Langit penuh dengan kegelapan. Petir menyambar di sana-sini... Seakan langit terlihat seperti terbelah menjadi beberapa bagian. Lautan juga tidak tenang. Itu adalah suasana badai yang begitu luar biasa dahsyatnya.
Segalanya menjadi kacau. Korban disana sini. Para peri kehilangan kemampuan terbangnya. Para Mermaid dan Merman kehilangan kemampuan berenangnya, Para Leprechaun kehilangan kreatifitasnya, Para kaum bangsawan kehilangan keajaiban dari para kuda mereka, dan Para penyihir kehilangan kemampuan sihir mereka.
Enam dunia runtuh dalam satu malam. Penguasa dari sisi tergelap di lautan dalam memusnahkan keseimbangan dunia mitologi.
Tidak ada yang mampu menghentikan itu semua. Dia sudah terbangun dari tidurnya.
Dan sepasang pancaran merah mata muncul di balik lautan badai. Sampai kemudian... Suara raungan keras membangunkannya.
…
Mata terbuka lebar.
Seorang gadis remaja enam belas tahun langsung terbangun dari tidurnya setelah bermimpi yang aneh, mengerikan, dan terus berulang setiap harinya.
Dia bernama Melody. Untuk sejenak duduk menjuntaikan kaki di tepi ranjang, hanya menenangkan diri, sampai alarm pada ponsel miliknya yang semalam terbawa tidur bersamanya lalu berbunyi.
Itu sudah pukul delapan pagi. Begitulah yang diperingatkan oleh teman elektroniknya.
Sampai dirinya kemudian mendengar suara benda pecah dari arah luar kamar. Melody pun bergegas mengecek. Keluar dari dalam kamarnya yang berada di lantai atas. Tapi dia sudah tahu dan bisa menebak apa yang telah terjadi di bawah sana.
Menghentikan langkahnya sejenak di balik atas tangga sana, Melody, memandang Ibunya yang berada di lantai dapur sana. Ibunya yang sedang sibuk membersihkan sesuatu di lantai dapur. "Jangan bilang kalau Ibu memecahkan piring lagi," Ucapnya dengan suara masih lemas mengantuk. Mengucek-ngucek sebelah matanya.
"Melody?! Baguslah akhirnya kau bangun," Terkejut mendapati kehadiran Melody. Sejenak berhenti dari kesibukannya yang tergesa-gesa.
"Bisa bantu Ibu bereskan ini?!" Minta Ibunya.
Melody lalu lanjut melangkah turun dan membantu menyingkirkan pecahan-pecahan piring itu.
Mengambil sapu pengki mini beserta seroknya.
"Ini sudah ketiga kalinya. Kenapa akhir-akhir ini Ibu selalu memecahkan piring saat pagi hari?!" Selip Melody sambil membantu Ibunya membersihkan setiap serpihan piring. Berusaha tidak ada satupun yang terlewat_ apalagi ada serpihan-serpihan kecil yang sulit terlihat dan mungkin bisa saja akan menancap pada kaki mereka ketika melangkah nanti.
Tanpa menunggu respon dari Ibunya... Ketika selesai urusannya pada pecahan piring, Melody langsung membuangnya ke tempat sampah di samping kabinet.
"Um... Ibu baik-baik saja?!" Tanya si Melody ketika kembali menghadap ke arah Ibunya. Dirinya melihat Ibunya hanya terdiam bengong. Tatapannya seakan mengambang.
"Ouh! Ya tentu! Ibu baik-baik saja," Respon seperti tersengat dari Ibunya. Kembali berdiri, "Duduk dan makanlah," Lanjutnya sambil menarik bangku makan untuk Melody dan lalu melanjutkan kesibukannya pada cucian piring.
Melody duduk. Tapi matanya hampir tak henti menatap arah Ibunya yang berpaling arah darinya.
Baru melumuri pancake dengan olesan madu... Melody mendengar suara tersedu-sedu.
