"Tidak bisa!"kata Ayah sedikit membentak anaknya
"Tapi Yah,aku sudah lama tunangan sama Mas Arya."kata Jihan memelas
"Apapun alasanya Ayah tidak ijinkan kamu melangkahi Kakakmu."kata Ayah
Jihan adalah saudara kandung Zahira,dia sudah menjalin hubungan dengan Arya selama tujuh tahun lamanya.
Zahira sang Kakak dia anak sulung Ayah,sama sekali belum memiliki kekasih,meski begitu hubungan kakak beradik tetap akur karena Jihan bisa menjaga perasaan Kakaknya.Mereka berdua selalu pergi berdua meski hanya makan atau mencuri waktu untuk nongkrong atau nonton dibioskop.
Jika Ayah marah maka keduanya akan saling membantu untuk menutupi kesalahannya masing-masing,seperti sore ini mereka berdua baru pulang nonton bioskop.
"Dari mana kalian?"tanya Ayah yang tetap fokus membaca buku
"Kami nyari buku Yah."jawab Jihan
"Iya yah."kata Zahira meyakinkan
"Kalian pikir ayah percaya?tanya Ayah menutup buku
"Yah,benar kami nyari buku tadi."kata Zahira
"Masuk dan jangan keluar sampai pagi!"kata Ayah tegas
Keduanya berhamburan menuju kamar masing-masing,mereka saling sikut dan saling dorong karena kamar mereka berhadapan.
Bunda yang mendengar dan melihat kedua putrinya hanya menggelengkan kepala,tingkah mereka terkadang seperti anak-anak namun juga terkadang dewasa.
Jika ayah sudah menghukum anak-anaknya maka keduanya tidak akan keluar saat waktunya makan,pembantu rumah yang mengantarkan makanan kedalam kamarnya dengan syarat harus habis.
"Sudahlah Yah,panggil saja mereka."kata Bunda
"Bunda terlalu memanjakan mereka,sikit-sikit kasihan,Bun hidup diluar itu keras."kata Ayah
"Yah,bukannya Zahira sudah bekerja itu juga hidup diluar."kata Bunda
"Tapi masih pulang kerumah,coba saja tinggal dikontrakan."kata Ayah
Bunda terdiam mendengar kata-kata suaminya,apa yang didengarnya memang benar bahwa hidup diluar itu sangat keras.
Saat pagi hari setelah semua menjalankan sholat subuh biasanya Ayah mengajak kedua anaknya melihat kajian didepan tv sambil makan,Zahira yang sudah bersiap pergi kekantor tidak sarapan karena masih kenyang sementara Jihan membantu Bunda karena dia pergi agak siang.
"Ayah aku pergi dulu ya."pamit Zahira sambil mencium tangan Ayah
"Hati-hati,jangan ngebut.Jangan lupa mantelnya."kata Ayah
"Iya Yah aman itu."kata Zahira
Zahira menghidupkan mesin motornya dan menunggu sebentar,setelah merasa ringan dia melaju dengan menunduk kepada Ayahnya,sementara Ayah menunggunya sampai dia menghilang ditikungan jalan.
Zahira masuk kedalam gedung bertingkat dimana dia bekerja,setelah parkir diarea motor dia berjalan keatas dengan tangga,namun seseorang mengalihkan karena tangga sedang dalam perbaikan.
Zahira mengikuti seseorang tersebut dia membukakan pintu lift yang biasanya dipakai para atasan namun entah mengapa hari ini dibuka untuk para karyawan.Saat lif terbuka masih kosong dan berjalan naik dua lantai kembali terbuka,dari situ masuk dua orang laki-laki dan satu wanita,Zahira tidak memperdulikan karena memang tidak mengenalnya namun laki-laki yang digandeng wanita manja tersebut terus memperhatikannya.
"Sayang kamu mau sarapan dulu gak?"tanya si wanita
"Aku sudah makan."jawab laki-laki tersebut
Karena merasa familiar dengan suaranya Zahira menoleh kearah laki-laki tersebut,pandangan mata mereka saling beradu namun Zahira melihat kebawah ada tangan yang bergelayut manja,serta sepasang cincin yang sudah tersemat dijari manis masing-masing.
Zahira hanya mengangguk kepadanya,mulutnya kelu tidak bisa bicara sekedar menyebut nama atau sekedar menyapa.Saat lift terbuka mereka keluar bersama,namun Zahira sudah mendahului karena ingin segera sampai dimejanya.
