"Eh cupu ngapain lu di sini? Ganggu pemandangan aja lu dasar!" bentak teman kampus Rafly yang lain yang memang sering membuli dirinya itu.
Rafly hanya diam saja tak berani membalas hinaan itu.
"Dasar culun lu! Pergi lu dari sini!"
"Apa salah adik saya kok kalian ngatain begitu sih? Itu udah masuk pembulian namanya saya bisa loh laporin masalah ini ke pihak kampus biar kalian semua nggak ulangin kayak gitu lagi!" ancam Dinda kakak angkatnya Rafly yang tiba-tiba saja datang.
Rafly yang melihat kedatangan wanita cantik yang memakai dress selutut motif bunga itu tersenyum cerah dan ia bersembunyi di belakang Dinda.
Sedangkan mahasiswa lain yang tadi sudah membuli Rafly mereka pun menunduk takut.
"Ya udah kalau gitu saya minta maaf, Kak. Jangan laporin saya, kasihan orang tua saya di rumah yang udah biayain saya kuliah, Kak," ucap para pembuli itu memelas.
"Itu kalian tau kenapa malah kalian lakuin? Ngebully orang itu kan salah, masih aja kalian lakuin! Cepetan minta maaf ke Rafly bukan ke saya!" balas Dinda tegas.
Akhirnya para pembuli itu pun meminta maaf pada Rafly namun Rafly hanya diam saja meski ia kesal.
Setelah itu Dinda mengajak Rafly untuk pulang namun adik angkatnya itu memintanya untuk jangan pulang dulu, ia berkata ingin jalan-jalan bersama Dinda di mall. Ia pun tersenyum manis dan tentu saja menuruti kemauan adik angkat kesayangannya itu.
Setibanya di mall, Rafly dan Dinda jalan-jalan bersama keliling mall sambil bergandengan tangan. Memang mereka sudah terbiasa seperti itu, bahkan mereka terkadang saling melempar senyum.
Dinda mampir ke toko pakaian dalam karena ia teringat barang yang ia butuhkan, Rafly pun meski ia merasa malu namun ia ikut masuk ke dalam toko itu.
"Nah ini bagus nih!" seru Dinda begitu ia melihat ada dress namun sangat minim itu. Ia pun menyentuh gaun itu dan ia menyukai bahannya yang lembut dan dingin yang menurutnya pasti sangat nyaman bila dipakai.
"Kak Dinda ngapain beli baju kurang bahan kayak gitu?" tanya Rafly yang sepertinya tak suka melihatnya.
Dinda tersenyum nakal. "Ada deh," katanya. "Kamu nggak akan paham ini kan urusan perempuan."
"Tapi yang penting Kakak nggak akan pakai baju ginian di depan si Bara kan?"
Dinda menghela napas mendengar pertanyaan dari Rafly. "Ya bukan lah, Raf. Kamu tuh ada ada aja deh masa iya sih aku begitu kan malu."
"Bagus deh." Rafly tampak lega lalu ia tersenyum tipis.
Setelah itu Dinda pergi ke kasir untuk membayar gaun minim warna merah itu, barulah ia dan Rafly lanjut keliling lagi hingga akhirnya mereka berakhir di kafe karena Rafly merengek minta makan ia sangat lapar katanya.
Dinda tertawa kecil melihat cara makan Rafly yang sangat cepat dan berantakan itu.
"Pelan aja makannya, aku nggak bakalan minta kok!" gurau Dinda sambil mengusap saus yang menempel di pipi adiknya itu. Sedangkan Rafly hanya nyengir saja dan lanjut makan dengan lahap.
"Kenyang banget," ujar Rafly sambil mengusap-usap perutnya itu.
"Abis ini kita mau pergi ke mana lagi? Apa mau pulang aja?" tanya Dinda lalu ia menyeruput jusnya dengan anggun.
"Pulang aja deh."
Dinda mengangguk, ia kemudian tersenyum menatap adiknya yang menurutnya menggemaskan itu.
Merekapun pulang mengunakan mobil mewah yang Dinda kemudikan itu. Begitu mereka sampai rumah mereka dibuat terkejut oleh kemunculan Viona di depan pintu, ia adalah ibunya Rafly yang tampangnya memang selalu judes.
