Langit yang Gelap, Hati yang Hancur
Malam itu, angin bertiup kencang di puncak Sekte Langit Suci. Awan hitam bergulung di langit, menutupi cahaya bulan seolah menandakan sebuah kehancuran yang akan terjadi. Di tengah aula utama yang luas, seorang pemuda berdiri tegap dengan jubah hitam yang compang-camping. Luka-luka kecil terlihat di sekujur tubuhnya, namun yang paling menyakitkan bukanlah luka fisik itu, melainkan rasa perih yang menghancurkan hatinya.
Xiao Tian, seorang jenius yang pernah dielu-elukan oleh sekte ini, kini berdiri di hadapan para tetua yang menatapnya dengan pandangan dingin dan penuh penghakiman. Sebuah keputusan telah dibuat. Sebuah vonis yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Namun, di antara semua orang yang hadir di aula ini, hanya dua orang yang benar-benar ia pedulikan—Chu Xian'er dan Yun Xia. Dua wanita yang selama ini ia percaya, yang ia anggap sebagai bagian dari dirinya. Dan malam ini, ia akan mengetahui apakah kepercayaan itu benar-benar salah.
Dengan suara serak, ia mengajukan pertanyaan yang selama ini menghantui pikirannya.
"Apakah benar? Apakah kalian benar-benar mengkhianatiku?"
Suasana di aula menjadi semakin sunyi. Seolah seluruh dunia berhenti berputar menunggu jawaban dari dua wanita itu.
Chu Xian'er menggigit bibirnya. Matanya bergetar, dipenuhi dengan konflik batin yang jelas. Ia ingin berbicara, ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata seolah tertahan di tenggorokannya. Di sampingnya, Yun Xia pun menundukkan kepala, air mata menggantung di pelupuk matanya.
Lalu, dengan gerakan yang amat berat, Chu Xian'er akhirnya mengangguk.
Yun Xia pun melakukan hal yang sama.
"Maafkan aku, Xiao Tian..." suara Yun Xia hampir tak terdengar, penuh dengan kepedihan.
Xiao Tian merasakan dadanya sesak. Jantungnya terasa seperti diremas oleh tangan tak terlihat. Ia berharap mereka akan menyangkalnya, berharap mereka akan berkata bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman. Namun, jawaban mereka lebih buruk dari yang pernah ia bayangkan.
Ia menggenggam erat tinjunya, menatap mereka dengan mata yang berkilat oleh emosi yang tak terbendung.
"Kenapa?" tanyanya, suaranya bergetar.
Tidak ada jawaban.
Chu Xian'er dan Yun Xia hanya menunduk, seolah tak sanggup memberikan alasan. Seolah tak ingin mengungkapkan kebenaran yang lebih menyakitkan.
Dan di saat itulah, suara berat seorang tetua sekte menggema di aula.
"Xiao Tian!" suara itu menggelegar. "Kau telah melanggar aturan sekte, membangkang, dan mencemarkan nama baik kami. Mulai hari ini, kau diusir dari Sekte Langit Suci! Pergilah, dan jangan pernah kembali!"
Sebelum Xiao Tian sempat bereaksi, kekuatan besar menerpa tubuhnya, melemparkannya keluar dari aula utama. Tubuhnya melayang di udara sebelum jatuh menghantam tanah berbatu di bawah puncak sekte.
Darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia terbatuk, merasakan sakit luar biasa di tubuhnya. Namun, rasa sakit itu tak sebanding dengan luka yang ditorehkan oleh dua wanita yang ia cintai.
Dengan susah payah, ia menoleh ke atas. Di ambang pintu aula, Chu Xian'er dan Yun Xia masih berdiri di sana, menatapnya dengan mata yang dipenuhi kesedihan. Namun, mereka tak melakukan apa pun untuk menghentikan kejatuhannya.
Ia tertawa pahit.
Di satu sisi, ia ingin berteriak, ingin memaki mereka atas pengkhianatan ini. Namun di sisi lain, ia tak bisa membenci mereka. Bagian terdalam hatinya masih berharap ada alasan lain di balik ini semua.
Namun sekarang bukan saatnya untuk berharap.
Ia harus pergi.
Sekte ini tak lagi menginginkannya. Dunia ini telah membuangnya.
