NovelToon NovelToon

Bahagia Setelah Bercerai

Permintaan

"Dek, umi sama abi, mengatakan kalo abang harus menikahi Aisyah, janda anak dua yang butuh pertolongan."

Ucap seorang laki-laki yang bernama Yusuf, seorang laki-laki yang terkenal dengan paham agamanya.

Sering kali, Karina dikatakan sangat beruntung, karena mempunyai suami seperti Yusuf, selama mereka menikah. Tidak pernah terdengar gosip apapun.

"Siapa wanita itu, bang?" tanya Karin dengan tenang.

"Aisyah, beliau seorang janda beranak dua, ditinggal mati suaminya, dan umi sama abi, meminta abang untuk menikahinya," jawab Yusuf.

"Katakan denganku, kenapa harus abang yang menikahinya?" tanya Karina.

"Karena abang yang akan mampu, menolong mereka," jawab Yusuf.

"Baiklah, kapan pernikahan akan dilangsungkan?" tanya Karina.

"Umi sama abi, menunggu keputusan adek, mereka tidak akan memaksa abang untuk menikahi Aisyah, kalo adek tidak setuju," jawab Yusuf.

"Malam ini, kita lamar Aisyah," kata Karina.

Mendengar itu, Yusuf sangat kaget, karena tidak ada penolakan dari istrinya.

"Adek serius? Tidak berfikir dulu?" tanya Yusuf.

"Untuk apa dipikirkan, sedangkan abang maukan menikah dengan Aisyah?" tanya Karina.

Yusuf hanya mengangguk, karena ia juga ada kepikiran untuk mempunyai istri lebih dari satu.

Pernikahan Karina dengan Yusuf sudah menginjak tujuh tahun lamanya, tapi kehidupan rumahtangga mereka sepi, karena tidak kunjung mempunyai anak.

Yusuf ataupun keluarganya tidak mempermasalahkan itu semua, karena mereka paham, mempunyai seorang anak tidak bisa dipaksakan.

Setelah mengabari istrinya, Yusuf bergegas kembali kerumah keluarganya, dia akan memberitahu kalo Karina sudah setuju dengan keputusannya.

"Selama menikah, hampir tujuh tahun, ini yang aku tunggu," ucap Karina tersenyum.

"Setelah melihat mereka menikah, aku bisa lepas dari dia, karena aku sudah muak dengan sikapnya yang selalu paling benar."

"Untung saja aku tidak bocor, tidak mempunyai anak dari dia."

Selama tujuh tahun menikah, Karina selalu meminum pil KB, agar ia tidak hamil. Karena pernikahan ini bukan impiannya.

Karina hanya menuruti keinginan kedua orangtuanya, agar menikah dengan Yusuf.

Karina berjanji kepada dirinya sendiri, suatu saat nanti ia akan bercerai dengan Yusuf, setelah kedua orangtuanya tiada, egois, tapi itulah keinginan Karina.

Setidaknya, Karina pernah membahagiakan kedua orangtuanya, dengan menuruti keinginan mereka.

Setahun yang lalu, sang ayah meninggal, dan beberapa bulan yang lalu, sang ibunda meninggal. Pada saat itu, perasaan Karina campur aduk, antara sedih karena dirinya sudah tidak mempunyai siapapun lagi, tapi disisi lain ia senang, karena ia akan memutuskan bercerai dari suaminya.

Hampir 7tahun lamanya, Karina menahan rasa egonya, hanya karena tidak ingin orangtuanya kecewa.

Menjalani pernikahan yang bukan keinginannya, cukup membuatnya tertekan.

Karina tersenyum penuh kebahagiaan, karena ia bisa lepas dari suaminya, Karina bisa membuat alasan untuk bercerai dengan Yusuf.

"Keluarga ini sebenarnya sangat toxic, mereka selalu memakai topeng, saat bertemu dengan orang lain."

Karina cukup hafal dengan suaminya, yang selama ini selalu bersikap seperti seorang manusia yang alim.

