"Kejar bajingan itu, jangan biarkan dia lolos, bila perlu habisi dia, dan ambil uangku kembali!" titah seorang pemuda pada kedua temannya dan sekaligus anak buahnya.
Pemuda yang tidak lain yang memiliki nama Bobi sangat murka pada pemuda yang membuat dirinya kalah dalam balapan tadi.
Bobi memerintahkan kedua temannya sekaligus yang menjadi anak buahnya untuk mengejar pemuda yang mengalahkannya dan membawa uang hasil taruhan balapan.
Kedua anak buah Bobi yang tidak lain Doni dan Beni , keduanya langsung mengejar pemuda yang mengalahkan bosnya yang sudah sedikit jauh dari posisi mereka.
Sementara orang-orang masih riuh meneriaki nama pemuda yang mengalahkan Bobi, dan membuat Bobi tambah murka.
"Tambahkan kecepatan, jangan sampai kita kehilangannya, nanti bos lebih marah lagi!" titah Doni pada Beni yang bonceng dibelakang.
Mendengar itu Beni langsung menambah kecepatan motornya. Sedangkan Ariel pemuda yang mengalahkan Bobi juga menambah kecepatan motor gedenya itu agar kedua anak buah Bobi tidak dapat mengejarnya.
Dengan perasaan sedikit takut dan pikiran yang berkecamuk, Ariel mencoba tenang dan tetap mengendarai motor gedenya agar terbebas dari kejaran dua orang anak buah Bobi.
Ariel seorang pemuda tampan yang pintar dan cerdas, di usia yang saat ini 26 tahun dia sudah menjadi hafiz Al-Qur'an semasa dia di pondok pesantren.
Ariel bukan hanya hafiz Al-Qur'an, dia juga saat ini sedang memimpin dan meneruskan perusahaan Papanya yang sudah tiada saat dia masih di pondok.
Ariel keluar dari pondok karena harus mengganti Papanya yang sudah tiada untuk meneruskan perusahaan keluarganya.
Ariel Anak tunggal dari pasangan Tuan Anton Dan Nyonya Rita. Setelah Tuan Anton meninggal Ariel kini hanya tinggal dengan Mamanya dirumah besar dan mewah.
Ariel punya hobi dan cita-cita menjadi pembalap di waktu dia SMA, namun semua itu harus dia kuburkan karena demi berbakti kepada kedua orang tuanya yang memintanya untuk belajar di pondok pesantren.
Malam ini Ariel harus terjun kedunia balapan karena tantangan dari Bobi yang menjadi rivalnya dimasa SMA.
Bobi menantang Ariel balapan bukan hanya dengan taruhan tapi dia juga seperti punya dendam pada Ariel, Bobi juga ingin membuat Ariel celaka, namun Ariel lebih pintar dan jago darinya sehingga disaat balapan Bobi tidak sempat mencelakakan Ariel.
Jadi Ariel memenangkan balapan, dan membawa uang kemenangannya, sehingga membuat Bobi marah dan menyuruh anak buahnya untuk membunuh Ariel.
Ariel sebenarnya tidak mau uang itu, namun dia harus mengambilnya untuk membuat Bobi kapok. Ariel bermaksud uang menang dari balapan itu ingin diberikan ke panti asuhan untuk membantu Anak panti.
"Sial, mereka masih mengejar." Gumam Ariel saat melihat kedua anak buah Bobi masih mengejarnya, padahal Ariel sudah jauh mengendarai motornya sehingga sudah sampai di perkampungan.
"Kita harus membunuh bajingan itu malam ini agar bos Bobi senang." Ujar Beni diangguki oleh Doni.
Aksi kejar mengejar masih berlanjut, walaupun sudah sampai di perkampungan dan ditambah malam yang semakin larut.
***
Ditempat lain seorang pemuda yang sebaya dengan Ariel, terlihat bolak balik dengan Hp ditangan dan sesekali terlihat menempelkannya ditelinga seperti sedang mencoba menghubungi seseorang.
"Bagaimana, apa sudah bisa dihubungi?" tanya seorang wanita paruh baya yang masih cantik dan anggun diusianya yang hampir memasuki kepala lima.
Wanita cantik yang anggun itu tidak lain adalah Rita, Mamanya Ariel. Nyonya Rita bertanya pada Deril apa Ariel Putranya sudah bisa dihubungi, karena dia khawatir malam sudah larut Ariel belum juga pulang dan Ariel juga tidak mengirim dia satu pesan pun.
