NovelToon NovelToon

Titisan Darah Biru

Banjir Darah di Bukit Kemangga

Whhuutt..

Whhhuuttt..

Bllllaaaaaaammmm!!!!

Dua sosok bayangan mencelat mundur berlawanan arah usai ledakan dahsyat yang mengguncang lereng Bukit Kemangga.

Satu dari dua bayangan itu adalah sesosok lelaki paruh baya berperawakan gempal dengan kumis tebal. Sorot matanya tajam seolah mampu menembus isi kepala lawan bicara nya. Bekas luka memanjang di pipi kiri memotong alisnya, membuat siapapun yang menatapnya pasti keder duluan.

Di tangan kanannya sebuah gada besi dengan duri duri tajam pada ujungnya, tergenggam erat. Meskipun beberapa bagian tubuhnya sudah terdapat luka akibat sayatan benda tajam dan mengeluarkan darah, tetapi itu seolah-olah tak berpengaruh sama sekali pada lelaki paruh baya itu.

Dia adalah Kebo Panoleh, kepala gerombolan begal Alas Kemangga yang terkenal kejam dan sadis. Setiap orang yang menjadi korban kebrutalan nya, tak satupun dari mereka ada yang selamat. Namanya menjadi momok menakutkan bagi para pedagang maupun orang yang lalu lalang melintasi kawasan kaki Bukit Kemangga.

Para prajurit Keling, salah satu negeri bawahan Majapahit pun tak berdaya untuk menumpas para begal ini. Selain memiliki beberapa bawahan berilmu tinggi, Kebo Panoleh juga terkenal sakti. Bahkan sekelas Tumenggung Kuda Amerta, punggawa negeri Keling, saja harus tewas bersimbah darah diujung gada besi berduri tajamnya.

Tetapi nama besar Begal Alas Kemangga yang kondang di dunia persilatan Majapahit inipun akhirnya menemui nasib naasnya setelah kedatangan orang yang sedang dihadapi Kebo Panoleh saat ini, Mahesa Sura.

Ya pendekar muda bernama Mahesa Sura ini memang menjadi batu sandungan yang merepotkan. Dia berhasil membuat Kebo Panoleh turun tangan sendiri usai beberapa anak buah andalannya dibuat bertekuk lutut melawan Mahesa Sura. Bahkan anak buah kesayangan nya, Menjangan Kalung harus meregang nyawa di ujung pedang sang pendekar itu.

Sekilas, tak seorangpun akan menyangka jika pemuda berpakaian hitam compang-camping dengan beberapa tambalan ini adalah pendekar yang mumpuni. Tetapi penampilannya lah yang menipu semua orang yang meremehkannya. Kecepatan gerakan pedang pendek nya, jurus jurus maut juga tenaga dalamnya benar-benar mengerikan.

Meskipun dengan wajah kumal seperti gelandangan yang sudah berhari hari tidak mandi, sebenarnya wajah Mahesa Sura memiliki ketampanan di atas rata-rata. Sorot matanya yang setajam elang memburu mangsa, seolah-olah sedang menyimpan banyak sekali dendam atas penghinaan yang ia terima di masa lalu.

Sudah hampir satu kali waktu menanak nasi lamanya pertarungan antara Mahesa Sura dan Kebo Panoleh, tetapi sang kepala begal Alas Kemangga belum juga berhasil mengalahkan si gembel Mahesa Sura. Sambil terengah-engah mengatur nafas, Kebo Panoleh mengumpat murka.

"Setan Alas!!!

Darimana kau belajar Ajian Tapak Iblis Neraka itu hah?! Apa hubungan mu dengan Si Iblis Berjari Perak?! "

Mahesa Sura tersenyum sinis mendengar omongan musuh nya. Dia memang sudah lama menunggu kesempatan untuk membuat Kebo Panoleh, orang yang sudah membunuh keluarga Akuwu Mpu Randu yang merupakan orang tua angkat sekaligus penyelamat nya itu, ketakutan setengah mati.

"Maksud mu Ki Kidang Basuki orang tua itu, Kebo Panoleh? Hehehe, ia adalah salah satu guru ku di Lembah Embun Upas.. Kenapa? Takut kau? ", ejek Mahesa Sura.

Phuuuiiiiihhhhhhhh!!!!!

" Sekalipun Si Iblis Berjari Perak masih bisa bertarung di usianya yang sekarang, aku juga tidak akan gentar sedikitpun, bocah brengsek!!

