“Berapa lama lagi aku harus mengabdi di sini?” Naomi menatap sebuah bangunan puskesmas bercat putih di depannya dengan nanar. Sudah hampir empat bulan dia bertugas di sana dalam rangka penugasan khusus dokter tenaga kesehatan. Selama hampir tiga bulan itu pula Naomi melewatinya dengan perasaan tidak tenang.
Bukannya tidak senang bekerja di sana hingga tidak sabar untuk segera kembali bertugas di rumah sakit yang berada di ibu kota seperti dulu. Namun, suasana di daerah tersebut yang kurang cukup nyaman untuk dirinya, membuat Naomi ingin segera kembali ke kota secepatnya.
“Mama, Naomi rasanya mau pulang saja. Ayo jemput Naomi, Ma. Jemput Naomi….” Gumam Naomi setelah berada di dalam ruangan kerjanya.
Baru saja duduk di atas kursi kerjanya, Naomi menjatuhkan wajah di atas kedua tangan yang terlipat di atas meja sembari mengeluh atas kejadian tak mengenakkan yang menimpa dirinya beberapa waktu belakangan ini terutama kejadian tadi malam dimana ia mendapatkan perlakuan kurang mengenakkan dari beberapa pemuda desa yang mencoba menarik perhatiannya.
“Kenapa mereka bersikap begitu mengerikan. Aku jadi takut berlama-lama di sini!” Lirih Naomi mengingat kejadian tadi malam saat dia digoda habis-habisan oleh banyak pemuda saat baru saja pulang dari rumah warga untuk mengecek kesehatan salah satu warga yang terkena DBD.
“Dokter Naomi!” Kedatangan seorang wanita muda masuk ke dalam ruangan kerjanya membuat perhatian Naomi langsung tertuju padanya.
“Yuni, ada apa?” Tanya Naomi. Dia berusaha memperlihatkan wajah semanis mungkin pada Yuni. Naomi tidak ingin orang lain melihat kegundahan yang tengah dirasakannya.
“Di depan ada pak lurah yang ingin bertemu dengan Dokter Naomi!” Beri tahu Yuni.
Dahi Naomi mengkerut. Untuk apa lagi pak lurah menemuinya. Bukannya semalam mereka sudah berbincang cukup banyak mengenai program kerjanya di puskesmas? Tak lama berpikir, Naomi segera bangkit dari posisi duduk. Melangkah keluar dari dalam ruangan kerjanya dengan langkah tergesa-gesa.
“Pak Ramzi…” sapa Naomi menyebut nama lurah di desa tersebut.
Pak Ramzi yang disebut namanya menoleh. Pun dengan seorang pria yang kini berdiri di samping Pak Ramzi dengan posisi membelakangi tubuh Naomi.
Deg
Jantung Naomi seakan berhenti berdetak dan kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat sosok pria yang berdiri di sebelah Pak Ramzi. Sama seperti Naomi, pria itu juga nampak terkejut saat melihat wajah Naomi.
“Gilang, sedang apa dia di sini?” Lirih Naomi dalam hati.
“Dokter Naomi, saya ingin memperkenalkan Dokter dengan Pak Gilang sebagai pendiri klinik permata yang sedang dibangun saat ini.” Kata Pak Ramzi sembari tersenyum.
Pandangan Naomi kembali beralih pada Gilang setelah menatap wajah Pak Ramzi yang barusan berbicara kepadanya. Kemudian, dia mengulurkan tangan pada Gilang yang kini menatap wajahnya dengan tatapan dingin.
“Perkenalkan, saya Dokter Naomi yang bekerja di puskesmas ini.” Kata Naomi seolah baru mengenal sosok Gilang.
Gilang menerima uluran tangan Naomi tanpa melenyapkan tatapan dingin di wajahnya. “Gilang.” Balasnya Gilang seadanya. Sama seperti Naomi, Gilang juga bersikap seolah tidak mengenali Naomi. Padahal sejak kecil, mereka sudah saling mengenal satu sama lain.