Melody tidak bisa melihat wajah Ibunya di balik sana. Tapi dirinya tahu kalau Ibunya sedang menangis. Lagi. Selalu seperti itu setelah dia tanpa disengaja memecahkan piring seperti yang baru saja terjadi.
Melody tahu ada sesuatu yang menggangu Ibunya. Tapi dirinya berusaha tidak ikut campur dalam apapun masalah yang sedang dialami Ibunya.
Melody bergegas menyelesaikan sarapan paginya.
Sambil dipikir-pikir... Mungkin itu karena Ayah.
Melody idak mengingatnya. Saat itu dirinya masih berumur mungkin sekitar delapan bulanan dan masih lebih sering dirawat oleh pengasuh yang disewa oleh Ibunya. Yang dia tahu, Ayahnya belum kunjung pulang ke rumah sampai sekarang.
Ibunya bilang kalau dia terlalu sibuk bekerja di luar kota. Melody bahkan tidak mengingat seperti apa tampang wajah Ayahnya, karena dirinya sudah ditinggal pergi terlalu awal.
Dengan alasan yang tidak jelas Ibunya juga tidak mau menunjukan foto Ayah kepadanya. Ibunya juga berusaha tidak mau melihat fotonya lagi.
"Ibu...," Lirihnya. Melody menyahutnya dari belakang.
Mengelap bekas air mata di pipinya, "Ya?!" Ibunya sedikit menoleh.
"...Kapan Ayah pulang?!" Lanjut Melody tanpa terlalu fokus memandang ke arah Ibunya. Tanganya sibuk memotong, mencongkel potongan pancake dengan garpu, dan memasukannya ke dalam mulutnya.
"Ibu... Tidak tahu," Sahut Ibunya. Sejenak berpaling menghadap Melody. "Dia mungkin masih tidak bisa datang dalam waktu yang lebih lama. Dia...
Menelan kunyahannya, "Terlalu sibuk?!" Melody memotong dan menyambung kalimat dari Ibunya. "Tidak apa Bu! Aku paham." Tatapanya fokus.
Samar kepala Ibunya mengangguk. "Maaf Melody," Lirihnya. Dan Melody melanjutkan menyantap sarapannya.
"Selesaikan makananmu. Ibu mau pergi persiapkan Mobil dulu," Lanjut Ibunya_ berusaha melupakan pembicaraan tadi. Mematikan keran air, dia lalu langsung meninggalkan cucian piring yang belum diselesaikannya dan pergi keluar rumah.
Melody memutar kepalanya ke belakang kursi. Memandang Ibunya yang sempat mengelus kepalanya sambil beralu pergi.
Selesai urusan sarapan padi dan segalanya sudah dipersiapkan... Mereka langsung berangkat.
...SRAAAAK!...
Ban mobil mengerem tepat di luar gerbang depan halaman sekolah. Setelah Ibunya mengendarai mobil seperti para pembalap liar di jalanan Tokyo. Tapi mau bagaimana lagi. Saat itu waktu hampir menunjuk pukul delapan tiga puluh pagi dan Melody hampir terlambat. Itulah kenapa, kali itu Ibunya terpaksa mengantar Melody menggunakan Mobil. Walaupun jarak antara rumah dan sekolah terbilang tidak terlalu jauh. Karena biasanya Melody akan pergi dengan berjalan kaki.
Malam kemarin sepertinya membuat Melody dan Ibunya sulit untuk bangun lebih pagi lagi. Tetangga di perumahan tempat tinggalnya terus membuat suara bising dengan perkakas. Padahal malam itu sudah waktu jam tidur.
"Untunglah masih sempat," Ucap Ibunya sambil memandang arah luar jendela yang baru dibukanya_ di sisi bangku yang diduduki Melody. Bahunya terturun lega.
"Astaga Ibu terlalu berlebihan. Aku tidak akan di eksekusi hanya karena terlambat," Sahut Melody. Memandang Ibunya dengan sebelah alis matanya yang terangkat.
