NovelToon NovelToon

Cinta VS Gengsi

AWAL DARI SEGALANYA

Suara lonceng sekolah berdentang, menandakan dimulainya jam pertama di SMA Angkasa. Siswa-siswi berjalan memasuki gerbang dengan berbagai ekspresi—ada yang ceria, ada yang malas, dan ada juga yang masih mengantuk. Bagi kebanyakan siswa, hari Senin adalah awal minggu yang membosankan, mana ada ya kan anak sekolah yang senang pada jika hari senin tiba.

Namun, bagi Alana Adhisty, hari ini bukan sekadar hari biasa. Hari ini adalah pengumuman hasil ujian semester.

Alana duduk di bangkunya, mengetukkan jarinya ke meja dengan tidak sabar. Kelas sudah mulai terisi oleh teman-temannya, tetapi matanya hanya tertuju ke papan tulis, menunggu guru masuk dan menempelkan daftar nilai.

“Lana, kamu yakin bakal tetap jadi nomor satu?” tanya Sasha, sahabatnya sejak ia memasuki bangku dasar kanak-kanak,yang duduk di sebelah.

“Tentu saja,” jawab Alana cepat. “Aku sudah belajar mati-matian. Sudah aku jamin,aku akan jadi peringkat pertama.”

Sasha tertawa kecil melihat semangat membara sangat sahabat yang penuh keyakinna. “Tapi Darel juga sama pintarnya. Jangan lupa, dia sering hampir menyaingimu dalam nilai,walau...beda beberapa angka.”

Alana mendengus pelan. Nama Darel Arya sudah terlalu sering ia dengar dalam hidupnya. Cowok itu adalah satu-satunya orang di sekolah yang bisa menyaingi dirinya dalam hal akademik. Mereka selalu bersaing untuk posisi teratas, dan selama ini, Alana selalu menang.

Tapi entah kenapa, kali ini dia merasa sedikit gugup, Ah Alana harus berfikir positif.

Tak lama, Bu Rina, wali kelas mereka, masuk sambil membawa beberapa lembar kertas. Kelas langsung hening. Semua menunggu dengan tegang saat guru mereka mulai menempelkan hasil ujian di papan pengumuman.

Alana langsung berdiri dan berjalan cepat ke depan kelas. Matanya langsung menyusuri daftar itu, mencari namanya. Namun, alih-alih melihat namanya di peringkat pertama, dia justru menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam. Tidakkkk sialan Daren! 'batin Alana berteriak'

Darel Arya – 98,7

Alana Adhisty – 98,5

Selisih 0,2 poin.

Hanya 0,2 poin.

Tapi itu cukup untuk membuat Alana kehilangan gelarnya sebagai peringkat pertama.

Dari belakang, suara seseorang terdengar santai. “Kelihatannya ada yang turun peringkat nih.”

Alana menoleh dengan kesal. Seperti yang sudah ia duga, Darel berdiri di sana dengan ekspresi santai dan sedikit smirk di wajahnya. Itu sangat menyebalkan.

“Jangan terlalu bangga, Darel,” kata Alana dengan nada tajam. “Aku akan merebut kembali posisiku di ujian berikutnya.Awas saja kau Darel”

Darel mengangkat bahu, masih dengan senyum menyebalkan itu. “Kita lihat saja, Alana cantik.”

"Idih cantik-cantik, eh Terima kasih Darel Monyet" balas Alana lalu pergi dengan terbahak-bahak

Gadis itu mengepalkan tangannya, menahan rasa jengkel yang membara di dadanya. Ini pertama kalinya dia kalah dari Darel, dan dia tidak menyukainya sama sekali.

Namun, bukannya marah atau kecewa, ada sesuatu yang lebih kuat yang ia rasakan.

Motivasi.

Dia tidak akan membiarkan Darel menang lagi.

___

Setelah bel istirahat berbunyi, Alana dan Sasha berjalan menuju kantin. Alana masih kesal, tetapi ia berusaha menyembunyikan emosinya. Ia harus makan, itu penting untuk hidup nya saat ini selain tentang Nilai yang tinggi.

“Lo yakin Lana? makan bakso pedes kamu jadi merasa lebih baik,” kata Sasha sambil menggandeng tangannya.