"Zahira."panggil Safi teman baiknya
"Apa?"tanya Zahira
"Kamu menangis,matamu merah lo?"tanya Safi
"Enggak,tadi cuma kena debu ditangga."jawab Zahira
Jerri adalah pemilik perusahaan dimana Zahira dan Safi bekerja,dia menjabat sebagai Presdir menggantikan Papa dan Kakaknya.Saat masuk kedalam ruangannya dia langsung menghempaskan tubuh dan memejamkan matanya,bayangan Zahira kembali berkelebat dan menari-nari dipikirannya.
Suara ketukan pintu membuatnya bangkit dan kembali duduk dengan tegap,asistennya yang bernama Martin masuk dengan membawa berkas ditangannya.
"Ada perlu lagi Bos?"tanya Martin
"Apa yang dilakukan Aira saat ini?"tanya Jerri
"Dia sedang sarapan,nanti jam sepuluh dia harus mengunjungi temannya,apa Bos mau ikut?"tanya Martin
"Tidak,biarkan dia sendiri cukup antar sampai tujuan."jawab Jerri
"Ada lagi Bos?"tanya Martin
"Cari tahu tentang Zahira Rahma,aku rasa dia bekerja disini,dan tolong sembunyikan hal ini."jawab Jerri
Martin keluar dari ruangan Jerry langsung menuju keruangannya,dia mencari data tentang Zahira yang diminta atasannya,karena sebelumnya Martin kuliah dibidangnya rasa tidak sulit hanya untuk mencari berita tentang seseorang,yang tidak habis pikir adalah untuk apa?karena atasannya sudah memiliki tunangan yang sangat cantik dan seksi lalu mengapa malah mencari yang tertutup,namun Martin salah saat melihat beberapa postingan Zahira,meski tertutup dia sangatlah cantik.
Martin kembali dengan membawa berkas menuju ruang Presdir,saat berjalan dia berpapasan dengan Zahira yang akan memberikan dokumen kepada Celin.
"Kak Celin,ini sudah selesai ya."kata Zahira
"Ok,makasih Ra."kata Celin yang tetap fokus dengan layar laptopnya
"Kak mau ngopi dulu gak?"tanya Zahira
"Gak,kamu aja."jawab Celine
Martin langsung masuk setelah mendengar Zahira akan kepantry,dia menarik tangan Jerri mengajaknya kepantry.
"Apaan sih?"tanya Jerri
"Lihat kedalam."jawab Martin
Tanpa bertanya lagi Jerri masuk kedalam pantry disana hanya ada Zahira yang sedang mengeluarkan kopi dari sakunya.
"Ehem,bisa bikin dua sekalian."kata Jerri tiba-tiba dibelakang Zahira
Zahira menoleh kebelakang karena kaget hampir saja kopi yang berada dalam cangkirnya lepas dari tangannya karena grogi.
"Sorry,sudah membuatku kaget."kata Jerri
"Tidak apa-apa,ini buat kamu kalau mau mau,sayang kopi milikku tinggal satu,lain kali aku bawa lebih."kata Zahira
"Kamu yakin ini untukku?"tanya Jerri
"Iya,lagian ini kopinya aman dilambung kok."jawab Zahira
"Benarkah?"tanya Jerri menyeruputnya
Zahira hanya mengangguk dia mengambil kain pel karena ada sedikit tumpahan dilantai,meski bukan tanggung jawabnya namun baginya bisa berbagi tenaga juga sangat membantu.
"Zahira,kamu apa kabar?"tanya Jerri
Zahira menghentikan mengepel lantai dan meletakkan kembali ketempatnya,dia tidak menjawab pertanyaan Jerri karena tidak ingin menjawabnya,dia malah melangkah menuju pintu,namun tangan Jerri menahannya.
"Kamu kenapa?tidak suka bertemu denganku lagi?"tanya Jerri
"Aku harus kembali."kata Zahira
"Buatkan aku kopi setiap jam sepuluh,aku ingin rasa yang sama setiap harinya."kata Jerri membuka pintu
Jerri berjalan keruangannya dengan masih membawa secangkir kopi ditangannya,Martin yang tersenyum saat melihat atasannya masuk dengan wajah yang berseri berbeda dari sebelumnya.