Dan jika dunia ini ingin melihatnya jatuh... maka ia akan kembali berdiri.
Dengan langkah berat, ia mulai berjalan, meninggalkan tempat yang selama ini ia sebut rumah. Satu-satunya tempat yang bisa ia tuju sekarang adalah rumah ibunya. Tempat terakhir yang mungkin masih menerimanya.
Tetapi ia bersumpah dalam hatinya—ini bukan akhir. Ini adalah awal dari kebangkitannya.
(Bab 1 bersambung...)
Luka yang Tak Terlihat
Xiao Tian berjalan tertatih di sepanjang jalan setapak berbatu yang membentang di antara hutan lebat. Angin malam yang dingin menerpa tubuhnya yang penuh luka, namun ia terus melangkah tanpa henti. Sekte Langit Suci telah membuangnya, dua wanita yang ia cintai telah mengkhianatinya, dan kini satu-satunya tempat yang bisa ia tuju adalah rumah ibunya di desa terpencil di kaki gunung.
Ia tak pernah menyangka akan kembali dalam keadaan seperti ini. Sebagai seorang murid jenius sekte, ia selalu berpikir bahwa ia akan pulang dengan kebanggaan, membawa kehormatan bagi ibunya. Namun, kenyataan berkata lain—ia kembali sebagai seseorang yang gagal, sebagai seorang yang diusir dan dicampakkan.
Setelah berjam-jam berjalan, akhirnya ia melihat cahaya samar dari sebuah rumah kecil di tengah desa. Cahaya yang hangat, satu-satunya tempat yang mungkin masih bisa menerimanya.
Dengan langkah lemah, ia mendorong pintu kayu rumah itu.
"Ibu…" panggilnya pelan.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah lembut berbalik dari dapur kecil. Matanya melebar saat melihat putranya berdiri di ambang pintu, tubuhnya penuh luka dan bajunya compang-camping.
"Tian'er!" serunya, segera berlari menghampiri dan memeluknya erat.
Xiao Tian terdiam dalam pelukan itu, merasakan kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan. Air mata yang ia tahan sejak tadi hampir tumpah, namun ia menggigit bibirnya, menahan semuanya di dalam hati.
"Ibu… aku pulang," bisiknya.
Membantu Sang Ibu
Hari-hari berlalu, dan Xiao Tian mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan sederhana di desa. Ibunya, Lin Rou, adalah seorang pembuat kue yang menjual dagangannya di pasar desa. Meskipun hidup mereka tidak mewah, Lin Rou selalu bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.
Xiao Tian, yang dulu terbiasa dengan pelatihan dan pertempuran di sekte, kini menghabiskan harinya membantu ibunya membuat dan menjual kue. Tangannya yang biasa menggenggam pedang, kini menguleni adonan dan memanggang roti.
"Aku tak pernah menyangka akan melihatmu membuat kue seperti ini," Lin Rou tertawa pelan saat melihat putranya dengan serius menata kue di atas nampan.
Xiao Tian tersenyum tipis. "Aku juga tak pernah menyangka. Tapi… ini tidak buruk."
Namun, di balik kedamaian ini, ada sesuatu yang disembunyikan oleh ibunya. Xiao Tian merasakan ada beban di mata wanita itu setiap kali ia menatapnya. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi tak sanggup mengatakannya.
Dan jawaban dari kegelisahannya datang lebih cepat dari yang ia duga.
Kedatangan Keluarga Wang
Sore itu, ketika Xiao Tian dan ibunya sedang bersiap membawa kue ke pasar, suara derap langkah kuda menggema di jalan desa. Beberapa pria berpakaian mewah turun dari kuda mereka, dipimpin oleh seorang pria paruh baya dengan wajah angkuh—Wang Qingshan, kepala keluarga Wang.
Lin Rou langsung pucat saat melihat mereka. Tangannya gemetar, dan tatapannya dipenuhi kecemasan.
"Wang Qingshan… Kenapa kau datang ke sini?" tanyanya dengan suara bergetar.
Pria itu tersenyum sinis. "Lin Rou, kau tahu kenapa aku ada di sini. Hutangmu sudah jatuh tempo."
Xiao Tian menyipitkan mata. "Hutang?"