Karina duduk, menunggu suami dengan keluarganya datang kerumah, untuk membicarakan tentang pernikahan kedua Yusuf.

"Ceklek."

"Umi, abi, ayok masuk," ajak Karina tersenyum.

"Umi dengan abi kesini, hanya ingin menanyakan sesuatu denganmu," ucap umi Lilis.

"Silahkan umi," jawab Karina tersenyum.

"Apa kamu benar, mengizinkan Yusuf menikahi Aisyah?" tanya umi Lilis.

"Benar umi, aku mengizinkannya," jawab Karina dengan tenang.

Tidak ada perasaan sakit dalam hati Karina, karena ini semua yang ia inginkan selama ini.

"Apa kamu sudah mantap dengan keputusanmu?" tanya umi Lilis memastikan.

"Sudah umi, karena sedari awal, aku selalu meminta bang Yusuf, agar menikah lagi," jawab Karina.

"Yusuf, ternyata kamu tidak gagal mendidik istrimu, lihatlah dia, sangat shalihah sekali," ujar umi Lilis.

"Aku yang berbuat baik, kenapa suamiku yang dipuji, padahal meskipun sudah menikah, aku tetap aku," gumam Karina kesal.

"Karina, bagaimana rencana pernikahan Yusuf?" tanya Umi Lilis.

"Terserah kalian saja, tapi menurutku, lebih cepat, lebih baik," jawab Karina tersenyum.

"Kamu benar, kalo dilama-lamakan, takut ada fitnah," kata Umi Lilis.

Karina hanya tersenyum, menanggapi rencana mereka semua, yang akan menikahkan Yusuf dengan janda beranak dua.

"Karina, umi tanya sekali lagi, apa kamu yakin, memberikan izin Yusuf, menikah lagi?" tanya umi Lilis memastikan.

"Yakin umi," jawab Karina dengan senyuman manisnya.

"Bang Yusuf, apa niatmu menikahi mbak Aisyah?" tanya Karina, menatap suaminya dengan intens.

"Karena ibadah, aku ingin menolongnya," jawab Yusuf.

"Menolong, bukan berarti harus dinikahi kan bang?" ucap Karina, menjebak Yusuf.

"Eeee, a-anu.." jawab Yusuf gugup.

"Bilang saja, kau suka dengan selangkangan," gumam Karina tersenyum sinis.

Tetapi, tidak masalah bagi Karina.

Karina sudah muak dengan kehidupan pernikahannya, hampir 7tahun. Karina menahan rasa sakitnya, dan ia selalu menjalani kewajibannya, meskipun terpaksa, tapi satu orangpun tidak ada yang tahu, bagaimana perasaanya.

Semua orang selalu berkata, "Karina sangat beruntung sekali, mendapatkan suami seperti ustad Yusuf."

Tetapi kenyataannya, ia sangat tertekan dengan sikap Yusuf.

Karina mengakui, kalo suaminya sangat baik, tetapi tidak kepada dirinya. Itulah kehidupan, jangan pernah melihat orang dari luarnya.

Setelah mereka membicarakan untuk lamaran nanti malam, akhirnya umi Lilis izin akan pulang, untuk menyiapkan barang bawaan nanti malam.

"Bang, aku mempunyai satu syarat denganmu," ucap Karina.

"Syarat apa? Akan abang penuhi," jawab Yusuf tersenyum.

"Tidak banyak, dan tidak ribet," jawab Karina.

"Abang tandatangi surat-surat ini."

Karina memberikan sebuah lembaran kertas, meminta Yusuf agar mentandatanganinya.

"Apa ini, dek?" tanya Yusuf bingung.

"Ini surat untuk pernikahan abang, biar abang menikah resmi secara negara, jadi kalian mempunyai buku nikah," jawab Karina.

"Jadi ini untuk tandatadangan persetujuan kedua belah pihak, nanti akan aku berikan kepihak KUA," lanjut Karina.

Tidak banyak menunggu lama, setelah mendengar penjelasan Karina, Yusuf langsung melakukan permintaan Karina.

