NovelToon NovelToon

Pengantin Pengganti

BAB 1

" Bagaimana ini ? Kak Sita tidak ada di kamar nya " ucap Riska sepupu Sita yang dimintai tolong untuk memanggil Sita, karena akad pernikahan beberapa waktu lagi akan segera di laksanakan.

" Apa ? Kak Sita gak ada di kamarnya ? " ucap Sifa adik dari Sita, dengan panik ia berjalan setengah berlari menuju kamar kakak nya.

Sifa mengedarkan pandangan nya, benar tidak ada kakak nya disana, semua orang termasuk kedua orangtua Sifa berhambur masuk kedalam kamar Sita.

" Sif, apa yang terjadi ini, mana Kakakmu ? " tanya Ibu mulai panik.

" Gak tau Bu, Kak Sita gak ada " jawab Sifa.

" Ya Tuhan, Yah.. bagaimana ini ? " Ibu menoleh ke arah suaminya.

Ayah pun terlihat panik, ia tidak dapat berkata-kata, ia pun terlihat sangat syok dengan keadaan ini. Sifa yang mengetahui Ayah nya memiliki riwayat penyakit jantung segera menghampiri lalu meminta Ayah nya untuk duduk di pinggiran kasur.

Pak Bendy, Ayah dari Sita dan Sifa perlahan mulai mengatur nafas nya, Sifa tahu Ayah nya sangat menahan amarahnya, sedangkan Ibu nya hanya bisa menangis, ia tidak menyangka putri sulungnya melakukan hal senekat ini, lalu dengan sigap Sita meminta Riska sepupunya yang berada tidak jauh untuk mengambilkan air minum.

Pak Bendy mengeluarkan ponsel dari saku beskap yang ia pakai. Terlihat ia sedang mencari nomor ponsel seseorang.

" Tolong carikan Sita, ia kabur dari rumah pagi ini.. Segera ! " ucap Pak Bendy berbicara dengan seseorang diujung sana.

" Ayo Mas, ikut cari Sita " ucap Tante Mona kepada suaminya, lalu suaminya pun mengajak beberapa saudara yng lain untuk mencari Sita.

Setelah keadaan sedikit tenang, semua keluarga mulai memikirkan jalan keluar, sedangkan akad pernikahan ini akan berlangsung sekitar 1,5 jam lagi, beberapa orang suruhan Pak Bendy dan juga ditemani oleh keluarga mulai mencari Sita.

Sita kabur di hari pernikahan nya sendiri, yang seharusnya hari ini hari bahagia, namun berbalik menjadi keadaan yang tidak pernah diharapkan sebelumnya.

" Bagaimana ini Yah, akad pernikahan sebentar lagi akan di laksanakan, mau ditaruh dimana muka keluarga kita, Sitaaa !! Kamu kenapa berlaku seperti ini Nak " Ibu masih terus saja menangis.

" Tidak ada jalan lain Mbak, untuk menyelamatkan keluarga kita " ucap Tante Mona adik dari Ibu Sifa, ia menoleh ke arah Sifa, yang disusul oleh keluarga yang lain.

Sifa merasa terintimidasi kali ini, semua mata tertuju padanya. Ia pun memucat setelah mendengar ucapan dari tantenya.

" Eh bentar-bentar, kenapa ngeliat ke aku semua ? " ucap Sifa.

" Sifa mau ya Nak " susul Tante Mona.

" Kok jadi aku ? Bu gak mesti aku kan ? kenapa gak diundur aja akad pernikahan nya, kan Kak Sita sedang dicari " ucap Sifa.

Perdebatan kembali alot, sedangkan waktu terus berjalan.

" Sifa, apa salahnya, kamu lihat Ayah, kasian dia kalau pernikahan ini batal bagaimana nanti, lihat juga Ibu mu ia terus saja menangis, sampai sekarang kakakmu belum ada kabar, ayo ya sayang.. lagipula wajahmu dan wajah Sita sangat mirip, Tante rasa tidak masalah " ucap Tante Mona membujuk Sifa.

" Nggak Tan.. Aku gak mau !!! Solusi macam apa ini ! " ucap Sifa tegas, namun manik indahnya mulai berkaca, ia pun bingung dengan keadaan.

