Di sebuah Desa terpencil hiduplah seorang Anak perempuan yang tinggal bersama Neneknya, Alin namanya. Sejak Usia 7 tahun Alin sudah ditinggalkan kedua orang tuanya, sejak saat itulah Alin menjalani hidup digubuk tua milik Neneknya.
Saat Alin masih didalam kandungan, Ayahnya meninggal akibat kecelakaan saat Ayahnya sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjanya, Ayah Alin adalah seorang petani, dizaman itu di sekitar Desa tersebut masih banyak pabrik gula, saat Ayah Alin hendak bekerja menuju pabrik gula dengan menaiki truk, truk yang ditumpangi sang Ayah mengalami kecelakaan hingga membuat Ayah Alin meninggal seketika ditempat kejadian.
Sedangkan Ibu Alin meninggal saat Alin mulai masuk Sekolah Dasar, tidak ada angin, tidak ada hujan Ibu Alin meninggal saat pagi hari, kejadian tersebut masih sangat teringat jelas diingatan Alin, pada saat itu Matahari mulai muncul diufuk timur, Alin sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah, dari mulai mandi, pake seragam sekolah, lalu mengecek buku yang sudah disiapkannya sejak malam, Alin memang mempunyai kebiasaan sebelum berangkat sekolah mengecek dahulu mata pelajaran yang akan dipelajari dihari tersebut, dengan sikap kehati-hatiannya Alin jarang bahkan hampir tidak pernah terlupa membawa buku yang akan dipelajari dihari itu.
Semuanya sudah siap, hal terakhir yang dilakukan ketika hendak berangkat sekolah adalah berpamitan kepada Ibunya, lalu Alin pun memanggil Ibunya, Ibu, Ibu ada dimana?, biasanya ketika Alin memanggil Ibunya langsung menjawab ada disini, namun hari itu terasa ada yang aneh.
Jika biasanya Alin memanggil satu kali Ibunya langsung menjawab dihari itu Alin sudah memanggil tiga kali namun tidak ada jawaban sekalipun, akhirnya Alin pun mulai mencari Ibunya, dari dapur, ruang tamu, halaman depan, namun tidak juga ditemukan sosok Ibu tersayangnya, Alin pun kebingungan, didalam hati berbisik apa Ibu masih tidur?, tidak mungkinkan jam segini Ibu masih tidur?.
Ibu adalah orang pertama yang selalu bangun lebih awal, lalu untuk membuktikan ketidakpercayaannya, Alin melangkah berjalan menuju kamar tempat Ibunya tidur, Alin mengetuk pintu, tok tok tok Bu, Ibu ada didalam? Setelah sekian menit tidak ada jawaban Alin pun berkata, Ibu aku masuk ya, Aku mau pamit mau berangkat sekolah, mau minta uang saku sama cium tangan Ibu, karena tidak ada jawaban, Alin pun membuka pintunya.
Ibu, Bu? Lagi lagi tidak ada jawaban, Alin melangkah mendekati ranjang tempat Ibunya tidur, Alin melihat Ibunya sedang terlelap dikasur, lalu Alin pun menggoyang-goyangkan tubuh Ibunya, Ibu, bangun, Bu, bangun, tapi tidak ada jawaban sama sekali, Ibu, Alin pun mulai menangis dan kebingungan, Ibu kenapa ngga mau bangun Bu, Bu bangun.
Dengan wajahnya yang berderai air mata, Alin langsung lari menuju tempat tinggal Neneknya yang hanya dipisahkan oleh beberapa rumah tetangga, syukurlah saat itu Neneknya ada dirumah, dengan wajah yang penuh dengan air mata Alin berkata pada Neneknya, Nek, Ibu, Ibu dibangunin ngga bangun-bangun, Alin sudah goyang-goyangkan badan Ibu dari lembut sampe kenceng tapi Ibu ngga bangun-bangun, mendengar apa yang dituturkan Alin, Nenek Alin pun segera berjalan menuju tempat tinggal Anaknya, Alin kamu tenang dulu ya duduk disini dulu Nenek cek dulu Ibu Kamu, Kamu ngga usah nangis, Kamu pasti belum sarapankan? dimeja udah ada nasi sama lauk Kamu makan dulu ya, Nenek nanti balik lagi.
Nek Wati, Nenek Alin berjalan dengan tergopoh gopoh menuju rumah Anaknya, setelah sampai, Nek Wati langsung masuk kedalam rumah, lalu melangkah menuju kamar dimana Anaknya tidur, saat sampai, melihat Anaknya yang sedang berbaring ditempat tidur, Nek Wati langsung mengecek nafas sang Anak, yang ternyata sudah tidak ada suara detak Jantung dan Nafasnya pun sudah terhenti, Innalillahi wa inna illahi raji un.
Bersambung..
