NovelToon NovelToon

Sahara Penghuni Rumah Angker Bagaskara

sebuah awal

Di rumah keluarga Darmawan

Bintang sang kepala keluarga harus menelan pil pahit saat perusahaan miliknya yang berada di jakarta harus mengalami kebangkrutan

"Gimana sih pa bagaimana bisa perusahaan kamu bangkrut, padahal selama ini kamu selalu bilang keuangan kantor dalam keadaan baik baik saja!" Ucap Silvia Winara yang kecewa karena suaminya yang bernama Bintang Darmawan tidak jujur

"Sudah enam bulan ini memang keadaan perusahaan kita tidak bisa dipertahankan lagi ma, maafkan papa, kita harus menjual aset aset kita untuk membayar hutang ke bank dan juga gaji karyawan papa" jawab Bintang jiah merasa menyesal

"Lalu kita akan tinggal di mana? Kita sudah tidak punya apa apa lagi sekarang, bahkan rumah ini sudah kamu jual ke teman kamu yang genit itu" tanya Silvia

"Kita akan pindah ke Bandung ma, disana aku punya warisan rumah dari kakek dan juga nenek, mendiang papa pernah bilang kalau rumah itu adalah milik papa" jawab Bintang serius

"Terus Dimas? Bagaimana dengan sekolahnya Dimas pa, dia masih kelas sepuluh dan sekarang malah harus pindah " tanya Silvia

"Papa akan usahakan Dimas pindah ke sekolah di dekat tempat tinggal kita nanti ma, papa juga akan bawa bi Sumi tinggal dengan kita untuk membantu kamu mengurus rumah itu dan juga menemani kamu disana" jawab Bintang

Bintang menghampiri Silvia yang terlihat murung, dia bersimpuh dan menggenggam tangan Silvia dengan lembut dan penuh kasih sayang

"Maafkan papa ya ma, papa belum bisa membahagiakan kamu dan juga Dimas, papa janji akan mengurus tanah yang di tinggalkan Kakek di Bandung, kita akan mulai hidup baru di sana" ungkap Bintang

"Mama hanya bisa ikut dengan kamu pa, tidak seharusnya aku meninggalkan kamu dalam keadaan sulit seperti ini kan" jawab Silvia pasrah

"Ini, ini adalah sisa dari yang penjualan seluruh aset yang kita punya, kamu simpan sebagian untuk keperluan kita selama disana, sebagian lagi aku simpan untuk modal mengurus lahan pertanian milik kakek, semoga itu bisa menghasilkan" ungkap Bintang

"Aku terima ini, dan semoga ini akan cukup untuk kebutuhan hidup kita dan pendidikan Dimas, juga gaji bi Sumi" jawab Silvia menggenggam kartu dan juga uang yang di berikan Bintang

"Dimas akan segera pulang, aku harus memasak tapi teman kamu menelepon kalau kita harus pindah dua hari lagi, karena rumah ini akan dia tempati bersama keluarganya, kita juga di larang memakai dapur mas" ucap Silvia

"Tentu saja, kita akan pindah dalam dua hari, aku sudah mengurus kepindahan Dimas ke sekolahnya sejak satu Minggu yang lalu, dan Dimas juga tahu ma" jawab Bintang

"Kalian selalu saja membuatku merasa menjadi orang yang bodoh" gerutu Silvia kesal

"Maafkan papa ma" ungkap Bintang sekali lagi memeluk Silvia

"Aku akan berkemas, dan meminta bi Sumi juga untuk berkemas" ucap Silvia dan bintang mengangguk

"Aku akan pergi ke showroom mobil, aku akan jual mobil kita dan mengganti dengan mobil yang lebih cocok di area pegunungan" ucap Bintang

"Kamu hati hati, jangan ngebut, dan jemput Dimas kalau kamu sempat" jawab Silvia

"Iya, aku akan jemput Dimas di sekolahnya" jawab Bintang pergi dari rumah itu

Perusahaan Bintang mengalami kebangkrutan setelah salah satu karyawan membocorkan data perusahaan dan menjualnya ke perusahaan saingan Bintang, saat itu dia juga di tinggalkan banyak teman juga rekan bisnisnya yang tidak mau membantunya, dengan berat hati dia harus meminta maaf pada semua karyawannya dan berjanji akan membayar gaji mereka meski di juga terpaksa menutup perusahaan itu

