NovelToon NovelToon

MENANTU HINA MENJADI DOKTER HEBAT

Mencari Bantuan Malah Mendapat Hinaan

Di sebuah bangsal di Rumah Sakit Renville, seorang wanita paru baya sedang terbaring lemah di tempat tidur Rumah sakit.

Tiba-tiba sebuah suara terdengar, "Apakah di sini ada keluarga pasien tempat tidur nomor empat?"

Seru seorang Dokter.

Mendengar itu, seorang pemuda berusia sekitar dua puluhan buru-buru menjawab, "Iya ..." Pemuda itu pun bangkit berdiri dan berjalan menghampiri sang Dokter. Pemuda itu adalah Revan Santiago.

Revan adalah pemuda yang tampan, berwajah tegas dengan tinggi badan seratus delapan puluh sentimeter.

Saat tiba di hadapan dokter tersebut, Revan pun bertanya, "Dokter bagimana keadaan ibu saya?"

Mendengar pertanyaan Revan, sang Dokter terdiam sesaat lalu berkata, "Ikut aku, aku akan menjelaskan secara detail mengenai kondisi ibumu!" jawab Dokter tersebut.

Revan pun mengangguk dan pergi mengikuti Dokter itu dari belakang.

Saat tiba di ruangannya, Dokter Itu mempersilahkan Revan masuk, kemudian menutup pintu lalu menatap Revan, lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum berkata, "Revan, aku harus menjelaskan ini padamu. Ibumu dalam kondisi kritis, dia menderita Arteri Koroner yang parah. Saat ini, pembuluh darahnya benar-benar tersumbat. Jadi dia harus di operasi secepat mungkin."

Mendengar penjelasan sang Dokter, Revan sangat terkejut, jantungnya berdebar kencang dan wajahnya pucat pasi. Kemudian dia bertanya dengan suara berat, "Dokter, apa saya boleh tahu berapa biaya operasinya?"

Dokter Tony ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Perkiraan biaya awalnya sekitar Dua ratus ribu Dollar. jika kita menambahkan biaya untuk pengobatan paska operasi, totalnya mencapai dua ratus delapan puluh ribu hingga tiga ratus ribu Dollar."

Mendengar biayanya, Revan membeku sesaat, ekspresi di wajahnya sulit untuk di tebak. Antara sedih, bingung dan berbagai emosi bercampur aduk.

Dua hingga tiga ratus ribu Dollar, di mana dia mendapatkan uang sebanyak itu?

Setelah memikirkan matang-matang, Revan pun menatap Dokter Tony dan berkata dengan wajah yang tegas, "Dokter, bisakah anda melakukan operasinya terlebih dahulu? Aku akan membayarnya nanti."

"Revan, aku tahu kamu berada dalam situasi yang sulit. Namun, rumah sakit memiliki aturan yang tegas. Aku harus mematuhi aturan yang telah di tetapkan Rumah Sakit. Aku benar-benar tidak bisa membantumu. Kamu harus segera mengumpulkan uangnya. Aku harap, kamu segera mengumpulkan semuanya. Karena kita tidak dapat menunda operasi ibumu lebih lama lagi."

Mendengar itu, Revan tidak tahu, bagaimana dia bisa keluar dari kantor itu. Dia tidak bisa menahan air matanya. Bagaimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat. Bahkan jika dia bekerja sekalipun, butuh belasan tahun untuk bisa mendapatkannya.

Namun, tidak ada pilihan lain, jadi dia bertekad untuk mendapatkan uang sebesar tiga ratus ribu Dollar itu, "Ibu, aku akan segera mendapatkan uangnya!" gumam Revan sambil bangkit berdiri meninggalkan ruangan Dokter Tony.

Setelah keluar dari ruangan Dokter Tony, Dia pun segera meninggalkan rumah sakit dan pulang kerumah. Saat dia tiba di rumah, dia melihat mertuanya Nadine, yang sedang menikmati buah anggur sambil menonton televisi.

Revan kemudian mendekati sang mertua sambil berlutut.

Buk!

Terdengar suara benturan lutut dengan lantai. "Ibu, Dokter di Rumah Sakit memberitahu saya bahwa ibuku dalam kondisi kritis, jadi sekarang saya sangat membutuhkan uang untuk biaya operasinya. bisakah ibu meminjamkan saya tiga ratus ribu Dollar?"

"Tiga ratus ribu Dollar?"

