NovelToon NovelToon

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Terabaikan

Bab 1

Seorang gadis dengan tato ular di lehernya sedang berhadapan dengan tiga orang pria bersenjata api, perbedaan postur yang begitu jauh tidak membuat gadis itu merasa takut.

"Bisakah kau pergi? aku sibuk." Cetus gadis bernama Emma itu.

"Pergi? tentu saja setelah aku menghabisimu." Hardik pria tersebut.

Sudut bibir Emma terangkat, ia mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. "Baiklah, mari kita akhiri secepatnya."

Detik berikutnya, pertarungan tak bisa terelakan. Emma melayangkan tinjunya di rahang pria itu, pukulan yang terlalu keras membuat pria itu terhuyung ke belakang.

"Sialan!" umpat pria tersebut.

"Sakit? mau lagi?" tanya Emma dengan nada mengejek.

Pria itu menatap Emma bengis, tanpa pikir panjang ia berlari ke arah Emma dan langsung menyerangnya dengan membabi buta.

Bugh.

Emma terhuyung dan menabrak tembok setelah mendapat pukulan di perutnya. Ia menekan bagian perutnya yang berdenyut nyeri.

Belum sempat Emma kembali menyerang, dua orang yang sejak tadi hanya diam kini menahan kedua tangan Emma, hingga gadis itu tidak bisa bergerak.

Pria yang pertama tersenyum puas, tangannya mengepal kuat, bersiap memberikan pukulan telak ke wajah Emma.

"Kau terlalu banyak bicara, Gadis," ucapnya sambil mengayunkan tinjunya.

Namun, sebelum pukulan itu mengenai wajahnya, Emma mengangkat kakinya tinggi dan menghantam dagu pria itu dengan lututnya.

Bugh!

Pria itu terhuyung ke belakang, darah mengalir dari bibirnya.

"Brengsek!" geram pria tersebut.

Emma tersenyum miring. "Aku juga bisa main curang."

Tanpa membuang waktu, ia menghentakkan kakinya ke tanah, menggunakan momentum untuk menendang kaki salah satu pria yang menahannya.

Pria itu kehilangan keseimbangan, cengkeramannya melemah. Emma langsung membungkuk, menarik lengannya bebas, lalu menghantam sikunya ke perut pria di sebelahnya.

Bugh!

Pria itu terbatuk keras, hingga melepaskan pegangan di tangan Emma sepenuhnya.

"Dua lawan satu masih belum cukup, ya?" Emma mengepalkan tangannya, menatap ketiga pria di depannya yang mulai terlihat marah.

"Jangan hanya berdiri!" bentak pria pertama.

Tapi terlambat. Emma sudah melesat lebih dulu. Tinju pertamanya menghantam perut pria di sisi kiri.

Ia berputar, menghindari serangan pria di sisi kanan, lalu menyikut pelipisnya. Dengan cepat, ia menangkap tangan pria terakhir yang hendak menarik pistolnya dan memutarnya ke belakang.

Krak!

Jeritan nyaring memenuhi udara.

"Kurasa cukup untuk hari ini," gumam Emma, menatap ketiga pria yang kini tergeletak di tanah, mereka mengerang kesakitan.

Ia menyibakkan rambutnya, lalu berbalik pergi seolah tak terjadi apa-apa. Saat Emma berbalik pergi, suara letupan senjata terdengar.

Dor!

Kepalanya tersentak ke depan. Seketika, tubuhnya membeku, kaki jenjang yang sedang melangkah perlahan kehilangan tenaga. Pandangannya kabur, dan kehangatan menjalar dari pelipisnya.

Tangan Emma terangkat, menyentuh sisi kepalanya yang kini basah dan hangat oleh darah. Peluru itu menembus tepat di atas alisnya.

Tubuhnya limbung, lututnya melemas. Udara di sekitarnya terasa semakin dingin.

Bruk.

Ia jatuh berlutut, napasnya tersengal, darah mengalir deras membasahi wajah Emma.

Di belakangnya, seorang pria masih memegang pistol dengan tangan gemetar. Dia bukan salah satu dari tiga pria yang tadi bertarung dengannya. Tidak. Dia seseorang yang sedari awal mengawasi dari jauh.

"Emma…" gumam pria itu, suaranya bergetar antara penyesalan dan keterkejutan.

Tapi Emma tidak bisa lagi merespons.