Rafly langsung menunduk takut lalu ia berdiri di belakang Dinda.
"Ngapain kamu jam segini baru pulang hah? Harusnya kan kamu udah pulang dari tadi! Pergi ke mana kamu hah?" tegur Viona.
"Maaf, Ma. Tapi aku yang ngajak Rafly jalan-jalan jadi aku minta sama Mama jangan marahin dia karena adik aku tuh nggak salah." Dinda menjelaskan.
"Kamu itu selalu aja belain dia, ngapain sih kamu terus menerus membela anak itu?"
DEG!
Rafly terdiam mendengar perkataan kasar yang Viona lontarkan padanya itu sungguh membuat hatinya sakit, ia pun masuk ke dalam rumah melewati Viona membuat ibunya itu semakin naik pitam.
"Dasar anak kurang ajar dia itu!"
"Mama kayaknya udah keterlaluan deh, Rafly itu adik aku dan dia itu bukan anak kurang ajar, Ma. Dia itu anak yang baik dan pinter," tegur Dinda karena menurutnya ibu angkatnya itu sudah sangat keterlaluan kali ini.
"Anak kurang ajar nggak sopan begitu kok kamu bilang baik."
"Aku mau ke kamar dulu," pamit Dinda dan ia berlalu pergi membuat Viona berdecak kesal.
Malam harinya Dinda merasa haus dan ia pun pergi ke dapur, dan ketika ia melewati kamar mandi yang ada di bawah ia terbelalak kaget melihat Rafly yang sedang tampak kedinginan dan pakaiannya pun basah kuyup itu. Ia pun khawatir dan berjalan cepat menghampiri adiknya itu.
"Rafly kamu kenapa? Kenapa kamu bisa basah kuyup kayak gini?" tanya Dinda cemas.
"Dingin, Kak..." lirih Rafly sambil memeluk dirinya sendiri dan badannya pun tak berhenti menggigil karena dingin.
"Ya udah kalau gitu kamu ikut aku," ajak Dinda.
Dinda kemudian mengantar Rafly ke kamar adiknya itu, ia mengurus adiknya dengan baik dan menyelimutinya. Setelah ia memastikan adiknya itu sudah terlelap ia pun kembali ke kamarnya sendiri.
Tengah malam Dinda terkejut saat mendengar ketukan pintu, ia bertanya-tanya dalam hatinya siapa yang datang ke kamarnya malam seperti ini. Dan ketika ia membuka pintunya ia dibuat terkejut melihat Rafly.
"Rafly?"
"Dingin banget, Kak. Aku boleh ya tidur di sini, please..."
Dinda terkejut mendengar permintaan Rafly, namun karena ia tak tega melihat keadaan adiknya yang masih menggigil itu ia pun mengangguk. Rafly mengucapkan terima kasih lalu ia berjalan menuju ranjang dipapah oleh Dinda.
Rafly berbaring di ranjang tidur milik Dinda, sedangkan Dinda mengambil selimut dan bantal yang membuatnya bingung.
"Kakak mau ke mana?"
"Aku tidur di sofa aja," balas Dinda pelan.
"Aku pergi ke kamar Kak Dinda karena minta ditemenin tidur biar aku nggak kedinginan lagi," ujar Rafly lirih.
Dinda terkejut mendengarnya. "Tapi..."
"Please, aku mau tidur sama Kakak, malem ini aja," pinta Rafly memelas.
Dinda pun tak tega, ia akhirnya berbaring di ranjang namun di pinggir.
Rafly kemudian bergerak menarik tubuh Dinda dan memeluknya membuat kakaknya itu memekik kaget.
"Dingin banget, Kak..." gumam Rafly sambil mengeratkan pelukannya itu, ia masih saja menggigil hebat membuat Dinda semakin cemas.
Dinda merasa gugup dan panik ketika Rafly berada di atas tubuhnya dan mendekatkan wajahnya, ia memejamkan matanya ketika bibirnya dicium oleh Rafly dengan lembut lama kelamaan menjadi liar.
"Boleh kan?" tanya Rafly dengan napas yang memburu, dan ketika Dinda mengangguk pelan ia pun mulai melampiaskan keinginannya yang terpendam selama ini pada wanita cantik itu.
