Agatha Leonor terjatuh dari sepeda, meringis sambil mengusap darah yang keluar dari lutut nya, berusaha untuk bangkit dan mendorong sepedanya melanjutkan perjalanannya menuju tokoh bunga tempat ia bekerja.
Walaupun perjalanan dari kontrakannya lumayan jauh namun tidak mengurangi semangat leonor dalam bekerja. ditengah perjalanan melewati jalanan yang sepi ia samar-samar mendengar suara seseorang meminta 'tolong', mencoba untuk mengabaikan namun suara itu terdengar lagi.
"Tolong" Takut namun ia mulai mencoba mendekati rumah terbengkalai yang ada ditengah hutan itu.
Terdengar suara rintihan seperti menahan rasa sakit dan tangisan yang begitu memilukan.
Kaget dan syok ketika melihat apa yang ada didepan matanya, seorang wanita dengan kedua tangan terikat di kursi dan dicambuk dari depan oleh seseorang.
Cetar, ceter! Suara cambukan yang begitu keras mengenai wanita itu. Leonor meringis ketika melihat itu.
'Siapa perempuan itu kenapa dia dicambuk dengan begitu tidak berprikemanusiaan'? Gumam Leonor dalam hati sambil bersembunyi dibalik jendela yang sedikit terbuka.
Dengan nafas yang tidak teratur lelaki ituitu mendekati perempuan itu dan mengatakan "begitu kah balasanmu setelah aku mencoba untuk membuka hatiku dan mencintaimu? " Ungkap pria tersebut dengan penuh penekanan
"Jawaaabbb saya kenapa"? Tanyanya lagi.
Dia berbalik dan hendak mengambil cambuk itu lagi, perempuan itu pun bersuara
"A-a-aku t-tidak pernah mencintaimu pria sialan" Jawabnya dengan terbata dan sedikit gugup mengatakan kenyataan itu.
Deg.
Ia menoleh dan melihat perempuan tersebut dengan sorotan dan kilatan mata tajamnya.
"Begitukah?, setelah semua yang kuberikan padamu" Balasnya dengan nada sedikit kecewa, namun ia mencoba menyembunyikan itu semua dibalik wajah datarnya.
Perempuan itu tidak menjawab lagi ia memilih diam membiarkan alex bertindak sesuka hatinya.
Leonor mendengar semua yang diucapkan oleh lelaki kejam itu kepada wanitanya.
Hendak berbalik untuk pergi meninggalkan rumah itu, tanpa sengaja kakinya menginjak ranting kering dan menimbulkan suara.
'Sialann' Gumam Leonor merutuki kebodohannya itu.
Lelaki itu menoleh dan menatap jendela.
"Bimo, cepat periksa siapa orang itu" Perintah nya pada Bimo asistennya.
Keluar melalui pintu belakang dan melihat siapa yang menimbulkan suara tersebut.
Leonor berlari dari rumah terbengkalai itu dengan terbirit-birit agar tidak tertangkap oleh manusia kejam itu.
"Ayok lari Leonor, jangan sampai kamu tertangkap" Ucapnya dengan berlari sekuat tenaga.
"Berhenti kau wanita sialan" Panggil Bimo dengan terus berlari mengejarnya.
Namun nasib baik tidak berpihak pada Leonor ia tertangkap oleh anak buah pria itu yang sudah mengepungnya tersebut.
"Berhenti" Perintahnya sambil mengacungkan pistol pada leonor, seketika ia berhenti dengan tubuh yang menegang.
Leonor berbalik belakang sambil mengangkat kedua tanganya, terlihat sekali bahwa ia takut.
"Siapa yang menyuruh mu memata-matai tuan alex? " Tanya Bimo dengan tegas membuat Leonor menjadi gemetar.
Matanya berkaca-kaca, karena baru kali ini ia bertemu dengan orang-orang seperti ini.
"Sa-saya tidak bermaksud untuk melihat tuan" Jawabnya dengan suara terbata.
"Jangan menipu saya, saya tidak akan termakan oleh omongan anda" Balasnya dengan melirik kearah anak buahnya yang lain, memberikan kode untuk memborgol tangan Leonor.
