"Mahen!" seru seorang gadis sambil berlari kecil menghampiri pria yang sedang berjalan menuju parkiran kampus. pria yang dipanggil Mahen pun menoleh, "kenapa?" jawabnya pada gadis yang memanggilnya barusan.
"nebeng hehe..." jawab gadis itu sambil tersenyum nyengir menunjukkan deretan giginya yang putih bersih. "sorry dis gue nggak bisa. Lo bareng Aidan aja ya" jawab Mahen. "yah... Lo mau kemana emangnya?" tanya gadis itu lagi. "mau jenguk bokap gue" jawab Mahen sambil menaiki motornya.
tepat pada saat itu, ketiga teman Mahen datang menghampiri. "Aidan, Adis bareng Lo ya. gue mau jenguk bokap" ucap Mahen kepada salah satu temannya yang ia panggil Aidan. temannya pun menunjukkan jempolnya sebagai jawaban.
"tuh dis, sorry ya gue nggak bisa nganterin Lo" ucap Mahen kepada gadis di sampingnya yang ternyata bernama Adis. "oke deh, tiati Lo" jawab Adis sambil menepuk pundak Mahen. Mahen mengangguk dan bergegas melajukan motornya.
setelah Mahen pergi, ketiga temannya pun ikut bergegas melajukan motor masing-masing dengan salah satunya membonceng Adis.
**
"pah..." sapa Mahen saat seorang pria berusia 45 tahunan menghampirinya dengan mengenakan seragam tahanan. pria yang Mahen panggil papah itu pun duduk di kursi yang ada di seberang meja, berhadapan dengan Mahen.
"Mahen..." panggil papah Mahen sambil tersenyum. "pah, Mahen bawa makanan buat papah" jawab Mahen sambil mengeluarkan isi dari plastik yang ada di meja. "makasih Mahen" ucap sang papah.
mereka pun mulai makan nasi Padang yang di beli Mahen tadi di perjalanan. "Mahen, apa kamu sudah menemukan Tante Fero?" pertanyaan papahnya membuat Mahen menghentikan suapannya.
"pah, apa nggak sebaiknya kita lupain masa lalu? kita bisa mengikhlaskan yang sudah terjadi. lagian Tante Fero pun nggak pernah muncul lagi. biarkan Tante Fero dihukum oleh rasa bersalah." jawab Mahen hati-hati.
Brak...
"apa maksud kamu Mahen?!! kamu ikhlas papah kamu mendekam di jeruji besi dua belas tahun lamanya?! dimana otak kamu Mahen?!" papah Mahen sangat emosi mendengar jawaban Mahen. Mahen pun terlonjak kaget akibat suara gebrakan meja yang di lakukan papahnya.
"pah, aku bingung harus cari Tante Fero kemana. aku juga nggak punya petunjuk yang jelas tentang kejadian waktu itu" jawab Mahen lesu.
"papah udah ceritakan semuanya ke kamu Mahen, Tante Fero mau merampas harta kakek kamu tapi gagal karena papah bisa melawan Tante kamu itu. tapi Tante kamu justru menjebloskan papah ke penjara, dia membalikkan fakta yang sesungguhnya dan melimpahkan kesalahan itu pada papah." ucap papah Mahen menggebu-gebu.
Mahen terdiam, rasa marah yang sempat ia redamkan agar bisa mengikhlaskan masalalu kembali memuncak. Mahen berusaha mengontrol emosinya, "pah, sebentar lagi papah keluar. papah nggak bersalah, kita nggak bersalah pah, buat apa kita dendam? dua tahun lagi papah keluar dan kita bisa melanjutkan hidup yang nyaman, damai tanpa bayang-bayang masalalu. biar hukum alam yang membalas kejahatan Tante Fero yang sekarang entah dimana keberadaannya" Mahen masih berusaha membuat dendam kesumat papahnya mereda dan hilang.
mendengar perkataan Mahen, papahnya kembali tersulut emosi, "papah nggak mau tahu ya Mahen, kamu harus sudah membalaskan dendam papah sebelum papah keluar dari penjara ini!" tekan papah Mahen.
"pak Julian, waktu anda sudah habis." belum sempat Mahen menjawab ucapan papahnya, penjaga sudah lebih dulu mengatakan jika waktu berbicara Mahen dan papahnya sudah habis.
papah Mahen yang bernama Julian pun kembali ke ruangan tempatnya di tahan.
setelah papahnya masuk, Mahen pun memutuskan untuk pergi dan segera pulang ke rumah.