Pagi harinya Dinda menangis meratapi apa yang sudah terjadi padanya, ia meringkuk menutupi tubuh polosnya itu dengan selimut tebal. Ia menyesali kebodohannya sendiri mengapa ia malah mau saja ditiduri Rafly. Harusnya ia yang paling tua yang bisa menahan diri agar tak terjadi hal seperti itu. Ia dan Rafly adalah saudara meski tak sedarah dan tak sekandung jadi tak seharusnya ada hubungan terlarang seperti itu di antara mereka berdua. Kini ia sudah tak lagi suci setelah apa yang telah mereka berdua lakukan sepanjang malam. Muncul rasa bersalah pada Bara tunangannya itu, bagaimana ia akan menghadapi tunangannya untuk kedepannya? Apakah ia masih punya muka untuk menemuinya sedangkan sesuatu yang seharusnya ia berikan pada Bara namun justru telah ia berikan pada Rafly. Padahal sebelumnya tak pernah ada pikiran atau bahkan niatan untuk berhubungan ke arah sana dengan Rafly namun malah semuanya itu terjadi. Sekarang ini penyesalan pun serasa sudah tak ada gunanya lagi semuanya sudah terjadi dan itu atas kesadarannya sendiri ia bahkan tak mabuk.
"Bara maafin aku..."
Rafly masuk ke kamar Dinda membawa makanan dan juga minuman untuk wanita cantik itu, ia masih tak berani menatap ke arah Dinda karena ia merasa gugup.
"Kak Dinda bangun dulu yuk, nih aku udah bawain sarapan buat Kakak," ucap Rafly sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar suara berat Rafly membuat Dinda langsung menghapus air matanya. Setelah apa yang mereka lakukan tadi malam ia masih merasa canggung ketika bersama pemuda itu. Jelas saja ia merasa canggung, ia masih tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang tak bisa menahan diri malah dengan suka rela tidur dengan adik angkatnya sendiri yang selama ini sangat dekat dengannya. Kini setelah apa yang telah mereka lakukan itu apakah ia masih bisa menganggap Rafly sebagai adiknya lagi? Sekarang saja cara pandangnya kepada Rafly sudah sangat berbeda jauh dari sebelumnya dan begitu juga dengan Rafly mungkin. Sekarang ini mungkin saja Rafly sudah tak menganggap Dinda sebagai seorang kakak lagi. Ia merutuki kebod*hannya sendiri dalam hati.
Dinda diam saja tak bisa membalas perkataan Rafly tersebut. Ia menundukkan kepalanya lalu ia menghela napas.
Rafly yang merasa canggung kepada Dinda, ia duduk di tepi tempat tidur dengan kepala yang menunduk dan mata yang tak sedikitpun menatap ke arah kakak angkatnya itu.
Dalam beberapa saat baik Rafly maupun Dinda terdiam tak ada lagi yang mengatakan apapun, mereka tampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kak, aku minta maaf karena semalam udah kelepasan. Aku minta maaf banget, Kak," ucap Rafly mulai buka suara lagi dengan lirih sambil memainkan ujung kaos putihnya itu.
"Aku yang salah, Raf. Harusnya aku nolak kamu tapi aku malah..."
Rafly sekarang berani menatap wajah cantik Dinda, ia menatap wanita itu dengan tatapan memelas.
"Kak Dinda nggak salah, aku yang salah dan aku janji aku bakalan tanggung jawab, aku bakalan nikahin Kak Dinda hari ini juga," ucap Rafly tegas.
Dinda terkejut mendengarnya, ia pun kemudian berusaha untuk bangun meski ia meringis sakit saat merasakan tubuh bagian bawahnya yang seperti remuk itu. Itu karena ia baru pertama kali melakukan hal itu. Dengan telaten Rafly kemudian berinisiatif untuk membantunya duduk menyandar di kepala tempat tidur.
Tanpa Dinda tahu Rafly tampak tersenyum puas ketika ia melirik ke arah bercak berwarna merah di seprei, ia merasa bangga karena telah merenggut keperawanan Dinda.
"Kamu nggak usah bahas soal nikah, yang penting kita rahasiakan ini dari siapapun," tegas Dinda.
"Tapi..."
"Rafly, kamu itu masih muda banget dan masa depan kamu masih panjang. Aku nggak mau merenggut masa depan kamu dengan pernikahan kita, aku nggak mau jadi beban," balas Dinda sedih.