Alana menjawab dengan santai. “Yakin seratus ribu persen Sasha.”

Saat mereka berjalan melewati lapangan basket, suara sorakan terdengar dari sekelompok siswa yang sedang berkumpul. Alana menoleh, dan matanya langsung menangkap sosok yang sedang menjadi pusat perhatian.

Darel. Malas sekali rasanya melihat muka monyet Darel huhu.

Laki-laki itu sedang bermain basket bersama teman-temannya. Kaos seragam olahraganya sedikit basah oleh keringat, tetapi ia tetap terlihat tenang dan percaya diri. Dengan gerakan lincah, ia menggiring bola, melompati pemain lain, dan memasukkan bola ke dalam ring dengan sempurna.

Para penonton bersorak.

Alana hanya mendengus. “Kenapa sih dia selalu jadi pusat perhatian?”

Sasha terkikik. “Karena dia memang keren.”

“Hah, keren dari mana nya Sasha. Dia enggak ada bagian ‘keren’-nya kalo di lihat.”

Sasha meliriknya dengan senyum penuh arti. “Oh, ayolah, Lana. Aku tahu kamu selalu menganggap dia sebagai rival, tapi tidak mungkin kalau kamu tak melihat sisi kegantengan sang pangeran sekolah.”

Alana mengerutkan dahi. “Maksud kamu?”

Sasha mengedikkan dagunya ke arah lapangan. “Lihat aja sendiri. Darel itu bukan cuma pintar, tapi juga jago olahraga. Dan aku tahu semua cewek di sekolah ini suka sama dia,meskipun sudah punya pacar sekali pun .”

Alana melipat tangan di dada. “Lalu, kenapa aku harus peduli?”

Sasha menghela napas, lalu tersenyum jahil. “Mungkin karena kamu juga mulai tertarik?”

Alana langsung menoleh tajam. “Apa?! Jangan bercanda, Sasha! amit- amit deh Sa” Alana mengusap bahu nya yang terasa merinding

Sasha hanya tertawa dan menarik tangan Alana. “Ya sudah, ayo kita cari tempat duduk. Saat nya isi perut besty”

Meskipun sudah berusaha mengalihkan pikirannya, entah kenapa, bayangan Darel yang bermain basket masih terus ada di benaknya.

Dan itu mengganggunya lebih dari yang ia harapkan.

Ah kenapa ia jadi memikirkan Darel.

__

Setelah istirahat, pelajaran kembali dimulai. Namun, kali ini ada sedikit kejutan yang tidak diharapkan oleh Alana.

Saat ia masuk kelas, Bu Rina berdiri di depan dengan ekspresi serius. “Hari ini, kita akan melakukan proyek kelompok. Ibu sudah membagi kalian menjadi beberapa pasangan. Ibu harap kalian bisa bekerja sama dengan baik. Awas saja kalian kalo tidak bekerja sama,nilai kalian taruhan nya” ancam Bu Rina di akhir kalimat.

Alana menghela napas lega. Dia selalu suka proyek kelompok, terutama jika dia bisa memilih teman satu timnya sendiri.

Namun, harapannya langsung hancur ketika Bu Rina mulai membacakan daftar pasangan.

“Alana dan Darel.”

Alana terdiam.

Dia menoleh ke arah Darel yang duduk di seberang kelas. Cowok itu menatapnya dengan ekspresi datar, lalu mengangkat bahu seolah berkata, Mau bagaimana lagi?

Alana menutup matanya, berusaha menenangkan diri.

Kenapa harus dia?!

Setelah kelas bubar, Alana berjalan ke bangku Darel dengan ekspresi terpaksa.

“Kita harus menyelesaikan proyek ini dengan cepat,” katanya tanpa basa-basi.

Darel menatapnya dengan santai. “Tentu. Gue tidak mau lama-lama kerja sama,sama lo.”

Alana mendengus. “Bagus kalau kita sepaham.”

Darel tersenyum tipis. “Tapi Lo sadar kan, ini berarti kita harus sering bertemu setelah sekolah?”

Alana terdiam.

Astaga. Aku benar-benar sial hari ini.

__

Setelah sekolah, Alana dan Darel memutuskan untuk bertemu di perpustakaan untuk membahas proyek mereka. Meskipun mereka berdua pintar, ternyata bekerja sama bukan hal yang mudah.