Lin Rou menunduk, enggan menatap putranya. "Tian'er… aku tidak ingin kau khawatir, tapi… ibu memiliki hutang besar kepada keluarga Wang."
Wang Qingshan tertawa kecil. "Tentu saja. Sudah bertahun-tahun berlalu, dan bunga hutang itu terus bertambah. Sekarang jumlahnya sudah mencapai lima ratus emas."
Xiao Tian terkejut. Jumlah itu sangat besar bagi rakyat biasa. Bahkan jika mereka bekerja seumur hidup, belum tentu bisa melunasinya.
"Ibu…" Xiao Tian menggenggam tangan ibunya. "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"
Lin Rou menggigit bibirnya. "Aku tidak ingin kau khawatir… Aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri…"
Wang Qingshan menyeringai. "Dan sekarang kau tidak bisa. Jadi ada dua pilihan—bayar hutangmu, atau…" ia melirik Xiao Tian. "Serahkan anakmu untuk bekerja di keluarga Wang sebagai pelayan. Kami bisa menghapus hutangmu jika kau setuju."
Xiao Tian mengepalkan tinjunya.
Seumur hidupnya, ia tak pernah takut menghadapi lawan yang lebih kuat. Namun kali ini, musuhnya bukan hanya seorang pria angkuh, tetapi juga situasi yang jauh lebih rumit.
Ia tidak akan membiarkan ibunya menanggung semuanya sendiri.
Lalu apa yang ia akan lakukan?
Tekad yang Tak Tergoyahkan
Langit mulai meredup saat matahari tenggelam di ufuk barat. Xiao Tian duduk diam di ruang kecil tempat ibunya membuat kue, cahaya lampu minyak berkelap-kelip, memantulkan bayangan di wajahnya yang dipenuhi pikiran. Tangannya menggenggam sekantong kecil berisi koin emas, semua yang ia miliki.
Jumlahnya hanya seratus lima puluh emas.
Lima ratus emas. Jumlah yang diminta keluarga Wang untuk melunasi hutang ibunya adalah angka yang mustahil bagi rakyat biasa. Namun, meskipun ia tak bisa membayar semuanya sekarang, ia tidak akan tinggal diam.
Ibunya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Jika ia tak bisa melindunginya, lalu apa gunanya hidup ini?
Menatap sekantong emas dalam genggamannya, Xiao Tian menarik napas dalam. Ia menggenggamnya erat, seakan-akan sedang menggenggam harapannya yang rapuh.
"Baiklah…" gumamnya pelan, sebelum akhirnya bangkit berdiri.
Keesokan harinya, dengan langkah tegap, ia berjalan menuju kediaman keluarga Wang.
Negosiasi di Kediaman Wang
Kediaman keluarga Wang berdiri megah di tengah desa. Gerbang besarnya berwarna merah tua, dihiasi dengan ukiran naga yang melilit di kedua sisinya. Xiao Tian berhenti sejenak di depan gerbang itu, menatapnya dengan penuh tekad.
Dua pria berbaju hitam berdiri di depan gerbang, menatapnya dengan tatapan meremehkan.
"Ada urusan apa kau di sini, bocah?" salah satu dari mereka bertanya.
Xiao Tian mengangkat kepalanya dengan dingin. "Aku ingin bertemu Wang Qingshan. Aku ingin membicarakan hutang ibuku."
Para penjaga saling berpandangan, sebelum salah satu dari mereka masuk ke dalam. Tak lama kemudian, suara berat menggema dari dalam.
"Biarkan dia masuk."
Xiao Tian melangkah melewati gerbang besar, memasuki aula keluarga Wang yang luas. Wang Qingshan duduk di atas kursi kayu berukir naga, mengenakan jubah ungu yang menunjukkan statusnya sebagai kepala keluarga. Beberapa anggota keluarga Wang berdiri di sekelilingnya, termasuk Wang Liang, putranya yang terkenal dengan sifat sombongnya.
"Jadi kau datang," Wang Qingshan menyeringai. "Apakah kau membawa lima ratus emas?"
Xiao Tian tidak menjawab langsung. Ia mendekati meja besar di tengah ruangan dan meletakkan kantong kecil berisi koin emas di atasnya.
