Seorang wanita dengan postur badan yang mungil dan sedikit kurus membawa koper sambil memainkan handphone nya ditengah jalan. Seperti sedang menunggu seseorang. Membuat angkot yang berlalu lalang selalu berhenti dan menawarkan tumpangan.
Tetapi wanita itu hanya tersenyum dan mengangkat tangan nya. Jawaban nya adalah tidak. Dia menolak tumpangan karena dia menunggu yang lain.
Tepat dia selesai menolak tawaran angkot yang pergi. Mobil avanza berwarna hitam berdiri pas di depannya. Kaca jendela mobil depan sebelah supir terbuka dan menyembulkan kepala pria yang tersenyum ke arahnya.
"Maaf yaa Vi.. Telat sedikit,"ucap Pria yang langsung turun dari mobil.
"Iyaa gak apa apa, ga buru buru juga kan,"jawab wanita itu lalu menyimpan handphone nya.
Pria itu mengambil koper sang wanita lalu memasukkan nya ke bagasi mobil. Lalu dia mempersilahkan wanita itu duduk di tengah kursi mobil yang sudah ia buka pintunya.
"Makasih ya Dam."
"Sama sama Vi."
Setelah memastikan wanita itu duduk nyaman. Pria itu langsung membuka pintu depan sebelah supir dan mobil pun membawa mereka pergi dari sana.
"Kita naik apa kesana?"tanya wanita itu kepada sang pria di depan nya sambil melihat arah depan.
"Naik bus sekitar 10 jam mungkin sampai disana."
Wanita itu hanya mengangguk lalu menyenderkan tubuhnya kembali ke kursi. Dia memejamkan matanya yang lelah karena pertengkaran semalam.
Wanita itu sebut saja namanya Vikayla Marino. Dia seorang janda anak satu yang baru saja resmi bercerai. Umurnya baru menginjak kepala tiga. Belum terlalu tua tapi pernikahan nya sudah gagal.
Bagaimana tidak, rumah tangga yang dia bina banyak campur tangan keluarga entah dari pihaknya maupun pihak mantan suaminya. Dia sudah jengah dan mental nya sudah terkuras. Kesabaran nya juga sudah habis. Bahkan dia hampir gila kalau tidak ada sahabat sahabatnya yang mendukungnya.
Pria di depan sebelah supir sebut saja namanya Damian Erlangga. Dia sahabat jaman SMA Vikayla. Mereka sampai sekarang masih menjalin hubungan persahabatan sudah menjadi persaudaraan.
Vikayla bersyukur mempunyai sahabat sahabat yang perduli dengan hidup nya yang tragis. Mereka selalu mensuportnya sampai membantu finansial keuangan nya.
Saat ini Vikayla sedang menuju sebuah kota yang di sebut orang kota ukir. Yaitu kota Jepara Jawa Tengah. Dia sedang memperbaiki mentalnya karena kalau dia bertahan di Jakarta bisa bisa dia gila.
Karena lingkungan dia berada sangatlah toxic. Keluarga atau pun tetangga nya sama saja. Dan itu membuat mentalnya terganggu.
Mobil sudah sampai di sebuah terminal antar kota yang megah. Mereka turun dan menuju lantai atas dimana mereka akan membeli tiket bus untuk mencapai kota Jepara.
Setelah pembayaran selesai, mereka menuju kursi tunggu penumpang. Karena diperkirakan bus akan tiba tiga puluh menit lagi. Vikayla dan Damian pergi bergantian ke toilet hanya sekedar pipis atau mencuci muka mereka yang suntuk.
Setelah semua selesai. Mereka kembali duduk di bangku tunggu. Vikayla memainkan handphone nya lalu menatap foto di layar. Tiba tiba air matanya jatuh melihat foto sang anak.
Damian yang di sampingnya ikut terharu dan merasakan apa yang dirasakan Vikayla. Dia mengelus punggung Vikayla untuk menenangkan nya.
"Gue ga tahu Dam, gue bisa hidup tanpa anak gue atau ga. Gue ga tahu nanti gue kangen dia atau ga. Gue sebenernya mau bawa. Tapi lo tahu kan Mama gue sikap nya gimana. Apalagi di dukung bokap tiri gue,"ucap Vikayla sambil terisak.
"Yaa Vi gue paham banget. Tapi sekarang yang lo butuhkan adalah ketenangan jiwa dan pikiran. Nanti kalau lo udah sembuh. Mental lo udah baik kan lo bisa balik lagi kesini. Atau lo bisa bawa anak lo,"ucap Damian menenangkan Vikayla.
