NovelToon NovelToon

Pelabuhan Yang Salah

Pertemuan Pertama

Alicia Putri Pramudya kini sedang tersenyum-senyum sambil merapikan barang-barangnya ke dalam koper, dia akan pulang ke tanah air setelah menimba ilmu selama 3 tahun lamanya.

Alicia merasa begitu bahagia karena dia mampu menyelesaikan kuliahnya dalam waktu yang cepat, sehingga dia bisa pulang dengan cepat ke tanah air.

Dia sengaja tidak memberitahukan kepulangannya, karena dia ingin memberikan kejutan kepada orang tuanya.

"Sudah siap, tinggal ke bandara terus pulang. Oh ya ampun, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang tuaku. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keenam adikku," ujar Alicia.

Alicia meminta pengawal yang ditugaskan untuk menjaganya membawakan koper miliknya, lalu mereka pergi ke bandara dengan menggunakan taksi.

Selama perjalanan menuju tanah air, Cia selalu saja tersenyum dengan begitu riang. Dia selalu saja membayangkan pertemuannya dengan orang tuanya dan juga adik-adiknya.

Selama hampir dua puluh jam dia berada di pesawat, dia selalu saja mengirimkan pesan chat kepada orang tuanya. Hanya sekedar bertanya apakah mereka rindu kepada Cia atau tidak.

Tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Cia dengan riang keluar dari Bandara. Dari arah berlawanan ada seorang pria memakai seragam SMA yang berlari dengan cepat.

Tanpa sengaja pria muda itu menabrak Cia, Cia sampai hampir jatuh kalau saja pria muda itu tak sigap memeluk pinggang Cia.

"Maaf, Kak. Aku tak sengaja," ujar pria muda itu tanpa melepaskan pelukannya.

Cia merasa bersyukur karena dia tidak jatuh tersungkur, tetapi dia juga merasa tidak nyaman mendapatkan pelukan dari pria yang tidak dikenal. Terlebih lagi pria itu terlihat masih sangat muda.

"Tak apa, lain kali hati-hati. Cepat lepaskan aku," ujar Cia.

Pria muda itu tersenyum ke arah Cia, dia begitu enggan untuk melepaskan pelukannya. Namun, dia juga tidak mau mendapatkan makian dari Cia.

"Iya, Kak."

Pria muda itu melepaskan pelukannya sambil membantu Cia berdiri, lalu Cia kembali melangkahkan kakinya menuju pintu Bandara.

"Tunggu sebentar, Kak."

Cia menghentikan langkahnya, kemudian Dia menolehkan wajahnya ke arah pria muda itu. Dia menatap pria muda itu dengan tatapan penuh pertanyaan.

"Ada apa lagi?"

Cia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keluarganya, tetapi dia merasa kalau pria muda itu malah menghalangi jalannya untuk pulang.

"Kak Cia udah selesai kuliahnya?"

Cia sempat diam mendengar pertanyaan dari pria itu, dia merasa heran karena pria itu mengetahui namanya. Nama panggilannya di dalam keluarga, karena kalau di luar semua orang selalu memanggil dirinya dengan sebutan Alicia.

"Eh? Kok kamu kenal aku?"

Bukanya menjawab pertanyaan dari Alicia, pria muda itu malah tersenyum sambil memandang wajah wanita itu dengan lekat.

"Kakak makin cantik aja, aku, Anjar. Semoga Kakak jadi jodoh aku nantinya."

Pria muda itu dengan cepat mencium punggung tangan Cia, Cia yang kaget dengan cepat menghentakkan tangannya. Kesal juga rasanya karena pria muda itu dirasa sangat berani.

Selama ini dia begitu serius dalam menimba ilmu, tak pernah sekalipun dia berjalan dengan seorang pria. Dia bahkan di luar negeri tidak pernah bergaul dengan pria manapun.

Di pikirannya hanya ada belajar dan juga belajar, setelah lulus dia akan berusaha untuk membangun usahanya sendiri agar bisa membuat keluarganya bangga terhadap dirinya.

Namun, di saat bertemu dengan pria muda itu, dengan beraninya pria muda itu mengecup punggung tangannya. Sungguh dia merasa kalau pria muda itu sangatlah kurang ajar.

