Di ruangan yang bernuasa gelap, hanya ada lampu redup. Dua lelaki tengah berdiskusi dengan masalah perusahaan.
"Bagaimana jika gadis itu pak Atmaja jual saja?" saran asistennya.
Atmaja yang sedang duduk di kursi kekuasannya, menatap asistennya.
"Ck kau bodoh? Saya tidak akan menjual Aruna."
"Pak, tapi ini jalan satu-satunya. Kita serahkan gadis itu kepada Ceo Group Atamadewa, saya dengar-dengar Ceonya sedang mencari wanita untuk di nikahi." Rio, nama asisten Atmaja. Asisten yang sudah mengabdi hidupnya untuk Atmaja yang sudah tua.
Atmaja menghela napas panjang. Dia tidak sepeduli itu dengan cucu musuh bebuyutan yang sudah dia besarkan dengan mengurungnya di mansion. Hanya, cucu musuhnya, Biantara. Memiliki sebuah kelainan.
"Kamu pikir dengan menjual Aruna ke Ceo tersebut dengan keadaannya seperti ini, mereka akan menerima? Tidak, mereka mencari wanita pada umumnya, Aruna tidak seperti mereka, mana mungkin dia bisa kita jual."
Rio diam sesaat, tapi soal ini dia sudah menyiapkan jawabannya, sebab dia tau Atmaja pasti akan mempermasalahkan kekurangan Aruna.
"Pak, mereka mencari wanita juga tak jauh sebagai pemuas nafs*. Aruna, dia hanya mengalami Sindrom Peter Pan, tapi dari fisik dia sempurna seperti gadis-gadis lainnya."
Atmaja terdiam mendengar ucapan Rio, dia mengetuk jari-jarinya di meja.
"Kita bicarakan ini besok lagi, kamu bisa pulang."
"Baik pak, anda bisa memikirkannya. Ini hanya jalan satu-satunya bagi kita mendapatkan dana besar untuk perusahaan dengan menjual Aruna." Setelah mengatakan hal itu, Rio menunduk sebentar lalu keluar dari ruangan Atmaja.
"Nona Aruna, tolong duduk dengan tenang," ucap seseorang yang dianggap pengurus gadis yang mengalami Sindrom Peter Pan tersebut.
Aruna, dia sudah berusia dua puluh tahun, tetapi pemikiran dan tingkahnya masih seperti anak-anak enam tahun.
"Non, Nona Aruna duduk dengan tenang dulu ya, jangan lari-larian, habiskan dulu makannya." Pengurusnya sudah kelelahan mengejar gadis tersebut.
"Heumm gamau." Aruna terus berputar-putar mengelilingi sofa.
"Yaudah bibi enggak kasih Nona es-krim."
Mendengar es-krim, Aruna menghentikan aktivitasnya, dia mendekati pengurus Tika.
"Oke Una akan makan." Dia duduk di sofa, Tika pun menghela napas lega.
Tika menyuapi Aruna, sedangkan sang empuh memainkan rambutnya yang sudah dikepang dua.
"Bibi, setelah makan bibi akan memberi Una es-krim kan?" tanya Aruna dengan nada merengek.
"Iya Non, makanannya di habisin dulu ya."
Aruna mengangguk, semangat untuk menghabiskan makanannya.
Saat sedang asik berceletuk di ruang tengah sambil memakan-makanannya. Sebuah suara Bariton membuat Tika dan Aruna mengalihkan perhatiannya.
Aruna yang mengatahui pemilik suara itu, refleks mendekat ke arah Tika, mengenggam dengan erat pakaian Tika.
Suara itu, suara yang Aruna selama ini takutkan. Dengan badan bergetar, Aruna memejamkan matanya.
"Apa dia tidak melakukan sesuatu yang merusak apapun lagi?" tanya Atmaja.
"Tidak Tuan, Nona Aruna beberapa hari ini sudah menurut dan tidak memberontak lagi."
Atmaja mengangguk.