Apalagi cuma bocah ingusan seperti mu, chuuiihhh!! Aku akan membuat mu menyesal karena sudah merusak suasana wilayah kekuasaan ku..! "

Usai menggembor buas, Kebo Panoleh memutar gada besi berduri tajam nya dan melompat tinggi ke udara sebelum melesat turun ke arah Mahesa Sura.

"Pecah kepala mu, bocah sialan..!!! ", maki Kebo Panoleh sambil mengayunkan gada besi berduri tajam nya ke arah kepala Mahesa Sura.

Whhhhhhuuuuuuuggg....

Berbeda dengan sebelumnya, Mahesa Sura hanya menggeser sedikit posisi tubuhnya saat serangan mematikan itu datang. Walhasil, serangan maut Kebo Panoleh hanya menyambar angin kosong sejengkal disamping tubuh sang pendekar muda. Mata Kebo Panoleh melotot lebar melihat itu semua.

Belum hilang rasa kaget Kebo Panoleh, Mahesa Sura membabat pergerakan kaki Kebo Panoleh yang mati langkah dengan pedang pendek di tangan kiri nya.

Shhhrreeeeeetttt...

Tak ingin kaki kanannya putus oleh tebasan pedang pendek Mahesa Sura, Kebo Panoleh cepat tarik gada besinya untuk melindungi kaki kanannya.

Tetapi dengan tindakan ceroboh ini, pertahanan tubuh bagian atas Kebo Panoleh terbuka lebar dan Mahesa Sura tak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Cahaya merah kehitam-hitaman dengan hawa panas aneh yang menakutkan, tercipta di telapak tangan kanan Mahesa Sura. Dengan gerakan cepat, ia hantamkan tapak tangan kanannya ke arah dada Kebo Panoleh.

Whhhuuuuuttttt!

Dengan panik, Kebo Panoleh berusaha untuk bertahan dari serangan musuh. Dia mengangkat tangan kiri nya ke depan dada untuk melindungi diri. Dan..

Bllllaaaaaaammmm...!

Aaaaaarrrrrrrggggggghhhh!!!!

Raungan keras seperti suara orang sedang sekarat terdengar dari mulut Kebo Panoleh berbarengan dengan terlempar nya tubuh lelaki yang pernah menjadi momok menakutkan dari Alas Kemangga ini, mengiringi bunyi ledakan keras tadi. Tubuh gempal nya keras menghujam tanah.

Lelaki tua itu berusaha untuk bangkit meskipun mulutnya berulang kali memuntahkan darah segar sebagai tanda luka dalam yang serius. Tetapi dia hanya mampu duduk sembari melihat tangan kiri nya gosong seperti baru dibakar api.

Sedangkan Mahesa Sura berjalan perlahan mendekat sambil terus waspada kalau kalau orang tua itu melemparkan senjata rahasia.

Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, Mahesa Sura dapat melihat bahwa lawannya sudah cedera dalam parah. Wajah Kebo Panoleh terlihat pucat karena ia banyak mengeluarkan darah.

"Aku bisa mengampuni nyawa mu, Kebo Panoleh! Tapi dengan satu syarat... ", Mahesa Sura menatap tajam pada musuhnya.

" Ka-katakan, a-apa mau mu uhuk uhuk??!! "

"Katakan siapa orang yang menyuruh mu untuk menghabisi nyawa keluarga Akuwu Mpu Randu dari Pakuwon Janti?", lanjut Mahesa Sura.

" A-apa hubungan mu dengan orang tua itu, heh?! ", Kebo Panoleh ganti menatap ke arah Mahesa Sura dengan rasa tahu.

" Aku Mahesa Sura, anak angkat Akuwu Mpu Randu. Satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian yang kau lakukan, Kebo Panoleh! "

"Jadi kau masih hidup?!

Padahal kau lah yang menjadi incaran sesungguhnya. Hahaha, ini sungguh menarik!", Kebo Panoleh malah tertawa terbahak-bahak mengetahui jati diri Mahesa Sura.

" Apa maksud dari kata kata mu itu, bajingan? Lekas katakan sejujurnya ", teriak Mahesa Sura tidak sabar lagi.

" Orang yang menyuruh kami untuk membantai keluarga Akuwu Mpu Randu sebenarnya hanya ingin melenyapkan mu. Pembunuhan itu untuk menutup masalah sebenarnya hehehe.. ", meskipun dengan kondisi yang sudah sangat parah, nyatanya Kebo Panoleh masih bisa tertawa lepas walaupun sesekali dengan batuk darah.

