NovelToon NovelToon

Reinkarnasi Ratu Mafia

Episode 1 Kematian Aurora De Luca

"Dunia ini tidak mengenal belas kasihan. Jika kau lengah, kau mati."

Aurora De Luca tahu itu lebih baik daripada siapa pun.

Sebagai pemimpin tertinggi keluarga mafia De Luca, dia telah melalui pertempuran berdarah, pengkhianatan, dan permainan politik yang tak terhitung jumlahnya. Ia naik ke puncak dengan tangan berlumuran darah dan hati yang membatu. Dunia bawah menghormatinya bukan karena belas kasihan, tetapi karena ketakutan.

Namun, bahkan ratu yang paling ditakuti pun bisa dikhianati.

 

Malam itu, di sebuah gudang tua di pinggiran Palermo, Aurora berdiri tegak, tatapannya dingin dan tajam menelusuri sosok-sosok di sekitarnya. Gudang itu luas, dengan lampu kuning redup yang berkedip-kedip di langit-langit, menciptakan bayangan yang menari di lantai beton yang kotor. Bau besi bercampur darah menyengat, membuat udara semakin berat.

Di hadapannya, Enzo Moretti, tangan kanannya sendiri, berdiri dengan pistol terangkat. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi mata hitamnya menyiratkan tekad yang tak tergoyahkan.

Di belakangnya, sekitar dua puluh orang pria bersenjata, semuanya orang-orang yang dulu berlutut di hadapan Aurora, kini mengarahkan senapan mereka padanya.

Pengkhianatan.

Aurora tersenyum miring. "Jadi ini akhirnya?" suaranya tetap tenang, tanpa sedikit pun rasa takut.

Enzo tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapnya, seolah mencari sesuatu di mata pemimpinnya. "Ini bukan sesuatu yang kuinginkan," katanya akhirnya. "Tapi kau tahu, Aurora. Kau terlalu kuat. Terlalu berbahaya."

Aurora tertawa kecil. "Dan kau pikir kau bisa menggantikanku?"

"Kau telah mengubah De Luca menjadi sesuatu yang tidak seharusnya. Kau ingin terlalu banyak kekuasaan, ingin mendobrak batas yang tidak boleh disentuh."

"Dan itu membuat kalian takut," Aurora menyimpulkan. "Bukan karena aku berbahaya, tapi karena aku bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa kalian lakukan—mengubah permainan."

Enzo tidak membantah.

Aurora mendengus. "Siapa yang ada di belakang ini? Polisi? Keluarga Morello? Atau mungkin bahkan pemerintahan sendiri?"

"Semua orang," jawab Enzo datar. "Kau telah melampaui batas, Aurora. Dunia ini tidak bisa lagi menampungmu."

Aurora mengangguk pelan, menerima fakta itu. Dia sudah lama tahu bahwa hari ini akan tiba. Seorang ratu yang terlalu kuat akan selalu menjadi ancaman bagi para pion.

"Baiklah," katanya, suaranya tetap tenang meskipun puluhan senjata diarahkan padanya. "Kalau begitu, lakukanlah."

Enzo menatapnya sejenak, sebelum menarik pelatuknya.

DOR!

Peluru pertama menghantam perutnya, menembus kulit dan daging dengan mudah. Aurora tersentak, tetapi tetap berdiri tegak.

DOR!

Peluru kedua mengenai bahunya. Darah hangat mengalir ke lengan jas hitamnya, tetapi ia tetap tidak jatuh.

DOR! DOR! DOR!

Satu per satu, para pria di sekitarnya mulai menembak. Aurora merasakan tubuhnya tertarik ke belakang oleh kekuatan peluru yang menghantamnya. Dadanya terbakar, kakinya gemetar, dan penglihatannya mulai buram.

Namun, ia tidak menjerit. Tidak memohon. Tidak menangis.

Bahkan ketika tubuhnya jatuh berlutut, ia tetap tersenyum.

Dengan sisa kekuatannya, ia mengangkat kepalanya, menatap Enzo dengan tatapan yang masih penuh dengan rasa superioritas.

"Jangan berpikir kau bisa menggantikan aku, Enzo," suaranya serak, tetapi masih tajam. "Kau hanya akan menjadi bidak lain dalam permainan yang lebih besar."

Lalu, untuk terakhir kalinya, Aurora De Luca jatuh ke tanah.

Darahnya menggenang di lantai beton yang dingin. Dunia menjadi gelap.

Dan kemudian—

 

Aurora terbangun...

Detik pertama, ia hanya melihat putih. Cahaya terang menusuk matanya, membuatnya mengerjap beberapa kali. Rasa sakit masih ada, tetapi anehnya tidak setajam yang ia bayangkan.