"Terlambat ke sekolah di hari pertama itu memalukan Melody! Sekarang cepatlah sebelum mereka mengunci pintu sekolahnya lagi," Putusnya. Ibunya membuka kunci pintu mobil.
Melody kembali menggantung tas di bahunya lalu keluar dari mobil.
DRAP! Pintu mobil ditutupnya.
Baru menutup pintu dari luar sana, "Hey sayang...," Ibunya memanggil dari dalam mobil.
"Ya?!" Melody kembali berpaling sejenak.
"...Titip salamku kepada Abigail ya! Bilang juga kepadanya kalau aku memesan selusin tambahan untuk kue mangkuk itu lagi," Lanjut Ibunya. Mencondongkan tubuhnya ke sebrang bangku. Lebih mengeraskan suaranya kepada Melody dari balik jendela mobil_ arah Melody diluar sana.
"O..Ke!" Sahutnya, lalu kembali berpaling dan pergi.
"Aku mencintaimu sayang!"
"Aku mencintaimu juga Bu!" Sahut Melody, kembali menoleh sambil berjalan mundur.
Ibunya juga lalu pergi meninggalkannya_ pergi ke tempat dia bekerja sebagai duta pelestarian ekosistem laut.
Ibunya bertanggung jawab dan dipercaya untuk mengurus daerah pantai maupun lautan. Dia dan teman-teman dari satu organisasinya memperhatikan kebersihan laut dan juga penyelamatan bagi hewan-hewan laut.
Mereka juga memiliki tempat rehabilitasi bagi hewan laut yang sakit, sebelum siap untuk kembali dilepaskan ke alam bebas.
Melody berharap bisa menjadi seperti Ibunya kelak nanti. Mengikuti jejak Ibunya. Mungkin.
Untuk sekarang, dirinya harus menyelesaikan sekolah yang penuh dengan pelajaran yang membosankan terlebih dahulu. Tapi bukan berarti semuanya. Beberapa pelajaran yang melibatkan pengetahuan alam menjadi salah satu yang diminati Melody.
Dia sendiri tidak begitu yakin apa alasannya. Melody hanya merasa tertarik dengan alam. Itu saja!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak banyak baginya untuk bersenang-senang bersama yang lain. Dirinya lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca buku di perpustakaan, ketimbang berkumpul bersama golongan murid-murid penggerutu yang hampir tidak pernah hentinya menggosipkan hal-hal tidak penting. Terutama para gadis.
Karena itulah Melody disebut sebagai gadis kutu buku oleh teman-temannya. Bahkan hampir seluruh sekolah menyebutnya begitu.
Tapi Melody tidak mempermasalahkan itu. Setidaknya, dirinya tidak memakai kaca mata tebal yang membuat dirinya dipandang lebih rendah lagi. Mungkin juga aneh. Tapi Hey! Lagi pula siapa bilang orang yang memakai kaca mata selalu dipandang aneh.
Diri Melody lebih suka menganggapnya sebagai si jenius bermata empat.
Seperti Theo. Salah satu teman sekelasnya. Dia mungkin agak kikuk dan culun dengan penampilan kaca mata bulatnya. Tapi kepintarannya dalam matematika atau pelajaran fisika tidak diragukan. Bahkan hampir seluruh kelas akan terus mengandalkannya dan mengharapkannya untuk memberikan mereka contekan saat ujian.
Peringatan... Jangan ditiru!
"Melody...!" Dan satu lagi yang baru saja memanggilnya dari kejauhan. Dia juga salah satu teman sekelasnya, juga menjadi salah satu sahabat utama baginya. Dan dialah yang namanya sempat disebut oleh Ibu Melody saat memikirkan mobilnya di bunderan jalan utama sekolah sebelumnya tadi.
Abigail berlari cepat menghampiri Melody yang sedang mempersiapkan beberapa buku di loker sekolah miliknya.