"Entah terbuat dari apa hatimu, sayang. Begitu mulianya hatimu," ucap Yusuf penuh haru.

"Karena aku tidak pernah mencintaimu, selama ini aku bertahan karena kedua orangtuaku," gumam Karina.

"Abang mencintaimu," ucap Yusuf.

Karina hanya membalas dengan senyuman, sudah cukup, selama ini ia berpura-pura mencintai suaminya, kini akan ia selesaikan semua permasalah hidupnya.

"Bang, kalo semisal, abang kehilangan aku, bagaimana?" tanya Karina iseng.

"Tidak bisa dijelaskan, yang pasti abang akan sangat terluka, karena adek mempunyai ruang spesial dalam hati abang," jawab Yusuf tersenyum.

Karina tidak munafik, ia mengakui kebaikan suaminya kepada kedua orangtuanya dulu, tetapi Yusuf sangat pelit, bahkan Karina hanya diberi uang lima ribu.

Yusuf seorang ustad muda, yang sering dipanggil berdakwah kemana-mana, uangnya banyak. Tetapi ia jarang memberikan uang pada Karina.

Karena Yusuf selalu berkata, "Istri tidak boleh memegang uang, karena diam dirumah."

"Aku ingin segera lari dari masalah ini, sudah cukup menahan segalanya, mentalku menjadi korban."

Setiap malam, Karina akan selalu menangisi dirinya, ia kasihan dengan dirinya.

***

Melamar wanita lain, untuk suamiku

Karina tersenyum, melangkahkan kakinya kedalam rumah Aisyah, wanita yang akan menjadi istri kedua suaminya.

"Kamu sudah tahu kan, niat kedatangan kami kesini?"

Karina membuka percakapan diantara mereka, karena dia tidak mau banyak basa basi.

"Sudah mbak, tadi sore, mas Yusuf mengabari aku," jawab Aisyah tersenyum.

Wanita anggun dan cantik, janda beranak dua. Setelah kepergian suaminya, tak pernah ada gosip tidak enak dari Aisyah, karena ia bisa menjaga dirinya. Mungkin!

"Baiklah, aku melamarmu, untuk kujadikan istri kedua suamiku."

Bibir indahnya tersenyum, kala mengatakan itu.

Aisyah tersenyum, menerima lamaran Yusuf.

Karina menyematkan cincin dijari Aisyah, sebagai syarat kalo mereka sudah bertunangan.

"Umi, abi, bang Yusuf. Aku mau bicara berdua dengan Aisyah dulu," ucap Karina.

"Tenang saja, tidak akan aku jambak calon istrimu."

Ucap Karina tersenyum, karena melihat mimik wajah mereka cemas.

"Baiklah, abang tunggu disini," kata Yusuf.

Karina tersenyum, lalu membawa Aisyah keluar dari ruangan itu, yang dihadiri keluarga masing-masing.

"Ada apa, mbak?" tanya Aisyah bingung.

"Jangan cemas, aku tidak akan menyakitimu," ujar Karina.

"Bukan seperti itu mbak..." ucap Aisyah terpotong.

"Sudah, jangan banyak bicara! Ada satu hal yang mau aku tanyakan denganmu," ujar Karina dengan senyuman menyeringai.

"Pertanyaan apa, mbak?" tanya Aisyah bingung.

Karina membuka ponselnya, lalu memberikan sesuatu kepada Aisyah.

Dengan perasaan bingung, Aisyah mengambil ponsel Karina.

Saat ia melihat foto itu, Aisyah menutup mulutnya kaget, karena ia pikir. Tidak akan ada yang tahu, pekerjaannya.

"Sebenarnya malas sekali aku menanyakan hal yang tidak penting seperti ini, karena ini bukan ranahku," kata Karina.

"Mbak mendapatkan dimana foto ini?" tanya Aisyah penasaran.

"Tidak penting, aku mendapatkan fotomu dari mana, tapi satu hal yang aku ingin katakan denganmu," jawab Karina.