"Lo mau jual mobil ini berapa?" Tanya teman bintang yang bernama Lingga

"Aku lepas di satu setengah miliar saja Ngga, gue akan pindah ke kampung halaman kakek gue dan mulai hidup baru disana" jawab Bintang

"Lo nggak sayang, mobil ini kan mobil impian Lo dulu" ucap Lingga

"Nggak, saat ini keluarga gue lebih penting dan yang paling penting gue nggak punya hutang lagi, Gue akan beli mobil yang bisa di gunakan untuk di kebun dan juga untuk mengangkut hasil panen nanti" jawab Bintang datar

"Sepertinya Lo sudah merencanakan semuanya" ucap Lingga

"Lo benar, hidup terus berjalan Ngga, dan dengan gue diam, keluarga gue nggak bisa makan dan Dimas nggak bisa sekolah" jawab Bintang

"Ya udah, gue akan beli mobil Lo ini, Lo bisa pilih mobil yang Lo butuhkan dan sisanya akan gue transfer ke rekening Lo" balas Lingga

"makasih Ngga, cuma Lo teman yang masih peduli sama gue, kapan kapan main ke sana, gue akan sambut Lo dengan senang hati" ungkap Bintang memeluk Lingga

Akhirnya dia memilih untuk membeli mobil pick up dan juga sepeda motor untuk Dimas pakai saat sekolah disana

"Besok mobil ini sudah ada di pekarangan rumah Lo" ucap Lingga menepuk bahu Bintang

"Bukan rumah gue lagi, tapi rumah si Salma" jawab Bintang

"Si Salma sepertinya sangat ingin memiliki semua yang di miliki Silvia, sejak dulu dia naksir Lo bin" ungkap Lingga

"Tapi gue sama sekali tak tertarik sama dia, apalagi sekarang dia sudah berkeluarga, seharusnya dia sadar diri dan urus keluarganya" jawab Bintang

"Gue pamit ya, harus jemput Dimas di sekolah" ucap Bintang Yang sekarang menaiki motor untuk Dimas

Lima belas menit dia sampai di sekolah SMA Dimas

"Papa! Ini motor siapa pa?" Tanya Dimas yang melihat motor yang selama ini dia inginkan

"Motor buat kamu kalau sekolah di tempat baru, nanti papa dan mama mungkin nggak bisa antar jemput kamu lagi karena sibuk, kamu nggak apa apa kan hanya papa belikan motor matic seperti ini?" Tanya Bintang

"Justru Dimas senang pa, Dimas Memang ingin ke sekolah naik kendaraan sendiri" jawab Dimas

Mereka langsung berkeliling untuk membeli makanan yang akan mereka makan untuk makan malam karena dapur tidak boleh di gunakan untuk memasak setelah rumah itu terjual

"Bi Sumi, nggak apa apa kan ikut kami ke kampung?" Tanya Silvia saat mereka selesai makan

"Bibi justru senang non, karena kalian masih ingat bibi dan tidak meninggalkan bibi" jawab Sumi bahagia

"Bi Sumi nanti bisa bantu mama di rumah baru kita" ungkap Dimas

"Bukan rumah baru, rumah lama jadi mungkin ada beberapa bagian yang harus di renovasi" ungkap Bintang

"Dimas akan bantu papa benerin genteng yang bocor" ucap Dimas

"Itu mah maunya kamu naik naik ke atap" gerutu Silvia

"Katanya di belakang juga ada beberapa pohon buah milik kakek kamu, dan penduduk nggak ada yang berani ambil buahnya" ucap Bintang

"Loh kenapa pa, kan sayang kalau buah buah itu jadi busuk dan terbuang" tanya Silvia

"Karena kata orang yang menelepon papa, semua yang ada di lahan itu hanya boleh di ambil oleh pemiliknya saja" jawab Bintang juga heran