Ia menarik napas dalam-dalam—dan merasakan dadanya yang lebih kecil naik turun dengan pelan.

Aurora mengerutkan kening. Ada sesuatu yang salah.

Saat kesadarannya pulih, ia mencoba menggerakkan tangannya dan melihat kulitnya yang lebih halus, lebih kecil. Ia menyentuh wajahnya dan merasakan struktur yang berbeda—rahang yang lebih lembut, pipi yang lebih tirus.

Panik mulai merayap dalam pikirannya.

Ia duduk dengan cepat, tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Matanya menyapu ruangan—sebuah kamar sederhana, dengan dinding bercat putih dan perabotan murah.

Tidak ada gudang tua. Tidak ada mayat. Tidak ada pengkhianatan.

Lalu, di sudut meja kecil, ia melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan.

Cermin.

Dengan tangan gemetar, ia mengambil cermin itu dan menatap pantulan dirinya.

Yang ia lihat bukanlah Aurora De Luca, pemimpin mafia yang ditakuti dunia.

Yang ia lihat adalah wajah seorang gadis muda, sekitar 17 tahun, dengan mata yang tampak lelah dan bekas luka samar di sudut bibirnya.

Ia mengenali wajah itu—tidak secara pribadi, tetapi dari ingatan yang tiba-tiba membanjiri kepalanya.

Nama gadis ini adalah Elena Zhao.

Dan dia bukan siapa-siapa.

Seorang anak yang selalu diperlakukan seperti sampah oleh keluarganya. Seorang gadis yang dipukuli, dihinakan, dan ditinggalkan. Seorang korban.

Aurora memejamkan matanya, meresapi kenyataan baru ini.

Dia, Aurora De Luca, Ratu Mafia, telah mati.

Tapi entah bagaimana—

Dia hidup kembali.

Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya.

Episode 2 Terbangun di Tubuh Elena Zhao

Kesunyian menyelimuti kamar kecil itu. Hanya suara napas pelan yang terdengar, sesekali tersendat saat Aurora—atau lebih tepatnya, Elena Zhao—mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi.

Tangan mungilnya masih gemetar saat ia menelusuri wajahnya sendiri, seolah mencoba membuktikan bahwa semua ini hanya mimpi buruk. Namun, sensasi kulit yang lebih halus, rambut panjang yang lebih lembut, serta tubuh yang lebih kecil daripada yang biasa ia miliki adalah bukti nyata bahwa ini bukan mimpi.

Ia benar-benar bukan Aurora De Luca lagi.

Rasa marah dan frustrasi mendidih di dadanya. Ia, pemimpin mafia paling ditakuti di Eropa, telah mati dengan cara yang hina—dikhianati oleh orang kepercayaannya sendiri. Namun, alih-alih menuju ketiadaan atau neraka yang pantas baginya, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis muda yang bahkan tidak memiliki kekuatan untuk melawan.

“Bajingan...” gumamnya pelan, suara baru yang lebih ringan dan lembut terdengar asing di telinganya.

Siapa Elena Zhao?

Seakan menjawab pertanyaannya, memori asing mulai menyerbu pikirannya tanpa peringatan. Rasa sakit menyerang kepalanya, membuatnya merintih pelan dan memegangi pelipisnya. Gambaran demi gambaran muncul dalam pikirannya—masa lalu gadis ini yang dipenuhi penderitaan.

Elena Zhao. 17 tahun. Anak kandung Zhao Tian, seorang pengusaha sukses di bidang real estate, tetapi dianggap sebagai aib oleh keluarganya sendiri. Ibunya, istri pertama Zhao Tian, meninggal saat ia masih kecil, dan sejak saat itu kehidupannya berubah menjadi neraka.

Ibu tiri, Liu Mei, membencinya dan memperlakukannya seperti pelayan di rumahnya sendiri. Saudara tirinya, Zhao Ren, selalu mencari kesempatan untuk menyakitinya, baik secara fisik maupun mental. Sementara itu, ayahnya? Ia tak lebih dari bayangan yang hanya muncul untuk memberi tatapan penuh penghinaan.

Di sekolah pun, ia tidak memiliki tempat untuk berlindung. Shen Yue, si ratu sekolah yang selalu iri padanya, memastikan bahwa tidak ada satu pun hari di mana Elena bisa hidup dengan tenang. Dan yang paling menyakitkan—Jiang Han, tunangan yang dijodohkan sejak kecil dengannya, justru menjadi orang pertama yang mempermalukannya di depan semua orang.

Kepala Aurora berdenyut hebat. Memori ini begitu menyakitkan, penuh dengan penghinaan dan ketidakadilan.

