NovelToon NovelToon

Suara Hati DARREN

Bab 1

Darren saat ini tengah bersiap-siap untuk ke Kampus. Dia sekarang ini tengah memakai seragam Kampusnya dengan dirinya berdiri di depan cermin.

Seragam Kampusnya telah melekat di tubuhnya. Kini dia mengambil beberapa buku yang telah dia susun dan telah dia pisah untuk dia masukkan ke dalam tasnya.

"Selesai! Saatnya berangkat!"" seru Darren dengan penuh semangat.

^^^

Di meja makan, ayah dan keenam kakak-kakaknya tengah menikmati sarapan paginya. Mereka sarapan tanpa menunggu Darren.

Hanya lima orang saja yang tampak menikmati sarapannya, sedangkan dua diantara makan dengan sesekali melihat kearah anak tangga yang mana seseorang akan turun dari sana.

Detik kemudian..

Tap..

Tap..

Tap..

Mereka semua mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Dan mereka juga mendengar suara seseorang yang sedang berbicara.

Dengan kompak mereka semua melihat keasal suara. Dan mereka semua melihat kearah pemuda tampan yang tak lain adalah Darren yang tengah menuruni anak tangga sembari berbicara dengan seseorang di telepon.

"Aku masih di rumah. Sebentar lagi akan ke Kampus."

"...."

"Kayaknya iya. Aku ke Kampus hanya dua jam saja. Selesai urusan di Kampus, aku akan langsung ke perusahaan."

"...."

"Baiklah."

Pip..

Selesai berbicara dengan seseorang di telepon, Darren langsung mematikannya. Kemudian dia memasukkan ponselnya ke saku celananya.

Setelah itu, Darren berjalan menuju meja makan dengan wajah dingin dan datar. Tidak ada senyuman sama sekali. Bahkan tatapan matanya menatap ke depan dan tidak mempedulikan dengan orang-orang yang ada di meja makan.

Setibanya di meja makan, Darren duduk paling ujung. Dia sengaja duduk dengan jarak jauh karena dia tahu bahwa ayah dan kakak-kakaknya itu tidak ingin duduk berdekatan dengannya.

"Tuan muda, ini susu coklatnya!" seru seorang pelayan yang datang membawa susu coklat untuknya.

Ketika susu coklat itu hendak diletakkan di atas meja, tiba-tiba Darren berseru.

"Buang susu coklat itu. Mulai detik ini aku tidak ingin meminum susu itu. Ganti dengan susu putih saja."

"Ba-baik, tuan muda!"

Pelayan itu kemudian membawa susu coklat itu kembali ke belakang. Dia tidak ingin membuat majikannya itu marah jika tetap memberikan susu coklat tersebut.

Sementara Davin selaku kakak sulungnya seketika terkejut ketika melihat adik yang dia benci menolak untuk meminum susu coklat itu padahal dia sangat tahu bahwa adiknya itu begitu menyukainya. Bahkan susu coklat itu adalah buatan pertama darinya ketika adiknya itu berusia 4 tahun sehingga adiknya itu memasukkan ke daftar minuman favoritnya.

Tapi sekarang adiknya enggan untuk meminum susu coklat tersebut. Adiknya justru menggantikan susu coklat tersebut dengan susu putih yang mana susu putih tersebut sangat dibenci oleh adiknya itu sejak dulu.

Tak bisa dipungkiri! Dan ini benar-benar dialami oleh Davin. Dia begitu membenci adik bungsunya atas kejadian satu tahun yang lalu, tapi hatinya begitu sakit ketika mendengar ucapan adiknya saat menolak untuk tidak ingin meminum susu coklat tersebut. Dia tidak terima atas apa yang dilakukan oleh adik bungsunya itu.

Bukan hanya Davin, melainkan Erland dan kelima putranya yang lain. Mereka juga merasakan sakit yang luar biasa atas apa yang mereka dengar dari Darren.

Disini mereka yang membenci Darren atas kejadian satu tahun yang lalu, tapi justru mereka yang merasakan sakit di hatinya ketika mendengar ucapan dari Darren ketika mengatakan tidak ingin meminum susu coklat itu lagi.

Darren yang sejak tadi menikmati sarapan paginya seketika tersenyum di sudut bibirnya. Dia melirik sekilas melihat kearah ayah dan keenam kakaknya. Dapat dia lihat bahwa ayah dan keenam kakaknya itu tampak tak baik-baik saja setelah mendengar ucapannya.

"Emangnya enak ketika aku menolak untuk tidak lagi meminum susu coklat itu? Aku tahu kalian merasakan sakit luar biasa di hati kalian. Hal itu juga yang aku rasakan selama satu tahun ini atas sikap kalian."

