Bayu melangkah ringan, matanya berbinar menatap kotak beludru merah muda di genggamannya. Di dalamnya, sebuah cincin berlian kecil bersemayam—bukan yang paling mahal, tapi yang paling berarti. Cincin ini bukan sekadar perhiasan, melainkan bukti perjuangannya. Bukti bahwa ia, dengan kedua tangannya sendiri, mampu memberikan sesuatu yang berharga untuk Laras.
Di seberang jalan, Laras berdiri di trotoar, matanya menangkap sosok lelaki yang begitu ia rindukan. Bayu. Dengan kemeja sederhana dan senyum yang selalu mampu menghangatkan hatinya.
Mereka saling bertatapan. Saling melempar senyum. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Bayu melambaikan tangan, penuh semangat, seakan berkata, Tunggu aku, Sayang. Aku datang dengan hadiah untukmu.
Laras tersenyum lembut, membalas lambaian itu. Angin senja berhembus, menggoyangkan rambutnya yang tergerai. Bayu sudah bersiap menyeberang.
Lalu segalanya hancur.
Tiba-tiba suara klakson meraung, tajam dan memekakkan. Mata Laras membelalak, napasnya tercekat melihat sebuah mobil melaju tak terkendali menuju Bayu.
“BAYU!”
Semuanya terasa begitu cepat, tapi juga seperti berjalan dalam gerakan lambat. Bayu sempat menoleh, senyum masih mengembang di bibirnya—sebelum tubuhnya terpental keras menghantam aspal.
Darah menggenang. Kotak cincin yang tadi digenggamnya terlempar, terbuka di udara, sebelum jatuh berdebam ke jalanan yang keras. Dalam kotak, berlian kecil itu bergulir, bercahaya di bawah sinar matahari senja yang menyedihkan.
Laras menjerit, kakinya lemas, tubuhnya gemetar. Ia ingin berlari, tapi tubuhnya seakan membeku. Matanya tak bisa lepas dari sosok Bayu yang tergeletak tak bergerak di tengah jalan.
Air mata mengalir tanpa henti. Hatinya menjerit.
Bayu, lelaki yang ingin ia genggam selamanya, kini terbaring di antara hidup dan mati.
Di Antara Dua Dunia
Bayu berkedip. Pandangannya buram. Suara di sekitarnya terdengar jauh, seakan datang dari tempat yang asing. Ia masih bisa melihat Laras di seberang jalan—tapi ada sesuatu yang aneh.
Laras berdiri terpaku, matanya membelalak, bibirnya bergetar tanpa suara.
Kenapa dia terlihat begitu syok?
Bayu mencoba melangkah mendekat, tapi ada sesuatu yang tidak beres. Kakinya terasa ringan, nyaris melayang. Orang-orang mulai berkerumun, beberapa berteriak panik, tapi suara mereka terdengar samar di telinganya.
Ia ingin bertanya, ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, saat hendak menyentuh bahu seseorang, tangannya justru menembus tubuh orang itu seperti kabut tipis.
Bayu terkesiap. Jantungnya berdegup kencang.
Lalu pandangannya jatuh ke jalanan.
Di sana, seorang pria tergeletak bersimbah darah. Tubuhnya kaku, jemarinya masih sedikit terentang ke arah sebuah kotak kecil yang terbuka, memperlihatkan cincin di dalamnya.
Dunia seolah berhenti.
Bayu menatap sosok itu lebih lama—dan perlahan, kesadaran mengiris benaknya.
Itu… dirinya sendiri.
Bayu terpaku. Napasnya tercekat. Ia ingin berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.
Di hadapannya, tubuhnya sendiri terbaring kaku. Darah mengalir dari pelipisnya, merembes ke aspal yang dingin. Orang-orang mulai berdatangan, beberapa berusaha menolong, tapi suara mereka terasa jauh, seperti gema di dalam kepalanya.
Tidak. Ini pasti mimpi.