"Aku kira Teresa menahanmu di halaman depan sekolah lagi," Ucapnya sambil memeluk erat Melody. Lainnya yang berlalu di lorong loker yang sama hanya menggeleng melihat reuni berlebihan mereka berdua. Atau mungkin karena Abigail.
"Um Abi...," Melepas pelukan lengket si sahabatnya, "Mereka menatap kita lagi. Jangan sampai mereka akan menyebut kita sebagai W B F F A E A !"
"Apa artinya itu?!"
"Weird Best Friend Forever And Ever After!"Jelas Melody yang sedikit menyelipkan maksud candaan.
Mendengar kalimat darinya membuat Abigail tidak bisa menahan tawanya yang beberapa kali terdengar tersedak seperti suara Piggy Snork. Ujung jari-jemari satu tangannya sambil mempagari depan mulut.
"Hm, aku lihat ada yang baru darimu," Diujung tawaan meredah Abigail, mata Melody melirik ke atas kepalanya. Lebih tepatnya pada rambut gaya buns dua Abigail. Sebagian rambutnya juga diwarnai warna hijau. Bisa ditebak kalau dia habis mesalon rambutnya.
"Hijau?! Aku kira kau benci warna hijau?!" Pikir Melody seingatnya. Abigail pernah mengatakan kepadanya kalau warna hijau menggambarkan cairan lendir yang menjijikan. Seperti semacam dari dalam hidung.
"Tidak lagi! Lagi pula hijau berarti mencintai alam. Dan lihat! Aku juga bahkan mengganti kasing ponselku dengan warna hijau!"
Melihat dia menunjukan ponsel miliknya tepat di depan wajahnya, "Oo...ke?!" Ekspresi wajah Melody agak tegang. Berharap sahabatnya itu baik-baik saja. Tiba-tiba menyukai sesuatu yang dulu dibencinya itu agak aneh menurut Melody.
"Ya um... Cocok untukmu!" Melody berusaha memujinya. Tidak mau mempusingkan itu. Dirinya juga tidak lupa memberikan salam dari Ibunya dan juga pesanan untuk selusin kue mangkuk tadi.
Dan Abigail langsung mencatatnya pada buku note kecil. Dikeluarkan dari ranselnya.
Abigail dan kedua orang tuanya adalah pemilik dari toko kue yang berada tidak jauh di jalanan sebrang sekolah. Dan sebagiannya buatan tangan Abigail sendiri.
Saat Abigail sedang mencatat pesanan dari Ibu Melody...
NGIIIIIING...
Denging suara dari speaker pengeras suara yang salah satunya berada di atas kepala mereka_ tidak jauh di lorong loker sekolah sana. Tanda akan ada pengumuman yang biasa diumumkan langsung dari kepala sekolah.
Tapi ternyata bukan. Kali Itu dari ketua OSIS mereka.
…
"Selamat pagi semua kawan-kawanku! Maaf jika menganggu kalian. Tapi aku ingin menyampaikan mengenai sukarelawan untuk pelayanan spesial makeover rambut dariku di bulan ini. Secara acak... Murid selanjutnya yang terpilih adalah...
"ABIGAIL! selamat ya!"
…
"APA?!!" Namanya disebut dalam pengumuman itu membuat Abigail yang tadi sedang fokus mencatat pesanan sontak teralihkan. Dia seakan tersengat dengan ekspresi begitu terkejut. Wajahnya terpaku lurus ke depan.
"Kenapa wajahmu begitu?!" Melody heran. Memperhatikan wajahnya yang mulai memucat.
"Abigail?!" Lagi darinya. Kembali berusaha memastikan segalanya baik-baik saja. Tapi nyatanya tidak bagi Abigail. Jika namanya masuk dalam daftar pelayanan makeover dari ketua OSIS, itu berarti sesuatu yang buruk.
Hampir semua murid di sekolah itu sudah tahu kalau Ketua OSIS mereka yang bernama Delphine itu sama sekali tidak memiliki keterampilan dalam merombak penampilan rambut. Terutama dalam hal memotong rambut.