Vikayla hanya bisa mengangguk pasrah. Yaa dia sedang mengalami trouma psikis yang cukup parah. Untung nya kepedulian sahabat sahabatnya membuatnya mampu bertahan. Tanpa harus bertindak bodoh seperti bunuh diri atau membunuh.
Vikayla hanya berharap hilang troumanya saat dia jauh dari lingkungan nya yang toxic.
Tiga puluh menit mereka menunggu. Tepat jam delapan pagi bus yang mereka tuju datang. Dibantu kondektur pihak agen bus, mereka berjalan menuju bus. Setelah mendapat tempat duduk. Mereka sibuk dengan handphone masing masing. Sampai bus berangkat dan meninggalkan kota kelahiran Vikayla. Yaitu kota Jakarta.
...----------------...
Perjalan ke kota Jepara memakan waktu kurang lebih sepuluh jam. Saat siang, bus mereka menepi terlebih dahulu di salah satu tempat makan.
Vikayla dan Damian beranjak dari kursi dan memasuki tempat makan. Mereka memberikan kupon makan pada kasir lalu mengambil piring yang sudah disediakan.
Karena tidak sarapan mereka sangat lapar sampai mengambil banyak nasi dan lauk.
"Ini ga apa apa kan? kayaknya terlalu banyak deh Dam,"ucap Vikayla menatap piring yang di bawanya.
"Ga apa apa kali. Kan udah dapat gratis makanan. Makan aja sepuas lo. Yuk kita duduk gue udah laper banget ni."
Damian langsung pergi mencari meja kosong. Dia membawa piring makanan dan teh hangat dan dia letakkan di meja yang tersedia. Begitupun dengan Vikayla yang sudah duduk di depan nya.
Mereka maka dengan lahap seperti orang kelaparan. Setelah itu mereka duduk sebentar sambil menunggu panggilan dari kondektur bus.
"Gimana Vi, untuk rencana lo nanti di kota Jepara?"tanya Damian yang sedang menyalakan rokok nya.
Vikayla menggeleng sambil menyeruput teh nya yang masih tersisa. "entah lah Dam. Gue bingung liat nanti aja lah. Semoga Zefran ada jalan keluar buat gue. Dan semoga gue betah disana."
"Yaa semoga aja lo betah deh. Lagian Zefran punya perusahaan disana. Lo minta lowongan aja sama dia. Sambil kerja lo kumpulin duit. Buat nanti bisa ambil anak lo dan tinggal bareng anak lo."
"Ide lo boleh juga. Iya sih. Gue harus fokus sekarang. Yang gue utamain adalah anak gue. Biar bisa cepat gue ambil. Ga tenang hati gue Dam kalau jauh dari anak."
Damian mengangguk dan tersenyum "siapa sih yang bisa jauh dari anak Vi. Namanya seorang Ibu pasti selalu mikirin anaknya."
Mereka pun berhenti mengobrol karena kondektur dan supir bus sudah memanggil penumpang. Bahwa bus akan berjalan kembali.
Setelah makan pun mereka masih mendapatkan cemilan. Karena sudah kenyang mereka menyimpan nya dan kembali tidur karena mereka masih mengantuk.
...----------------...
Setelah menempuh jarak kurang lebih sepuluh jam lamanya. Akhirnya tepat menjelang maghrib mereka tiba di kota ukir Jepara. Suasananya sangat sejuk kala itu.
Mereka menunggu sahabat mereka yang akan menjemput. Sambil menunggu mereka memutuskan untuk makan di salah satu kedai tepi jalan.
Setelah makan lima belas menit kemudian jemputan mereka tiba. Mobil pajero sport warna hitam berhenti tepat di depan kedai. Mereka keluar dari kedai dan menyambut sahabat mereka yang bernama Zefran Achmad.
Zefran membawa adik nya yaitu Echa Achmad. Yang langsung memeluk Vikayla.
"Hallo Kak Vika... Gimana perjalanan nya?"ucap Echa setelah melepas pelukan nya.
"Lumayan lama juga ya. Aku di bus tidur terus. Ngantuk banget."
"Yaa memang jauh jarak Jakarta ke Jepara. Selamat datang yaa Kay.,"ucap Zefran sambil tersenyum.
"Yaudah yuk Bang kita pulang. Kasian Bang Damian sama Kak Vika capek."
Mereka pun masuk ke mobil Zefran meninggalkan kedai makan.