"Mungkin opa buyut dulu galak kali pa" celetuk Dimas

"Seingat papa beliau orang yang baik tapi memang orangnya tegas" jawab Bintang

"Maaf den, biasanya kalau rumah yang sudah lama di tinggal, dan banyak penduduk yang tidak berani kesana bahkan hanya sekedar mengambil buah di tempat itu, rumah itu pasti ada penunggunya" ungkap Sumi

"Ih.. bibi jangan buat saya merinding dong" keluh Silvia

"Saya serius non, apalagi rumah tuan Bagaskara kan sudah sangat tua dan juga tidak terurus" jawab Sumi

"Lalu sebaiknya kita harus apa bi, supaya rumah itu bisa kita tinggali dengan nyaman?" Tanya Bintang

"Biasanya saat masuk kita harus mengucapkan salam, dan setelah di bersihkan kita adakan Pengajian untuk mendoakan rumah itu dan juga para almarhum keluarga Aden" jawab Sumi

"Kalau itu saya pasti akan lakukan bi, semoga rumah itu bisa membuat kami betah dan juga penuh berkah" ungkap bintang

"Aamiin" jawab semuanya

..........................

Pagi harinya semuanya sudah bersiap untuk pergi ke rumah yang akan di tuju, rumah peninggalan kakek Bagaskara, rumah itu terkenal angker di kampung Curug, nama kampung halaman Bintang dan juga Bagaskara

"Kamu benar benar memilih untuk tinggal di Kampung" tanya Salma mencibir

"Iya, kamu mau ikut?" Tanya Silvia meledek

"Cih, coba kamu mau setuju dengan usul dariku, mungkin kamu masih bisa tinggal di rumah ini" bisik Salma mengusap punggung Bintang

"Tidak perlu, aku lebih suka jadi simpanan istriku sendiri" jawab Bintang datar

"Ayo pa, kita berangkat nanti keburu siang sampainya, kita kan belum bersih bersih tempat itu" ajak Silvia

"Kami pamit pergi ya, terima kasih karena sudah membeli rumah kami" pamit bintang menjabat tangan suami dari Salma

"Sama Sama, sudah seharusnya kita saling bantu" jawabnya

Mobil yang di pesan Bintang terpaksa harus di antar langsung ke kampung Curug esok hari Karena Salma meminta mereka pindah saat itu juga, dan Bintang menggunakan jasa travel juga jasa pindah rumah untuk mengangkut barang mereka

Tiga jam perjalanan terasa cepat karena sepanjang perjalanan mereka tidur dengan bintang yang sesekali menunjukkan arah kampung yang mereka tuju pada supir mobil travel tersebut, dia juga mengecek ke arah belakang untuk melihat mobil yang mengangkut barang barang mereka tetap berada di belakang mereka

"Alhamdulillah.. ini rumah kita yang baru" ungkap Bintang merangkul Silvia dan Dimas di depan rumah bergaya era kolonial Belanda dengan cat putih yang terlihat sedikit kotor dan kumuh

"Belum di bersihkan pak, apa perlu kami panggil warga untuk  membantu?" Tanya ketua RT yang menyambut bintang

"Boleh pak, kalau tidak merepotkan para warga" jawab Bintang sopan

"Kalau begitu saya permisi untuk mencari yang mau membantu membersihkan rumah itu" jawab ketua RT yang bernama Karman tersebut

Mereka mulai masuk ke pekarangan rumah yang cukup luas itu dengan kolam ikan kospong di depan dan juga gazebo yang terlihat sudah hampir roboh

"Nanti kita perbaiki gazebonya" ucap Bintang

Wuss....

