Baru mau menekan password apartemennya, perhatian Taehyung langsung tertuju pada sebuah keributan yang berasal dari seorang lelaki paruh baya dengan seorang gadis manis berseragam merah.
Taehyung yang merasa tertarik, langsung melangkah mendekati kedua orang tersebut. Dia menyandarkan tubuhnya ke tembok dan mendengarknya dengan santai.
"Tidak bisa seperti itu, Pak. Pesanan yang telah sampai tidak bisa dibatalkan begitu saja!"
"Kenapa tidak, bisa? Tinggal dibawa lagi ke restoranmu, 'kan?"
"Jika pembatalan tanpa alasan, gaji saya yang akan dipotong dan saya tidak ikhlas itu terjadi."
"Itu urusan kamu, bukan urusan saya." Ketika lelaki itu hendak masuk dan menutup pintu, dengan cepat gadis berseragam merah itu menahannya.
"Bapak tidak bisa seenaknya seperti itu!" Gadis itu mendengkus dingin. "Kalau memang Bapak miskin dan tidak mampu membayar harusnya tidak usah memesan."
Taehyung tergelitik mendengar ucapan gadis itu.
Dibilang miskin, lelaki itu itu langsung memukul pintunya kuat-kuat. "Apa kau bilang?!" Matanya menyalak. "Mulutmu itu mau kutampar ya?!"
Si gadis melarikan sebelah tangannya dari pintu. Ia agak gentar. Namun, semenit kemudian keberaniannya kembali.
"Saya tidak takut!"
Pernyataan tersebut membuat Taehyung berseloroh pelan sekali. Lelaki itu merasa kagum.
"Kau!"
Ketika bapak itu hendak melayangkan tamparannya kepada sang gadis manis, dengan aksi heroik Taehyung menghampiri keduanya dan menahan tangan lelaki yang hampir mengenai pipi sang gadis.
"Jangan berlaku kasar, Pak," ujar Taehyung.
Lelaki itu memandang Taehyung. "Siapa kamu?!"
Taehyung menghempaskan tangan lelaki itu perlahan. "Tidak penting saya siapa! Tapi tidak baik jika Bapak melakukan hal kasar pada seorang gadis!"
Lelaki itu menunjuk gadis di depannya. "Gadis inilah yang mulai duluan."
"Bohong! Bapak ini mempermainkan saya dengan tidak mau membayar pesanan saya!" timpal gadis dengan tag name Jasmine.
"Apa benar yang gadis ini katakan?" kata Taehyung pura-pura tidak tahu.
Lelaki itu mendengkus. "Saya 'kan tidak mengambil pesanan, terus kenapa saya harus bayar!"
"Seharusnya Bapak tidak mempermainkan gadis ini. Kasihan dia."
Lelaki itu mendengkus geli. "Jika kamu kasihan, ya sudah bayar saja," ucapnya pada Taehyung, "sudah, saya malas meladeni kalian."
Ketika lelaki tersebut hendak masuk, dengan cepat Taehyung memegang tangannya, kemudian memilinnya ke belakang. Persis seorang polisi yang menangkap panjahat.
"Ini bukan soal membayar, tapi lebih ke tanggung jawab," ucap Taehyung tegas, "saya akan melapor pada polisi kalau Bapak bersikeras untuk tidak membayar."
"Iya-iya, saya akan bayar." Mendengar penuturan si lelaki, Taehyung melepaskan tangannya.
Setelah mengambil uang, lelaki tersebut langsung menyerahkannya pada Jasmine. Tak lupa dia juga mengambil pesanannya.
Sesaat setelahnya lelaki itu masuk. Ia membanting pintu. Suara bantingan pintu tersebut, berhasil membuat Taehyung dan Jasmine terperanjat.
Si gadis mendengkus. "Astaga!"
"Kamu tidak apa-apa?" ujar Taehyung membuka suara.
"Tidak, kok, Pak. Sekali lagi terima kasih karena sudah menolong saya."
Taehyung berangguk kecil. "Tidak masalah," katanya, "apa yang menyebabkan lelaki itu sampai ingin menamparmu?"
Gadis itu tersenyum getir. "Sebenarnya ini salah saya karena mengatainya miskin," akunya, "tapi saya melakukannya karena kesal. Ini bukan pertama kali dia melakukan hal seperti ini."