Mendengar angka sebesar itu, sontak saja Nadine langsung berdiri dari kursinya dengan ekspresi suram sambil berkata, "Apa kamu sudah gila? Beraninya kamu meminjam Tiga Ratus Ribu Dollar padaku? semenjak kamu menikah dan masuk keluarga Barnes, kamu telah menghabiskan uang dan makanan kami. Dan sekarang kamu masih berani meminjam uang sebanyak itu padaku?"

"Revan, dasar sampah! Kamu benar-benar tidak berguna. apakah kamu masih memiliki sedikit harga diri? Aku tidak akan mungkin meminjamkan uang sebanyak itu padamu!" bentak Nadine.

"Ibu, kali ini aku tidak tahu harus mencari uang kemana, aku meminjam uang itu untuk membiayai operasi ibuku. aku pasti akan mengembalikannya!"

Mendengar itu, emosi Nadine tak terkendali. "Enyahlah dari hadapanku. Dasar pria tidak berguna!" sambil mengumpat, Nadine menendang Revan lalu meludahinya dan mencaci-maki kemudian berkata, "Ya Tuhan, bagaimana mungkin Tuan besar Barnes mengizinkanmu menikahi putriku?"

"Bu, Tolong aku ... Aku mohon padamu!" pinta Revan sambil meneteskan air matanya. Hanya ini yang bisa dia lakukan untuk saat ini.

"Keluar!"

Mendengar itu, dengan langkah yang berat, Revan pun pergi meninggalkan rumah itu dengan putus asah. Dulu, pada saat ibunya sedang sakit parah, dia menyetujui permintaan Tuan besar Barnes untuk menikah dan masuk ke keluarganya agar bisa mengumpulkan uang untuk mengobati penyakit ibunya. Namun, dia telah menghabiskan uang yang di berikan oleh Tuan Besar Barnes padanya. Dan penyakit ibunya masih tidak kunjung membaik.

Sekarang, ibunya membutuhkan sejumlah besar uang untuk biaya operasi. Baginya, uang yang di butuhkan untuk biaya operasi ibunya sangat besar.

Setelah meninggalkan rumah mertuanya, Revan pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. segera, panggilan pun tersambung dan terdengar suara yang sangat akrab, "Hai Revan, ada apa? Tumben menghubungiku!"

"Ronny ..." sapa Revan dengan suara pelan.

"Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Ronny.

"Bisakah ... Bisakah kamu meminjamkan uang sebanyak Tiga Ratus Ribu Dollar!" Revan ragu sejenak akhirnya dia mengumpulkan keberanian untuk berbicara.

"Tiga ratus ribu Dollar?" Ronny tertegun sejenak, sebelum melanjutkan, "Baiklah. datanglah kerumahku, aku akan memberikan uangnya padamu."

Mendengar jawaban sang sahabat, Revan terdiam sesaat lalu berkata, "Apa kamu tidak ingin tahu, kenapa aku ingin meminjam uang sebanyak itu?"

"Kenapa kamu mengatakan itu, dan kenapa pula aku harus bertanya tentang itu? Aku tahu kepribadianmu Karena kamu benar-benar meminta bantuan padaku, aku cukup yakin bahwa kamu dalam kondisi darurat." kata Ronny.

"Terimakasih Ron!" ada sedikit kegembiraan dalam suaranya, "Jangan khawatir, aku pasti akan mengembalikan uang itu!"

"Jangan pedulikan hal itu dulu. Bukankah kita ini teman, prioritaskan dulu masalah yang kamu hadapi saat ini, dan lebih baik, kamu segera kerumah."

"Baiklah! Aku akan segera kesana." dengan uang yang tersisa di kantongnya, Revan pun menaiki taksi dan pergi ke rumah Ronny.

Saat tiba, Ronny memperhatikan wajah Revan yang tampak pucat, dia pun segera berkata, "masuklah, kita bicara di dalam!"

Setelah duduk dan mengembalikan suasana hatinya yang gundah, Revan pun mengutarakan niatnya namun, di sela oleh Rommy, dan tanpa basa basi, Rommy langsung menyerahkan kartu bank kepada Revan. "Didalam kartu ini ada tiga ratus ribu Dollar. Gunakan untuk menyelesaikan masalahmu. Jika kamu membutuhkan bantuan, hubungi saja aku!"

"Terimakasih banyak!" Revan mengangguk berkali-kali. Dia kemudian menatap Ronny dan berkata, "Ron, pasti saya akan mengembalikan uangnya!"