Jabatan tangan Naomi dan Gilang seketika terlepas. Dapat Naomi rasakan telapak tangannya kini terasa dingin setelah berjabat tangan dengan Gilang.
“Ternyata Gilang adalah pendiri klinik permata. Tapi bagaimana bisa?” Pertanyaan itu terbesit di benak Naomi. Pasalnya, dia tahu betul siapa Gilang dan bagaimana kekuasaan keluarganya di ibu kota. Naomi sedikit heran kenapa Gilang bisa membuat klinik di desa terpencil di daerah tempat ia mengabdi saat ini. Karena biasanya, keluarga Gilang lebih fokus membangun anak-anak perusahaan mereka saja.
“Jadi Dokter Naomi, Pak Gilang mau berkenalan dengan Dokter Naomi. Karena rencananya Pak Gilang mau menarik Dokter Naomi untuk bekerja di klinik Permata setelah tugas Dokter Naomi di puskesmas selesai.” Kata Pak Ramzi menyebutkan tujuannya bertemu dengan Naomi saat ini.
Naomi tak langsung memberikan tanggapan. Dia diam dengan kedua kelopak mata yang nampak berkedip-kedip.
“Bagaimana ini?” Lirih Naomi dalam hati. Rasanya dia sangat enggan untuk berbicara banyak dengan Gilang. Apa lagi sudah hampir lima tahun belakangan ini dia berusaha menjauhi sosok Gilang.
Tak mendapatkan respon dari Naomi, Pak Ramzi kembali berkata. “Bagaimana Dokter Naomi? Apa Pak Gilang bisa berbicara dengan anda sebentar?”
Naomi langsung mengangguk. Bukan karena ia menginginkannya. Namun, karena ia tak enak hati pada Pak Ramzi bila menolaknya.
“Kalau begitu kita bicara di dalam saja, Pak. Kebetulan saya belum ada pasien pagi ini.” Ajak Naomi.
Pak Ramzi mengangguk. Sementara Gilang hanya diam dan mengikuti langkah Pak Ramzi setelah dipersilahkan masuk oleh Naomi ke dalam ruangan kerjanya.
Di dalam ruangan Naomi, Pak Ramzi sebagai perantara Gilang dan Naomi untuk bertemu mempersilahkan Gilang untuk berbicara dengan Naomi secara langsung tentang keuntungan yang akan Naomi dapatkan jika bekerja di kliniknya kelak. Naomi mendengarkannya dan sesekali mengangguk paham dengan penjelasan Gilang.
“Jadi bagaimana Dokter Naomi. Apa anda tertarik?” Tanya Pak Ramzi.
“Maaf, Pak. Saya belum bisa menerima tawaran tersebut. Karena setelah masa pengabdian saya di desa ini selesai, saya akan kembali ke kota dan bekerja kembali di rumah sakit yang ada di sana.” Balas Naomi. Meski gaji yang ditawarkan oleh Gilang lebih besar dari gaji yang ia dapatkan di kota, tak membuat Naomi tertarik sama sekali. Apa lagi dia tahu jika pemimpin di klinik tersebut nantinya adalah Gilang sendiri.
Pak Ramzi menatap wajah Gilang dengan tatapan tak enak hati. Karena dokter yang direkomendasikan olehnya untuk bekerja di klinik milik Gilang tidak menerima tawaran yang Gilang berikan.
“Tidak masalah. Saya bisa mencari dokter lain yang lebih berkompeten dan bersedia bekerja di klinik saya nantinya.” Kata Gilang sebelum Pak Ramzi bersuara.
Pak Ramzi lega mendengarnya. Sementara Naomi, dibuat sedikit kesal melihat respon yang ditunjukkan Gilang barusan pada dirinya. Tak berlama-lama berada di dalam ruangan kerja Naomi, Gilang dan Pak Ramzi segera berpamitan untuk pergi. Naomi pun mengantarkan kepergian mereka sampai di depan pintu masuk puskesmas.
“Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi dengan kondisi tak terduga seperti ini?” Lirih Naomi sembari menatap nanar kepergian Gilang yang semakin menjauh dari pandangannya.
Setelah kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya, Naomi memegang letak jantungnya berada. Dapat ia rasakan kalau jantungnya kini masih berdetak begitu kencang seperti saat ia melihat wajah Gilang tadi.
“Jantungku… kenapa rasanya masih tetap sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Bukannya saat ini perasaanku padanya sudah hilang sepenuhnya?” Lirih Naomi dengan kedua kelopak mata yang mulai terpejam dan hembusan napas yang terasa kian memberat.
***
Selamat datang di karya baru SHy. Untuk kali ini insya Allah novel ini akan setia berada di sini sampai tamat. Sebagai bentuk dukungan, yuk jangan lupa tinggalkan komen dulu sebelum lanjut ke bab selanjutnya🤗
Naomi berusaha untuk tetap fokus bekerja meski bayang-bayangan Gilang terus terlintas di benaknya. Sungguh, Naomi merasa kalau kedatangan Gilang tadi semakin merusak ketenangannya untuk bekerja.
“Sebenarnya, apa tujuannya membangun klinik di desa ini. Dan kenapa tempatnya sama dengan tempat aku mengabdi?” Gumam Naomi. Dirundung penasaran, Naomi memilih untuk menghubungi seorang sahabatnya yang merupakan sepupu Gilang.
Cukup lama bagi Naomi menunggu panggilan terhubung dengan sahabat baiknya karena jaringan di desa cukup minim untuk digunakan.
“Halo, Naomi!” Suara Debby terdengar menyapa di seberang sana. Seperti biasanya, Debby selalu semangat saat mengangkat panggilan telefon dari Naomi.
Senyuman di wajah Naomi seketika terbit mendengar suara sahabat baiknya. “Halo, Debby. Maaf kalau aku mengganggu waktu kerjamu.” Naomi sedikit sungkan. Dia menyadari kalau Debby juga pasti sedang bekerja saat ini.
“Tak masalah. Kamu sama sekali tidak menggangguku. Oh ya, omong-omong tumben sekali kamu menghubungiku di waktu jam bekerja begini?”
Naomi terdiam beberapa saat. Dia menggigit jari-jarinya meragu untuk menjawab.
“Naomi, apa kamu masih mendengar suaraku? Apa jaringan di sana hilang?” Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Debby.
“Aku masih mendengarnya, Debby.” Balas Naomi cepat sebelum sahabatnya yang super cerewet kembali bertanya.
“Kalau kamu masih mendengarnya, maka jawablah pertanyaanku cepat sebelum jaringan di sana hilang!” Seru Debby.
Naomi menghela napas. Menjeda waktu beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Debby. “Debby, apa kamu tahu kalau sekarang Gilang berada di desa yang sama denganku. Tadi pagi aku bertemu dengannya di puskesmas.”
Hening
Debby ikut-ikutan diam tak langsung merespon pertanyaan Naomi.
Bagaimana ini?
“Debby?” Suara Naomi kembali terdengar.
“Emh, ya. Aku tidak tahu mengenai hal itu. Yang aku dengar dari papaku, Gilang memang sedang berada di luar kota. Meninjau langsung proyek amal yang dilakukannya di daerah terpencil. Aku gak tahu kalau dia satu daerah sama kamu!”
“Oh, begitu ya…”
Debby mengangguk di seberang sana meski Naomi pasti tidak akan bisa melihat pergerakannya. “Kenapa, Naomi. Apa dia membuat masalah denganmu sampai kamu menelefonku begini?”
“Tidak. Aku hanya ingin memastikannya saja. Karena aku kaget dia bisa ada di sini.”
“Begitu ya. Aku pikir kamu senang karena bisa bertemu dengan Gilang lagi.”