**
Mahen memasuki rumah yang selalu sepi, rumah sederhana yang hanya di huni berdua bersama sang mamah.
Mahen menghempaskan tubuhnya di atas kasur, matanya memandang langit-langit kamar. pertemuannya dengan sang papah benar-benar menguras energinya. tanpa terasa Mahen tertidur dengan masih mengenakan sepatu.
Mahen terbangun dengan keringat yang membasahi keningnya. ia buru-buru membuka tas dan mengambil hpnya. jam menunjukkan pukul 17.02, hampir satu jam lamanya ia tertidur.
tok tok tok...
suara ketukan pintu membuat Mahen terlonjak kaget. "Mahen kamu sudah pulang?" ternyata yang mengetuk pintu adalah mamanya, Felicia. "udah mah" jawab Mahen dari dalam. "siap-siap kita kerumah nenek" perintah mamanya.
Mahen tidak menjawab ucapan mamahnya. ia justru turun dari ranjang dan berjongkok membuka laci nakas yang paling bawah, mengeluarkan selembar foto wanita berusia sekitar 25 tahunan.
"dimana Tante Fero sekarang? apa Tante udah nggak ada di dunia ini lagi?" gumam Mahen terbayang senyum manis Tante Fero dan lambaian tangannya yang lembut di dalam mimpinya barusan. ya, Mahen memimpikan Tante Fero.
setelah puas memandangi wajah tantenya meskipun hanya sebuah foto, Mahen bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi kerumah kakek dan neneknya seperti perintah mamanya tadi.
"Mahen! udah siap belum? ayo berangkat" teriak mamanya saat Mahen sedang menyisir rambutnya. "iya mah sebentar" jawab Mahen lalu bergegas keluar kamar.
..
"ngapain si ma kesana terus?" tanya Mahen pada mamanya sambil terus mengemudikan mobilnya. "kan mereka orang tua mama, dan lagian jaraknya nggak terlalu jauh jadi kita harus sering-sering jenguk orang tua dong, selagi mereka masih ada" jawab mama Felicia.
Mahen terdiam hingga akhirnya mereka berhenti di depan rumah berlantai dua yang bercat abu-abu. halamannya yang luas dan penuh pohon buah serta bunga memberi kesan asri pada rumah itu. Mahen memarkirkan mobilnya di halaman yang luas itu lalu masuk kedalam rumah mengikuti mamahnya.
di ruang keluarga Mahen dan mamahnya di sambut senyuman hangat dari dua lansia yang sedang duduk bersama sambil menonton televisi yang ada di hadapannya.
"mereka keliatan baik-baik aja padahal salah satu anak mereka entah dimana keberadaannya. kalau Tante Fero orang yang baik seharusnya mereka sedih dan pasti sibuk nyari Tante Fero dong. berarti bener kata papah kalau tante Fero itu orang jahat, makanya keluarganya nggak peduli" ucap Mahen dalam hati saat melihat nenek dan kakeknya yang tampak selalu bahagia.
"mahen, kenapa berdiri di situ? ayo duduk sini" ucap nenek Mahen sambil melambaikan tangan menyuruh Mahen untuk duduk. Mahen tersenyum dan menghampiri nenek, kakek serta mamahnya.
"ah... cucuku sudah besar, sudah tampan kaya kakek" ucap kakek sambil menepuk-nepuk pundak Mahen. Mahen yang di perlakukan seperti itu hanya tersenyum tipis. pikiran Mahen masih tertuju pada misi balas dendam yang diminta papahnya.
seusai makan malam keluarga, Mahen duduk di balkon sambil sesekali menyesap rokok yang terselip di tangannya. Mahen bukan perokok aktif, ia hanya merokok saat pikirannya sedang kacau saja.
saat sedang hanyut dalam lamunannya, Mahen di kejutkan oleh sebuah tepukan di pundaknya
...
Mahen berbalik badan untuk melihat siapa yang mengejutkannya. "kakek," beo Mahen saat menyadari bahwa yang membuatnya terkejut adalah sang kakek. kakek Hardjo, itulah namanya, terkekeh-kekeh melihat ekspresi terkejut di wajah cucunya.