Dua minggu lalu, Aruna sempat memberontak, mengacak-acak isi mansion, merusak barang ada di sana. Hal itu membuat Atmaja murka dan memukulnya, sehingga Aruna takut kepadanya.
"Jangan pukul Una lagi, Una enggak bakal nakal," ucap gadis itu dengan nada takut.
"Saya tidak akan segan-segan memukul seseorang yang mengacak-acak barang-barang mahalku, saya akan membunuhnya." Atmaja berkata begitu dengan suara yang terlihat menakut-nakuti Aruna.
Hal itu membuat Aruna semakin takut, takut di bunuh oleh kakek-kakek tersebut. Aruna memanggilnya kakek.
"Bibi, Una mau ke kamar aja," rengek Aruna yang masih memejamkan matanya.
Tika menatap Tuannya, Atmaja mengangguk. Tika pun menuntun Aruna untuk berdiri dan berjalan ke arah kamar.
"Nona buka saja matanya, sudah tidak ada lagi Tuan."
Aruna membuka matanya, lalu berjalan cepat agar sampai ke kamarnya.
Dengan rasa takut, Aruna menaiki ranjangnya, menarik selimut serta boneka besar miliknya. Memeluknya dengan erat.
Keringat di dahinya, sudah menjadi bukti setakut apa dia. Tika jadi sedih melihat gadis yang dia rawat sedari umurnya empat tahun itu.
"Nona, Tuan tidak akan memukul Nona lagi jika Nona enggak nakal dan nurut."
Aruna membuka matanya, menatap Tika yang tengah mengusap dengan lembut kepalanya.
"Tapi dia seram, Bibi. Una takut sama kakek itu. Tangan Una dipukul pakai karet tebal, Una kesakitan, sakit banget bibi." Aruna merengek dengan mata yang sudah banjir oleh air mata.
Tika mengusap air mata tersebut, dia sudah menganggap Aruna seperti putrinya sendiri. Sangat menyayangkan kondisi Aruna, padahal jika saja gadis ini tumbuh seperti gadis pada umumnya. Aruna akan begitu sempurna. Wajah yang cantik, tubuh mungil, tidak kurus lalu tidak gemuk juga. Memiliki testur wajah yang baby face mampu membuat orang-orang melihatnya akan obses dengan Aruna.
Tapi, di mansion itu hanya ada dirinya, Aruna dan beberapa penjaga. Aruna bahkan tidak mengatahui seperti apa dunia luar, dua puluh tahun hanya menghabiskan waktu di dalam mansion, itulah membuatnya cederung sering mengamuk.
Atmaja memijat pelipisnya, memikirkan diskusinya dengan Rio tadi.
"Apa saya ikuti saja ucapan Rio?" tanyanya pada diri sendiri.
Atmaja berpikir, jika dia menjual Aruna berarti setelahnya Aruna bukan lagi tanggungjawabnya serta sudah tidak berhak atas gadis tersebut. Dan otomatis Aruna terlepas dari tahanannya, dia akan hidup bebas di luar sana, lalu mungkin saja Biantara bisa menemukan cucunya.
"Tidak, mana mungkin Biantara bisa menemukan Aruna, dia sudah dewasa. Sangat sulit untuknya mengatahui keberadaan Aruna."
"Tetapi saya merasa sulit untuk melepaskannya, walaupun gadis itu cucu musuhku, saya mengurusnya dua puluh tahun, saya yang membesarkannya." Atmaja bimbang akan hal ini.
Di lain sisi, dia harus mempertahankan perusahaannya yang nyaris bangkrut dan sisi lainnya dia merasa berat untuk menjual Aruna, bahkan dengan kondisi seperti ini.
Atmaja juga takut nanti Aruna terlantar jika seandainya lelaki tersebut sudah tak membutuhkannya.
Pandangan Atmaja langsung teralih saat dirinya keluar dari ruang kerjanya. Ia melihat Aruna bermain dengan bonekanya.