Kebenaran yang tersembunyi ini langsung membuat Mahesa Sura marah besar. Tak dinyana bahwa pembunuhan keluarga orang tua angkatnya hanyalah akibat sampingan dari rencana sesungguhnya.

"Bajingan kalian semua!!!

Sekarang katakan, siapa orang yang menyuruh mu membunuh ku, Kebo Panoleh?! Jika kau tidak bicara, aku pasti akan membunuh mu!! ", teriak Mahesa Sura murka.

" Hahahaha... Sampai mati pun tak akan ku katakan, Bocah Sialan uhuk uhuk!!!

Orang itu jauh lebih menakutkan daripada Batara Yama dari Neraka. Carilah sendiri orang itu, dan yang akan kau temui hanyalah hantu yang tidak berwujud saja hahaha.. ", tawa Kebo Panoleh menggelegar meskipun Mahesa Sura menatapnya dengan tajam.

" Bangsat!!! Mati saja kau....!! "

Mahesa Sura memutar pedang pendek nya sebelum mengayunkan nya ke leher Kebo Panoleh yang masih terduduk lemah diatas tanah.

Chhhrrraaaasssssshhhh!!!!!

Darah segar langsung muncrat ke tubuh Mahesa Sura saat kepala Kebo Panoleh putus terkena sabetan pedang pendek nya. Potongan kepala milik pimpinan begal Alas Kemangga itu seketika jatuh dan menggelinding ke tanah yang lebih rendah. Tubuhnya luruh sambil kejang-kejang sebelum diam untuk selama-lamanya.

Mahesa Sura langsung mengusap sisa darah segar di bilah pedang pendek nya di badan Kebo Panoleh sebelum menyarungkan nya di pinggang. Segera setelah itu, ia membalikkan mayat Kebo Panoleh dan memeriksa tubuhnya. Sebuah kantong kain berisi beberapa kepeng perak dan emas berhasil ditemukan. Diantara keping kepeng perak dan emas itu, Mahesa Sura menemukan sebuah lencana dari perak bergambar tengkorak manusia.

"Ini bukankah lambang Padepokan Bukit Tengkorak?! Bagaimana bisa si bajingan ini memiliki nya? Apa ini ada hubungannya dengan kata-kata terakhir nya? Aku akan mencari tahu.. ", gumam Mahesa Sura sembari menyimpan barang-barang itu ke dalam bantalan kain hitam nya.

Sesaat setelah berdiri, Mahesa Sura mengedarkan pandangan ke sekitar tempat itu. Puluhan mayat bergelimpangan tak tentu arah. Anggota begal Alas Kemangga itu telah menjadi korban kemurkaan nya atas kematian orang tua angkatnya dengan tubuh nyaris tak berbentuk lagi. Beberapa kehilangan anggota tubuhnya sedangkan kebanyakan tewas dengan tubuh nyaris hancur. Dia membantai mereka tanpa ampun.

Mulai hari itu, begal Alas Kemangga lenyap seutuhnya dari muka bumi.

Sambil berjalan menuruni lereng Bukit Kemangga, Mahesa Sura terkenang saat ia berusia 10 tahun saat ia berlutut di hadapan para lelaki bertampang aneh yang ia temui setelah masuk ke dalam kawasan Lembah Embun Upas.

"Guru sekalian, terima aku sebagai murid mu.. "

Empat Orang Sesat Tak Terkalahkan

Empat lelaki tua itu menatap bocah yang badannya penuh luka dan memar itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sekilas saja, terlihat bocah ini terlihat sungguh sangat menyedihkan.

"Bocah busuk, darimana asal mu? Mengapa kau bisa sampai kemari hah?!

Jawab jujur, kalau tidak aku akan menguliti tubuh mu untuk kujadikan makanan serigala serigala peliharaan ku", ancam seorang laki-laki tua bertubuh kurus dengan janggut hitam panjang yang hanya mengenakan kain cawat kusam dan baju tanpa lengan dengan warna serupa.

"Eh jangan galak galak sama anak kecil, Serigala Tua...

Ku lihat dia masih muda, pasti dagingnya empuk dan masih perjaka. Kalau begitu kita harus merebusnya hidup-hidup untuk dijadikan obat awet muda. Bukankah itu lebih baik? Hihihi.. ", sahut seorang wanita tua dengan rambut putih tak pernah disisir yang membuatnya nampak menakutkan. Apalagi ditambah dengan bibirnya yang hitam dan tatapan matanya yang seolah-olah ingin memakan orang hidup hidup, membuat bocah kecil Mahesa Sura ini bergidik ngeri.