Laras masih berdiri di seberang jalan, tubuhnya gemetar. Bibirnya bergetar, ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya tertahan oleh kepanikan yang mengunci dadanya.
Mata Bayu menatap Laras, berharap dia akan berlari ke arahnya, menggenggam tangannya, mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tapi Laras tak bergerak. Seolah jiwanya masih tertinggal di antara kesadaran dan ketidakpercayaan.
Saat seorang pria menyentuh bahunya, mencoba menyadarkannya, Laras menggeleng lemah. Matanya masih terpaku pada Bayu yang tergeletak. Lalu, pelan-pelan, lututnya melemas. Ia jatuh berlutut di trotoar, air mata yang tadi tertahan akhirnya pecah, membasahi wajahnya yang pucat.
“Bayu…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.
Bayu ingin meraih Laras, ingin menyentuhnya, ingin mengatakan bahwa ia ada di sini, bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi saat tangannya terulur, ia hanya menyentuh kehampaan.
Laras menangis tersedu, tangannya mengepal erat di dadanya seakan ingin menarik sesuatu yang menyakitkan dari dalam hatinya.
Bayu mundur selangkah. Jantungnya berdegup tak karuan.
"Aku... di sini, Laras," bisiknya.
Tapi Laras tak bereaksi. Tak ada yang mendengar suaranya. Tak ada yang melihatnya.
Pelan-pelan, kenyataan menghantamnya lebih keras dari kecelakaan yang baru saja terjadi.
Ia tidak lagi berada di dunia yang sama dengan Laras.
Di Antara Hidup dan Mati
Di dalam ambulance yang melaju kencang, suasana penuh ketegangan. Sirene meraung memecah malam, menambah getir di hati Laras yang duduk di samping tandu tempat Bayu terbaring tak sadarkan diri.
“Pasien laki-laki, usia sekitar 26 tahun. Cedera kepala berat, tekanan darah menurun!” suara paramedis terdengar cepat, mendesak, sementara tangannya cekatan memasang infus di lengan Bayu.
Laras menggenggam tangan Bayu yang dingin. Jemarinya gemetar, air matanya masih berlinang. "Bayu, kamu dengar aku? Tolong... jangan pergi," suaranya lirih, putus-putus.
Namun Bayu tak bergerak. Napasnya naik turun pelan di balik masker oksigen.
Di sudut ruangan sempit itu, roh Bayu berdiri, menatap tubuhnya sendiri dengan perasaan campur aduk. Ia bisa merasakan kepanikan Laras, bisa melihat tangisannya, bisa mendengar detak jantungnya yang berdebar tak karuan—tapi tak bisa berbuat apa-apa.
“Ingat, jangan sampai dia kehilangan lebih banyak darah!” suara paramedis lain terdengar, penuh urgensi.
Roh Bayu berusaha menyentuh Laras, ingin menghapus air matanya, ingin meyakinkannya bahwa ia di sini. Tapi setiap kali ia mengulurkan tangan, hanya kehampaan yang ia rasakan.
Laras semakin sesenggukan. Ia menempelkan keningnya pada tangan Bayu, seolah ingin menyalurkan kehangatan, seolah ingin mengembalikan jiwa yang perlahan terasa menjauh darinya.
“Bayu… kamu janji mau selalu ada buat aku, 'kan?” suaranya hampir tenggelam dalam isak tangis.
Bayu mengepalkan tangannya. Ia ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa ia mendengar semuanya. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan.
Ambulance terus melaju. Waktu terasa berlomba dengan takdir.
Dan di antara kehidupan dan kematian, roh Bayu hanya bisa menyaksikan Laras memohon agar ia tetap hidup.
***
Laras berdiri di depan ruang gawat darurat dengan tubuh lemas. Langkah kakinya limbung, jari-jarinya saling meremas, berusaha menguatkan diri. Matanya terus terpaku pada pintu UGD yang tertutup rapat, di baliknya Bayu tengah berjuang antara hidup dan mati.