"Kak Dinda bukan beban," balas Rafly dengan serius.
Dinda terdiam mendengarnya, namun ia tetap menolak usulan Rafly tersebut. Rafly ingin protes namun ia menundukkan kepalanya saat Dinda memintanya untuk berhenti bicara.
"Kalau gitu sekarang Kak Dinda sarapan dulu biar aku suapi ya?"
Dinda mengangguk pasrah, Rafly tersenyum lembut lalu mulai menyuapinya dan ia menghabiskan makanan itu meski lama.
"Kak Dinda hari ini nggak usah berangkat kerja, istirahat aja di rumah biar aku yang nemenin Kakak!" pinta Rafly sambil membereskan alat makan itu.
"Iya, Raf," balas Dinda lemas.
"Oke, aku ke dapur dulu mau naruh piring sama gelas ini. Aku nggak lama kok."
"Iya."
Rafly tersenyum lagi lalu ia pun bergegas pergi ke dapur meletakkan piring dan gelas kotor itu ke tempat cucian lalu ia kembali ke kamarnya Dinda.
"Nanti kalau Kak Dinda mau ke kamar mandi atau apa bilang aja sama aku ya, Kak," ucap Rafly sambil membetulkan letak kacamatanya itu.
"Iya."
Dengan telaten Rafly mengurus Dinda sudah seperti seorang suami yang sedang mengurus istrinya. Ia bahkan menggendong Dinda ke kamar mandi meski mereka berdua sama-sama masih terlihat gugup.
"Aku bisa sendiri, Raf," kata Dinda saat Rafly berniat akan membantunya memakai bra. Ia kini sudah mandi jadi tubuhnya terasa sudah lumayan rileks. Ia tadi mandi dengan air hangat yang disiapkan oleh Rafly.
"Maaf," balas Rafly sambil menunduk.
"Iya nggak apa-apa kok."
Tok tok tok!
Mendengar ketukan di pintu membuat Rafly dan Dinda panik.
"Rafly, kamu ngumpet dulu di mana gitu kek, itu pasti Mama aku nggak mau beliau liat kamu ada di kamar aku," usul Dinda.
"Iya, Kak." Rafly pergi untuk bersembunyi di dalam lemari pakaian.
Dinda tampak lega melihat Rafly sudah aman bersembunyi lalu ia pun dengan susah payah berjalan untuk membuka pintu. Dan benar saja Viona lah yang berada di luar kamarnya itu.
"Kamu tuh ngapain aja sih dari tadi? Ini kan udah hampir jam sembilan dan kamu malah santai santai gitu belum siap-siap berangkat ke kantor?" tegur Viona sambil mendelik marah.
Rafly yang mendengar hal itu pun merasa kesal dan tak terima Dinda dimarahi oleh Viona.
"Maaf, Ma. Tapi aku hari ini lagi nggak enak badan jadi aku emang nggak kerja," balas Dinda.
"Yang bener kamu?" tanya Viona tak percaya.
"Iya, Ma. Aku nggak bohong," balas Dinda lalu ia berjalan dengan tertatih-tatih menuju ke tempat tidurnya.
Viona terbelalak melihat cara berjalan Dinda, dan ia pun tampak curiga sekarang. Ia pun masuk ke kamar Dinda lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Kamu abis ngapain kok jalan kamu begitu sih?" tanya Viona yang membuat Dinda terkejut dan terlihat panik.
Rafly akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya itu dan membuat Viona terkejut melihatnya. Ia mendelik marah padanya. Sedangkan Dinda menunduk pelan sambil mengigit bibirnya karena ia sudah tak tahu harus berbuat apa lagi.
"Kamu ngapain di kamarnya Dinda? Kamu ngapain di sini!" bentak Viona sambil mendelik marah.
"Aku..." lirih Rafly sambil menundukkan kepalanya takut.
"Kamu kok kurang ajar banget sih beraninya masuk ke kamar perempuan! Kamu mau saya guyur lagi di kamar mandi kayak yang semalam itu hah?" seru Viona sambil menghampiri Rafly lalu ia menarik tangan anaknya itu dengan kasar namun Rafly diam saja meski tangannya sakit.
"Sini kamu ikut saya biar kamu tau rasa biar jadi anak tuh jangan sok berani!"