Ronny melambaikan tangannya, "Itulah gunanya sahabat. Jadi pergunakan uang itu untuk menyelesaikan masalahmu dan jangan pikirkan tentang pengembalian uangnya. Aku tahu karaktermu!"

Namun, saat Revan hendak mengatakan sesuatu kepada Ronny sebelum pergi, tiba-tiba saja, pintu rumah terbuka. Seorang wanita dengan riasan tebal melangkah masih dan langsung menampar Ronny dengan keras.

"Beraninya kamu meminjamkan uang kepada orang lain saat aku tidak ada? Apakah sekarang, kamu menganggap dirimu adalah tuan rumah disini?"

Ronny menutup wajahnya yang perih akibat tamparan keras wanita itu sambil berkata, "Sayang, dia adalah sahabat baikku. bagaimana mungkin aku tidak membantunya saat dia dalam kesulitan?"

"Langkahi dulu mayatku!" kata wanita itu, "Semua orang di Kota Renville tahu sampah tidak berguna yang kamu sebut sahabatmu ini bahkan tidak memiliki pekerjaan. Bagaimana dia bisa mengembalikan uangnya jika dia saja tidak memiliki pekerjaan?"

"Sayang ..." Bisik Ronny pelan dengan raut wajah memohon.

"Pergilah ke neraka ..." hardik wanita itu. "Aku bekerja keras untuk mendapatkan uang ini. Namun, kamu dengan mudahnya meminjamkan uang kepada orang lain tanpa sepengetahuanku." wanita itu sangat marah, dan kembali mendaratkan beberapa tamparan keras di wajah Ronny.

"Dan kamu, bukankah waktunya kamu sadar?" Dia kemudian berbalik dan menatap Revan dengan tatapan tajam lalu melanjutkan, "Apa kamu tidak sadar diri? Ini Tiga Ratus Ribu Dollar, bagaimana kamu akan mengembalikannya? Kurasa, buah jatuh tak jauh dari pohonnya."

"Jangan berani-beraninya kamu berkata seperti itu tentang ibuku." seru Revan sambil menatap marah ke arah wanita itu.

"Beraninya kau meneriakiku seperti itu?" wanita itu pun merebut kartu bank itu dari tangan Revan dan menamparnya. "Enyah kau! Aku akan menamparmu setiap kali aku melihatmu mengusik Ronny lagi."

"Pecundang sepertimu, berani meminjam uang sebanyak Tiga Ratus Ribu Dollar? Apakah kamu sadar, orang menyedihkan sepertimu bermimpi untuk mendapatkan uang sebanyak ini. Kamu tidak akan mampu membayarnya bahkan jika kamu bekerja belasan tahun."

"Kamu ..." Revan sangat marah sambil menatap tajam kearah wanita itu.

Melihat tatapan Amarah Revan, wanita itu segera mendorong keluar dari rumah dan langsung membanting pintu.

"Sialan! betapa sialnya aku akhir-akhir ini. berbagai jenis orang datang ke rumahku ..." umpat wanita itu.

**********

Mengabaikan Harga Diri Demi Mendapatkan Pinjaman

Umpatan wanita itu masih terdengar dari seberang.

Setelah Revan pergi, wanita itu menatap Ronny dan berkata, "Ronny, sebaiknya kamu menjaga jarak dengan orang seperti itu. Jika aku mengetahui kamu mencoba untuk berurusan lagi dengannya, itu akan menjadi hari burukmu!"

...

Di sisi lain.

Langkah kaki Revan terasa berat. Dia berjalan menyusuri jalan yang agak sepi. Dia merasa tertekan.

Sambil berjalan linglung, tiba-tiba ponselnya berdering, dia segera menjawab panggilan telepon itu dan terdengar suara dingin dari Dokter Tony, "Revan, ibumu harus menjalani operasi besok. Jika tidak, kamu harus mempersiapkan makamnya."

Perkataan Dokter Tony membuat Revan semakin tertekan dan berkata, "Dokter Tony, aku ..." Revan ingin melanjutkan kalimat, telponnya langsung terputus.

Dengan putus asa, Revan membuka WhatsApp di ponselnya, lalu memasukan serangkaian angka.

Panggilan tersambung. Sesaat kemudian terdengar suara dingin dan akrab terdengar dari balik telpon. "Apa yang kamu inginkan?"

