NovelToon NovelToon

Mundur Atau Terus Mengejarnya?

Malam yang menegangkan

Gwenara Seyren, seorang gadis berumur 17 tahun mengayunkan langkah demi langkah di malam yang begitu dingin.

Gwen terus melangkah dengan gontai menyesal tidak membawa motor kesayangannya saja, sesekali dia menyentak kakinya tanpa peduli banyak genangan air di pinggir jalan telah membasahi celana panjangnya.

Tiba-tiba gadis yang memiliki mata hazel coklat berhenti di depan persimpangan. Matanya terus menatap dua jalan persimpangan itu. Gadis itu tampak ragu memilih jalan yang mana untuk menuju ke rumahnya.

" Pilih yang mana ya? Kalo gue pilih terus ke depan maka lama dong sampeknya" Menolog Gwen pada diri sendiri sembari mengarahkan pandangannya ke arah sampingnya. " Kalo gue belok ke kiri bakal cepet, tapi gang ini sempit, gelap lagi,"

Gwen terus menimang nimang keputusannya, jujur kini bulu kuduknya tiba-tiba berdiri hanya menatap lorong kecil sebelah kirinya. Gadis itu menghembuskan nafas sebelum memilih melangkah ke arah lorong sempit itu.

"kenapa ya malam ini lorong ini tampak beda?" gumamnya.

Saat Gwen menelusuri lorong itu secara cepat sontak ia mengerem sepedanya secara tiba-tiba karena dari kejauhan ia menatap seorang pria bermasker berpakaian serba hitam menodong pistol ke arah seorang pria paruh baya yang sudah gemetar.

Gwen mengigit telunjuknya karena gugup. Namun seketika itu ia meringis karena gigitannya terlalu kuat.

" Sembunyi!"

Dor

Belum sempat Gwen melangkah ketempat persembunyian terlebih dahulu suara tembakan masuk ke pendengaran gadis itu. Sontak gadis itu membulatkan matanya saat melihat pria yang di todongkan pistol sudah tergeletak di tanah dengan berlumuran darah di kepala pria itu.

Gadis yang masih di selimuti rasa terkejut itu seketika celingukan ke sekitarnya. Ia melihat sebuah bak sampah cukup besar. Tanpa berpikir panjang lagi gadis itu bersembunyi dibalik bak sampah itu.

Tak lama dari suara tembakan, Gwen mendengar suara derap kaki dari beberapa orang mendekat ke tempat itu.

" Kaparat! Kau tak bisa kabur lagi" Ucap seorang lelaki dengan suara berat namun cukup menakutkan bagi Gwen. Tapi gadis itu mengernyitkan keningnya kala mendengar suara itu yang tampak familiar baginya.

" Jangan bunuh saya! Saya janji tidak akan mengacau lagi, tuan" Ujar seseorang dengan suara yang terdengar gemetar. Gwen yakin orang itu tengah terpojokan oleh seseorang saat ini.

" Saya akan mengabulkan permohonanmu, tapi saya terlanjur turun tangan. Saya tidak mau waktu yang Saya lewatkan untuk mengejarmu terbuang sia-sia. Jadi, selamat tinggal "

Dor

Brukk

Gwen membulatkan matanya saat melihat seseorang pria tergeletak di depannya dengan kepala yang di penuhi darah segar. Melihatnya seketika membuat gadis itu memejamkan matanya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Rasanya benar-benar mual.

" Urus mayat-mayat itu" Titah seorang laki-laki dengan suara berat tadi.

" Baik tuan muda! " Jawab beberapa orang bersamaan.

Mendengar itu Gwen semakin diam di tempatnya. Ia mundur perlahan hingga punggungnya mengenai tembok. Semoga orang-orang tadi tidak melihat keberadaannya. Kalau tidak, ia yakin nasibnya pasti akan sama seperti pria barusan.

Dua orang pria bersetelan serba hitam tampak berjongkok di depan mayat tadi. Mereka sepertinya tidak menyadari keberadaan Gwen. Hal itu seketika membuat dada gadis itu terasa sedikit lega. Walaupun kenyataannya gadis itu masih merasa ketakutan.

Namun tak lama Gwen merasa sesuatu menggelitik permukaan tangan kanannya. Rasanya seperti ada sesuatu yang merayap di sana.

Spontan Gwen melirik ke arah tangannya. Ia melihat sebuah benda hitam berkumis panjang tengah merayap di sana.