Dinda yang mendengarnya tentu saja ia marah, ia tak menyangka ternyata pelaku yang sudah mengguyur Rafly adalah Viona.
"Oh jadi Mama yang udah guyur Rafly tadi malem itu? Dia itu sampai menggigil kedinginan loh kok Mama tega banget sih lakuin itu ke dia?" tegur Dinda yang tak habis pikir dengan ulah ibunya yang menurutnya sudah sangat keterlaluan itu, sangat kejam.
"Dia kan emang harus dikasih pelajaran biar dia nggak seenaknya lagi di rumah ini," balas Viona tak mau disalahkan.
"Lepasin Rafly, Ma! Dia itu ke sini karena lagi jagain aku, aku ini kan lagi sakit."
"Bohong kamu!" seru Viona tak percaya apalagi saat ia melihat ada tanda merah yang ada di leher Dinda yang lumayan banyak itu semakin membuatnya curiga pada mereka berdua.
"Aku nggak bohong, Ma."
"Ya udah kalau gitu sekarang Mama tanya deh ke kamu, itu ada merah merah di leher kamu itu dari mana?" tanya Viona yang membuat Dinda dan juga Rafly langsung panik.
Dinda refleks menyentuh tanda merah di lehernya itu karena perbuatan Rafly semalam itu.
"Ini dari kemarin emang udah ada kok, Ma. Aku sama Bara..."
Rafly tak terima mendengar kebohongan Dinda tersebut, itu jelas-jelas ia sendiri yang memberikan tanda sebanyak itu di leher Dinda juga bagian tubuhnya yang lain. Saat ia ingin memprotesnya namun Dinda memberikan tatapan tajam padanya dan ia pun menunduk takut.
"Kamu bohong kan?"
"Nggak, Ma. Mama kan tau sendiri aku sama Bara tuh udah mau nikah jadi ya gitu deh," dusta Dinda.
"Ya udah kalau gitu, tapi awas ya kalau kamu berani bohong sama Mama," ancam Viona sebelum ia pergi dari kamarnya Dinda.
Dinda menghela napas lega setelah ibunya itu pergi, Rafly kemudian mengunci pintu kamar itu lalu ia membantu Dinda duduk di ranjang. Ia sendiri juga duduk di tepi ranjang.
"Kenapa kamu nggak mau cerita sih soal kejadian tadi malem?" tegur Dinda.
"Itu nggak penting, Kak. Aku juga udah baikan kok, aku udah sehat," balas Rafly.
"Lain kali kamu harus ngomong ke aku."
"Iya."
Mereka berdua terdiam, masing-masing tengelam dengan pikiran mereka sendiri.
"Kakak ngapain sih pakai bohong segala soal yang merah itu? Itu kan aku yang ngasih, sebelumnya kan badan Kak Dinda putih mulus," ucap Rafly yang baru berani protes sekarang.
Dinda menjadi malu sendiri dan wajahnya pun memerah sekarang. Adiknya itu kok terang-terangan sekali.
"Apaan sih udah ah nggak usah bahas soal itu!" balas Dinda menoleh ke arah lain.
Rafly yang melihatnya tampak senang dan tersenyum puas.
Besoknya Dinda pun masih merasa canggung jika ia bertemu dengan Rafly, mereka juga tak mengobrol lagi sejak saat itu. Rafly juga menundukkan kepalanya jika ia tak sengaja ketahuan menatap ke arah Dinda dan begitu juga sebaliknya.
Seperti pagi ini saat Dinda sedang memasak di dapur dan saat itu pula tiba-tiba saja Rafly datang lalu ia berniat pergi karena gugup bertemu dengan sang kakak angkat nan cantik itu.
"Maaf, Kak," ucap Rafly lirih sambil menundukkan kepalanya itu.
"Iya nggak apa-apa kok," balas Dinda yang gugup juga.
Rafly pun kemudian pergi setelah ia mengambil minuman dingin yang ia bawa ke dalam kamarnya itu.
Dinda bernapas lega setelah bocah itu sudah pergi sehingga ia bisa melanjutkan acara memasaknya itu.