"Sebentar lagi, kamu akan menjadi istri bang Yusuf, jangan lupakan kalo dia seorang ustad muda, terkenal dengan faham agama. Bagaimana kalo semua orang tahu, kalo istri mudanya seorang pelacur."

Karina memang sudah curiga dengan sikap suaminya beberapa bulan ini, meskipun Karina tidak pernah mencintai suaminya, tetapi ia penasaran. Dengan apa yang Yusuf sembunyikan.

Dan Karina menemukan sebuah chat Yusuf dengan Aisyah, beberapa hari yang lalu, permintaan Yusuf untuk menikahi Aisyah karena ingin menolongnya cuman dalih, sebenarnya mereka sudah dekat dari bbrpa bulan yang lalu.

Karina tidak tahu, sudah sejauh mana hubungan Yusuf dengan Aisyah, karena ia tidak terlalu penasaran dengan hal itu.

"Mbak, tolong jangan katakan ini dengan bang Yusuf, aku takut, kalo bang Yusuf akan meninggalkan aku," pinta Aisyah.

"Aku tidak akan mengatakan apapun dengan bang Yusuf, tapi aku pinta. Setelah kamu menikah dengan bang Yusuf, kamu harus berhenti dari pekerjaanmu," kata Karina.

"Aku akan berubah, mbak. Tidak akan bekerja seperti itu lagi," jawab Aisyah.

"Aku pegang janjimu, jangan memalukan keluarga bang Yusuf," kata Karina.

Aisyah mengangguk, meskipun ia kesal dengan sikap Karina, tapi dia harus menahannya.

"Lihat saja, aku akan menguasai bang Yusuf," gumam Aisyah.

"Kamu dikenal sebagai janda terhormat, namamu sangat bagus, tetapi kelakuanmu diluar nalar," ujar Karina.

"Tapi aku tidak peduli, karena itu urusanmu dengan Tuhan," lanjut Karina, dia tidak mau ikut campur terlalu dalam, Dengan kehidupan orang lain.

"Lalu, kenapa mbak rela dimadu?" tanya Aisyah.

"Tidak ada alasan yang kuat, aku hanya ingin suamiku bahagia," jawab Karina tersenyum.

Karina tidak akan mengatakan dengan siapapun, kalo dirinya tidak pernah menginginkan pernikahannya.

"Bagaimana kalo setelah menikah denganku, bang Yusuf lebih mencintaiku?" tanya Aisyah.

"Tidak jadi masalah, urusan hati tidak ada orang yang tahu," jawab Karina tersenyum.

"Lalu, bagaimana kalo aku langsung hamil, setelah menikah?" tanya Aisyah.

"Aku akan ikut bahagia, karena itu yang bang Yusuf tunggu, seorang anak," jawab Karina, lagi lagi ia tersenyum.

"Aku mengizinkan suamiku menikah lagi, pasti ada alasan yang jelas, dan hanya aku dan Tuhan yang tahu."

Karina tidak pernah banyak bicara, dia selalu mengikuti arah takdirnya kemana.

"Setelah menikah, uruslah surat-surat pernikahan kalian, agar kalian menikah resmi secara negara," kata Karina.

"Bagaimana bisa? Aku hanya istri kedua," jawab Aisyah.

"Aku yang akan membantumu, aku akan mengatakan kalo pernikahan kalian, atas izinku. Istri pertama," ucap Karina.

Niat jahat dalam diri Aisyah, seketika hilang, saat tahu kebaikan Karina, istri pertama laki-laki yang akan menikahinya.

"Bagaimana bisa, mbak seikhlas itu?" tanya Aisyah penasaran.

"Hidup itu bukan tentang bagaimana caranya kita bahagia, tapi tentang. Bagaimana caranya kita menerima luka."

"Ikhlas, bukan berarti tidak terluka."

Jawaban Karina, seketika membuat Aisyah menundukan kepalanya.

"Kamu cuman paham, bagaimana cara menyenangkan seorang laki-laki, tapi tidak tahu, bagaimana perasaan wanita yang menunggu suaminya pulang," ucap Karina.

"Sudahlah, jangan membahas itu. Kita kembali kedalam," ajak Karina.