" Aaaa! Kecoa! " Jerit Gwen sambil melompat keluar dari persembunyian. Tepatnya, ia berdiri di depan tempat sampah itu. Tidak lupa dengan tangan ia sentakan ke udara. Seketika saja membuat makhluk kecil itu jatuh dari tangannya.

Sedetik kemudian Gwen terdiam, ia merutuki kebodohannya. Kenapa ia keluar dari persembunyian?

Dengan gerakan kaki, Gwen menengok sekitarnya. Dapat ia lihat dengan jelas, dua pria yang berjongkok tadi sudah berdiri menatapnya waspada. Tangan mereka terangkat ke atas Gwen. Menodongkan pistol yang sepertinya sudah siap di tembakkan ke arahnya.

"Om, saya orang baik-baik! " Gwen bercicit sambil mengangkat tangan ke udara.

Mata Gwen bergulir lagi ke arah lain. Ia melihat beberapa pria dengan pakaian sama seperti dua pria tadi yang menodongkan pistol kepadanya. Mampus! Gwen terkepung.

" Siapa kamu? " Tanya salah satu pria dari para pria berbaju hitam tadi.

" Gu-gue.. " Ucap Naomi terputus. Gadis itu meremas jemarinya, mengepalkan telapak tangannya yang terasa begitu basah. Perlahan Naomi mundur. Mencoba menjauh dari orang-orang yang tampak mulai mendekatinya. Sampai...

Duk

Punggungnya terasa menabrak sesuatu yang keras. Tapi ia yakin itu bukan tembok.

" Wah! Sepertinya ada kucing kecil yang tersesat! "

Glek

Gwen menelan ludahnya susah payah. Suara itu, suara berat yang sama seperti yang ia dengar tadi dan tentunya ia sangat mengenali suara berat itu. Untuk memastikan dugaannya benar, Gwen membalikkan badannya. Ia melihat seorang lelaki tinggi bersetelan jaket serba hitam. Gwen mendongak menatap lekat wajah lelaki itu namun wajahnya masih tertutup dengan masker hitam.

Gwen sempat tertegun melihat warna mata lelaki itu berwarna biru sontak ia membulatkan matanya saat mengenal siapa pemilik mata biru itu.Tatapan keduanya seketika saling bertumpuk. Sorot mata lelaki itu terlihat tajam, tapi begitu dalam ke arah Gwen. Hal itu sejenak Gwen terhanyut.

" Turunkan pistol kalian! Segera urus mayat-mayat itu" Intruksi lelaki itu membuat Gwen kembali sadar dari lamunannya melihat orang yang berada di depannya.

Seketika mereka semua pergi membawa mayat-mayat itu atas intruksi pemuda yang ada di depan Gwen. Melihat itu seketika gadis itu menghela nafas lega dan matanya kembali mendongak pemuda di depannya.

" Hai kak Nio! " Ucap Gwen melambaikan tangannya ke udara sembari memamerkan deretan gigi putihnya begitu melihat sang pujaan hati yang ia kejar selama ini berada di depannya.

Arsenio menaikan sebelah alisnya menatap Gwen yang berusaha menyembunyikan ketakutannya.

Yap!

Gaillard Arsenio Ghaazy yang berumur 22 tahun. Anak bungsu dari pasangan Vincent dan Ellie.

Gwen segera membalikkan tubuhnya berniat ingin melarikan diri, namun kerah baju belakangnya tiba-tiba terangkat oleh sebuah tangan kekar.

"Mau kabur?" tanya Arsenio dengan suara serak tepat dk kuping sebelah kanan Gwen.

Seketika Gwen merinding, perlahan membalikkan tubuhnya kembali menghadap Arsenio yang sudah membuka maskernya. "Maaf kak, aku tadi gak sengaja lewat. Jangan bunuh aku ya, aku janji ga bakal bilang sama siapa-siapa deh."

Arsenio mengangkat sudut bibirnya ke atas, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Gwen, hingga hidung mereka saling bersentuhan.

Gwen meneguk ludah dengan kasar, tangannya gemetar menatap mata elang milik Arsenio. Sedangkan, Arsenio kembali memajukan wajahnya menatap dalam mata penuh ketakutan Gwen.

"Lain kali jangan nekat pergi sendiri kayak gini, kalo bukan aku yang di sini, kamu ga akan selamat little kitten," bisik Arsenio di depan wajah Gwen. Jika terjadi satu dorongan kecil saja, otomatis bibir itu saling bersentuhan.