"Eh? Mana ada kaya gitu, kamu tuh masih kecil. Jangan ngomongin masalah jodoh, masih pakai seragam SMA ngurusin masalah jodoh."

Cia menggelengkan kepalanya setelah mengatakan hal itu, bisa-bisanya anak yang masih berseragam SMA memikirkan masalah jodoh.

"Aih! Aku udah lulus SMA, ini aku abis ospek. Makanya pake baju SMA," ujar Anjar.

Anjar saat ini sudah berusia delapan belas tahun, dia merasa kalau dirinya itu sudah mulai dewasa. Anjar bukanlah anak kecil lagi, karena sekarang bahkan dia sudah mulai merintis usahanya sendiri.

"Sama aja masih kecil, baru masuk kuliah, kan?"

Kalau misalkan pria yang ada di hadapannya sudah bekerja, sudah punya gaji dalam tiap bulannya walaupun tidak besar-besar amat, bolehlah pria itu memikirkan masalah jodoh, pikir Cia.

"Iya, tapi aku udah gede, Kak. Jangan lupa tunggu aku lulus kuliah, nanti kita nikah."

Pria itu nampak begitu serius mengajak Cia untuk menikah, tetapi Cia merasa kalau apa yang dikatakan oleh pria itu sangatlah kurang ajar.

"Astagfirullah! Anak kecil bisa banget ngomong gitu, mending kamu kuliah aja yang bener. Abis itu kerja, cari duit yang banyak. Baru nikah," ujar Cia kesal.

Cia sampai menghela napas berat menghadapi pria itu, bisa stress rasanya kalau terus-terusan berbicara dengan pria muda tersebut.

"Iya, iya. Tapi nanti kalau aku udah punya perusahaan sendiri, Kakak nikah ya sama aku?"

"Ogah!" ujar Cia kesal.

Cia yang tidak mau berbicara lagi dengan pria itu langsung pergi dari sana, sedangkan Anjar malah tersenyum-senyum sambil menatap kepergian Cia.

"Ya ampun, dia cantik sekali. Gak salah aku cinta dia dari SD," ujar Anjar yang dengan cepat mencari keberadaan kakeknya.

Apakah kita bisa pacaran?

Cia tersenyum penuh kebahagiaan ketika dia turun dari taksi yang dia tumpangi, kini dia sudah tiba di kediaman Hanzel dan juga Sahira. Dia terlihat tidak sabar sekali ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.

Cia bahkan melangkahkan kakinya dengan tergesa, koper miliknya dia minta pengawal untuk membawakannya.

"Bu, Ayah. Cia pulang!" teriak Cia ketika masuk ke dalam pintu utama.

Dia langsung berlari menuju ruang keluarga, karena biasanya sore hari seperti ini Sahira dan juga Hanzel sedang duduk berdua di ruang keluarga tersebut.

"Cia!" teriak Hanzel dan juga Sahira bersamaan.

Mereka begitu kaget melihat kedatangan Cia, Cia yang begitu merindukan kedua orang tuanya langsung memeluk Sahira dan juga Hanzel secara bergantian.

"Kenapa pulang? Apa sakit?"

Hanzel bertanya dengan penuh perhatian, dia bahkan langsung mengecek suhu tubuh Cia dengan telapak tangannya. Dia menempelkan telapak tangannya di kening Putri sulungnya itu.

"Tapi gak panas," ujar Hanzel.

Cia langsung tertawa melihat kekhawatiran di wajah ayah sambungnya itu, dia memeluk lengan Hanzel dan berkata.

"Cia pulang karena sudah lulus kuliah, lulus dengan nilai tertinggi. Apa kalian bangga?"

"Benarkah?" tanya Sahira yang masih belum percaya mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya.

Hanzel dan juga Sahira tidak menyangka kalau Cia bisa lulus dalam waktu 3 tahun saja, bahkan anak itu lulus dengan nilai tertinggi. Sungguh itu adalah hal yang membanggakan bagi keduanya.

"Iya, Bu. Alhamdulillah Cia bisa menyelesaikan kuliah dalam 3 tahun, alhamdulillah lulus dengan nilai terbaik. Jadi, hadiah apa yang akan kalian berikan kepadaku?"