"Lepaskan saya, b*jingan biadab" Teriaknya marah karena diseret paksa oleh orang-orang tersebut.
*****
Mohon maaf yahh kalau ada salah typo, kalau ada saran dan kritikan bisa lewat kolom komentar.. ☺
Heheh ini novel pertama saya jadi mohon bimbingan juga yahh☺
Terimakasih banyak semuanya.
God bless you
Bimo dan anak buahnya menyeret Leonor membawanya dihadapan alex. Duduk dengan sorotan mata tajamnya yang siap memangsa siapapun.
"Lepaskan saya, saya tidak bersalah" Pintanya memohon untuk dilepaskan.
Kalau tahu bakal seperti ini jadinya, ia memilih untuk mengabaikan suara itu tadinya.
Mereka melepaskan Leonor dan meninggalkan ruangan tersebut menyisakan Bimo dan tuan alex.
Dengan senyum sinis yang hampir tidak terlihat ituu, ia memandang Leonor dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Merasa ditatap dengan lekat membuat Leonor menjadi risih dan tidak nyaman.
'Jujur demi apapun ini orang menakutkan untuk ditatap berlama-lama seperti ini' gumam nya dalam hati.
"Jadi kamu orang suruhannya" Tanya alex menatap Leonor dengan tatapan mata yang tajam, sorotan mata itu bagaikan kilatan petir yang siap menghancurkan satu bukit.
Leonor mengerutkan keningnya mencerna ucapan pria yang ada didepan nya.
"Maaf saya tidak mengerti apa yang kamu ucapkan" Jawab nya bingung dengan pertanyaan itu.
"Rupanya kamu mencoba untuk bermain-main dengan saya" Balasnya dengan tegas sambil berdiri memutari tubuh Leonor.
"Bimo kamu tahu apa yang harus kamu lakukan" Ucapnnya pada Bimo, karena sudah tahu apa yang dimaksudkan oleh tuannya ia langsung meninggalkan ruangan itu menjalankan perintah.
Selang beberapa menit Bimo kembali dengan membawa beberapa alat diantara ada cambuk dan setrum listrik berkekuatan tinggi.
Meletakkan alat-alat diatas meja dan meninggalkan tuannya sendiri, ia sudah tahu persis apa yang akan dilakukan oleh tuannya.
"Kerena kamu tidak mau mengaku, maka biarkan saya memberi sedikit pelajaran dengan alat-alat ini" Ucapanya sambil mendekati alat-alat itu dan memegang nya satu persatu.
"Kumohon jangan!, aku tidak tahu apa yang kamu maksud" Pintanya dengan suara bergetar, melihat alat-alat itu saja sudah membuat nya merinding dan gemetar.
"Tergantung padamu, kamu sendiri yang menentukan pilihan" Jawabnya dengan menarik rambut Leonor kebelakang hingga membuatnya mendongak.
"Ishhh auhhh, lepaskan sakit" Pinta Leonor dengan menahan sakit karena tarikan rambutnya semakin keras.
"Pelan-pelan saya belum puas untuk menyiksamu sampai kamu mengaku sendiri siapa yang menyuruhmu" Jawabnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar hanya bisikan ditelinga Leonor.
"Harus berapa kali saya katakan, saya tidak tahu dan saya bukan suruhan siapa" Balasnya dengan tak kalah tegas...
"Lepaskan saya sekarang, saya harus kerja" Mohon Leonor, mengingat beberapa hari ia tidak bekerja karena tidak enak badan, kalau harus izin lagi maka dipastikan besok ia akan dikeluarkan dari tokoh bunga.
Alex bangkit mengambil alat cambuk itu dan mendekati Leonor yang matanya sudah berkaca-kaca.
Cetar!
Ceter!
"Aaaahhhh aaahhhh" Leonor memejamkan mata menahan rasa sakit yang begitu luarbiasa dari cambukan itu.
"Masih tidak mau mengaku?"ucap leon sambil mengusap cambuknya, Leonor hanya diam terduduk di kursi yang ada di tengah ruang itu.