Tiba tiba angin berhembus di depan wajah Bintang

"Sebutkan namamu saat masuk ke dalam rumah nak" bisik suara yang di bawa angin itu membuat bintang merasa merinding

"Kenapa pa?" Tanya Dimas

"Nggak apa apa, papa cuma merasa disini dingin sekali" jawab Bintang

"Ayo kita mulai masuk" ajak Silvia

"Tunggu ma, biar papa yang pertama masuk dan mengucapkan salam" ucap Bintang saat Silvia hendak membuka pintu itu

"Ini kuncinya pa" ucap Damar

Ceklek

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh saya Bintang Darmawan datang pulang ke rumah yang di berikan pada saya oleh kakek Bagaskara, dan rumah ini adalah milik saya" ungkap Bintang dengan suara lantang

Wusss

Angin yang cukup kencang menabarak mereka hingga mereka terjatuh dengan wajah terkejut

"Mungkin itu penghuni lain yang numpang disini den, mereka terusir Karena pemilik rumah sudah pulang" ungkap Sumi membersihkan pakaiannya yang kotor

"Maaf pak, barang barang itu mau di taruh di mana ya?" Tanya supir jasa pindah rumah

"Oh maaf pak, kami lama di dalam, taruh di teras depan saja pak, supaya tidak kehujanan dan kepanasan, terima kasih ya pak, ini ada sedikit untuk bapak dan kenek bapak" ungkap Bintang memberikan salam tempel pada supir tersebut

"Sama sama pak terima kasih kembali" jawab supir tersebut senang

"Mari kita mulai membersihkan rumah ini, peralatan bersih bersihnya di mana ya bi?" Tanya Silvia

"Ada non tadi di turunkan supir itu di dekat pintu" jawab Sumi

Satu jam menunggu sambil membersihkan rumah itu, mereka sama sekali tak melihat ada warga yang datang untuk membantu, entah kenapa, tapi mereka juga tidak mau berburuk sangka, hingga pak RT dan istrinya datang untuk membantu

"Maaf pak Bintang, warga disini sedang pada di sawah, dan sebagian Tidak mau ikut karena katanya takut rumah ini angker" jawab Karman

"Ini istri saya Mirna, di akan bantu bersih bersih disini bersama saya" ucap Karman

"Terima kasih sekali pak, dan maaf kami jadi merepotkan bapak, apa memang rumah ini selalu seangker itu ya pak?" Tanya Bintang

"Tadi ada yang nyambut kami juga pak" jawba Dimas dan di jewer Silvia

"Bercanda ma" jawab Dimas

"Saya senang akhirnya rumah ini di tempati pemiliknya, dan warga bisa ikut menggarap lahan kosong di belakang rumah ini yang cukup luas" ungkap Karman

"Kenapa tidak di garap saja pak, saya tidak keberatan ko?" Tanya Bintang

"Hanya pemilik dan ijinnya Langsung yang bisa mengurus lahan itu, makanya saya sangat senang bapak pulang" jawab Karman dan Bintang mengangguk meski tak mengerti arah pembicaraan Karman

Dua jam berlalu, area dapur, ruang tamu, kamar, dan juga ruang keluarga sudah bersih, besok mereka akan mulai membersihkan area luar rumah

"Alhamdulillah, sebagian sudah selesai, saya mau masak untuk kita makan malam dulu, ayo bi Sumi" ajak Silvia

"Makan malam disini bersama kami pak, ini permintaan saya dan keluarga" pinta Bintang

"Baik pak, saya terima undangannya, saya akan telepon anak saya untuk kesini juga, apa boleh?" Tanya Karman sopan

"Tentu saja boleh" jawab Bintang sopan

"Pa, kamar Dimas yang mana?" Tanya Dimas ingin merapikan pakaiannya

"Itu di lantai dua yang di ujung, satunya lagi kamar papa dan mama dan yang sebelah kamu kamar tamu jawab Bintang

"Atap di dekat dapur terlihat bocor, apa bapak punya kenalan tukang bangunan? Saya ingin merenovasi sedikit rumah ini, agar terlihat lebih bagus " tanya Bintang

"Ada pak, si Yana dan Maman, besok saya akan panggil mereka" jawab Karman

bersambung

Malam pertama di datangi babi ngepet

Dimas masuk ke dalam kamarnya, karena sang mama dan bi Sumi sedang memasak bersama Bu RT, bahan masakan memang mereka beli di jalan, saat di perjalanan begitu mereka berhenti sejenak untuk beristirahat

Krieett

Dimas sedikit terkejut saat membuka lemari jati yang ada di kamarnya, lemari itu terlihat sangat bagus dan masih baru padahal Usinya sudah puluhan tahun, itu yang di katakan Bintang padanya saat membersihkan kamar

"Ini kotak apa ya?" Gumam Dimas saat melihat sebuah kotak di dalam laci lemari itu, dia sudah memasukkan semua pakaiannya ke dalam lemari

"Ko seperti kotak perhiasan" gumamnya lagi

"Di kunci, kira kira kuncinya di mana ya?"