“Lana, kita sebaiknya mulai dari pengumpulan data dulu,” kata Darel sambil membuka buku referensi.

“Aku tahu,” jawab Alana ketus.

Mereka duduk berhadapan, masing-masing fokus pada bahan yang mereka cari. Namun, setiap kali Alana mencoba menulis sesuatu, Darel selalu punya pendapat yang berbeda.

“Menurutku, ini bukan sumber terbaik,” kata Darel.

Alana mendengus. “Aku tahu cara memilih sumber, Darel.”

Darel hanya terkekeh. “Yakin?”

Alana menatapnya tajam. “Kenapa sih kamu selalu merasa lebih pintar dariku?”

Darel mengangkat alis. “Karena aku memang lebih pintar.”

Alana ingin membalas, tetapi dia tahu kalau mereka terus bertengkar, proyek ini tidak akan selesai.

Jadi, untuk pertama kalinya, dia memilih diam.

Darel menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. “Ternyata kamu bisa juga diam, ya?”

Alana hanya melotot padanya. “Jangan bikin aku berubah pikiran Darel.”

Darel terkekeh pelan. “Baiklah, baiklah. Ayo lanjut kerja.”

Dan meskipun mereka terus berdebat sepanjang sesi belajar itu, ada satu hal yang mulai terasa berbeda.

Alana menyadari bahwa untuk pertama kalinya, dia tidak hanya melihat Darel sebagai rival.

Ada sesuatu yang lain di sana.

Dan itu membuatnya semakin bingung.

Sebenarnya ia kenapa, dan saat bersama Darel ia bisa merasakan kehangatan.

To be continued…

pulang bareng darel

Perpustakaan SMA Angkasa dipenuhi suara lembaran kertas yang di buka dan bisikan pelan dari para siswa yang sedang belajar. Di salah satu sudut ruangan, Alana duduk berseberangan dengan Darel, tumpukan buku tebal ada di hadapan mereka berdua dan ada buka yang terbuka di antara mereka.

Mereka sudah berada di sini selama hampir satu jam, tetapi proyek yang seharusnya mereka kerjakan bersama malah lebih banyak diwarnai dengan perdebatan kecil Alana yang tidak setuju dengan ucapan Darel.

“Gimana kalau kita mulai dengan teori yang lebih mendalam sebelum masuk ke analisis,” kata Alana, menulis beberapa catatan di bukunya.

Darel menggeleng. “Kita harus mulai dengan poin utama dulu, baru menjelaskan teorinya. Itu akan lebih mudah dicerna.”

Alana menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. “Itu tidak logis.”

Darel tersenyum miring. “Lebih masuk akal dibandingkan menghabiskan waktu hanya untuk teori.”

Alana mengerucutkan bibirnya, jelas tidak setuju. “Gue udah lakuin banyak proyek kayak gini, dan—”

“Dan kali ini Lo bekerja sama bareng gue,” sela Darel dengan santai. “Jadi, kita harus mencari cara yang bisa kita sepakati bersama.”

Alana mendengus, tetapi dalam hati ia tahu Darel ada benarnya juga.

“Ya udah lah terserah Lo,” katanya akhirnya, meski agak terpaksa. “Kita coba cara Lo dulu.”

Darel tersenyum puas. “Pintar.”

 

Setelah beberapa jam bekerja, akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat sebentar. Alana meregangkan tangannya, merasa lelah setelah lama berkonsentrasi.

“Lo mau beli minum?” tanya Darel tiba-tiba.

Alana mengerutkan dahi. “Kenapa lo tiba-tiba baik? ada mau nya nih ya”

Darel tertawa kecil. "Gue cuma nanya.”

Alana menghela napas. “Udahlah, kalo mau beliin gue teh lemon, gue mau itu. ”

Darel mengangkat alis, lalu berdiri. “Tunggu di sini.”

Alana mengamatinya berjalan keluar perpustakaan. Ada sesuatu yang aneh dari interaksi mereka hari ini. Biasanya, Darel lebih suka mengganggunya daripada melakukan hal-hal kecil seperti ini.

Tak lama, Darel kembali dengan dua botol minuman. Ia meletakkan teh lemon di depan Alana dan membuka botol air mineral untuk dirinya sendiri.

