NovelToon NovelToon

CINTA PERTAMA AZALEA

Bagaimana hidup kita jika malam itu tak terjadi?

azalea, gadis cantik itu sedang duduk diatas kursi sebuah kamar hotel.Dia duduk termenung dengan hanya sehelai handuk tipis menutupi tubuh indahnya .

 ekspresinya terlihat cemas setelah beberapa saat menatap layar handphone ditangannya.entah apa sebenarnya yang menarik perhatiannya. telepon ditangannya kembali berdering.azalea menatap ke layar handphone dan mendapati nama yang begitu dikenalinya disana, ia masih berdiam dan mengabaikan panggilan itu sampai pada dering terakhir handphone kembali mati, hening.

 Ia meletakkan handphone keatas meja dengan agak kasar dan sekarang menatap kearah pemilik handphone yang sedang tertidur pulas diatas kasur. ya, dia adalah Ray, kekasihnya.pria itu masih tertidur pulas dengan posisi telungkup.tubuhnya setengah telanjang dengan selimut menutupi hanya sebatas pinggangnya sehingga azalea bisa melihat punggung kekarnya.

.

lama ia termenung sampai tidak menyadari ray, pria tampan itu sudah membalikkan badan dan sekarang kembali menatapnya.

"hai cantik, kenapa pagi-pagi sekali kau sudah melamun" ujar ray dengan senyum genit khasnya

"apa sih yang kau pikirkan? "lanjutnya lagi setelah melihat gadis itu tak berniat menjawabnya

azalea tak segera menjawab, wajahnya tampak cemberut dengan bibir sedikit manyun terlihat seksi.masih duduk bersilangkan kaki diatas kursi tanpa mengubah ekspresi kesalnya.

ray tertawa kecil" apa? apa sayang? ceritakan saja padaku. "

"Ada telepon dari reyna"jawabnya ketus masih dengan wajah cemberutnya.

ekspresi ray berubah serius" oh benarkah? "

pria itu sekarang bangkit dari tempat tidur dan mulai meraih pakaiannya yang berserakan dilantai kasur. setelah selesai memakai pakaiannya pria itu menghampiri gadis kecil yang masih menatapnya dengan tatapan kesal.

ia tersenyum genit sambil mengecup bibir azalea. gadis itu buru-buru mendorong wajah ray menjauh.

"jangan cemberut dong, nanti cantiknya hilang" goda ray

azalea tak menjawab, bahkan ia mengelak ketika pria itu akan memeluknya.

ray menarik napas panjang, membelai pelan rambut gadis itu, Tak melanjutkan perkataannya dan hanya menatap gadis itu lama

"maafkan aku, lea. ini mungkin salahku. tapi kau tau kan aku sangat mencintaimu dan sekarang posisiku sedang sulit" ucap ray dengan nada lembut.

"aku mengerti kok, " jawab azalea cepat tapi dengan nada tertahan.

ray memegang bahu azalea dan sekarang matanya memandang lekat kearah gadis didepannya.

"aku janji, aku akan menyelesaikan semua ini secepatnya"

azelea hanya menggangguk pelan berusaha menyembunyikan perasaan kalutnya dan senyum kecil terukir diwajah cantiknya.

Ray meraih kunci mobil dan handphone diatas meja sebelum pergi ia memberi kecupan di kening azalea.

"aku akan menelpon" ucap ray berlalu

azalea menatap kepergian pria itu diikuti suara pintu ruangan yang tertutup.hening sebentar, sekarang matanya tampak berkaca-kaca dan tak lama kemudian tangisnya pecah.ia menangis sesenggukan sambil membenamkan wajahnya kedalam tangannya.

perasaannya kalut dan bercampur aduk. marah, cemburu, bahkan rasa bersalah bersatu dalam tangisnya pagi itu.Entah sejak kapan semuanya dimulai,tiba-tiba saja hidupnya berubah seperti ini. sebelumnya ia hanya gadis biasa yang menjalani hidupnya dengan normal.tapi kenapa hidupnya berubah drastis?Bagaimana rasanya mencintai seseorang yang bahkan tidak bisa sepenuhnya dimiliki.bukankah seharusnya sekarang ia tidak ditinggalkan?bukankah harusnya pria itu tetap disisinya dan memeluknya? tidak ada jawaban yang benar-benar ditemukannya.

Andai malam itu tidak terjadi apakah azalea masih bisa menjadi orang yang sama?

Azalea kecil

Plakk. suara tamparan keras memenuhi ruangan itu

 seorang pria sedang menghajar wanita didepannya hingga babak belur. tidak ada belas kasihan diwajahnya meskipun wanita didepannya sudah berlutut dan memohon ampun.