"Berlahan tapi pasti, aku akan membalas perbuatan kalian terhadapku dengan cara kalian. Apa yang kalian lakukan padaku. Hal itu juga yang akan aku lakukan kepada kalian."

"Kalian ingin bermain dengan hati kan? Dengan senang hati aku akan melayani kalian."

Darren berbicara di dalam hatinya sembari tatapan matanya masih melirik kearah ayah dan keenam kakaknya itu.

Setelah puas menatap wajah ayah dan keenam kakaknya itu, Darren kembali fokus pada makanannya. Dan bertepatan itu, sang pelayan datang membawa segelas susu putih untuknya.

"Ini tuan muda susunya."

"Hm." Darren menjawab dengan deheman.

Setelah meletakkan susu itu di atas meja, pelayan itu kembali ke dapur.

Sementara Darren langsung meminum susu tersebut sehingga membuat ayah dan keenam kakaknya menatapnya

Yah! Erland dan keenam putranya melihat kearah Darren yang saat ini sedang menikmati susunya. Mereka semua khawatir jika Darren akan mual dan muntah jika tetap meminum susu putih itu.

Yah benar! Darren memang anti dengan susu putih. Setiap dia meminum susu putih, maka dia akan mual dan berakhir muntah. Maka dari itulah kenapa Davin menggantinya dengan susu coklat buatannya.

Namun tanpa diketahui oleh Erland dan keenam kakaknya. Sejak kejadian itu hingga berakhir dia dibenci, Darren selama ini mencoba untuk minum susu putih. Butuh perjuangan dan pengorbanan keras untuk Darren berhasil meminumnya, walau awalnya perutnya yang tak menerimanya sama sekali.

"Ach, susu ini benar-benar enak! Kenapa tidak dari dulu saja aku meminumnya? Kenapa aku harus meminum susu keparat itu," ucap Darren dengan tatapan matanya menatap gelas kosong di tangannya dengan wajah yang tampak bahagia.

Deg..

Sontak ucapan dari Darren membuat hati Davin seolah-olah ditusuk ribuan jarum. Dia tidak menyangka jika Darren akan mengatakan hal itu.

"Ini adalah balasanku atas sikapmu dua hari yang lalu, tuan Davin!" batin Darren dengan tatapan matanya menatap kearah kakak sulungnya yang mana kakaknya itu menatap dirinya dengan wajah syok.

Tatapan mata Gilang dan Darka seketika membelalak. Keduanya terkejut. Kemudian keduanya melihat kearah Darren yang saat ini menatap kearah kakak sulungnya.

Yah! Keterkejutan Gilang dan Darka karena bisa mendengar suara hati Darren. Ucapan demi ucapan isi hati Darren dapat mereka dengar.

Flashback On..

"Kau mau kemana anak pembunuh!"

Darren seketika berhenti. Kemudian dia membalikkan badannya untuk melihat kearah kakaknya itu.

"Ada hak apa anda menanyakan kemana saya mau pergi?" tanya Darren.

"Apa begini cara kau berbicara dengan kakakmu!" bentak Davin.

"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Aku kan hanya bertanya, seharusnya kau yang lebih tua menjawab pertanyaan dari yang lebih muda."

"Lagian aku tadi tidak marah ketika kau menyebutku anak pembunuh. Seharusnya kau juga tidak marah atas pertanyaanku itu," ucap Darren dengan tatapan dinginnya.

"Aku mau pergi kemana, itu bukan urusanmu. Bukankah kau sudah tidak sudi menganggap aku adikmu lagi? So, berhentilah mengusik kehidupanku!"

Setelah mengatakan itu, Darren langsung pergi meninggalkan Davin yang tak bisa berkata-kata apapun lagi.

Flashback Off..

Gilang dan Darka menatap kearah adiknya yang saat ini masih menatap kearah kakak sulungnya.

"Apa yang terjadi dua hari yang lalu?" batin Gilang.

"Apa yang dilakukan oleh kakak Davin terhadap Darren?" batin Darka.

Keduanya bertanya pada dirinya sendiri di dalam hatinya masing-masing dengan tatapan matanya menatap kearah kakak sulungnya.

Beberapa detik kemudian..

Darren berdiri dari duduknya. Dia sudah selesai dengan sarapannya.

Setelah itu, Darren pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun, walau hanya sekedar berpamitan.

Setelah kepergian Darren membuat Gilang dan Darka langsung memberikan pertanyaan kepada kakak sulungnya, disertai dengan sorot mata yang tajam.

"Apa yang telah kau lakukan pada adikku dua hari yang lalu, Davin Aldan Smith?!" Darka bertanya tanpa menyebut kata kakak untuk Davin.

Deg..