“Debby!” Suara Naomi terdengar penuh peringatan. Membuat Debby bungkam dan segera mengakhiri panggilan telefon mereka.
Hembusan napas Naomi terbuang bebas di udara setelah panggilan telefonnya dan Debby berakhir. Naomi merutuki diri karena mempertanyakan hal yang menurutnya tidak penting pada Debby.
“Kenapa kamu mempertanyakan tentang Gilang sama Debby sih. Dia kan bisa berpikiran yang tidak-tidak nantinya!”
Naomi sudah tak ingin lagi memikirkan tentang Gilang. Dia berharap tidak akan bertemu kembali dengan Gilang. Semoga saja hari itu juga Gilang sudah kembali ke kota mereka. Agar tidak pusing memikirkan Gilang, Naomi mencoba fokus melanjutkan pekerjaannya. Untung saja saat itu juga dia kedatangan pasien yang harus ditanganinya dengan serius hingga membuat perhatian Naomi hanya fokus pada pasiennya saja.
Pukul lima sore, Naomi terlihat masih fokus menangani beberapa pasien yang terus berdatangan ke puskesmas lewat jalur UGD. Seorang dokter kandungan yang juga bekerja di puskesmas nampak menghampiri Naomi saat ia baru saja keluar dari dalam ruangan UGD.
“Naomi, apa pekerjaanmu sudah selesai?” Tanya Raka dengan wajah tersenyum.
“Sudah, Raka. Ini aku udah mau pulang.” Balas Naomi ikut tersenyum.
“Kebetulan sekali kalau begitu. Aku juga udah mau pulang. Bagaimana kalau kita pulang bersama saja dari pada kamu berjalan kaki ke kontrakan?” Tawar Raka.
Naomi berpikir sejenak. Sebenarnya dia enggan untuk menerima tawaran Raka. Namun, mengingat beberapa waktu belakangan ini begitu banyak pemuda desa yang menggoda dirinya saat pulang bekerja, membuatnya akhirnya menerima tawaran Raka.
“Maaf kalau aku merepotkanmu.” Kata Naomi saat motor milik Raka sudah melaju meninggalkan puskesmas menuju rumah kontrakan Naomi berada.
“Sama sekali tidak merepotkan. Aku justru senang bisa mengantarkan kamu.” Balas Raka. Bagaimana tidak senang, sudah lama sekali Raka menunggu momen ini. Bisa mengantarkan sang pujaan hati pulang dan berada di atas motor yang sama demgannya.
Naomi mengulas senyum. Dia cukup bersyukur di tengah kesulitannya hidup di desa, beberapa rekan kerjanya masih cukup baik kepadanya. Salah satunya Raka ini.
Agar tidak mencari kesalahpahaman warga melihat mereka berboncengan, Naomi menjaga jarak sebisa mungkin dari Raka. Meski bisa merasakan pergerakan Naomi yang terus berusaha memberikan jarak di antara mereka, Raka tidak mempermasalahkannya. Sudah bisa berboncengan seperti ini saja dengan Naomi, sudah cukup membuat hati Raka senang.
Saat keduanya melintas di lokasi proyek pembangunan klinik, Gilang yang masih berada di lokasi proyek tanpa sengaja melihat keduanya melintas. Tatapan mata Gilang nampak dingin menatap wajah Naomi meski Naomi tidak melihat ke arahnya.
“Ternyata dia terlibat cinta lokasi di sini.” Gumam Gilang tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari sosok Naomi yang semakin menjauh dari dirinya.
Motor yang dikendarai Raka terus melaju di jalanan desa. Beberapa warga yang melihat mereka terdengar menyapa. Beberapa dari mereka ada yang senang melihat kedekatan mereka berdua. Namun, ada juga yang tidak senang melihatnya. Salah satunya Sindy. Anak Pak Ramzi yang melihat keduanya melintas di depan rumahnya.