Matanya perlahan kehilangan cahaya. Pandangannya gelap. Hening. Tidak ada lagi suara. Hingga detik berikutnya, Emma benar-benar kehilangan nyawanya.

***

Cahaya putih menembus kelopak mata Emma, perlahan ia mulai membuka matanya. Aroma obat-obatan menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya, Emma merasakan nyeri di bagian kepalanya.

"Astaga, kepalaku sakit sekali." Gumamnya parau.

Ia menoleh ke sana kemari, namun tidak ada siapa pun di dalam ruangan tersebut.

"Siapa yang membawaku ke sini?"

Emma bertanya-tanya sendiri, ia ingat jelas bahwa ia baru saja bertarung dengan bawahan bosnya dan berakhir tertembak di bagian kepala.

Tiba-tiba, Emma merasa sangat pusing ia memejamkan mata lalu kepalanya dipenuhi oleh ingatan-ingatan yang bukan miliknya, gambar-gambar asing, perasaan asing, dan suara-suara yang tidak ia kenali.

Wanita itu… duduk di sudut ruangan, tubuhnya lemah dan matanya kosong. Suaminya berdiri di depannya, menatapnya dengan jijik.

"Kau tidak lebih dari sekedar beban," suara pria itu terdengar dingin.

Emma tersentak. Ia tiba-tiba tersadar, tubuhnya terasa berat dan asing. Saat membuka matanya lagi, ia baru sadar jika langit-langit kamar yang kini ia tempati berwarna putih, bukan jalanan gelap tempat ia seharusnya mati.

"Apa ini…?" gumamnya.

Ia mengangkat tangannya, terlihat lebih ramping dan pucat. Ia menoleh ke arah nakas dan meraih cermin yang ada di sana, ia terkejut melihat wajahnya berubah.

Tidak ada tato ular di lehernya. Rambutnya yang pendek kini berubah panjang bergelombang, dan jatuh ke bahunya. Emma menggeleng pelan, ia sadar ini bukan tubuhnya.

Gelombang ingatan lain menerjangnya, membuat kepalanya berdenyut. Nama wanita ini… Eleanor. Seorang istri dari pria kaya yang tidak pernah menganggap keberadaannya.

Pernikahan mereka hanyalah formalitas, dan Eleanor telah menghabiskan hari-harinya dalam kesepian dan rasa frustasi karena mencintai suaminya tanpa mendapat balasan sedikit pun.

"Bukankah aku sudah mati?" bisik Emma, lalu menggigit bibirnya.

Tidak. Ia masih hidup. Tapi sebagai orang lain. Transmigrasi, kata itu tiba-tiba terlintas di benak Emma.

"Astaga, apa aku sudah gila?" Emma tak habis pikir.

Tapi, semua situasi yang kini ia alami sangat cocok untuk di kaitkan dengan kata transmigrasi.

"Aku pikir hal seperti ini hanya ada dalam dunia fiksi, bagaimana bisa aku justru mengalaminya sendiri."

Emma bukanlah gadis biasa, ia merupakan petarung tanpa rasa takut. Ia biasa di sewa oleh perusahaan ternama untuk mengatasi para penghianat, sifatnya yang bar-bar membuat ia memiliki julukan Queen of the Fight.

Ia tidak pernah bekerja dengan orang lain, Emma lebih suka bekerja sendiri dan ia tidak peduli jika ia mati. Namun, selama ia bertugas belum pernah sekalipun ia gagal.

Hingga ia di sewa oleh debitur angkuh yang tidak mau membayar jasanya, debitur itu bukan hanya sekadar orang kaya yang keras kepala, ia adalah pria berbahaya yang ternyata memiliki koneksi dengan dunia bawah tanah.

Sayangnya, Emma mengetahui hal itu terlambat. Saat ia datang untuk menagih bayarannya, bukannya mendapatkan uang, dia justru dikhianati.

Sebuah jebakan telah dipersiapkan, dan untuk pertama kalinya dalam hidup Emma, ia berada di posisi yang tidak menguntungkan. Tiga pria bersenjata menghadangnya. Tapi meskipun kalah jumlah, ia berhasil bertarung sampai akhir.

Namun, seseorang yang bersembunyi dalam bayangan menembakkan peluru ke arah kepalanya hingga membuatnya tewas. Dan sekarang, ia justru terbangun di tubuh seorang wanita asing.

