NovelToon NovelToon

Dicintai Psikopat Gila

Kematian

Maya berlari dengan sekuat tenaga menghindari kejaran laki-laki gila yang tiba-tiba saja menghancurkan kebahagian dirinya dan teman-teman saat berkemah, teman-temannya satu persatu di habisi. Maya tak mau sampai tertangkap oleh laki-laki itu.

Bruk, tubuh Maya menghantam tanah yang dingin dan basah. Kakinya menyangkut pada sesuatu, saat Maya berbalik wajahnya langsung dipukul dengan sebuah balok.

Tubuhnya langsung tumbang dalam kesadarannya yang masih tersisa, Maya melihat laki-laki tinggi besar dengan tatapan yang begitu menakutkan. Laki-laki itu tersenyum kecil lalu menggusur kakinya dengan kasar, tak ada belas kasih sama sekali, tubuhnya terkena ranting, bebatuan tapi Maya tak bisa melakukan apa-apa.

Tubuhnya sudah sangat lemas sekali "Tolong siapa saja bantu aku, tolong" lirih Maya dengan suara yang sedikit merintih kesakitan.

Tubuhnya di angkat dan dilemparkan kesebuah gudang, Maya seketika menjerit saat melihat ada kepala salah satu temannya. Ketakutan makin menguasai tubuhnya.

Dengan sekuat tenaga Maya menggusur tubuhnya yang lemas. Matanya begitu liar menatap kesana kemari mencari jalan keluar.

"Suka melihat temanmu sudah mati"

"Lepaskan aku, kenapa kamu memperlakukan kami seperti ini. Lepaskan"

"Belum sadar" tanya laki-laki itu sambil berjongkok dan mengusapkan pisau kecil kesayangannya kearah pipi Maya.

Yang dirasakan Maya dingin dari pisau itu dan takut akan di tusuk pula.

"Aku dan teman-temanku kemari hanya ingin berlibur, kenapa tiba-tiba kamu menargetkan kami untuk jadi korban kesadisan mu" jawab Maya dengan suara yang begitu kecil.

"Ingatlah masa lalu, apa yang pernah kamu lakukan dimasa lalu dengan teman-temanmu. Ini tak seberapa"

Belum juga Maya menjawab tubuhnya sudah di tarik dan di dudukan disebuah kursi yang sepertinya begitu rapuh sekali.

Tangganya di ikat dan kakinya juga sama, Maya dari tadi sudah menangis ketakutan. Akan seperti apa hidupnya ini. Maya masih ingin hidup, bagaimana pula dengan orang tuanya nanti pasti mereka sedang menunggu Maya pulang.

"Akhh" teriak Mega saat sebuah pisau menancap ditangan kanannya.

"Suka"

"Gila, sakit lepaskan aku" teriak Maya dengan berani.

Sret, pisau itu di cabut dan tanpa Maya sadari pipi kanannya sudah disayat. Laki-laki itu tertawa dengan sangat bahagia, tak disitu saja dia kembali mengukir sebuah luka di kening Maya.

"Ampun, aku minta ampun lepaskan aku"

"Apa jaminannya" sambil menghentikan sayatannya.

"Aku tak akan melaporkan mu, lepaskan aku"

"Bukan penawaran yang bagus, terlalu mudah bahkan kalau sampai dirimu lolos dan melaporkan semua ini pada pihak berwajib saya tak akan takut"

"Kita lanjutkan permainan yang menyenangkan ini"

Maya tentu saja meronta-ronta saat pisau dingin itu akan kembali melukai kulitnya.

"Tak bisa diam kamu" laki-laki itu berjalan menjauh dari Maya, tapi tak butuh waktu lama dia kembali membawa pisau yang lebih besar dan jari kaki kiri Maya habis semuanya dipotong berbarengan dan sakitnya luar biasa.

Maya sudah pasrah sekarang, kesaktiannya begitu menyiksa. Kenapa harus bertemu dengan laki-laki gila ini.

Terasa oleh Maya pisau kecil itu menusuk betisnya, Maya tak bisa berteriak saking lemas nya, darah sudah berceceran dimana-mana.

"Masih belum menyadari kesalahan mu apa" tanya laki-laki itu sambil menguliti kaki kanan Maya.