Bukan tanpa alasan Cia bertanya seperti itu, karena Hanzel dulu pernah menjanjikan akan memberikan hadiah yang besar jika Cia bisa lulus kuliah dengan nilai terbaik.

Apalagi dia bisa menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 3 tahun, tentu saja dia dengan percaya dirinya meminta hadiah kepada kedua orang tuanya.

"Resto baru yang ada di pusat kota, Ayah berikan untuk kamu. Kelola dengan baik, Ayah ingin kamu mengembangkan Resto itu dengan baik."

Wajah Cia langsung berbinar mendengar apa yang dikatakan oleh Hanzel, karena itu artinya dia diberikan kesempatan untuk menampilkan kebiasaannya dalam mengelola Resto milik ayahnya tersebut.

"Siap!" ujar Cia penuh semangat.

"Anak pandai, sekarang kita makan dulu. Kamu parti lapar," ujar Sahira sambil mengajak putrinya untuk pergi ke dapur.

"Aku mau makan sup jamur buatan ibu, rasanya bikin nagih."

"Iya, iya. Ibu pembuatan spesial buat kamu," ujar Sahira.

"Oiya, Bun. Ke mana Zayn sama Zahra?"

"Lagi nginep di rumah kakek," jawab Hanzel.

"Kakek Aksa?"

"Iya," jawab Sahira.

Sore ini bisa di kediaman Hanzel begitu ramai sekali, karena Cia yang begitu merindukan keluarganya terus saja mengoceh. Sahira dan juga Hanzel tentunya terus saja menanggapi apa yang dikatakan oleh putri mereka tersebut.

Pukul delapan malam Cia izin untuk bertanya dengan Dion dan juga Anggun, karena terus terang saja dia begitu merindukan ayah kandungan itu.

Hanzel dan Sahira tentunya berkata kalau Cia oleh menginap di kediaman ayah kandungnya itu, tetapi pagi-pagi sekali harus pulang karena Cia akan diajak ke resto baru dan akan diperkenalkan sebagai pengurus resto tersebut.

"Siap, Ayah. Cia pasti pulang pagi-pagi sekali," ujar Cia.

Mala ini dia benar-benar melepas rindu dengan ayahnya, gadis itu bahkan meminta tidur dengan Dion dan juga Anggun. Keduanya tidak keberatan, karena Cia memang sudah sangat lama tidak bertemu dengan mereka.

Pukul enam pagi Cia sudah berada kembali di kediaman Hanzel, saat dia hendak sarapan bersama dengan kedua orang tuanya, dia bertemu dengan Hafis.

Pria itu datang dengan membawa berkas di tangannya, Cia sampai kaget melihat pria itu. Karena pria itu berpenampilan seperti akan pergi bekerja, bukan seperti ingin pergi kuliah.

"Hafis?"

"Cia?"

Keduanya saling memanggil dengan kaget, karena tidak menyangka pagi ini akan bertemu.

"Kamu kapan pulang?"

"Kemarin sore, kamu nggak kuliah?"

"Alhamdulillah kuliah, tapi ambil kelas karyawan. Jadi, kalau pagi bisa kerja dulu."

"Kamu kerja?"

"Iya, di resto milik ayah kamu. Kamu makin cantik aja, Cia. Hafis makin cinta," ujar Hafis yang langsung mendekat ke arah Cia.

"Apaan sih, Fis. Kamu ngomongnya nggak jelas deh," ujar Cia.

"Cia, kamu jangan pura-pura lupa. Dari dulu aku tuh cinta banget sama kamu, aku bahkan masih menunggu kamu sampai saat ini. Sekarang kamu udah kembali, apa kamu belum mau nerima aku untuk jadi pacar kamu?"

"Ehm! Kamu masih kuliah, Fis. Nanti kita bicarakan masalah ini setelah kamu lulus kuliah aja, bia enak."

"Tapi, Cia. Aku cuma ngajakin kamu pacaran aja dulu, nanti kalau aku udah lulus kuliah baru kita nikah."