"Sayang ..." Revan ragu sesaat, namun pada akhirnya dia memberanikan diri untuk bicara. Orang yang di balik telpon adalah istrinya yang sudah di nikahinya selama satu tahun, Laura Barnes. Keduanya hanyalah suami istri di atas kertas.

Suara dingin itu kembali terdengar, "Jika ada yang ingin kamu katakan, katakan saja. Kalau tidak aku akan menutup panggilannya." jawab Laura dengan dingin.

"Aku ..." suara Revan terbata-bata dan dia pun berusaha untuk menekan egonya lalu berkata, "Sayang, aku ... Bisakah kamu meminjamkan saya tiga Ratus Ribu Dollar?"

"Tiga Ratus Ribu Dollar?" suara Laura di balik telpon terdengar semakin dingin.

"Laura, jangan khawatir, aku akan mengembalikan uangnya padamu! Aku sangat membutuhkan uang itu sekarang juga." Laura adalah harapan terakhirnya.

Setelah diam beberapa saat, Laura akhirnya menjawab, "Oke ..."

"Hah? Serius?" seru Revan dengan nada penuh kegembiraan. "Kamu benar-benar istri terbaik di semester ini. tapi, jangan khawatir, aku akan mengembalikannya kepadamu!"

Setelah jedah, suara Laura kembali terdengar, "Tapi, aku punya satu syarat.

"Syarat apa?" jawab Revan bingung.

"Perceraian. selama kamu berjanji untuk menceraikan aku, aku akan memberimu tiga ratus ribu Dollar. Kamu bahkan tidak perlu mengembalikan uang itu." jawab Laura dengan tenang.

"Perceraian?" Revan membeku sesaat. pikirannya menjadi kosong.

Setelah kembali tersadar, dia menarik nafas dalam-dalam, lalu berkata, "Maaf Laura, aku tidak akan menceraikan kamu!"

"Kamu ..." Laura sangat kesal mendengar jawaban itu, lalu kembali berkata, "Revan, apakah pernikahan kita lebih penting dari nyawa ibumu? kamu tahu bahwa tidak ada apa-apa di antara kita berdua. Aku tidak mengerti, mengapa kamu tidak ingin bercerai?"

"Cukup Laura. apapun yang kamu katakan, itu tidak akan mengubah keputusanku. Aku tidak akan menceraikan kamu, oke?"

Tanpa menunggu lama, Revan langsung mengakhiri panggilan telponnya.

"Sialan! beraninya bajingan itu menutup telpon." umpat Laura.

Dan lagi, mengapa dia bersikeras mempertahankan pernikahan ini? Selama satu tahun ini, Revan hanya mendapat hinaan dari hari ke hari. apa yang membuatnya enggan untuk bercerai?

Banyak hinaan, cemoohan dan tatapan sinis yang tak terhitung jumlahnya dari keluarga Barnes.

Setiap kali Revan berpikir untuk menceraikan Laura, kata-kata ibunya selalu terngiang-ngiang dalam benaknya, "Nak, kamu tidak boleh menceraikan Laura. Ini adalah permintaan terakhir dari ayahmu sebelum dia meninggal. Jika kamu berani menceraikan Laura, ibu akan melompat dari gedung tinggi."

Mengingat perkataan ibunya, Revan hanya menghela nafas tak berdaya. pikirannya menjadi kosong,

Saat ini dia memasuki ke sebuah Bar.

Begitu Revan memasuki Bar itu, tiba-tiba terdengar suara sarkas dari seseorang, "Bukankah itu Revan? apa yang membawamu kesini hari ini?"

Pemilik Bar itu adalah Mantan pacarnya, Clara.

Keduanya pernah berpacaran saat SMA. tetapi karena Revan terlalu miskin, Clara pun memutuskan hubungannya dengan Revan dan menjalin hubungan dengan seorang anak orang kaya bernama Lukas. Dan Bar ini merupakan hadiah dari Lukas untuk Clara. Pria yang berbicara dengan sarkas itu bernama Agus, teman kelas Revan yang juga merupakan anak buah Lukas.

Waktu sekolah dulu, Agus akan selalu mengikuti Lukas untuk menganggu Revan. Setelah lulus sekolah, Agus tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan, karena dia memilih bekerja untuk Clara di Bar miliknya.

Namun, sebelum Agus melanjutkan perkataannya, seorang wanita yang berdiri di samping Agus dan merupakan pacarnya, tiba-tiba menghampiri Revan dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan disini?"

Sepasang kekasih itu memandang Revan dengan tatapan jijik.