...----------------...
Keesokan harinya Vikayla telah bangun pagi pagi sekali. Dia sudah repot di dapur membuatkan sarapan untuk Echa, Zefran dan Damian.
Dia suka sekali memasak meskipun dirumah jarang ada yang memuji masakan nya. Padahal masakan Vikayla sangat lah enak. Dia mewarisi bakat masakan dari Mamanya. Hanya saja tidak diakui keluarga nya.
Bukan nya diakui hebat atau pintar masak. Maah di komplain kurang ini dan itu. Membuat nya malas masak lagi. Karena di cela terus masakan nya.
Setelah selesai membuat sarapan nasi goreng sosis plus telor ceplok. Dia membuat kopi untuk dua orang dan dua teh manis hangat.
Aroma masakan nya tercium sampai lantai dua. Echa yang lebih dulu turun karena dia yang seharusnya menyiapkan makanan. Tapi semalam dia menonton serial drakor kesukaan nya jadi bangunnya kesiangan.
"Wah... Aku keduluan Kak Vika ni..,"sapa Echa yang sudah masuk ke dapur.
Dia melihat meja makan sudah rapi dengan hidangan masakan. Aromanya pun membuat perutnya ingin teriak minta diisi.
"Maaf ya Cha, aku pinjam dapurnya. Aku lagi pengen masak aja Cha,"ucap Vikayla yang sudah duduk manis di kursi.
Echa hanya tersenyum menangapinya. Dia menggangguk pula lalu ikut duduk bersama Vikayla.
Tidak lama Zefran dan Damian pun datang. Mereka sudah rapi dengan pakaian nya.
"Loh Dam lo mau kemana??"tanya Vikayla bingung.
"Gue mau ikut Zefran dulu. Ada urusan. Wah pas banget ni pagi pagi udah ada sarapan,"ucap Damian tersenyum menatap hidangan di meja.
"Iya ni Bang, Kak Vika yang buat dari tadi. Cobain deh enak loh masakan nya,"tawar Echa yang sudah lebih dulu mengunyah.
"Aduh Kay, lo repot amat sih. Kan biasanya Echa yang masak. Ga usah repot lo kan disini liburan. Jangan kecapean loh,"kata Zefran yang ga terima Vikayla masak.
"Ga apa Zef, gue ga merasa direpotin kok. Gue lagi pengen masak aja. Gimana masakan gue? Jadi selera kalian ga?"tanya Vikayla
Dia takut kalau makanan nya tidak berselera di lidah masing masing. Meskipun tadi Echa sudah bilang enak.
"Enak Vi. Emm.. Mantap.. Pedesnya pas, asinnya pas, manisnya pas... Mantap,"ucap Damian mengacungkan jempol.
Mereka semua tertawa melihat kelakuan Damian yang sudah seperti koki di acara kuliner.
"Kalian dirumah dulu ya, gue sama Damian punya urusan di luar. lagian kan ni hari minggu. Ajak aja Vikay jalan Dek,"kata Zefran sambil meminum kopinya.
"Siap abangku..,"ucap Echa yang mengangkat jempolnya.
Mereka pun menghabiskan tanpa ngobrol lagi lalu Damian dan Zefran pergi setelah sarapan nya ludes di makan mereka.
...----------------...
Vikayla merasa sedih setelah sholat Ashar. Dia teringat anak nya yang berada di Jakarta. Anak yang dia rawat selama dua tahun. Anak yang tampan dan lucu. Lagi benar benar lucu banget.
Tega ga tega dia meninggalkan nya bersama kedua orangtuanya. Karena dia tidak ada pilihan lain. Di otaknya dia hanya ingin pergi dari orang toxic untuk memperbaiki mentalnya.
Sebenarnya Damian dan Zefran tidak pernah melarang dia membawa anaknya. Tetapi Vikayla bukan tidak ingin, hanya dia tidak bisa mendapatkan masalah untuk sahabat yang menolongnya saat ini. Apalagi kondisi mental nya yang hancur saat ini.
Dia di vonis mengalami depresi akut oleh Dokter Dewi. Seorang Dokter Spesialis Psikolog yang disarankan oleh abang angkatnya sebelum pergi ke Jepang. Karena emosi Vikayla pada saat itu tidak stabil. Suka nangis ga jelas, teriak bahkan tertawa.
Membuat Reynald Wibowo abang angkatnya ikut andil untuk membantunya. Karena orang tuanya bukan nya perduli sama anak ya yag sedang mengalami gangguan mental malah semakin memperburuk keadaan dengan membully Vikayla.