Ketika lelaki yang berjalan beriringan dengannya mengangguk, si gadis langsung menambahkan.
"Jika terus mengalah pada orang seperti bapak tersebut, dia akan bertindak seenaknya," katanya berani.
Taehyung kembali mengangguk. "Ya kamu benar, tidak ada satu orang pun yang suka dipermainkan."
Setelah beberapa saat hening, si gadis berseragam tersebut pamit duluan untuk lanjut bekerja. Sebelum pergi ia kembali mengucapkan rasa terima kasih.
Ketika Jasmine telah berjalan cukup jauh, Taehyung membaca tulisan chicken family yang tertera di belakang seragam gadis tersebut. Taehyung menyunggingkan senyumnya. Ia memastikan akan kembali berjumpa dengan gadis itu dalam waktu dekat.
***
Ketika masuk ke apartemen sambil membayangkan wajah cantik gadis tadi, tiba-tiba saja Tae mendengar seseorang menyebut namanya. Taehyung menoleh ke arah suara tersebut. Lelaki berhidung mancung itu kaget setengah mati saat melihat wajah Jungkook yang terkena sinar layar ponsel.
Taehyung langsung menghidupkan lampu ruang tamu. Ia memandang Jungkook kesal. "Hey! Memangnya tidak bisa, ya, kau menyalakan lampu."
"Silau kalau lampunya dihidupkan, Hyung," jawab pemuda bermata bulat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Lalu kenapa kau main di sini, hah?!"
"Bosan di kamar terus. Mau cari tempat baru."
Mendengar jawaban Jungkook, Taehyung mendengkus dingin. Apanya suasana baru, jika yang kau lihat masih sama, tambahnya dalam hati.
"Oh ya, Hyung dari mana?"
"Cari angin."
Jungkook yang masih menatap layar ponsel, mencebikan bibir tipisnya. "Angin dicari. Makanan kek," cibirnya, "oh ya, Hyung belikan aku ayam goreng, nanti aku ganti."
Taehyung mendengkus mendengar permintaan santai maknae di grupnya. "Enak saja. Beli sendiri sana."
"Mana bisa, Hyung. Aku lagi asik main, ini."
"Game saja yang kau tau ...." Tak lama ide jahil melintas di kepalanya. Taehyung mendekati Jungkook lalu menekan tombol yang langsung mengeluarkan lelaki yang umurnya setahu di bawahnya itu dari permainan. Kemudian sambil terkikik, ia berlari.
Jungkook murka, lalu mengancam akan membalas perbuatan Taehyung kepadanya. Lelaki yang sering disamakan dengan kelinci itu memberengutkan wajahnya imut. Andai hyung-nya itu tahu, betapa susahnya Jungkook untuk sampai ke benteng musuh.
Setelah menjalani tiga hari dengan memikirkan gadis berseragam itu. Ia tidak tahan lagi untuk berjumpa dengan gadis itu. Dengan bantuan Naver, Taehyung menemukan nomor telepon restoran tempat sang gadis bekerja.
Setelah pesanan tersebut tersambung dan seseorang yang menyambut telponnya menanyakan pesanan Taehyung. Lelaki itu memesan tujuh ekor ayam goreng dan satu kaleng coca-cola.
Sambil menunggu pesanan ayam gorengnya datang, Taehyung pergi mandi. Ia harus tampil semaksimal mungkin jika bertemu ingin dengan gadis yang mampu, bertengger di pikirannya selama berhari-hari.
Tiga puluh menit kemudian.
seorang gadis berseragam restoran chicken family, menekan bel pintu apartemen. Gadis itu terlihat membincing paper bag coklat bercap ayam jago yang tengah memegang ayam goreng.
Tak lama kemudian pintu tersebut dibuka oleh seorang pria dengan mata sipit dan bibir plum yang seksi. Kulit wajahnya nampak bening.
"Selamat siang, Pak, saya dari restoran Chicken Family, ingin mengantarkan pesanan ...." Sang gadis melihat struk pembayaran untuk mengetahui nama pemesan. "Tuan Kim Taehyung."
Pria yang memiliki wajah seperti mochi mengangguk. "Berapa semuanya."
"Totalnya jadi 20. 000 won." Setelah disebutkan nominal yang harus dibayar, lelaki tadi mengambil kartu debit di kamarnya. Setelah transaksi selesai, gadis berseragam itu membungkuk lalu pergi.
