NovelToon NovelToon

Nikahi Aku Kuberikan Rahimku

BAB 1

Seorang perempuan yang bernama Riri tengah duduk di sofa ruang tamu yang tengah memikirkan permintaan dari orang tuanya agar segera membawakan seorang calon suami. Orang tuanya mengancam akan menjodohkannya apabila Riri tidak segera mewujudkannya. Riri bingung harus mencari calon suami kemana karena sudah beberapa hari ini orang tuanya terus mendesaknya untuk segera membawa calonnya sedangkan dia sama sekali belum pernah berpacaran sama sekali.

Salah satu sahabatnya yang bernama Linda yang tinggal bersamanya bingung melihat Riri murung beberapa hari ini. "Kamu kenapa sih Ri kok murung gitu sih?"

Mendengar pertanyaan dari Linda Riri pun memusatkan pandangannya ke arah Linda, Riri terdiam sejenak "Lin cariin aku jodoh sih, aku sudah malas untuk mencari cari lagi. Kira-kira kamu ada kandidat calon enggak Lin?"

"Kenapa kamu tiba-tiba ingin mencari jodoh?saranku ya di jaman yang modern ini kenapa kamu enggak cari saja dalam aplikasi dating online."

Linda bingung mendengar ucapan Riri, tidak biasanya dia ingin mencari seseorang jodoh untuknya. Karena selama ini Riri itu terkesan cuek kepada semua laki-laki yang berada di dekatnya. sempat waktu itu ada seorang laki-laki yang berniat mendekatinya tapi Riri terus menjauh dan akhirnya laki-laki itu perlahan mundur karena mendapat penolakan secara tidak langsung.

"Orang tua aku beberapa minggu ini tambah sering mendesak aku agar segera menikah. Tapi kira-kira aman enggak Lin kamu tahu sendiri kan kalau sekarang itu rawan banget kejahatan yang berkedok dating online."

"Apa salahnya mencoba sih Riri siapa tahu kamu bisa dapat jodoh dari sana."

"Ok aku akan coba cari dalam aplikasi tapi aku malas untuk memasukkan semua persyaratannya, tolong ya kamu masukin semua persyaratannya aku lagi sibuk nih sekarang" Riri saat ini sedang mengerjakan beberapa proposal kerjasama.

"Untung kamu punya sahabat yang baik sepertiku, baik nanti aku akan bantu kamu memasukkan semua persyaratannya" Linda mengambil laptop di kamarnya lalu mulai memasukkan semua data diri Riri yang di perlukan.

"Ini sudah aku masukkan semua data diri kamu, sekarang tinggal menunggu apakah ada yang cocok denganmu nanti kalau ada yang cocok langsung ada notifikasi dari aplikasinya" Linda mulai menjelaskan tahapan mencari jodoh dari aplikasi.

"Kenapa sih kamu kok buru-buru gitu cari calon suami emang kamu enggak mau nikmati masa masa pacaran?" Linda bingung karena jarang sekali Riri mau mencari seorang laki-laki biasanya dia hanya fokus kerja setiap hari seperti manik kerjaan.

"Di umurku yang segini? tolong kamu jangan aneh-aneh, kamu tahu tidak perempuan seusiaku itu sudah menikah bahkan ada yang sudah memiliki tiga anak sedangkan aku pacar saja tidak punya sungguh miris sekali hidupku ini" ucap Riri meratapi nasibnya.

"Tenang Ri sekarang perempuan di usia kamu itu masih ideal kok buat pacaran lagian pada saat Damian mendekati kamu kenapa kamu malah menjauhinya?" Linda sedikit geram dengan perilaku Riri karena pada saat Damian mendekatinya Riri pun ada rasa dengan Damian tapi dia terus menolaknya.

"Itu menurutmu sedangkan aku sudah dianggap perawan tua di kampung halamanku, aku hanya tidak mau pacaran dengan teman satu pekerjaan itu sangat menggangu."

"Halah alasan, waktu itu juga ada laki-laki yang tertarik sama kamu tapi apa kamu malah menjauhinya lagi" Linda terus mengingatkan penolakan Riri kepada beberapa laki-laki.

mendengar itu Riri sedikit meringis, dia ingat dengan kejadian waktu itu. seorang koleganya menyatakan dengan gamblang perasaan ketertarikan kepada Riri, tapi memang pada saat itu Riri masih ingin fokus membangun kariernya. Dia ingin masa mudanya mempunyai karier yang cemerlang seperti impiannya.