"apa yang sedang kamu pikirkan Mahen?" tanya kakek Hardjo kepada Mahen saat melihat ada rokok di tangan Mahen. Mahen yang sadar pun segera mematikan rokoknya. "nggak ada apa-apa kok kek, biasalah tugas kuliah" jawab Mahen sekenanya. tidak mungkin Mahen mengatakan yang sebenarnya bahwa ia sedang memikirkan bagaimana cara menemukan Tante Feronica dan segera membalaskan dendam papahnya.
"tidak usah terlalu di pikirkan, jalani saja dengan santai. yang penting jangan sampai terabaikan. kalau ada masalah jangan di simpan sendiri, ada mamah kamu, ada kakek, ada nenek, kamu bisa ceritakan masalah kamu pada kami Mahen." ucap kakek sambil merangkul pundak Mahen. "iya kek, siap" jawab Mahen sambil tersenyum.
kakek hardjo membalas senyum Mahen. "mamah kamu bilang kamu sering jenguk papah kamu, gimana kabar papah kamu sekarang Mahen?" pertanyaan kakeknya membuat Mahen kembali teringat perkataan papahnya tadi siang. "kabar papah baik kek" jawab Mahen. "syukurlah kalau begitu" jawab kakek sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Cukup lama mereka terdiam, hingga akhirnya Mahen melontarkan perkataan yang sudah lama bersarang dibenaknya. "Kakek, aku ngerasa kalau nggak ada orang yang peduli sama Papah," kata Mahen dengan sorot mata yang sendu. "Mamah sibuk terus sama pekerjaannya, dan kakek sama Nenek nggak pernah bicarain apapun tentang Papah aku."
"Kakek sama nenek nggak peduli sama papah, kalian nggak pernah jengukin papah selama ini. kalian selalu bahagia tanpa mikirin papah, bahkan istri papah sendiri nggak peduli sama papah. sebenarnya kalian ini kenapa?! dimana perasaan kalian? kalian nggak tau gimana perasaan papah disaat nggak ada yang peduli sama dia bahkan istrinya sekalipun" lanjut Mahen mengeluarkan unek-unek yang selama ini mengganjal di hatinya.
Kakek menghela napas "Mahen, kamu nggak bisa berpikir begitu. Kami semua peduli sama Papah kamu, tapi kami nggak tahu gimana cara membicarakan tentang hal itu."
"Tapi kenapa kakek nggak pernah membicarakan apapun tentang Papahku?" tanya Mahen dengan suara yang semakin keras. "kenapa kakek nggak pernah jenguk papah di penjara?"
Kakek menunduk dan memandang lantai. "Mahen, kakek... kakek nggak tahu gimana cara menjelaskan hal ini sama kamu. Tapi kakek akan mencoba."
Kakek berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Papah kamu melakukan kesalahan, Mahen. dia melakukan sesuatu yang sangat salah, dan itu membuat banyak orang terluka. saat itu kamu berusia sepuluh tahun, kakek yakin kamu masih mengingatnya meskipun sedikit"
"Tapi itu bukan berarti kakek bisa nggak peduli sama Papah aku sedikitpun!" kata Mahen dengan suara yang sedikit bergetar.
Kakek mengangkat tangan dan memandang Mahen dengan teduh, "Mahen, kakek peduli sama Papah kamu. kakek peduli sama kamu dan seluruh keluarga kita. Tapi kakek juga harus memikirkan tentang apa yang benar dan apa yang salah."
Mahen menatap Kakek dengan mata yang memerah. Ia tidak yakin apakah ia percaya pada Kakek atau tidak.
"Kakek, aku pengin kakek jenguk Papah aku di penjara," kata Mahen dengan suara yang mulai merendah.
Kakek menatap Mahen dengan mata yang lembut.
cukup lama kakek terdiam, "kami belum siap Mahen, melihat papahmu selalu mengingatkan pada masalalu yang seharusnya tak perlu diingat." jawaban sang kakek tidak membuat Mahen puas. Mahen yakin ada sebab lain yang membuat keluarganya bahkan mamahnya sendiri tidak mau mengunjungi dan menjenguk papahnya.
"apa kakek nggak mau jenguk papah barang sekali pun?" tanya Mahen lagi. "kakek belum tau" jawaban kakeknya justru membuat Mahen kesal. Mahen tidak bertanya lagi dan memilih untuk diam.
