NovelToon NovelToon

Lu San: Makhluk Tertinggi

1.Awal Mula

Di ruang dan waktu tertinggi dimana semua makhluk hidup tidak ada yang bisa menggapainya.

Sesosok Pria dengan pakaian putih bersih tanpa celah duduk di kehampaan tak terbatas. Matanya terpejam, terdapat kekuatan maha dahsyat yang keluar dari tubuhnya.

"Akhirnya semua belenggu semesta lepas dari tubuhku." Gumamnya sembari tersenyum puas.

Lu San adalah nama pria itu, dia adalah sosok tertinggi dan kuno, bisa dibilang dia adalah penguasa segala ruang dan waktu.

Terlahir dari kehampaan dan memiliki kekuatan yang sangat kuat. Satu tatapan yang dia berikan saja bisa menghancurkan semesta, satu jentikan jarinya bisa menciptakan ribuan alam semesta.

Mahluk tertinggi tidak bisa menggambarkan kekuatanya, hanya tak terbatas adalah lambang dari dirinya.

Menghapus keberadaan dan mengatur ulang semesta, melepas belenggu makhluk hidup seperti takdir, umur, keterbatasan, ruang waktu dan segalanya semuanya bisa dia lakukan.

Lantas apa kekurangannya? Bisa dibilang tidak ada.

Tapi dia sadar bahwa dia ada didalam sebuah narasi seseorang, dan sadar bahwa triliunan universe yang bisa ia hancurkan kapan saja adalah hasil dari narasi seseorang atau bisa dibilang mahkluk realitas.

Lu San tersenyum singkat dan kemudian dia berkata.

"Domain realitas, sesuatu yang bahkan tidak bisa kucapai dengan seluruh kekuatanku, ya hahahhaah aku sangat tertarik." Ujarnya dengan tertawa kencang.

Lu San berdiri dari duduknya, dia menatap semesta yang bisa dia hancurkan kapan saja.

"Sudah triliunan taun sejak sang realitas pencipta narasi telah menciptakanku, sudah selama ini juga aku kesepian, untuk mengatasi kesepian ini jalan jalan di dunia kayaknya tidak buruk, tapi dunia mana yang harus aku pilih." Lu San menatap dengan tenang sembari berfikir sejenak.

"Dunia immortal ini kayaknya bagus." Ucap Lu San dan kemudian tubuhnya menghilang dari ruang dan waktu tertinggi.

........

Dilangit dunia immortal, sesosok pria yang tak lain adalah Lu San terbang di ketinggian sembari menatap luasnya dunia.

Beberapa saat ketika Lu San datang Dao surgawi dari dunia immortal merespon beberapa saat, tapi karena ini adalah Lu San Dao surgawi tidak berani bertindak.

"Walaupun aku sudah terputus dari rantai yang membelenggu makhluk hidup, bukan berarti aku tidak boleh bersenang senang." Gumamnya dengan bersemangat.

Lu San menghilang lagi dan muncul dihutan. "Yohoho dunia yang dibuat oleh sang Creator memang indah." Gumamnya melihat alam yang indah.

Lu San kali ini memakai setelan biru tua dan memakai caping dikepalanya, dia juga merubah penampilannya karena jika tidak itu akan membuat masalah bagi dunia ini karena ketampanannya yang tidak manusiawi.

"Yaps seperti ini sudah cukup." Ucapnya lalu berjalan menuju kota.

Beberapa saat kemudian Lu San sudah sampai di kota. Selain itu pada saat perjalanan dia juga mencoba menghindari yang namanya takdir.

Kenapa dia menghindari takdir? Bukankah dia sudah menghilangkan belenggu makhluk hidup, yah yang dimaksud adalah takdir dari sang creator, bahkan Lu San yakin semua gerakannya ini adalah takdir atau arahan dari sang creator karena dia tahu bahwa dia hanya seonggok tinta didalam sebuah narasi.