Deril menggeleng kepala. "Belum, Ma, Hpnya tidak aktif." Jawab Deril.
Deril, asisten Ariel, sekaligus sahabat yang sudah dianggap saudara oleh Ariel dan keluarganya.
Deril Anak yatim piatu yang di bawa tinggal dirumah oleh Tuan Anton dan Nyonya Rita yang mereka temukan di jalan.
Deril diasuh dan dibesarkan oleh Nyonya Rita dan Tuan Anton dengan kasih sayang yang sama seperti Ariel, Nyonya Rita tidak pilih kasih, walaupun Ariel Anak kandungnya.
Jadi tidak heran kalau Deril memanggil Nyonya Rita Mama sama seperti Ariel memanggil Nyonya Rita.
"Kemana perginya itu Anak, tidak biasanya seperti ini." Nyonya Rita terlihat khawatir.
"Mama tenang, lebih baik Mama kekamar dan istirahat, aku akan keluar mencari Ariel!"
Nyonya Rita mengangguk, dia bangkit dari duduknya, tangan kiri dan sebelah bahunya diapit oleh Deril menuju kamarnya.
"Kamu harus mencari Ariel, minta bantuan Renaldi dan Pak Reno!" titah Nyonya Rita setelah Deril mengantarnya sampai kekamar.
"Iya Ma, Mama istirahat ya, Mama jangan khawatir, aku pasti akan mencari Adikku." Jawab Deril sambil menutupi tubuh Nyonya Rita dengan selimut.
Setelah itu, Deril langsung keluar dari kamar Nyonya Rita, dia terlihat menghubungi seseorang, mungkin saja itu adalah Re, Renaldi, nama panggilannya Re.
"Re, aku butuh bantuan mu, kamu kerumah sekarang." Deril langsung mengakhiri sambungannya tanpa menunggu jawaban dari Re.
Renaldi sahabat Ariel dan Deril, ketiganya sekolah di sekolah yang sama, dari sekolah dasar hingga sampai SMA.
Sekarang Re, direktur utama disebuah hotel milik keluarga Ariel, sedangkan Pak Reno, orang kepercayaan Tuan Anton.
Pak Reno dulu asisten pribadi Tuan Anton, namun sekarang dia sudah mengelola semua restoran milik keluarga Ariel juga.
Pak Reno dipensiunkan dari perusahaan oleh Ariel karena kasihan umur Pak Reno sudah tidak muda lagi, tapi Ariel tidak memberhentikan Pak Reno permanen, dia menyuruh Pak Reno mengelola semua restoran karena direstoran Pak Reno bisa bekerja 2 hari dalam seminggu.
***
Ariel masih melajukan motornya dengan kekuatan penuh, namun kedua anak buah Bobi masih juga bisa mendeteksinya.
Hingga akhirnya didepan Ariel ada tikungan dengan pagar pembatas karena disebelah pagar itu ada sungai.
Ariel sudah tidak bisa mengerem motornya karena kecepatan motor yang tidak memungkinkan.
Ariel menabrak pagar pembatas antara jalan dengan sungai. Biarpun Ariel sudah menekan rem namun tetap saja motornya tidak akan berhenti dengan tiba-tiba sehingga motor oleng dan menabrak pagar.
Ariel jatuh bersama motornya, dengan tubuh yang sedikit lecet dan terluka, Ariel mencoba bangkit dan melepaskan helm yang dari kepalanya.
Tidak lama kemudian kedua anak buah Bobi tiba ditempat Ariel terjatuh. Sedangkan Ariel sudah berjalan tertatih tatih sembari menahan sakit pada luka akibat terjatuh tadi.
"Kamu mau kemana, sialan?" tanya Beni dengan suara kasar seakan ingin mencabik-cabik tubuh Ariel.
Langkah Ariel terhenti, dia membalikkan tubuhnya menghadap Doni dan Beni.
"Apa mau kalian?" tanya Ariel walaupun dia tau keduanya mengejarnya pasti ingin membuat dirinya celaka.
"Hahaha, kamu masih bertanya, sepertinya kamu tidak takut mati. Kembalikan uang bos kami, dan kamu harus mati malam ini." Vonis Doni seakan dia adalah malaikat pencabut nyawa.