“Terima kasih,” gumam Alana.

Darel hanya mengangkat bahunya. “Jangan terlalu terkejut.”

Mereka melanjutkan proyek mereka dengan sedikit lebih santai. Meskipun masih sering berdebat, entah kenapa Alana merasa interaksi mereka tidak seburuk yang ia bayangkan di pikiran nya tadi.

 

Keesokan harinya, di kantin sekolah, Sasha menatap Alana dengan tatapan penuh selidik.

“Aku dengar kamu dan Darel mulai akur,” katanya sambil menyuap makanannya.

Alana menatapnya tajam. “Siapa yang bilang begitu?”

Sasha terkikik. “Rumor menyebarcepat banget loh padahalt, Lana. Lagipula, kamu enggak bisa menyembunyikan fakta bahwa kalian berdua sering terlihat bersama akhir-akhir ini.”

Alana menghela napas. “Kita cuman bekerjasama buat proyek Shasa.”

“Tapi kamu mulai terbiasa sama Darel , kan?” goda Sasha.

Alana diam. Ia tidak ingin mengakui itu, tetapi Sasha ada benarnya.

Darel bukan hanya saingan yang menyebalkan. Ia juga pintar, santai, dan entah bagaimana… menarik perhatian.

“Sudah, ah. Jangan bahas dia lagi,” kata Alana, mengalihkan pembicaraan.

Sasha tersenyum penuh arti. “Baiklah, tapi hati-hati, Lana. Kadang, perasaan bisa berubah tanpa kita sadari.”

Alana mendesah. Ia berharap Sasha salah.

Tapi jauh di dalam hati, ia mulai meragukan dirinya sendiri.

 

Saat pulang sekolah, Alana berjalan menuju gerbang dengan langkah cepat. Namun, saat ia hendak menyeberang jalan, sebuah motor berhenti di sampingnya.

Darel.

“Lo mau pulang?” tanyanya santai.

Alana meliriknya curiga. “Ya,iyalah Darel monyet...”

Darel tersenyum. “Kebetulan. Rumah kita searah, kan? Mau gue antarin?”

Alana menatap motor Darel dengan ragu. Ini pertama kalinya laki-laki itu menawarinya tumpangan.

“Gue bisa naik angkot,” jawabnya akhirnya.

Darel terkekeh. “Dan berdesakan? Naik aja, gue enggak bakal menculik lo kok, tenang aja.”

Alana mendengus, tetapi akhirnya mengalah. “Siapa juga yang mau di culik cowok monyet kayak lo, tapi karna lo duluan yang nawarin.Gue naik nih ya.”

Alana menelisik jok motor belakang Darel yang tinggi, ia jadi ragu untuk membonceng pada Darel "Ini gimana gue cara naik nya Darel" ucap Alana kesal memukul jok belakang motor Darel.

"Aelah, gitu aja ngak bisa" ejek Darel setelah nya turun dari motor nya dan berdiri di belakang Alana, dan tanpa aba-aba menggendong Alana, membuat Alana memekik.

"Akh! Darel monyet! " teriak Alana kesal dan memukul bahu Darel yang masih berdiri sambil tersenyum miring.

"Lo pendek, makanya minum susu biar tinggi" ujar Darel setelah nya langsung duduk di motor dan menghidupkan mesin lalu motor Ducati Panigale V4 R berwarna hitam milik Darel melaju membelah jalanan yang ramai di sore ini.

Ia duduk di jok belakang motor Darel dengan sedikit canggung. Ini pertama kalinya mereka sedekat ini.

Saat motor mulai melaju, angin menerpa wajah Alana,dan tanpa Alana sadari Darel menatapnya dari kaca spion motor nya,di sisi Darel. Darel menatap pantulan Alana di spion motor nya,iniini kali pertama nya ia melihat dan mengakui jika Alana cantik dan mengagumkan di mata nya. Ada sensasi aneh di dadanya—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya Alana, ia mulai berpikir… mungkin perasaannya terhadap Darel tidak sesederhana yang ia kira.

Di tengah perjalanan Alana bertanya pada Darel"Darel...lo bisa ajak gue jalan-jalan naik motor lo tiap hari minggu ngak?"itu lah kata Alana, yang membuat Darel sedikit terkejut akan lontarkan pertanyaan Alana.

