursinya.

Sahabatnya NADIN KIRANA, tampak sangat senang saat melihat Felyn. Ia langsung menghampiri sahabatnya yang pecinta novel itu untuk melepas kerinduan setelah lama libur sekolah. "Felyn! My besty, aku kangen banget." Nadin memeluk Felyn yang sedang membaca novelnya.

Felyn tampak kesal, ia langsung melepas pelukan sahabatnya itu dan meletakkan bukunya di atas meja. "Hei, apa maksudmu bersikap begitu, hah?!" bentaknya dengan nada tinggi.

Nadin menaikkan kepalanya, "Huh, Felyn. Kamu selalu gitu, cuman gara-gara baca novel kamu jadi marah sama aku." Ia juga terbawa kesal.

Padahal masih hari pertama dan mereka juga belum memulai pelajaran, tapi dua sahabat yang mempunyai kepribadian terbalik ini mulai berdebat lagi. Suasana jadi tegang karena mereka berdua, semua orang kelas langsung melihat ke arah mereka berdua karena keributan itu.

"Sebaiknya kamu jangan ganggu aku kalau lagi baca novel!" tegur Felyn dengan tegas, lalu kembali membaca bukunya itu.

Keadaan kelas menjadi ramai kembali, semua orang sudah mengetahui sifat Felyn yang seperti itu, jadi jangan heran kalau sebagian orang tak mau mengganggunya.

Nadin cemberut, "Ih, Felyn sekarang udah beda banget ya? Karna novel baru. Liburan juga lama, jadi kamu lupa sama aku."

"Padahal, tadi aku mau cerita tentang liburanku, aku juga gak keberatan kalau kamu cerita ke aku juga," lanjut Nadin dengan wajah kecewa.

"Sebaiknya kamu kembali duduk, Nadin! Sebentar lagi bel masuk, gurunya akan segera datang." suruh Felyn tetap fokus pada bukunya.

Nadin pun langsung bergegas duduk kembali di kursinya yang berada di samping kanan meja Felyn. "Felyn jadi makin kutu novel, gimana caranya biar dia jadi lebih duniawi?" batinnya sambil melirik ke arah Felyn.

Buku yang dibaca oleh Felyn sampai dia kekeh banget bacanya adalah novel karya penulis muda Sisin, yang berjudul L&M. Felyn sudah membaca novel dengan judul yang sama itu sampai di seri ketiganya.

Jam sudah menunjukkan pukul 7:30 pagi, tetapi tidak ada guru yang masuk di kelas mereka. Sudah lebih satu jam Felyn masih membaca novel itu sampai hanya matanya saja yang bergerak. Anak-anak kelas mereka juga masih ribut dengan teman-teman mereka, hanya Felyn dan Nadin saja yang tampak diam di kursi mereka duduk.

Seketika suasana menjadi lebih berisik, Felyn merasa risih dengan keadaan itu. Tentu saja, orang yang sedang membaca tidak bisa kosentrasi kalau ada keributan di sekitarnya. Dia pun memakai headshet dan memasang lagu sekeras mungkin sampai ia tidak mendengar lagi suara-suara orang di kelasnya.

"Mereka tidak bisa keluar saja dari kelas ini?! Berisik sekali." batin Felyn kesal dengan keributan itu.

Nadin masih memperhatikan sahabatnya itu, ia tampak bingung akan melakukan apa, karena keinginannya hanya ingin berbicara dengan Felyn. Ia menunduk lalu mencari suatu barang di dalam tasnya, "Felyn suka gak ya, kalau aku kasih cokelat dari inggris?" Ia mengeluarkan sekotak cokelat yang memiliki berbagai bentuk yang lucu.

"Gak mungkin Felyn gak suka, pasti dia suka." Ucapnya dengan gembira. Ia pun langsung meletakkan cokelat itu di atas meja Felyn yang berada di sampingnya.

Ia tersenyum senang, Felyn yang menyadari kalau ada sebuah cokelat di mejanya langsung berhenti membaca dan menutup bukunya. Felyn memperhatikan wajah Nadin yang seperti sangat ingin ia menerima pemberian itu, ia pun mengambil cokelat itu.

"Terima kasih, Nadin. Kamu baik banget, maaf ya, aku udah kasar tadi." ucap Felyn menyesal.