Revan ragu sejenak kemudian berkata, "Aku mencari Clara ..."

Saat wanita itu mendengar jawaban Revan, terlintas kelicikan dimatanya.

"Wah, jadi kamu datang kemari untuk bertemu Clara?"

Revan hanya mengangguk.

"Bagus, aku akan mengantarmu padanya!" kata wanita itu sambil memperlihatkan ekspresi licik diwajahnya.

Tanggapan dan ekspresi wanita itu membuat Revan terkejut. Wanita itu selalu memandang rendah dirinya.

Dulu, ketika Clara dan dirinya bersama, wanita ini selalu mencari cara untuk memisahkan mereka.

Tetapi, kali ini wanita itu bahkan mengizinkan dan mengantarnya untuk menemui Clara.

Revan tidak terlalu memedulikan itu, dia pun mengikuti wanita itu dari belakang, melewati koridor untuk pergi ke belakang bar. itu adalah ruang tamu bar, wanita itu mengantar Revan dan menunjuk ke sebuah pintu, "Clara ada di dalam. Masuklah!" kata wanita itu sambil memperlihatkan senyumnya yang licik.

Namun, Revan mengabaikan ekspresi wanita itu dan menghampiri pintu itu lalu mengetuknya. Namun, sebelum tangannya menyentuh pintu, terdengar suara erangan dari dalam ruangan itu.

Revan pun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, lalu menatap tajam kearah wanita itu.

Wanita itu pun tertawa keras dan berkata, "Bagaimana Revan? Waktu itu, kamu enggan menyentuh Clara. tapi, sekarang dia sangat menikmati dilayani oleh sembarang pria."

"Kamu ..."

Revan mengepalkan tangannya dengan erat.

"Apa yang terjadi?" saat itu tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan melihat Lukas melangkah keluar dari ruangan itu.

Ketika melihat Revan, Lukas tertegun sejenak lalu berkata, "Apa yang kamu lakukan disini?"

Wanita yang mengantarnya itu segera berkata, "Tuan muda Lukas, dia disini ingin bertemu dengan Clara."

"Oh ... benarkah? Revan, apakah kamu masih menyukai Clara? Saya mendengar kamu sudah menikah dengan seorang wanita dari keluarga Barnes. Benar, kan? Laura dari keluarga Barnes terkenal dengan kecantikannya. Tapi, bahkan dengan istri yang begitu cantik, kamu masih memikirkan Clara?" kata Lukas dengan tenang. Namun, ekspresi menghina terlihat jelas dari wajahnya.

Setelah mendengar percakapan Lukas dan Revan, Clara pun melangkah keluar dari ruangan itu dengan mengenakan piyama yang memperlihatkan belahan dadanya yang begitu menggoda.

Meski demikian, tatapan mata Clara memperlihatkan rasa jijik terhadap Revan.

"Clara, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisakah kita pergi keluar untuk berbicara sebentar?" kata Revan dengan suara rendah ketika melihat kemunculan Clara.

"Apa yang kamu inginkan?"

Mendengar itu, ekspresi Lukas seketika berubah. Dia kemudian menatap tajam ke arah Revan.

Sesaat kemudian ...

Plak!

Lucas menampar wajah Revan dengan sangat keras, Hingga bekas lima jari terlihat jelas di pipi Revan.

"Clara adalah wanitaku, beraninya kamu menggodanya tepat di hadapanku?"

"Kamu ..."

Revan bisa merasakan panas di pipinya akibat tamparan keras itu. apa yang di lakukan Lukas membuat emosi Revan tidak stabil. amarahnya sudah tidak bisa dibendung lagi, namun dia berusaha keras menekan amarahnya, mengingat Tujuannya datang kesini hari ini.

"Enyah kau dari sini sekarang juga! apa kamu ingin merusak suasana hati Tuan muda Lukas?"

Lukas menggulung lengan bajunya dan berdiri tepat di hadapan Revan dengan postur tubuhnya yang tinggi.

Revan menatap Clara dan berkata, "Clara, tidak bisakah kamu membantuku? Mengingat kita pernah memiliki hubungan sebelumya?"

Mendengar Revan kembali berkata seperti itu, Lukas yang tersulut emosi kemudian melangkah maju dan sekali lagi menampar Revan lebih keras lagi, yang Menyebabkan Revan terhuyung-huyung beberapa langka kebelakang.