"Akan kami lakukan yang terbaik," kata seorang dokter tadi sebelum mendorong tandu Bayu masuk. Tapi kalimat itu hanya menggantung di udara, tanpa janji, tanpa kepastian.
Roh Bayu berdiri tak jauh dari sana, menatap tubuhnya sendiri yang dikerumuni dokter dan perawat. Ia bisa melihat mereka bekerja cepat—alat-alat medis berbunyi, instruksi saling bersahutan, wajah-wajah tegang berusaha menstabilkan kondisinya.
"Tekanan darah turun!"
"Siapkan alat pacu jantung!"
Roh Bayu terpaku. Ia ingin melawan, ingin kembali ke tubuhnya, ingin bangun dan menggenggam tangan Laras. Tapi sesuatu yang tak terlihat menahannya di tempat.
Di luar ruangan, Laras terduduk di kursi tunggu. Wajahnya tertunduk, kedua tangannya mengepal di atas pangkuan. Air mata tak berhenti mengalir, jatuh tanpa suara.
"Ya Tuhan... tolong selamatkan dia..." bisiknya, hampir tak terdengar.
Suster berlalu-lalang, dokter sesekali keluar masuk, tapi tak ada kabar yang bisa meredakan kepanikannya.
Waktu berjalan lambat. Setiap detik terasa seperti siksaan.
Tiba-tiba, pintu UGD terbuka. Seorang dokter keluar, wajahnya serius.
"Larasati?"
Laras langsung berdiri, hatinya mencelos. "Bagaimana Bayu, Dok?"
Dokter menarik napas panjang. "Kami berhasil menstabilkannya. Tapi dia masih dalam kondisi koma. Sekarang, semua tergantung pada kekuatan tubuhnya untuk bertahan."
Dunia Laras seakan runtuh. Kakinya melemas, tapi ia memaksa tetap berdiri.
Di baliknya, roh Bayu berdiri diam. Menatap Laras yang berjuang menahan tangis.
Ingin sekali ia berkata, Aku di sini, Laras. Jangan menangis.
Tapi seperti sebelumnya, suaranya tak pernah sampai.
...🔸🔸🔸...
...Lorong sepi menyayat hati. Angin malam dingin mencekam. ...
...Langkah kaki terdengar samar. Aroma obat-obatan menusuk penciuman....
...Antara ada dan tiada, diperbatasan nyata dan fatamorgana. ...
...Aku di sini tanpa ada yang menyadari. ...
...Aku disisimu tanpa bisa menyentuhmu. ...
...Aku di sini tak berdaya menghapus air matamu, apalagi menggenggam tanganmu. ...
...Aku tak bisa memelukmu untuk menenangkanmu....
...Kau begitu dekat namun terbatas sekat yang tak kasat. ...
...Sakit ini, seperti nyeri dihujam belati, pedihnya mengoyak hati. ...
...Kita di tempat yang sama, namun di alam yang berbeda....
..."Dhanaa724"...
...🍁💦🍁...
.
To be continued
Bayu berdiri di sana.
Di lorong rumah sakit yang dingin, ia melihat tubuhnya sendiri terbaring di ranjang ICU, dikelilingi mesin-mesin medis yang berbunyi pelan. Tapi ia tak merasakan apapun. Tidak ada sakit, tidak ada nyeri. Hanya kehampaan.
Di sisi lain....
Lorong rumah sakit itu terasa panjang dan dingin. Langkah Boni terdengar tergesa, seolah waktu mendesaknya untuk segera sampai. Napasnya tersengal, bukan hanya karena ia berlari, tapi juga karena dadanya terasa sesak. Begitu banyak pikiran berkecamuk di benaknya sejak menerima kabar bahwa Bayu—sahabatnya, saudaranya—mengalami kecelakaan.
Matanya langsung menangkap sosok Laras di ujung lorong, berdiri lemah di depan pintu ruang dokter. Wajah gadis itu pucat, matanya sembab, seperti baru saja menangis.
"Laras!" Suara Boni serak, penuh kepanikan, membuat Laras tersentak.