Nadin tersenyum, "Hehe, iya. Gak apa-apa kok. Aku ngerti, kamu kan emang gak bisa berhenti baca novel."

Felyn ikut tersenyum, "Sekali lagi makasih, aku baca buku lagi ya?!" Ia menunjuk ke buku novel yang ia baca tadi.

Nadin mengangguk, "Iya, Fel. Lanjut baca aja, aku gak akan ganggu kamu lagi kok. Aku juga mau keluar ke kantin bentar, siapa tahu ada makanan yang enak."

Nadin berdiri dari kursinya, "Aku ke kantin dulu ya, Fel."

Felyn mengangguk lalu kembali membuka novelnya, "Iya, Nad."

Nadin pun langsung berjalan menuju kantin dengan sangat senang, karena sahabatnya akhirnya meresponnya dengan baik.

Saat Nadin ke kantin, Felyn yang fokus membaca buku langsung dihampiri oleh tiga orang siswi dari kelas lain yang tampak berlagak sok berkuasa di depannya.

"Felyn si pecinta novel, lo lupa sama gue?!"

Ucap salah satu siswi yang berdiri di depan mejanya, ia pun langsung berhenti membaca dan membanting bukunya di atas meja. "Kenapa lagi sih?!" Felyn terkejut karena orang yang menghampirinya itu adalah orang yang pernah di skor karena membuat masalah dengannya. Ternyata mereka sudah kembali ke sekolah, saat yang lain juga sudah masuk sekolah.

Felyn menatap serius tiga siswi itu, "Meisa?"

BERSAMBUNG ...

Permulaan Masalah

Meisa adalah siswi dari kelas 10 IPS 1, dia pernah beberapa kali berurusan dengan Felyn karena dia berbicara hal yang aneh pada semua orang tentang Felyn dan kebiasaannya. Akhirnya dia kena skor selama seminggu sebelum libur panjang dan masuk di hari yang sama dengan siswa yang lainnya setelah liburan.

Meisa menatap Felyn dengan tatapan benci, "Ya, lo bener. Gue adalah Meisa. Anak kelas 10 ips 2 yang penah membongkar aib lo!"

Felyn langsung menahan emosinya, anak-anak di kelasnya semua memperhatikan mereka. Yang tadinya sibuk bergurau, bercanda, semuanya fokus kepada Felyn dan juga Meisa.

Ih, apaan sih, buat masalah lagi tu anak.

Gak bener ni anak, udah di skor juga, masih aja.

Itu si Meisa sama Felyn ngapain sih? Kalau kelahi ya diluar aja!

Sama-sama perusuh, buat malu aja!!

Felyn menghela nafas, mencoba menahan emosi. "Hei, lo datang-datang langsung bilang gitu sama gue? Lo mau apa lagi?"

Belum kelar urusan mereka, tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari ke pintu. "We, we! Cepat duduk, pak guru datang! Keluar yang bukan anak kelas ini!" Teriak siswa itu dengan nafas terengah-engah.

We, cepat-cepat! Duduk lah bodoh!

Lo lah tu yang bodoh! Gue pintar kali.

We, udahlah bising aja!

Wajah Meisa marah besar, dia memukul meja Felyn dengan bunyi yang keras. "Ayo, cabut!" Lalu Meisa dan teman-temannya langsung pergi meninggalkan kelas itu dengan wajah yang masih menyimpan dendam.

Felyn menggelengkan kepalanya, "Kenapa coba, tu anak harus masuk lagi ke sekolah ini? Bisa-bisanya dia ngomong asal ngelantur gitu."

Tak lama, Nadin yang baru saja dari kantin masuk ke dalam kelas dengan sangat santai, sambil menyantap cemilannya. Ia bingung melihat wajah semua orang di kelasnya sangat dingin dan bisa duduk rapi di tempat duduk, ia juga menatap ke arah Felyn yang sudah kembali membaca novelnya.

Ia kebingungan. "Wah, ada yang aneh dengan kelas ini. Apa aku salah masuk kelas? Tidakkan? Itu ada kursiku, dan ada Felyn." Sambil berjalan ia memperhatikan sekitarnya.

"Fel, pada kenapa?"

"Biasa, guru entar lagi datang jadi gitu deh," jawab Felyn sambil fokus membaca novel.

Nadin mengangguk mengerti, "Owhhh, gitu. Pantesan, kelas ini kan emang biasanya bising banget, eh tiba-tiba hening."