"Iya, aku paham. Tapi, aku baru lulus kuliah banget. Nanti aja pacarannya kalau kamunya juga udah lulus kuliah, jadi enak. Aku gak ganggu waktu kuliah kamu," ujar Cia.

Cia takut kalau berpacaran dengan Hafis, pria itu akan malah fokus terhadap dirinya. Hafis sudah bekerja sambil kuliah, aku takutnya kuliahnya malah akan berantakan gara-gara dirinya.

"Kamu nolak aku?" tanya Hafis dengan raut wajah kecewa.

"Nggak nolak, cuma takutnya nanti kamu kurang fokus kalau pacaran sama aku. Karena kamu udah kuliah harus bekerja juga, aku harap kamu paham."

"Oke, aku paham. Oiya, di mana ayah kamu? Aku ada berkas yang harus disampaikan," ujar Hafis.

Cia tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Hafis, karena sungguh sampai saat ini dia tidak ingin berpacaran terlebih dahulu.

Dia ingin membuktikan kepada orang tuanya kalau dia adalah wanita yang mampu menimba ilmu dengan baik dan mampu bekerja dengan baik, dia ingin menjadi wanita yang dibanggakan oleh kedua orang tuanya.

Walaupun lahir sebagai seorang wanita, tetapi dia bisa bekerja seperti seorang pria. Dia bisa dibanggakan oleh kedua orang tuanya, bisa dibanggakan oleh keluarganya.

"Ayah masih di kamar, masih siap-siap kayaknya."

"Kalau gitu aku nunggu di ruang keluarga aja," ujar Hafis.

"Ya," jawab Cia.

Hafis melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, tetapi pikirannya terus fokus kepada Cia. Dia merasa kesal karena ditolak kembali oleh Cia, Hafis berpikir kalau wanita itu menolak dirinya karena malu.

Wanita kita sudah lulus kuliah dalam tempo cepat, sedangkan dirinya masih harus berjuang kuliah dan juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

"Lihat saja, Cia. Aku pasti akan melakukan hal yang membuat kamu bertekuk lutut kepadaku," ujar Hafis pelan tapi penuh dengan penekanan.

Cia gak sabar, ayo!

Pagi ini Cia terlihat begitu bersemangat sekali, karena dia akan mulai bekerja. Selepas sarapan bersama dengan kedua orang tuanya, Cia langsung diantar ke Resto oleh Hanzel, sang ayah sambung.

Tentunya dia tidak langsung ditinggalkan begitu saja ketika tiba di Resto, tetapi pria itu langsung mengenalkan putri sulungnya itu sebagai bos yang baru di Resto cabang.

Saat tiba di ruangannya, Cia langsung berpikir untuk mengembangkan Resto tersebut. Dia memikirkan menu-menu yang harus ditambahkan agar Resto itu semakin hits saja.

Dia ingin Resto yang dikelola itu lebih ramai pengunjung dari biasanya, makanya dia ingin menciptakan menu makanan baru dan juga minum-minuman baru agar para pengunjung ramai.

Dia bahkan sempat berpikir untuk menambahkan menu-menu yang lagi viral, agar nantinya yang datang bukan hanya orang yang bekerja saja, atau yang malas untuk memasak.

Namun, dia ingin menciptakan suasana baru untuk anak-anak remaja agar lebih santai dan nyaman untuk nongkrong dan makan di sana.

"Ini adalah Resto, tapi aku juga ingin menciptakan suasana Kafe di dalam Resto. Sepertinya aku harus mengubah disain agar pengunjung lebih ramai lagi," ujar Cia semangat.

Dia tersenyum sambil menatap layar laptopnya, wanita itu terlihat sekali sedang begitu bekerja keras. Makan siang pun dia sampai berada di dalam ruangan tersebut.

"Udah sore aja, gak kerasa banget."

Cia yang sudah cukup menumpuk idenya nampak keluar dari dalam ruangannya, lalu dia pergi ke dapur dan melihat menu apa saja yang ada.

"Mbak Nina, kayaknya kita harus nambah desert deh. Atau mungkin menu makanan yang lagi viral, biar Resto makin rame."

Cia sedang berbicara dengan salah satu koki di dapur, wanita paruh baya yang dipercaya oleh Hanzel untuk menjadi koki utama. Karena memang wanita itu ikut keluarga Pramudya sejak lama.