Bayu berdiri tak jauh dari mereka, menatap sahabatnya dengan perasaan campur aduk. "Boni... gue di sini."
Namun, Boni tak bereaksi. Tak menoleh. Bahkan tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia bisa melihat atau mendengar Bayu.
Bayu mengepalkan tangan, tapi tak merasakan apa pun.
Ia ingin menyentuh bahu Boni, ingin menenangkan Laras, ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja—tapi tubuhnya tak lagi nyata.
Hanya bayangannya yang berdiri di sana, terjebak di antara dunia yang tak bisa ia sentuh dan kenyataan yang menyakitkan.
Laras menoleh, dan begitu melihat Boni, bibirnya bergetar. Ia mencoba tersenyum, tapi yang muncul justru raut kesedihan yang lebih dalam. Boni semakin gelisah.
"Gimana Bayu?" tanyanya cepat, nyaris putus napas.
Laras menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh lagi. "Dia… koma, Bon. Dokter bilang kondisinya kritis…," suaranya gemetar, seakan setiap kata yang ia ucapkan menghantam jiwanya sendiri.
Boni merasakan dunia di sekelilingnya mendadak berputar. Ia menggeleng pelan, menolak percaya. "Koma?" ulangnya dengan suara lirih. Dadanya seperti dihantam palu godam.
Tangan Boni mengepal, rahangnya mengeras. Ia mengalihkan tatapannya ke pintu ruang ICU yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, Bayu—orang yang sudah ia anggap sebagai keluarga—terbaring tak sadarkan diri, berjuang antara hidup dan mati.
Seharusnya Bayu tidak seperti ini. Seharusnya mereka berdua masih bisa bercanda, tertawa, dan mengeluh tentang hidup sambil berbagi sebungkus nasi bungkus di kontrakan kecil mereka.
Bayu ingin menggerakkan tangannya, tapi sia-sia. Ingin memanggil Laras dan Boni, tapi suara yang keluar hanya sunyi. Ia seperti terjebak di antara dunia yang nyata dan yang tak kasat mata.
Boni menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya yang meluap. "Gue harus lihat dia," katanya tegas, melangkah menuju ruang ICU.
Namun sebelum ia sempat membuka pintu, Laras meraih pergelangan tangannya, menghentikannya. "Bon… kita nggak bisa masuk sekarang. Dokter bilang… hanya keluarga yang diperbolehkan."
Boni terdiam. Kedua tangannya terkepal semakin erat, kukunya hampir menembus telapak tangannya sendiri. Mata hitamnya yang biasanya penuh semangat kini meredup, dipenuhi amarah dan kesedihan yang bercampur jadi satu.
"Sialan…" gumamnya pelan, nyaris berbisik. "Kenapa bisa begini, Ras? Kenapa Bayu?"
Laras tak bisa menjawab.
Bayu menatap mereka dengan getir.
"Gue juga pengen tahu, Bon…" gumamnya, meski sia-sia.
Matanya beralih ke Laras, yang kini menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. Hatinya mencelos.
Ia ingin menghapus air mata itu, ingin mengatakan bahwa ia masih di sini. Tapi saat ia mengulurkan tangan…
Udara. Hanya udara yang ia sentuh.
Kenyataan itu menghantamnya lebih keras daripada kecelakaan yang baru saja ia alami. Ia ada, tapi tak benar-benar ada.
Boni menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa sesaknya. Ia menoleh ke Laras, lalu berkata dengan suara parau, "Gue nggak peduli. Keluarga atau bukan, Bayu itu saudara gue. Gue bakal jagain dia, apapun yang terjadi."
Dan di sanalah mereka berdiri—dua orang yang sama-sama mencintai Bayu dengan cara berbeda, sama-sama merasa kehilangan, dan sama-sama berharap orang yang mereka sayangi akan segera membuka matanya.