 "sudah kubilang jangan bertindak kurang ajar emy, kenapa harus melapor kekantor?" bentak pria itu keras.

 wanita bernama emy masih menangis sambil bersimpuh dibawah kaki pria itu.

 "kau berselingkuh bram, selalu begituu" tangis wanita itu dengan suara terbata-bata

 plakk suara pukulan terdengar kembali, pria itu menghajar wanita didepannya dengan membabi buta.

Tanpa mereka sadari seorang gadis kecil sedang duduk bersembunyi disudut ruangan sambil memeluk lututnya. ia tampak sangat ketakutan namun tak berani mengeluarkan sedikit suara pun. Ia hanya bisa memandangi adegan didepan sana yang akan menggores luka seumur hidupnya.

Pukulan berhenti ketika wanita disana terlihat terkapar dilantai sedangkan pria itu sibuk berjalan mondar -mandir sebelum akhirnya pergi berlalu diikuti suara pintu dibanting keras.

gadis kecil masih bersembunyi dan tak mempunyai keberanian untuk menghampiri ibunya yang tak sadarkan diri didepan sana.

suara langkah cepat membangunkan gadis kecil dari tidurnya.gadis kecil itu masih bersembunyi disudut ruangan sambil memperhatikan ibunya yang tampak sibuk memasukan pakaian kedalam koper besar.Raut wajah ibunya tampak menyedihkan yang dipenuhi luka lebam.

ibunya masuk kedalam kamarnya dan beberapa saat kemudian kembali muncul sambil menggendong bayi kecilnya. kemana ibunya akan pergi? gadis kecil bahkan tak berani untuk bertanya, dengan tatapan polos ia hanya bisa menyaksikan ibunya terburu-buru pergi sambil menenteng koper besarnya. ya, ibunya pergi tanpa menoleh kearahnya sedikit pun.

gadis kecil terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menangis sesenggukan dengan suara tertahan. Azalea kecil ditinggalkan.

Waktu mungkin cepat berlalu, membawa gadis kecil dimasa lalu menjadi azalea yang cantik. setelah kepergian ibunya hidupnya banyak berubah.Ia harus tumbuh mandiri sambil merawat ayah pemabuknya.hidupnya berjalan begitu saja, begitu dingin tanpa cinta siapa-siapa. sekarang ia sudah tumbuh menjadi gadis cantik, mungkin hanya penampakan luar saja. jauh didalam sana banyak yang berubah dari Azalea, Ia sekarang tak banyak bergaul, ia lebih suka menghabiskan waktu sendirian atau sekedar disibukkan dengan pekerjaan paruh waktunya.Mungkin waktu terlalu banyak mengubahnya.entahlah.

Azalea memandang langit dari balik jendela hotel, mendung.sekarang pikirannya melayang jauh,waktu membawanya ke tempat ini berbulan-bulan silam. Bulan juni belum tiba tapi hujan tampak tak sabaran, turun dengan derasnya dan membasahi seluruh kota. susah memprediksi cuaca akhir-akhir ini, seolah langit tak bekerja terlalu serius.

Azalea tidak suka hujan, tapi tidak terlalu. gadis itu hanya benci ketika harus terjebak didepan halte bus bersama orang-orang yang tampak berisik. Ada yang menggerutu tak jelas, ada lagi yang tampak kesal seolah hari berakhir hanya karena terjebak hujan.Azalea menjadi satu-satunya manusia yang tampak tak menyebalkan, hanya terdiam tanpa menggubris apapun.

Brukk. Azalea hampir terlempar kesisi jalan ketika sesuatu menabrak tubuhnya, dan sebelum gadis itu menyadari apa yang terjadi sebuah tangan memegangnya, tidak terlalu yakin dengan itu karena yang gadis itu lihat seorang pria disebelahnya hanya memegang lengan kaos kebesarannya,sedangkan Azalea, gadis yang hampir terjungkal itu menatapnya dengan bingung. sebelum gadis itu benar-benar tercebur kedalam got disamping halte, pria itu menarik bajunya dengan agak kasar. sedetik kemudian gadis itu sudah berdiri dengan posisi seimbang.

Masih terlihat bingung, pria disebelahnya kembali menyadarkannya"Kurasa kau tak sadar kau kecil, jadi jangan berdiri terlalu pinggir"ujarnya dingin tanpa menoleh kearah Azalea.

Azalea terkesiap, gadis itu bahkan tak menyadari sejak kapan pria itu berdiri disebelahnya dan halte kecil itu berubah sesesak itu, sebelum aksi dorong-dorongan itu terjadi. Azalea masih menatap lekat kearah pria disebelahnya, tinggi dan tampan. jas dilengannya dengan kemeja putih setengah basah. rambutnya tampak sedikit acak-acakan dengan bulir air hujan diujung helainya, azalea memandang mereka berlomba membelai rambut pria itu dan berakhir dikemejanya dan beberapa lagi dilantai halte yang becek.