Tak lama, datang seorang guru laki-laki yang sudah berumur tua duduk di meja guru. "Selamat pagi semuanya!"

Pagi juga Pak!

"Udah pada semangat belajar lagi kan? Udah libur lama."

Belum Pak, belum puas liburnya.

Bentar kali liburnya, cuman dua minggu.

Malah di rumah disuruh-suruh terus lagi sama emak.

Ah, gak seru dong.

Suasana kelas kembali ribut karena membahas tentang hari libur mereka yang sebagian besar tidak menyenangkan.

Pak guru menepuk meja beberapa kali, "Hei, sudah-sudah! Kenapa kalian jadi ribut sendiri gitu? Tadi kan Bapak hanya bertanya."

Bapak guru itu melirik ke arah Felyn yang masih sibuk membaca novelnya, "Felyn? Kamu masih saja suka membaca novel ditengah pelajaran?" tanya bapak guru itu dengan wajah kesal.

Felyn mendengar teguran guru itu, ia pun segera meletakkan novelnya di laci meja. "Tidak kok Pak, saya hanya bosan sebentar saja tadi."

"Ya sudah, kita sekarang sudah di semester dua. Hari ini terpaksa kita harus belajar seperti biasa, karena mengejar target," jelas Bapak guru itu sambil menulis di papan tulis.

Tulisan yang ditulis di papan tulis adalah pelajaran bahasa indonesia kelas 11 semester dua. "Karya anak Indonesia adalah yang terbaik."

"Kalian Bapak tugaskan untuk membuat sebuah cerita pendek yang menunjukkan jati diri kalian sendiri."

Singkatnya, Berjam-jam berlalu dan akhirnya sekarang jam menunjukkan pukul 15:30 WIB. Kriiing!!! Kriiing!!! Kriiing!!! Bel pulang sekolah sudah berbunyi.

Lorong-lorong kelas sudah mulai berisik karena anak dari kelas lain yang lewat dan ingin menunggu teman-teman mereka untuk pulang bersama. Di kelas Felyn masih sibuk mencatat materi yang ada di papan tulis, sekarang mereka sedang belajar matematika.

Bu guru merapikan peralatannya, "Oke semuanya, kita bubar ya! Selamat sore!"

Sore juga Buuu..

Bu guru langsung keluar dari kelas, mereka pun bergegas merapikan semua barang-barang mereka untuk segera pulang. Suasana kelas kembali ribut, Felyn berjalan menuju keluar kelas sambil memegangi novel kesukaannya itu ditangannya.

Nadin menegurnya dari belakang, "Felyn, kamu langsung balik ke rumah? Bareng sama aku yuk!" ajaknya dengan wajah senang.

Felyn menggeleng, "Gak bisa, Nad. Aku mau ke Gramelove bentar, mau liat buku seri yang barunya." Felyn menunjukkan sampul depan novelnya itu.

"Owh, gitu ya. Emm, yaudah deh, gak apa-apa." Nadin terlihat kecewa.

Felyn memperhatikan wajah sahabatnya itu, "Nad, balik sendiri aja ya. Maaf, ya!"

Nadin mengangguk sambil menundukkan kepalanya, "Yaudah, aku duluan ya!" Felyn langsung pergi meninggalkan Nadin di depan kelas.

Sesampainya di Gramelove yang dekat dengan sekolahnya, Felyn tak ragu untuk segera masuk ke dalam dan langsung mencari buku yang ingin ia beli itu. Suasana di dalam toko buku itu memang ramai, tapi tidak berisik seperti keadaan di dalam kelasnya.

"Memang lebih baik aku bersekolah di dalam perpustakaan saja," gumam Felyn sambil menelusuri rak-rak buku yang ia lewati.

Beberapa kali berkeliling untuk mencari, akhirnya dia menemukan buku yang menjadi tujuannya datang ke Gramelove setelah libur. Wajahnya langsung berubah menjadi sangat bahagia saat melihat buku tersebut terpajang di antara novel-novel best seller Indonesia. "Akhirnya, ni novel bisa dipajang cantik gini. Kan enak liatnya."

Felyn mendekati rak tersebut, matanya tampak bersinar-sinar karena terlalu sulit menyembunyikan kesenangannya. Tak ingin berlama-lama ia pun langsung mengambil satu buku itu dan menatap cover depannya dengan sangat terkesan.