Bayu menatap sahabatnya dengan mata yang bergetar. Boni…
Dadanya terasa sesak, meski ia tahu bahwa itu hanya ilusi. Tidak ada udara yang bisa ia hirup, tidak ada jantung yang berdetak di dalam tubuhnya. Tapi saat mendengar kata-kata Boni, rasa hangat yang telah lama ia kenal kembali menyelimuti jiwanya.
Ia melangkah mendekat, menatap wajah sahabatnya yang penuh amarah, kesedihan, dan tekad yang membara. Boni tidak menangis, tapi Bayu tahu, luka di dadanya lebih dalam dari yang terlihat.
"Bodoh," gumam Bayu, suaranya sarat dengan keharuan. "Gue yang seharusnya jagain lo, bukan sebaliknya…"
Namun, tak ada yang mendengar. Tak ada yang bisa merespons.
Bayu mengulurkan tangannya, ingin menyentuh bahu Boni seperti dulu saat ia mencoba menenangkan sahabatnya. Namun yang terjadi hanya kehampaan—tangannya menembus tubuh Boni begitu saja.
Ia menggigit bibirnya, frustrasi. Tapi kemudian, ia tersenyum samar. "Terima kasih, Bon. Lo tetap sama seperti dulu. Lo selalu ada buat gue."
Meski tak bisa menjawabnya, meski dunia mereka kini terpisah, Bayu tetap merasa tenang. Ia tahu, selama masih ada Boni, ia tidak akan benar-benar sendirian.
Tiba-tiba Boni teringat sesuatu. "Bagaimana kronologi kejadian kecelakaan ini?"
Laras menunduk, suaranya masih terdengar gemetar saat menjawab pertanyaan Boni.
“Bayu… dia berdiri di trotoar, Bon. Dia mau nyebrang, tapi jalanan masih ramai. Terus tiba-tiba… ada mobil yang melaju kencang, nggak terkendali. Langsung menabrak dia…”
Boni memejamkan mata, rahangnya mengeras. Tangan yang sudah mengepal kini bergetar hebat, menahan gejolak amarah yang siap meledak.
“Mobil siapa?” tanyanya tajam.
Laras menggeleng pelan. “Aku… nggak tahu. Aku juga syok, semuanya terjadi begitu cepat. Polisi bilang mereka masih menyelidiki…”
Boni tak bisa menerima jawaban itu. Dadanya panas, amarahnya membuncah. “Sial! Gue nggak bisa diem aja! Gue harus tahu siapa yang udah bikin Bayu kayak gini!”
Tanpa menunggu jawaban Laras, Boni berbalik dan melangkah cepat, hampir berlari meninggalkan rumah sakit.
“Bon! Mau ke mana?!” Laras memanggil, tapi Boni tak menoleh.
“Kantor polisi! Gue bakal cari tahu siapa yang bertanggung jawab atas ini!” serunya sebelum akhirnya menghilang di pintu keluar.
Bayu merasakan dadanya semakin sesak—jika saja ia masih memiliki tubuh.
"Boni, jangan…!" serunya, berusaha mengejar sahabatnya. Tapi langkahnya hanya menembus udara, sama sekali tak mampu menghentikan Boni yang melangkah penuh amarah.
Ia ingin meraih bahu pria itu, ingin menahannya agar tidak bertindak gegabah. Tapi tangannya hanya melewati sosok Boni seperti kabut tipis. Rasanya membuatnya ingin berteriak.
Bayu menoleh ke Laras, yang masih berdiri terpaku dengan wajah cemas. Gadis itu menggigit bibirnya, seakan ragu untuk mengejar atau tetap di sini.
"Laras… tolong hentikan dia… Jangan biarkan dia melakukan sesuatu yang akan dia sesali!"
Tapi lagi-lagi, suaranya hanya bergema di kehampaan.
Dan Bayu hanya bisa menyaksikan, dengan rasa frustrasi yang menyesakkan, saat sahabatnya menghilang di balik pintu rumah sakit—membawa dendam dan amarah yang belum tentu bisa ia kendalikan.
Laras menggigit bibirnya, jemarinya mengepal erat di sisi tubuhnya. "Boni… jangan gegabah…," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar di antara dentingan samar alat medis di lorong rumah sakit.