Trak

Suara bernada terjatuh dari atas lemari dan sempat mengenai kepala Dimas hingga sedikit berdarah

"Aws... Itu kan kunci, apa mungkin kunci kotak ini"

Dimas mengambil kunci itu, dia tidak sadar di ujung kunci itu ada darah miliknya dan dia Langsung memasukkan kunci itu tanpa membersihkan darahnya terlebih dahulu

Ceklek

Kotak itu sudah di buka dan terdapat sebuah cincin bertuliskan Sahara di dalam cincin berwarna silver itu

"Ini emas atu perak ya? Boleh di pakai nggak ya?"

"Nanti saja tanya papa kalau sedang senggang" ucap Dimas memasukkan kembali cincin itu dan menyimpan kotaknya ke dalam laci, dia juga mengusap kepalanya yang berdarah tapi tidak terasa sakit

Dia ambil plester dan menempelkan itu pada lukanya

"Anak jujur" suara seorang perempuan terdengar samar di telinga Dimas

"Dimas, makanan sudah siap" panggil Silvia dari arah bawah

"Iya ma, sebentar Dimas turun" jawab Dimas dan langsung keluar dari kamarnya

"Kamu kenapa lama?" Tanya Bintang

"Dimas sekalian beresin pakaian Dimas pa, supaya pas besok kasurnya sudah di jemur, Dimas nggak cape lagi" jawab Dimas

"Kalau pak Bintang masih kurang nyaman disini, kalian bisa tidur di rumah saya" ucap Karman

"Tidak perlu pak, kami sudah sangat merepotkan, lagipula disini sudah bersih, nanti kami akan gelar kasur lantai untuk sementara sampai semua Kasur dan juga kamar disini benar benar bersih" jawab Bintang

"Oh sampai lupa, ini anak saya namanya Galang" ucap Karman

"Halo Galang, namaku Dimas" ucap Dimas menjabat tangan Galang

"Kalian sepertinya satu sekolah dan satu kelas" ucap Karman

"Galang kelas berapa?" Tanya Silvia tersenyum lembut

"Saya kelas sepuluh Tante" jawab Galang sopan

"Sama, aku juga kelas sepuluh, kita berangkat sekolah bareng ya nanti, sekolah Dimas sama dengan Galang kan pa?" Tanya Dimas yang memang gampang akrab dengan siapapun

"Iya, sekolah kalian juga sama" jawab Bintang

"Galang tidak usah malu, Dimas ini memang seperti ini, dia mudah akrab dengan siapa saja" ucap Silvia

"Iya Tante, saya malah senang, soalnya saya sedikit pemalu" jawab Galang

Mereka makan dengan tenang dan setelah selesai, keluarga Karman pamit pulang

"Bi biar Dimas yang cuci piring, bi Sumi istirahat saja kasihan sejak tadi lelah bersih bersih

"Nggak usah den, biar bibi saja, ini kan memang tugasnya bibi" jawab Sumi

"Nggak, bibi duduk saja bersama mama dan papa" balas Dimas

"Baiklah, tapi kalau cape nanti bibi bantu kesini ya" jawab Sumi dan Dimas mengangguk

Saat Dimas mulai mencuci piring, dia merasa ada seseorang yang mengawasinya dari belakang, dia pikir Sumi masih disana dan menemaninya di dapur

"Dimas bukan anak kecil bi, bibi nggak perlu tungguin Dimas disini, Dimas berani ko" ungkap Dimas terkekeh