Abigail pernah melihat hasil dari pekerjaannya kepada banyak murid lain yang sudah pernah masuk dalam daftarnya. Itu buruk dan hasilnya benar-benar mengerikan.
Sulit untuk dijelaskan! Pokoknya buruk!
Tapi sepertinya tidak menurut Melody. Menurutnya, hasil dari makeover Delphine cukup memuaskan dan bagus. Kerena Melody sendiri pernah menjadi salah satu daftar random sukarelawannya sewaktu sebelum hari libur panjang renovasi sekolah.
Itu berarti delapan bulan yang lalu. Dan waktu itu cuaca begitu panas di Kanada.
"Abigail... Aku tahu kau mendengar ini! Jadi bersiaplah! Chap! Chap!" Sambung dari ketua OSIS yang nada suaranya sengaja dibuat-buat menghanyutkan seperti hantu atau seorang penguntit yang sedang mengincar korban. Di suatu tempat, dia juga sambil memainkan gunting di depan mikrofon. Sebelum dia kemudian menutup komunikasinya lewat pengumuman tadi dengan suara cekikikan.
Karena mendengar kalimat dan suara gunting atau juga cekikikan darinya itu... Abigail, sontak menjerit keras dan langsung bergegas berlari menjauh dari lorong loker sekolah sana. Yang lain yang sedang berada di lorong yang sama sigap menepikan tubuh mereka ketika Abigail berlalu.
Melody hanya bisa samar tertawa geli sambil menggeleng. Abigail mungkin salah memahami apa yang dilakukan Delphine.
Saat jam pelajaran dimulai...
Sebagian dari mereka, termasuk Melody, hanya duduk lemas menopang dagu di atas meja. Pak Albert selalu mengajar pelajaran Fisika selama tiga jam di hari selasa.
Jangan tanya soal Theo. Dia tentu saja begitu berambisi dalam pelajaran itu. Bahkan hanya dia yang dapat menjawab lima belas pertanyaan berturut-turut dalam sekali pertemuan.
Hanya tangannya yang semangat mengangkat.
Dan masih di tengah pelajaran... "Tling!" Suara notifikasi terdengar cukup jelas di dalam kelas mereka.
Itu suara dari dalam tas Melody. Ponselnya.
Semua sontak teralihkan dan serentak menatap ke arahnya. Yang mengantuk juga langsung tersadar dari rasa bosannya. Termasuk Melody sendiri. Dia langsung menegakan posisi duduknya ketika ponsel miliknya sendiri berbunyi.
Matanya terbelalak.
"Melody! Aku sudah bilang tidak ada ponsel yang aktif di kelasku!" Tuan Albert menegurnya. Sebagian murid yang lain menertawai karena kesialannya.
"Maaf Tuan Albert!" Sahut Melody pelan. Dirinya juga langsung bergegas mengurus ponselnya. Tangannya merogoh saku seragamnya.
"Baiklah kita lanjutkan! Dan jangan ada yang tertidur. Itu berarti kau, Rafael!" Tuan Albert kembali berpaling menghadap papan tulis. Tapi pandangannya sempat fokus menatap salah satu murid yang lain.
"Hah?!" Rafael mengeluh.
"Dasar kau ini! Kau akan membuat kami semua terkena masalah!" Sindir samar dari yang lain. Teresa memasang wajah masam kepada Melody.
"Ekh!" Melepas nafas kesal. Melody memutar mata_ berusaha cuek. Lalu kembali fokus pada urusan notifikasi pada ponselnya, tapi lebih sembunyi-sembunyi walaupun Tuan Albert tidak lagi fokus memperhatikannya. Menggunakan lembaran halaman buku sebagai penutup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ceknya... ada seseorang yang baru saja mengirim pesan kepadanya.
Entah dari siapa itu. Melody tidak mengenalnya dan bahkan nomor dan akunnya tidak terbaca. Tapi Melody tetap bisa melihat apa yang dikirimnya.