Davin seketika tersentak ketika mendengar pertanyaan dari Darka, ditambah lagi sorot matanya yang tajam.

"Kakak Darka, kenapa kakak bicara seperti itu! Bagaimana pun....?"

Seketika ucapan Riyo sianak angkat seketika terpotong karena Gilang langsung bersuara.

"Diam kau! Kau tidak punya hak berbicara disini. Kau hanya orang luar!"

Deg..

Riyo seketika tersentak akan ucapan dari Gilang. Begitu juga dengan yang lainnya.

"Gil, kamu...." ucapan Dzaky terhenti.

"Kenapa? Mau belain dia dengan memarahi aku? Mau membuangku demi dia, begitu?"

Deg..

Dzaky membelalakkan matanya tak percaya akan perkataan Gilang.

Sementara untuk Davin, dia terkejut akan pertanyaan dari Darka barusan. Dia tidak menyangka jika Darka akan bertanya seperti itu. Ditambah lagi, dia dibuat bingung akan pertanyaan dari Darka.

Disaat Davin dalam keterkejutan, dia kembali terkejut ketika mendengar ucapan sarkas dari Gilang.

"Apa kau masih menyebut adikku sebagai pembunuh?!" bentak Gilang. Tatapan matanya begitu tajam menatap kearah kakak sulungnya. "Dimana otakmu, Davin Aldan Smith! Dia adikku kandungmu. Bagaimana bisa kau dengan kejam menyebut adikmu sendiri sebagai pembunuh!"

"Kau tahu sendiri seperti apa sifat Darren selama ini. Kau juga tahu bagaimana besarnya perhatian, kasih sayang dan kepedulian Darren terhadap Mama? Dia adalah orang pertama yang berada di depan jika melihat Mama menangis. Bahkan Mama adalah semangat hidupnya. Bagaimana mungkin Darren tega membunuh Mama!" bentak Gilang.

Braakk..

Darka menggebrak meja makan dengan keras bersamaan dia berdiri dari duduknya. Tatapan matanya menatap tajam kearah kakak sulungnya dan kakak-kakaknya yang lainnya.

"Ini untuk terakhir kalinya kalian menyebut adikku sebagai pembunuh. Jika aku mendengar kata itu lagi, maka kalian akan menjadi musuhku! Dan aku tidak akan segan-segan melawan kalian. Aku tidak peduli akan status kalian!" Darka berucap dengan penuh ancaman dan penekanan.

Darka melihat sekilas kearah ayahnya yang saat ini tampak terkejut.

"Berlaku juga untuk Papa."

Setelah mengatakan itu, Darka mengambil tasnya. Kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan ayah dan kakak-kakaknya.

"Sama halnya dengan Darka. Aku juga akan melakukan hal itu kepada kalian. Selama satu tahun ini aku dan Darka hanya diam melihat kalian bersikap buruk terhadap Darren. Diamnya kami selama ini karena kami tidak ingin ribut dengan kalian."

"Tapi kali ini aku dan Darka tidak akan diam lagi. Kami akan langsung bertindak setiap kali kalian menyakiti adikku." Gilang berucap dengan sorot matanya yang tajam.

Gilang melihat kearah Riyo dengan sorot matanya yang tajam.

"Dan lo! Bersikaplah layaknya tamu di rumah ini. Jangan berlagak seolah-olah lo putra dan adik dari ayah dan kakak-kakakku. Ingat! Kau bukan siapa-siapa disini. Kau bukan bagian keluarga Smith. Sadarlah akan posisimu disini."

Setelah mengatakan itu kepada Riyo, Gilang langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya dengan keadaan marah.

2. Kritisnya Oma Vidya

Kampus..

Darren sudah di Kampus saat ini. Dia sedang bersama ketujuh sahabat-sahabatnya yaitu Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel di Kantin. Lengkap dengan beberapa hidangan tersaji di atas meja.

"Ini."

Willy memberikan satu berkas warna merah di hadapan Darren.

"Apa ini?" tanya Darren dengan tatapan matanya menatap kearah berkas tersebut.

"Lo punya mata kan? Lihat lalu baca sendiri," jawab Willy seenaknya sembari menyeruput jus jeruknya.

Darren seketika mendelik dengan tatapan tajamnya menatap kearah Willy bersamaan tangannya membuka berkas tersebut.

Sementara sahabat-sahabatnya yang lainnya hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya itu.

"Ini manusia semua?" tanya Darren setelah melihat isi dari berkas tersebut.

Isi berkas tersebut adalah nama-nama para mahasiswa dan mahasiswi baru yang akan mereka ospek dua Minggu lagi. Jumlah mahasiswa dan mahasiswi baru itu sekitar 25 orang. Itulah kenapa Darren mengatakan ini manusia semua.