Contoh takdir dari sang creator adalah membuat pertemuan yang klise dihutan, lalu menolong dan terjadilah hubungan yang panjang. Lu San udah tau cerita cerita ini, karena yang dikirim ke ruang waktu ini bukan hanya dia saja, tapi sudah banyak orang, kebanyakan mereka adalah protagonis atau bisa dibilang mereka adalah Mc dari cerita yang dibuat oleh sang creator. Intinya beda cerita tapi tetep dalam multiverse yang sama, tapi bedanya dengan Lu San adalah mereka tidak tahu keberadaan sang creator tapi dia tahu.

Apakah belenggu sang creator benar-benar tidak bisa dihilangkan? bisa jika Lu San menembus dari makhluk yang hanya tertulis dinarasi menjadi makhluk realita.

Tapi hal ini tentunya mustahil, walaupun bisa juga Lu San harus menemukan sebuah keajaiban.

Tak lama kemudian, Lu San mencapai gerbang kota. Kota itu tak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Meski berada di dunia immortal, suasananya justru sederhana dan hangat. Bangunan-bangunan batu berdiri rapi, para pedagang sibuk menjajakan barang dagangannya, dan aroma makanan memenuhi udara.

“Hm... dunia ini terasa lebih nyata daripada kebanyakan dunia yang pernah kubuat atau kubinasakan,” gumamnya pelan sambil berjalan mendekati gerbang.

Dua penjaga berdiri kaku di sana. Mata mereka sempat memandang Lu San dengan tatapan curiga. Namun, seketika itu juga tubuh mereka bergetar. Aura yang samar keluar dari Lu San membuat jiwa mereka berlutut tanpa sadar. Walau penampilannya sederhana, ada sesuatu yang membuat mereka ingin bersujud.

“T-Tuan...!” Salah satu penjaga berbicara terbata-bata. “Silakan masuk...”

Lu San mengangguk pelan, kemudian melangkah melewati gerbang tanpa kata. Dia tak peduli, bahkan tanpa sengaja dia sudah membebaskan mereka dari karma kelahiran kembali hanya dengan senyum kecilnya tadi. Tapi dia menahan diri. Jika terlalu banyak membuat perubahan, sang Creator pasti akan memperhatikannya lagi.

..........

Jangan lupa like dan komen ya gaes biar author tambah ngegas lagi ceritanya.

#Bersambungggg

2. Sang Wanita dan takdir klise

Suasana di kota itu tak jauh berbeda dari dunia immortal lainnya. Hiruk-pikuk pedagang yang menawarkan barang-barang mereka, suara anak-anak kecil yang berlarian, serta aroma makanan yang menggoda tercium di setiap sudut jalan. Semua tampak begitu nyata, begitu hidup. Tapi bagi Lu San, semuanya hanyalah pola yang telah dia lihat jutaan kali sebelumnya.

“Dunia ini... rekaan yang sangat sempurna,” gumamnya, melangkah perlahan di antara kerumunan.

Dia menyesuaikan langkahnya, menghindari takdir yang terasa menjerat di sekitarnya. Dia tahu, setiap pergerakan di dunia ini bisa saja sudah direncanakan oleh sang Creator. Meski begitu, dia tetap memilih untuk berjalan seperti biasa, seolah tak ada yang mengaturnya.

Namun, takdir tetaplah takdir.

Bruggh!

Seseorang menabraknya dari belakang. Sebuah tubuh mungil terpental, terjatuh ke tanah dengan suara pelan. Di tangannya, sebuah gulungan bambu jatuh tergelincir, hampir menggelinding ke selokan sebelum gadis itu dengan cepat menangkapnya.

“Aduh...” Gadis itu meringis, memegang lututnya yang lecet. Namun, tatapannya tetap tegas, matanya bersinar dengan keteguhan yang aneh.

Lu San memandangi gadis itu tanpa berkata-kata. Ini... terlalu klise. Di dunia seperti ini, bertemu seseorang di tengah jalan, lalu melibatkan diri dalam takdir panjang yang rumit, adalah plot yang sudah ia tebak sejak awal.

Dia menghela napas.

“Maaf,” ucap gadis itu buru-buru, membungkuk singkat, lalu bersiap pergi. Tapi Lu San, untuk pertama kalinya, merasa ada sesuatu yang berbeda. Gulungan itu. Dia tidak merasakan energi spiritual, tidak ada pola Dao, bahkan tidak ada aliran karma di dalamnya.

Kosong.