"Aku tidak tahu apa salahku, apa yang aku lakukan sampai kau tega melakukan ini padaku" dengan suara yang begitu kecil.

"Brengsek kau penjahat kecil masih belum ingat" laki-laki itu makin membabi buta menyakiti Maya.

Sekarang Kaki Maya sudah tak ada sebelah, Maya menangis dengan penyesalan yang begitu dalam. Kalau saja Maya mengikuti apa kemauan orang tuanya untuk tak pergi kesini mungkin Maya tak akan mati sia-sia.

Sebelum Maya ada disini.

"Mau apa sih Maya kamu berkemah di hutan terpencil seperti itu, Mama tidak mau terjadi apa-apa padamu. Lebih baik kamu diam di rumah atau berlibur ke tempat yang lain yang lebih aman dan Mama bisa menyusul mu nanti kalau ada apa-apa bersama Ayah"

"Ga bisa Ma Maya harus ikut, temen-temen Maya pergi ke sana sambil reunian. Kenapa sih Mama selalu saja ngatur Maya. berikan kebebasan untuk aku" kesal Maya yang terus ngotot ingin pergi.

"Tapi hutan itu jarang sekali ada orang yang datang Maya, apalagi itu di tempat terpencil jangan membuat masalah. Firasat Mama mengatakan kalau semua itu tidak akan baik-baik saja. Mama tidak mau kehilangan kamu"

"Selalu saja firasat kenapa sih selalu mengandalkan firasat, aku tidak akan kenapa-napa. Aku akan baik-baik saja bukan aku saja yang datang ke sana banyak. Jadi Mama tidak usah bikin aku pusing dan melarang-larang aku. Aku ini sudah besar bukan anak kecil lagi" marah Maya.

Maya mengambil tas ranselnya lalu pergi begitu saja bahkan sampai membanting pintu rumahnya. Mamanya tentu saja mengejarnya namun Maya sudah masuk kedalam mobil teman-temannya yang menjemput.

"Maya itu Mama lo lari-lari kenapa" tanya salah satu temannya.

"Sudahlah biarin ribet banget, males banget tau nggak sih punya Mama yang ribet banget. Apa-apa tuh nggak boleh ini itu nggak boleh selalu saja firasat Mama nggak enak firasat Mama nggak enak gitu saja terus " kesal Maya.

Teman-temannya hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan tak memperpanjang pembicaraan dan mengalihkannya ke yang lain.

Kembali kepada Maya yang disiksa.

"Mama, Maya menyesal tolong Maya. Seharusnya Maya tak ada disini" lirih Maya.

Srek, dengan sekali tebasan kepala Maya sudah terpisah dengan tubuhnya.

Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak melihat mangsanya kembali mati, menyenangkan sekali malam ini bisa menghabisi orang-orang yang telah bermasalah dengan seseorang di masa lalunya.

"Bau darah yang begitu menyegarkan, saya suka dengan bau anyir yang bercampur dengan tanah" ucapnya sambil berlalu dari ruangan itu.

"Pulangkan mereka ke rumahnya masing-masing, buat orang itu terpancing untuk datang ke pemakaman temannya. Saya ingin tahu bagaimana sekarang dia dan saya juga ingin tahu saat dia nanti melihat saya" ucapnya dengan misterius.

"Baik Tuan akan saya laksanakan semua tugas yang Tuan perintahkan"

"Jangan sampai ada orang yang melihat dirimu membawa mayat-mayat menjijikan ini"

"Tentu Tuan akan saya laksanakan"

Setelah memerintahkan bawahannya laki-laki itu segera naik kelantai dua. Masuk kedalam sebuah kamar yang begitu luas dengan nuansa hitam yang menakutkan.

Diambilnya sebuah foto yang selalu membuatnya makin mencintainya bahkan sulit untuk melupakannya.

"Sebentar lagi saya akan muncul, sudah 5 tahun saya menghindar darimu ini sudah waktunya saya kembali padamu. Tidak akan pernah ada satupun laki-laki yang mencintaimu begitu dalam melebihi saya. Sayang tunggu kedatangan cintamu ini"

Paket misterius

"Sayang bangun sayang, bangun"

Dengan malas Laura segera bangun, menatap kekasihnya yang begitu panik. Ada apa coba pagi-pagi seperti ini.