"Tidak. Ada nyempil sekitar sepuluh anak monyet dan lima sekawanan lo," sahut Willy dengan wajah kesalnya.

Mendengar jawaban dari Willy yang terakhir membuat Darren seketika melototkan matanya sebesar-besarnya.

Darren kemudian mendorong berkas itu kearah Willy dengan tatapan mematikannya.

"Ogah gue. Lo kerjakan sendiri."

Setelah mengatakan itu, Darren berdiri dari duduknya. Dia pergi begitu saja setelah menghabiskan dua porsi nasi goreng favoritnya.

"Gue kasih waktu selama 1 jam buat lo ngasih semua data-data dari mahasiswa dan mahasiswi baru itu. Gue tunggu lo di ruang Organisasi!" teriak Darren dengan melangkah keluar kantin.

Mendengar ucapan sekaligus teriakan dari Darren membuat Willy seketika membelalakkan matanya tak percaya. Sementara sahabat-sahabatnya yang lain tertawa nista.

"Terima saja nasibmu, Nak!" ucap Jerry dan Dylan bersamaan sembari keduanya menepuk pundak Willy.

"Lo harus buruan ngerjainnya, Wil! Jika tidak, lo bakal habis sama Darren!" Qenan berucap sembari tersenyum manis menatap wajah sepet Willy.

"Semangat ya, kawan!" seru Axel, Rehan dan Darel bersamaan.

Setelah mengatakan itu, mereka langsung pergi meninggalkan Willy yang sudah tampak kesal luar biasa.

"Dasar sahabat-sahabat setan!" teriak Willy melengking di dalam kantin tersebut.

"Hahahahaha!" keenam sahabatnya seketika tertawa keras mendengar makiannya.

Bagaimana dengan para penghuni kantin? Mereka semua tersenyum melihat kelakuan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren.

***

Markas Almight Black..

Enzo saat ini bersama keempat sahabatnya di ruangan pribadinya. Mereka kini tengah membahas tentang kecelakaan yang menimpa ibu kandung Darren dan sang Oma.

"Bagaimana, Enzo? Apa para tangan kanan kamu ada yang berhasil menemukan dalang kecelakaan yang menimpa Bibi Belva dan Oma Vidya?" tanya Ziggy.

"Belum. Sampai detik mereka semua masih bekerja keras dalam mencari dalang tersebut," sahut Enzo.

"Bagaimana dengan kalian?" tanya Ziggy dengan menatap Chico, Devian dan Noe bergantian.

Ketiganya langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Ziggy.

"Tidak ada satu pun dari kita yang berhasil menemukan dalang tersebut. Ini sudah satu tahun lamanya." Ziggy berucap dengan mimik wajah sedihnya.

Mendengar ucapan sekaligus melihat mimik wajah Ziggy membuat keempat sahabatnya seketika langsung paham. Baik Enzo dan ketiga sahabatnya yang lain sama-sama merasakan kesedihan akan kerja kerasnya dan kerja keras para tangan kanannya yang tidak membuahkan hasil.

"Aku memikirkan Darren," ucap Ziggy tiba-tiba dengan tatapan matanya menatap keempat sahabatnya itu bergantian. "Sejak kejadian itu, Darren dibenci oleh ayahnya dan keenam kakaknya. Mereka lebih mempercayai ucapan para saksi-saksi, terutama anak sialan itu dari pada Darren yang notabenenya adalah putra dan adik kandungnya. Bahkan yang parahnya adalah mereka terang-terangan menyebut Darren pembunuh."

Ziggy seketika teringat akan kejadian sehari setelah jenazah ibunya Darren yaitu Belva Carlise Garcia dimakamkan, Davin langsung memberikan tamparan keras di pipi adiknya ketika adiknya itu baru pulang ke rumah. Ditambah lagi dengan ucapan kejam yang keluar dari mulut kakaknya itu.

Bukan itu saja, Andra kakak keduanya Darren juga melontarkan kata-kata yang tak seharusnya dilontarkan.

Disini yang paling kejam adalah Erland yang berstatus ayah kandungnya Darren. Pria itu seketika mengatakan bahwa dia tidak sudi memiliki putra pembunuh seperti putra bungsunya.

Puk..

Devian seketika menepuk pelan pundak Ziggy, lalu mengusap-usapnya.

"Bersabarlah! Kita akan segera menemukan pelaku tersebut. Setelah kita berhasil menemukannya, kita akan langsung membawanya ke hadapan para manusia sampah itu. Sebelum itu, kita akan memberikan sedikit siksaan kepada pelaku itu."