"Gue dapet apa, kalo ajak lo jalan-jalan tiap minggu" balas Darel sedikit berteriak.

"Gue kasih uang bensin deh buat lo, terus gue kasih bekel deh kalo di sekolah" begitu kira-kira kata Alana, yang sebenarnya saat Alana mengucapkan akan membawakan bekal untuk Darel sebenarnya itu di luar perkataan nya tapi sudah terlanjur, ya sudah lah.

"Bener nih, lo ngak boongin gue kan! awas aja lo kalo boong gue keluarin dari sekolah nanti lo" Ancam Darel.

Dan ancaman Darel membuat Alana seketika ingat jika Darel ini bukan cowok sembarangan, sial ia lupa jika Darel adalah cucu pemilik sekolah tempat ia belajar sekarang. bisa-bisanya ia lupa akan hal itu, apa karna ia jadi peringkat dua membuat nya jadi orang yang pelupa'begitu pikir Alana'.

"Gue bukan orang yang suka ingkar janji,lagi pula ngapain gue boong" balas Alana dengan nada ketus.

"Lo ngak bisa naik motor pasti ya...? " ejek Darel membuat wajah Alana memerah dan kesal, tapi memang benar juga ia tak bisa mengendarai motor maupun kendaraan lainnya kecuali sepeda.

"Lo! ah males gue debat sama lo, bikin gue naik darah mulu" kesal Alana memukul punggung Datel ynag berbalut jaket, tapi ia bisa merasakan betapa kerasnya punggung Darel, ia jadi berpikir punggung Darel tembok atau baru karna membuat jemari-jemari nya sakit dan memerah.

"Aduh, punggung lo ada batu nya ya! " sungut Alana.

"Lo aja yang lembek... " ejek Darel.

"Darel monyet! " teriak Alana keras membuat beberapa pengendara lainnya menatap Alana heran.

"Lo ngak malu di liatin, gue kaya boncengin orang gila aja" ucap Darel.

"Sialan lo" desis Alana dan menatap tajam pengendara lain yang menatapnya.

"Apa lo! Liat-liat cantik ya" ujar Alana pede pada pengendara lain yang menatap nya, membuat para pengendara yang Memperlihatikan nya membuang muka dan bergidik dengan perkataan Alana.

Di sisi Darel ia memperhatikan Alana yang dengan pedenya mengatakan itu dari spion kaca motor nya dan terkekeh melihat tingkah Alana.

To be continued…

luka yang tersembunyi

Langit sore mulai berubah oranye saat Darel menghentikan motornya di depan gerbang komplek perumahan elite. Lampu jalan mulai menyala menandakan hari mulai gelap, dan menciptakan bayangan panjang di trotoar karna hari sudah mulai gelap .

"Darel! gue turun sini aja! " pekik Alana kalau sudah tepat di depan gerbang komplek nya.

“Lo yakin mau turun di sini?” tanya Darel sambil melepas helmnya.

Alana masih duduk di motor danmengangguk dengan cepat, lalu mengangguk. “Iya, rumah gue masih agak jauh masuk ke dalam soalnya.”

Darel mengerutkan dahi. “Kenapa enggak sekalian  gue anter sampai depan rumah?”

Alana tersenyum kecil, meskipun matanya menyiratkan sesuatu yang sulit dibaca. “Aku lebih suka jalan sendiri,emang nya lo ngak mau pulang nyet.”

"Kenapa belum turun lo? " heran Darel saat melihat Alana tak berkutik dan masih saja duduk anteng di jok belakang motor nya.

"Lo pikir gue bisa turun nya" sengit Alana menatap Darel.

'Darel menyebalkan'batin Alana.

"Oh iya,gue lupa lo kan pendek" ejek Darel namun tetap membantu Alana turun dari motor nya.

"Gue bukan pendek ya Darel monyet, gue cuma lagi masa pertumbuhan aja makanya butuh proses buat gue tinggi" balas Alana yang tak Terima di katai pendek oleh Darel.

"Alana pendek kan pak? " tanya Darel pada pak satpam yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.

"Neng  Alana mah ngak pendek mas, cuma emang segitu tinggi nya" kekeh pak satpam bernama Lino.