"Kalian tua bangka bisa-bisanya menakut-nakuti anak-anak. Apa kalian ini anggota wewe gombel hah?! Menjengkelkan..!!

Bocah, jangan dengarkan omongan dua orang sinting itu. Kau ikut aku saja. Ku terima kau sebagai murid. Bagaimana hah?! " , seorang lelaki tua berbadan gempal dengan kepala botak dan kumis seperti kumis tipis dan janggut pendek penuh uban, ikut nimbrung pembicaraan itu.

"Tidak bisa begitu! Aku yang bicara duluan dengan nya, kenapa kau yang malah punya murid. Aku tidak akan membiarkan nya begitu saja", sergah lelaki tua kurus yang bicara paling awal.

" Tidak bisakah kalian mengalah pada perempuan heh bajingan tua bangka?!

Aku saja yang jadi gurunya. Bocah itu akan ku ajari ilmu racun ku biar dia menjadi setan racun selanjutnya hihihihi ", tukas wanita tua itu tak mau kalah.

Adu mulut antara mereka bertiga semakin memanas yang jika tidak dicegah maka pasti akan menjadi pertarungan antara mereka. Maka dari itu, si lelaki tua beralis putih yang sedari tadi hanya diam langsung bicara.

"Apa belum cukup kalian bertiga ribut seperti ini hah?!! "

Mendengar suara itu, keributan antara tiga orang tua itu langsung berhenti seketika. Ini karena ketiga nya sangat menghargai orang tua itu.

"Kakang Basuki, berilah aku keadilan. Si Serigala Tua dan Tangan Besi ingin merebut calon murid ku", perempuan tua itu merajuk lagi, berharap lelaki tua berwajah seram itu ini berpihak kepada nya.

" Tutup mulut mu, Rengganis.. !!

Apa kau pikir aku tak bisa melihat niat mu hah? Kau ingin mewariskan ilmu racun mu itu sambil mencekoki pikiran bocah ini untuk balas dendam pada orang-orang dari Kalingga bukan? Aku tidak setolol yang kau pikirkan.

Sekarang begini saja, biar bocah ini yang tentukan pilihan pada siapa ia akan berguru", mendengar omongan lelaki tua yang disebut dengan nama Basuki itu, tiga orang yang tadi berebut untuk mendapatkan bocah itu langsung unjuk kebolehan.

"Bocah, aku Ki Serigala Awu, Pendekar Cakar Besi. Kalau kau jadi murid ku, aku akan mengajarkan Ilmu Cakar Serigala Besi ku pada mu. Kau bisa membunuh musuh mu dengan cakar mu dengan sekali serangan, mencabik-cabik mereka jadi potongan kecil kecil.

Selain itu aku juga akan menurunkan Ajian Indra Dewa yang akan membuat mu bisa merasakan bahaya dari jarak jauh. Bagaimana heh? Kau mau jadi murid ku kan? ", ujar si lelaki bercawat kusam itu segera.

" Jangan dengarkan omongan nya, Bocah..

Aku Nini Rengganis, Dewi Segala Racun. Jika kau bersedia menjadi murid ku, aku akan menurunkan semua ilmu racun ku kepada mu. Selain Ajian Tapak Wisa, aku juga akan memberimu pusaka Kotang Antakusuma yang membuat mu bisa terbang tanpa sayap. Dengan itu semua, kau akan menjadi pendekar tak terkalahkan ", sahut perempuan tua yang mengaku sebagai Nini Rengganis itu penuh semangat.

" Untuk apa bisa terbang kalau tubuh mu serapuh kayu kering, bocah?!

Lebih baik kau belajar ilmu ku. Tinju Gempur Bumi ku mampu menghancurkan batu dengan sekali pukul. Di tambah lagi aku punya Ajian Lembu Sekilan yang akan membuat tubuh mu kebal dari serangan tangan kosong ataupun ilmu kanuragan. Itu semua akan kau dapatkan saat kau menjadi murid ku, Kebo Kenanga, Si Tinju Maut. Bagaimana bocah? Kau tertarik? ", sergah lelaki tua bertubuh gempal itu sembari sedikit tersenyum.

" Kalau kakek ini bagaimana? "

Ucapan bocah Mahesa Sura ini sontak membuat Serigala Awu, Nini Rengganis dan Kebo Kenanga menoleh bersamaan ke arah lelaki tua beralis putih itu.