Tap tap tap

Suara derap langkah menjauh dari arah belakang Dimas

"Alhamdulillah.. selesai juga akhirnya" ucap Dimas

"Wah, sudah di gelar saja nih kasur lantainya" ucap Dimas Langsung merebahkan badannya di samping Bintang

"Rasanya badan papa sakit semua, belum besok kita masih harus bersih bersih luar dan menjemur kasur kasur di kamar" ungkap Bintang

"Untung kita sempat minta bantuan pak RT untuk mengurus pembayaran listrik sebelum datang kemari kemarin, kalau tidak, mungkin saat ini kita juga gelap gelapan" ucap Bintang

"Iya tadinya mama pikir, rumah ini seperti vila vila di puncak yang di urus seseorang, tapi ternyata benar benar rumah kosong tak berpenghuni" jawab Silvia

"Tapi non, ko barang barang disini aman ya, padahal barang barang di dalam rumah ini antik antik loh, lemari di kamar saya juga dari kayu jati, belum itu guci guci yang sepertinya dari jaman Belanda" ucap Sumi

"Kan warga disini nggak ada yang berani masuk bi" jawab Silvia

"Segitu takutnya ma, sampai mereka nggak berani mengambil rumput di tanah milik Kakek" ungkap bintang

"Oh iya ma, besok kan akan ada yang merenovasi rumah dan halaman depan, sebaiknya kunci pintu kamar kita dan jangan sampai ada yang masuk ma" ucap Bintang

"Kenapa memangnya pa? kan kita hanya tinggal berempat disini" tanya Silvia

"Entahlah ma, papa merasa barang berharga kita harus kita jaga baik baik, termasuk Dimas dan bi Sumi juga, perasaan papa, di kampung ini masih kental dengan dunia mistis" jawab Bintang yang sejak mendapat bisikan itu perasaannya jadi lebih peka dan sensitif

"Kami akan jaga baik baik barang berharga kami den" jawab Sumi

"Bibi dari mana tadi? Pas Dimas selesai cuci piring?" Tanya Dimas

"Dari kamar, membereskan pakaian bibi den, kan tadi Aden yang cuci piringnya, jadi bibi beresin baju bibi saja" jawab Sumi

"Terus yang awasin Dimas di dapur siapa ya?" Gumam Dimas

"Kenapa?" Tanya Bintang

"Nggak pa, kadang Dimas merasa ada yang awasi Dimas tapi mungkin hanya perasaan Dimas saja" jawab Dimas gugup

"Ayo semuanya sebaiknya kita tidur, supaya besok tidak mengantuk" ucap Bintang memejamkan matanya begitupun yang lain

Mereka tidak sadar, sejak mereka masuk ada sosok yang terus mengawasi mereka terutama Bintang yang menyebut dirinya sebagai pemilik rumah itu

"Cah bagus, akhirnya kau pulang juga, aku sudah tunggu kamu sejak lama, akan aku jaga kalian setelah tuan Bagaskara meninggal" bisik sosok itu di telinga Bintang yang masih sedikit sadar hingga dia benar benar tertidur pulas

Brak brak brak

"Astagfirullah.. apa itu" gumam Sumi saat sesuatu memaksa masuk ke dalam rumah dan membuatnya terbangun

Ngok ngok ngok

"Astagfirullah.. babi ngepet!" Teriak Sumi dan semuanya terbangun karena terkejut

"Apa bi! Babi ngepet? Mana?" Tanya Bintang

"Itu den, dia di bawah meja dekat Sofa" jawab Sumi

"Dimas, ambil garam Yang ada di dalam lemari penyimpanan di dapur, dan tongkat kayu yang ada di peti di bawah kompor" perintah Bintang menatap Babi itu tanpa takut

"Ini pa" ucap Dimas Langsung bersembunyi bersama Silvia dan Sumi

"Bismillahirrahmanirrahim"

Prak prak prak

Tongkat kayu itu di pukulkan Bintang bersamaan dengan garam yang dia lempar ke babi tersebut

Boom... Brugh ggrrrrrr

Suara ledakan dan juga Babi itu yang terlihat terlempar ke sudut rumah Bintang, ringisan terdengar setelah babi itu pergi menembus pintu rumah Bintang dengan punggungnya yang terluka