Memang pernikahan Sita ini hasil dari perjodohan dengan anak rekan Pak Bendy, entah perjanjian apa yang sudah mereka lakukan sehingga mereka berdua sepakat untuk menikahkan putra putri mereka. Sedangkan pada saat itu Sita sudah memiliki seorang kekasih, jelas Sita menolak mentah-mentah perjodohan ini. Namun tiba-tiba ia berubah menerima perjodohan dengan Revan.

" Sayang.. ayolah Nak " Tante Mona masih terus membujuk.

" Ng..gak Tan " Sifa bersikeras.

" Sifa.. ganti pakaianmu, tolong panggilkan tukang rias untuk merias Sifa " ucap Pak Bendy di sela-sela perdebatan antara Sifa dan Tantenya tanpa berpikir panjang.

Jag

Semua terdiam, keputusan yang cukup beresiko yang diambil oleh Pak Bendy, namun siapa yang berani melawan jika Pak Bendy sudah mengeluarkan ultimatum, bahkan Sifa sendiri yang memiliki sifat sedikit kerasa kepala, tidak bisa menolaknya.

Ibu bangkit dari duduknya lalu menghampiri Putri Bungsunya.

" Sayang.. mau ya.. " ucap Ibu seraya menghapus bulir bening yang lolos dari pelupuk mata Putri bungsunya.

Sifa hanya terdiam.

" Terima kasih sayang " Ibu lalu memeluk Sifa.

" Bu... " Sifa menggelengkan kepalanya.

Ibu menggenggam tangan putri bungsunya.

" Bagaimana mungkin Bu, aku tidak begitu mengenali calon suami Kak Sita, aku tidak mencintainya Bu.. mana mungkin aku menikah dengan seseorang yang tidak aku cintai, bagaimana dengan Novan Bu.. " Sifa sedikit merengek seperti anak kecil.

Jujur ia tidak bisa menerima keputusan ini, ia pun sudah memiliki seorang kekasih bernama Novan. Mereka sudah merencanakan pernikahan jika Sifa sudah selesai kuliah, karena Novan sudah menyelesaikan kuliahnya 3 tahun lalu dan sekarang ia sudah bekerja.

Tidak lama, perias pengantin yang sudah bersiap untuk pulang, kembali masuk kedalam kamar, sebelumnya sang perias sudah pamit untuk pulang, ia pun sempat kaget sesaat setelah ia selesai merias pengantin, ia pun keluar kamar, karena merasa tugasnya sudah selesai, namun tidak lama terdengar kegaduhan jika pengantin yang baru saja ia rias kabur dari dalam kamarnya.

Akhirnya Sifa mulai di rias wajahnya, namun air matanya tetap saja tidak berhenti membasahi pipinya.

" Mbak Sifa, jangan nangis terus dong, make up jadi susah nempel kalo seperti ini " ucap perias.

" Maaf ya Mbak, ini bukan pernikahan yang aku inginkan " ucap Sifa.

" Hmm.. yang sabar ya Mbak Sifa " susul perias itu seraya menguatkan Sifa.

Tidak berselang lama, Sifa sudah selesai di rias, dengan riasan pengantin plus aksesoris yang dipakainya. Disaat yang bersamaan terdengar suara deru mobil berdatangan.

Deg

Sifa pastikan rombongan calon suami Kakak nya sudah sampai.

" Mbak Sifa cantik sekali, saya ucapkan selamat ya.. semoga rumah tangga Mbak Sifa langgeng dan diberkahi " ucap perias itu.

" Semoga tidak " jawab Sifa singkat.

" Saya pamit ya Mbak "

Sifa hanya mengangguk, ia lalu memandang wajahnya dihadapan cermin.

" Kak Sita... bukan aku.. tapi harusnya kamu !! Ya Tuhan.. bagaimana dengan Novan, hari ini ia diundang di pernikahan Kak Sita bagaimana jika ia melihat ternyata bukan Kak Sita melainkan aku sendiri " jiwa Sifa berkecamuk.

Tidak lama terdengar ketukan dari luar kamar, Tante Mona masuk tanpa dipersilakan terlebih dahulu.

" Masyaallah.. Sifa.. kamu cantik sekali sayang.. ayo turun ke bawah, calon suami kamu sudah tiba " ucap Tante Mona.

" Calon suami Kak Sita, bukan aku ! " susul Sifa.

Mona tidak menggubris nya, ia tahu dan sangat paham apa yang dirasakan keponakan nya, namun apa boleh buat semua ini terjadi di luar dugaan.