Tatapan sulit diartikan. Dia menghela napas panjang, mungkin ini jalan satu-satunya.
"Saya sudah memutuskan, sa-ya akan menjual Aruna pada Ceo tersebut," ucap Atmaja kepada Rio yang tengah dia ajak bicara lewat telpon.
"Pak Atmaja yakin?" tanya Rio.
Atmaja terdiam sesaat, dia memejamkan matanya. Menghela napas panjang lalu dia berdehem.
"Saya yakin."
"Baik pak, saya akan menghubungi asisten ceo tersebut bahwa saya mendapatkan wanita untuk bosnya. Setelah itu kita akan membawa Aruna."
Atmaja memutuskan sambungan telpon. Kembali menatap Aruna, ada rasa berat dan bersalah.
"Dia sebenarnya tak bersalah, tetapi dia keturunan Biantara. Semua yang bersangkutan dengan Biantara saya ingin menghancurkannya."
"Ini memang sudah bertahun lamanya, tapi dendamku tidak akan pernah berakhir, semuanya berakhir jika Biantara mati dengan keadaan mengerikan, ini hanya sebagian hidupnya yang hilang. Nanti dia akan kehilangan semuanya."
Setelah memberitahu antar asisten, Rio pun ke mansion Atmaja untuk mengambil Aruna.
"Apa kata mereka?" tanya Atmaja.
"Bisa pak, kebetulan belum ada yang Tuannya sukai dari banyaknya wanita yang mereka dapatkan, mungkin saja Aruna bisa."
Atmaja mengangguk. Ia menatap Aruna yang tertidur pulas.
"Pak?" tanya Rio.
"Biarkan dia tidur dulu sebentar. Kamu bisa keluar, saya ingin berdua dengan cucuku."
Rio mengerti walaupun Aruna keturunan musuhnya, tapi selama ini Atmaja yang merawatnya, membesarkannya walaupun tumbuh sebagai anak spesial.
Dengan langkah tegap, Rio beranjak keluar dari kamar Aruna, membiarkan Atmaja bersamanya.
Atmaja mengenggam tangan mungil Aruna yang tengah memeluk erat bonekanya. Entah apa yang ia pikirkan, kenapa ia terlihat sedih saat harus berpisah dengan cucu Biantara.
Bukannya ini yang dia tunggu. Dengan menjual Aruna lalu lelaki itu menyiksanya akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Atmaja.
Setelah memandang wajah Aruna, Atmaja memanggil Rio.
"Gendong dia, jangan sampai dia terbangun dan menangis."
Rio hanya menurut, dengan gerakan pelan ia mengangkat tubuh Aruna.
...----------------...
"Gimana, Tuan?" tanya seorang asisten kepada Tuannya.
Kaivan Atamadewa, seorang ceo yang memiliki perusahaan besar di negara ini. Terkenal dingin dan kejam. Dia bisa menindas siapa pun yang mengusiknya.
Dengan pandangan elangnya, Kaivan menatap gadis yang asistennya bawakan.
"Bangunkan dia!" ucapnya dengan nada memerintah
Tidak ingin membuat Tuannya memerintah dua kali, salah satu bodyguardnya membangun Aruna.
Aruna bergumam dalam tidurnya, merasa diganggu. Perlahan dia membuka mata.
Dengan mata bulatnya, Aruna memandang mereka dengan bingung.
"Kalian siapa?" tanya Aruna.
Mereka menatap Tuan mereka. Kaivan dengan gerakan matanya, mampu membuat mengerti. Mereka pun pergi dari sana, meninggalkan Kaivan berdua dengan gadis yang sudah dia bayar ratusan juta.
"Ka-mu siapa? Bibi Tika mana, ini bukan rumah Una."
Kaivan mengerutkan keningnya, kenapa nada bicara gadis di depannya terdengar seperti anak kecil yang merengek dan akan menangis?
"BIBI TIKA," teriak Aruna berdiri dan ingin keluar dari ruangan Kaivan.