Lelaki itu membawa masuk ayam goreng pesanan Taehyung. Sebelum sampai ke dapur, ia bertemu dengan Taehyung yang baru selesai mandi.
"Kau baru mandi?" tanya teman Taehyung itu sarkastik. Pasalnya waktu telah menunjukkan pukul setengah dua belas. "Mandi pagi atau siang?"
Diberi pertanyaan seperti itu, Taehyung berdecak sebal. "Alah, biasalah itu."
Lelaki bermata sipit itu memberikan tatapan sinis begitu mendengar jawaban Taehyung barusan. Sedetik kemudian ia teringat ayam goreng milik lelaki itu. "Oh ya, kau pesan ayam goreng, ya?"
Penuturan temannya itu langsung membuat senyum Taehyung mengembang. "Apa pengantar ayamnya masih di depan?" Belum juga mendengar jawaban temannya, Taehyung berceletuk sambil melangkah menuju kamarnya. "Suruh dia tunggu, ya. Aku mau ganti baju."
"Kenapa disuruh tunggu, pesananmu sudah kuambilakan," kata lelaki itu saat Taehyung hendak membuka pintu kamar.
Taehyung menoleh dan memandang temannya sebal. Gagal sudah rencananya untuk bertemu gadis itu. "Harusnya jangan kau ambilkan!" Ia mendengkus kesal, sebelum melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Teman serumah Taehyung itu tak kalah kesal. Siapa sangka niat baiknya malah membuatnya dimarahi. Sesampainya di dapur, lelaki itu sedikit melemparkan ayam goreng pesanan Taehyung di atas meja makan.
Setelah ia kembali ke ruang tengah, berkumpul dengan member-member lain. Keenam member BTS tengah berkumpul untuk menonton film horor yang tak sempat mereka nonton di bioskop.
"Kau tadi bawa apa, Jim?" tanya Kim Namjoon.
"Pesanan ayam goreng, milik Taehyung."
"Ya sudah apalagi yang kau pikirkan. Bawa ayam goreng itu kemari!" sahut Seokjin.
"Tapi itu 'kan punya Taehyung, Hyung."
"Lalu? Memangnya Taehyung akan merah jika kita memakannya?" kata Seokjin enteng.
"Iya, Jimin, bawa sajalah kemari," timpal Min Yoongi tidak sabar.
"Benar, Hyung, kalau Tae-hyung marah. Akan kusleding dia." Jungkook ikut menambahkan.
Jimin yang didesak lantas mengambil ayam goreng pesanan Taehyung di dapur. Sekembalinya dari mengambil ayam goreng, ia meletakan papar bag tersebut di tengah-tengah para member.
Sebagai penyuka ayam goreng dan hyung nomor dua di grup, Min Yoongi langsung mengambil paper bag tersebut dan merogoh isi dalamnya. Ia berdecak saat tahu kalau Taehyung hanya memesan satu minuman soda.
Ditempat lain Taehyung yang telah memakai celana Basket dan baju kaos tanpa lengan, pergi ke kamar Jimin untuk mengganti uang teman sejawatnya itu. Ia mengetuk pintu kamar Jimin berulang kali. Namun, tidak kunjung mendapatkan jawaban.
Lelaki itu kemudian pergi ke ruang tengah. Mungkin Jimin ada di sana. Dan, benar saja, ia melihat Jimin dan ke lima member BTS lainnya sedang menyantap ayam gorengnya di ruang tengah.
Si tampan itu menggeleng, lalu menyenderkan bagian samping tubuhnya. Menunggu, apakah ada salah satu di antara mereka yang akan menyadari keberadaannya.
"Sisakan satu buat Taehyung." Ucapan Hoseok, membuat sudut bibir Taehyung terangkat. Lima belas menit berikutnya, Taehyung yang kesal karena kehadiran tidak kunjung disadari pun berdehem.
Suara bariton khas Taehyung, membuat keenamnya menengok. "Sudah sejak kapan kau di situ?" tanya Hoseok.
Taehyung berjalan menghampiri mereka. "Lumayan lama." Ia duduk di sebelah Hoseok yang masih menyediakan ruang kosong. Taehyung memberikan uangnya pada Jimin yang duduk di bagian kursi lain.
"Eh, ini, kenapa ada iklan. Bukankah kalian nonton film setan, ya, tadi?"