BAB 2

Setelah perkataan Linda tadi mereka berdua terdiam, Riri masih dengan lamunannya dia tidak fokus mengerjakan proposal lagi. Sedangkan Linda dia masih sibuk mengotak-atik aplikasi dating online supaya Riri cepat mendapatkan jodoh di sana. Tidak lama kemudian suara notifikasi muncul dari laptop Linda, sontak saja Linda dan Riri langsung melihatnya dengan penasaran.

"Ri ada yang cocok nih sama kamu coba kamu chat dia duluan."

"Masa aku chat duluan sih Lin kan aku malu."

"Nah ini yang buat kamu susah dapat pacar, dengerin ya Ri sekarang itu wanita yang ngechat dan confess duluan itu enggak papa."

"Beneran?" Riri mencoba memastikan dia sedikit ragu karena bagi Riri laki-laki yang harus mengejar perempuan bukan sebaliknya.

"Iya ayo cepat jangan lama-lama nanti keburu dia cocok sama yang lain" Linda tidak sabar dengan pergerakan Riri yang kurang cepat dalam menanggapi itu.

"Nah udah aku chat terus sekarang gimana lagi?"

"Ya tinggal menunggu balasan dari orang itu, gimana profilnya bagus enggak? tampan enggak orangnya?"

Di sana terlihat foto seorang laki-laki berwajah tegas dan bermata tajam yang sangat tampan dan gagah. Di profilnya juga tertera bahwa dia seorang pemilik perusahaan besar dan sedang sukses saat ini. Dan sepertinya dia bukan orang yang sembarangan tapi kenapa dia mencari jodoh dalam aplikasi seharusnya dia bisa mendapatkan seorang perempuan dengan mudah tanpa bantuan aplikasi, Linda mengenyahkan pikiran buruknya.

"Sepertinya sih tampan, nih coba kamu lihat."

"Ini sih bukan sepertinya lagi, ini ganteng banget loh Ri. Jugaan orang ini bukan orang biasa kayaknya dia orang kaya deh dilihat dari jam tangan yang dia pakai, semoga aja cocok ya sama kamu Ri" walaupun Linda sempat berpikir buruk tapi dia tetap memberikan semangat kepada Riri.

"Ya semoga aja cocok aku udah capek banget ditanyain kapan nikah" Riri bersandar di sofa dan menghela nafas panjang.

Disisi lain terlihat seorang pria sedang berbicara dengan asistennya. "Tuan saya baru saja mendapatkan notifikasi dari aplikasi dating yang tuan daftar kemarin, ada seorang perempuan yang cocok dengan anda."

"Bagaimana profilnya apakah bagus?" dia bertanya sambil sibuk dengan berkas-berkasnya.

"Seperti yang terlihat perempuan ini memiliki profil yang bagus, perempuan ini juga baru saja mengirimkan pesan untuk tuan."

"Apa isi pesannya?"

"Perempuan itu hanya mengirimkan perkenalkan saja, apakah anda berkenan menjawabnya tuan?" asistennya itu memperlihatkan pesan yang di kirimkan dan pria itu melihatnya.

"Jawab saja siapa tahu dia setuju dengan permintaanku."

"Baik tuan, pesan apa yang perlu saya kirimkan?"

"Suruh dia untuk bertemu denganku besok dan tolong kosongkan beberapa jadwalku besok."

"Baik tuan kalau begitu saya undur diri" pamit asistennya menuju ke tempat kerjanya kembali.

Pria yang baru saja berbicara dengan asistennya tadi adalah Regos seorang pebisnis muda yang sedang sukses saat ini. "Akhirnya sebentar lagi rencana ku akan terwujud" ucapnya sambil tersenyum smirk.

Terdengar suara telepon yang berbunyi dari samping Regos setelah di lihat ternyata yang menelponnya adalah maminya. Bisa Regos tebak pasti maminya itu melapor kegiatan istrinya yang kurang di sukai olehnya. Regos memang sudah menikah tapi pernikahan itu tidak mendapat persetujuan dari maminya, dan maminya terus mendesak agar dia lekas bercerai dengan istrinya tetapi langsung di tolak oleh Regos karena dia masih mencintainya.