Sedangkan Rafly yang sudah berada di dalam kamarnya itu ia tampak gelisah. Rasanya ini tak benar, batinnya. Tak seharusnya karena kejadian itu membuatnya malah ada jarak antara dirinya dengan Dinda. Ia merasa rindu pada wanita cantik itu dan ingin berada di dekatnya lagi.
Setelah selesai masak, Dinda pergi ke kamarnya Rafly untuk memberitahukan padanya bahwa Rafly bisa makan sekarang karena makanannya sudah matang. Rafly pun mengangguk namun tetap saja matanya tak berani menatap ke arah Dinda begitupun juga dengan Dinda yang segera pergi setelah ia mengatakan hal itu.
Rafly pergi ke ruang makan bersama Dinda dan mereka berdua makan bersama dengan keheningan.
Setelah makan, Dinda pun mencuci piring seperti biasa. Ia melirik Rafly yang masih berdiri di belakangnya itu.
"Ngapain kamu masih di sini? Kamu kan ada kelas kan hari ini? Buruan kamu siap-siap berangkat ke kampus!" ujar Dinda dengan nada yang lembut sambil fokus mencuci piring.
"Kak Dinda juga kenapa kok belum siap-siap berangkat ke kantor?" Rafly malah balik tanya.
"Hari ini aku nggak berangkat kerja," balas Dinda.
"Ya udah kalau gitu aku mau nemenin Kak Dinda di rumah," ucap Rafly.
"Terserah kamu deh."
Rafly tersenyum lega karena Dinda mau ditemani olehnya. Ia pun meminta Dinda untuk duduk saja dan ia sendiri yang meneruskan pekerjaan Dinda itu.
Setelah itu Dinda masuk ke kamarnya namun langkahnya terhenti ketika Rafly mengikutinya. Ia kemudian berbalik menghadap ke arah pemuda itu.
"Apa lagi, Raf?"
Rafly menunduk gugup, ia terdiam cukup lama lalu kemudian ia memberanikan diri menatap wajah cantik Dinda.
"Ya udah kalau kamu diem aja, aku mau masuk mau istirahat."
Dinda memekik kaget ketika tubuhnya dipeluk erat oleh Rafly dan bibirnya dicium paksa.
"Maaf, Kak. Tapi aku nggak bisa nahan ini," bisik Rafly dengan napas yang memburu.
Dinda pun mengangguk pelan dan ia pasrah saat tubuhnya diangkat oleh Rafly dan tubuhnya dibaringkan di atas ranjang. Ternyata ia pun tak bisa menghindari Rafly karena dirinya pun sama-sama menginginkan hal itu. Apa mungkin ia sudah mulai ketagihan oleh sentuhan Rafly?
Lima hari berlalu setelah kejadian itu, dan selama itu pula Dinda tak masuk kerja karena ia masih sakit dan begitu juga dengan Rafly yang membolos kuliah demi menemani Dinda.
"Kak Dinda yakin mau berangkat hari ini?" tanya Rafly yang duduk di tepi ranjang di kamar Dinda.
Sedangkan Dinda sedang sibuk merias wajah cantiknya itu.
"Iya lah aku udah sembuh kok," balas Dinda lalu ia memoleskan lipstik di bibirnya.
"Kalau gitu aku ikut."
Dinda lalu menoleh ke arah Rafly dan ia tersenyum tipis melihat adiknya yang cemberut itu.
"Ngapain ikut kamu kan harus ke kampus." Dinda berdiri lalu ia mengambil blazer di atas ranjangnya. Ia memekik kaget karena tubuhnya ditarik pelan oleh Rafly dan ia terjatuh di atas pangkuan pemuda itu.
"Rafly lepasin ini nggak lucu deh!" pinta Dinda dengan wajah yang bersemu merah.
"Ya udah kalau gitu aku ikut," bisik Rafly sambil mengelus bibir sensual Dinda dengan lembut.
Dinda memejamkan matanya ketika Rafly mendekatkan wajahnya ke wajahnya dan bibir mereka kembali bersentuhan dengan sangat lembut.
Desahan Dinda yang pelan membuat Rafly tergoda sehingga ia berani berbuat lebih.
"Aku mau lagi," bisik Rafly dengan napas yang memburu karena ia sudah tak bisa menahan diri lagi.
"Iya." Dinda mengangguk lemah.
Tak lama pakaian mereka berdua pun berserakan di lantai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!