"Sekarang pulang, jangan berkeliaran lagi," lanjutnya melepaskan tangannya di pinggang kecil Gwen, mundur satu langkah.

Gwen hanya mengangguk kaki tanpa berani menatap Arsenio. "Maaf kak, lain kali aku ga akan lewat jalan ini lagi," ucapnya.

Kemudian, tanpa basa-basi lagi, Gwen langsung mengambil langkah seribu meninggalkan Arsenio yang menatapnya datar.

"Pastikan gadis itu pulang dengan selamat," titah Arsenio kepada anak buahnya yang berdiri agak jauh dirinya.

"Baik tuan muda,"sahut bodyguard itu dengan patuh.

Bab 2

Gwen melangkah gontai di koridor sekolah, kepala tertunduk, menghiraukan sapaan beberapa teman. Meski biasanya gadis itu tersenyum merespons setiap sapaan, hari ini wajahnya tampak murung.

Ketika melintas di dekat lapangan voli, pandangannya teralih kepada sosok yang semalaman membuatnya resah. Arsenio, yang sedang berbincang asyik dengan seorang teman di bawah rindangnya pohon, tiba-tiba menoleh dan mata mereka bersinggungan. Gwen cepat-cepat menundukkan kepala lagi, rasa cemas menggigit hatinya.

"Gwen, kenapa sih lo menghindar tatapan Kak Nio? padahal cuman tatapan biasa doang" batinnya. Dia ingat keputusannya semalam untuk menjauh dari Arsenio, tetapi hatinya seolah berkhianat, selalu merindukannya.

"Kenapa juga harus jatuh cinta sama orang yang begitu berbahaya? Gue tau dia pernah membunuh, tapi itu karena orang itu pasti salah. Yang gue takutkan, Kak Nio mungkin bakal bunuh gue juga," gumamnya lagi sambil melanjutkan langkah, mencoba meredakan gemuruh di dalam dada.

Gwen terkejut, bahunya terasa berat ketika tangan putih dan mulus itu tiba-tiba mendarat. Selly, sahabatnya yang selalu cerewet, mengerucutkan bibirnya seraya berkata, "Kenapa lo diam aja dari tadi? Ga seru tau kalau lo lagi mode diam."

Selly meraih wajah Gwen, mencari tahu mengapa kulit sahabatnya itu tampak pucat, dan bawah matanya menghitam. "Lo ga tidur semalam? Pasti lagi nonton drama, kan? gitu ya lo ga ajak-ajak gue?"

Gwen hanya menggeleng lemah, pandangannya sayu. Selly menggebrak, "Gue ga suka lo kayak gini. Gue suka sahabat gue yang cerewet minta ampun. Ga suka lo diam begini," ujarnya sembari mencondongkan pinggul.

Gwen melontarkan pandangannya yang penuh kegelisahan. "Gue harus gimana, Sel?" katanya dengan nada frustrasi, sambil menghela nafas panjang. Dia belum menceritakan perihal kejadian semalam kepada siapa pun, termasuk Selly.

"Apanya yang gimana? Cerita dong biar gue tahu," desak Selly, tangannya kembali merangkul bahu Gwen. Selly menghela nafas berat melihat Gwen hanya diam saja, membuatnya merasa cemas dan frustrasi juga.

Selly tampak bingung sambil berbicara, "Biasanya lo tuh udah nangkring di kampusnya Kak Arsenio, kan? Tempat terlarang bagi anak SMA." Pandangannya sengaja dialihkan ke arah Arsenio yang sedang berbincang asik dengan abangnya, Danny.

Memang, sekolah Gwen dan kampus Arsenio hanya bersebelahan, mempunyai pemilik yang sama, membuat Gwen sering 'mengganggu' kakak kelasnya itu dengan kedatangannya yang kerap.

"Kak Arsenio, Gwen nih!" teriak Selly tiba-tiba.

Gwen, yang sempat terlena dalam lamunannya, langsung terkejut dan buru-buru menutup mulut Selly dengan tangannya, pipinya memerah.

"Lo apaan sih, panggil 'kak Nio' segala," desis Gwen kesal.

"Biarkan dia tahu kalau lo di sini," jawab Selly tenang.

"Jangan," rintih Gwen dengan suara kecil yang masih cukup terdengar oleh Selly.