"Pak Lino....kok gitu sih" kesal Alana merengut kesal, ah seperti nya semua laki-laki memang menyebalkan menurut Alana.

"Sudah ah, kalian ini berantem mulu, ini sudah mulai gelap loh. Kalian ngak mau pulang" ujar pak Lino.

"Sana!lo pulang! " usir Alana.

"Dasar... untung cantik" gumam Darel.

"Lo bilang apa tadi hah! " ucap Alana ngegas.

"Gue pulang dulu deh, bisa mati debat gue sama lo" ucap Darel menaiki motor nya.

"Oh iya, makasih Darel monyet! " teriak Alana sebelum Darel menyalakan motor nya.

Darel hanya menatap nya sekilas lalu melajukan motor nya meninggal kan Alana yang sudah ada di dalam gerbang komplek.

"Buset dah, neng Alana teriakannya mantep banget neng" ucap pak Lino dengan memberikan dua jari jempol kepada Alana yang tengah menatap punggung Darel yang perlahan menghilang dari pandangannya.

"Bapak mau Alana teriakin? " ujar Alana.

"Ngak deh neng, mending di teriakin istri di rumah" sahut pak Lino.

"Ah, pak Lino cemen"ejek Alana setelahnya berlari menuju rumahnya.

" Hati-hati neng, takut injek semut"teriak pak Lino.

"Siap pak Lino" sahut Alana.

Alana berlari kecil, membiarkan angin sore menjelang malam menemani perjalanannya.

Jarak dari gerbang komplek ke rumahnya sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Bagi sebagian orang, mungkin ini melelahkan, tapi bagi Alana, ini adalah waktu berharga.

Waktu yang bisa ia manfaatkan untuk menenangkan pikirannya sebelum menghadapi neraka yang menunggunya di rumah.

---

Akhirnya Alana sudah sampai di depan gerbang rumahnya, kesunyian langsung menyambutnya saat memasuki gerbang rumah itu. Rumah besar bergaya klasik itu berdiri megah dengan halaman luas dan lampu-lampu kristal yang menerangi bagian dalamnya dan ada ayunan masa kecil nya yang sudah lama di bawah pohon manggi.

Dari luar, rumah ini terlihat sempurna. Tapi hanya Alana yang tahu betapa menyesakkan rasanya tinggal di dalamnya, rumah tapi bukan rumah bagi Alana.

Alana membuka pintu dengan hati-hati, berharap bisa masuk tanpa menarik perhatian orang  di dalam nya. Tapi harapannya sirna ketika suara berat yang sudah ia kenal baik menyambutnya membuat Alana menegang.

“Jam berapa ini, Kamu baru pulang?! "

Alana menelan ludah dan menutup pintu perlahan tanpa menimbulkan suara.

Ayahnya, Adrian Baskara, berdiri di ruang tengah dengan ekspresi marah. Pria itu masih mengenakan setelan kantornya yang rapi,bisa Alana tebak ayah nya baru saja pulang tapi ia tak menemukan mobil ayah nya di parkiran depan jadi ia tadi berpikir jika ayah nya belum pulang dan pikiran Alana salah,bisa ia lihat wajah ayah nya  penuh amarah.

“Alana... baru pulang belajar kelompok,” jawab Alana dengan setenang mungkin.

Adrian mendekat dengan langkah berat. “Belajar kelompok apa nya Alana?” Ia tertawa sinis. “Belajar kelompok tapi nilaimu tetap turun, begitu?”

Jantung Alana berdegup kencang.

“Alana minta maaf, Alana janji....”

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Alana, membuat kepalanya menoleh ke samping. Rasa panas langsung menyebar di kulit pipinya,tetapi Alana tidak berani mengangkat tangannya untuk menyentuh bekas pukulan dari ayah nya.

“Kamu pikir maaf bisa mengembalikan peringkat pertamamu?” suara Adrian penuh amarah.

Alana menunduk, menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya saat ini.

“Ayah sudah bilang berkali-kali,” lanjut Adrian dengan suara bergetar karena menahan emosi. “Satu-satunya alasan aku membiarkan kamu hidup di rumah ini adalah karena prestasimu. Kalau kamu mulai gagal, kamu tidak ada gunanya lagi buatku!”