"Aku?! Eh aku Ki Kidang Basuki Si Iblis Berjari Perak. Aku cuma orang tua yang tak mau repot mengurus murid. Kau pilih saja diantara mereka yang mau mengajari mu ilmu kanuragan. Aku tidak tertarik untuk mengangkat murid", ujar lelaki tua itu acuh tak acuh.

"Sesepuh semuanya, aku mau menjadi murid kalian bertiga, mewarisi ilmu kalian agar tetap lestari di dunia ini.

Tetapi aku minta satu syarat untuk itu semua", ucap bocah Mahesa Sura segera.

" Apa itu..??! ", tanya Serigala Awu, Nini Rengganis dan Kebo Kenanga bersamaan.

" Aku mau kakek tua ini juga menerima ku sebagai murid nya. Jika tidak, jangan harap aku mau jadi murid kalian bertiga "

Mendengar jawaban bocah Mahesa Sura ini, keempat orang tua itu saling pandang. Pemikiran bocah kecil ini benar-benar diluar bayangan mereka. Meskipun sejujurnya mereka tidak tahu apa yang telah dialami bocah kecil berusia sekitar 10 tahun ini sebelum ia sampai di tempat tinggalnya.

Nini Rengganis menarik mereka bertiga untuk sedikit menjauh dari bocah kecil Mahesa Sura. Sepertinya ia tidak ingin omongan nya di dengar oleh bocah kecil itu.

"Kakang Basuki, kita tidak boleh kehilangan kesempatan untuk memiliki murid. Aku sadar umur ku sudah tidak lama lagi. Satu-satunya penyesalan terbesar dalam hidup ku hanya tak ingin ilmu yang ku miliki akan terkubur bersama ku.

Karena itu aku minta Kakang menyetujui permintaan bocah itu. Aku mohon Kakang ", bisik Nini Rengganis dengan penuh harap. Dua lelaki tua di sebelah nya juga menatap Ki Kidang Basuki penuh harap agar lelaki tua itu bersedia.

Ki Kidang Basuki menghela nafas berat. Selama hampir 10 tahun lebih mereka memang mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia persilatan di Lembah Embun Upas agar tetap bisa aman di sisa hidupnya. Banyak orang yang ingin mereka mati karena banyaknya tindakan buruk mereka di masa lalu. Lembah Embun Upas di kaki selatan Gunung Kampud memang memberikan perlindungan kepada mereka karena lembah ini sangat berbahaya, penuh dengan tumbuhan beracun dan hewan berbisa yang membuat tak seorangpun yang ingin memasukinya.

Ki Kidang Basuki menatap ketiga orang tua itu sekali lagi seolah ingin meyakinkan hatinya sendiri sebelum membuat keputusan.

"Baiklah, aku bersedia.. "

Wajah Nini Rengganis, Serigala Awu dan Kebo Kenanga langsung sumringah puas mendengar jawaban orang tua itu. Mereka kembali menatap ke arah bocah kecil Mahesa Sura yang masih berlutut di tanah. Kali ini Kebo Kenanga yang bicara.

"Bocah, Kakang Basuki sudah bersedia untuk menerima mu sebagai murid. Maka mulai hari ini kau resmi menjadi murid Empat Orang Sesat Tak Terkalahkan. Kau akan kami didik sehingga menjadi pendekar hebat yang pernah ada".

" Terimakasih Guru sekalian.. ", si bocah kecil Mahesa Sura segera bersujud kepada keempat orang tua itu. Keempat orang tua itu segera mengangguk ringan.

Maka mulai hari itu, si bocah kecil Mahesa Sura pun di didik oleh Nini Rengganis, Serigala Awu, Kebo Kenanga dan Ki Kidang Basuki dengan didikan aneh-aneh mereka.

Pagi ia disuruh Kebo Kenanga mengangkat kayu-kayu besar yang bukan ukuran tubuhnya, sore ia mesti menguatkan jari jemari tangannya di dalam pasir panas bersama Serigala Awu. Sedangkan setelah matahari terbenam si bocah kecil Mahesa Sura harus ikut Nini Rengganis berburu hewan berbisa. Sedangkan Ki Kidang Basuki hanya sesekali memberikan ilmu untuk bocah kecil, saat ia sedang tidak ada latihan dengan mereka bertiga.

Berkat didikan keras itu, Mahesa Sura tumbuh menjadi pemuda yang memiliki tubuh kuat. Otot-otot nya berkembang sempurna, tubuhnya juga perlahan-lahan tumbuh tinggi sempurna.