Matanya terus menatap ke arah pintu tempat Boni baru saja menghilang. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena kekhawatiran pada Bayu, tetapi juga pada Boni yang pergi dengan amarah yang menyala-nyala.
Ia tahu Boni. Jika sudah marah seperti ini, dia tak akan berpikir panjang. Dia bisa melakukan hal yang nekat—dan itu menakutkan.
Laras melangkah maju, ragu-ragu. Haruskah ia mengejarnya? Ataukah ia harus tetap di sini, di sisi Bayu?
......................
...🔸"Saat berada di titik terendah, kita akan tahu siapa yang peduli dan siapa yang pura-pura peduli. ...
...Sapa yang tertawa dan siapa yang terluka. ...
...Siapa yang tinggal dan menemani serta siapa yang memilih pergi."🔸 ...
..."Dhanaa724"...
...🍁💦🍁...
.
To be continued
Sebelum Laras sempat membuat keputusan, tubuhnya lemas. Seolah seluruh tenaganya terkuras oleh semua emosi yang menghantamnya bertubi-tubi. Ia menyandarkan diri ke dinding, tangannya mengepal di dada, berusaha mengatur napas yang terasa berat.
"Bayu… aku harus bagaimana?" gumamnya lirih, matanya mulai memanas.
Tanpa ia sadari, roh Bayu berdiri di dekatnya, menatapnya dengan perasaan tak kalah hancur. "Laras, jangan menangis… Aku di sini…"
Namun Laras tak bisa mendengar.
Bayu hanya bisa menatap gadis itu yang kini berdiri sendiri, menggigil karena takut kehilangan—kehilangan dirinya, kehilangan harapan, dan mungkin, kehilangan Boni juga.
Bayu berdiri di antara Laras dan pintu keluar rumah sakit, rasa bimbang menguasainya. Ia menoleh ke arah Laras yang masih menyandarkan diri ke dinding, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar menahan emosi yang bercampur aduk.
"Laras…" bisik Bayu lirih. Ia ingin tetap di sini, ingin menenangkan gadis itu, ingin menyentuh bahunya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tahu, Laras tak akan bisa merasakannya.
Sementara itu, Boni sudah menghilang di balik pintu rumah sakit, membawa amarah yang siap meledak. Bayu bisa merasakannya—badai yang berputar di dada sahabatnya itu. Boni tak akan diam. Ia akan mencari jawaban dengan caranya sendiri, dan Bayu tahu betapa nekatnya pria itu jika sudah marah.
Bayu menggertakkan giginya. "Apa yang harus aku lakukan?"
Tinggal di sini dan menemani Laras yang masih terguncang? Atau pergi menyusul Boni sebelum sahabatnya itu melakukan sesuatu yang bodoh?
Bayu mengalihkan pandangannya ke Laras sekali lagi. Ia merasa sakit melihat Laras dalam keadaan seperti ini. Namun, jika ia tak menghentikan Boni, bisa saja sesuatu yang lebih buruk terjadi.
"Maaf, Laras… Aku harus pergi."
Dengan tekad yang bulat, Bayu berbalik dan berlari menyusul Boni. Langkahnya ringan, seolah tak menyentuh tanah. Napasnya tidak tersengal, tapi jantungnya berdegup kencang.
Ia melintasi pintu rumah sakit, menyapu pandangannya ke arah jalanan. Di sana, ia melihat Boni tengah berlari menuju halte, mengepalkan tangan dengan rahang mengeras.
"Boni! Tunggu!" Bayu berteriak, tapi sahabatnya tetap melangkah tanpa henti.
Bayu menatapnya dengan cemas. Ia tahu, ini bukan hanya soal mencari kebenaran—ini tentang rasa sakit, ketidakberdayaan, dan amarah yang bisa menelan seseorang jika tak dihentikan.
Tanpa ragu, ia mempercepat langkahnya, berusaha mengejar sahabatnya, meski ia sadar… Boni tak akan pernah menyadari keberadaannya.