"Benar apa yang dikatakan Devian. Untuk saat ini hanya sabar yang kita butuhkan. Aku yakin tidak akan lama lagi kita akan menemukan pelakunya." Chico ikut menghibur Ziggy.

***

"Yak, Ren! Lo tega banget sama gue," ucap Willy menatap kesal kearah Darren yang saat ini tengah berkutat dengan ponselnya.

"Emangnya gue kenapa?" tanya Darren tanpa melihat kearah Willy.

Mendengar pertanyaan dari Darren dan melihat reaksinya membuat Willy mendengus. Sementara sahabat-sahabatnya yang lain tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka tidak ikut campur urusan kedua sahabatnya itu.

"Bantuin kenapa?! Masa gue sendiri yang ngerjain mendata mahasiswa dan mahasiswi baru itu," sungut Willy. "Dan kalian juga anak setan! Jangan cuma ongkang-ongkang kaki doang. Bantu sini!" teriak Willy dengan tatapan matanya menatap tajam kearah sahabat-sahabatnya yang lain.

Mendengar ucapan kejam dari Willy membuat semua sahabat-sahabatnya itu kecuali Darren seketika memberikan tatapan yang lebih tajam kearah sahabatnya itu.

"Ogah!" seru mereka bersamaan.

Setelah itu, mereka kembali pada kesibukan masing-masing. Tanpa diketahui oleh Willy, keenam sahabatnya itu tersenyum puas di dalam hatinya termasuk Darren.

"Oh, gitu ya! Oke! Ketika kalian nanti butuh bantuan gue. Gue juga bakal jawab, ogah!" Willy menjawab perkataan dari keenam sahabatnya itu dengan bibirnya mengabsen satu persatu nama penghuni kebun binatang.

Setelah mengatakan itu, Willy mengeluarkan earphone dari dalam tasnya. Dia memasang earphonenya di ponselnya, lalu di kedua telinganya. Kemudian Willy menghidupkan sebuah lagu dengan volume yang cukup keras sehingga siapa pun yang memanggilnya, dia tidak akan mendengarkannya.

Sementara ketujuh sahabat-sahabatnya itu langsung melihat kearah dirinya ketika mendengar ucapannya tadi. Mereka juga melihat bahwa Willy memakai earphone di telinga.

Drtt..

Drtt..

Tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi menandakan panggilan masuk. Dia yang kebetulan memegang ponselnya langsung melihat di layar ponselnya itu.

Di layar ponselnya itu terlihat nama 'Celsea' ibunya Axel.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darren langsung menjawab panggilan tersebut.

Sementara sahabat-sahabatnya kecuali Willy yang telinganya disumbat oleh dua earphone sibuk dengan pekerjaannya melihat kearahnya.

"Hallo, Bibi Celsea!"

"...."

"Ka-kabar buruk? Apa yang terjadi, Bi?"

"...."

Darren seketika membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Dokter Celsea bersamaan dirinya berdiri dari duduknya.

Sementara Qenan dan yang lainnya menatap khawatir kearah Darren. Willy yang tadinya fokus dengan pekerjaannya tak sengaja melihat kearah Darren.

Sontak Willy langsung melepaskan earphone dari telinganya. Dia menatap khawatir kearah Darren.

"Kr-kritis. Oma kritis? Bukankah dua hari lalu kondisi Oma baik-baik saja?"

"...."

Tes..

Air mata Darren seketika jatuh membasahi pipinya.

"Oma."

"...."

"Baiklah, aku akan kesana!"

Pip..

Darren langsung mematikan panggilannya setelah memberikan jawaban kepada dokter Celsea.

"Ren," panggil Axel dengan tatapan khawatirnya.

Darren melihat kearah Axel. Lalu beralih melihat kearah sahabat-sahabatnya yang lain.

"Oma... Oma kritis," ucap Darren dengan lirih.

"Sabar, oke!"

"Kita ke rumah sakit sekarang."

Setelah mengatakan itu, Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya langsung pergi meninggalkan ruang Organisasi dan tak lupa mengunci pintunya.

Bab 3

Enzo masih bersama dengan keempat sahabatnya di ruangan pribadinya. Mereka masih membahas masalah yang dihadapi Darren.

Ketika Enzo dan keempat sahabatnya tengah membahas masalah Darren dan juga membahas masalah dalang kecelakaan tersebut, tiba-tiba salah satu tangan kanannya Enzo datang.

Cklek..

Pintu dibuka dan masuklah salah satu tangan kanan Enzo.

"Maaf, Tuan!"

"Ada apa, Justin?"

"Aku ingin memberitahukan tentang kondisi Nyonya Vidya."

"Kenapa dengan Nyonya Vidya?" tanya Ziggy.