Elena Zhao telah mengalami begitu banyak penderitaan, sampai akhirnya...

Tubuh ini mati.

Ia bisa merasakan ingatan terakhir gadis itu—rasa dingin yang menjalari tubuhnya, suara tawa jahat ibu tirinya, dan tubuhnya yang terbaring lemah setelah disiksa habis-habisan. Seperti bunga yang layu, Elena kehilangan cahayanya dan menyerah pada kegelapan.

Namun, saat gadis itu mati—Aurora hidup kembali dalam tubuhnya.

Aurora membuka matanya perlahan. Napasnya masih sedikit tersengal, tetapi pikirannya kini lebih jernih.

Jika Tuhan memberinya kesempatan kedua, maka dia tidak akan membuangnya dengan sia-sia.

Dia telah mati sekali.

Dia tidak akan mati kedua kalinya.

Dia, Aurora De Luca, tidak pernah menjadi korban.

Ia perlahan bangkit dari tempat tidur yang sempit itu, merasakan tubuh barunya yang masih lemah dan dipenuhi luka. Saat berdiri, ia melihat pantulan dirinya di cermin yang terletak di sudut ruangan.

Seorang gadis dengan tubuh kurus dan wajah pucat menatapnya kembali. Matanya yang dulu redup kini menyala dengan ketegasan yang baru. Luka memar menghiasi lengannya, bekas lebam samar masih tampak di lehernya.

“Begitu lemahnya kau, Elena Zhao...” gumamnya pelan.

Namun, gadis itu sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah Aurora De Luca dalam tubuh yang baru.

Dan mulai sekarang—tidak akan ada seorang pun yang berani menyentuhnya lagi.

Episode 3 Memori Pahit Elena

Kesunyian masih menyelimuti kamar kecil itu. Hanya suara napas pelan yang terdengar saat Aurora—sekarang Elena Zhao—duduk di tepi tempat tidur, merenungkan nasib baru yang kini harus ia jalani.

Kepalanya masih terasa berat, seolah ribuan ingatan berusaha menyerbu masuk sekaligus. Setiap gambar yang muncul di benaknya membawa rasa sakit yang begitu nyata, seperti luka lama yang kembali dibuka.

Memori Elena Zhao bukanlah sesuatu yang indah untuk dikenang.

---

Masa Kecil yang Kesepian

Elena adalah anak tunggal dari pernikahan pertama Zhao Tian dan mendiang istrinya, Song Lian. Sejak kecil, ibunya adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya. Song Lian selalu mengatakan bahwa Elena adalah gadis yang istimewa, bahwa suatu hari ia akan bersinar seperti bintang.

Namun, harapan itu hancur ketika ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil yang mencurigakan.

Elena yang saat itu baru berusia lima tahun tidak mengerti banyak hal. Yang ia tahu hanyalah bahwa ibunya telah pergi dan tidak akan pernah kembali.

Dan ayahnya?

Zhao Tian tidak pernah benar-benar peduli pada keberadaannya. Ia sibuk dengan bisnis, dan saat ia kembali ke rumah, tatapannya selalu dingin. Elena tumbuh dalam kesepian, tanpa kasih sayang dari siapa pun.

Namun, kesepian itu masih bisa ditahan—setidaknya sampai Liu Mei datang ke dalam hidupnya.

---

Neraka Bernama Keluarga Zhao

Zhao Tian menikahi Liu Mei ketika Elena berusia tujuh tahun. Awalnya, wanita itu bersikap manis, tersenyum lembut di depan ayahnya. Tapi begitu Zhao Tian pergi bekerja, topeng itu langsung runtuh.

Liu Mei mulai memperlakukannya seperti sampah—bukan dengan pukulan, tetapi dengan sikap dingin yang perlahan-lahan membunuh jiwa seorang anak kecil.

“Elena, mulai sekarang, kau harus belajar bagaimana menjadi anak yang tahu diri.”

“Elena, jangan makan terlalu banyak. Kau tidak boleh membebani keluarga ini.”

“Elena, ayahmu tidak suka anak perempuan yang cengeng. Jangan menangis.”

Awalnya hanya kata-kata. Tapi lama-kelamaan, hinaan berubah menjadi tamparan.

Jika Elena melakukan kesalahan kecil—seperti menjatuhkan gelas, atau mendapatkan nilai buruk—Liu Mei akan mencubit tangannya sampai membiru.

Ketika saudara tirinya, Zhao Ren, lahir, semuanya menjadi lebih buruk.

Sebagai putra satu-satunya Zhao Tian, Zhao Ren diperlakukan seperti pangeran kecil. Semua orang di rumah itu memujanya, termasuk pelayan-pelayan yang hanya berani diam saat melihat ketidakadilan yang terjadi.