"Alhamdulillah" ungkap Bintang mengusap tongkat kayu itu dan menutup kembali garam yang tersimpan di dalam kotak jati

"Papa nggak apa apa kan?" Tanya Silvia

"Nggak apa apa ma, kalian istirahat lagi saja, papa harus bersih bersih dulu" jawab Bintang pergi dari sana menuju kamarnya

Sebelum pindah kesana hal pertama yang di urus Bintang adalah listrik dan juga air, beruntung rumah itu terdapat sumur yang airnya jernih juga tak pernah surut, hingga tidak menyulitkan Karman waktu memasang mesin Air dan juga menyambungkan pipa saluran Air yang sudah tersedia di rumah itu

"Ma Dimas seumur hidup baru kali ini lihat penampakan babi ngepet" ungkap Dimas Shok dengan wajah pucat

"Mama juga sama Dimas, bi, gimana bibi tahu itu babi ngepet?" Tanya Silvia

"Bibi lihat babi itu nembus pintu non, dan juga terus mengendus endus di sekitar tangga" jawab Sumi juga masih pucat

"Tapi papa hebat banget ma, bi, bisa usir babi itu pakai tongkat saja" ungkap Dimas dan Silvia baru menyadarinya, sejak datang kesini dia bisa melihat suaminya itu jadi berbeda dan tahu letak barang barang yang sebelumnya dia tidak tahu

"Itu tongkat siapa ya bi?" Tanya Silvia

"Tongkat itu sudah ada di bawah meja kompor sejak saya bersih bersih tadi nyonya, saya tidak berani memindahkannya soalnya itu bukan milik saya" jawab Sumi

"Apa mas Bintang tahu tentang tongkat itu dan letaknya juga?" Tanya Silvia dan Sumi menggelengkan kepalanya

Di kamar

"Kenapa aku tiba tiba bisa tahu tata letak semua barang lama di rumah ini ya" gumam Bintang saat dia selesai mandi

Bersambung

Sebuah bisikan

"Kenapa aku tiba tiba bisa tahu tata letak semua barang lama di rumah ini ya" gumam Bintang

"Apa mungkin waktu kecil aku pernah kesini atau tinggal disini?"

"Tapi papa bilang aku tidak tahu tentang rumah ini karena selalu Kakek Bagaskara yang datang ke jakarta"

Karena bingung dan tak bisa mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya, dia memilih untuk kembali ke bawah dan tidur bersama keluarganya lagi

Pagi hari di luar Karman sudah mulai datang

"Assalamu'alaikum pak Bintang, ini Maman dan Yana yang akan membantu merenovasi halaman depan dan beberapa genteng yang pecah di atas pak" ucap Karman

"Wa'alaikumussalam.. mari silahkan masuk dulu pak, saya juga sedang siap siap mau menjemur kasur Kasur, sepertinya hari ini akan cerah" jawab Bintang

"Terima kasih pak, apa bapak cucu dari pak Bagaskara?" Tanya Yana

"Iya pak, saya cucu satu satunya Kakek Bagas" jawab Bintang

"Kami harus mulai dari mana dulu pak?" Tanya Maman sopan

"Dari atap saja dulu ya pak, hati hati mungkin agak licin karena sudah berjamur temboknya" jawab Bintang

"Baik pak" jawab keduanya

"Pak Karman disini toko material di mana ya? Saya mau beli cat dan juga beberapa perkakas yang saya butuhkan disini" tanya Bintang

"Bapak bisa telepon dan kirim alamat rumah bapak, nanti barangnya di antar langsung, kalau kita sendiri yang kesana medannya cukup sulit dan juga berbatu pak" jawab Karman memberikan nomor telepon toko material disana

Bintang Langsung memesan cat warna putih, beberapa semen dan juga pasir untuk memperbaiki kolam ikan di depan, dan bahan bahan yang di tulis oleh Yana

"Mungkin pengerjaan kolam ikan bisa di lakukan besok saat bahannya sudah datang pak" ucap Maman