Emma menghembuskan napas kasar. Tubuhnya terasa lebih lemah dari biasanya, lebih kecil, dan lebih… rapuh.

Ia bangkit perlahan dari ranjang besar yang terasa begitu asing. Seluruh ruangan yang ditempatinya pun sama sekali bukan tempat yang ia kenali.

Emma kembali menatap cermin di tangannya, rambut panjang kecoklatan dan mata sayu menatapnya balik. Wajah yang cantik, tapi terlihat lelah. Kulit mulus seperti porselen, tidak ada bekas luka dari pertarungan yang biasa ia banggakan.

"Sialan." Umpatnya.

Nama wanita ini adalah Eleanor Rosenthal, seorang wanita yang diabaikan, dihina, dan hidup dalam bayang-bayang tanpa arti.

Emma atau sekarang Eleanor mengerutkan kening.

Jadi, setelah seumur hidupnya berjuang sebagai petarung, sekarang ia harus hidup sebagai seorang istri yang tidak dianggap?

Tidak.

Jika ia telah diberi kehidupan kedua, ia tidak akan menghabiskannya dengan menjadi korban. Senyum miring terukir di wajahnya saat pikirannya dipenuhi satu gagasan.

Jika dunia ini menganggap Eleanor Rosenthal lemah, maka sudah saatnya mereka mengenal Emma Carter sang Queen of the Fight.

Bab 2

Eleanor termenung di ranjang rumah sakit lebih tepatnya di ruangan VIP, sudah dua jam ia berada di tubuh itu. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda suaminya muncul.

Helaan napas panjang terdengar beberapa kali, hingga ia mendengar suara langkah kaki mendekati pintu ruang rawatnya.

Eleanor menoleh begitu suara pintu terbuka, tatapannya terkunci pada sosok pria jangkung yang memakai setelan jas. Pria itu sangat tampan, bahkan jika ada orang yang mengatakan pria itu keluar dari dunia novel, Eleanor pasti akan mempercayainya.

Eleanor menatap pria di depannya dengan tatapan acuh tak acuh. Tidak ada kehangatan, tidak ada keterkejutan hanya kehampaan yang sama seperti yang ia rasakan sejak membuka mata di tubuh ini.

Pria itu, yang mengenakan setelan jas sempurna, menatapnya dengan sorot mata dingin. Tak ada tanda-tanda kekhawatiran, tak ada kelegaan, hanya ekspresi datar yang sulit diartikan.

"Akhirnya kamu bangun juga," suaranya terdengar datar, hampir tanpa emosi. "Aku pikir kamu sudah mati."

Eleanor tidak bereaksi. Ia hanya menatap pria itu tanpa berkata apa-apa. Jika ia benar-benar istrinya meski hanya di atas kertas, seharusnya ada sedikit kepanikan atau kebahagiaan dalam sikap pria itu. Namun, yang ia dapatkan hanyalah kebekuan.

"Sergey, bukan?" Eleanor akhirnya bersuara, mengucapkan nama yang samar-samar ia ingat.

Sergey mengangkat alis, seakan heran Eleanor menyebut namanya. "Bagus, setidaknya kepalamu tidak rusak sepenuhnya."

Nada sarkastiknya membuat Eleanor ingin tertawa bukan karena lucu, tapi karena absurditas situasi ini. Namun, ia hanya menghela napas pelan.

"Kalau aku benar-benar mati, apakah itu akan membuatmu lebih bahagia?" tanyanya, suara Eleanor tetap tenang.

Sergey tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Eleanor dengan mata gelapnya yang dingin, sebelum akhirnya menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak sampai ke matanya.

"Aku tidak tahu," katanya santai. "Tapi setidaknya itu akan menghemat waktuku."

"Sayangnya, harapanmu tidak mungkin terkabul sekarang. Harusnya kamu membunuhku saja sebelum aku tersadar dan bangun." Sahut Eleanor datar.

Sergey terkekeh pelan, seolah Eleanor baru saja melontarkan lelucon ringan. Ada kilatan jijik saat pria itu menatapnya, seakan ia sedang menatap seonggok kotoran yang duduk di ranjang rumah sakit.

"Oh, Eleanor," katanya, berjalan mendekat dengan langkah santai. "Kalau aku benar-benar ingin kamu mati, kamu tidak akan ada di sini sekarang."

Eleanor mengamati Sergey saat pria itu berdiri tepat di depannya. "Jadi, apa yang kamu inginkan sekarang?"