Pesan teks yang berisi...
"All Creatures Unite! Six World Must Be Protected. For The Mighty Icarus, And For Mythtopia !"
Orang asing itu juga mengirimi gambar kepadanya. Terlihat seperti sebuah buku komik dengan judul Mythtopia tertulis pada kover depannya. Seperti pada kalimat yang dikirimkannya.
"?!" Menurunkan alisnya bingung. Melody tidak paham apa maksudnya.
Tapi saking terlalu fokusnya pada pesan itu, Melody, sampai tidak peka terhadap sekitarnya. Karena ada yang sedang berjalan menghampirinya.
"Ini terakhir kalinya, Melody! Kau bisa ambil lagi ponsel mu ketika jam pelajaran kelas ku selesai!" Ujar Tuan Albert. Dia langsung merebut paksa ponsel miliknya itu dari tangannya dan di taruhnya di atas meja guru.
Melody hanya terdiam pasrah.
Kutu buku tapi hampir tidak permah fokus dalam pelajaran. Mungkin itu yang sedang dipikirkan oleh Tuan Albert saat itu. Padahal Melody hanya suka membaca dan bukannya berarti pintar dalam berbagai macam pelajaran. Dan dia adalah gadis yang mempedulikan penampilan.
Nyatanya... Dia menjadi salah satu dari lima gadis tercantik di sekolahnya. Tapi sayangnya Melody dianggap beban karena sifat pergaulannya.
Begitulah...
Sampai bel setelah tiga jam penuh kebosanan pun selesai, dan Melody sudah boleh mengambil ponsel miliknya yang tadi sebelumnya disita. Tapi karena ulahnya, yang lain juga harus ikut terkena masalah.
Mereka semua diminta untuk membersihkan halaman sekolah sebelum boleh pulang sekolah.
Setelah Tuan Albert berjalan keluar kelas, "Luar biasa sekali Melody! Bagus, dan terimakasih berkatmu!" Teresa langsung beranjak berdiri tegak dari bangkunya. Kaki belakangnya mendorong kursi mundur dengan kuat_ membuat Kaki kursi berdecit keras pada lantai seperti jeritan banshee. Dia kemudian pergi keluar meninggalkan kelas sambil terus menggumam tidak jelas.
Kebanyakan yang lain juga satu persatu langsung keluar dari kelas, tapi dengan tatapan mereka yang sempat mengarah pada Melody sambil lalu. Tatapan kesal tersirat di wajah mereka.
Melody sudah terbiasa dalam kondisi seperti itu. Dan lagi... Dia hanya menanggapinya santai dan tidak terlalu dipusingkan. Tapi Melody berharap tidak selamanya begitu.
Saat di kelas, para murid hanya menunggu waktu jam pelajaran usai. Tapi saat jam istirahat, mereka akan membentuk grub kecil dan berkumpul di sudut tempat terpisah. Di kafetaria, ruang kelas yang sepi untuk menyiapkan perangkap aksi prank, atau juga bermain beberapa jenis permainan olahraga. Sebagai contohnya permainan American Football yang tempatnya tersedia di lapangan belakang sekolah.
Sebagian juga ada yang membuang waktunya percuma dengan menunggu di depan tempat toilet sekolah yang tersedia di halaman luar sekolah. Biasa golongan grub yang suka membuat onar.
Mereka akan meminta uang bagi siapa saja yang ingin masuk ke dalam kamar mandi sana. Atau juga sekedar mengerjai yang lain dengan memberikan beberapa teka-teki menyebalkan ala troll penjaga jembatan.
Preman sekolah yang menjengkelkan!
Beberapa murid yang lain terutama yang adik kelas rela untuk berusaha menahan rasa buang air kecil mereka, atau juga terpaksa menggunakan toilet menyeramkan yang berada di dalam sekolah. Lebih tepatnya yang berada di sudut ruang atau ujung lorong yang jarang sekali dilalui penghuni sekolah.