"Tapi, mbak..." ucap Aisyah terpotong.

"Tenang saja, aku tidak akan terluka karena itu," ujar Karina tersenyum.

"Ayok, kita sudah terlalu kama disini," ajak Karina.

Aisyah menuruti ajakan Karian, ia kembali kedalam, karena acara belum selesai.

Aisyah kembali duduk, disebelah keluarganya, sedangkan Karina didekat suaminya.

"Tenang saja, aku tidak menyakiti calon istrimu, bang," bisik Karina.

Yusuf hanya terdiam.

Karina tersenyum simpul, tidak ada raut wajah sedih.

"Kehidupan baru akan dimulai, aku akan meninggalkan kota ini, dan akan memulai hidup sendiri," gumam Karina tersenyum.

Acara lamaran telah selesai, kini mereka pulang kerumahnya masing-masing.

"Dek, abang mau tanya, boleh?" tanya Yusuf.

"Boleh bang, mau menanyakan apa?" ucap Karina.

"Seminggu yang lalu, aku ada dakwah di desa kamu, dan bertemu dengan tetanggamu, katanya kamu menjual rumah, dan semua aset ibu, bapak?" kata Yusuf.

"Iya bang, lagian juga kan, untuk apa rumah itu, kalo untuk aset, aku juga sudah menjualnya, semua harta orangtuaku sudah aku jual, dan uangnya sudah aku tabungkan," jawab Karina.

"Kenapa tidak bilang sama abang?" ucap Yusuf.

"Untuk apa? Abang tidak mempunyai hak apapun, dalam harta itu. Jadi aku bebas melakukannya," jawab Karina.

"Memang, abang tahu, tapi setidaknya kasih tahu abang, supaya abang tahu," kata Yusuf.

"Semuanya sudah terjadi, jangan dibicarakan lagi," ujar Karina tersenyum.

"Yasudah, abang cuman menanyakan saja," kata Yusuf.

Karina hanya tersenyum.

"Aku mau mandi dulu, bang," kata Karina.

"Yasudah," jawab Yusuf.

Karina masuk kedalam kamarnya, ia akan mengganti bajunya dulu, dan ia akan membersihkan tubuhnya.

Karina masuk kedalam kamar mandi, tubuhnya ambruk, air shower membasahi tubuhnya.

Karina memeluk lututnya.

"Kesucianku sudah aku berikan kepada laki-laki yang tidak aku cintai, meskipun sudah menjadi suamiku. Dan aku kehilangan diriku."

"Hampir 7tahun lamanya, aku menunggu momen seperti ini, dimana aku bisa lepas dari hubungan yang tidak pernah ia inginkan."

***

Pernikahan kedua

Dua minggu kemudian...

...

"Saya terima nikah dan kawinnya, dengan seperangkat alat shalat dibayar tunai..."

"Bagaimana para saksi?"

"Sah.."

Terdengar lantang, suara Yusuf. Dia sudah resmi menjadi suami dari dua istri sekaligus.

Karina tersenyum lebar, dia merasa ini awal dari kebahagiaannya.

Karina tidak peduli, dengan omongan orang lain, yang memberikan izin Yusuf menikah lagi.

Sebagian orang ada yang salut, dan memuji Karina, tetapi sebagian orang lagi, menyinyir Karina.

"Pantas saja di izinkan menikah, dia kan mandul. Sudah lama menikah, tapi tidak bisa memberikan anak untuk suaminya.."

Karina abai dengan gosip itu, karena itu tidak benar. Karina lah yang memilih untuk tidak mempunyai anak, agar tidak ada korban atas keputusannya.

Keputusan Karina menunda mempunyai anak, sampai ia diam-diam selalu meminun pil KB, ada baiknya.

"Selamat bang, semoga rumahtangga abang dengan Aisyah bahagia, sakinah mawadah warahmah.."

Dengan senyuman anggunnya, Karina memberikan selamat kepada suaminya, tidak ada rasa sakit dalam hati Karina, karena itu memang keinginannya.