Sergey memiringkan kepala sedikit, seolah mempertimbangkan jawabannya. Tidak pernah sedikitpun Sergey mengubah raut wajahnya yang dingin, pria itu menikmati setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh Eleanor.

"Itu tergantung padamu," kata Sergey akhirnya. "Kamu bisa duduk manis dan mendengar penjelasanku... atau kamu bisa mencoba lari, yang mana akan sangat merepotkan untuk kita berdua."

Eleanor menyipitkan mata. "Dan kalau aku memilih opsi yang kedua?"

Sergey tersenyum lagi senyum tipis penuh misteri. "Maka aku harus memastikan kamu tidak bisa lari ke mana-mana, dan aku akan membuatmu kehilangan kedua kakimu."

Eleanor merasakan sesuatu yang familiar dalam situasi ini. Ia pernah berada di posisi ini sebelumnya, dipenjara dalam situasi tanpa kendali.

Seringai terbit di bibir Eleanor, aura dominan yang mengintimidasi dari pria itu terasa sangat jelas dan ia tidak menyukainya.

"Baiklah, jadi kapan kamu akan membawaku pulang?" tanya Eleanor.

"Sekarang, dan besok malam ada undangan makan malam di rumah keluargaku. Kamu pasti tahu bagaimana tugasmu, kan?" kata Sergey sambil memasukan satu tangannya ke dalam saku celana.

Eleanor menahan dengusan sinis. "Oh? dan apa tepatnya tugasku, Sergey?"

Pria itu menatapnya sejenak, lalu berjalan ke arah jendela besar di ruangan itu. Pemandangan kota malam mulai terlihat, lampu-lampu jalan berkelap-kelip di kejauhan.

"Tugasmu sederhana," katanya tanpa menoleh. "Bersikap manis, tersenyum jika perlu, dan yang terpenting..."

Ia menoleh kembali ke Eleanor, matanya tajam seperti belati. "Jangan mempermalukanku."

Eleanor terkekeh pelan, bukan karena ia geli melainkan karena rasa muak yang mulai menjalari dirinya. "Jadi aku hanya sekadar aksesori yang harus kamu pajang di depan keluargamu?"

Sergey mengangkat bahu tanpa ekspresi. "Sebut saja begitu. Mereka harus percaya bahwa semuanya baik-baik saja di antara kita."

Eleanor melipat tangannya di dada, menatap pria itu dengan tatapan menilai. "Dan kalau aku menolak?"

Kali ini, Sergey tertawa kecil, aura ruangan seketika terasa dingin. Ia melangkah mendekat lagi, menurunkan suaranya menjadi bisikan tajam. "Kamu tidak dalam posisi untuk menolak, Eleanor."

Ada ketegangan menggantung di udara. Eleanor tahu Sergey bukan pria yang bisa dianggap enteng, tapi ia juga bukan lagi wanita yang akan tunduk begitu saja.

Ia menatap langsung ke arah mata Sergey, menantang pria itu. "Kita lihat saja nanti."

Sejenak, hanya keheningan yang berbicara di antara mereka. Lalu Sergey mendecak pelan, seolah menilai sikap Eleanor seperti sebuah permainan yang menarik.

"Baiklah," kata Sergey akhirnya. "Aku akan menunggumu di mobil dalam lima belas menit. Jangan membuatku menunggu terlalu lama."

Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi ia berbalik dan berjalan keluar ruangan, meninggalkan Eleanor dengan semua barang bawaannya.

***

Mobil melaju dengan kecepatan sedang, tidak ada pembicaraan apa pun di antara pasangan suami istri tersebut. Eleanor menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong, ia masih belum bisa menerima takdirnya yang tidak bisa masuk ke dalam logikanya.

Sesekali, Sergey mencuri-curi pandang ke arah Eleanor. Pria itu sedikit heran dengan sikap istrinya yang mendadak jadi pendiam, tidak seperti biasanya yang berisik dan cerewet demi mencari simpati darinya.

Sergey pikir hal ini juga terjadi karena Eleanor berniat mengambil simpatinya lagi, setelah semua cara yang wanita itu lakukan selalu gagal karena ia mengacuhnya.

"Aku sudah memberitahu orang tuamu jika malam ini kamu keluar dari rumah sakit." Ujar Sergey memecah keheningan.