"Lo kenapa sih, kayak menghindar Kak Arsenio gitu?" tanya Selly, penasaran.

Belum sempat Gwen menjawab, tiba-tiba terdengar suara peringatan yang menggema. "Gwen, awas!" teriak salah satu pemain voli di lapangan.

Gwen yang bingung menoleh ke arah suara itu, dan dalam sekejap, sebuah bola voli meluncur dengan cepat dan menghantam kepalanya.

Para manusia disana mengernyit, mereka bisa membayangkan rasa sakit yang mungkin dirasakan oleh kepala yang tertimpa bola voli itu.

Gwen memegangi kepalanya yang berputar tak karuan, sementara Selly panik berusaha menopang tubuh Gwen yang hampir roboh. Namun, tubuh Gwen akhirnya tersungkur ke lantai, matanya sayu menatap kegelapan.

"Gelap, ya, Sel?" tanya Gwen dengan suara lemah.

"Jangan bicara dulu, kita ke UKS," kata Selly, mencoba menarik Gwen agar bangkit, tapi Gwen hanya mampu menatap ke atas sebelum pandangannya mulai menyamping, melihat Arsenio berlari mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Gue liat kak Nio kemari," Gumamnya dengan Pandangannya semakin buram, dan tak lama kemudian, kesadarannya terlepas dalam dekapan Selly.

"Gwen," panggil Selly lembut.

Arsenio dengan cepat mengambil alih, menggendong Gwen ke UKS. Danny dan Selly mengikuti di belakang, keduanya terlihat panik.

***

Gwen hanya terbaring lemas di ranjang UKS, napasnya terengah-engah tapi tenang, menunjukkan tidak ada bahaya serius setelah terkena bola voli itu. Selly, dengan lega, mengusap lembut rambut Gwen, tersenyum ringan. "Dasar kebo, cuma bobok doang, gue pikir terjadi sesuatu sama lo," gumam Selly sambil cibirannya nyaris terdengar.

Danny yang sedang duduk santai di sofa, melirik sambil tertawa kecil. "Kamu juga, Dek. Sama aja kebo!" cibirnya balik, membuat Selly memandangnya dengan tatapan tajam tak suka dengan perkataan abangnya, walaupun itu sangat benar.

Pandangan Selly bergeser ke Arsenio yang duduk di samping ranjang, matanya tidak berkedip menatap Gwen yang tidak sadarkan diri. "Kak Arsen tolak cinta Gwen ya? Katanya dia ga bisa tidur semalam, makanya begini," tanya Selly dengan nada menggoda.

Arsenio hanya mengangkat satu alis, bingung. Selly berpaling pada Danny, mencari konfirmasi. "Abang belum ngomong ke Kak Arsen?" tanyanya, menekankan setiap kata.

Danny hanya tersenyum kecil ke arah Selly dan Arsenio, yang sudah menatapnya dengan mata tajam. "Ngomong apa?" tanya Arsenio dengan suara datar.

"Itu, katanya Gwen benar-benar tulus sama lo," sahut Danny, meningkatkan ketegangan di antara mereka.

Arsenio hanya mempertajam tekuk di dahinya, mencoba memproses kata-kata yang baru saja didengarnya.

Selly menghela nafas berat, "Kayaknya abang nggak bisa diandelin buat nyatuin kapal yang siap berlayar deh." Lalu, dia menatap Arsenio kembali berkata,"Awalnya Gwen mendekati Kak Arsen karena ada kepentingan pribadi, tapi sekarang dia udah bener-bener suka sama Kak Arsen, loh," jelas Selly.

"Kepentingan pribadi?" tanya Arsenio dengan alis terangkat.

"Iya, Kak. Gwen awalnya cuma pengen perlindungan dari kak Arsen, makanya dia ngotot banget nempelin kakak," ujar Selly cepat.

"Dari siapa?" tanya Arsenio lagi.

"Di kelas aku, ada cowok yang obsesi banget sama Gwen. Cowok itu takut banget sama kakak, makanya Gwen terus-terusan deketin kakak," lanjut Selly. Arsenio masih tampak mencerna informasi itu.

"Itu loh, cowok yang hampir ngelakuin pelecehan ke Gwen dua tahun lalu. Karena lo udah nolong Gwen waktu itu, dan dia tau cowok itu takut sama lo, makanya Gwen ngotot deketin lo," timpal Danny.