"Filmnya udah habis. Tadi diajak tidak mau," jawab Hoseok yang masih memakan ayam goreng.
Taehyung mencebikan bibirnya. "Ah, aku tidak selera menonton film itu." Penuturan lelaki itu hanya Hoseok tanggapi dengan raut kesal.
Tidak lama Yoongi mengangkat suara. "Kenapa kau tidak makan, Tae?" Belum juga pertanyaannya di respon, lelaki berkulit putih pucat, mendesis. "Ah, pasti dia merajuk."
Ia memandang orang-orang yang menyantap ayam goreng. "Bukankah aku sudah bilang untuk tidak makan sebelum meminta izin pada Taehyung. Lihatkan, dia jadi merajuk."
"Hey bukannya kau yang pertama kali merogoh paper bag tersebut," ujar Seokjin.
"Santai saja, aku sedang diet. Berat badanku naik sekilo," sahut Taehyung sambil mengutak-atik remot.
"Syukurlah kalau begitu." Yoongi langsung mengambil potongan ayam terakhir. Melihat kelakuan Yoongi, Jungkook yang merasa sebagai bungsu, melayangkan protes. Namun, Yoongi tidak peduli.
"Kenapa kau membeli ayam goreng, padahal sedang diet?" tanya Jimin.
Taehyung memandang temannya itu lalu menyeringai. "Ra ha sia."
Jawaban super menyebalkan itu membuatnya dilempar bantal sofa oleh Jimin.
Mengingat kegagalannya kemarin, hari ini, setelah memesan empat belas potong ayam goreng. Ia menunggu di ruang tamu. Taehyung tidak ingin kecolongan lagi.
Ting tong ....
Perhatian Taehyung teralih pada bel pintu yang berbunyi. Ia memasukkan ponsel di saku celana, kemudian membuka pintu. Senyuman lelaki itu perlahan pudar saat melihat Jimin. Salahnya karena tidak melihat monitor terlebih dahulu.
Taehyung memandang Jimin sebal. "Kenapa kau harus repot-repot menekan bel, hah?! Merepotkan saja," katanya sewot.
Jimin mengeryitkan kening. Ada apa dengan temannya itu. "Salah makan, ya?" tanya lelaki yang baru pulang dari gym itu.
"Tidak," katanya sebal. "Sudah masuk sana! Badanmu bau."
Jimin mencebik, kemudian mengangkat sebelah lengannya. Ia mendekatkan ketiaknya ke wajah Taehyung.
"Oh, ya, nih, coba cium," suruhnya yang kemudian cekikikan.
Taehyung yang kesal, pun berniat menendang bokong Jimin. Namun, saat ia hampir berhasil menendang, Jimin menyadarinya dan dengan lincah berlari.
"Dasar bantet!" Gumam Taehyung setelah sosok Jimin telah menjauh. Ia menghela napas.
Kembali si tampan itu duduk, menunggu dengan sabar sang gadis yang selalu mengisi pikirannya. Asik menunggu, ia dikejutkan oleh kedatangan Jungkook. Pemuda berjuluk golden maknae itu duduk di sebelah Taehyung.
"Nunggu apa, Hyung?"
"Ayam goreng pesananku."
Kening Jungkook bertaut. "Bukannya Hyung lagi diet? Kenapa pesan lagi?"
"Oh, itu aku merasa bersalah karena kalian hanya makan, masing-masing satu potong," karang Taehyung.
Senyum Jungkook terbit, bersamaan dengan kepalanya yang berangguk. "Kau memang baik, Hyung. Tidak salah aku memilihmu menjadi Hyung-ku."
Taehyung mendengkus dingin. Bukan Jungkook yang memilihnya. Namun, takdir. "Oh, ya, aku mau mandi dulu. Kalau pesananku datang, panggil aja. Jangan ditalangin, paham?!"
Jungkook mengangguk. Pemuda berbibir tipis itu bersyukur karena tidak perlu menalangi ayam goreng pesanan Hyung-nya itu. "Mandi pagi?"
"Iya lah, memangnya ada mandi sore di jam setengah dua belas?" Taehyung meninggalkan Jungkook.
Harusnya, Taehyung tidak boleh tampan kalau malas mandi, pikir Jungkook. Tuhan memang tidak adil.