"Oke," hanya itu jawaban yang Eleanor keluarkan.

Kebisuan kembali terjadi di antara mereka, kali ini berlangsung cukup lama hingga mobil Sergey tiba di pekarangan rumahnya.

Sejenak Eleanor terdiam begitu keluar dari mobil, rumah yang akan ia tempati sangat megah dan luas. Memiliki halaman sangat luas dan ada air mancur di bagian tengahnya, rumah kaca berhias bunga mawar biru berada di sayap kiri bangunan tersebut.

Sangat cantik jika di lihat seperti ini, berbeda dengan pemiliknya yang sangat dingin dan sering membuat Eleanor kesal setengah mati.

"Kamu mau berdiam diri di sana saja?" tegur Sergey yang sudah berada di teras rumah.

Eleanor tersadar lalu bergegas menyusul Sergey memasuki rumah mewah itu, saat masuk netra Eleanor di sambut dengan ruangan yang sangat elegan dan modern.

Semua benda di dalam rumah itu di dominasi warna hitam, putih, dan emas, warna yang sangat jarang di temui olehnya. Kebanyakan orang kaya lebih suka warna emas dan putih tulang, atau cream.

"Selamat datang, Nyonya." Sapa seorang pelayan menyambut kedatangan Eleanor.

Eleanor mengangguk singkat, "Bi, tolong antarkan barang saya ke kamar, ya."

Pelayan itu mengangguk, "Baik, Nyonya."

Saat Eleanor hendak menaiki tangga, suara Sergey kembali terdengar. "Lea, pastikan kamu tidak mengadu tentang insiden ini pada siapa pun."

Langkah Eleanor terhenti, tanpa menoleh ia menjawab. "Aku tidak bisa menjamin, jika kamu ingin aku diam maka berikan aku sesuatu yang berguna sebagai bayaran tutup mulut."

Sontak Sergey langsung menjawab, "Apa yang kamu inginkan?"

Sudut bibir Eleanor sedikit terangkat, ia menoleh melihat Sergey yang berdiri tidak terlalu jauh darinya. "Berikan aku saham dari perusahaanmu."

"APA?!" seru Sergey terkejut.

Bab 3

Sergey menatap Eleanor dengan ekspresi tidak percaya. Permintaan itu terlalu besar, bahkan untuk sekadar ancaman tutup mulut.

"Kamu gila?" tanyanya dengan nada tajam.

Eleanor mengangkat bahu santai. "Kamu yang bilang ingin aku diam. Aku hanya memberi syarat yang sepadan."

Sergey mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. "Aku bisa membayarmu dengan uang tunai, berapa pun yang kamu mau."

Eleanor tertawa kecil. "Uang bisa habis, Sergey. Aku butuh sesuatu yang lebih stabil."

Sergey menatapnya tajam, seolah menimbang sejauh mana Eleanor berani melangkah. "Aku tidak mau!"

Eleanor menuruni satu anak tangga, mendekatinya sedikit. "Kalau begitu, aku pastikan semua orang akan tahu apa yang terjadi dan bagaimana aku bisa berada di rumah sakit. Media, pemegang saham, bahkan orang-orang yang selalu memujamu pasti akan terkejut jika tahu semuanya."

Sergey terdiam. Ia tahu Eleanor bukan wanita biasa tapi selama ini ia tidak pernah bersikap keras kepala seperti ini. Biasanya Eleanor hanya akan meminta waktunya, atau menemaninya belanja dan semua itu masih berada di bawah kendalinya.

Eleanor tidak pernah keluar dari jalur aman, terlebih berdebat dengannya. Wanita itu selalu mengalah dan pasrah dengan semua tindakan dan instruksi darinya, tapi sekarang seolah wanita itu mulai melewati garis aman dan berbelok dari kendalinya.

Beberapa detik sunyi berlalu sebelum Sergey akhirnya mendecakkan lidahnya, frustrasi. "Berapa persen yang kamu inginkan?"

Eleanor tersenyum penuh kemenangan. "Sepuluh persen."

Sergey mengumpat pelan. "Lima persen, dan tidak lebih."

Eleanor berpikir sejenak, lalu mengulurkan tangannya. "Sepakat."

Sergey menjabat tangannya dengan enggan, matanya masih menyiratkan ketidaksukaan. "Aku tidak akan melupakan ini, Eleanor."

Eleanor tersenyum lebih lebar. "Aku harap begitu."