“Sialan. Berani sekali Dokter Naomi berboncengan dengan Raka!” Kedua tangan Sindy terkepal erat. Rasa cintanya yang begitu besar pada Raka, membuatnya tidak suka melihat Naomi berdekatan dengan Raka.
“Pasti dia sudah menggoda Raka sampai Raka mau mengantarkannya pulang seperti itu!” Pemikiran Melati semakin buruk saja pada Naomi. “Awas saja dia. Akan aku buat dia menyesal karena udah berani mendekati Raka!” Sambung Sindy dengan amarah yang terasa semakin memuncak di hatinya.
Tak lama berselang, motor milik Raka sudah tiba di depan rumah kontrakan Naomi. Setelah turun dari atas jok motor, Naomi tersenyum menatap wajah Raka.
“Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang, Raka.”
Raka membalas senyuman Naomi. “Sama-sama. Lain kali mari kita pulang bersama lagi.” Tawar Raka.
Naomi tersenyum saja. Di dalam hati dia menolak keras tawaran Raka. Sudah cukup dia pulang bersama Raka kali ini. Tidak untuk hari berikutnya.
“Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu.” Pamit Raka. Naomi mengiyakannya. Dia masih setia berada di depan rumah memperhatikan pergerakan motor Raka hingga akhirnya lenyap dari pandangannya.
Setelah tak lagi melihat sosok Raka, Naomi hendak masuk ke dalam rumah. Namun, pergerakannya terhenti saat mendengar suara mesin motor yang terdengar berhenti tak jauh dari rumah kontrakannya berada.
“Gilang!” Naomi terkesiap melihat sosok Gilang yang baru saja turun dari atas motor. Dan kini, pria itu melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan yang berada tepat di sebelah rumah kontrakan Naomi tanpa memberikan sapaan pada Naomi lebih dulu meski pria itu bisa melihat sosok Naomi.
“Dia tinggal di sebelah kontrakan aku?”lirih Naomi dengan jantung yang kembali berdetak kencang seperti saat melihat sosok Gilang tadi pagi.
***
Jika teman-teman suka dengan cerita Naomi dan Gilang, tinggalkan komentar dan klik tombol suka sebelum meninggalkan halaman ini. Satu lagi, jangan lupa kasih rate bintang 5 seperti biasanya.
NB : Kalau bisa satu orang berikan 5 komentar persatu bab ya. Terima kasih sayang🤍
Keesokan harinya, Naomi nampak keluar dari dalam kamar bersiap untuk berangkat bekerja. Seperti biasanya, Naomi tidak sarapan lebih dulu sebelum berangkat bekerja. Dia lebih suka membawa bekal sarapan paginya ke puskesmas dan memakannya setelah tiba di sana.
Saat baru keluar dari dalam rumah dan hendak mengunci pintu. Naomi mendengarkan suara keributan dari kontrakan sebelah. Rupanya keributan itu berasal dari pergerakan Gilang yang sedang mengeluarkan motor dari dalam rumah.
Naomi mengalihkan pandangan dari wajah Gilang yang kini sedang menatap ke arahnya setelah mengeluarkan motor dari dalam rumahnya. Tanpa suara, Naomi beranjak pergi meninggalkan rumah menuju puskesmas dengan berjalan kaki.
“Tumben gak ada tukang ojek yang mangkal pagi ini.” Gumam Naomi saat ia tiba di pangkalan ojek. Biasanya, Naomi menggunakan ojek untuk mengantarkannya lebih cepat tiba di puskesmas.
“Kalau begini aku gak punya pilihan selain berjalan kaki!” Mau tak mau Naomi kembali melanjutkan perjalanan menuju puskesmas dengan berjalan kaki.
Saat sedang berjalan menyusuri jalanan desa yang cukup mendaki, motor Gilang nampak melintas melewati Naomi. Meski Gilang melihat ke arah Naomi yang sedang berjalan kaki. Namun, tak membuat Gilang menghentikan laju motornya untuk memberikan tumpangan pada Naomi.