"Wah, seri yang kedua memang bagus juga. Covernya juga menarik banget." Ia meraba semua bagian buku itu dengan kedua tangannya.

Brakk! Felyn terkejut karena mendengar ada sesuatu yang terjatuh sangat kencang. Saat ia melihat ke samping kiri, ternyata ada seorang wanita dan pria yang membereskan buku-buku yang terjatuh di lantai.

"Aku kira kenapa, rupanya cuma buku jatuh."

Pria itu membantu meletakkan kembali buku yang terjatuh ke dalam raknya, di wajahnya sangat terlihat menyesal.

"Sekali lagi saya minta maaf, kalau bukan karena saya gak akan kayak gini," ucap maaf pria itu.

Felyn memperhatikan kedua orang itu dengan sangat serius, ia hanya bisa melihat punggung pria itu, karena dari arah berlawanan. Wajahnya sangat penasaran, tetapi Felyn merasa hal itu tak begitu penting baginya, ia pun fokus melihat buku-buku lain.

"Iya, gak apa-apa kok, Mas. Saya bisa beresin sendiri, lagian saya juga gak liat-liat tadi," balas wanita itu dengan wajah malu-malu sambil menundukkan kepalanya.

Setelah itu, wanita itu pun langsung pergi meninggalkan pria yang membantunya merapikan buku-buku itu. "Ah, kurang seru. Masa cuma gitu aja sih, kenapa gak ada cinlok-cinloknya gitu??" batin Felyn merasa kesal sendiri.

Pria itu membalikkan badan dan langsung melirik ke arah Felyn yang sedang sibuk melihat beberapa buku. Pria itu agak lama menatapnya, jadi Felyn menyadarinya.

Felyn langsung menatap sinis pria yang berdiri di sampingnya itu, "Ada apa ya? Anda melihat saya seperti itu?" tanya ketus Felyn.

Pria itu langsung tersenyum padanya, "Tidak kok, saya hanya melihat buku yang kamu pegang." Ia melirik novel L&M 2 yang mau dibeli oleh Felyn.

Felyn menyadari kalau arah pandangan pria itu mengarah pada bukunya, "Ambil sendiri dong, Anda kan tinggi! Masih banyak tuh di rak atas, saya permisi!" Felyn langsung memeluk erat bukunya itu dan bergegas ke kasir untuk membayarnya.

Pria itu kebingungan, "Kenapa dengan gadis itu? Padahal aku hanya ingin bilang kalau novel itu sangat menarik." Dia mengambil buku yang sama seperti Felyn di rak paling atas dan langsung ke kasir.

Saat Felyn sudah selesai membayar, pria itu sedang mengantri giliran untuk membayar, Felyn tak sengaja melihatnya. Ia mengejek pria itu dan langsung pergi meninggalkan Gramelove dengan langkah cepat.

"Aih, semoga aja gak akan ketemu sama tu cowok aneh lagi!" gumam Felyn sambil berjalan menuju ke rumahnya.

Tampak di wajahnya kesal, sampai-sampai ada sebuah botol mineral di depannya, langsung ia jadikan bola yang ditendang sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya.

Felyn....Felyn, kesal boleh, tapi...kalau ketemu sampah ya langsung harus dibuang ke tempat sampah dong ><

BERSAMBUNG...

Hari Yang Aneh

Keesokan harinya, Felyn kembali ke Gramelove untuk membeli kembali novel yang sama seperti kemarin. Dia terpaksa membeli lagi, karena novel yang sudah dibelinya kemarin hilang.

Dengan langkah cepat sambil bergumam sepanjang jalan, Felyn tiba di Gramelove dan langsung masuk untuk membeli novel L&M 2 lagi. Awalnya lancar-lancar saja, Felyn mengambil novel itu dengan perasaan yang biasa. Namun, disaat yang sama seseorang pria mengambil buku yang sudah dipegangnya, sontak Felyn langsung menoleh ke belakang.

Betapa kesalnya Felyn saat melihat ternyata pria yang kemarin datang mencari masalah lagi dengannya.

"Maaf, masalah Anda apa sih Mas? Sampai harus ikutin saya. Kemarin bukannya Mas sudah beli buku ini, ya? Kok, sekarang jadi ikut balik lagi?" ketus Felyn.