Setelah itu, Eleanor kembali menaiki tangga, meninggalkan Sergey yang masih menatapnya dengan ekspresi marah bercampur heran.

***

Di dalam kamarnya, Eleanor menatap foto pernikahan yang terpajang di atas ranjangnya.

"Wow, betapa cantiknya tubuh ini." Ujar Eleanor kagum. "Sial sekali aku harus memiliki suami menyebalkan seperti Sergey."

Eleanor menghela napas panjang, matanya masih tertuju pada foto pernikahan itu. Gaun putih mewah membalut tubuhnya dengan sempurna, wajahnya tersenyum anggun di samping Sergey yang berpose dengan ekspresi arogan.

Ia mendecak kesal. "Sayang sekali wajah cantikku harus berdampingan dengan pria arogan itu."

Dengan santai, ia berjalan ke meja rias, melepas antingnya satu per satu, lalu membuka ikatan rambutnya. Rambut panjangnya tergerai indah, membuatnya tampak lebih santai dibandingkan sosoknya di foto pernikahan tadi.

Pikirannya masih melayang pada percakapan mereka di tangga tadi. Lima persen saham dari perusahaan Sergey bukan jumlah yang kecil, tapi juga belum cukup bagi Eleanor. Ini baru permulaan.

Ia tersenyum tipis. Sergey pasti mengira ini hanya tentang ancaman sesaat. Padahal, Eleanor punya rencana lebih besar.

Tiba-tiba, ketukan terdengar di pintu. "Nyonya, saya sudah menyiapkan teh untuk Anda," ujar suara pelayan dari luar.

Eleanor bangkit, melangkah dengan anggun ke pintu, lalu membukanya. "Terima kasih, Bi. Taruh saja di meja."

Pelayan itu masuk, meletakkan nampan berisi teh hangat dan beberapa camilan ringan. Sebelum pergi, ia ragu-ragu sejenak.

"Nyonya, maaf sebelumnya… tapi apakah Anda baik-baik saja?"

Eleanor menatapnya, lalu tersenyum samar. "Aku baik-baik saja, Bi. Lebih baik daripada yang kamu kira."

Pelayan itu mengangguk patuh, meski keraguan masih terlihat di wajahnya. Setelah ia pergi, Eleanor mengambil cangkir tehnya dan kembali duduk di depan meja rias.

Sambil menyesap teh, ia menatap bayangannya di cermin. Mata cerdas itu memantulkan ambisi, perhitungan, dan sedikit kilatan bahaya.

"Ini baru pemanasan, Sergey," gumamnya pelan. "Kita lihat siapa yang akan menang pada akhirnya."

Sementara itu, di dalam ruang kerjanya. Sergey sedang menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Akan tetapi, pikirannya justru tidak fokus pada pekerjaan tapi pada perubahan sikap istrinya.

"Sial, apa yang membuatnya berubah begitu?" gumam Sergey merasa heran.

Ia belum pernah melihat Eleanor bersikap berani seperti tadi, terlebih menyinggung aset perusahaan miliknya. Sejak awal, Eleanor terlihat tidak peduli dengan perusahaan bahkan wanita itu menolak ketika keluarga wanita itu memintanya menjadi penerus Rose Hospitality Group.

Sergey melemparkan pena ke atas meja dengan frustrasi. Sejak kapan Eleanor mulai menunjukkan sisi seperti itu? Selama ini, ia mengenal istrinya sebagai wanita anggun yang lebih suka menikmati kemewahan tanpa terlalu peduli urusan bisnis. Tapi malam ini, Eleanor berubah.

"Rose Hospitality Group…" Sergey bergumam pelan, mengingat kerajaan bisnis keluarga Eleanor.

Sebuah jaringan perhotelan dan vila mewah yang memiliki sejarah panjang di industri perhotelan. Saat menikah dengannya, Eleanor lebih memilih menjauh dari bisnis itu, menolak untuk terlibat meskipun keluarganya memintanya menjadi penerus.

"Kenapa sekarang dia tiba-tiba tertarik dengan saham perusahaanku?" gumamnya lagi, sambil menyandarkan punggung ke kursi.

Sergey tidak bodoh. Ia tahu bahwa dunia bisnis perhotelan bukan sesuatu yang bisa dipelajari dalam semalam. Jika Eleanor mulai menunjukkan minat, pasti ada sesuatu yang berubah dalam dirinya sesuatu yang mendorongnya untuk bertindak lebih jauh.