Revan menahan rasa sakit dan berkata dengan suara bergetar, "Clara, saat ini ibuku dalam kondisi kritis. bisa kah kamu meminjamkan saya tiga ratus ribu Dollar? Aku bersedia melakukan apapun, asalkan kamu bersedia meminjamkan uang Tiga Ratus Ribu Dollar padaku!"

"Enyahlah sekarang juga!" Lukas tidak bisa lagi menahan emosinya dan kembali melayangkan tamparan keras ke wajah Revan. Akibat tamparan itu terlalu keras, Revan pun terjatuh kelantai dengan kondisi yang menyedihkan.

"Apa? Tiga Ratus Ribu Dollar?" seru Clara dengan ekspresi tidak percaya. Uang Tiga Ratus Ribu Dollar bukanlah uang sedikit.

"Bukankah istrimu adalah Laura Barnes? Dan dia adalah seorang Direktur di sebuah perusahaan terkemuka di kota Renville. Aku tidak percaya jika dia tidak memberimu uang sebesar Tiga Ratus Ribu Dollar!" seru Lukas sambil menatap Revan dengan tatapan hina.

"Clara, aku mohon padamu. Tolong bantu aku kali ini!" saat ini, wajah Revan membengkak dan kondisinya sangat mengenaskan. Dia berusaha untuk berdiri setelah di tampar hingga terjatuh oleh Lukas.

Wanita yang mengantarnya tadi berkata dengan ekspresi menghina, "Entah ibumu sudah mati atau masih hidup, itu bukan urusan kami."

Namun, Revan tidak mundur, dia mempertaruhkan semua harga diri, rasa malunya dan kembali memohon, "Clara, aku mohon, aku benar-benar membutuhkan pinjaman!"

***********

Revan, Kamu Memiliki Istri Yang Baik

Clara melirik Revan dengan tatapan jijik lalu menghamburkan dirinya kedalam pelukan Lukas sambil mencibir, "Dia sangat menyebalkan seperti anjing. Usir dia keluar!"

Lukas menyunggingkan senyumnya lalu berkata, "Tiga Ratus Ribu Dollar, ya? Aku bisa meminjamkannya padamu!"

Mata Revan berbinar saat mendengar apa yang di katakan Lucas, lalu dia berseru, "Benar, kah? Tuan Muda Lucas, kamu adalah penyelamatku. Selama kamu mau meminjamkan uang padaku, aku akan melakukan apapun yang kamu minta!"

Mendengar itu, senyum sinis terlihat jelas di wajah Lucas lalu berkata, "Kamu tidak perlu melakukan apapun, kamu cukup berlutut di hadapanku, lalu panggil aku ayah. permintaanku, masih masuk akal, bukan?"

Memikirkan ibunya yang sedang sekarat di Rumah Sakit, Revan tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Lucas.

Buk!

Tanpa basa-basi dia langsung berlutut di hadapan Lukas.

"Ayo, panggil aku ayahmu!" kata Lukas sambil menepuk-nepuk pipi Revan.

"A ... Ayah!"

Revan menggertakkan giginya, menahan rasa malu. wajahnya memerah, dan dia hampir menangis. Namun, demi ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit, apa artinya harga diri.

Setelah mengatakan itu, Revan pun memaksakan diri untuk berkata, "Tuan muda Lukas, mana uang tiga ratus ribu Dollar-nya?"

Namun, detik berikutnya ...

Sebuah tamparan keras kembali mendarat di wajah Revan. Setelah menampar, Lucas pun mengutuknya, "Siapa yang mengizinkanmu memanggilku seperti itu? Aku ini ayahmu. Kamu mengerti?"

Revan menahan Amara yang meluap dalam hatinya, sambil berbicara terbata-bata, dan memaksakan senyumnya, "Ya, kamu benar! Maafkan aku ayah!"

Agus dan pacarnya yang berdiri di samping tertawa terbahak-bahak.

"Oke, keluarkan dia dari sini! ini sangat membosankan!" perintah Lucas sambil melambaikan tangannya.

"Bagaimana dengan Tiga Ratus Ribu Dollar-nya?" tanya Revan tergesa-gesa.

"Tiga Ratus Ribu Dollar?" Lukas menatap Revan dengan ekspresi kebingungan di wajahnya.

"Sialan ... kamu, kamu mempermainkan aku?" Revan sangat marah. Dia kemudian menyerang Lukas dan melayangkan sebuah pukulan ke wajahnya.

"Nak, kamu punya keberanian untuk membuat masalah di tempatku!"