Zahira kembali kemeja kerjanya,kedua kakinya masih gemetar dia tidak percaya Jerri akan memintanya meski hanya membuat kopi,namun yang tidak habis pikir bukannya Jerri sudah memiliki tunangan dan dia sangat cantik,lalu untuk apa Jerri meminta membuat kopi untuknya.
"Ra,kamu kenapa?"tanya Safi
"Zahira mana kopinya?aku minda dikit aja."kata Celine
"Ra,kok bengong sih."kata Safi sambil menepuk pundak Zahira
"Ah,maaf Kak.Tadi kopinya tumpah."kata Zahira
Safi dan Celine percaya begitu saja,mereka kembali kemeja masing-masing.
Diruangan Presdir sendiri masih menikmati kopi yang masih tinggal separuh,dia kembali menyeruput dan menghabiskan.
"Martin."panggil Jeri
"Apa."jawab Martin yang setia menemani dan membantunya
"Menurutmu bagaimana jika aku melepaskan Aira?"tanya Jerri setelah membaca riwayat Zahira
"Kenapa?karena gadis tadi?"tanya Martin
"Aku tidak mau menutupinya darimu,tapi aku sudah menyukainya dari jaman kuliah dulu."jawab Jerri
"Ah,jadi dia cinta pertamamu?"tanya Martin dengan senyum
Jerri tersenyum saat Martin memandangnya,untuk kali ini Martin akan mati-matian membantunya karena Martin sendiri merasa tidak cocok dengan Aira.
"Apa kita lakukan sekarang?"tanya Martin
"Kamu yakin ini waktu yang tepat?"tanya Jerri
"Aku selalu menyuruh orang untuk mengikutinya,hanya saja kamu lebih percaya kepadanya waktu itu."jawab Martin
"Pelan-pelan saja,kumpulkan semua bukti dan lempar dihadapan mereka berdua."kata Jerri sambil melepaskan cincin yang melingkar dijari manisnya dan melemparnya kedalam tempat sampah.
"Bagaimana dengan orang tuamu Bos?"tanya Martin
"Mereka akan tahu siapa gadis pilihannya,apalagi Mama."jawab Jerri
Setelah jam istirahat siang Jerri kembali keruangannya,Aira yang sudah menunggu tengah memasang wajah marah kepadanya,kali ini dia siap melempar gelas yang sedang dia pegang
"Bukannya kamu pergi bersama temanmu?"tanya Jerri
"Kenapa kamu melakukannya Jerri?"tanya Aira
"Apa?"tanya Jerri
"Kartu kreditku kenapa kamu blokir?"tanya Aira
"Oh itu,dalam satu minggu ini kamu sudah belanja hampir seratus juta,darimana aku bisa menutupnya?"tanya Jerri
"Jerri,itu cuma seratus aku belum seperti temanku yang bisa menghabiskan satu M dalam semalam."jawab Aira
"Ya sudah kamu ikut temanmu,kalau sama aku nanti cuma kukasih sepuluh juta sebulan."tantang Jerri
"Jerri!kamu jahat banget sih sama aku!"kata Aira dengan suara tinggi
Aira keluar dengan membanting pintu,wajah cantiknya berubah merah karena marah,dia menggerutu dalam setiap langkahnya.Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Mama Jerri.
"Ada apa Aira?"tanya Mama Jerri
"Tante Jerri memblokir kartu kreditku."jawab Aira dengan isak tangis
"Emangnya kamu beli apa?"tanya Mama Jerri
"Aku cuma beli tas aja Tante."jawab Aira
Mama Jerri mencoba menenangkan calon menantu kesayangannya,dia akan langsung bicara saat Jerri pulang nanti,bagi Mama Aira adalah pengganti putrinya yang sudah tiada.
Martin sudah sudah menyiapkan bukti untuk jaga-jaga karena Jerri yakin setiba dirumah dia akan langsung kena hukuman sang Mama.
"Sudah siap Bos."kata Martin
"Ok,makasih."kata Jerri
Jerri mengancingkan jas setelah berdiri,dia melangkah keluar diikuti oleh Martin,kali ini dia melihat karyawan yang sebagian sudah pulang dan sebagian masih ada di depan laptop masing-masing.
Jerri mencari dimana meja Zahira,dia meletakkan pesan kepadanya bahwa besok pagi jam sepuluh harus membuatkan kopi untuknya.