"Benar, Kak. Dua minggu ini Gwen aman dari dia, soalnya dia udah dua minggu nggak masuk sekolah. Kakak harus tahu Gwen tulus sama Kak Arsen, tapi aku nggak tahu kenapa dia menghindar," ucap Selly, matanya berpindah menatap Gwen.

"Kalo udah sadar, trus suruh pulang sama gue. Gue tunggu di parkir" ujar Arsenio dengan tegas.

"Biar aku aja, Kak. Nggak usah repot-repot," timpal Selly, meski dia tahu sahabatnya pasti senang mendengarnya. Namun, dia juga ingin memanfaatkan situasi ini untuk bisa bolos sekolah.

"Nggak bisa, kamu nggak boleh bolos, Dek. Biar Arsen aja yang nganterin Gwen. Kebetulan Arsen juga nggak ada kelas lagi," sahut Danny, membuat Selly kecewa berat.

"Tapi aku tetap mau anterin Gwen pulang, gimana?" tegas Selly dengan keras kepala.

"Siap-siap aja kena ceramah dari Ayah sama Bunda," ancam Danny.

Selly kesal bukan main, meninju udara frustasi. "Ish, dasar tukang ngadu!" gerutu Selly kesal.

Arsenio segera keluar dari UKS diikuti oleh Danny yang tersenyum miring ke adiknya. "Emangnya kenapa sih Gwen sampai ngehindar dari lo?" tanya Danny, mengikuti langkah lebar Arsenio.

Arsenio mengerem mendadak dan menjawab, "Semalam dia liat gue bunuh orang."

Bab 3

Gwen merapat ke jendela mobil Arsenio, mengusap lengan yang masih gemetar setelah bangun dari tidurnya. Sebelumnya dia sempat bertengkar ringan dengan Selly yang bersikeras dia harus pulang bersama Arsenio. Tanpa daya, Gwen pasrah dan hanya mengepalkan seragamnya dengan tangan gemetar, duduk sambil menunggu mesin mobil menyala.

"Kenapa masih belum berangkat sih?" bisik Gwen dalam hati.

Arsenio, yang duduk di sampingnya, menoleh kepadanya, memancing refleks Gwen untuk memalingkan wajah. Dia mencoba melarikan pandang, tapi Arsenio masih terus memandanginya, membuat detak jantung Gwen memburu.

"Gwen," panggil Arsenio dengan suara rendah.

Gwen menoleh, bibirnya bergetar ringan. "Iya, Kak?"

Raut wajah serius Arsenio tidak berubah, mata mereka bertaut lama, sampai Gwen tak tahan dan harus bertanya. "Kak, kenapa ga dijalankan mobilnya?" suaranya gemetar.

"Pake seatbelt dulu," jawab Arsenio, memecah ketegangan.

Seakan terbangun dari lamunan, Gwen dengan cepat meraih seatbelt dan memasangkannya ke tubuhnya. "Ah, iya," gumamnya pelan, menegur diri sendiri atas ketegangannya.

Arsenio, dengan senyum tipis, mulai menjalankan mobil, menatap sejenak ke arah Gwen yang tampak cemas. Keheningan segera menyelimuti perjalanan mereka, hanya sesekali Gwen melirik Arsenio yang tampak sangat fokus mengemudi.

Untuk mengusir kebosanan, Gwen mengeluarkan ponsel dari tasnya, berharap ada pesan masuk yang bisa mengalihkan perhatiannya. Saat layar ponsel menyala, nada pesan yang berdering bertubi-tubi seketika membuat jantungnya kembali berdegup kencang.

Dengan gerakan tangan yang gemetar, dia memalingkan tubuh ke jendela, berusaha menyembunyikan rasa canggung dari Arsenio.

Gwen membuka aplikasi pesan, matanya membelalak melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari ayahnya dan pesan beruntun dari abangnya yang menanyakan keberadaannya.

Tetapi, satu pesan suara dari ayahnya membuatnya menggigit bibir, frustasi. "Kenapa papi kirim pesan suara segala, sih?" bisiknya dengan suara serak, hati-hati agar suaranya tidak terdengar oleh Arsenio yang duduk di sampingnya.

Gwen meraba ponselnya, menekan tombol mulai. "Adek, kamu benar-benar pingsan di sekolah, ya?" suara ayahnya yang cemas terdengar jelas meski volume sudah dikecilkan.