Selama ini Karina diam, tetapi banyak rencana di kepalanya, tanpa siapapun yang tahu, hanya dirinya.

"Terima kasih, mbak. Semoga kita menjadi madu yang saling sayang," ucap Aisyah tersenyum.

Karina hanya membalas dengan anggukan, dan senyuman. Karena ucapan Aisyah tidak akan pernah terjadi.

"Terima kasih dek, sudah ikhlas, abang menikahi Aisyah," ucap Yusuf terharu.

Yusuf mengira, kalo Karina sangat mencintainya, karena mengizinkan dirinya menikah lagi, dan lebih bahagia.

"Sama-sama bang, bahagialah. Barang kali, selama menikah denganku, abang tidak pernah bahagia," jawab Karina tersenyum.

Sepanjang acara pernikahan Yusuf, senyuman Karina terpancar, seolah-olah ia sangat bahagia dengan pernikahan kedua suaminya.

"Abang bahagia, kita akan selalu bahagia," kata Yusuf tersenyum.

"Yasudah, enjoy dengan waktu kalian berdua, aku mau menjamu tamu dulu," ucap Karina.

Karina turun dari pelaminan, ia melihat suaminya tersenyum sumringah diatas pelaminan, dengan istri keduanya.

"Karina, kenapa kamu mengizinkan suamimu menikah lagi, memangnya kamu ridho diduakan?" tanya seorang wanita paruh baya itu.

"Aku ridho bi, makanya aku mengizinkan bang Yusuf menikah lagi," jawab Karina.

"Tidak masuk akal, karena selama ini, bibi melihat rumahtanggamu bahagia, dan tidak pernah terdengar gosip apapun," ucap bi Mawar, adiknya umi Lilis.

"Bi, apa yang aku perlihatkan itu, atas izinku, hal yang pantas di perlihatkan, jadi orang lain tidak akan pernah melihat saat aku babak belur," jawab Karina.

Bi Mawar menghela napasnya, selama ini ia memang sangat baik dengan Karina.

"Apa selama ini, Yusuf memperlakukanmu tidak baik?" tanya bi Mawar.

"Memangnya kenapa, bi?" ucap Karina.

"Bibi memang selalu melihatmu ceria, kelihatannya bahagia, tapi matamu tidak bisa bohong, kamu menyimpan banyak luka batin," ujar bi Mawar.

"Begitulah hidup bi, kalo kita tidak bisa menyikapi kehidupan, maka kita akan gila," jawab Karina.

"Bukan itu, jawaban yang bibi inginkan, Karina," ujar bi Mawar.

"Kalo aku tidak bahagia, selama ini. Apa bibi akan menyalahkan aku, karena aku tidak bersyukur?" tanya Karina.

"Sejak kapan, kalo kita tidak bahagia, menjadi patokan tidak bersyukur?" ucap bi Mawar.

Karina menghela napas berat.

"Kedua orangtuamu, belum lama meninggal, dan sekarang kamu melihat suami kamu menikah lagi, apa hatimu sekebal itu?" tanya bi Mawar.

"Bibi, ada-ada saja," ujar Karina tersenyum.

"Disini terlalu ramai, ayok kita bicara dibelakang," ajak bi Mawar.

"Untuk apa bi? Disini juga tidak apa-apa," jawab Karina.

"Ayok ikut saja, nanti ada yang mendengar perbincangan kita," ujar bi Mawar.

Bi Mawar menarik tangan Karina, dengan terpaksa, Karina mengikuti bi Mawar.

Selama ini, Karina lebih dekat dengan bi Mawar, dibandingkan dengan mertuanya.

"Ada apa bi? Kenapa membawaku kesini?" tanya Karina.

"Duduklah," titah bi Mawar.

Karina duduk, dengan perasaan bingung.

"Aku tahu, bagaimana kakaku, ataupun suamimu, jadi kamu tidak perlu menutupi kelakuan mereka," ucap bi Mawar.

"Maksud bibi, apa?" tanya Karina bingung.

"Kau memang pandai sekali, menutupi luka," ujar bi Mawar.