Dan seperti yang sudah dikatakan sebelumnya... Melody lebih memilih menyendiri di ruang perpustakaan.
Di jam istirahat, Melody biasa pergi ke perpustakaan. Menghabiskan waktu untuk membaca_ apapun yang dianggapnya menarik. Tapi bukan itu tujuan utamanya kali ini. Dia mengajak Abigail bersamanya untuk menunjukan kiriman pesan misterius yang membuatnya terkena masalah tadi.
Abigail akan menyusulnya. Dia lebih dulu mengambil laptop dari loker miliknya. Hampir tidak pernah pergi tanpa membawa benda yang paling diandalkan dalam hidupnya. Tapi dia harus diam-diam. Kali itu tidak mudah baginya berjalan di tengah lorong. Jelas sekali, itu karena pengumuman langsung dari Delphine, si ketua OSIS dan juga sekaligus menjadi ketua kelas setingkat dengan Melody.
Tapi dia menempati ruang kelas kedua dari tiga ruang kelas untuk pelajar tingkat sepuluh.
Jadi dia berada di kelas berbeda saat pelajaran berlangsung tadi.
"Hyuh! Hampir saja!" Abigail baru tiba di perpustakaan. Menutup pintu rapat dari dalam.
"Baiklah... Jadi apa yang mau kau katakan kepadaku?" Melangkah menghampiri meja yang ditempati Melody.
"Pesan ini!" Menunjukan isi pesannya. Menghadapkan layar ponsel kepada Abigail yang baru saja menaruh laptop miliknya di atas meja. Dan Abigail mengambil ponsel dari tangan Melody.
Menarik kursi duduk di sebelah Melody... Matanya fokus.
"Aku juga tidak mengerti," Ucapnya. Abigail sama sekali tidak paham apa maksud dari pesannya. Tapi Abigail berusaha mencari tahu gambar yang ada bersama teks pesan yang ada di ponsel Melody itu.
Mencarinya dengan Laptop miliknya.
"Tunggu sebentar... Aha! Ini dia!" Abigail akhirnya menemukan sesuatu. Hanya satu hasil dari penelusurannya di internet.
Abigail sedikit memutar laptopnya menghadap Melody, dan Melody ikut memperhatikan. Itu gambar juga beserta info lengkap dari buku komik yang serupa seperti yang dikirim bersama pesan misterius itu. Mythtopia.
Tertulis pada satu-satunya situs web yang menyinggung buku tersebut... Kalau buku itu hanya diproduksi seratus jumlahnya. Menjadikannya buku langkah dan tidak sembarangan orang dapat memilikinya.
Dan tertulis di sana... Kalau buku itu bukanlah buku biasa. Si pembuat situs web juga mengatakan ada dunia lain yang tersembunyi di dalamnya. Dunia penuh makhluk-makhluk mitologi ajaib. Dari yang mengagumkan... sampai yang golongan mengerikan.
Orang itu mengaku pernah ke sana. Dan dia juga sedang mencari buku lain yang serupa. Tapi orang-orang yang berkomentar di kolom komentar tidak percaya dan menganggapnya gila.
Melody memang tertarik dengan yang berbau cerita fiksi atau fantasy negeri dongeng. Tapi dia hanya sekedar menyukai dan bukannya percaya. Dan mungkin orang pembuat situs web itu memang gila.
Tidak mungkin ada yang semacam itu.
"Apa mungkin orang ini yang mengirim pesan kepadamu?!" Abigail hanya mengira. Tapi tidak yakin. Lagipula bagaimana orang itu tau atau mengenal Melody.
"Aku tidak yakin dengan itu," Sahut Melody. Abigail kembali menutup laptopnya.
"DRAAP...," Suara derap pintu besar perpustakaan terbuka. Mendengarnya... Abigail sontak langsung bergegas bersembunyi dibalik meja. Tapi dia menyembulkan intip sedikit kepalanya untuk mengecek siapa yang datang.
Mengira itu Delphine tapi ternyata bukan. Itu hanya Theo_ yang disebut Melody sebagai si jenius bermata empat.