"Kenapa sih aku masih ngantuk" sambil menarik guling kesayangannya lalu memeluknya dengan erat.

"Maya, Sintia, Dodi, Billy banyak lagi teman kita waktu SMA meninggal dunia Laura"

"Hah apa" Laura langsung terduduk dengan kaget, bahkan rambutnya yang berantakan seperti singa tak dipedulikan oleh Laura "Kamu jangan main-main Arkan, ga mungkin mereka tiba-tiba saja meninggal berbarengan"

Arkan duduk disisi tempat tidur Laura, lalu membuka ponselnya dan memberikan bukti serta foto mengenaskan teman-temannya.

"Tega banget, siapa yang lakuin ini sama mereka" Laura mengembalikan ponsel kekasihnya dan sedih atas meninggalnya teman-temannya.

"Yaudah kamu siap-siap, kita pergi ke pemakaman. Andi juga sama Anya sudah siap aku tunggu dibawah ya" Arkan mendekat kearah kekasihnya dan mencium keningnya, lalu pergi keluar untuk menunggu Laura bersiap-siap.

Laura masih belum beranjak, masih memikirkan teman-temannya kenapa mereka tiba-tiba di habisi dengan begitu sadis, apalagi Maya seperti hampir seluruhnya terpisah-pisah tubuhnya itu.

Laura yang tak mau membuat kekasihnya menunggu segera pergi ke kamar mandi, tak butuh waktu lama Laura sudah siap dan segera menyusul saudaranya dan kekasihnya.

Mereka berempat langsung meluncur pergi ke pemakaman, di sana sudah penuh dengan teman-temannya dan juga keluarga mereka masing-masing.

Arkan menautkan tangannya bersama Laura dan mendekat kearah keluarga yang sudah ditinggalkan. Melakukan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.

Laura sendiri hanya mengikuti langkah kekasihnya tanpa protes sedikitpun. Laura masih mengingat-ingat bukannya orang-orang ini yang dulu pernah membully nya bersama Anya, Arkan dan banyak lagi dan ini hanya sebagian saja.

Kenapa harus kebetulan sekali orang yang meninggal adalah orang-orang yang pernah menyakitinya.

"Sayang apakah kamu baik-baik saja" tanya Arkan dengan khawatir.

"Eh iya aku baik-baik saja" Laura tak mau membuat Arkan khawatir dengan pikirannya yang kemana-mana ini.

"Yaudah yuk kita pulang"

Laura hanya menganggukkan kepalanya, ini begitu tiba-tiba dan hatinya tidak enak. Apa yang akan terjadi dalam hidupnya ini, padahal Laura sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang.

Dulu Laura pernah menolak Arkan, tapi sekarang mereka malah menjadi sepasang kekasih sungguh sesuatu yang tak terduga. Kegigihan Arkan dalam mengejar cintanya membuat Laura luluh dan memaafkan segala apa yang telah terjadi di masa lalu.

Bahkan 1 bulan lagi mereka akan menikah, berpacaran selama 2 tahun itu sudah cukup Laura juga tidak mau terlalu lama berpacaran dan pada akhirnya tidak jadi. Orang tua Arkan juga sudah menerima dirinya dengan baik, tentang masalah dahulu juga yang Laura tak disukai oleh Ibunya Arkan sudah selesai.

Pokoknya hidup Laura sudah nyaman dan bahagia, semuanya sudah tertata dengan rapih. Ayahnya juga sekarang punya rumah makan dan karyawan jadi hidup mereka sudah terjamin, apalagi Andi, Anya dan juga dirinya sudah bekerja.

Sampai sekarang Ayahnya tidak tahu siapa Laura sebenarnya. Itu lebih baik bukan kebahagiaannya jangan sampai dirusak dengan hal yang memang sepertinya tidak usah diberitahu kepada Ayahnya. Untung saja Anya dan juga Andi bisa tutup mulut dan tak membocorkan siapa dirinya ini pada Ayahnya.

...----------------...

Laki-laki misterius itu saat melihat Laura hanya diam saja, bahkan wajahnya ditutupi dengan sangat rapih. Ya benar dirinya datang ke pemakaman orang-orang yang telah dirinya habisi.