"apa susahnya sih jenguk papah? toh sebenarnya yang salah bukan papah. Tante Fero, gara-gara Tante kakek sama nenek, bahkan mamah aku sendiri nggak ada yang peduli sama papah." Mahen bergumam dalam hati. kebenciannya terhadap Tantenya makin bertambah saat melihat kakeknya tidak peduli pada papahnya, menantu kakek Hardjo sendiri.
"sudah malam Mahen, tidurlah. kakek juga mau istirahat" Mahen tidak menyahuti ucapan kakeknya. kakek Hardjo yang tau Mahen kesal padanya pun melanjutkan ucapannya, "kapan-kapan kakek luangkan waktu untuk jenguk papah kamu. istirahatlah." setelah mengucapkan itu kakek Hardjo berlalu pergi meninggalkan Mahen yang masih berdiri di balkon dengan tangan yang terkepal menahan emosi.
Mahen memandang punggung kakeknya yang semakin menjauh. setelah kakek Hardjo benar-benar menghilang dari pandangannya, Mahen pun beranjak dari tempatnya berdiri, meraih jaket yang tadi ia gantung lalu bergegas pergi meninggalkan rumah sang kakek.
Felicia yang mendengar deru mobil dari dalam kamar pun mengintip melalui jendela. melihat mobilnya berlalu keluar gerbang ia yakin yang pergi itu adalah putranya. "biarlah, mungkin main ke rumah temannya" batin Felicia. ia tidak tahu jika putranya baru saja bersitegang dengan kakeknya, ayah Felicia sendiri.
**
Mahen menghempaskan tubuhnya di sofa. saat ini ia berada di rumah Herdi, salah satu teman dekatnya. Mahen tidak pernah pergi ke club untuk menghilangkan stress.
"kenapa Lo?" tanya Herdi yang baru saja kembali dari dapur sambil membawa minuman dan camilan. "jenuh aja di rumah" jawab Mahen sekenanya, tangannya meraih gitar yang ada di sampingnya.
"rumah kakek maksud Lo?" tanya Herdi lagi. Herdi tahu sedikit banyaknya cerita masalalu keluarga besar Mahen. mahen tidak menjawab pertanyaan Herdi. melihat Mahen yang diam saja Herdi yakin tebakannya benar.
"Lo nggak tau apa-apa Hen, mending jangan terlalu benci sama keluarga Lo. Lo kan nggak tau kejadian yang sebenarnya kaya gimana" ucap Herdi memberi saran.
Mahen menoleh pada Herdi dengan tatapan yang aneh. Herdi merasa, meskipun Mahen menatapnya tetapi hati dan pikiran Mahen tidak tertuju padanya. "napa lu?" tanya Herdi sambil menyeruput secangkir kopi.
"menurut Lo Tante Fero sekarang ada dimana? masih hidup atau udah meninggal?" tanya Mahen pada Herdi. "lah... Lo yang ponakannya, malah tanya gue" jawab Herdi yang merasa pertanyaan Mahen sangat konyol.
"ya kali aja Lo punya pendapat, menurut pemikiran Lo gitu, Tante Fero sekarang masih hidup atau udah nggak ada? secara kan Tante Fero menghilang udah lama banget. gue mau nyari juga nyari kemana, nggak ada petunjuk sama sekali" jelas Mahen lesu. ia benar-benar merasa buntu. ingin bertanya pada keluarganya juga tidak mungkin.
"ada beberapa kemungkinan si hen, kemungkinan Tante Fero masih hidup itu bisa aja. kemungkinan Tante Fero udah nggak ada juga bisa aja, Tante Fero menghilang setelah keributan yang bukan keributan kecil. bisa aja waktu itu Tante Fero luka parah kan? atau bisa juga Tante Fero masih hidup tapi cacat, dan dia memilih buat mengasingkan diri" akhirnya Herdi mengeluarkan beberapa kemungkinan yang menurutnya masuk akal.
Mahen termenung memikirkan pendapat Herdi, "bisa aja sih begitu. tapi masalahnya gue mau nyari tau kemana?" tanya Mahen lagi. Mahen masih bingung harus memulai pencarian darimana.
"aelahhh Lo ganteng-ganteng tapi begonya kebangetan, Lo kan bisa cari petunjuk di rumah kakek Lo, atau nggak di rumah Lo sendiri dulu. tapi gue ngerasa kalau memang ada petunjuk pasti adanya di rumah kakek Lo deh" lagi-lagi Herdi memang cerdas.