"Iya pak Maman, untuk sekarang cukup atap rumah saja dulu" jawab Bintang

"Maaf pak Karman, semalam saya melihat babi ngepet masuk ke rumah saya, apa di desa ini masih banyak yang melakukan pesugihan?" Tanya Bintang dan semuanya terkejut

"Babi ngepet?" Tanya Karman gelagapan

"Iya pak, babi itu menembus pintu semalam saat saya pukul punggungnya dengan tongkat kayu" jawab Bintang

"Punggungnya?" Tanya Yana dan Bintang mengangguk

"Lalu apa ada barang pak Bintang yang hilang?" Tanya Karman

"Alhamdulillah tidak ada pak, babinya keburu ketahuan dan saya usir" jawab Bintang

"Masa anda bisa mengusir babi itu, sementara kami sering di teror babi itu tiap malam pak" keluh Maman

"Itu mungkin hanya kebetulan saja pak" jawab Bintang tersenyum lembut

"Si Jatmiko kan tadi tidak datang ke sawah, kata istrinya dia sakit karena terjatuh dan punggungnya terluka" bisik Yana

"Iya kamu benar, apa mungkin babi itu si Jatmiko? Tapi kita tahu sendiri rumahnya gubuk reyot begitu, kalau punya uang banyak kan harusnya dia punya rumah mewah" ungkap Maman

"Pasti dia sembunyikan harta hasil mencurinya ke suatu tempat dan kita tidak tahu" ucap Yana

"Bisa jadi begitu, ayo nanti malam kita ajak warga untuk mengintai rumah Jatmiko

"Beres kita beritahu setelah selesai mengurus pekerjaan kita" jawab Maman

"Pak ini makanan dan juga kopi instan, nanti kalau cape bisa istirahat dulu" ucap Bintang menyimpan beberapa kue dan camilan yang dia bawa dari jakarta, juga kopi instan, tak lupa gelas dan termos nya

"Iya pak terima kasih" jawab keduanya

"Saya juga butuh beberapa pekerja untuk menggarap lahan yang tak terurus di sana pak, apa bapak bisa Carikan?" Tanya Bintang

"Bisa pak, kebetulan disini banyak warga yang menganggur setelah di pecat dari lahan milik juragan Galuh, mereka di pecat karena di Anggap sudah tua dan tenaganya kurang" jawab Karman

"Tidak apa apa pak, asal jangan yang sudah sepuh saja, saya tidak tega kalau mempekerjakan yang sudah sepuh" jawab Bintang

"Alhamdulillah, saya akan beri tahu mereka pak, mereka berjumlah sepuluh orang dan semuanya berusia di atas empat puluh tahun" jawab Karman

"Iya besok panggil mereka kemari ya pak, saya juga ingin membeli bibit padi dan beberapa sayuran yang mungkin bisa di tanam di lahan saya Karena saya lihat pengairan di lahan saya cukup bagus" ungkap Bintang

"Kalau bapak butuh bibit dan juga pupuk, bapak bisa datang ke toko saya saja, di dekat sini ko dan untuk bapak saya kasih diskon Karena bapak baru pertama kali berkebun disini" jawab Karman

"Alhamdulillah saya jadi tidak perlu jauh jauh untuk beli bibit dan pupuk ya pak" ungkap Bintang tersenyum lembut

"Kira kira bapak bisa bertani disini, bapak pasti sudah tahu caranya kan?" Tanya Karman

"Saya sarjana pertanian sebenarnya, tapi saya juga kuliah lagi di bidang bisnis, jadilah saya tua di kampus pak" jawab Bintang terkekeh

"Justru bagus itu pak, bagaimana kalau bapak nanti mengisi penyuluhan tentang pertanian di balai desa?" Tanya Karman

"Saya bersedia, tapi nanti setelah lahan yang saya garap dan sistem yang saya terapkan berhasil pak" jawab Bintang

"Cah bagus memang sangat pintar, aku senang rumah ini dan lahan tuan Bagaskara sekarang punya pemilik" bisik samar di telinga Bintang

"Siapa dia" gumam Bintang kebingungan

bersambung

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!