"Presdir ada yang bisa saya bantu?"tanya Celine
"Tidak ada."kata Jerri menempelkan kertas dalam agenda dimeja Zahira
Zahira baru saja keluar dari mushola,dia melihat Celine berbincang dengan Jerri didekat meja kerjanya.Karena merasa tidak bersalah Zahira mendekat dan meraih tas dan kunci motornya,dia pergi begitu saja tanpa bicara dengan Celine.
"Dia temanmu?"tanya Jerri
"Ah,iya Pak."jawab Celine
"Tidak sopan kali."kata Jerri
Jerri melangkah mengikuti Zahira,meski Zahira berjalan lebih dulu namun dia harus antri karena dari tadi liftnya penuh,Jerri menarik lengannya untuk bergeser dilif satunya,tanpa menunggu lagi mereka masuk kedalam lift namun hanya berdua sementara Martin masih tertinggal.
"Pak kenapa Pak Martin ditinggal?"tanya Zahira
"Dia sudah dewasa,bisa mencari jalan sendiri."jawab Jerri setelah menekan angka dengan acak dan membuat lift hanya naik turun
"Bapak sengaja memainkan tombolnya?"tanya Zahira
"Jangan panggil aku Bapak,aku gak suka."kata Jerri
Zahira bersandar disudut lift karena yakin tidak akan terbuka dalam beberapa saat,bahkan saat terbuka bisa-bisa mereka berada di lantai paling atas,dan dugaannya benar,kali ini mereka berada diatas.
Jerri menarik lengan Zahira,membawanya kesebuah rooftop yang didesain dengan sempurna sehingga bisa dijadikan tempat tinggal sementara saat lelah.
"Apa ini milikmu?"tanya Zahira
"Iya,khusus yang ini."jawab Jerri
"Kenapa kamu membawaku kesini?"tanya Zahira
"Kamu harusnya tahu jawabannya,kenapa harus kamu yang kubawa kesini."jawab Jerri
Zahira memandang jari jemari Jerri sudah tidak ada cincin yang melingkar disana,padahal tadi pagi cincin dengan mata berlian melingkar dijari manisnya yang ada hanya bekas pemakaiannya.
"Sudah malam,aku harus pulang."kata Zahira
"Menikahlah denganku,malam ini juga kalau kamu mau aku akan melamarmu."kata Jerri
Zahira menoleh kearah Jerri,sungguh diluar dugaannya laki-laki yang sudah memiliki tunangan bahkan dia sangat cantik namun kenapa Jerri malah berpaling dan memilihnya.
"Kamu sudah tunangan,tidak mungkin kita bersama."kata Zahira
"Siapa yang bilang?bagiku itu mungkin saja."kata Jerri
"Presdir sudah cukup,bercandamu itu tidak lucu."kata Zahira sambil berdiri
"Jawab dulu baru aku temui Ayahmu malam ini juga."kata Jerri
"Bagaimana dengan tunanganmu?"tanya Zahira
"Itu urusanku,lagian dia tunangan pilihan Mama bukan pilihanku sendiri."jawab Jerri
"Baik,aku terima dengan syarat selesaikan dulu urusan dengannya aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian."kata Zahira
Zahira meninggalkan Jerri begitu saja,meski begitu Jerri hanya tersenyum karena dalam beberapa waktu dia akan kembali karena tidak memiliki akses untuk turun.
Zahira kembali mendekati Jerri kali ini dia yang menarik tangannya dan memintanya untuk membuka lift.
"Berikan ponselmu."kata Jerri
Zahira memberikan ponselnya kepada Jerri,namun Jerri malah menahannya sampai masuk kedalam lift,dia mengisi kontaknya dalam ponsel Zahira dengan diam-diam.
****
Dirumah Jerri sudah ditunggu Mama,Martin juga sudah mandi dan berganti baju,Aira juga sudah menunggu dengan senyum penuh kemenangan.
"Mana Papa?"tanya Jerri
"Pergi."jawab Mama
"Pergi sendiri atau Mama yang suruh?"tanya Jerri
"Iya Mama yang suruh daripada nanti berantem."jawab Mama
"Mama sih belain Aira terus ujung-ujungnya berantem sama suami."kata Jerri
Mama Jerri sudah geram malam ini apalagi ucapan Jerri menambah kemarahannya.