Setelah kepergian Laura, dirinya juga pergi dari sana. Bahagia sekali hidupnya Laura, lihat saja sebentar lagi Laura akan jadi miliknya dan pernikahannya akan gagal.

"Ini baru permulaan Laura, akan ada lagi kejutan-kejutan yang membuat kamu mengingat saya"

Kembali pada Laura yang sudah sampai dirumahnya, saat masuk kedalam rumah Ayahnya memberi sebuah paket yang di bungkus dengan sangat cantik sekali.

"Ayah dari siapa ini" tanya Laura dengan bingung.

"Entahlah, tadi ada yang mengetuk pintu dan ada paket ini Laura. Ayah ambil saja karena ada atas nama kamu"

Laura dengan ragu mengambil paket itu, penasaran juga apa isinya ini "Aku ganti baju dulu ya" pamit Laura pada Arkan.

Saat sudah ada didalam kamarnya Laura mengunci pintunya, membuka paketnya dengan perlahan, ada sebuah gaun yang begitu cantik, lalu dibawahnya ada lagi kotak kecil saat dibuka didalamnya ada cincin yang saat di coba begitu pas di jarinya.

"Siapa yang memberikan ini padaku" Laura menatap terus cincin itu.

Ternyata saat dibuka kembali ada sebuah surat yang dihias begitu cantik dan saat dibuka ada sebuah pesan untuknya.

Isi surat

Jika ingin tahu saya siapa pakai gaun cantik ini yang sudah saya pilihkan untukmu Laura, pasti akan sangat cantik dan pas di pakai oleh pujaan hati saya ini. Jangan lupa temui saya malam ini dan kamu akan tahu siapa saya.

Tentu saja Laura tak percaya begitu saja, bagaimana kalau orang yang ingin bertemu dengan dirinya adalah musuhnya atau orang yang ingin mencelakainya. Laura tak mau gegabah apalagi dirinya akan segera menikah.

Takutnya ini adalah sebuah pancingan untuknya dan hidupnya nanti malah akan sama dengan teman-temannya yang sudah tiada. Laura tak mau jadi korban berikutnya.

Tok tok tok, saat mendengar pintu kamarnya diketuk Laura segera melepaskan kembali cincin nya dan menyembunyikan kotak itu, jangan sampai Arkan tahu apa isi didalam kotak ini.

Laura segera membuka pintu kamarnya, ternyata Arkan "Kenapa lama, apakah ada masalah"

"Tidak, tadi aku membalas pesan terlebih dahulu dari temanku"

Arkan menganggukkan kepalanya masuk lebih dalam lagi dan membaringkan tubuhnya ditempat tidur Laura.

"Aku masih aneh tentang kematian teman-teman kita, kematian mereka pasti bukan kebetulan kan sayang"

"Iya juga sih, tapi ya sudahlah yang terpenting bukan kita yang menjadi korban. Untung saja kita saat itu tak jadi ikut, kalau tidak tak tahu"

"Benar sekali sayang, urung saja ya" Arkan duduk dan merentangkan tangannya untuk Laura memeluknya, tentu saja dengan senang hati Laura masuk kedalam pelukan calon suaminya itu. Disayangi dengan begitu dalam Laura begitu bahagia sekali.

"Nanti malam jadikan kita makan malam" tanya Arkan sambil mencium puncak kepala kekasih hatinya.

"Oh iya aku baru ingat, kalau kamu tak mengingatkan aku pasti aku sudah tidur dengan nyenyak nanti malam"

"Kebiasaan" tak lupa mencubit hidung mancung kekasihnya.

"Sakit tahu" rengek Laura.

"Masa sih sayang, tapi aku suka banget sama hidung kamu itu" pelukannya makin dipererat, rasanya Arkan tak akan pernah sanggup kalau Laura meninggalkannya.

Mungkin dulu memang dirinya jahat dengan Laura, tapi sekarang sudah berubah menjadi cinta yang begitu dalam dan mungkin obsesi, entahlah apakah cintanya ini masuk kedalam kategori obsesi karena menang Arkan begitu tak mau sampai di pisahkan, jauh-jauh dari Laura. Kadang juga dirinya tak suka saat melihat Laura berbicara dengan teman laki-lakinya ingin rasanya meninju laki-laki itu.