"Kondisinya kritis saat ini. Semua anggota keluarga termasuk tuan Darren sudah di rumah sakit."

"Baiklah."

Enzo menatap keempat sahabatnya. "Kita harus ke rumah sakit."

"Harus! Pasti akan terjadi sesuatu disana dan Darren yang akan menjadi korbannya," ucap Noe.

"Jika mereka berani menyentuh Darren, maka aku yang akan membalasnya langsung. Tidak peduli dengan anggota keluarganya yang lain," ucap Ziggy.

"Kalau begitu, ayo!"

Setelah itu, Enzo dan keempat sahabatnya langsung pergi meninggalkan markas untuk menuju rumah sakit.

***

Semuanya sudah berada di rumah sakit. Mereka semua berdiri di ruang rawat Vidya.

"Apa yang terjadi pada ibu saya, Dokter?" tanya Erland.

"Kenapa ibu saya bisa kembali kritis? Bukankah lima hari ini kondisinya sudah stabil?" tanya Clarissa.

Mendapatkan dua pertanyaan dari kedua anak dari pasiennya membuat dokter tersebut bingung untuk menjawabnya.

"Kondisi pasien sebenarnya jauh dari kata baik. Selama ini pasien berusaha bertahan agar kondisinya baik-baik saja guna untuk bisa berpamitan dengan kalian semua. Dia ingin berbicara dengan kalian anak, menantu dan cucu-cucunya."

Mendengar jawaban dari sang Dokter membuat Erland serta yang lainnya menangis terutama Darren. Dia yang paling terpukul disini.

"Oh iya! Siapa diantara kalian yang bernama Darren?"

Darren langsung melihat kearah dokter yang menangani neneknya.

"Saya!"

Dokter itu langsung melihat kearah Darren. Dia seketika tersenyum. "Bisa ikut saya ke dalam. Nyonya Vidya ingin bertemu dengan anda."

Setelah itu, dokter tersebut langsung masuk ke dalam ruang rawat Vidya, diikuti oleh Darren di belakang.

"Kenapa Oma meminta untuk bertemu dengan anak pembunuh itu," ucap Davin seketika setelah Darren dan dokter itu masuk ke dalam ruang rawat Vidya.

Plak..

"Aakkhhh!" ringis Davin merasakan sakit di pipinya akibat tamparan dari Clarissa.

"Dia adikmu, Davin! Dan dia bukan pembunuh! Sadarlah atas apa yang kau ucapkan barusan!" bentak Clarissa dengan menatap tajam kearah Davin.

"Jelaslah bibi bicara seperti itu karena bibi begitu menyayangi anak pembunuh itu." Davin menjawab perkataan dari Clarissa.

Detik kemudian..

Bugh..

"Ssshhh!" ringis Davin.

"Darka!"

Semua orang seketika terkejut ketika melihat apa yang dilakukan oleh Darka terhadap Davin.

Yah! Darka tiba-tiba memberikan pukulan tepat di wajah Davin akibat ucapannya itu. Dia tidak terima adiknya disebut sebagai pembunuh.

Darka menatap tajam dan penuh amarah kearah Davin. Tangannya mengepal kuat.

Bukan hanya Darka yang marah akan ucapan Davin, melainkan Gilang. Dia menatap penuh amarah kearah Davin.

"Kau mengulanginya lagi, saudara Davin! Bukankah aku sudah mengatakannya ketika sarapan pagi!" bentak Darka.

Gilang melangkah mendekati Darka. Dia berdiri di samping Darka dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Davin.

"Kau mengajak kami perang ya? Baiklah kalau itu maumu. Mulai detik ini kita bukan lagi antara kakak dan adik. Mulai detik ini kita tidak memiliki hubungan apapun. Ini peringatan terakhir kau menyebut adikku sebagai pembunuh. Lain kali, aku yang akan menghajarmu." Gilang berucap dengan sorot mata yang tajam kearah Davin.

Davin seketika syok atas apa yang dilakukan oleh Darka, ditambah lagi ketika mendengar ucapan dari Darka dan Gilang. Begitu juga dengan keempat adiknya yang lain.

Namun tidak dengan anggota keluarga Smith, anggota keluarga Garcia dan beberapa orang yang hadir. Justru mereka tersenyum bangga dan bahagia ketika melihat Darka yang memberikan pukulan kepada Davin, dan ketika mendengar ucapan kejam Darka dan Gilang.

Awalnya mereka berpikir bahwa Darka dan Gilang sama seperti keempat kakaknya yang membenci Darren karena keduanya selama ini hanya diam.

Namun dugaan mereka salah. Ternyata diamnya Darka dan Gilang menyimpan rasa sakit dan dendam terhadap perlakuan buruk ayah dan keempat kakaknya terhadap adik kesayangannya. Dan kini mereka membalasnya.