"Heh, kamu bukan Tuhan, hidup mati seseorang bukan kamu yang menentukan, mungkin saja kalian berdua yang akan mati malam ini, rahasia Allah tidak ada satupun manusia yang tau." Jawab Ariel meringis sembari menahan sakit pada luka ditubuhnya.
"Kurang ajar, cepat bunuh dia!" titah Doni pada Beni sembari mengeluarkan pisau dan mendekat pada Ariel.
Bersambung.
"Kurang ajar," umpat Beni langsung menyerang Ariel di ikuti oleh Doni juga.
Ariel walaupun sakit dia melawan dan menghindar dari serangan Doni dan Beni.
Ariel sebenarnya dia pernah belajar ilmu bela diri, namun keadaannya sekarang sedang terluka jadi dia kewalahan melawan dua orang sekaligus.
Perkelahian terjadi beberapa saat, nampaknya ketiganya tidak ada yang kalah, semuanya imbang.
Ariel mencoba melawan Beni yang memegang pisau, Ariel harus hati-hati agar tidak kena pisau dari Beni.
Sekarang nampak Beni sangat kewalahan melawan dan mengelak dari pukulan Ariel. Ariel hampir menang namun tanpa disangka Doni memukul Ariel dari belakang dengan benda tumpul sehingga membuat Ariel tidak berdaya lagi.
"Akh." Suara Ariel saat dipukul oleh Doni dari belakang, Ariel tidak hilang kesadaran, dia hanya lemas saja.
Namun Doni tidak menyia-nyiakan kesempatan, Doni langsung memegang kedua tangan Ariel kebelakang dan menyuruh Beni menusuk Ariel dengan pisau ditangannya.
"Cepat tusuk dia, dia sudah tidak berdaya!" titah Doni pada Beni.
Tentu saja Ariel merasa takut, namun dia sudah tidak bisa mengelak atau melawan karena pukulan Doni membuat dirinya setengah sadar.
"Oke." Jawab Beni langsung menusuk perut Ariel dan melepaskan Ariel hingga Ariel jatuh terbaring ditanah.
"Ambil uangnya!" titah Doni lagi pada Beni. Beni langsung merogoh setiap saku Ariel hingga dia menemukan apa yang dia cari.
"Apa aku bilang, kami akan membunuh mu, kamu pasti mati malam ini." Ucap Doni setelah Beni mengambil uang dari Ariel.
"Sekarang bagaimana, apa kita biarkan saja dia disini?" tanya Beni pada Doni.
"Kita harus membunuhnya, agar bos Bobi senang dan tidak ada saingan lagi." Jawab Doni sembari meletakkan jemari dibawah hidung Ariel untuk memastikan kalau Ariel masih hidup atau sudah mati.
"Dia masih bernafas, dorong aja dia kedalam sungai itu agar mati dimakan buaya!" titah Doni lagi.
"Oke siap." Jawab Beni segera mendorong tubuh Ariel yang sudah tidak sadarkan diri kedalam sungai.
Setelah memastikan tubuh Ariel jatuh kedalam sungai, keduanya juga mendorong motor Ariel agar tidak ada bukti kalau polisi tau perbuatan mereka.
Setelah memastikan tidak ada yang tersisa, keduanya kembali meninggalkan lokasi tempat mereka membunuh Ariel.
"Ayo pulang, sebelum ada yang melihat kita.'' Ajak Doni pada Beni.
"Oke ayo." Jawab Beni langsung menghidupkan motor gede mereka dan pergi dari lokasi itu.
***
"Ada perlu apa?" tanya Re saat sudah sampai dirumah orang tua Ariel.
"Ariel belum pulang, dia tidak ada kabar sejak tadi sore, aku khawatir terjadi apa-apa sama dia. Mama juga sangat khawatir, dia memintaku menelpon mu untuk mencari Ariel."
"Ya sudah kalau begitu, tunggu apa lagi, kita harus segera pergi, apa lagi ini sudah larut." Ajak Re setelah mendengar penjelasan dari Deril.
"Ayo." Jawab Deril, kedua lelaki tampan itu langsung keluar dari rumah mewah itu.
Keduanya menuju kemana restoran yng sering didatangi Ariel. Deril juga mencoba menghubungi beberapa tempat yang sering Ariel datangi dengan harapan Ariel ada disitu.
Namun jawaban dari orang yang Deril hubungi, tetap tidak membuat kekhawatiran Deril dan Re tenang, Ariel tidak ada ditempat itu.