Pada saat ini, ekspresi Agus yang ada disamping langsung berubah. Dia pun mengangkat kakinya dan menendang Revan tepat di rahangnya dengan sekuat tenaga.

Darah segar pun menetes dari sudut mulut Revan.

Karena Amara yang meluap dalam hatinya karena di permainkan, Revan kembali menyerang.

Tapi kali ini, pukulan Revan dihentikan oleh Agus. Dan Agus langsung membalas pukulan Revan dengan memukulnya. Pukulan itu langsung mengarah ke perut Revan yang membuatnya kembali tersungkur kelantai.

Tidak sampai di situ, Agus melayangkan beberapa tendangannya ke arah Revan. beberapa tendangan itu membuat Revan terkapar di lantai.

Meratapi nasibnya, Revan tidak kuasa menahan kesedihannya dan air matanya pun mengalir deras dari matanya.

Pada saat dirinya terjatuh, tetesan darah dari mulutnya tepat mengenai sebuah liontin yang tergantung di lehernya. Sesaat kemudian, Liontin itu mengeluarkan cahaya terang, lalu menghilang seketika. Ditengah kekacauan itu, tidak ada yang menyadari kejadian itu.

"Revan ... Revan ..."

Perlahan Revan mulai tersadar, ketika mendengar suara yang memanggilnya.

Revan merasakan seolah-olah memasuki ruang hampa. Dalam kehampaan itu, dia melihat seorang lelaki Tua berkepala botak, memakai juba orange dan Tasbih yang tergantung di lehernya sedang duduk bersila di tengah kehampaan.

"Aku adalah Roh Dunia. Tuanku, kamu adalah reinkarnasi Dewa semesta. Sekarang, aku akan memberimu kemampuan ilahi, sehingga kamu dapat membantu dunia melalui ilmu medis dan menumpas kejahatan melalui Seni Bela Diri."

Sesaat kemudian, setitik cahaya keemasan masuk melalui kening Revan.

"Siapa kamu ..."

Namun, setelah cahaya keemasan itu masuk kedalam tubuh Revan, saat itu pula, pria Tua botak yang mirip seperti biksu itu menghilang entah kemana.

Ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada biksu yang mengatakan dirinya sebagai roh dunia. sayangnya biksu itu langsung menghilang sebelum memberi penjelasan. Revan hanya menghela nafas panjang. Kekuatan Ilahi? apa maksud dari perkataan itu.

Sesaat kemudian. Dia merasa seolah-olah ada yang mendorongnya dari belakang. Dia pun tersadar lalu membuka matanya. Dia menemukan bahwa dirinya sudah berada di bangsal rumah sakit. Bau disinfektan yang menyengat menyelimuti seluruh bangsal.

Revan berusaha menggerakkan jarinya yang sebelum rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.

Dia pun menundukkan kepalanya dan mendapati bahwa Tubuhnya di penuhi luka memar dan lebam.

Ingatannya mulai kembali, kejadian saat dirinya datang ke sebuah bar untuk menemui Clara untuk meminjam uang darinya. namun, dia tidak hanya tidak mendapatkan pinjaman, tapi, dia dipukuli hingga tidak sadarkan diri.

Revan menggelengkan kepalanya. Matanya memerah. kemudian dia memikirkan ibunya. Saat ini menggerakkan jarinya saja masih sangat sulit. bagaimana dia bisa mengumpulkan uang untuk biaya operasi ibunya. Dia merasa menjadi anak tidak bertanggung jawab.

Namun, tiba-tiba saja dia bisa merasakan aliran hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. luka lebamnya perlahan-lahan mulai sembuh dan lima menit kemudian, Luka-luka dan lebam di sekujur tubuhnya lenyap seketika. segera, perubahan pada tubuh Revan nampak jelas, kulitnya halus seperti kulit bayi.

"Apa yang sedang terjadi?"

Revan melihat perubahan tubuhnya yang begitu ajaib dengan takjub. Setelah melihat perubahan itu, dia kemudian teringat saat dirinya pingsan.

"Reinkarnasi Dewa Semesta?"

"Kemampuan Ilahi?"

Merasakan Tubuhnya yang membaik dan di penuhi kekuatan. Revan pun mencabut jarum infus dari lengannya lalu turun dari tempat tidur. Dia kemudian memeriksa belas luka dan lebamnya, secara ajaib telah sembuh sepenuhnya.

Saat dia melangkah, betapa terkejutnya dia, saat merasakan Tubuhnya terasa sangat ringan. hanya dengan satu lompatan ringan, dia bisa menempuh jarak lima hingga sepuluh meter.