Dilain tempat, Pak Bendy sedang berdiskusi dengan Pak Tony, ia pun menceritakan yang terjadi, namun diluar dugaan, mereka tidak masalah jika Sita di gantikan oleh Sifa.

Namun berbanding terbalik dengan Revan pria yang sangat menerima perjodohan ini sejak pertemuan pertama dengan Sita. Revan memang langsung tertarik pada Sita, sejak pertemuan pertama.

Ia sedikit menolak saat Papa nya menjelaskan jika ia menikahi adiknya bukan Kakaknya.

" Jangan membuat orangtuamu malu Mas, apa bedanya, mau kakak atau adiknya sama saja " ucap Pak Tony.

" Tapi aku mencintai Sita Pah.. Bukan adiknya ! " balas Revan dokter muda yang sekarang bertugas di salah satu rumah sakit dengan tegas.

Hal yang sama terjadi pada Revan, ia pun tidak dapat menolak apapun keputusan Papa nya walaupun hati nya berbanding terbalik.

" Arrgghhh.. siapa yang akan aku nikahi sekarang ? Sita padahal beberapa waktu kemarin kamu terlihat baik-baik saja, kamu seolah menerima perjodohan ini, kenapa disaat hari bahagia ini tiba kamu malah pergi !!! Shittt !! " Batin Revan.

🌺🌺🌺

Jangan lupa dukung karya author ya.. ❤️

BAB 2

" Saya terima nikah nya Sifa Shafira binti Bapak Bendy Setiadi dengan Mas Kawin tersebut dibayar tunai "

" Sah "

" Sah "

" Sah "

Ijab dan kabul telah dilaksanakan, Sifa berusaha menetralkan suasana hatinya walaupun jiwanya bergemuruh, entah apa yang ia rasakan kali ini, sedih, suka, bahagia atau bahkan kecewa.

Ia berhadapan dengan seorang pria yang tidak pernah ia harapkan sebelumnya, ia berharap Novan yang berada di hadapannya sekarang, seperti nya harapan dirinya dengan Novan akan terkubur mulai detik ini.

" Mbak Sifa bisa cium tangan Mas Revan, sekarang Mas Revan suami Mbak Sifa dan Mbak Sifa Istri dari Mas Revan " ucap pembawa acara membuyarkan lamunan Sifa.

Terlihat Sifa dan Revan mengikuti prosesi akad nikah secara lancar, mereka di tuntun oleh pembawa acara untuk menyelesaikan runtutan acara demi acara, setelah akad selesai mulai saat nya para kerabat, tamu undangan dan keluarga memberikan selamat kepada kedua mempelai.

" Pah.. ternyata feeling Mama gak salah, sebetulnya dari awal Mama lebih srek sama Sifa ini, tapi Revan lebih memilih Sita, ya sudah.. sekarang Revan tahu ternyata Sita malah pergi di hari pernikahan nya, berarti kan dia bukan yang terbaik untuk anak kita Pah " bisik Bu Ratna Ibu dari Revan.

Pak Tony hanya mengangguk, sesekali iya tersenyum menyambut para tamu undangan yang menyalaminya.

Di sudut lain, seorang pria telah sampai di kediaman kekasihnya ia akan menghadiri acara pernikahan calon Kakak Iparnya. Dengan percaya diri Novan turun dari mobilnya, sesekali ia melihat layar ponselnya, ia beberapa kali menghubungi Sifa namun tidak ada satupun telepon nya dijawab oleh Sifa.

Novan berpikir Sifa sedang sibuk, sehingga ia tidak sempat mengangkat telepon nya.

Novan berjalan menuju halaman rumah Sifa, dari pintu masuk ia membaca stand banner bertuliskan " Sita & Revan " , Novan tersenyum sekilas ia membayangkan jika nanti nama Sifa dan dirinya yang akan tertulis di stand banner itu.

Ia disambut oleh among tamu yang berjaga, saat Novan kembali melangkahkan kakinya, Riska sepupu Sifa yang cukup mengenali Novan menghampiri nya.

" Mas Novan " panggil Riska.

" Eh, Ris.. Sifa mana ? Aku hubungi dia dari pagi susah banget, sibuk ya dia ? Oya, akad nya udah selesai ? " tanya Novan memberendel pertanyaan kepada Riska.