Seolah-olah benda itu... tidak ditulis oleh narasi manapun.

“Sebentar,” ucap Lu San, langkahnya menghalangi gadis itu. “Boleh aku lihat gulungan itu?”

Gadis itu tampak waspada. “Tidak! Ini milikku! Aku harus membawanya ke... ke tempat yang aman!”

Tatapannya keras, tangannya erat menggenggam gulungan bambu itu seolah nyawanya bergantung padanya.

Namun, sebelum Lu San sempat bertanya lebih jauh, angin kencang tiba-tiba bertiup. Langit berubah kelam, awan hitam menggulung seperti pusaran neraka. Suara raungan naga dan teriakan burung gagak bersatu, menciptakan atmosfer mencekam di atas kota.

“Ah, akhirnya muncul,” gumam Lu San pelan, senyumnya tipis.

Beberapa sosok berjubah hitam melayang turun dari langit. Ada tujuh dari mereka, semuanya memancarkan aura pembunuh yang berat. Orang-orang di kota itu langsung panik, berhamburan lari meninggalkan pasar, meninggalkan harta dan dagangan mereka tanpa ragu.

Salah satu pria berjubah maju, wajahnya tertutup, namun suaranya dingin dan penuh kebencian.

“Serahkan gulungan itu, atau kota ini hancur dalam waktu tiga napas.”

Lu San melirik gadis itu. Tubuhnya gemetar, namun dia tidak mundur. Dia mengencangkan pelukannya pada gulungan bambu itu. Meski takut, dia tetap berdiri.

“Kau benar-benar keras kepala,” komentar Lu San santai. “Apa isi gulungan itu sampai orang-orang seperti mereka turun tangan?”

Gadis itu tak menjawab. Napasnya memburu, keringat menetes di pelipisnya.

Sementara itu, ketujuh pria itu mulai bersiap menyerang. Aura pembunuh mereka membentuk pusaran, menekan udara hingga membuat orang-orang tercekik.

Lu San menghela napas malas.

“Ah, ini membosankan.”

Dia mengangkat tangan kanannya pelan. Satu jentikan jari, dan waktu di sekelilingnya berhenti. Bukan hanya gerakan, tetapi eksistensi mereka seperti membeku. Ketujuh pria berjubah hitam itu tiba-tiba membatu, tubuh mereka retak seperti porselen pecah.

Crack!

Dalam sekejap, mereka hancur berkeping-keping, lenyap tanpa sisa, seperti mereka tak pernah ada.

Waktu kembali mengalir normal. Angin berhembus lembut, langit kembali cerah. Orang-orang yang semula berlari panik tiba-tiba tersadar, bingung karena ancaman itu seolah menghilang begitu saja.

Lu San menurunkan tangannya, lalu menatap gadis itu dengan tenang.

“Sekarang, ceritakan siapa kamu dan apa isi gulungan itu.”

Gadis itu gemetar. Matanya membelalak, jelas-jelas baru sadar siapa sebenarnya pria di depannya. Tapi, dia tetap berusaha tenang, menarik napas panjang.

“Namaku... Ling Yue. Aku... pewaris terakhir Klan Penjaga Gerbang.”

“Penjaga Gerbang?” Lu San mengernyit. Nama itu baru pertama kali ia dengar, padahal dia tahu semua garis keturunan yang pernah ada di triliunan semesta.

Ling Yue membuka gulungan bambu perlahan. Tulisan kuno yang aneh mulai muncul. Tidak ada energi, tidak ada aura Dao. Hanya karakter-karakter asing, yang bahkan Lu San tak kenali.

Namun, ada satu kalimat yang langsung menarik perhatiannya.

“Kunci menuju Domain Realitas.”

3. Membalikan Keadaan

Udara di langit mulai mengental. Awan hitam yang sejak tadi hanya menggantung, kini menebal seperti lapisan tinta pekat yang siap menumpahkan hujan bencana. Setiap hembusan angin membawa bisikan yang tajam, seolah dunia ini sadar bahwa dua eksistensi sedang berusaha mengoyak tatanannya.