Apakah suruhan Laura

Pintu ruangan terbuka membuat orang yang ada didalam merasakan silau yang begitu menusuk kedua bola matanya, tubuhnya begitu lemas melihat kematian teman-temannya satu persatu.

Hanya dirinya yang disisakan seorang dengan luka dikakinya karena menginjak perangkap beruang. Bahkan sampai sekarang masih ada dikakinya menyakitkan sekali.

"Makan"

"Ini apa, huek" Nadia membekap mulutnya hampir saja muntah mencium makanan yang diberikan laki-laki yang menyekapnya.

"Salah satu bagian tubuh temanmu" jawabnya dengan enteng.

Tentu saja Nadia makin mual dan sekarang benar-benar muntah. Nadia menatap laki-laki itu dengan tatapan yang begitu benci.

"Aku tidak pernah berurusan denganmu, kenapa kamu menghabisi teman-temanku dan membiarkan aku hidup sendirian di sini" teriak Nadia dengan sekuat tenaga.

"Saat sekolah masih ingat"

Nadia mengernyitkan dahinya, ada apa dengan sekolah selama ini Nadia baik-baik saja di sekolah dan tak pernah punya musuh sama sekali.

"Masih belum ingat, mau dibantu untuk mengingatnya"

Nadia hanya bisa diam saja, masih belum bisa mencerna dan mengingat apa yang pernah dirinya lakukan semasa sekolah dulu. Dirinya adalah anak yang baik.

Laki-laki itu menyalakan rokok membiarkannya terbakar hampir habis. Mendekati Nadia dan menarik pakaiannya, tentu saja Nadia berteriak tak terima akan dilecehkan seperti ini.

Namun ternyata pikiran Nadia salah, bukannya dilecehkan saat pakaiannya atasnya dibuka rokok yang panas itu mengenai kulitnya.

"Akhh, apa-apaan panas sekali. Lepaskan" Nadia menarik tangan laki-laki itu untuk berhenti menekan rokoknya.

Tetapi percuma, malah makin ditekan sampai rokok itu habis dan jatuh. Nadia menangis dan memegang dadanya yang perih, panas, sakit semuanya bergabung menjadi satu.

"Dasar biadab, kamu biadab" teriak Nadia.

Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi mulusnya, lalu tendangan dikakinya, membuat kakinya merasakan linu yang menyengat dan perih masih ada perangkap beruangnya.

"Ini bagaimana ingat"

Nadia menelan ludahnya, sekarang Nadia ingat apa yang dilakukan laki-laki ini pernah Nadia lakukan pada seseorang bersama temannya.

flashback on.

"Heh dasar cupu, tidak tahu diri, jelek masih berani masuk sekolah punya nyali berapa lo Laura" ucap Nadia dengan angkuh.

"Aku disini hanya ingin belajar, tidak untuk mencari musuh. Maaf kemarin aku sudah menumpahkan minuman di pakaian kamu, itu tidak sengaja" jelas Laura.

"Bohong Nadia, dia itu emang tukang cari masalah" ucap salah satu teman Nadia memanas-manasi Nadia.

"Pegang dia" perintah Nadia.

Tentu saja dengan senang hati teman-temannya memegang Laura agar tak bisa bergerak, tentu saja Laura tak tinggal diam meronta-ronta ingin dilepaskan. Mulutnya pun sudah berteriak tapi teman-teman yang mendengarnya begitu acuh tak peduli.

Seragamnya dibuka dengan kasar sampai kancingnya berjatuhan, rokok yang tadi Nadia hisap langsung mengenai kulit dadanya tentu saja Laura berteriak dengan histeris kesakitan, ditambah lagi teman-teman Nadia yang lain malah memukulnya dan juga menampar Laura tanpa belas kasih sedikitpun.

Setelah mereka melakukan itu, bukannya menolong Laura malah mereka tertawa terbahak-bahak dan meninggalkan Laura sendirian di sana.

Flashback of

"Jadi Laura yang menyuruh mu mana dia" kesal Nadia yang tak terima diperlakukan seperti ini oleh anak cupu.