BAB 3

Regos pun mengangkat panggilan telepon itu, "kenapa mi?"

"Urusi istrimu dia dari pagi sampai siang ini belum pulang juga, sebenarnya dia itu kenapa sih Regos kok makin hari makin aneh saja. Udah enggak bisa mengandung tapi perbuatannya itu loh membuat sakit kepala" ucap maminya Regos dengan menggebu-gebu dan marah.

"Mami kenapa bahas tentang itu lagi sih, gimana Rani tidak berperilaku seperti itu mami saja selalu mendesaknya terus untuk memiliki anak yang mana itu belum bisa terealisasikan.

"Terus bagaimana lagi dong mami udah pengen gendong cucu apalagi sekarang umur mami udah semakin tua."

"Sabar mi Regos juga sedang berusaha supaya bisa mendapatkan anak."

"Bagaimana bisa punya anak kalau istri kamu aja sudah di vonis oleh dokter tidak akan bisa memiliki anak."

"Sudah mami tenang saja, mami nanti bakal dengar kabar kalau akan memiliki cucu."

"Bagaimana bisa? tapi kalau kamu menikah lagi pasti itu bisa terjadi. Regos kamu mau menikah lagi nak?" terdengar dari telepon maminya terdengar begitu antusias.

"Mami diam dulu ya jangan sampai Rani dengar soal ini."

"Kenapa tidak kamu ceraikan saja istri mandulmu itu? dia itu begitu menyusahkan."

"Jangan seperti itu mami, apakah mami tidak ingat perjuangan aku untuk mendapatkan dia, begitu sulit mi apalagi orang tuanya Rani itu bukan orang sembarangan jadi kita harus hati-hati dalam bertindak."

"Ya sudah mami nurut aja apa katamu yang terpenting jangan sampai lupa tentang cucu mami ya, mami tutup teleponnya" panggilan berakhir terlebih dahulu.

"Huft...kenapa hidupku rumit begini?" Regos mengacak rambutnya frustasi.

"Mending sekarang aku ke club saja buat have fun disana."

Memang ketika Regos pusing dengan masalahnya dia akan langsung mengunjungi club. Di sana dia dengan bebas mengeluarkan segala emosinya tanpa di tahan-tahan lagi. Regos berangkat ke club sendiri tanpa seorangpun bersamanya. Saat sudah sampai di sana Regos langsung menuju meja bartender.

"berikan aku vodka" ucap Regos ke bartender.

"Ini tuan, sepertinya tuan banyak masalah sekali?" mengerti suasana hati Regos yang kurang baik bartender itu langsung memberikan minuman yang diminta oleh Regos.

"Iya aku memang sedang banyak masalah" mengingat masalah itu membuat Regos kembali pusing, dia memijit keningnya secara perlahan supaya pusingnya sedikit mereda.

"Masalah apa tuan sampai tuan sefrustasi ini?"

"Kamu tidak perlu tahu yang terpenting berikan aku vodka lagi."

"Jangan terlalu banyak minum tuan nanti anda bisa tidak sadarkan diri, apalagi sekarang tuan datang sendiri ke sini."

"Hanya beberapa gelas vodka tidak akan membuat kesadaran ku menghilang" ucap Regos sombong.

"Baik tuan ini vodka anda" bartender itu terus memberikan Regos vodka hingga habis lima gelas.

"Berikan lagi" Regos terus meminta lagi dan lagi, dia tidak mau berhenti padahal keadaannya sudah mabuk berat.

"Sudah tuan, anda telah menghabiskan banyak vodka hingga tuan sudah mulai mabuk."

"Persetan dengan itu aku mau vodka atau kamu memilih di pecat dari sini?" mendengar ancam itu sang bartender langsung memberikan vodka lagi.

Pandangan mata Regos sudah mulai kabur dia mulai memperhatikan suasana club hingga matanya bersitatap dengan perempuan yang menurutnya sangat seksi dan menggoda. Jarang sekali dia cepat tertarik dengan seorang perempuan dengan sekali pandang. Merasa penasaran Regos pun bertanya pada bartender siapa tahu dia mengetahuinya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!