Papa Jerri muncul tiba-tiba karena permintaan Jerri,kali ini Jerri meminta kepada Papa untuk tidak lari saat berantem dengan Mama.Papa mengikuti kemauan Jerri,apa yang akan Jerri lakukan Papa hanya bisa mendukung kali ini.
"Kamu ngapain pulang?"tanya Mama menunjuk kearah Papa
"Jerri kamu sudah makan?"tanya Papa
"Belum Pa,ayo Pa kita makan."ajak Jerri
Jerri mengajak Martin meski mereka sebenarnya sudah makan,sekedar menemani Papa bisa menghiburnya meski suara Mama sangat memekakan telinga.
"Kamu yakin berani melawan Mama?"tanya Papa
"Pa,aku melawan bukan tanpa bukti."jawab Jerri
"Om,akhir-akhir ini sangat parah dia buang duitnya."kata Martin
"Berapa kamu kasih Jerri?"tanya Papa
Jerri tidak mau menjawab kali ini sebelumnya dia tidak ingin itung-itungan dengan wanita pilihan Mama,namun saat ini dia sudah mulai tidak bisa mengendalikan dirinya seperti Mama.
Aira berniat menginap malam ini namun karena dari tadi ponselnya berbunyi makanya dia memilih untuk pamit pulang.Sampai dirumah dia mengamuk,melempar semua benda yang bisa dia raih dengan tangannya hingga membuat seluruh ruangan berantakan.
"Eh bocah manja,setelah mengamuk kamu harus bereskan."kata Ibu Murti
"Ibu saja aku lelah,aku mau tidur."kata Aira
"Berapa yang kamu dapat hari ini?"tanya Ibu Murti menarik rambut Aira
"Kartu kreditnya diblokir!puas kamu!"jawab Aira dengan keras
Murni membiarkan anak gadisnya masuk kedalam rumah,meski begitu Mama Jerri yang bernama Lintang masih menyayangi Aira seperti anaknya sendiri.
****
Ponsel Aira terus berbunyi dipagi hari,biasanya dia bangun siang kali ini karena satu panggilan harus membuatnya bangun.Saat dilihat nama yang tertulis Tante Lintang,dia buru-buru mengatur suaranya dengan suara yang dibuat-buat.
"Iya Tante."kata Aira
"Cepat bangun,buatkan sarapan buat Jerri."kata Lintang
"Tapi aku tidak bisa masak Tante."kata Aira
"Bukannya Ibu kamu bilang kamu pintar masak."kata Lintang agak tinggi
Lintang merasa kecewa dengan Aira pasalnya dia sudah berbohong kepadanya,dia duduk begitu saja di kursi dimana anak dan suaminya sedang sarapan.
"Kenapa Ma,menantu pilihan gak bisa masak ya?"tanya Papa
"Diam kamu!"kata Lintang
"Pa,udah biarin aja dulu."kata Jerri
Martin keluar dari kamar menyerahkan apa yang Jerri minta,dia memperlihatkan kepada Papa apa yang Aira lakukan dengan kartu kredit milik Jerri.
"Belanjanya melebihi kuota Mama kamu,apa kamu sanggup hidup dibawah tekanannya,lama-lama perusahaan dia ambil alih."kata Papa agak keras
Mama yang mendengar langsung ikut bergabung dengan Papa,dia merebut bill yang dipegang Papa,saat membaca Mama langsung terduduk dengan lemas,dan tidak bicara lagi.
"Bibi Sari,antar aku kekamar."kata Mama
****
Dengan semangat pagi ini Jerri pergi kekantor seperti biasa hanya saja saat ini dia lebih lepas seperti tidak ada beban seperti sebelumnya.
Zahira yang sedang bersiap-siap harus dibuat kesal dengan tingkah Jihan yang lagi-lagi menggodanya.Meski Jihan sekedar bercanda namun jika selalu ditanya hal yang sama maka dia akan menghindar.
"Kak,senyum-senyum masih pagi,punya pacar ya?"tanya Jihan
"Kamu ini,gak ada pertanyaan lain ya."kata Zahira
"Kak,teman Kakak waktu kuliah dulu dengar-dengar dia kembali kesini,apa Kakak sudah mendengarnya?"tanya Jihan
"Siapa?"tanya Zahira
"Alah yang dulu sering kesini minjam motor."jawab Jihan
Zahira tersenyum karena mengingat masa dimana Jerri sering main kerumah,dia sering meminjam motor miliknya karena mobilnya tidak bisa melintas jalan yang mau dia lalui.