Menghakimi dia dan mendjuge Vikayla tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Kata kata jahat yang selalu mereka lontarkan untuk Vikayla seperti "Lo ga becus urus anak." "Lo emang udah gila." "lo anak durhaka yang ngerepotin orang tua." "lo ga bisa di harapkan."
Dan masih banyak kata kata lain yang membuat Vikayla sakit hati. Belum lagi orang tuanya suka bicara dengan tetangga lain dan menjelekkan nya. Membuat dia jadi bahan omongan orang dan selalu di cap buruk.
Padahal dia anak yang bijaksana, pintar dan suka membantu orang lain. karena kata Kata jahat dari orang tuanya membuat nya trouma dan merasa dirinya buruk.
Hampir sempat dia ingin berfikir untuk bunuh diri bersama anaknya. Tapi sahabat dan keluarga angkatnya terus mensuport dia agar bertahan tidak boleh lakukan hal aneh.
Maka dari itu dia di sini bersama sahabatnya dan sahabat dari abang angkatnya yang membantunya menghilangkan troumanya. Untuk konsultasi pun masih di lakukan setiap minggu dengan cara video call bersama Dokter Dewi.
Setidaknya jiwanya bisa istirahat dengan tenang dari pada dirumahnya tiap hari selalu di omelin ga jelas oleh orang tuanya.
Obat pun selalu dikirim setiap minggu dan mau tidak mau tiap hari dia harus mengkonsumsi nya. Karena hanya itu yang bisa merileks kan pikirannya biar ga tegang dan ga cepat terbawa emosi.
Insya allah jika suasana nya tenang. Dia akan kembali pulih dari mental nya yang sudah cedera parah. Dan mengantipasi kegilaan pada diri Vikayla. Sampai keluarga angkatnya menjemputnya kembali. Dia dititipkan oleh Zefran. Dan dia bertekad akan mengambil anaknya kembali untuk hidup bersamanya.
Pintu kamar di ketuk pelan oleh Echa. Vikayla pun merapikan mukena dan sejadah nya lalu menghapus air matanya. Dan membuka pintu kamarnya.
"eh kamu Cha. Ada apa?"tanya Vikayla yang mencoba menutupi bekas tangisnya.
Echa tahu kalau Vikayla habis menangis. Karen di lihat dari matanya yang sembab dan hidungnya yang merah.
"Kak.. Kita jalan jalan di sekitar taman komplek yuk. Sambil nunggu abang pulang,"ajak Echa yang mengamit langsung tangan Vikayla.
"Boleh deh.."
Mereka pun pergi ke taman komplek dekat rumah.
...----------------...
Saat ditaman suasana lumayan ramai orang berlalu lalang karena sudah menjelang sore. Matahari sore mulai turun perlahan menunggu datangnya maghrib.
Vikayla dan Echa duduk di bangku taman dekat air mancur yang ada kolam ikan nya. Pemandangan ini membuat Vikayla merasa tenang dan damai.
"Ya Allah.. Indah nya ciptaanmu. Masih asri ya taman nya,"kata Vikayla nampak kagum melihat pemandangan taman.
Echa tersenyum menanggapi perkataan Vikayla. Dia memberi Vikayla ruang untuk menenangkan hatinya.
"Makasih ya Cha,"ucap Vikayla membuat Echa sadar dari lamunanya.
"Makasih buat apa kak??"tanya Echa bingung.
"Makasih udah ajak aku ke taman. Hati ku sudah lebih tenang sekarang."
"Iyaa Ka. Sama sama. Senang aku bisa menghilangkan kesedihan Kakak. Kalau ada apapun bilang saja sama aku dan Bang Zefran ga usah sungkan."
"Emmm.. Cha, aku mau ngumpulin uang buat suatu saat bawa anakku. Kira kira disini ada lowongan kerja ga ya?"tanya Vikayla sambil menerawang.
Echa berfikir terlebih dahulu lalu menjawab. "ada Kak. Emang Kakak mau kerja jadi apa? Ada pelayan toko, waiters atau mau ekspedisi?"tanya Echa antusias.
"Ekspedisi boleh tuh Cha. Aku kan kemampuan nya memang disana. Besok anter aku ngelamar kesana ya,"kata Vikayla.
Echa mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Vikayla berfikir dari pada sedih terus suka kepikiran anak kalau tidak kerja. Lebih baik dia sambil kerja disini. Uangnya akan dia kumpulkan untuk mengambil anaknya kembali.