"Boleh aja, Neng. Mau nyoba dibuatkan apa sama Mbak?"

Cia terdiam sebentar mendengar pertanyaan dari Nina, dia sedang berpikir menu apa yang sebaiknya dicoba dan pantas dihidangkan sebagai dessert. Hingga tidak lama kemudian dia mencetuskan idenya.

"Bagaimana kalau tambahan dessertnya itu kayak bikin kue kue tradisional gitu loh Mbak? Udah jarang banget aku tuh liat kue tradisional di Resto atau Kafe," usul Cia.

"Boleh banget, Neng. Mbak coba deh bikin kue putu, tapi dibikin mirip kayak cake gitu. Gula merahnya di tengah, atasnya ada taburan kelapa sama sedikit kucuran kinca gula merahnya. Gimana, Neng?"

"Boleh banget, Mbak. Kalau gitu Mbak bikin ya, aku tunggu."

"Siap, Neng."

Dia nampak berkeliling di Resto tersebut, sesekali dia akan membantu pelayan untuk melayani pembeli. Wanita itu bahkan tanpa ragu untuk membantu pelayan membersihkan meja.

Saat adzan maghrib berkumandang barulah ia menghentikan pekerjaannya, dia melakukan kewajibannya terhadap Sang Khalik.

"Ternyata bekerja itu cape, tapi sekaligus menyenangkan," ujar Cia setelah selesai dengan salatnya dan setelah memanjatkan doanya kepada Tuhan.

Wanita itu kembali bekerja, hingga pukul delapan malam dia pergi ke dapur. Dia ingin bertanya kepada Nina, apakah dissert yang dia pesan sudah selesai atau belum.

Pada saat dia sampai di dapur, ternyata bukan hanya ada Nina di sana, tetapi juga ada Hafis yang sedang mengobrol dengan wanita paruh baya itu.

"Loh, Hafis, kok kamu bisa di sini?"

Hafis menolehkan wajahnya ke arah Cia, lalu dia tersenyum dengan begitu manis ke arah wanita yang sudah dia sukai sejak duduk di bangku sma itu.

"Iya, Cia. Pekerjaan aku itu kalau sore udah selesai, terus lanjut kuliah. Nah, sekarang aku baru selesai ngerjain tugas kuliah aku. Jadi, sengaja ke sini. Sekalian mau bantu kamu, biar pulangnya kamu nanti bareng sama aku."

"Kamu itu baik banget sih Fis, kamu tahu aja kalau aku pagi dianterin sama ayah. Jadinya nggak bawa mobil," ujar Cia.

Cia senang karena Hafis terlihat bersikap biasa saja, padahal dia sempat berpikir kalau Hafis akan benci kepada dirinya karena belum menerima cinta dari pria itu.

"Makanya aku jemput kamu, aku bawa mobil kok. Alhamdulillah selama kerja sama ayah kamu, aku bisa membeli mobil."

"Alhamdulillah, kamu itu emang keren."

Di saat keduanya sedang mengobrol, Nina berdehem. Keduanya langsung menolehkan wajah mereka ke arah Nina.

"Kalian itu malah asik ngobrol, mau liat nggak dessert yang udah dibikin sama Mbak?"

"Mau dong, bukan hanya mau lihat doang. Mau nyobain juga enak apa enggaknya," jawab Cia.

Nina tertawa, tak lama kemudian dia menunjukkan dissert yang sudah dia buat. Kue putu yang biasanya dibuat dengan bentuk biasa saja, kini terlihat mewah dan juga enak karena disajikan di tempat cake kue yang begitu menarik.

Cia yang melihat tampilan dari kue putu itu sampai tidak sabar untuk mencoba kue putu bikinan dari Nina, air liurnya terasa hendak menetes.

"Aku coba sekarang ya," ujar Cia meminta persetujuan.

Nina ingin menjawab pertanyaan dari Cia tersebut, tapi Hafis sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaan dari wanita itu.

"Bagaimana kalau nyobain kuenya di ruangan kerja kamu aja? Soalnya bentar lagi mau tutup. Kita bantu Restonya tutup dulu, abis itu kita santai sejenak sambil menikmati kue bikinan Mbak Nina."