***
Kantor Polisi.
Boni melangkah masuk ke kantor polisi dengan napas berat. Setiap langkahnya terasa membakar dada, amarah yang ia tahan sejak mendengar kondisi Bayu semakin mendidih. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras. Ia tak peduli pada sorotan orang-orang di sekitarnya, yang ia pikirkan hanya satu hal—siapa yang telah menabrak saudaranya.
"Pak, saya mau tahu perkembangan kasus kecelakaan yang menimpa Bayu!" suaranya tegas, hampir seperti bentakan.
Seorang polisi yang duduk di balik meja menatapnya sejenak sebelum menghela napas. “Korbannya masih koma, ya?”
Boni mengangguk dengan napas memburu. “Siapa orang brengsek yang nyetir mobil itu?”
Petugas itu menghela napas dan memberi isyarat agar Boni mengikutinya. Mereka tiba di ruang interogasi. Di sana, seorang pria berjas mahal duduk dengan wajah datar, tanpa sedikit pun rasa bersalah, bahkan terlihat sedikit bosan.
Bayu ikut masuk. Ia berdiri di sudut ruangan, menyaksikan semuanya.
Boni menatap tajam pria itu. "Lo yang nabrak Bayu?!" Ia langsung mendekat, suaranya menggelegar.
Pria itu melirik Boni sekilas lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sikapnya santai. Tenang. Seolah ini bukan masalah besar.
“Gue nggak sengaja,” katanya ringan. “Gue juga nggak mau kejadian ini terjadi.”
Bayu merasakan sesuatu mendidih dalam dirinya.
"Oh, jadi lo cuma anggap ini kecelakaan biasa?" tanya Bayu, namun tak satupun ada yang mendengar.
Boni mengepalkan tangan. “NGGAK SENGAJA?! LO PIKIR ITU BISA BIKIN BAYU SADAR DARI KOMA?! LO TAHU DIA SEKARANG SEPERTI APA, HAH?!”
Pria itu mengangkat bahu dengan ekspresi datar, seolah semua ini bukan masalah besar baginya. Matanya menatap kosong ke depan, seakan tak ingin terlibat lebih jauh dalam percakapan yang penuh emosi itu.
“Gue udah bilang, gue juga nggak mau ini terjadi,” ucapnya, suaranya terdengar hambar, nyaris tanpa penyesalan. “Lagian, musibah ya, musibah. Takdir.”
Kata-katanya ringan, tapi rasanya seperti pukulan telak di dada lawan bicaranya. Seolah nyawa seseorang, kesedihan, dan kemarahan yang meluap-luap hanya perkara kebetulan yang tak bisa dihindari.
BAYU MEMBEKU.
Di sudut ruangan, Ia menatap wajah pria itu dengan kebencian yang ia sendiri tak tahu bisa sebesar ini.
Takdir?
JLEB! Kata-kata itu seperti bensin yang menyulut api dalam diri Boni.
"TAKDIR, LO BILANG?!" Boni langsung menerjang, nyaris menghantam wajah pria itu jika polisi tak segera menariknya ke belakang. "Kalau lo nyetir normal, nggak asal, ini nggak bakal terjadi!"
Melihat pria itu tak menunjukkan sedikit pun penyesalan, kemarahan di ruangan itu semakin memuncak. Semua orang yang hadir merasakan bara emosi yang membakar dada mereka.
Seorang polisi yang sejak tadi diam akhirnya bergerak. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan sebuah tablet, lalu mengetuk layarnya beberapa kali sebelum menoleh tajam ke arah pria itu.
“Lihat ini,” katanya dingin, sebelum memutar rekaman dari dashboard mobil pria tersebut.
Di layar, pria itu mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meraba-raba sesuatu yang jatuh ke lantai mobil. Pandangannya turun, kehilangan fokus. Dalam hitungan detik—suara benturan keras menggema, menghantam keheningan malam.
Bayu melihat itu. Ia melihat bagaimana tubuhnya terpelanting seperti boneka tak bernyawa.