Tetapi banyak pula suka duka yang ia alami selama berguru pada Empat Orang Sesat Tak Terkalahkan itu. Di tahun keempat ia belajar, Serigala Awu meninggal dunia setelah mewariskan seluruh kemampuan nya pada Mahesa Sura. Pemuda itu sampai menangis sampai bengkak kedua matanya saking sedihnya.

Di tahun ketujuh, giliran Kebo Kenanga yang pergi untuk selamanya. Untung saja ilmu andalannya Ajian Tinju Gempur Bumi dan Ajian Lembu Sekilan sudah diwariskan kepada Mahesa Sura.

Setelah kematian Kebo Kenanga, Ki Kidang Basuki Si Iblis Berjari Perak menjadi lebih giat mendidik Mahesa Sura remaja. Dia khawatir bahwa ia akan mati sebelum bisa mewariskan ilmu ilmu kesaktiannya kepada murid kesayangannya.

"Tahan nafas mu lalu lepaskan saat tenaga dalam mu kau hempaskan, Sura..!! "

Mendengar teriakan Ki Kidang Basuki, Mahesa Sura mengangguk cepat dan menghantamkan tapak tangan kanan nya yang sudah di lambari cahaya merah kehitam-hitaman. Hawa panas menakutkan mengikuti lontaran cahaya merah kehitam-hitaman ini menerabas ke arah pohon randu alas di hadapannya. Dan...

Blllllaaaaaaaaaammmmm..!!!

Kraaaaattaakk bruuuaaakkk..!!!

Pohon randu alas sebesar tubuh manusia itu langsung meledak dan hancur berantakan kemudian roboh. Ki Kidang Basuki manggut manggut senang melihat keberhasilan Mahesa Sura menguasai Ajian Tapak Iblis Neraka yang ia ajarkan.

Sambil berjalan mendekati Mahesa Sura yang masih terpukau dengan keberhasilan nya sendiri, Ki Kidang Basuki Si Iblis Berjari Perak pun berkata,

"Jangan lekas berpuas diri, Sura..."

Warisan Dendam Para Guru

"Diatas langit masih ada langit, Sura...

Kelak kau harus berhati-hati dalam bersikap. Tidak boleh gegabah dalam bertindak. Setiap kejahatan harus dihukum seberat mungkin, jangan menyisakan sedikit bibit kejahatan. Karena alur dendam akan selalu berulang dalam kehidupan ", lanjut Ki Kidang Basuki kemudian.

" Dan kelak kau juga harus menuntut balas atas nama kami juga, Sura. Mereka yang sudah membuat kami menyembunyikan diri disini harus kau buat bertekuk lutut "

Suara Nini Rengganis dari arah belakang membuat Ki Kidang Basuki dan Mahesa Sura menoleh pada perempuan tua yang sedang menggendong seekor babi hutan ukuran sedang. Begitu sampai di dekat mereka berdua, Nini Rengganis segera melemparkan babi hutan yang sudah mati itu.

"Lembu Rangin Si Pendekar Pedang Kembar, Mpu Sadeng Si Resi Pengembara dan Dewi Upas adik seperguruan ku.

Nama-nama ini harus kau ingat betul-betul, Sura. Mereka adalah orang-orang yang mencelakai ku hingga harus bersembunyi di sini. Ingat itu.. ", geram Nini Rengganis.

" Murid mengerti Guru.. ", Mahesa Sura mengangguk hormat.

" Selain mereka, ingatlah untuk membuat Padepokan Bukit Tengkorak hancur, murid ku..

Pimpinan mereka Si Jerangkong Hitam dan Gajah Mungkur dari negeri Mataram bersekongkol untuk mencelakai guru mu mendiang Kebo Kenanga dan Serigala Awu hingga mereka terpaksa bersembunyi disini. Dengan bekal ilmu kanuragan yang kau pelajari dari kami berempat, kau akan menjadi yang tak terkalahkan dan harus bisa membalaskan dendam mereka..", imbuh Ki Kidang Basuki kemudian.

"Ada satu pertanyaan dari murid, Guru.. "

"Katakan saja, Sura.. ", sahut Nini Rengganis.

" Guru sekalian mendapatkan julukan sebagai Empat Orang Sesat Tak Terkalahkan, mengapa harus sampai melarikan diri dari kejaran musuh dan bersembunyi di Lembah Embun Upas ini? ", Mahesa Sura menatap wajah Ki Kidang Basuki dan Nini Rengganis bergantian.

" Kami berempat memang belum pernah kalah dalam pertarungan, Sura..