...----------------...
Zefran dan Damian sudah rapi mau berangkat kerja begitupun dengan Vikayla dan Echa.
"Loh kalian mau kemana??"tanya Zefran bingung melihat Vikayla dan Echa sudah sangat rapi. Seperti mau bekerja karena pakaian mereka sangat formal.
"gue mau nyari kerjaan Zef. Ga mau dirumah terus. Lagian gue mau ngumpulin uang buat ngambil anak gue nanti,"jelas Vikayla yang diangguk Zefran.
"Mending kerja di tempat gue aja. Kebetulan lagi ada loker. Sebagai admin gudang. Nanti lo langsung kerja juga,"tawar Zefran.
Tawaran yang sangat menjanjikan. Tidak usah nyari pun sudah tinggal masuk tanpa interview lagi.
"Lo gimana sih Vi, kan kemarin kita udah bicarakan ini. Lo pasti di kasih kerjaan sama Zefran.,"jelas Damian menginggatkan.
"Maaf Dam. Gue lupa,"kata Vikayla yang tersenyum sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Ya udah nanti kita berangkat bareng aja. Kalau kamu mau ikut aja Dek,"ucap Zefran yang menatap adiknya.
Echa hanya mengangguk sambil mengambil roti dengan selai kacang. Hari ini dia tidak kuliah karena akan ada perubahan jadwal.
Mereka menghabiskan makannya tanpa mengobrol karena takut kesiangan. Ini kan hari senin. Awal kesibukan setiap orang. Jalanan pasti sangat ramai. Meski bukan di Jakarta tapi di Jepara pun banyak kendaraan berlalu lalang.
...----------------...
Sesampainya di perusahaan mabel Zefran, salah satu asisten pribadi dan sekretaris nya datang menghampirinya sebut saja namanya Gimz Geovanda dan Velin Angelista.
"Selamat pagi Bang Zefran...," sapa Gimz.
"Selamat pagi Bang Zefran....,"sapa Velin.
Mereka selalu kompak dan bersama karena pasangan romantis kedua di kantor. Pasangan romantis pertama tentu adiknya Zefran dan cowok nya yang sebagai Manager Marketing bernama Billie syahputra.
"Pagi Gimzz... Pagi Velin... Gimana kabar kalian?"tanya Zefran sambil tersenyum.
"Ya syukur Alhamdulillah..,"kata Gimz dengan senyum manisnya.
Gimz cowok tertampan kedua di kantor selain Zefran dan salah satu manager bagian gudang yang menjadi bos Vikayla nanti.
"Aku ga disapa ni? Cuma Abang doank. Padahal aku di sini dan segede ini loh Kak.. Bang..,"protes Echa sambil manyun.
Echa sudah menganggap Gimz dan Velin adalah kaka dan abang. Begitu juga dengan mereka sudah menganggapnya adik sendiri. Selain manja dengan Zefran, Echa juga manja dengan mereka berdua.
"Maaf dede. Mata kita siwer abis nonton drakor semalam,"canda Gimz.
Echa pun tertawa menangapi guyonan Abangnya.
"Oiya Gimz.. Velin.. Kenalin mereka teman teman Abang. Yang akan bekerja disini. Vikayla dan Damian,"kata Zefran memperkenalkan Vikayla dan Damian.
"Eh iyaa salam kenal Kak. Namaku Velin dan Ini Gimz,"ucap Velin ramah.
"Iyaa Vel. Salam kenal juga ya,"jawab Vikayla menimpali.
Setelah perkenalan, Echa pamit untuk menemani cowok nya di ruangan nya. Sedangkan Zefran dan Gimz harus bertemu dengan clien.
Velin lah yang mengantar Vikayla dan Damian ke bagian gudang. Karena Vikayla akan bekerja sebagai admin gudang dan Damian sebagai helper.
Sesampainya di gudang, Velin menjelaskan tata letak barang dan kegunaan nya. Lalu dia memanggil seseorang untuk menjelaskan nya lebih lanjut.
Nampak dari kejauhan terlihat seorang pria yang postur tubuhnya sama dengan Damian dan Zefran. Wajahnya tampan dan rambutnya seperti artis korea. Dia bernama Alvaro Bastian.
Alvaro seorang kepala gudang milik Zefran. Dia bekerja cukup lama dan sangat berpengaruh. Dia juga punya andil di perusahaan Zefran. Karena dia menaruh saham dan investasikan uangnya untuk Zefran.