Bagaimana dengan Erland?

Erland saat ini tampak syok akan perkataan sekaligus ucapan dari Darka dan Gilang. Dia tidak menyangka jika kedua putranya itu akan mengatakan hal itu di depan putra sulungnya.

^^^

Darren sudah berada di ruang rawat Vidya.

"Oma," panggil Darren.

Darren menatap sedih kondisi neneknya. Dia menangis sembari tangannya mengusap lembut punggung tangan sang nenek.

Berlahan Vidya membuka kedua matanya. Seketika dia tersenyum melihat wajah cucu bungsu kesayangannya.

"Da-darren," lirih sang Oma.

"Iya, ini aku."

"Maafkan, Oma!"

"Maaf untuk apa?"

"Oma... Oma ingin pamit sama kamu, Sayang."

Darren seketika menangis bersamaan kepalanya menggeleng. Dia tidak ingin kehilangan neneknya. Dia sudah kehilangan ibunya.

"Oma tidak boleh pergi. Oma harus bertahan demi aku. Aku sudah kehilangan Mama. Aku tidak ingin kehilangan Oma."

Vidya tersenyum ketika mendengar ucapan dari cucu kesayangannya. Dia sangat beruntung memiliki cucu seperti cucu bungsunya itu.

Vidya kemudian mengangkat tangannya hendak menyentuh pipi cucunya dan langsung dibantu oleh Darren.

"Oma sayang kamu."

"Aku juga sayang, Oma!"

"Hiduplah dengan baik. Jangan pernah sakit-sakit lagi, terutama jantung kamu."

Darren tidak menjawab. Dia diam mendengar ucapan dari sang Oma. Hanya air matanya sebagai perwakilan hatinya yang sakit.

"Tolong panggilkan Papa dan keenam kakak kamu. Oma juga ingin bicara dengan mereka."

"Baiklah."

Darren berdiri dari duduknya, dia kemudian mencium kening sang Oma.

Setelah itu, Darren pun pergi meninggalkan ruang rawat neneknya untuk memanggil ayah dan keenam kakaknya.

^^^

Kini Darren telah berada di luar. Tatapan matanya langsung bertemu dengan tatapan mata ayahnya dan keenam kakaknya.

Detik kemudian, ekspresi wajah Darren berubah datar dan dingin. "Oma mau ketemu kalian."

Setelah mengatakan itu, Darren pergi menjauh dari ayah dan keenam kakaknya. Dan dia duduk di sebuah kursi yang tersedia disana.

"Oma! Jika Oma ingin pergi, pergilah. Aku mengikhlaskan kepergian Oma. Jika nanti Oma bertemu dengan Mama, sampaikan salamku pada Mama," batin Darren. Air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya.

Gilang dan Darka seketika menangis ketika mendengar suara hati adiknya. Keduanya kemudian berbalik dan menatap kearah dimana adiknya duduk saat ini. Hati mereka benar-benar hancur saat ini ketika melihat kondisi adiknya.

Setelah puas melihat adiknya, Gilang dan Darka berbalik lalu melangkah masuk ke dalam untuk menemui sang Oma.

Melihat Darren yang duduk sendirian di kursi tersebut membuat ketujuh sahabat-sahabatnya langsung menghampirinya. Mereka memberikannya dukungan dan ketenangan untuk Darren. Mereka mengatakan kata-kata yang bisa membuat sahabatnya itu tenang, walau tidak sepenuhnya bisa tenang.

Cklek..

Pintu dibuka. Dan keluarlah Erland dan keenam putranya. Kondisi mereka tak baik-baik saja.

Detik kemudian..

"Maaf, Nyonya Vidya telah pergi meninggalkan kita semua!"

Detik itu juga terdengar isak tangis anggota keluarga ketika mendengar orang yang merasa sayangi dan mereka hormati telah pergi untuk selamanya.

Darren yang saat ini masih setia duduk di kursi, ditemani oleh ketujuh sahabat-sahabatnya seketika menangis dalam diam. Tidak terdengar isak tangisnya sama sekali.

Darren menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kepalanya menggeleng ribut dan tubuhnya bergetar hebat ketika mendengar sosok yang begitu dia sayangi dan hormati setelah kedua orang tuanya pergi untuk selamanya.

Axel dan Qenan yang duduk di samping kanan dan kiri Daren mengusap-usap lembut punggung Darren yang bergetar. Mereka semua menangis karena mereka juga merasakan kehilangan sosok Oma yang baik dan penuh cinta seperti Oma Vidya. Selama hidupnya, Oma Vidya selalu memberikan perhatiannya untuk semua cucunya termasuk sahabat-sahabat cucu-cucunya.