"Gimana, apak kata mereka?" tanya Re melihat pada Deril. Deril menggeleng kepala.
"Ariel tidak ada disitu, mereka bilang sudah tidak melihat Ariel sejak dari tadi pagi." Jawab Deril memberitahu Re.
" Ya sudah, lebih baik kita cari kerestoran itu, mudah-mudahan dia ada disitu." Ajak Re segera mengemudikan mobilnya menuju restoran tempat biasanya Ariel kunjungi.
Tidak lama kemudian, Deril dan Re tiba direstoran yang dimaksud oleh mereka tadi.
Keduanya masuk dan melihat keseluruhan meja, namun tidak ada orang yang mereka cari, Deril mencoba bertanya pada karyawan ataupun kasir, namun tidak ada satupun yang melihat Ariel.
Deril dan Re keluar dari restoran itu, keduanya mencoba mencari ketempat lain, namun semuanya sama, Deril dan Re menjadi frustasi.
"Kita sudah mencari kemana-mana, tapi nihil, dia tidak ada." Ujar Deril dengan wajah lelah dan perasaan khawatir.
"Coba kamu telepon dia lagi, siapa tau sudah aktif!" titah Re yang juga sudah khawatir pada Anak majikannya itu.
Deril mengambil Hpnya dan segera menekan nomor Ariel lagi dengan harapan nomor sudah aktif dan sudah tersambung dengan Ariel.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada diluar jangkauan." Terdengar suara operator.
Deril langsung mematikan panggilannya, sembari menatap Re dan menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak dapat dihubungi.
"Masih tidak aktif, aku heran tidak biasanya dia tidak memberitahuku kalau dia tidak pulang." Deril nampak benar-benar frustasi.
"Ini sudah hampir pagi, kita tidak mungkin mencarinya lagi, akan lebih baik kita pulang dulu, besok kalau Ariel tidak pulang kita akan meminta bantuan untuk mencarinya." Ujar Re diangguki oleh Deril.
Akhirnya Deril dan Re kembali kerumah masing-masing, namun Deril tetap tidak tenang, dia memikirkan Nyonya Rita, jika besok pagi dia bangun dan menanyakan Ariel, apa yang harus Deril jawab.
"Kenapa wajah mu terlihat gelisah?" tanya Re saat melihat wajah Deril tidak tenang.
"Aku hanya memikirkan apa yang harus ku jawab kalau esok Mama bertanya Ariel padaku." Jawab Deril.
"Kita sudah berusaha, kita sudah mencari kemana-mana, tapi tetap saja tidak kita temukan, kamu bilang aja seperti itu, aku yakin Nyonya Rita pasti mengerti." Re mencoba menenangkan dan memberi solusi agar Deril tidak gelisah lagi.
Deril mengangguk, karena benar apa yang dikatakan Re, apa lagi besok dia akan mencari Ariel lagi.
Tidak lama kemudian Deril Samapi dirumah, dia langsung kekamar untuk istirahat, karena besok dia harus mencari Ariel lagi jika Ariel belum pulang juga.
***
Waktu terus berjalan, suara azan subuh sedang berkumandang, seorang lelaki paruh baya membuka matanya karena mendengar suara azan.
Lelaki yang usianya sudah berkepala lima itu segera bangkit dari tempat istirahatnya, dia membangunkan istrinya untuk melakukan kewajibannya sebagai umat muslim.
"Bu, ayo bangun, sudah subuh, kita sholat." Ajak lelaki paruh baya itu pada istrinya.
Lelaki paruh baya yang bernama Imran itu sangat teguh pada kewajibannya sebagai hamba Allah.
Walaupun hidupnya serba kekurangan, dia tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai umat muslim.
Pak Imran setiap hari bekerja dikebun orang kaya di desanya, walaupun selalu dimarahi oleh yang punya kebun Pak Imran selalu sabar, karena dia butuh uang untuk menghidupi keluarganya.
"Iya Pak," jawab istri Pak Imran yang bernama Siti. Buk Siti seorang wanita penyayang, penyabar dan lembut, walaupun Pak Imran lelaki miskin tapi Buk Siti selalu setia menemani Pak Imran.
Keduanya hidup rukun dan bahagia, keduanya juga dikaruniakan seorang Putri cantik yang sekarang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren Kyai Ilham.
Bersambung.
Setelah melakukan kewajibannya, Pak Imran dan Buk Siti berdoa, bersama memohon dipanjangkan umur, dimudahkan rezeki, dan juga meminta agar ibadahnya diterima oleh Allah SWT.