"Oh, ternyata hanya kau," Tatapannya berubah datar. Abigail merinding untuk sesaat. Kembali keluar dari persembunyiannya.
"Sepertinya ada seseorang yang sedang diincar," Ucapnya sambil melangkah ke arah meja yang ditempati Melody dan Abigail. "Delphine tadi bertanya kepadaku dimana Kau!"
"Dan kau jawab apa?!" Abigail fokus dengan jantungnya yang berdebar.
"Aku menjawab aku tidak tahu," Jawabnya. Membuat Abigail menurunkan bahu lega. "Fiuh! Baguslah!"
"...Dan... aku juga bilang... Hey! Coba periksa di perpustakaan. Mungkin dia ada di sana! Dan dia bilang kepadaku, Oh! terimakasih sayang!" Lanjut kalimat dari Theo.
"Apa?!!" Respon melonjak si Melody dan Abigail bersamaan. Tapi keduanya merespon dalam arti yang berbeda.
Abigail terkejut karena Theo benar-benar membongkar tempat persembunyiannya. Sedangkan Melody terkejut karena Delphine menyebut Theo dengan sebutan sayang?!
Dan tak lama setelah Theo baru saja mengatakan itu...
...DRAAP!...
Terdengar suara pintu perpustakaan lagi.
Mereka bertiga sontak serentak menoleh pada arah pintu. Dan dari kejauhan... ada kepala mengintip miring dari sela sebelah pintu yang terbuka sebagian.
Dan ternyata kali Itu sungguh Delphine. Ekspresinya langsung berubah ketika melihat keberadaan Abigail di sana. Tersenyum miring dengan tatapan menyipit tajam.
"Disitu kau rupanya!" Serunya. Dia memiliki gaya penampilan rambut panjang bergelombang dengan sedikit warna cat merah maroon.
"Abigail... Aku dataaang!" Delphine lalu menerobos masuk. Berjalan cepat kearah keberadaan Abigail sambil memainkan gunting itu lagi.
Chap Chap!... Chap Chap!...
Ketahuan... Abigail lagi-lagi menjerit kencang. Terjadilah aksi kejar-kejaran seperti kucing dan tikus. Mereka berlarian di antara lorong barisan rak-rak buku. Untung saja si pengawas perpustakaan sedang tidak ada disana. Kalau tidak, mereka pasti akan dihukum tidak boleh meminjam apapun buku dari perpustakaan selama satu semester.
"Kau tidak bisa lari dariku Abigail! Rambutmu miliku!" Serunya sambil tak henti mengejar dan memainkan gunting.
Melody melipat kedua tangan di depan dadanya sambil menggeleng. Samar tersenyum miring di bibirnya. Sedangkan Theo tertawa lepas sambil memperhatikan Abigail terus dikejar oleh Delphine. Dia sepertinya benar-benar menikmati kesialan Abigail.
"Sampai bertemu lagi di kelas ya Melody!" Selip Abigail cepat, sambil mengambil kembali laptopnya dari atas meja dan lekas lanjut berlari menjauh keluar dari ruang perpustakaan. Dan Delphine menyusulnya keluar.
Duduk di tempat kursi yang tadi ditempati Abigail "Aku beruntung terlahir sebagai laki-laki!" Theo menyenderkan punggungnya, sambil menyantaikan kedua tangan di belakang kepalanya.
"Memangnya kenapa?!"! Melody menoleh. Pandangannya fokus.
"Dengan begitu aku tidak akan berurusan dengan gadis seperti Delphine," Jawab Theo terlalu pede.
"Sebaiklah kau lebih hati-hati dengan perkataanmu! Biasanya jika kita terlalu membandingkan dan menyindir kehidupan orang lain dengan milik kita, itu akan berbalik," Jelas Melody memperingatkannya.
"Puff!" Melepas nafas masa bodo. Theo tetap santai dan tidak memikirkan ke arah situ.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!