Mahen menatap Herdi dengan mata berbinar. benar kata Herdi, Mahen bisa mencari petunjuk di rumah kakeknya.
karena hari sudah sangat larut, Mahen memutuskan tidur di rumah herdi, lagipula ia masih malas jika harus pulang dan kembali bertemu kakek. Mahen memutuskan untuk pulang besok pagi saja.
"Feli sarapan udah siap, tolong panggil papahmu di kamar!" perintah nenek Astrid kepada putri sulungnya itu. "iya mah" Felicia yang baru saja selesai mencuci alat masak pun segera bergegas naik kelantai atas untuk memanggil papahnya.
tok tok tok...
"pah, sarapan udah siap!" teriak Felicia memanggil papahnya dari luar kamar. "iya nak, nanti papah turun" sahut kakek dari dalam kamar. mendengar jawaban papahnya, Felicia bergegas kembali turun dan duduk di meja makan bersama mamahnya, nenek Astrid.
setelah menunggu beberapa menit, akhirnya kakek Hardjo muncul juga. "kamu ini lama sekali" omel nenek Astrid. kakek terkekeh melihat ekspresi kesal di wajah istrinya yang sudah menua.
kakek Hardjo duduk di salah satu kursi, matanya memandang sekeliling "apa Mahen tidak pulang?" tanyanya pada anak dan istrinya. "memangnya kemana cucumu itu?" tanya nenek Astrid.
"semalam dia bicara sama aku tentang papahnya. mungkin dia marah" jawab kakek Hardjo sambil menghela nafas panjang. "Mahen bicara apa pah?" Felicia terlihat sedikit panik. ia takut omongan anaknya menyinggung papahnya.
"dia merasa kita tidak peduli pada papahnya. dia juga ingin kita menjenguk papahnya dipenjara. papah sudah bilang akan meluangkan waktu untuk itu, tetapi papah tidak bilang Kapan pastinya." jelas kakek Hardjo.
"hah... dasar anak itu" Felicia memijat pelipisnya. "tidak apa-apa cia, wajar dia merasa begitu. kapan-kapan kita jenguk suamimu" ucap kakek Hardjo menenangkan putrinya yang terlibat gusar.
"sudah-sudah, ayo makan" ajak nenek Astrid mencairkan suasana.
..
saat sedang menikmati sarapan, mereka mendengar deru mobil yang mendekat. mereka menebak itu adalah Mahen.
Benar saja, tak berselang lama, Mahen muncul dengan sebuah plastik ditangannya. "darimana saja kamu Mahen? semalaman tidak pulang?" tanya mama Felicia. "maaf mah, semalem agak suntuk jadi keluar main. cuman dirumah Herdi kok mah" jelas Mahen.
"kamu sudah sarapan?" tanya nenek Astrid. "udah nek. ini, Mahen bawa roti bakar, tadi beli di jalan" ucap Mahen sambil meletakkan plastik yang dibawanya. nenek Astrid membuka plastik itu dan mengambil isinya lalu di letakkan di atas meja.
"kamu nggak kuliah?" tanya mama Felicia saat melihat Mahen duduk di kursi sampingnya. "aku masuk kelas siang mah" jawab Mahen.
klontang...
mama Felicia menyentakkan sendoknya lalu berdiri, "ayo pulang Mahen!" ucapnya sambil menarik paksa tangan Mahen. "Feliciaaa!" teriak nenek Astrid memanggil putrinya yang menarik cucunya untuk dibawa pulang.
kakek Hardjo yang melihat itupun hanya bisa diam. ia tahu putrinya itu sedang marah pada anaknya. ia yakin Mahen akan di marahi habis-habisan oleh Felicia.
..
"kamu ini apa-apaan si Mahen? kamu ngapain bilang kaya gitu ke kakek ha?! kamu tau kakek sama nenek itu benci sama papah kamu. kalau kamu mau jenguk papah kamu itu kamu jenguk sendiri!" teriak Felicia memarahi Mahen.
saat ini mereka berada di ruang tamu rumah mereka sendiri. Mahen duduk di sofa sedangkan Felicia berdiri di hadapannya sambil terus mengomel.
"mah, apa salahnya sih jengukin papah? papah itu menantu mereka, suami mamah, papah aku mah!" Mahen tidak mau kalah. ia merasa dirinya tidak salah. ia hanya ingin keluarganya sedikit peduli pada papahnya, sesekali mengunjungi papahnya yang sudah 10 tahun mendekam di balik jeruji besi tanpa melihat dunia luar.