" O..oh.. i..iya Mas.. udah selesai kok, pengantinnya sedang ganti baju, Mas Novan langsung makan aja " jawab Riska, ia bingung, ia khawatir jika wanita yang ada di pelaminan adalah kekasihnya ia akan merusak acara pernikahan Sifa dan Revan.

" Hmm.. Oya.. aku mau salaman dulu sama Ayah dan Ibu " ucap Novan kembali melangkahkan kakinya.

" Eh Mas.. Mas.. " Riska kembali mencegah Novan sehingga ia menghentikan langkahnya.

" Ya .. "

" Udah gak apa-apa, ayo makan dulu aja, bisa lewat samping ini " ucap Riska, karena area makan dengan pelaminan berjarak sehingga dari area makan tidak terlalu terlihat ke pelaminan.

" Masa langsung makan sih ? Oya kamu bisa panggilin Sifa ? " balas Novan.

" Eu... i..iiya nanti aku panggilin " susul Riska kikuk.

" Makasih ya " balas Novan, lalu ia melangkahkan kakinya menuju area makan.

Saat Novan sudah berada di area makan, ia melihat Tante Mona sedang berbincang dengan keluarga lain, Novan berniat untuk menghampiri Tante Mona karena Novan sangat mengenali Tante Mona, Tante Mona pun sangat mengetahui hubungan Sifa dan Novan.

" Assalamu'alaikum Tan " ucap Novan.

Tante Mona membalikkan badannya, ia sedikit terbelalak setelah melihat Novan berada di hadapannya sekarang.

" No..Novan.. kamu kesini Nak, sama siapa ? " tanya Tante Mona.

" Saya sendiri Tante, Sifa mana ya Tan, daritadi Novan hubungi susah, sekarang juga Novan belum ketemu Sifa nih " ucap Novan tanpa curiga.

" O..oh..iyaa.. Sifa lagi di dalam kayanya, ayo makan dulu yuk sini yuk.. " ajak Tante Mona.

Novan mengedarkan pandangan nya, ia tetap mencari pujaan hatinya disini, namun saat ia sedang mengedarkan pandangan nya, pandangan nya terhenti saat melihat wanita berkebaya coklat gold sedang berjalan di papah menaiki pelaminan.

Deg

" Sifa.. " Gumam Novan.

Saat ia akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba tangannya di cekal oleh Tante Mona, dengan secepat kilat Mona mencegah Novan agar tidak berjalan mendekati pelaminan.

" Novan, sini yuk.. Tante mau bicara " ucap Mona.

" Tan.. ini pernikahan Kak Sita kan ? Aku tahu wajah Kak Sita dengan Sifa sangat mirip, tapi tolong ini pernikahan Kak Sita kan Tan ? " tanya Novan ia mulai curiga.

" Ya sini dulu, ada yang harus Tante bicarakan "

Akhirnya Mona menceritakan kepada Novan apa yang sebenarnya terjadi.

" Apa Tante ? Tante kan tahu hubungan aku dengan Sifa Tan, Tante tega ya.. "

" Tidak ada solusi lain Novan, Tante harap kamu bisa mengerti keadaannya "

" Kenapa tidak dibatalkan saja pernikahan nya, atau ini memang rencana kalian untuk memisahkan aku dengan Sifa, kalau memang keluarga Sifa tidak menyetujui jika aku menjalin hubungan dengan Sifa kenapa tidak dari dulu, kenapa setelah kami berdua membangun mimpi untuk hidup bersama, ternyata mimpi kami dihancurkan begitu saja " ucap Novan berapi-api.

Bagaimana tidak ia dihadapkan pada posisi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, pujaan hatinya bersanding di pelaminan bersama pria lain, sialnya ia hadir dan melihat dengan kedua mata nya sendiri.

Novan berjalan menuju pelaminan, ia bersikeras untuk bertemu dengan Sifa terlebih dahulu, Mona tidak dapat mencegahnya, Novan berjalan melewati Riska, Riska pun cukup kaget saat Novan mendekat ke arah pelaminan.

" Tan.. gimana ini ? " tanya Riska kepada Mona yang berjalan mengekori Novan.

" Tenang, tante yakin Novan tidak akan melakukan apa-apa " jawab Mona percaya diri.

Namun, belum juga Novan sampai di pelaminan ia lebih dulu menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan berjalan kembali melewati Mona dan Riska, tanpa sepatah katapun ia pergi keluar area resepsi pernikahan, Novan lebih memilih untuk tidak menemui Sifa, ia khawatir tidak dapat mengontrol emosinya.