Entah itu melawan Dewa Pedang dari Gunung Karundungan ataupun Bidadari Bersayap Seribu dari Lembah Bengawan Wulayu saat Peristiwa Geger Kalinggapura, meskipun tidak menang, mereka juga tidak bisa menundukkan kami.

Satu-satunya hal yang membuat kami terpaksa harus mundur adalah Racun Pelemas Tulang yang menggerogoti kekuatan kami karena ulah Dewi Upas. Sekali dalam waktu sehari , kami akan kehilangan kekuatan karena racun terkutuk itu. Karena itu sangat berbahaya bagi kami jika bertarung lama. Aku sudah bekerja keras selama puluhan tahun untuk mencari penawar nya dan berhasil menemukan nya tetapi raga kami yang sudah tua juga tak mampu lagi jika harus bertarung melawan para pengkhianat itu. Karena itu, warisan dendam ini kau sebagai murid kami berempat yang harus menuntaskan nya", imbuh Nini Rengganis kemudian.

"Murid berjanji Guru. Siapapun orang yang sudah membuat guru guru ku terlunta-lunta seperti ini akan mendapatkan balasan yang setimpal".

Mendengar jawaban Mahesa Sura ini Ki Kidang Basuki dan Nini Rengganis tersenyum puas.

Selanjutnya Mahesa Sura ditempa dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Ki Kidang Basuki dan Nini Rengganis. Hingga tahun kesembilan, akhirnya Ki Kidang Basuki meninggal dunia. Mahesa Sura benar-benar kehilangan sosok lelaki tua itu yang telah menjadi guru sekaligus orang tua yang menjaganya.

Hingga suatu senja...

"Sura, waktu ku sudah dekat. Ambilah ini dan kenakan di tubuh mu", ujar Nini Rengganis yang terbaring lemah diatas pembaringan seraya menyerahkan sebuah baju pelindung dada berwarna hitam dengan hiasan benang emas di pinggiran nya. Sebuah hiasan bergambar bintang segilima dari benang emas pun terlukis indah di tengah-tengah.

Dengan patuh, Mahesa Sura segera mengenakan baju pelindung dada itu. Keajaiban pun segera terjadi.

Tiba-tiba baju pelindung dada berwarna hitam itu melesak masuk ke dalam kulit nya, menciptakan rasa sakit yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Aaaaaaarrrrrrrrggghhhhhhh!!!!

Seluruh tubuh Mahesa Sura penuh dengan keringat. Bahkan saking banyaknya keringat yang membasahi tubuh nya, dia mirip dengan orang yang baru saja mandi.

Saking sakitnya, Mahesa Sura berguling guling ke lantai pondokan yang selama ini menjadi tempat tinggal nya bersama guru guru nya. Sementara itu Nini Rengganis hanya menatapnya saja tanpa berbuat apa-apa.

Usai baju pelindung dada itu menyatu dengan kulit tubuh Mahesa Sura, warna hitam baju pelindung itu menghilang. Berubah menjadi warna kulit coklat muda seperti kulit Mahesa Sura pada umumnya. Hanya menyisakan sebuah tattoo bergambar bintang warna hitam pada tengah dada nya.

Mahesa Sura menarik nafas lega karena siksaan yang ia terima telah sirna. Perlahan ia bangkit dan mendekati Nini Rengganis yang masih terbaring lemah.

"Itu adalah Kotang Antakusuma, Sura...

Dengan benda pusaka itu menyatu dalam tubuh mu, kau akan memiliki kemampuan gerbang seperti rajawali meskipun tanpa sayap. Kau bisa menempuh jarak ribuan tombak hanya dengan satu kali menjejak tanah", ucap Nini Rengganis dengan suara lemah.

"Terimakasih banyak Guru.. "

"Jangan berterimakasih dulu pada ku. Ambil kotak kayu hitam di sebelah sana", Nini Rengganis menunjuk sebuah kotak kayu hitam panjang yang ada di atas balungan pondokan. Letaknya cukup tinggi, hampir 2 tombak.

Tak butuh waktu lama, Mahesa Sura melompat dan dengan mudah menggapai kotak yang berdebu itu. Setelah itu ia dengan cepat melayang turun dan mendarat di samping sang guru.

"Bukalah, Sura.. "

Mendengar perintah sang guru, Mahesa Sura pun segera membuka nya. Sebuah pedang pendek dengan gagang berbentuk kepala naga yang sedang membuka mulutnya lengkap dengan sarung pedang berwarna hitam kecoklatan ada di dalam kotak kayu itu.