Dengan gerakan cepat, Kaivan menutup pintu ruangannya.
"Hiks, hiks. Kamu siapa, kamu mau apa in Una. Una enggak nakal." Aruna menangis dengan air mata membanjiri matanya.
Kaivan maju selangkah, hingga kini dia benar-benar sudah berada di depan gadis tersebut.
"Sakit..." Aruna meringis kesakitan saat Kaivan mencengkeram erat dagunya.
"Tidak usah berpura-pura menjadi ke kanak-kanakan," ucap Kaivan dengan nada tajam.
Kaivan berpikir, ini cuma akal-akalan gadis itu agar bisa lepas darinya.
"Apasih, lepaskan Una. Huahhh..." Tangisan itu semakin pecah.
"Sial." Dengan kasar, Kaivan melepaskan cengkramannya kepada dagu Aruna.
"DENIS," teriak Kaivan dengan sangat keras membuat asistennya yang menunggu di depan ruangan bergegas membuka pintu.
"Kenapa Tuan?" tanya Denis.
"Gadis apa yang kau bawakan untukku, ha? Apa dia memiliki kelainan? Dia bersikap seperti anak kecil!" tegas Kaivan.
"APA?" Denis terkejut, ia menatap Aruna yang masih menangis sesengukan.
Denis terdiam, sumpah dia tidak mengatahui bahwa gadis yang dia bawa mempunyai kelainan. Ya gimana terlihat begitu sempurna dan tentu saja ciri-cirinya seperti gadis yang diinginkan Tuannya.
"Sa-ya tidak tau, Tuan. Saya akan menelepon kembali orang yang membawanya, kita kembalikan dia."
Melihat Kaivan terlihat murka membuatnya merasa takut, takut jika detik ini dia tinggal nama.
Kaivan berdehem.
"Jangan biarkan dia keluar, hingga uangku kembali."
"Baik Tuan."
Kaivan pergi dari ruangannya. Sialan! mengapa semua orang terasa menyebalkan menurutnya.
Sebab kepalanya seperti berapi-api, dia memilih untuk merenang di kolam pribadinya.
"Gadis itu sudah masuk ke ciri-ciri yang mama sebutin, tapi mengapa dia mempunyai kelainan?" Kaivan mengacak-acak rambutnya.
Mamanya meminta untuk mencari menantu idamannya, beliau ingin anaknya yang sudah kepala tiga itu memiliki istri, agar ada yang mengurusnya.
Kaivan sebenarnya tak butuh yang namanya istri, dia ingin hidup dengan pekerjaan, tapi dengan kondisi mamanya yang saat itu sakit dan mengancamnya akan mengakhiri hidup membuat Kaivan mencari seorang perempuan yang masih perawan.
Dan melihat Aruna pertama kali, Kaivan yakin gadis bertubuh kecil itu masih perawan, lugu dan polos, tapi ternyata dia terkena sindrom peter pan.
"Malas sekali, tapi ini demi mama." Kaivan memejamkan matanya di bawah langit malam, dia kini berada di dalam kolam.
Setelah merasa sudah rileks dia akhirnya bangkit dari dalam kolam, hanya memakai box*r.
Seorang pelayan datang memberikannya handuk. Kaivan pun mengambil handuk tersebut lalu menyuruh pelayan pergi.
Saat sedang memakai pakaiannya, salah satu pelayan mengetuk pintu kamarnya.
"Maaf menganggu waktu, Tuan. Pak Denis mencari Tuan." Setelah mengatakan hal itu pelayan itu langsung pergi.
Helaan napas kasar keluar dari hidung Tuan muda tersebut. Setelah merasa sudah cukup rapi, dia keluar dari kamar untuk menghampiri Denis.
"Tu-an, nomernya sudah tak aktif lagi."
"Kenapa bisa kau se ceroboh itu? Ha?" bentak Kaivan kesal. "Cari sampai kalian menemukan orang yang menjualnya."