Alana mengepalkan tangannya, berusaha menahan rasa sakit yang sudah terlalu sering ia rasakan. Tapi tetap saja dada nya merasa sesak.

“Alana janji akan berusaha lebih keras lagi, Ayah.”

Adrian mendengus. “Berusaha lebih keras? Omong kosong!”

Pria itu berjalan ke dapur, membuat Alana langsung merasa tidak tenang. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi.

Jangan...lagi,

Tapi ketakutannya menjadi kenyataan ketika ia melihat ayahnya kembali dengan sebuah teko berisi air mendidih di tangan kanannya.

“Ayah, jangan—”

Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, air panas itu sudah meluncur dari teko, membasahi lengan kanannya.

“Aaakh!”

"Ayah! Alana minta maaf hiks"mohon Alana yang sudah tak bisa menahan rasa sakit karna air panas itu sudah mengenai kulit tangannya.

Rasa panas yang menyengat langsung menjalar ke kulitnya, membuatnya jatuh berlutut sambil memegangi lengannya yang kini memerah. Rasa sakitnya begitu menyiksa, seolah ribuan jarum menusuk kulitnya sekaligus, ia berusaha menahannya.

Adrian menatapnya tanpa ekspresi. “Lain kali, jangan buat aku kecewa lagi Alana! .”

Setelah mengatakan itu, ia berjalan pergi, meninggalkan Alana yang masih gemetar kesakitan di lantai.

Air matanya akhirnya jatuh.

Sakit.

Bukan hanya di lengannya, tetapi juga di hatinya.

Kenapa?

Kenapa ia harus terlahir sebagai anak Adrian Baskara?

Kenapa ia tidak punya ibu yang bisa melindunginya?

Dan kenapa... tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Alana Adhisty, siswi berprestasi yang dikagumi banyak orang, sebenarnya hidup dalam neraka yang tak terlihat?

Alana menyembunyikan rasa sakit nya dengan Seolah-olah ia baik-baik saja di depan semua orang, sungguh sebenarnya ia lelah dan muak dengan hidup nya selama ini.

---

Setelah memastikan ayahnya sudah masuk ke kamarnya, Alana perlahan berdiri. Lututnya masih lemas, dan rasa perih di lengannya membuatnya menggigit bibir menahan isakan.

Ia menyeret kakinya menuju kamar mandi, membuka keran, dan membiarkan air dingin mengalir membasahi lukanya.

Air matanya terus jatuh tanpa suara.

Sejak kecil, ia tidak pernah tahu seperti apa rasanya dicintai. Yang ia tahu, hidupnya hanyalah tentang menjadi yang terbaik agar bisa tetap bertahan hidup.

Tapi sekeras apa pun usahanya, sepertinya ia tidak akan pernah cukup baik di mata ayahnya.

Kadang ia berpikir, harus seperti apa dirinya agar di cintai ayah nya seperti teman-teman nya mendapat kasih sayang dari orang tua mereka.

Setelah beberapa menit, ia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Ia membuka lemari kecil di kamarnya, mengambil salep luka bakar, lalu mengoleskannya dengan hati-hati.

Rasa perihnya masih menyiksa, tapi Alana sudah terbiasa.

Yang lebih sulit adalah menahan luka di hatinya.

Alana menatap pantulan dirinya di cermin.

Mata yang lelah.

Bibir yang bergetar menahan tangis bukan menahn tangis lagi,namun air mata Alana terus mengalir dan membuat Alana mati-matian menahan agar air mata nya tak jatuh namun air mata nya seolah tau yang di rasakan Alana,membuat air mata itu terua mengalir seolah mengalir memahami perasaannya.

Lengan kanan yang kini terluka.

Dan hati yang semakin hancur setiap harinya.

Tanpa sadar, pikirannya melayang pada seseorang.

Darel.

Entah kenapa, sejak tadi ia terus teringat pada cowok itu.

Darel memang menyebalkan, tapi... ada sesuatu dalam diri cowok itu yang membuat Alana ingin mengenalnya lebih jauh.

Alana menggelengkan kepalanya cepat. Apa yang ia pikirkan? Tidak ada gunanya memikirkan Darel.

Ia harus fokus.

Ia harus kembali menjadi nomor satu.

Karena hanya itu satu-satunya cara agar ia bisa bertahan.

To be continued…

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!