"kau suka aku! " Azalea kembali mendengar suara berat pria itu, sama seperti tadi dia tidak menoleh sedikit pun.

"kau mau terus menatapku? " gumamnya lagi

Azalea berpaling cepat darinya. seperti ada yang merusak harga dirinnya. Bagaimana bisa dia tampak sepercaya diri itu, dan apa yang dilihat Azalea? pria itu tersenyum kecil, senyuman yang tampak mengolok-oloknya. Azalea baru saja akan menamparnya,tentu tidak.gadis itu bahkan tidak punya keberanian sedikit pun. Azalea hanya terdiam disampingnya dengan pandangan kosong, tampak bodoh. Hari ini adalah pertama kalinya Azalea membenci keterlambatan bus, sungguh.

Beberapa menit kemudian bus tiba, Orang-orang tampak tak sabaran menaiki bus dan Azalea melihat dari ujung matanya pria itu juga naik kedalam bus dan hilang di antara banyaknya penumpang. Azalea masih berdiri bodoh disana tak bergeming sedikit pun. pintu bus tertutup dan gadis itu membiarkan bus berlalu begitu saja dan menghilang diujung jalan.

Azalea menghela napas, Akhirnya ia bertindak bodoh lagi. Ia adalah orang pertama yang tiba ditempat itu tetapi mungkin menjadi yang terakhir pergi.gadis itu menatap langit sore itu, tampak sedikit cerah, hujan sudah reda dan menemaninya menunggu bus selanjutnya.

Disini semua dimulai

Azalea pernah mendengar dari seseorang pertemuan pertama dan kedua adalah kebetulan tapi jika suatu saat nanti tiba-tiba tanpa sengaja ada pertemuan lainnya. mungkin bisa jadi itu takdir. saat itu Azalea hanya menghela napas dan bergumam dalam hati 'kuharap itu bukan takdir buruk'

Brakk Azalea menjatuhkan beberapa buku kebawah lantai sehingga menimbulkan suara yang bising. Beberapa orang diruang baca menoleh kearah gadis itu dan sebagaian lagi tampak tak terlalu peduli. Azalea dengan sedikit tergesa-gesa merapikan buku-buku itu dari lantai, ia hanya benci menjadi pusat perhatian.

Azalea pernah membaca buku bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mendeteksi tatapan, gadis itu rasa itu yang sedang ia rasakan. Azalea sedang membalas tatapan seorang pria diseberang meja belajar yang terus menatapnya lekat, tampak bingung mengkerutkan alis tebalnya seolah berpikir keras. Ada yang gadis itu tangkap dari tatapannya"dimana aku pernah melihat gadis aneh itu? "

Azalea cepat mengenalinya, seorang pria yang menyebalkan yang ditemuinya tempo hari. Azalea buru-buru berlalu tanpa sempat memberinya jawaban.

"gak makan siang, lea? " seseorang menyentuh pelan bahu Azalea. Dia Misel, rekan satu kerjanya yang sekarang berdiri disebelahnya.Misel, seorang wanita cantik berperawakan lembut yang tak banyak bicara sama seperti Azalea. entah kepribadiannya memang seperti itu atau hanya berusaha menyeimbangkan Azalea. entahlah, tetapi Azalea lebih senang dengan situasi seperti itu.

Azalea bekerja di percetakan itu tahun lalu dan Misel sudah bekerja lebih lama, tak tau kapan pastinya. tak ada yang gadis itu tau tentang misel, hanya sedikit seperti dia seorang wanita singel berusia 30-an, hanya sebatas itu. Mereka tak banyak mengobrol, terkadang hanya membahas hal-hal penting dan Azalea rasa itu lah yang membuat mereka tetap akur hingga saat ini. Misel tidak perlu tau tentang Azalea begitupun sebaliknya.

Azalea kembali tersentak ketika misel memegang bahunya pelan

"ya? " ucap Azalea pelan hampir tak terdengar

Misel tak melanjutkan percakapan mereka. wanita itu duduk kembali disebelah Azalea dan sibuk dengan layar komputernya. Azalea sibuk membereskan beberapa nota di mejanya sebelum pergi makan siang.

Bukk Azalea masih menenteng tas selempang nya ketika seseorang meletakkan beberapa buku diatas meja didepannya. Azalea spontan melihat kearah pemilik buku yang tampak sedikit kasar. Dan lagi-lagi pria itu lagi, pria menyebalkan dihalte bus tempo lalu. ya, pria yang sama yang beradu tatap dengannya diruang baca.