"kami tau Mahen dia papah kamu, kami tau itu. tapi kamu nggak bisa memaksa kami buat jengukin dia di penjara. papah kamu dipenjara itu karena kesalahan dia sendiri Mahen!" teriak Felicia.
"mah, semua itu udah berlalu. udah sepuluh tahun mah! kenapa kalian nggak bisa berdamai dengan masalalu? kenapa kalian nggak bisa maafin papah kalau emang papah salah?! udah sepuluh tahun papah menjalani hukumannya mah. apa itu belum cukup?!" tanya Mahen.
"kenapa kami nggak bisa berdamai dengan masalalu? kamu tanya sama papah kamu Mahen! kamu tanya sama dia, apa dia udah bisa berdamai dengan masalalu? apa dia udah bisa tobat lupain keserakahan dia? apa dia udah bisa hilangin dendam dia pada keluarga mama?! tanyakan itu Mahen!"
"mamah juga pengin keluarga kita utuh, damai kaya dulu Mahen. bukan cuman kamu yang berharap keluarga kita damai dan bisa kumpul lagi sama papah. tapi liat kelakuan papah kamu Mahen, liat! apa mamah harus mengorbankan semua keluarga mama demi keserakahan dia? apa harus Mahen?!! kamu kasih tau mamah, apa yang harus mamah lakukan sekarang? setiap liat papah kamu selalu bikin hati mamah sakit. keluarga mamah juga berantakan Mahen. jadi tolong, tolong kamu ngertiin posisi mamah. mamah nggak bisa memilih salah satu diantara papah kamu atau orang tua dan keluarga mamah." lanjut Felicia dengan suara yang mulai merendah. bahkan sekarang matanya sudah basah oleh air mata.
Mahen menunduk, ia tidak pernah menyadari jika mamahnya juga berada di posisi yang sulit. lagi-lagi itu semua terjadi karena Tante Feronica, pikir Mahen.
Mahen melihat kearah mamahnya yang kini sudah terduduk dilantai. Mahen turun dari sofa dan perlahan menghampiri sang mamah. "mah.." panggil Mahen.
Felicia menoleh, "Mahen, maaf, maafin mamah nggak bisa kasih kehidupan keluarga yang nyaman dan damai buat kamu." ucapnya lirih. Mahen yang mendengar itupun langsung memeluk mamahnya.
"nggak mah, Mahen yang minta maaf. Mahen minta maaf mah, Mahen nggak bisa ngertiin posisi mamah yang juga sulit. maafin Mahen mah" ucap Mahen tergugu.
"nggak apa-apa Mahen. Mahen sini liat mamah," Felicia menangkup wajah putranya. "diluar sana masih banyak yang lebih sulit dari kita. kita harus bersyukur Mahen. kita terpisah dari papah hanya karena papah kamu sedang menjalani hukuman, mempertanggungjawabkan perbuatannya. diluar sana banyak yang kehilangan orang tuanya tanpa tau keberadaannya, atau yang lebih parahnya lagi, mereka kehilangan orang tuanya untuk selama-lamanya." ucapnya.
Mahen mengangguk mantap sambil melepas pelukannya. Mahen meraih tangan mamahnya, "sekali lagi maafin Mahen ya mah" ucapnya. Felicia mengangguk sambil tersenyum.
"sekarang kamu bersih-bersih, mandi, inget tugas kuliah" ucap Felicia. Mahen mengangguk, "mamah mau ngapain sekarang?" tanya Mahen pada mamahnya.
"mamah ada kerjaan, tapi mamah kerjain dirumah. udah sana masuk kamar!" perintah Felicia sambil sedikit mendorong Mahen.
Mahen pun bergegas masuk kedalam kamarnya lalu membersihkan diri.
..
siang itu, Mahen baru saja sampai di kampusnya. "hendrooo!" saat barusaja memarkirkan motornya, telinganya sudah di buat panas oleh teriakan Adis.
tanpa menjawab panggilan Adis yang suka memanggilnya dengan sembarang nama, Mahen melangkahkan kakinya menuju kelas.
sesampainya dikelas ia melihat kedua temannya sedang mengobrol. "Woy... baru dateng Lo, biasanya paling awal" sapa Aidan saat melihat Mahen datang menghampiri mereka.
"family time dulu" jawab Mahen ngasal. "gimana? udah dapet petunjuk?" tanya Herdi yang justru mendapat delikan dari Mahen.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!