"Boleh, Fis." Cia tersenyum setelah mengatakan ha itu, dia sebenarnya malas kalau harus berlama-lama lagi di sana.

Cia ingin segera pulang dan menceritakan pengalaman pertamanya dalam bekerja, tetapi takut membuat Hafis tersinggung.

Akhirnya Cia dan Hafis membantu para karyawan untuk merapikan resto, setelah selesai dan setelah para karyawan pulang, Hafis dan juga Cia duduk di salah satu kursi yang ada di dapur.

Walaupun awalnya Hafis meminta Cia untuk mencoba makanan yang dibuatkan oleh Nina di dalam ruangan wanita itu, tetapi Cia tak menuruti.

Dia lebih memilih untuk mencicipi makanan itu di dapur saja, Cia beralasan agar gampang kalau mau minum. Agar gampang kalau mau mencuci bekas gelas atau piring yang dia pakai.

"Bagaimana rasanya?" tanya Hafis setelah Cia mencicipi kue buatan Nina.

"Rasanya sangat enak, Fis. Langsung lumer di mulut, manisnya pas. Cia suka, kayaknya besok menu ini wajib ditambahkan."

"Kalau enak habiskan," ujar Hafis.

"He'em, kamu mau gak?"

"Aku kurang suka makanan manis, kamu makan aja."

"Jangan nyesel karena gak nyoba," ujar Cia.

"Nggak akan," jawab Hafis.

Cia terus saja menikmati makanan yang dibuatkan oleh Nina, sedangkan Hafis nampak memperhatikan wajah Cia yang semakin cantik saja di matanya.

"Nggak nyangka kue tradisional bakalan seenak ini, aku yakin para pengunjung juga pasti akan suka." Cia mengelap bibirnya dengan tisu, karena kini dia sudah selesai memakan kue putu yang dibuatkan oleh Nina.

"Semoga Restonya makin rame ya," doa Hafis.

"Aamiin, oiya Fis. Aku udah selesai nih, kita pulang yuk?"

Cia sudah mencuci bekas makan dan juga bekas minumnya, dia ingin segera pulang. Dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, dia juga sudah tak sabar untuk bertemu Zayn dan juga Zahra.

"Ayo," ujar Hafis menyetujui.

Namun, baru saja Cia hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja dia merasa kepalanya pusing. Dia juga merasakan tubuhnya begitu panas, di sekitarnya tiba-tiba saja terasa tidak ada hawa.

"Fis, badan aku panas banget. Gerah, kamu juga merasakan hal yang sama?"

"Hah? Gerah? Nggak kok, memangnya kenapa?"

"Panas, Fis. Badan aku panas," ujar Cia sambil mengusap lehernya. Dia juga mengusap dahinya yang mulai berkeringat.

"Kamu kenapa, Cia? Kamu sakit?"

"Nggak tau, tapi ini panas banget. Panas Fis, aku butuh yang adem. Ademin aku, Fis."

Cia tiba-tiba saja merasa kalau Hafis begitu menarik di matanya, dia bahkan merasakan sesuatu yang bergelora dan ingin segera disentuh oleh pria itu.

"Fis, Cia pengen." Cia mengusap pipi, rahang sampai dada Hafis.

"Jangan macam-macam, Cia. Apa yang kamu lakukan!" pekik Hafis.

Cia menggelengkan kepalanya, dia berusaha untuk mengontrol dirinya, tetapi dia tidak bisa. Semakin lama dia merasa ada yang bergelora di dalam tubuhnya, ada sesuatu hal yang panas yang ingin didinginkan.

"Fis," panggil Cia lirih.

"Kamu kenapa sih? Ayo pulang," ajak Hafis sambil menepis tangan Cia karena wanita itu malah berusaha untuk membuka gesper yang dia pakai.

"Fis, ayo!" ajak Cia yang langsung memeluk pria itu.

Hafis dengan cepat mendorong Cia, tetapi tak lama kemudian Cia malah mendorong balik pria itu sampai Hafis jatuh terlentang. Tanpa ragu Cia menaiki tubuh pria itu, dia bahkan langsung menunduk untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Hafis.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!