Ia menyangka jika Sifa tidak melihatnya, namun dugaannya salah Sifa sudah lebih dulu melihatnya, Sifa turun dari pelaminan dan sedikit berlari untuk mengejar Novan.

Sifa melewati Riska dan Mona.

" Sif.. Sifa mau kemana ? " Tanya Mona.

Sifa tidak menggubris nya, ia terus berjalan mengejar Novan.

" Mas Novan... Tunggu..... " panggil Sifa.

Sifa masih terus mengejar Novan, namun karena langkah kakinya tidak sebebas biasanya, ia pun hanya dapat melihat Novan berlalu dari pandangan nya. Tanpa terasa bulir bening membasahi pipinya, ia tersadar masih banyak tamu undangan disana, ia menyeka kasar pipinya lalu berjalan masuk kembali ke area resepsi pernikahan nya.

Hatinya benar-benar hancur, entah apa yang ia rasakan kali ini.

Di sisi lain, Revan yang melihat Sifa turun dari pelaminan tanpa pamit, hanya dapat memperhatikan.

" Sifa mengejar siapa ? kekasihnya ? ckkk " batin Revan.

Kedua orangtua Revan dan Sifa sedang sibuk menjamu tamu-tamu rekan kerjanya, mereka tidak begitu memperhatikan kepergian Sifa dari pelaminan. Hanya Revan yang masih betah bertahan di atas pelaminan.

🌺🌺🌺

Jangan lupa untuk dukung karya author ya .. ❤️

BAB 3

Acara resepsi Sifa dan Revan berjalan lancar, seperti nya Pak Bendy harus benar-benar berterima kasih kepada Sifa putri bungsunya, kalau seandainya Sifa bersikeras untuk menolak menjadi pengantin pengganti Kakaknya, kemungkinan acara hari ini akan kacau, hubungan antara dirinya dengan Pak Tony pun mungkin akan memburuk.

Ia masih tidak habis pikir dengan sikap Sita, yang jelas-jelas ia ingin mempermalukan nya di depan keluarga Pak Tony, bukan tanpa alasan, memang benar sebelumnya Sita seolah menerima perjodohan ini, dan ia berjanji untuk menyudahi hubungannya dengan Leon, namun entah mengapa, sepertinya Sita berubah pikiran.

Hingga detik ini pun Sita, kakak Sifa belum juga ditemukan, entah ia berada dimana, bersembunyi atau bersama Leon kekasihnya.

Pak Bendy masih menunggu kabar dari orang suruhannya, mereka masih mencari keberadaan Sita, setelah acara resepsi pernikahan ini, rencananya Pak Bendy akan fokus untuk mencari Sita.

Krek

Pintu kamar terbuka, terlihat Revan masuk kedalam kamar Sifa.

Sifa sedikit terhenyak. Ia sudah berganti pakaian dengan pakaian rumahan.

" Ada apa ? Kenapa masuk ke kamarku ? " tanya Sifa.

" Lalu ? Menurutmu aku harus kemana ? " Revan bertanya balik.

" Kenapa tidak tidur di kamar Kak Sita saja, itu kan kamar pengantin kalian " balas Sifa.

" Saya menikah denganmu bukan dengan Sita " susul Revan.

Sifa berjalan lalu duduk di Sofa, ia duduk menyender lalu melipat kedua tangannya.

Revan pun berjalan menghampiri Sifa, ia duduk tepat di samping Sifa namun cukup berjarak.

" Jangan kamu pikir aku menerima pernikahan ini, pernikahan ini terjadi demi kedua orangtuaku, karena bukan kamu yang aku inginkan, tapi Sita " ucap Revan.

Jag

" Kenapa kamu tidak menolak disaat bukan Kak Sita yang akan menjadi istrimu ?! " tanya Sifa.

" Kamu juga kenapa tidak menolak disaat tahu Kakak kamu kabur ? " Revan bertanya balik.

Sifa terdiam, Revan pun terdiam.

Benar, keduanya dirundung dilema. Mereka larut kedalam pikirannya masing-masing.

Disaat yang bersamaan pintu kamar diketuk.

Tok Tok Tok

Cukup membuyarkan lamunan Sifa, ia tersadar lalu bangkit dari duduknya, untuk membuka pintu kamar.

Klek

" Sifa " Ibu sudah berada di ambang pintu dengan senyum khas nya.