Selesai berdo'a dan berzikir alam sudah mulai terang karena pagi sudah tiba.
Pak Imran bersiap-siap untuk pergi ke kebun karena pagi ini Pak Imran harus memetik tomat yang sudah bisa dipanen.
Buk Siti juga menyiapkan bekal untuk suaminya karena Pak Imran selalu makan siang dikebun.
"Pak, ini bekal, untuk Bapak bawa." Ujar Buk Siti meletakkan bekal untuk suaminya dimeja sederhana diteras rumah.
"Iya Buk, terimakasih ya." Jawab Pak Imran mengambil bekal dan pamit pada Buk Siti.
Dijalan Pak Imran bertemu dengan Pak Amir, atau orang-orang di desa itu memanggilnya Ustadz Amir.
Ustadz Amir adalah tetangga Pak Imran, Ustadz Amir tidak suka pada Pak Imran karena Pak Imran miskin.
Pak Imran sebenarnya masih punya ikatan saudara dengan Ustadz Amir, tapi saudara jauh.
Ustadz Amir juga memiliki pondok kecil dirumahnya, dia juga mengajarkan Anak-anaknya mengaji di desanya.
"Beginilah kalau jadi orang miskin, pagi-pagi buta sudah siap untuk ke kebun," sindir Ustad Amir.
Namun sindiran itu tidak di endahkan oleh Pak Imran, Pak Imran hanya tersenyum menanggapinya, dan geleng-geleng kepala sendiri.
Tapi Ustadz Amir tidak terima dicuekin oleh Pak Amir, dia mengomeli Pak Imran dengan kata-kata kasar.
"Hei Imran, kamu sudah tidak punya telinga ya, kamu sudah pekak ya?" Ustadz Amir mengomeli Pak Imran.
"Maaf ya Ustadz, saya sedang buru-buru ke kebun." Pak Imran masih dengan senyum dan bersikap sopan.
"Dasar orang miskin." Ujar ustadz Amir lagi." menghina kemiskinan Pak Imran.
Pak Imran tidak mau memperpanjang obrolan, karena dia tau nanti akan jadi pertengkaran. Pak Imran meninggalkan ustadz Amir yang melihatnya sinis sendiri disana, sedangkan dia melanjutkan perjalanannya ke kebun.
***
Sementara dirumah Ariel, Nyonya Rita buru-buru keluar dari kamarnya setelah bersholawat selepas sholat subuh.
Nyonya Rita buru-buru kekamar Ariel, karena dia pikir Ariel sudah pulang saat dia tertidur tadi malam.
Nyonya Rita segera membuka pintu kamar Ariel sembari berkata. " Sayang kamu sudah pulang?" Nyonya Rita sangat antusias masuk kedalam kamar Ariel.
Namun wajah Nyonya Rita menjadi redup, senyum dibibirnya dan hati yang senang, kini berganti khawatir saat melihat tidak ada Putranya dikamar itu.
Dengan perasaan yang tidak menentu, Nyonya Rita keluar dari kamar Ariel, dia langsung mengetuk pintu kamar Deril.
"Tok, tok,tok." Bunyi pintu diketuk oleh Nyonya Rita, namun tidak ada jawaban dari dalam.
Nyonya Rita mencoba mengetuk lagi, namun sama, tetap tidak ada jawaban.
Nyonya Rita kembali, dia kedapur memanggil Bibi yang sedang membuat sarapan.
"Bik, Bibi," panggil Nyonya Rita. "Iya Nya," jawab Bik Erni, meninggalkan pekerjaan dan menghadap Nyonya majikannya.
"Ada apa Nya?" tanya Bik Erni saat sudah sampai dihadapan Nyonya Rita.
"Bik, apa tadi malam Anak-anak pulang?" tanya Nyonya Rita pada Bik Erni.
Bik Erni menggeleng kepala, karena dia tidak melihat Ariel dan Deril pulang.
"Tidak tau Nya, mungkin Den Ariel dan den Deril pulangnya kemalaman, dan saya sudah ngantuk.
"Tidak ada, Ariel tidak ada dikamar, tadi aku sudah kekamarnya, tapi Deril aku ketuk-ketuk pintu kamarnya, dia tidak menjawab." Ujar nyonya Rita.