"Aku hanya memiliki ini untuk sekarang. Seratus lima puluh emas."
Ruangan itu langsung dipenuhi suara tawa sinis.
"Seratus lima puluh emas?" Wang Liang tertawa keras. "Bahkan itu tak cukup untuk membeli pakaian baru bagi salah satu pelayan kami!"
Xiao Tian tetap tenang. "Beri aku waktu untuk mendapatkan sisanya, dan aku akan membayar hutang ibu sepenuhnya."
Beberapa anggota keluarga Wang masih tertawa. Namun, Wang Qingshan hanya menatapnya dengan mata tajam sebelum akhirnya menghela napas seolah merasa kasihan.
"Xiao Tian…" katanya, "Dulu kau adalah jenius Sekte Langit Suci. Tapi sekarang? Kau hanyalah sampah. Tidak ada jaminan bahwa kau akan bisa mendapatkan sisa hutangnya."
"Aku berjanji akan melunasi semuanya," jawab Xiao Tian mantap.
Namun, Wang Qingshan hanya tersenyum tipis. "Aku tidak suka menunggu."
Lalu, dengan suara dingin, ia berkata, "Ambil wanita itu."
Ibu yang Dirampas
Mata Xiao Tian membelalak. "Apa yang kau lakukan?!"
Dari sisi ruangan, dua pria berbaju hitam menyeret masuk Lin Rou, ibunya. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar.
"Tian'er!" serunya dengan panik.
Xiao Tian langsung bergerak maju, tapi dua pengawal segera menghadangnya.
"Kami mengambil jaminan," Wang Qingshan berkata santai. "Jika kau benar-benar akan melunasi hutangnya, maka kau bisa menebus ibumu nanti."
"TIDAK!" Xiao Tian meraung, matanya berkilat dengan kemarahan. "Kau tidak bisa mengambil ibuku!"
Ia mengayunkan tinjunya ke arah pengawal yang menahannya. Namun, tubuhnya yang sudah kehilangan kekuatan spiritualnya terlalu lemah. Pukulan itu dengan mudah ditangkis, dan sebelum ia sempat bereaksi, tendangan keras menghantam perutnya.
"UGH!"
Tubuhnya terhempas ke belakang, membentur lantai marmer dengan keras. Ia terbatuk, darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Tian'er!" Lin Rou berusaha berlari mendekatinya, tapi salah satu pria berbaju hitam menampar wajahnya hingga ia terjatuh ke lantai.
"JANGAN SENTUH DIA!" Xiao Tian meraung.
Ia mencoba berdiri, tapi lututnya gemetar. Ia tidak bisa bergerak dengan baik, tubuhnya masih terlalu lemah.
Di depan matanya, ibunya diseret keluar dari aula, sementara Wang Qingshan hanya menatapnya dengan senyum mengejek.
"Jika kau benar-benar ingin menyelamatkan ibumu, maka jadilah lebih kuat, Xiao Tian. Kalau tidak… jangan harap bisa melihatnya lagi."
Xiao Tian menggigit bibirnya hingga berdarah. Air matanya jatuh ke lantai dingin.
Hari ini, ia kehilangan ibunya.
Hari ini, ia bersumpah bahwa ia akan merebut kembali segalanya.
Kebangkitan dari Jurang Kegelapan
Xiao Tian terduduk di tanah dingin di luar gerbang keluarga Wang. Tubuhnya masih lemah, luka-luka akibat penganiayaan tadi masih terasa perih. Namun, semua itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang mengoyak hatinya.
Tangan Xiao Tian bergetar. Ia mengepalkan tinjunya dengan erat.
"Aku lemah…"
"Aku terlalu lemah…"
Tangisan Lin Rou saat ia diseret pergi masih terngiang di telinganya.
Saat itu, ia hanya bisa melihat.
Saat itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Kemarahan membakar jiwanya.
Ia tidak bisa menerima ini.
Ia tidak akan membiarkan dunia terus menginjak-injaknya.
"Aku harus menjadi lebih kuat!"
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Xiao Tian berdiri.
Ia menatap langit malam yang gelap.
Ia bersumpah, akan kembali.
Dan ketika ia kembali, dunia ini tidak akan bisa lagi meremehkannya.
(Bab 3 Bersambung…)
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!