Di atas puncak Gunung Langit Kesembilan, Lu San berdiri tegak, tatapannya menembus cakrawala yang terdistorsi oleh hukum ruang dan waktu. Di sampingnya, Ling Yue terengah, wajahnya pucat akibat perjalanan lintas ruang-waktu yang belum pernah ia alami.

“Ini... tempat apa?” tanya Ling Yue, matanya bergetar melihat pemandangan di depannya.

Tanah di bawah kaki mereka seperti serpihan kaca yang terapung di udara, membentuk dataran tidak stabil. Langit di atas mereka retak-retak, menampakkan celah yang bersinar dengan cahaya putih keabu-abuan, bukan cahaya matahari ataupun bulan. Ini adalah ‘Void’, kekosongan di luar narasi biasa.

“Ini batas akhir dunia narasi,” jawab Lu San pelan. “Tempat di mana Creator biasanya tidak melihat langsung. Hanya sisa dari dunia-dunia yang telah ia hapus, di mana alur cerita tak lagi memiliki peran.”

Ling Yue menelan ludah, lalu menatap gulungan di tangannya. Tulisan di permukaan bambu itu berpendar samar, seperti merespon lingkungan sekitar.

Lu San melangkah maju, kakinya tak menginjak apapun namun ia tetap melayang, membelah ruang kosong seolah itu adalah jalan yang padat. Ling Yue bergegas mengikutinya.

“Ling Yue,” ucap Lu San tiba-tiba tanpa menoleh. “Kau tahu... dunia ini rapuh. Segala sesuatu yang kau anggap abadi—hanya serpihan cerita yang sudah ditulis. Termasuk klanmu.”

Ling Yue terdiam, lalu mengepalkan tangan. “Aku tahu... aku menyadarinya saat mereka semua menghilang.”

“Bukan ‘menghilang’. Mereka dihapus,” potong Lu San, tajam. “Dan itulah kekuatan terbesar sang Creator. Ia bukan hanya menulis cerita. Ia menentukan apa yang pantas ada... dan apa yang tidak.”

Suasana hening sejenak, hanya ada desir Void yang seperti tarikan napas panjang dari sesuatu yang jauh lebih besar.

“Tapi,” lanjut Lu San, suaranya berubah santai, “aku sudah bosan mengikuti jalan itu.”

---

Mereka tiba di sebuah pilar batu hitam, menjulang dari Void. Pilar itu diukir dengan simbol-simbol aneh yang tak dikenal di dunia manapun. Namun, bagi Lu San, ukiran itu adalah petunjuk.

“Ini... Gerbang Awal?” tanya Ling Yue.

“Bukan,” jawab Lu San. “Ini hanyalah Kunci Kedua.”

Dia mengangkat tangan kanannya, menyentuh ukiran di pilar itu. Segera setelah itu, suara berderak memenuhi udara. Pilar itu bergetar hebat, dan dari dasar Void, muncul lingkaran sihir berwarna perak yang meluas cepat ke segala arah.

Ling Yue nyaris terjatuh karena getarannya. Tapi, dia terkejut bukan karena itu. Dari balik lingkaran sihir, muncul sosok-sosok bayangan.

Mereka bukan manusia.

Makhluk-makhluk itu memiliki tubuh yang tersusun dari potongan naskah, kertas-kertas dengan huruf yang tak terbaca membentuk kepala, lengan, dan tubuh mereka. Mereka berjalan dengan suara kertas yang sobek dan terlipat, namun aura yang mereka pancarkan membuat Ling Yue sulit bernapas.

“Pengawas Narasi,” gumam Lu San, masih santai. “Para penjaga yang dikirim langsung oleh sang Creator untuk menertibkan ‘anomaly’ sepertiku.”

Ling Yue melangkah mundur secara reflek, matanya membelalak melihat lebih dari lima puluh makhluk itu mendekat, masing-masing membawa senjata yang juga terbuat dari lembaran naskah, namun bersinar seperti pedang sejati.

“Apa yang harus kita lakukan?!” teriak Ling Yue.

Lu San menghela napas seolah ini hal kecil.

“Sudah kubilang, aku bosan ikut skenario mereka.”

Tangannya mengepal.

Seketika, seluruh Void bergetar. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan mulai keluar dari tubuh Lu San—bukan kekuatan Dao, bukan energi spiritual, tapi sesuatu yang lebih dalam. Ini adalah Will, kehendak eksistensial yang menolak tunduk pada narasi apapun.