Pria itu sekarang tampak lebih rapi dengan jas berwarna silver. Azalea menebak bahwa pria itu berusia sekitar 30-an dan bekerja di sebuah perusahaan disekitar sini. perawakannya tampak tegas dengan tatapan datar

"itu kamu kan? " ujar pria itu terlalu bersemangat seperi anak-anak yang baru saja menemukan jawaban dari sebuah kuis paling sulit.

Azalea tak menjawab dan ia rasa pria itu pun tak menunggu jawabannya.

"gadis yang hampir tercebur digot stasiun kan? " ucap pria itu lagi, dan entah kenapa itu terdengar mengesalkan.

Azalea hanya menatapnya, melihat pria itu menaikan alisnya sebelah, pria itu sekarang melempar senyuman dan entah mengapa ia terlihat sangat tampan.

"heii, kok kamu malah melamun" ujar pria itu kembali menyadarkan Azalea, ekspresi sang pria tampak sedikit tak sabaran melihat tingkah gadis didepannya yang lebih memilih membisu.

"Anda bisa melakukan pembayaran dengan saya pak, jam kerja nya sudah selesai"ucap misel tiba -tiba muncul dari belakang Azalea dan dengan cepat meraih buku-buku milik pria itu.

Azalea masih berdiam diri sebelum akhirnya misel mendorong pelan lengannya dan mengisyaratkan gadis itu untuk segera pergi dari tempat itu.

Azalea berlalu dari tempat itu di iringi tatapan tak rela pria didepannya.

senja belum lama datang namun hujan begitu ter buru-buru menghampirinya. Hari ini Azalea lebih memilih pulang kerumah dengan berjalan kaki. tidak ada alasan khusus, tapi ia benci pulang lebih awal.Pulang lebih cepat hanya terlihat seperti beban yang datang lebih awal, Apa yang akan ditemuinya dirumah? hanya pemandangan yang sama setiap harinya, Ayah pemabuk yang tampak menyedihkan dengan suasana rumah yang begitu dingin. tidak ada apa -apa disana selain dia yang mencoba bertahan, entah untuk apa, entah untuk siapa? tapi hidup tetap harus berjalan bukan?

Namun hari ini tampak berbeda, entah kenapa hari ini situasi hatinya terasa suram.Apakah mungkin hujan sore itu benar-benar mempengaruhi Moodnya. sepertinya bukan karena itu, hari ini adalah ulang tahunnya. sekarang setiap tahun,bulan Desember adalah waktu yang begitu dibencinya. ia benci kepada dirinya sendiri yang setiap tahun terus mengharapkan wanita itu akan datang dan memeluknya atau ayahnya yang dalam satu hari sadar dari pengarnya dan kembali menyayanginya. Hanya ada harapan dan doa yang selalu dikirimkannya kepada tuhan, namun sepertinya kali ini tuhan juga benar-benar meninggalkannya, tidak ada siapa-siapa yang datang.

Air mata mengalir dari balik mata indah Azalea, Ia benci ketika ia bersikap melankolis seperti hari ini. Bukankah jika ia diberi kehidupannya yang menyedihkan setidaknya ia harus dihadiahkan hati yang lebih tegar.Tidak seharusnya ia bersikap lemah seperti ini. Diantara gerimis mendung yang menerpanya ia mendesah pelan dalam hati"Aku tak meminta apa-apa tahun ini, kirim satu saja kebahagiaan kepadaku, satu aja..tak apa dalam wujud apa pun"

Tak lama setelah meminta penuh harap dalam hati,Angin bertiup kencang seolah alam mendengarnya.

Brumm, sebuah mobil melintas cepat,tepat disebelah trotoar tempat Azalea sedang berjalan sambil menggenggam payungnya. seketika baju dan roknya basah terkena cipratan air becek dibadan jalan.

Azalea memandang kedepan dan melihat mobil berhenti tak jauh didepan sana. tak lama seseorang keluar dari mobil, Pria itu ada disana lagi.

Azalea masih berdiri sambil menatap pria didepan sana yang juga balik menatapnya dengan tatapan lekat penuh arti.

pria didepan sana bernama Ray, ia menatap lekat kearah gadis kecil didepan sana yang tampak begitu menyedihkan, mata nya terlihat sembab dengan pandangan yang sayu. Ada apa dengannya? kenapa gadis itu benar-benar terlihat rapuh dan menyedihkan.Ini pertemuan ketiga mereka namun Ray tak pernah melihat gadis itu terlihat bahagia sedikit pun.

Ray menghampiri Azalea yang masih berdiri terpaku tanpa merespon apapun.Ray buru-buru melepaskan jas hitam nya ketika melihat baju gadis itu sekarang basah dan terlihat transparan yang menyebabkan lekuk tubuhnya membayang jelas.

Gadis kecil masih menatap lekat kearah Ray,Ia terlihat seperti bunga dandelion yang rapuh, Ray cepat mendekapnya dalam pelukan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!