"Saya gak ada maksud buat ngikutin kamu! Kemarin saya tidak jadi membeli bukunya karena...apa untungnya juga saya menjelaskan? Intinya, ini tempat umum, kamu tidak ada hak untuk melarang saya berada di sini." Pria itu dengan jelas menyangkal pikiran negatif Felyn.

Seseorang gadis berseragam SMP tiba-tiba menghampiri Wira dan Felyn yang sejak tadi sibuk menatap satu sama lain.

"Emm, permisi .... Kak, bisa tolong ambilkan saya buku itu?" tanya gadis itu sambil menunjuk ke arah rak buku yang ada di depan Wira dan Felyn.

Felyn tersenyum licik, "Mas, aja yang ambil kan deh! Saya juga gak nyampe tuh," sindirnya.

Wira mengela napas, lalu terpaksa tersenyum. "Ya, saya akan mengambilkannya!" Dia mengambil buku L&M season 2 yang berada di bagian atas, lalu memberikannya pada gadis itu. "Nih, bukunya."

Gadis itu terlihat senang, bola matanya bersinar-sinar. "Wah, covernya sangat cantik diliat dari dekat. Gak sabar pengen baca!" Ia bergumam sambil membolak-balikkan buku itu.

"Hah, dasar laki-laki aneh! Tersenyum saja terus sampai toko ini tutup," batin Felyn sambil melirik Wira dengan rasa kesal.

"Kamu suka dengan buku itu juga ya?" tanya Wira pada gadis itu.

Gadis itu mengangguk tanpa ragu, "Hehe, iya Kak. Saya suka banget sama ceritanya, ada sedihnya, senangnya, keselnya, semuanya terasa!" jawabnya.

Wira mengangguk mengerti sambil tersenyum. Gadis itu memperhatikan Felyn yang berdiri di samping Wira dan tengah sibuk sendiri. Gadis itu mengira kalau Felyn dan Wira adalah sepasang kekasih yang mempunyai kegemaran yang sama.

"Emm, kakak berdua ini .... pacaran, ya?"

Wira dan Felyn terkejut dan langsung saling menatap satu sama lain. "BUKAN!"

"Ish, gak mungkin lah! Asal ngomong aja kamu," jawab Felyn.

"Ya, Tuhan. Is this really done by this little kid? Gila!" batin Felyn dalam hati.

Wira menggeleng, "Astaga, kenapa .... Baru juga ketemu, ini gak bisa di skip aja?" batinnya.

Felyn tampak kesal, "Udahlah, gue cabut duluan!" ucapnya sambil berjalan meninggalkan Wira dan gadis itu.

"Oh, iya. Terima kasih, sudah membantu saya, Kak! Kalau begitu saya duluan, ya. Sampai jumpa lagi!" salam gadis itu dengan sangat sopan pada Wira.

"Ah, iya. Sama-sama," jawab Wira dengan nada pelan.

Setelah Felyn dan gadis itu pergi meninggalkannya, Wira tiba-tiba mengeluh karena ia kelelahan menunduk terlalu lama. Tinggi badannya 180 cm, sedangkan Felyn 155 cm, dan gadis SMP itu 160 cm, sungguh menyiksa Wira pada saat itu.

"Huufhh, gila! Tu dua cewek beneran manusia apa gak sih? Pendek banget, sakit kepala nih jadinya." Wira bergumam sambil mengelus belakang lehernya.

Wira lalu pergi ke kasir untuk membayar buku yang sudah ia beli itu.

Di tengah perjalanan pulang, Felyn membaca buku yang baru saja ia beli itu sambil menelusuri tortoar jalan. Ia tak melihat sekitar, banyak orang yang lewat di sampingnya membicarakan tentang dirinya yang tidak tahu tempat saat membaca buku.

Eh, liat tuh! Anak zaman sekarang emang gak tahu tempat ya?!

Ish, iya. Jatuh baru tahu rasa tuh.

Baca buku di rumah dong, bukan sambil jalan gitu! Napa sih?

Bikin orang risih aja liatnya, entar kalau kenapa-napa mampus!!

Felyn mendengar semua omongan itu, tetapi bukan Felyn Rosalie jika ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang-orang itu dan membuatnya marah. Saat ia tengah sibuk membaca buku menuju ke halte busway, busway yang akan ia naiki sudah akan berangkat, ia pun bergegas masuk ke dalam bus supaya tidak tertinggal.

"Astaga, gue hampir ketinggalan!"