Boni memandang layar dengan mata melebar. “LO NGGAK NGELIHAT JALAN CUMA KARENA LO NGAMBIL SESUATU?!” suaranya bergetar marah.
Pria itu mendengus santai, seolah tak terjadi apa-apa. “Itu cuma beberapa detik doang.” Ia bahkan sempat mengingat bagaimana kakinya tanpa sadar menekan pedal gas lebih dalam—dan tetap tak merasa bersalah.
BAYU INGIN BERTERIAK.
CUMA BEBERAPA DETIK?!
Bayu merasakan amarahnya bergemuruh. Ia ingin menghantam meja. Ingin menampar pria itu. Tapi… ia tak bisa berbuat apa-apa.
Boni langsung menerjang, nyaris menghantam wajah pria itu jika polisi tak segera menariknya ke belakang.
“LO ITU NYETIR MOBIL, BUKAN MAIN GAME, BRENGSEK! GARA-GARA LO, BAYU SEKARANG BERJUANG BUAT HIDUPNYA!” suara Boni pecah, penuh luka.
Pria itu mendengus, masih bersikap acuh. “Udah lah, gue siap bayar ganti rugi. Berapa pun biaya rumah sakitnya, gue tanggung. Selesai.”
SELESAI?!
Di sudut ruangan, Bayu tersenyum miris. "Hidup gue berharga segitu doang buat lo?"
Boni terkesiap. Ganti rugi? Selesai?
Matanya memerah, dadanya sesak oleh amarah dan ketidakadilan.
“BAYU ITU BUKAN MOTOR LO YANG KESEREMPET, GOBLOK! DIA ORANG, PUNYA NYAWA, PUNYA HIDUP, PUNYA ORANG-ORANG YANG SAYANG SAMA DIA! LO PIKIR UANG LO BISA BIKIN DIA BANGUN DARI KOMA?!”
Pria itu menghela napas panjang, lalu melirik polisi. “Gue udah siap tanggung jawab sesuai hukum.”
Boni tertawa pendek, tapi matanya masih menyala. “Lo emang nggak bakal ngerasain sakitnya. Orang kaya kayak lo, tinggal bayar dan semuanya beres, 'kan? Dasar brengsek! Bajingan!”
Tak ingin amarahnya makin memuncak karena melihat wajah pria itu, Boni berbalik dan keluar dengan napas berat. Tapi dalam hatinya, ia bersumpah—Bayu akan sadar, dan orang brengsek itu nggak akan bisa lepas dari ini begitu saja.
Bayu menatapnya, merasa sesak meskipun ia tak lagi punya tubuh.
"Bon… jangan biarin dia lolos."
Suara itu tak terdengar. Hanya hening yang menjawab.
Boni melangkah keluar dari kantor polisi dengan rahang mengatup rapat, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya naik turun, menahan emosi yang hampir meledak. Bayu menyusul di belakangnya, menatap punggung sahabatnya yang tegang.
Tiba-tiba, Boni berhenti. Napasnya memburu, bahunya bergetar menahan gejolak yang tak tertahankan.
"Brengsek! Sialan! Bajingan!" Boni mengumpat keras sebelum meninju pohon di tepi jalan sekuat tenaga. Ia tak peduli pada tatapan heran orang-orang di sekitarnya. Suara pukulannya menggema, tapi rasa sakit yang menjalar di jemarinya seakan tak berarti dibanding amarah yang membara di dadanya.
Bayu tersentak, menatap sahabatnya yang tampak begitu terluka.
"Boni! Jangan sakitin diri lo sendiri, goblok!" seru Bayu refleks, meskipun ia tahu suaranya hanya tenggelam dalam udara malam.
...🔸"Saat arogansi menguasai diri, tak ada yang lebih berarti dari diri sendiri. Tak sadar, suatu hari, arogansi akan menghancurkan diri."🔸...
..."Dhanaa724"...
...🍁💦🍁...
.
To be continued
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!