“Dia tidak pernah berubah. Selalu acuh kepadaku.” Gumam Naomi. Untuk kali ini Naomi berusaha tak menggunakan perasaan menanggapi sikap Gilang. Toh mereka memang tidak sedekat itu. Naomi juga tahu kalau Gilang tidak suka berdekatan dengan dirinya.
Hampir sepuluh menit berjalan, Naomi melintasi proyek pembangunan klinik milik Gilang. Dilihatnya Gilang sedang memasang helm pengaman sembari berbicara dengan mandor di lokasi proyek tersebut. Sejenak, Naomi terdiam di posisinya menatap wajah Gilang yang nampak serius saat berbicara dengan mandor proyek.
“Dia tidak pernah berubah. Selalu fokus saat bekerja.” Tanpa Naomi sadari, dia kembali mengingat masa lalu di saat dirinya masih suka memperhatikan Gilang hingga akhirnya menghilang dari hidup Gilang.
Menyadari kebodohannya, Naomi kembali melanjutkan langkah menuju puskesmas. Beberapa pemuda desa yang melewati dirinya terdengar memberikan tawaran untuk Naomi. Namun, Naomi menolak halus tawaran mereka.
“Dasar wanita tak tahu malu. Cuma sebagai pendatang di desa ini, tapi udah berani merebut pria yang aku sukai aja!” Gerutu Sindy saat melihat Naomi melintas di depan rumahnya.
Sejak Naomi mengabdi di desanya, Sindy merasa sangat tersaingi oleh Sindy. Bukan hanya dari segi wajah, tapi juga dari kedekatan dengan Raka. Selama ini Sindy selalu berusaha mendekati Raka. Namun, Raka seperti enggan untuk dekat dengannya. Tapi saat bersama Naomi, justru Raka yang mendekatinya.
Setelah lelah berjalan, akhirnya tiba juga Naomi di puskesmas. Meski merasa lelah, tak membuat Naomi mengeluh. Sudah menjadi resikonya bekerja di pedesaan yang minim transportasi seperti ini. Jadi Naomi berusaha untuk memakluminya.
Seperti biasanya, Naomi menikmati sarapan paginya lebih dulu sebelum memulai harinya. Dia memakan sebuah apel merah dan meminum susu untuk mengisi perutnya yang kosong.
“Kamu udah lihat belum Mas Gilang pemilik proyek pembangunan klinik yang kemarin datang ke sini?” Di saat tengah fokus bekerja, samar-sama Naomi mendengar pembicaraan para tenaga kesehatan yang sedang membicarakan sosok Gilang. Dari yang Naomi simpulkan, merek begitu mengagumi sosok Gilang dan berencana untuk mendekatinya.
“Tidak dimana-mana, selalu ada saja wanita yang menyukai Gilang.” Naomi menghembuskan napas bebas di udara. Rasanya sudah menjadi hal yang wajar jika Gilang digilai banyak wanita mengingat wajah dan postur tubuh Gilang sangat sempurna jika dilihat dari sisi manapun.
**
Waktu istirahat siang tiba, Naomi dan beberapa rekan kerjanya diajak oleh Pak Ramzi untuk makan siang bersama dengan Gilang di sebuah rumah makan. Ajaka dari Pak Ramzi tentu saja langsung diterima dengan senang hati oleh rekan kerja Naomi. Tapi tidak dengan Naomi sendiri. Dia rasanya malas untuk menerima ajakan tersebut. Apa lagi ada Gilang nantinya.
“Hai, Mas Gilang!” Beberapa rekan kerja Naomi langsung mendekati Gilang setelah berada di rumah makan untuk menyapa dan menyaliminya.
Naomi tidak melakukan hal yang sama dengan mereka. Dia memilih diam di tempat seolah enggan untuk menyapa Gilang.
“Dokter Naomi, apa anda gak mau menyapa Mas Gilang?” Tanya rekan kerja wanita Naomi.