Dia melangkah maju.

Satu makhluk Pengawas Narasi mengayunkan pedang naskahnya, memotong udara dan membuka celah di Void. Namun, sebelum pedang itu menyentuh Lu San, waktu di sekitarnya membeku.

Dan dalam satu kedipan, makhluk itu meledak menjadi debu, lenyap dari keberadaan.

Lu San tersenyum. “Kalian masih memakai hukum narasi... sudah basi.”

Tangan kirinya mengarah ke langit, dan dia menjentikkan jari.

BOOOOM!

Ledakan yang tidak bersuara terjadi. Void bergetar hebat. Puluhan makhluk Pengawas Narasi langsung tersedot ke dalam retakan ruang-waktu yang terbuka secara paksa oleh kehendak Lu San.

Namun, satu makhluk bertahan. Berbeda dari yang lain, ia memiliki jubah hitam legam, dengan simbol tinta merah di dadanya.

“Arbiter,” ucap Lu San pelan, kali ini tatapannya serius.

Arbiter melangkah maju, suaranya seperti suara pena yang menoreh keras di atas batu.

“Lu San. Narasi-mu telah melewati batas. Saat ini juga, eksistensimu akan direvisi.”

Ling Yue merasa kulitnya terbakar hanya dari suaranya. Dia melangkah mundur, tapi Lu San mengangkat tangannya, menahannya.

“Tenang. Ini bagian dari skenario,” ucap Lu San dengan nada sinis. “Tapi kali ini, aku yang menulisnya.”

Arbiter mengangkat tangannya, dan tiba-tiba, tubuh Lu San tampak mulai memudar. Bagian-bagian tubuhnya berubah menjadi huruf-huruf yang tercerai berai, seperti cerita yang dihapus satu per satu.

“Lu San!” teriak Ling Yue, panik.

Namun, Lu San masih tersenyum. “Jangan khawatir.”

Dia mengangkat tangan kanannya, yang masih utuh. Di telapak tangannya, muncul simbol berbentuk mata ketiga yang perlahan terbuka.

“Aku sudah menemukan celah dalam hukum Creator.”

Simbol itu bersinar. Dalam sekejap, semua huruf yang tercerai dari tubuh Lu San berkumpul kembali. Tubuhnya menyatu, namun berbeda. Kali ini, di sekeliling tubuhnya muncul aura yang tidak lagi berupa energi, melainkan konsep. Dia adalah Eksistensi itu sendiri, bukan bagian dari cerita, melainkan penulis dari eksistensinya sendiri.

Arbiter tampak goyah. Pena di tangannya bergetar.

“Tidak mungkin... kau...”

Lu San melangkah maju. “Aku sudah membalikkan takdir.”

Dengan satu gerakan tangan, dia merobek ruang antara dirinya dan Arbiter. Arbiter berusaha menulis ulang realitas di sekitarnya, namun Lu San menepisnya seperti debu.

“Selamat tinggal,” kata Lu San, sebelum mencengkeram simbol tinta merah di dada Arbiter dan menghancurkannya.

Arbiter meledak menjadi percikan tinta yang menguap di Void.

Ling Yue terdiam, tak mampu berkata-kata.

Lu San berbalik, menatap Ling Yue dengan tenang. “Ayo. Kita belum selesai.”

Dia menunjuk gulungan bambu di tangan Ling Yue. “Itu... adalah Peta menuju Pintu Keberadaan Asli. Dan kita harus sampai ke sana sebelum Creator menulis ulang segalanya.”

Ling Yue mengangguk, meski masih gemetar.

“Kau tidak takut?” tanya Lu San, sedikit penasaran.

Ling Yue menatapnya, sorot matanya tegas. “Aku takut. Tapi aku juga... percaya.”

Lu San tersenyum tipis. “Baik. Maka perjalanan kita dimulai sekarang.”

Mereka melangkah, menembus Void, menuju Pintu Keberadaan Asli. Dan di kejauhan, di luar semua batas narasi dan semesta, sang Creator mulai menulis babak baru...

Babak di mana segala sesuatu akan berubah.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!