"Apa yang membuatnya tertarik dengan bisnis?" kata Sergey bertanya-tanya sendiri.

Pikirannya kembali pada saat tatapannya bertemu dengan tatapan Eleanor tadi di tangga. Bukan tatapan seorang istri yang mengancam suaminya dengan emosi semata, melainkan tatapan seseorang yang sudah memiliki rencana matang.

Sergey menyeringai tipis. "Jadi, kamu ingin bermain game, Eleanor?"

Ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju jendela besar ruang kerjanya. Dari sana, ia bisa melihat sebagian dari hotel dan vila milik keluarga Eleanor yang berkilauan di bawah cahaya malam.

"Aku penasaran, seberapa jauh kamu bisa menyaingi usahaku di dunia bisnis ini." Seringai terbit di wajah Sergey.

Cukup lama terjadi keheningan, hingga ponsel miliknya bergetar di atas meja. Sergey menoleh, ia berjalan kembali menuju meja kerja dan meraih ponselnya.

Terlihat nama yang tidak asing di layar ponselnya, dengan cekatan Sergey segera membalas pesan tersebut. Setelahnya, ia berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju arah kamar sang istri.

Tok. Tok. Tok.

Sergey mengetuk pintu kamar Eleanor tiga kali, namun wanita itu tak kunjung membuka pintunya.

"Eleanor! buka pintunya." Sergey berteriak di depan pintu kamar istrinya.

Suara nyaring menggema di rumah tersebut, tapi sosok Eleanor tak kunjung muncul hingga Sergey langsung membuka pintu kamar tersebut.

"Lea, di mana kamu?" panggil Sergey.

Sergey menoleh ke sekeliling kamar besar itu, namun ia tidak menemukan sosok Eleanor. Perlahan ia masuk dan menutup pintu kamar, saat langkah semakin dekat ia mendengar suara air menyala dari dalam kamar mandi.

"Rupanya ia sedang mandi," gumam pria itu.

Sergey memilih menunggu istrinya, ia duduk di ranjang sambil mengamati kamar Eleanor yang terlihat berbeda dari sebelumnya.

Bahkan, foto pernikahan yang terpajang di atas meja rias sudah hilang entah ke mana.

Alis Sergey berkerut. Ia bangkit dari duduknya, melangkah mendekati meja rias, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Tidak ada jejak keberadaan foto itu.

"Ke mana perginya foto itu?" heran Sergey.

Tepat saat itu, suara air di kamar mandi berhenti. Sergey berbalik, menatap pintu kamar mandi yang perlahan terbuka.

Eleanor muncul dari balik pintu dengan balutan jubah mandi berwarna putih. Rambutnya masih basah, hingga tetesan air menuruni leher jenjangnya yang putih mulus, namun sorot matanya tampak dingin tanpa emosi begitu mereka saling bertatapan.

"Kamu mencari sesuatu?" Eleanor bertanya dengan nada datar, melangkah ke dalam kamar tanpa menatap suaminya lagi.

Sergey menyelidik raut wajah Eleanor, mencari petunjuk. "Foto pernikahan kita. Kamu masih menyimpannya?"

Eleanor berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil. "Aku sudah membuangnya."

"Membuang?" ulang Sergey, berusaha memastikan ia tak salah dengar.

Eleanor berbalik menatapnya. "Ya, aku membuangnya. Bukankah itu hanya pajangan yang tidak berarti?"

Untuk pertama kalinya, Sergey merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya. Seolah ada yang bergeser, sesuatu yang selama ini ia abaikan. Ia ingin marah, tapi tatapan Eleanor membuatnya menahan diri.

"Kamu mulai bersikap aneh," ujar Sergey akhirnya, mencoba membaca pikiran istrinya.

Eleanor hanya terkekeh pelan. "Mungkin karena aku akhirnya sadar akan sesuatu."

Sergey menyipitkan mata. "Sadar akan apa?"

Wanita itu mendekat, berhenti tepat di depannya, menatap suaminya tajam. "Bahwa aku tidak peduli lagi dengan pernikahan kita."

Udara di antara mereka mendadak teras berat. Sergey menelan ludah, merasakan sesuatu yang tak familiar.

"Apa maksudmu?" tanya Sergey dengan suara penuh kebingungan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!