Isak tangis terdengar begitu memilukan darinya, dua cambukan hampir meremukkan tulang pinggang nya " Bunuh saja saya kalau itu dapat mengobati rasa penasaranmu terhadap saya" ucap Leonor pasrah dengan keadaannya selama ini.
"Kamu tidak akan mati semudah itu karena aku belum puas menyiksamu" Ucapnya sambil meningalkan Leonor sendiri didalam ruangan.
Sebelum meninggal Leonor ia sudah membuka borgol yang ada ditangan nya. Leonor menyikap bajunya dan melihat bekas cambukan pria tadi, meninggalkan bekas yang mulai membiru.
Ia terduduk dipojokan ruangan merenungkan kembali apa yang terjadi dalam kehidupannya.
'Tuhan kenapa cobaan yang engkau berikan tidak pernah ada habisnya?, kenapa tidak pernah ada kebahagiaan sekali saja dalam hidupku' guman Leonor, hingga tanpa sadar air matanya menetes.
**
Sementara disisi lain alex menghampiri Bimo yang menunggu di luar memastikan semua aman terkendali.
"Bagimana dengan perempuan itu?" Tanya alex pada Bimo.
"Mayatnya sudah saya bereskan dan tidak akan ada jejak yang tertinggal tuan" Jawabnya sambil menunduk, hingga tepukan sebuah tangan di bahunya membuat ia mengangkat kepala.
"Bagus!, kamu memang selalu bisa di andalkan" Balasnya sambil menepuk pundak Bimo.
"Saya minta kamu cari tahu siapa perempuan yang ada didalam,saya mau detail".
" Kamu urus dia dan bahwa ke mansion, kurung dia diruang bawah tanah" Ucap alex seraya meninggalkan Bimo untuk mengurus Leonor.
"Baik tuan" Jawab Bimo tak kalah tegas.
***Bersambung***
Keesokan hari nya sebuah mension dua lantai yang terlihat begitu indah dan magah, dengan nuasa eropa yang khas membuatnya terlihat indah untuk dipandang. Mension itu terletak ditampat yang strategis, dihutan tropis dengan alam yang begitu indah, pagar yang menjulang tinggi, dengan pohon-pohon pinus yang sengaja ditanam dipinggir pagar tersebut.
Terlihat di pintu gerbang penjagaan yang begitu ketat, alex mempekerjakan orang-orang terlatih dibidangnya untuk melindungi mension nya.
Terdengar klakson mobil dari luar, iwan menghampiri nya membukakan gerbang masuk.
"Apakah bos alex masih ada didalam? "Tanya Bimo
" Iyaa bos kita masih ada didalam, silakan temui dia," Jawab iwan, sambil kembali menutup gerbang.
Iwan merupakan merupakan anak buah alex yang terlihat selalu humoris dan lucu.
Ia ditemukan oleh alex sekitar lima tahun yang lalu, ia korban pengeroyokan yang dilakukan oleh anak-anak geng motor jalanan, kemudia ia ditolong oleh alex di bahwa ke mansion nya.
Iwan dilatih sangat keras oleh alex, hingga ia sekarang tumbuh menjadi orang yang bisa bringas apabila kenyamanannya dan sang bos terganggu maka ia akan bertindak.
***
Bimo masuk dan mencari tuannya, ia menemui mbok ina "Mbok bos alex ada dimana? " Tanya Bimo, karena sudah berkeliling mansion untuk mencari tuan nya kamu tidak ketemu.
"A-anu... Bos alex sepertinya sedang ke ruang bawah tanah den" Jawab mbok ina terbata-bata,mengingat tuan nya pergi ke ruang bawah tanah dengan terburu-buru.
"Yasudah mbok, lanjut kerja biar saya susul bos alex keruang bawah tanah, " Timpal Bimo pergi meninggalkan mbok ina dengan perasaan tak karuan.
'Ya Tuhan kalau boleh hambamu mohon, lindungi lah nona muda itu, jaga dia Tuhan, " Pintanya dalam hati, memohon agar nona mudah itu baik-baik saja.
Didalam sebuah ruangan yang minim cahaya, tampak Leonor meringkuk dibalik disudut ruangan sambil memeluk kedua lutut nya, ia baru habis dicambuk oleh alex dengan tidak berperasaan.