Dia sangat bahagia mendapati perubahan yang ajaib pada dirinya.

Ibu!

Kebahagian Revan seketika lenyap ketika memikirkan ibunya. Dia menjadi khawatir. Dia kemudian membuka pintu lalu bergegas menuju ruangan tempat ibunya dirawat.

Namun, saat dia tiba di ruangan itu, dia tidak menemukan ibunya di tempat tidur. Seketika, hatinya hancur. Matanya memerah dan air matanya mengalir tak terkendali.

Dia kemudian berlari sempoyongan menuju Ruangan Dokter Tony yang saat ini sedang menulis sebuah resep. Revan segera menghampirinya lalau berkata, "Dokter Tony ... Ibuku ... Dia ..."

"Revan!" Dokter Tony pun baru menyadari kehadiran Revan saat namanya di panggil, "Akhirnya kamu datang. Jangan khawatir, operasi ibumu telah di lakukan. Tidak ada yang perlu di khawatirkan saat ini. Dia sedang berada di ruangan ICU sekarang.

"Operasinya sudah di lakukan?" ekspresi kebingungan nampak jelas di wajah Revan. Dia kemudian menatap Dokter Tony lalu berkata, "Terimakasih banyak Dokter. Saya berjanji, saya akan menebus biaya operasi ibu saya nanti!"

"Biaya operasi ibumu sudah di bayar!" kata Dokter Tony.

"Sudah dibayar?" seru Revan tidak percaya sekaligus terkejut.

"Kamu memiliki istri yang baik Revan!" balas Dokter Tony.

Sambil berjalan menyusuri koridor Ruma sakit dengan perasaan campur aduk. Dia bergumam, "Laura benar-benar datang untuk membayar biaya operasi ibunya."

Sesaat kemudian, dia pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Laura. telpon pun tersambung, "Laura, terimakasih banyak!"

Laura pun menjawab dengan suara dingin, "Aku pasti akan membayar biaya operasi ibumu, bahkan tanpa kamu minta. Lagi pula, kita sudah menikah. tapi Revan, aku sangat kecewa padamu. Kamu lebih memilih merelakan nyawa ibumu demi mempertahankan pernikahan yang tidak berarti ini."

Setelah itu, Laura langsung menutup telponnya, bahkan sebelum Revan sempat menjelaskan apapun.

Revan hanya tersenyum pahit sambil menggelengkan kepalanya. "Laura, aku benar-benar punya alasan untuk hal itu!" gumamnya dalam hati.

Setelah menutup telpon, Revan kembali berjalan menyusuri koridor. Namun, tiba-tiba saja sesosok tubuh menabraknya.

Revan mendongak dan dia sangat terkejut. bagaimana tidak, orang yang menabraknya adalah Lucas. Orang yang telah mempermalukan ya beberapa waktu yang lalu. betapa kecilnya dunia ini. Gumamnya.

"Minggir!"

Lucas sangat terburu-buru, dia bahkan tidak memedulikan Revan. Lucas mendorong Tubuh Revan kesamping dan langsung bergegas kesebuah ruangan gawat darurat.

"Lucas!"

Karena penasaran, Revan mengikuti Lucas dari belakang menuju ruang gawat darurat. Namun, tiba-tiba Lucas menghilang dari pandangannya. Dia menoleh kekiri dan ke kanan namun tidak menemukan keberadaan Lucas. Kemana orang itu pergi?

Tepat pada saat itu, dia mendengar suara keributan yang terjadi di lobi lantai satu. Lagi-lagi Revan mengikuti suara keributan itu untuk melihat apa yang sedang terjadi.

"Persetan denganmu, apakah kamu tahu, apa yang sudah kamu lakukan?"

Di Ruang gawat darurat, seorang pria yang matanya memerah sedang menunjuk-nunjuk seorang Dokter wanita berjas putih dan mengutuknya dengan suara yang lantang.

Sementara di sampingnya terdapat seorang gadis kecil sedang terbaring lemah di atas tandu dengan kondisi sianosis. Tubuh gadis kecil itu bergetar hebat. terlihat jelas bahwa kondisi gadis kecil itu sedang di ambang kematian.

Dokter wanita itu berkeringat deras sambil terus melakukan beberapa tindakan penyelamatan. Namun sayangnya, tidak ada respon dari Tubuh gadis kecil itu.

**************

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!