Gwen hanya bisa menggigit bibirnya ketika Arsenio, yang duduk di sebelahnya, memberikan senyum tipis yang terasa mengejek. Perasaan malu dan khawatir bercampur ketika ia mencoba membalas pesan chat ayahnya.

Namun, tiba-tiba ponselnya berdering, ayahnya kembali menelpon. Gwen mengangkat panggilan itu, usahanya menenangkan diri seolah sirna. "Kenapa pesan Papi tidak kamu balas, ha!? Kamu selalu bisa buat Papi panik, ya!" tegur ayahnya dengan nada tinggi, tanpa memberikan kesempatan untuk Gwen menjelaskan. Gadis itu hanya bisa meringis, menjauhkan ponsel dari telinga sementara ayahnya terus bertanya.

"Papi, adek gak papa, sekarang sudah sehat kok," jawab Gwen dengan suara yang dibuat semakin pelan, berharap Arsenio tidak mendengarnya.

"Kok bisik-bisik sih, kamu lagi di mana, Sayang? Cepet bilang ke Papi, biar Papi jemput," ujar ayahnya khawatir.

"Papi, tenang aja, bentar lagi nyampe kok. Udah ya, Pi, aku tutup dulu. Aku sayang Papi," balas Gwen, cepat-cepat mematikan panggilan sebelum ayahnya sempat menjawab.

Gwen, yang terkesan kurang ajar, memutar badannya membelakangi Arsenio, tersenyum canggung karena tingkahnya yang konyol itu.

Arsenio yang dari tadi menahan tawa, kini melirik ke luar jendela. Mereka sedang berhenti di lampu merah. Tiba-tiba, seorang anak kecil penjual bunga muncul di samping Arsenio.

"Kak, beli bunga dong buat pacarnya. Pasti lagi butuh mood booster, kan?" rayu bocah itu.

Arsenio menatap sejenak bunga mawar yang ditawarkan, lalu menoleh ke samping, di mana Gwen masih berpaling darinya. Dengan gerak cepat, Arsenio mengeluarkan selembar uang merah dan memutuskan untuk membeli bunga mawar tersebut.

"Makasih, Kak. Semoga pacarnya suka," ucap bocah itu sebelum melenggang pergi.

Arsenio meletakkan bunga mawar merah di atas dasbor, tepat menghadap Gwen. Gwen, yang semula merenung, langsung menegakkan tubuh dan menatap Arsenio dengan raut kebingungan.

Arsenio, dengan pandangan yang tetap lurus ke depan, mengucap datar, "Kalo nggak suka, buang aja."

Gwen menggumam pelan, seolah-olah menertawakan upaya romantis yang gagal, "Sama sekali nggak romantis, kasih bunga aja gitu, kaku banget Kak Nio."

Namun, di balik cibirannya, Gwen tidak tahan untuk tidak tersenyum sambil mengambil dan mencium aroma mawar itu. Perasaan gugup dan ketakutan yang sebelumnya menerpanya pelan-pelan menguap, digantikan oleh rasa ceria.

Tiba-tiba, dia menunjuk keluar jendela. "Eh, itu mobil papi," ucapnya, menyadari ada mobil yang sering dipakai ayahnya terparkir di pinggir jalan. Gwen menoleh ke Arsenio, "Kak, aku turun di sini ya. Makasih tumpangannya." Dia berkata sambil mengambil tasnya dan perlahan membuka pintu mobil.

Arsenio duduk dalam mobilnya, tangannya tidak sengaja menyentuh bunga mawar yang terletak di dasbor. Sejenak ia merenungi, mungkin Gwen tidak menyukai bunganya sehingga ia tidak membawanya.

Kesalahpahaman itu segera sirna ketika pintu mobil tiba-tiba terbuka dan Gwen muncul dengan senyum mengembang. "Makasih bunganya, kak. Aku suka banget!" ujarnya seraya mengambil bunga mawar tersebut sebelum kembali menutup pintu mobil dengan ceria.

Senyum Arsenio semakin melebar saat ia melihat Gwen berjalan menjauh, detik-detik ia nyaris keluar dari mobil saat melihat Gwen hampir tertabrak saat menyebrang, namun ia urungkan niatnya karena gadis itu tampak baik-baik saja.

"Ceroboh," gumamnya dalam hati, namun dengan nada yang lebih lega dan penuh kepedulian.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!