" Iya Bu "

" Suami mu ada di dalam ? " tanya Ibu lagi.

" A.. Ada bu.. "

Ibu lalu tersenyum.

" Ayo makan malam dulu, Ibu lihat dari tadi pagi, saat acara resepsi pun kamu tidak makan, ayo makan dulu " ajak Ibu.

" Nanti aja Bu, aku lagi gak nafsu makan "

" Kok gitu sih, ayo makan dulu, ajak suamimu ya " ajak Ibu lagi.

" Kalau Ibu mau, masuk aja, ajak Mas Revan makan, aku gak laper Bu " ucap Sifa berlalu kembali masuk kedalam kamar.

Ibu hanya menghela nafas dalam melihat sikap Sifa. Ibu memahami sikap putri bungsunya yang sekarang, mungkin Sifa belum sepenuhnya bisa menerima, jauh di dalam lubuk hatinya ia pun cukup merasa pedih, pedih karena Sita yang kabur dari rumah, pedih karena ia harus merampas kebahagiaan Sifa.

" Ya Tuhan.. Aku memohon kebahagiaan untuk anak-anakku " batin Ibu Sifa.

***

Sifa mengeluarkan bantal dan selimut baru dari dalam lemarinya, ia berniat untuk tidur di sofa, karena ia tidak ingin berbagi kasur bersama Revan, walaupun mereka berdua sudah sah sebagai suami istri secara negara dan agama, namun sepertinya Sifa belum bisa menerima Revan sebagai suaminya begitupun Revan.

Revan sudah sangat jatuh cinta kepada Sita, namun seakan ia sedang diajak terbang tinggi, tiba-tiba ia langsung dihempaskan ke bumi begitu saja, sakit.. Ya, Revan pun cukup sakit jika menghadapi kenyataan bahwa wanita yang ia cintai pergi dihari pernikahan mereka.

" Mau tidur dimana ? " tanya Revan yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur.

" Sofa " jawab Sifa singkat.

" Hmm " balas Revan.

" Walaupun ini kamarku dan itu kasurku, jangan harap aku akan berbagi kasur denganmu, lebih baik aku tidur di sofa " susul Sifa.

Tanpa berkata lagi, Sifa langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa, menyelimuti dirinya sampai kepala, begitupun Revan ia sudah terlelap di atas kasur, ia sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar untuk saat ini ia sangat lelah, lelah fisik, lelah pikiran, lelah juga perasaan.

Sifa benar-benar tidak bisa tidur, ia kembali bangun dengan membuka sedikit selimut yang menutupi kepalanya, ia mengedarkan pandangan nya terlihat pria yang sekarang sudah menjadi suaminya lelap tertidur di tempat tidur yang biasa ia tempati.

Ia perlahan bangun, menyibakkan selimut, lalu ia duduk menyender ke senderan sofa.

" Kak Sita kamu dimana ? Laki-laki yang mencintaimu sekarang berada di hadapanku, dia menikahiku karena kamu malah pergi dengan Leon ! " gumam Sifa sedikit menggerakkan giginya.

Masih terasa bergemuruh dadanya, hubungannya dengan Novan sudah tidak mungkin diselamatkan, ia sudah menjadi istri dari seorang Dokter, ia baru tahu profesi Revan saat tadi pagi pada saat mencocokan data sebelum akad nikah di mulai.

" Aku masih heran, kenapa dulu Kak Sita awal nya menolak tapi menerima perjodohan ini namun ujungnya, dia kabur, padahal kalau dipikir ya lebih baik Mas Revan dong dibanding kan Leon, laki-laki urakan, gak jelas.. Kasian juga ya Mas Revan.. Cintanya untuk Kak Sita sudah tumbuh namun secara tidak langsung Kak Sita menyakitinya " gumam Sifa berbicara sendiri.

Sifa tersadar dengan gumaman nya sendiri.

" Bilang apa aku barusan ? Kasian ? Kasian sama laki-laki di depanku yang gak punya sikap ini.. Lebih kasian diriku sendiri lah.. Ck.. Aku harus berbicara dengan Mas Novan, aku gak bisa begini, aku sudah menyakitinya " gumam Sifa lagi.

Ia beranjak dari duduknya, berjalan menuju nakas, ia akan mengambil ponselnya yang seharian tadi mati karena kehabisan baterai.

🌺🌺🌺

Jangan lupa dukung author ya ❤️

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!