Karina hanya tersenyum.

"Bibi tidak akan menanyakan bagaimana sikap suami dan juga mertuamu selama ini, karena bibi paham bagaimana mereka," ucap bi Mawar.

"Yang mau bibi tanyakan, kenapa kamu mengizinkan suamimu menikah lagi dengan janda gatal itu," lanjut bi Mawar.

"Bibi tahu dari mana, Aisyah janda gatal?" tanya Karina penasaran.

"Di desa sebelah, sudah ramai," jawab bi Mawar.

Karina hanya mengangguk, karena ia juga tidak terlalu kepo dengan urusan orang lain.

"Jadi, apa alasanmu, menikahkan suamimu?" tanya bi Mawar lagi.

"Tidak ada alasan lain, selain, ingin sekali melihat bang Yusuf bahagia," jawab Karina tersenyum.

Karina tidak mau, ada orang yang mengetahui perasaannya selama ini, cukup dirinya yang tahu.

"Tidak masuk akal, seorang istri yang cinta dengan suaminya, tidak akan mengizinkannya menikah lagi," ujar bi Mawar, dia tidak percaya dengan jawaban Karina.

Mendengar itu, Karina hanya tertawa.

Tetapi Karina enggan untuk mengatakan apapun, karena akan membuat situasinya lebih buruk.

"Kamu tidak percaya dengan bibi? Selama ini kamu selalu bersama bibi," ucap bi Mawar.

"Aku percaya dengan bibi, aku sayang juga. Tetapi memang benar, tidak ada alasan lain, selain ingin melihat bang Yusuf bahagia," kata Karina tersenyum.

"Hampir 7tahun, kamu hidup di lingkungan keluarga ini, dan akulah yang paling dekat denganmu, karena keluarga yang lain, tidak setuju dengan pernikahanmu dan Yusuf," ucap bi Mawar.

"Aku tahu bi, sebagian keluarga bang Yusuf, selalu menyindirku, mandul," ujar Karina.

"Tapi, tidak pernah aku masukan kedalam hatiku, aku ikhlas dengan segala ucapan mereka," lanjut Karina.

Bi Mawar menatap Karina.

"Kamu benar, tidak ada yang disembunyikan?" tanya bi Mawar lagi.

"Benar bi, kalo ada apa-apa, pasti aku cerita sama bibi," jawab Karina tersenyum.

"Yasudah kalo gitu, kita kembali kedalam," ajak bi Mawar.

Karina mengangguk, lalu mereka berdua kembali kedalam hotel, acara pernikahan sangat meriah, dengan di hadiri banyak ustad dan kiya'i.

Lagi, dan lagi. Karina melihat suaminya, tersenyum sumringah diatas pelaminan, bersama istri keduanya.

"Aku harus segera meninggalkan acara ini, dan harus segera berkemas," gumam Karina.

Karina menghela napas, lalu dia berjalan kearah pelaminan.

"Bang Yusuf," panggil Karina.

"Ada apa, dek?" tanya Yusuf.

"Aku mau pulang duluan, ya. Soalnya aku tidak enak badan," ucap Karina.

"Mau abang antarkan pulang?" tanya Yusuf.

"Tidak usah, aku pulang sendiri. Lagian ini acara kamu, bang," jawab Karina tersenyum.

"Kamu yakin?" tanya Yusuf.

"Aku yakin, bang," jawab Karina.

"Baiklah, hati-hati di jalan, ya. Kalo ada apa-apa kabarin abang," ucap Yusuf.

Karina mengangguk tersenyum.

"Untuk dua minggu kedepan, mas Yusuf akan tinggal bersamaku," sahut Aisyah.

"Iya, aku paham ko," jawab Karina.

Sebelum Karina pergi, Aisyah menarik tubuh Karina, agar mereka saling memeluk.

"Akan aku pastikan, mas Yusuf akan betah denganku, dan posisimu akan tergeser," bisik Aisyah.

Karina hanya tersenyum, ia tidak mau meladeni Aisyah.

***

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!