Davin seketika melangkah mendekati Darren. Dia ingin memberikan pelajaran kepada adiknya itu atas apa yang terjadi pada sang Oma.

Melihat Davin yang ingin mendekat Darren membuat Darka dan Gilang mengikutinya.

Ketika Davin hendak menarik tangan Darren, tiba-tiba Gilang langsung menahan tangannya yang satunya.

Setelah itu, Gilang menariknya menjauh dari Darren.

Setelah menjauh dari Darren. Gilang langsung mendorong kuat tubuh Davin hingga tersungkur ke belakang.

"Menjauhlah dari adikku!" bentak Gilang dengan tatapan nyalangnya.

Bagaimana dengan Darka? Dia juga sama seperti Gilang. Tatapan mata mereka menatap tajam kearah Davin.

Davin menatap tajam kedua adiknya yang berdiri di hadapannya.

"Menyingkirlah Darka, Gilang!" bentak Davin.

"Lawan aku dan Gilang. Jika kau berhasil melawan kami berdua, baru kau bisa melewatiku dan Gilang," jawab Darka dengan dingin.

Deg..

Davin terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus ancaman dari Darka. Dia tidak menyangka jika Darka akan mengatakan itu.

"Minggir Darka, Gilang! Jangan sampai kakak...."

Duagh..

Gilang langsung memberikan tendangan kuat tepat di perut Davin sehingga membuat tubuh Davin terhuyung ke belakang.

"Tidak, Gilang!" teriak Erland dan keempat putra tertuanya.

Andra membantu kakaknya yang tampak kesakitan di perutnya.

Darka seketika tersenyum di sudut bibirnya. "Kau terlalu meremehkan kami berdua, Davin! Bahkan kau sama sekali tidak mendengarkan apa yang kami ucapkan ketika sarapan pagi di rumah. Dan beberapa menit yang lalu aku juga mengatakan hal yang sama, ditambah lagi kau akan menyakiti kami jika kami tidak memberikan jalan untukmu."

"Bukannya takut atau berubah. Justru kau semakin menjadi-jadi."

Darka tersenyum di sudut bibirnya dengan tatapan matanya menatap Davin.

"Kau manusia menjijikan, Davin! Kau tak layak disebut manusia!" bentak Gilang.

Ketika Darka hendak mengeluarkan kemarahannya lagi, tiba-tiba Darren berdiri dari duduk sembari berteriak marah.

"Cukup!"

Darren berjalan mendekati Davin. Tatapan matanya menatap tajam kearah kakak sulungnya. Tatapan matanya begitu mengerikan.

"Apa kau yakin aku adalah pembunuh? Apa kau yakin aku yang sudah membunuh Mama?" tanya Darren dengan sorot mata yang begitu mengerikan.

Hening..

Tidak ada jawaban dari Davin. Justru tatapan matanya menatap semakin tajam kearah adiknya itu.

"Jawab!" teriak Darren.

"Iya. Aku sangat yakin jika kau yang telah membunuh Mama!" bentak Davin.

Seketika Darren tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar jawaban lantang dari kakaknya itu.

Sementara Darka dan Gilang mengepal kuat tangannya disertai tatapan matanya yang tajam kearah Davin.

"Baiklah kalau begitu. Tapi ingat ucapanku dan jangan pernah kau lupakan, bahkan sampai kau mati. Begitu juga dengan kalian!" Darren berbicara dengan tatapan matanya menatap kearah ayah dan kakak-kakaknya secara bergantian.

"Jika terbukti aku tidak bersalah. Dengan kata lain, kematian Mama tidak ada hubungannya denganku. Aku bersumpah akan membalas setiap perbuatan kalian dan perkataan kalian selama ini. Aku bersumpah tidak akan pernah memberikan maaf kepada kalian. Aku bersumpah tidak akan pernah berdamai dengan kalian walau kalian menangis darah sembari bersimpuh di depanku. Aku bersumpah akan membuat kalian merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Camkan itu!"

Darren berbicara dengan penuh ancaman dan penekanan. Dia menatap kearah ayah dan kakak-kakaknya dengan tatapan penuh amarah dan dendam.

"Ketika saat itu tiba dimana kalian semua menyesal, maka semua itu sudah terlambat. Dan sekalipun ada yang membantu kalian untuk mendapatkan maaf dariku, maka aku tidak akan pernah sudi memberikan maaf kepada kalian. Justru aku akan buat kalian makin hancur dalam penyesalan."

Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan rumah sakit. Dia tidak ingin berlama-lama berada disana.

Melihat kepergian Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya langsung mengikutinya. Begitu juga dengan kelima kakak mafianya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!