Mereka bersahabat dari kecil. Makanya Alvaro sekarang membantu perusahaan Zefran untuk berkembang. Padahal dia sendiri sudah punya perusahaan. Hanya Zefran yang tahu tentang dirinya. Semua orang di kantor hanya tahu dia pria misterius yang selalu diam dan dingin tapi sering membantu orang diam diam.
"Nah ini mas Alvaro. Dia kepala gudang disini. Nanti biar Mas Varo aja yang jelasin ke Kakak dan Mas nya,"ucap Velin menerangkan.
Alvaro sudah berdiri di hadapan mereka. Dengan tampilannya yang cuek apa adanya. Dia menatap heran pada Vikayla dan Damian.
"Siapa mereka?"tanya Alvaro pada Velin.
"Mereka ini teman teman nya Bang Zefran. Akan ditempatkan di gudang ini sesuai lowongan yang tersedia Mas,"ucap Velin menjelaskan.
Alvaro hanya mengangguk lalu menyuruh mereka berdua mengikuti nya ke ruang kepala gudang. Velin pun pamit untuk melanjutkan pekerjaan nya kembali.
Sesampainya diruangan, Alvaro menyuruh mereka duduk dan menunggu. Dia mengambil beberapa dokumen lalu menyerahkan nya pada Vikayla dan Damian.
"Tugas mu menjadi sekretaris saya. Dan Damian akan menjadi asisten pribadi saya alias mandor untuk yang lain,"jelas Alvaro.
Vikayla dan Damian heran dengan tugas mereka. Karena berbeda dengan yang diterangkan Zefran.
"Maaf Pak, bukan kah saya di bagian admin dan Damian di bagian helper?"tanya Vikayla bingung.
"Iyaa Pak, kenapa jadi asisten dan sekretaris, karena kemarin Zefran ga info gitu,"protes Damian.
"Zefran dan aku sama sama bos disini. Kalian bisa tanyakan padanya. Apa yang aku perintah dia pun tidak mempermasalahkan. Dan tolong jangan panggil aku Bapak. Karena aku masih muda!"tegas Alvaro dengan tatapan tajamnya.
Mereka hanya mengangguk tanpa protes. Hanya bingung saja. Kok bisa Zefran mempunyai karyawan yang jutek, judes, sombong dan angkuh seperti dia. Kok mereka semua disini memakluminya.
"Dan satu hal lagi. Itu dokumen untuk tugas kalian jadi pelajari dulu. Kalian akan punya ruangan sendiri. Nanti aku suruh anak buahku mengantarkan!"
Alvaro memencet panggilan untuk tukang. Salah satu mandornya pun datang dan membungkuk. Beda dengan Zefran. Sepertinya tukang itu tunduk sekali sama Alvaro. Wibawanya dan ketegasan nya seperti layaknya seorang CEO.
"Kamu tunjukan ruangan untuk sekretaris dan assiten saya!"
"Baik Tuan."
Tukang itu menyuruh Damian dan Vikayla mengikuti nya..mereka pun pergi mengikuti tukang itu.
...----------------...
Damian sudah lebih dulu diantarkan ke ruangan nya. Sisa lah Vikayla yang akan di antarkan. Tapi tiba tiba ada seorang cewek seksi dan cantik layaknya model menghampiri mereka.
"Hey Encup. Lo bawa siapa tuh?"tanya Cewek itu yang bernama Dahlia Aranada.
"Eh Nona Dahlia. Ini Mba Vikayla karyawan baru sekretaris Tuan Alvaro. Saya disuruh mengantarnya ke ruangan nya,"jawab tukang yang bernama Encup.
"Halo Mba..,"sapa Vikayla sopan.
Bukan nya membalas sapaan nya, Vikayla malah di damprak abis karena masalah sepele. Yaitu dia memanggil Dahlia 'Mba'.
"Sembarangan kamu panggil saya! Nama saya Dahlia. Saya itu tunangan Zefran! Jadi jangan seenaknya panggil saya Mba!"
"Eh .. I-iya maaf Bu,"ucap Vikayla gugup.
Ini malah membuat Dahlia melotot karena sebutan nya lebih parah lagi.
"Malah Ibu lagi. Emang saya Ibu mu apa! Panggil saya Nona! Karena para pekerja disini memanggil saya dengan sebutan itu!"
Vikayla hanya tersenyum dan menunduk karena sudah dua kali kena omel. Dalam hatinya dia menggerutu "Ni orang ribet banget sih."
...----------------...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!