"Tidak, ini kemauan saya sendiri. Bagiamana suka dengan apa yang saya lakukan"

"Lepaskan, lihat saja kamu akan habis ditangan orang tua aku, jangan harap kamu bisa hidup dengan nyaman dasar gila" ancam Nadia tanpa takut sedikitpun.

Laki-laki itu tertawa kecil, mengambil pisau kesayangannya menusuk daging yang tak mau Nadia makan, lalu tanpa bisa Nadia fikiran apa yang akan dia lakukan membuat Nadia kaget, pipinya di jepit oleh salah satu tangannya dan tangan lainnya yang memegang pisau dan ada daging itu menjejal masuk kedalam mulutnya.

Bisa Nadia rasakan amis, sakit dari tusukan pisau yang mengenai rongga-rongga yang ada didalam mulutnya. Nadia tak diam saja, dia memukul tubuh itu dengan tangannya yang bebas namun semua itu tak membantu sama sekali.

Lidahnya juga terkena tusukan, baru saat Nadia akan muntah laki-laki itu mundur dan tertawa sampai terpingkal-pingkal membuat Nadia begitu ketakutan dan kesakitan juga dengan mulutnya yang sudah di lukai.

"Lucu sekali wajahmu itu, mana Ayahmu itu mana" teriaknya dengan suara yang dingin dan keras.

Nadia mundur dan menutup kedua telinganya, menangis adalah salah satu yang bisa Nadia lakukan tak bisa melawan sedikitpun.

Nadia juga tak bisa menelan ludahnya dengan benar, sakit sekali rasanya apalagi saat bibirnya dikatupkan terasa sekali pedihannya.

"Saya beri waktu kamu 10 menit dari sekarang untuk kabur, jika sampai tertangkap oleh saya maka nyawamu akan saya ambil. Sekarang lari"

Saat mendengar kata lari, Nadia tentu saja langsung lari meninggalkan tempat menyeramkan ini dengan kaki yang digusur sebelah. Nadia harus bisa pergi dari sini. 10 menit adalah waktu yang sedikit tapi Nadia punya tekat yang besar untuk bisa lari dan selamat lalu menjebloskan laki-laki itu kedalam penjara.

Belum juga setengah perjalanan sudah melayang beberapa anak panah yang ingin menghabisinya, Nadia sampai jatuh tengkurap. Cepat sekali 10 menit, namun ini bukan akhir yang Nadia inginkan. Nadia merangkak agar tak terkena panah itu.

Air matanya benar-benar tak bisa ditahan untuk tak keluar, ketakutannya begitu membuat tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin.

Apakah tak akan ada keajaiban untuk dirinya ada yang menyelamatkannya dan membantunya keluar dari sini.

"Akh" teriak Nadia saat satu anak panah menancap di punggungnya.

"Permainan selesai"

Srek,srek,srek beberapa anak panah menancap dengan indah di punggung, kaki dan juga leher Nadia. Membuat Nadia tak bisa mempertahankan hidupnya. Akhirnya Nadia menyusul teman-temannya.

Laki-laki itu berjongkok dan memotong salah satu jari Nadia, lalu meninggalkannya begitu saja di sana tanpa mau membawanya pulang atau mengembalikannya pada keluarganya. Sengaja di biarkan agar membusuk dan nanti di antarkan pulang kerumahnya.

Saat sudah sampai di markasnya dimasukan jari itu kedalam kotak yang indah, tak lupa dengan diberikan cincin dijari Nadia agar lebih spesial kadonya.

"Kamu pasti akan suka Laura dengan hadiahku yang sekarang sangat indah langsung ada jarinya"

"Tuan maaf menganggu"

"Ada apa" sambil membalikan tubuhnya.

"Sudah kami tangkap orang-orang yang dahulu menyakiti Nona, apakah Arkan dan juga Anya harus dibawa juga"

"Biarkan mereka hidup dengan tenang sementara waktu, mereka akan menjadi penutup yang nikmat diakhir cerita"

"Baik Tuan saya permisi"

Setelah anak buahnya pergi, dia juga sama pergi dari sana untuk menanti malam yang akan tiba dan menemui Laura, lihat saja Laura akan datang menemuinya atau akan makan malam dengan Arkan sang kekasih yang pernah membully dahulu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!