Naomi tersenyum kaku dan mengangguk. Meski enggan, dia terpaksa menyalimi tangan Gilang. Lagi, jantungnya dibuat berdebar-debar saat melihat kedua bola mata Gilang. Apa lagi saat ini Gilang tengah menatap wajahnya dengan intens.
“Oh ya, Dokter Naomi dan Pak Gilang ini kan sama-sama berasal dari ibu kota. Apa sebelumnya kalian tidak saling mengenal?” Tanya Pak Ramzi.
Naomi tercenung. Bingung untuk menjawab pertanyaan Pak Ramzi. Sementara Gilang, pria itu menggeleng merespon perkataan Pak Ramzi.
“Kami tidak saling kenal sebelumnya.” Kata Gilang.
Wajah Pak Ramzi tersenyum. “Wajar saja kalau kalian gak saling kenal. Kan ibu kota itu luas. Gak kayak di desa ini.” Balas Pak Ramzi.
Gilang mengangguk membenarkannya. Sementara Naomi masih diam dan berbicara di dalam hati.
“Apa dia begitu membenciku sampai tidak ingin jujur kalau kami saling mengenal?”
Selama berada di rumah makan bersama Gilang dan yang lainnya, Naomi lebih banyak diam. Dia hanya sesekali merespon pertanyaan dari Pak Ramzi dan beberapa rekan kerjanya. Sementara pada Gilang, Naomi enggan berbicara dengannya. Memandangnya pun tidak.
Satu minggu berlalu, Naomi merasa perasaannya tidak bisa tenang karena Gilang masih setia berada di desa. Entah kenapa pria itu tak kunjung kembali ke kota padahal Debby bilang kalau urusan Gilang di desa hanya beberapa hari saja.
“Pergilah… pergilah kamu dari sini…” gumam Naomi dalam hati setelah lagi-lagi dia bertemu dengan Gilang di depan rumah. Andai saja dia menjabat sebagai kepala desa, Naomi pasti sudah berani mengusir Gilang pergi dari sana.
Sedikit banyaknya, Naomi heran dengan pria itu. Bagaimana tidak, tinggal di desa bukanlah hal yang menyenangkan bagi Gilang yang sudah terbiasa hidup serba berkecukupan sejak kecil. Begitu banyak fasilitas yang tidak bisa ia dapatkan dan makanan di sana juga pasti tidak sesuai dengan selera Gilang. Namun, pria itu masih saja betah berada di sana. Seolah dia sangat nyaman dan tidak memikirkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan.
Meski posisi tempat tinggal mereka sangat dekat bahkan hanya menghitung langkah, tak membuat Naomi dan Dean saling dekat atau sekedar berbincang satu sama lain. Keduanya tetap bersikap acuh ketika bertemu, bahkan tidak pernah bertegur sapa.
Contohnya saja seperti saat ini, Gilang yang tengah duduk bersantai di teras rumah dan melihat Naomi terpeleset di teras rumahnya memilih diam saja duduk dengan nyaman di teras rumahnya seolah tidak ada kejadian apa-apa yang terlihat olehnya.
“Duh, bokongku sakit banget!” Keluh Naomi sembari berusaha berdiri tegak dari posisi duduk. Melihat Gilang sama sekali tidak peduli dengan dirinya, membuat Naomi tiba-tiba menjadi kesal.
“Apa dia gak punya perasaan sedikit saja untuk membantuku? Padahal dia pasti melihatku habis terpeleset!” Gerutu Naomi pelan sambil menatap sebal wajah Gilang yang nampak fokus menatap layar ponselnya.
***
Teman-teman, sekali lagi jangan lupa klik tombol like dan tinggalkan komentar sebelum meninggalkan halaman buku ini ya. Agar shy masih tetap semangat nulis di sini🤍
Rate bintang 5nya juga jangan lupa. Terima kasih yang masih tetap setia membaca karya shy🤗
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!