"Mungkin Den Deril pulangnya terlalu malam, dia tidak mendengar nyonya ketuk pintu karena masih tertidur, kalau begitu biar saya lihat dulu ya Nya." Bik Erni langsung pergi kekamar Deril dan di ikuti oleh Nyonya Rita dibelakang.
"Den, Den Deril," Panggil Bik Erni sedikit keras sambil mengetuk pintu agar Deril bisa mendengar dan terbangun dari tidurnya.
Bik Erni mengetuk lagi, karena sama seperti Nyonya Rita tadi, didalam kamar itu tetap tidak ada yang menjawab.
"Den, Den Deril." Panggil Bik Erni sekali lagi tentu dengan suara dan ketukan yang lebih keras dari sebelumnya.
"Iya Bik." Jawab Deril didalam kamar sembari menggeliat.
"Nah, dijawab, Berarti Den Deril ada didalam kamar." Ujar Bik Erni pada Nyonya Rita sembari tersenyum.
"Tapi Ariel tidak ada di kamarnya, dia sudah tidak ada kabar dari sore kemaren, aku khawatir terjadi apa-apa sama dia." Ujar Nyonya Rita dengan raut wajah cemas.
Bik Erni mengusap bahu Nyonya Rita, sambil bergumam dalam hati membenarkan apa yang dikatakan oleh majikannya.
"Benar juga, dari kemarin aku tidak melihat Den Ariel, jangan-jangan --" Gumam Bik Erni terpotong karena pintu kamar Deril terbuka.
Deril nongol sambil bersandar di daun pintu. Nyonya Rita langsung mendekat.
"Nak, gimana Adik mu, apa kamu sudah menemukannya?" tanya Nyonya Rita masih dengan raut wajah cemas dan sedih.
"Maaf Ma, aku dan Re, tadi malam tidak menemukan Ariel, tapi Mama tidak usah khawatir, kami akan mencari lagi nanti." Jawab Deril sembari mengusap bahu Nyonya Rita agar Nyonya Rita tidak sedih dan khawatir.
"Nyonya, Den Deril, saya kedapur lagi ingin melanjutkan buat sarapan." Pamit Bik Erni.
"Iya Bik." Jawab Deril. Sedangkan Nyonya Rita hanya melihat saja.
Setelah Bik Erni kedapur, Deril menuntun Nyonya Rita yang sudah menjadi Mamanya sejak dia masih kecil.
"Ma, Mama duduk disini dulu ya, Deril mau mandi sebentar, Mama jangan banyak pikiran, aku yakin Ariel tidak apa-apa, Mama tidak usah khawatir, sebentar lagi aku dan Re akan menemukan Ariel." Ucap Deril menuntun Nyonya Rita duduk ditempat tidurnya.
Nyonya Rita hanya mengangguk, bagaimanapun, dia tidak bisa tenang karena Putranya tidak pulang dan tidak ada kabar, apa lagi Hp nya tidak bisa dihubungi, dan tidak biasanya Ariel seperti ini.
Disaat pikiran Nyonya Rita sedang kalut dan menerawang kemana-mana, dia ingat Abahnya.
"Ya, Abah, Ariel pasti kepondok Abah, kalau begitu aku telpon Abah dulu." Gumamnya dan langsung keluar dari kamar Deril.
Nyonya Rita kembali kekamarnya untuk mengambil Hpnya ingin menghubungi Abahnya di pondok.
Deril yang keluar dari kamar mandi, dia melihat Mamanya sudah tidak ada di kamar, Deril langsung buru-buru memakai baju dan keluar mencari Mamanya.
Deril melihat Mamanya diruang tamu sedang menelpon seseorang, Deril langsung menghampiri Mamanya yang ternyata sedang menelpon Kakeknya.
Setelah Nyonya Rita mengakhiri pembicaraannya, Deril langsung bertanya.
"Apa kata kakek, apa Ariel disana?" tanya Deril karena dia mendengar tadi Mamanya sedang menanyakan Ariel pada Kakeknya.
Nyonya Rita menggeleng lesu sembari berkata. "Dia tidak disana, Kakek mu bilang Ariel menelponnya tadi malam dan dia bilang mau balapan untuk yang terakhir kali." Nyonya Rita memberi tahu Deril seperti yang Abahnya bilang.
"Balapan, apa mungkin, tidak, tidak mungkin." Gumam Deril menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa kamu geleng-geleng kepala, apa kamu tau sesuatu?"
Bersambung.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!