Zhao Ren tumbuh menjadi anak yang kejam, mungkin karena ia melihat bagaimana ibunya memperlakukan Elena.

Sejak kecil, ia sering menarik rambutnya, menendangnya di bawah meja saat makan malam, atau bahkan menyembunyikan barang-barangnya hanya untuk melihatnya menangis.

Saat Elena mengadu pada ayahnya, Zhao Tian hanya menatapnya dingin.

“Jangan bersikap kekanak-kanakan, Elena. Kau harus lebih dewasa.”

Sejak saat itu, ia berhenti mengadu.

Karena tidak peduli seberapa keras ia mencoba, tidak ada yang akan berpihak padanya.

---

Penderitaan di Sekolah

Sekolah seharusnya menjadi tempat di mana seorang anak bisa merasa aman. Tapi bagi Elena, sekolah sama saja dengan neraka yang lain.

Saat masuk SMA, ia bertemu dengan Shen Yue—gadis kaya raya yang selalu haus akan perhatian.

Awalnya, Shen Yue hanya membencinya karena ia tunangan dari Jiang Han, pria yang disukai banyak gadis di sekolah. Namun, seiring waktu, kebencian itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih kejam.

Setiap hari, Shen Yue dan teman-temannya akan menyebarkan gosip tentang Elena—bahwa ia anak haram, bahwa ibunya adalah wanita simpanan, bahwa ayahnya tidak menginginkannya.

Mereka akan menjatuhkan bukunya di lorong, mencuri seragam olahraganya, bahkan sekali waktu mendorongnya ke kolam renang saat musim dingin hanya untuk melihatnya menggigil kedinginan.

Dan Jiang Han?

Pria itu tidak pernah sekalipun membelanya.

Bahkan, ia sering ikut menertawakannya, seolah menikmati penghinaan yang diterima Elena.

Elena dulu mengira bahwa meskipun ia tidak dicintai oleh keluarganya, setidaknya tunangannya bisa menjadi seseorang yang peduli padanya.

Tapi kenyataannya?

Jiang Han adalah orang yang pertama kali mengkhianatinya.

---

Puncak Penderitaan

Malam sebelum kematian tubuh ini, Liu Mei dan Zhao Ren menyeretnya ke gudang belakang rumah. Mereka menuduhnya mencuri perhiasan yang sebenarnya tidak pernah ia sentuh.

“Elena, kau benar-benar tidak tahu malu,” suara Liu Mei penuh kebencian. “Kami sudah memberimu tempat tinggal, makanan, dan pakaian. Dan kau membalasnya dengan mencuri?”

“Aku tidak mencurinya!” Elena menangis, tetapi ia tahu bahwa kata-katanya tidak akan pernah didengar.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya, membuatnya terhuyung.

“Kau pikir ayah akan percaya padamu?” Zhao Ren mencibir. “Dia bahkan tidak peduli apakah kau hidup atau mati.”

Mereka memukulinya malam itu. Bukan untuk membunuhnya, tapi untuk membuatnya menderita.

Namun, tubuh Elena yang lemah sudah tidak bisa bertahan lagi.

Di tengah rasa sakit yang menusuk, kesadarannya perlahan menghilang.

Dan saat itu—Aurora De Luca masuk ke dalam tubuhnya.

---

Kembali ke Masa Kini

Aurora membuka matanya dengan tajam.

Pikirannya kini telah sepenuhnya terhubung dengan memori tubuh ini. Ia tahu segalanya.

Ia merasakan segalanya.

Amarah memenuhi dadanya, bukan karena tubuh ini lemah, tapi karena tidak ada seorang pun yang melindungi gadis ini.

Elena Zhao telah mati dalam keputusasaan, tidak pernah mengenal cinta atau perlindungan.

Tetapi sekarang, tubuh ini bukan milik Elena lagi.

Ini adalah miliknya.

Aurora De Luca tidak akan menjadi korban.

Dengan tangan yang masih gemetar, ia menatap bayangannya di cermin. Mata yang dulu kosong kini menyala dengan sesuatu yang baru—kekuatan, tekad, dan amarah yang selama ini tidak pernah dimiliki tubuh ini.

Ia menarik napas dalam, lalu menggerakkan bibirnya, mengucapkan kata-kata yang membuat udara di sekelilingnya terasa lebih dingin.

“Mulai sekarang, aku bukan Elena Zhao.”

“Aku adalah Aurora De Luca.”

Dan bagi mereka yang telah menyiksanya?

Mereka akan belajar bahwa seorang ratu tidak pernah bisa dihancurkan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!