"Anu, Tuan... Itu." Denis kelihatan gelisah, apalagi mendapatkan tatapan tajam dari Tuannya.
"Anu apa?" tanya Kaivan.
"Kita sudah mengtanda tangani kontrak, bahwa jika kita sudah mengambil gadis tersebut, kita sudah tak bisa mengambalikannya."
Astaga! Kaivan benar-benar marah, kenapa asistennya yang ia anggap cerdik ini tiba-tiba saja jadi bodoh?
"Maaf Tuan."
Kaivan menghela napas panjang, menatap Denis dengan mata elangnya.
"Jadi gimana Tuan?"
"Gimana lagi? Uangku angus jutaan rupiah hanya untuk gadis kekurangan sepertinya." Kaivan melirik ke arah kamar yang tertutup rapat.
"Maaf Tuan, ini salahku."
"Hmm, ya ini salahmu. Saya ingin sekali membunuhmu lalu memberikan dagingmu itu kepada Sora."
Perkataan Kaivan membuat Denis mati kutuk, dia menelan salvinnya susah payah. Sora? Sora adalah singa peliharaan Kaivan.
"Tapi karena kau sudah sangat berjasa, saya akan memaafkanmu, lain kali berpikir sebelum bertindak."
Denis menunduk, mengangguk samar. Dia bernapas lega bisa mendapatkan kesempatan kedua. Jangan sampai kesempatan kedua dia kembali membuat masalah, hidupnya benar-benar akan tamat.
"Terima kasih, Tuan. Jadi kita apakan gadis itu Tuan?" tanya Denis dengan nada waspada, memastikan kalimatnya tidak menyinggung Kaivan.
"Apakan apa? KAU INGIN MENID*RINYA?" bentak Kaivan. "Uangku sudah habis banyak, sayang sekali jika saya melepaskannya dan memberikanmu begitu saja. Biar dia jadi urusanku, mending kau pergi dari sini sebelum saya berubah pikiran dan membunuhmu."
Denis terbatuk-batuk, dia segera pergi dari sana sebelum perkataan Tuannya benar-benar terjadi.
Kaivan memejamkan matanya, meredahkan emosinya yang tak bisa dia kontrol.
Dengan langkah lebarnya, ia berjalan ke ruangan di mana dia mengurung gadis kecil itu.
"AKU MAU PULANG," teriak Aruna saat pintu di buka.
Kaivan mendapatkan teriakan begitu sudah pasti tak terima.
"Hiks hiks, kamu orang jahat." Aruna memukul dada Kaivan menggunakan tangan kecilnya. "Lepasin Una, Una enggak pernah nakal sama kamu, kenapa kamu nangkap Una. DASAR ORANG JAHAT." Teriakan Aruna di akhir kalimatnya tepat di depan wajah Kaivan.
"Heh, berisik sekali, bisa tidak kau diam ha?" tanya Kaivan mencekik leher Aruna membuat Aruna terbatuk-batuk.
Air matanya membasahi pipi putih dan mulusnya.
"Kau cerewet sekali!" bentak Kaivan, menarik dengan kasar tangan Aruna menuju ke suatu tempat.
Sampainya di tempat tujuannya, Kaivan menarik Aruna ke dekapannya.
"Jika kau terus berteriak, saya akan membuangmu ke dalam sana, kamu tau apa yang ada di dalam sana kan?" tanya Kaivan dengan berbisik tempat di depan telinga Aruna.
Aruna dengan mata bengkak dan dada yang naik turun karena menangis menatap ke depan.
"Itu he-wan yang Una lihat dalam tv, katanya hewan itu berbahaya, bisa memakan daging manusia seperti Una."
"Pintar, jadi jika kamu tidak menurut dan terus memberontak, saya akan melemparmu ke sana, biar kamu dimakan."
Akhirnya tangisan Aruna berhenti, dia menoleh ke samping, menatap mata Kaivan.
"Tapi Una mau pulang," ucapnya dengan sesengukan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!