Selain itu, ada gulungan daun lontar yang bertuliskan Kitab Pedang Tanpa Tanding tergolek di sampingnya. Jelas kedua benda ini adalah benda pusaka dunia persilatan.

"Itu adalah Pedang Naga Pasa dan Kitab Pedang Tanpa Tanding. Kedua benda pusaka yang aku curi dari Padepokan Gunung Pedang di wilayah timur lereng Gunung Pawitra.

Pelajarilah baik-baik, Sura. Semoga setelah aku mati, kau bisa membalaskan dendam ku dan guru guru mu yang lain. Hanya itu yang bisa guru berikan pada muuuhhhh.. "

Setelah berkata seperti itu, Nini Rengganis menutup mata nya. Mahesa Sura dengan cepat mendekati tubuh perempuan tua itu. Saat ia meraba-raba nadi di lengan kiri Nini Rengganis, Mahesa Sura langsung berteriak keras.

"GURUUUUUUUU.... !!!! "

Senja itu, di bawah guyuran hujan lebat yang tumpah dari atas langit Lembah Embun Upas, Mahesa Sura menguburkan jenazah Nini Rengganis di samping ketiga makam gurunya yang lain. Sebuah batu kali persegi empat ia tancapkan di pusara Nini Rengganis sebagai tanda dimana ia dikuburkan.

Selama tujuh hari setelah kematian Nini Rengganis, Mahesa Sura dengan setia mengunjungi makam keempat gurunya. Ini sesuai dengan tradisi saat itu yang mengatakan bahwa makam wajib dijaga hingga tujuh hari lamanya untuk mencegah terjadinya pencurian jenazah.

Pagi hari itu, matahari bersinar terang di ufuk timur seolah-olah menjadi penanda baru bagi hidup Mahesa Sura. Tadi malam, ia sudah mengemasi beberapa barang bawaan yang akan ia bawa selama mengembara untuk melakukan wasiat terakhir dari para gurunya.

Sesaat sebelum meninggalkan tempat yang sudah menjadi rumah nya selama 10 tahun terakhir, Mahesa Sura mengedarkan pandangan nya ke sekeliling terutama ke makam berjejer rapi yang ada di pojokan tempat itu.

"Guru, jangan khawatir. Suatu saat aku akan mengunjungi kalian. Sekarang, berikan restu mu agar aku bisa membalaskan dendam kalian dan dendam ku sendiri. Aku mohon pamit.. "

Usai berkata demikian, Mahesa Sura memutar tubuhnya dan mulai langkah pertama nya meninggalkan Lembah Embun Upas. Tiba-tiba..

Plllaaaaaakkkkkkk!!!

"Sura... Sura, eling Sura...! Sura, eling... ", suara yang sangat dikenal oleh Mahesa Sura terdengar lantang. Seketika Mahesa Sura sadar bahwa ia baru saja melamun tentang masa lalunya.

" Sura sahabat ku eling, jangan sampai kesambet setan lewat! Cepat bangun! "

Lelaki bertubuh bogel dengan muka pas-pasan ini mengangkat tangannya tinggi tinggi, bermaksud untuk menampar Mahesa Sura. Dia tidak tahu bahwa Mahesa Sura sudah sadar dan langsung berkelit saat ia mengayunkan telapak tangan nya ke arah pipi sang sahabat. Walhasil ia jatuh tengkurap di samping Mahesa Sura karena kehilangan keseimbangan.

"Aduh semprul, kok main hindar saja tooo... "

Sambil bersungut-sungut kesal, lelaki bertubuh bogel itu bangun dari tempat jatuhnya sambil duduk di sebelah kaki sang pendekar.

"Ya mana sudi aku kau tampar lagi, Nggak! Sialan kau, pipi ku sampai panas begini kau tempeleng", maki Mahesa Sura sambil mengelus pipi kirinya yang memerah.

" Ya maaf, lha wong habis turun dari Bukit Kemangga lalu duduk disini kok malah diam saja tak panggil beberapa kali.

Makanya terpaksa aku tempeleng supaya kau sadar. Maaf ya.. ", balas si lelaki bogel yang bernama Tunggak itu.

" Ah sudahlah, jangan lemas begitu. Ayo kita berangkat ", Mahesa Sura bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke arah utara. Tunggak pun langsung segera mengejar dengan terburu-buru.

" Kita mau kemana Sura? "

Mendengar pertanyaan kawan karibnya ini, Mahesa Sura tak berhenti tetapi menjawabnya sambil berjalan,

"Cari makan... "

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!