Setengah jam berikutnya. Ketika Jungkook asik menonton YouTube di ponsel, suara bel apartemen membuatnya mengalihkan atensi. Pemuda yang sering disamakan dengan kelinci itu, beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu.
Ketika membuka pintu, ia melihat gadis di depannya membeku. Setelah Jungkook menjentikkan jarinya, barulah, gadis yang memegang paper bag coklat bergambar ayam jantan, tersadar.
"Maaf, saya dari restoran Chicken Family, ingin mengantarkan pesanan ayam goreng, atas nama Kim Taehyung," katanya cepat.
Jungkook mengangguk. "Ya sudah, ayo silakan masuk."
"Eh," kata sang gadis, tampak kaget.
"Kok, eh, Kim Taehyung menyuruhmy menunggunya selesai mandi." Cukup lama barulah gadis itu mengangguk.
"Duduk saja, tidak ada paku, kok," katanya saat melihat gadis itu hanya berdiri saja.
Gadis itu tersenyum. "Hehe, iya." Ia pun duduk. Tidak lama setelahnya, Jungkook pergi untuk memanggilkan Taehyung.
Sesampainya di depan kamar Taehyung, Jungkook mengetuk pintu sebari memberitahu kalau pesanan ayam goreng Taehyung telah datang. Cukup lama akhirnya Taehyung keluar dengan pakaian rapi.
"Hari ini ada fansign?" tanya Jungkook heran. Biasanya Taehyung hanya akan berpenampilan baik, kalau ada acara-acara penting.
"Loh, memangnya ada, ya?"
Jungkook mengerutkan keningnya. "Jika kau bertanya padaku, lalu aku bertanya pada siapa?"
"Bodo amat, terserah padamu ingin bertanya pada siapa," jawab Taehyung enteng, "oh, ya, apa gadis pengantar ayam itu masih ada?"
"Masih duduk manis."
Taehyung tersenyum antusias. "Ya sudah, kau buatkan es sirup leci, ya."
"Buat siapa? Buat Hyung?"
"Tamu."
"Tamu? Siapa?"
Senyum akhirnya pudar dari bibir Taehyung. Dia memandang lelaki berbibir tipis itu sebal. "Hey, tidak bisakah kau langsung membuat saja."
Jungkook berdecak kecil. "Tapi ayam goreng untukku jadi tiga, ya."
"Iya. Buat kau saja semuanya."
Mata pemuda itu makin membulat. Ia tampak kegirangan. "Sungguh?"
"Ya," kata Taehyung, "tapi makanya di kamarmu, ya."
"Siap, Hyung!"
Bersamaan dengan Jungkook yang ke dapur, Taehyung pergi ke ruang tamu. Senyumnya sangat merekah. Namun, senyumnya memudar saat tahu kalau gadis tersebut bukanlah gadis yang ditunggunya.
Menyadari kehadiran Taehyung, gadis tadi berdiri. Gadis itu menampilkan senyuman terbaiknya. Dan, lelaki tampan berbibir berisi itu membalasnya.
Dia melangkah mendekati sang gadis. "Maaf, telah membuat Anda menunggu?"
"Tidak apa-apa." Gadis itu menyodorkan paper bag yang dipegangnya. "Ini Opp ... eh, Pak, pesanannya."
Taehyung tersenyum lebar. "Kamu Army?" tanyanya setelah mengambil paper bag.
Si gadis tersenyum canggung. "Iya, sudah lima tahun."
"Senang bertemu denganmu," kata Taehyung ramah.
Berikutnya, kedua orang tersebut pun berbincang layaknya seorang teman. Si gadis yang tidak mau momen ini hanya ada diingatan saja, lantas meminta Taehyung untuk berswa-foto dengannya.
Tidak lama, Jungkook datang dengan membawa tiga sirup leci yang ditambah es. Melihat sosok maknae grup Bangtan Seonyondan, si gadis juga meminta izin untuk berfoto bersama Jungkook.
Setelah minum terburu-buru, akhirnya si gadis itu pergi, demi melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Itu gadis yang Hyung suka?" tanya Jungkook, waktu Taehyung menutup pintu.
"Bukan."
"Siapa nama perempuan yang sedang Hyung sukai?" tanya Jungkook.
"Belum tahu." Taehyung menyerahkan paper bag berisi ayam goreng kepada Jungkook, lalu menyuruh lelaki itu tutup mulut, perihal dirinya yang tengah menyukai seorang gadis.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!