"Eh,bengong lagi."kata Jihan menepuk pundak Zahira
"Ah,iya sudah sana aku mau ganti baju."kata Zahira mencoba mengusir adiknya
"Eh tunggu-tunggu,ada hal penting yang Kakak harus tahu,Kak Jerri sebenarnya sudah pindah keyakinan,apa Kakak juga belum tahu?"tanya Jihan
Zahira ingin tersenyum namun justru malah menangis,pasalnya semalam dia menerima lamarannya meski belum secara resmi,namun kali ini dia masih belum mau membicarakan karena belum pasti.
Zahira buru-buru menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir,Jihan yang melihatnya jadi ikut bersedih karena dia berniat memberitahu kebenaran dan menghibur Kakaknya namun malah membuatnya menangis.
"Kak,maaf ya kamu jadi sedih."kata Jihan.
"Sudah gak papa,keluar sana."kata Zahira
Zahira kembali duduk termenung didepan cermin,akhirnya dia bertemu dengan Jerri yang dia suka selama ini.Sebuah panggilan mengejutkannya,dilayar ada nama Jerri padahal dia tidak menyimpan atau tidak memilikinya.
"Halo."sapa Zahira
"Ra,aku sudah didepan rumah."kata Jerri
"A apa?"tanya Zahira buru-buru keluar
Zahira keluar dari kamarnya dengan berjalan cepat bahkan sedikit berlari,Ayah dan Bunda memanggil namun tidak digubrisnya,Ayah mengikuti langkahnya karena Zahira melupakan hijabnya,dia masih memakai handuk yang dililit dikepala meski sudah memakai baju lengkap.
"Ra."panggil Ayah
Zahira keluar dengan membuka pintu gerbang dan benar diluar sudah berdiri Jerri dan Martin dibelakangnya,Ayah Zahira menarik memberikan hijab kepadanya.
"Kamu ini,teledor sekali."kata Ayah
"Maaf Yah,buru-buru."kata Zahira
Diluar pagar Jerri tersenyum melihat seorang Ayah yang melindungi anak gadisnya,setelah mengucapkan salam Jerri dipersilahkan masuk,Ayah mengajak sarapan bersama.
"Mari masuk dulu,kita sarapan bareng."ajak Ayah
"Baik Om,terimakasih banyak."kata Jerri
Zahira kembali kedalam kamarnya,sementara Jihan baru keluar dia langsung menuju keruang makan dimana disana ada sosok Jerri yang sudah dia kenal sebelumnya.
"Aaaaahhh,Kakak apa kabar?"tanya Jihan
"Baik."jawab Jerri
"Sudah makan dulu,nanti lagi ngobrolnya."kata Ayah
Zahira keluar dan langsung bergabung dimeja makan,meski hanya sarapan sedikit namun Ayahnya yang meminta mengambilkan untuk Jerri.
"Sorry,sarapan disini seadanya."kata Zahira
"Tidak apa-apa,sesekali makan nasi."kata Jerri
Jihan tidak menyangka jika Kakaknya menyembunyikan hal sebesar ini kepadanya,padahal baru pagi tadi dia bilang Kak Jerri kembali justru sekarang sudah berada didepannya.
"Kak Jerri kapan kalian ketemu lagi?"tanya Jihan
"Kemarin."jawab Jerri
"Ah begitu ya?"tanya Jihan tersenyum dengan terpaksa
Setelah selesai sarapan Jerri meminta ijin untuk sekedar mengobrol dengan Ayah Zahira,dia berniat ingin meminang Zahira pagi ini.Setelah semua duduk dengan tenang,Jerri mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
"Om,maaf pagi-pagi sudah merepotkan,tapi kedatangan saya kemari karena ingin melamar putri Om Zahira."kata Jerri
"Om,pikir mau ngomong apa,soalnya ini sangat mendadak.Om senang-senang aja,bagaimana kamu Ra?"tanya Ayah
"Kakak,ayo jawab."kata Jihan menyenggol lengan Zahira
"Jika Ayah dan Bunda mengijinkan."kata Zahira
Ayah dan Bunda tersenyum lepas kali ini,tidak menyangka pagi-pagi kedatangan tamu melamar anak gadisnya.Setelah menyematkan cincin dijari manis Zahira dengan segera Jerri mengabari Papanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!