"Rupanya menyenangkan, menyiksamu seperti ini adalah kepuasan tersendiri untukku, " Ujar alex sembari melirik Leonor yang menunduk.
"Angkat kepalamu, aku tidak menyuruh mu menunduk, " Ucap alex dengan sorotan matanya tajam bak silet.
Leonor mengangkat kepalanya menatap alex dengan sendu,"Tolong beri aku makan, ak-aku lapar, aku Ti-tidak makan sudah dua hari, kumohon kasihani aku, " Kata Leonor dengan dengan terbata-bata, bendungan yang ada di kelopak matanya hampir tumpah.
Alex memberinya dua buah apel, ia merebut apel nya seperti orang kesetanan, rasa lapar yang mendera membuat Leonor untuk melawan saya ia tidak punya tenaga selain pasrah.
Sekilas melihat bayangan Bimo, ia keluar menghampiri meninggalkan Leonor yang sibuk memakan apelnya.
"Ini informasi yang tuan butuhkan," Ucap Bimo menyerah sebuah map berisi data Leonor. Ia menerima dan segera membacanya.
"Namanya Agatha Leonor usia 22 tahun, ia gadis yang baik, ceria, penyayang, dan sopan sekali, ia bekerja di sebuah tokoh bunga yang ada di pinggir jalan, ia anak yatim piatu berasal dari panti asuhan kasih harapan, karena sering mengalami buli dari teman-teman sesama panti membuat Leonor akhirnya melarikan diri keluar dari tempat itu, tepatnya 4 tahun yang lalu tuan, "ucap Bimo, ia sebenarnya sedikit bersimpati dengan apa yang dialami oleh Leonor, ia tidak tahu apa-apa namun dipaksa mengakui apa yang tidak ia ketahui.
Seketika terbesit sedikit penyesalan dalam diri alex karena sudah berpersangka buruk terhadap Leonor. Namun ia mencoba menepis itu.
"Baiklah, kau boleh kembali" Ujar alex dengan wajah datar, tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan.
Bimo kembali meninggalkan nya dalam keheningan, 'semoga ia mau membebaskan Leonor,' gumam dalam hati.
Ia pun pergi meninggalkan ruangan tersebut, dengan perasaan tidak menentu, antara membebaskan atau tetap menjadi tawanan.
Masuk kedalam kamar dan menutup pintunya dengan membanting. Entah kenapa emosi tidak terkontrol saat ini, mengambil handphone menghubungi lara.
"Bersiaplah malam ini aku akan datang," Ucap nya, segera mematikan kembali handphone nya tesebut.
Alex membutuhkan pelampiasan untuk emosi yang tidak terkontrol ini, ia pun langsung menuju kamar mandi, ia berendam sesaat untuk merilekskan pikiran nya.
Alex selalu memakai wanita pemuas untuk memuaskan nya, ia selalu berhati-hati dengan tetap menggunakan pengaman.
***
Malam pun tiba, Alex segera pergi untuk menemui lara disebuah bar ternama dikota.
Memarkirkan mobilnya diparkiran, segera masuk kedalam, disambut dengan suara dentuman musik yang memekakkan telinga.
Ia menghampiri meja bartender kemudian duduk untuk menunggu seseorang.
"Vodka mix," Pintanya pada bartender, ia meneguk nya dalam satu kali tegukan, hingga meminta tambahan lagi.
Selang beberapa saat lara pun tiba, dengan pakaian seksi, mekup yang begitu tebal, berjalan ala model menghampiri alex dimeja.
"Aku minta maaf, karena membuat mu lama lama menunggu ku," Ucapnya sambil memeluk alex dari samping, namun dengan mode seperti biasa alex tetap dingin dan cuek, seakan-akan tidak tersentuh oleh apapun itu
"Hmm no problem," Balasnya.
Keduanya berjalan menuju kamar VIP yang tersedia, menghabiskan malam yang begitu panas dengan saling memuaskan nafsu satu sama lain.
***bersambung***
Maaf kalau masih banyak typo , author juga masih perlu banyak belajar...
Thankyou everyone and god bless ☺
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!