Setibanya di rumah ....

Felyn mengetuk pintu lalu masuk ke dalam, "Felyn, pulang!" teriaknya sambil melepas sepatu sekolahnya, lalu meletakkan di rak sepatu yang ada di samping pintu.

Tak lama kemudian, datang seorang wanita yang tampak sudah berumur. "Felyn, sudah pulang, Nak?" tanya ibunya dengan nada lembut.

"Iya, nih. Udah balik, sebenarnya udah dari tadi, tapi .... Biasalah, ibu tahukan kalau Felyn ...."

"Iya, ibu tahu kok. Ibu gak bakal marah, karna ibu tahu kamu gak akan kemana-mana selain ke sana."

"Ya udah, kamu masuk dulu gih! Mandi, terus kita makan malam, ya!" ajak ibunya sambil tersenyum kecil.

Felyn mengangguk, "Iya, Felyn ke kamar dulu ya, Bu!" Ia melangkah menuju ke kamarnya.

Saat ia selesai mandi dan berganti pakaian, Felyn keluar dari kamar dan menghampiri ibunya yang masih sibuk menyiapkan makan malam di dapur.

Felyn memeluk ibunya dari belakang, "Ibu, Felyn kecil sudah lapar nih!"

Ibunya berhenti memasak seraya menggenggam tangan Felyn yang ada di pinggangnya. "Iya, sayang. Ibu sudah siap kok, masaknya! Tunggu di meja makan saja sana."

Felyn melepas pelukannya, "Ah, Ibu! Padahal mau nostalgia masa kecil, tapi Ibu gitu. Gak seruu tahu!" ucap kesal Felyn.

Ibunya tertawa karena sikap Felyn yang masih seperti anak kecil. "Ahaha, iya. Kamu kan sudah SMA, masa mau ibu terus yang kasih tahu kamu ini dan itu? Gak mungkin kan."

"Iya, iya. Aku nunggu di meja makan aja! Ibu lanjut masak aja, tuh." Felyn berjalan menuju ke meja makannya dengan muka masam.

Ibunya masih tidak bisa berhenti tertawa karena Felyn. "Iya, begitu."

"Huhh, dasar! Kenapa juga aku tiba-tiba jadi anak ingusan begitu sih tadi?" batinnya kesal.

Tak lama, ibunya membawa makanan yang sudah dimasak tadi, satu per satu supaya tidak tumpah. Felyn membantu dengan merapikan letak makanan itu supaya terlihat rapi dan tidak memakan banyak tempat di meja.

Ibunya duduk di kursi, "Akhirnya siap juga. Ayo, makan! Katanya tadi lapar."

"Iya, Bu. Ibu juga makannya yang banyak, supaya bisa masakin Felyn terus!"

Felyn mengambil nasi dan lauk pauk yang sudah ada di depan matanya itu, tampak di wajahnya ia sudah sangat merasa kelaparan.

"Enak gak?" tanya ibunya.

Felyn yang sedang mengunyah makanan di dalam mulutnya mengangguk. "Tentu saja enak. Kan ibu yang masak!" jawabnya sambil menelan semua makanannya.

"Pelan-pelan makannya, Fel! Nanti tersedak."

"Iya, Bu."

Tok .... Tok .... Tok

Suara ketukan dari pintu, sepertinya ada yang datang. Felyn dan ibunya seketika diam dan mendengarkan suara ketukan yang tidak berhenti.

"Fel, temen kamu gak tuh?" tanya Ibunya.

Felyn menggeleng kebingungan, "Tidak tuh. Aku kan tidak punya teman!"

Ibunya berdiri dari kursi, berniat untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Tetapi Felyn langsung berdiri dan mengatakan kalau dia yang akan membukakan pintu.

"Jangan, Bu! Biar Felyn aja yang liat di depan siapa. Ibu lanjut makan aja, paling orang salah alamat ini pasti!" ucapnya lalu berjalan menuju ke ruang depan untuk membukakan pintu.

Felyn berhenti di depan pintu, dengan wajah penasaran tapi hati yang ragu, ia memberanikan diri untuk membuka pintu. "Ah, bodoh amat! Mungkin aja tetangga."

Saat ia memitar gagang pintu, Pintu terbuka, dan .... "Ya, siapa?" Kedua bola mata Felyn langsung membesar dan matanya tak berkedip.

BERSAMBUNG…

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!