Nenek Wati mempunyai 10 orang Anak, namun yang hidup sampai dewasa hanya tersisa 5 Anak, 2 Laki-laki dan 3 Perempuan, Anak nomor 1 dan 2 Nek Wati Laki-laki, keduanya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai kehidupan (rumahnya) masing-masing.
Sedangkan Ibu Alin adalah Anak ketiga, Anak yang keempat dan kelima perempuan adalah Adik-Adik dari Ibu Alin, semuanya sudah berkeluarga, kedua Adik Ibu tinggal dekat dengan rumah Nek Wati, beda rumah namun saling berdekatan, sedangkan rumah kedua Anak Laki-laki Nek Wati rumahnya lumayan jauh, beda Desa.
Suami Nek Wati, Kakek Alin adalah tukang becak, yang ketika menarik penumpang bukan hanya di Desanya sendiri, namun bisa sampai keluar Kota, dan itu terjadi bisa beberapa Minggu di Kota, bahkan beberapa Bulan baru pulang.
Ketika Ibu Alin meninggal semua keluarga berkumpul termasuk Kakak dan Adik-Adik Ibu, Alin yang masih kecil belum begitu paham dengan apa yang terjadi, ia hanya menangis di sebelah tubuh Ibunya yang sudah kaku dan mendingin.
Nenek Ibu meninggal ya?, Nenek Ibu ngga bisa diajak ngobrol lagi ya?, Nenek Ibu udah ngga bisa masakin masakan kesuakaan aku lagi ya?, Nenek Aku udah ngga bisa tidur bareng Ibu lagi ya?, Nenek aku udah ngga bisa meluk Ibu lagi ya?.
Kalo Ibu udah ngga ada terus aku tinggal sama siapa Nek?, kalo Ibu udah ngga ada terus aku kalo minta uang jajan kesiapa lagi Nek? Pertanyaan yang sangat menggambarkan isi pikiran Anak kecil yang masih sangat polos.
Nek Wati pun menimpali, kamu tinggal sama Nenek ya Nduk, untuk uang jajan nanti Nenek usahakan, tapi kalo Nenek lagi ngga ada kamu mohon mengerti ya Nduk.
Bersyukurnya saat itu Sekolah Negri gratis tidak ada SPP atau biaya Bulanan, jadi Alin masih tetep bisa sekolah meski sekarang ia sudah tidak punya orang tua lagi.
Semua keluarga juga setuju Alin tinggal sama Neneknya, karena Alin memang paling dekat sejak bayi dengan Nek Wati dibanding dengan keluarga yang lainnya.
Nenek Wati dan Alin mereka berdua mengemasi pakaian dan barang-barang Alin yang ada dirumah Ibunya, untuk kemudian dipindahkan kerumah sang Nenek.
Sebelumnya Alin memang sudah sering menginap dirumah Neneknya, jadi meski sekarang harus tinggal seterusnya dirumah Nenek, Alin tidak begitu kaget atau ngga kerasan, karena sudah terbiasa, jadi Alin merasa nyaman.
Alin baju kamu semuanya sudah dimasukan ketas?, seragam-seragam kamu, buku-buku sekolah kamu, sepatu, udah siap?, kalo udah siap kumpulin disini (satu tempat), kita bawa bertahap aja ya, ngga usah banyak-banyak nanti kamu keberatan, Alin pun menjawab, iya Nek, sambil satu persatu ia kumpulkan.
Alin dan Nenek bolak balik beberapa kali untuk memindahkan barang-barang Alin dari rumah Ibunya kerumah Neneknya, disela-sela aktifitas tersebut, Alin menatap lemari yang terbuka, dan terlihatlah baju-baju Ibunya tertata rapi didalamnya, lalu tanpa aba-aba air mata Alin mulai mengalir, hik z, hik z, hik z, Ibu, Ibu kenapa ninggalin Alin sendiri?, Ibu ngga sayang sama Alin?, Ibu Alin kangen omelan Ibu ketika Alin ngambil baju ganti Alin lalu baju-baju yang lain jadi berantakan, Alin kangen meluk Ibu pas Alin tidur sama Ibu, kenapa Ibu ninggalin Alin secepat ini?.
Nek Wati yang melihat Alin menangis, tidak tahan untuk tidak mendekat, Nek Wati langsung memeluk Alin, Alin, meskipun Ibu ngga ada Nenek masih disini sama Alin, Alin ngga usah terlalu sedih ya, Alin doain Ibu disana biar Ibu diberikan tempat terbaik disisi Allah, diampuni dosanya dan diluaskan kuburnya.
Alin banyak-banyakin doa buat Ibu, doa Anak yang shalih in sya Allah diijabah, cup cup cup ucap Nek Wati sambil memeluk dan menepuk-nepuk punggung cucunya.
Setelah berlalu beberapa saat, Alin mulai tenang, Alin mengusap air mata yang ada dipipinya, kemudian pemindahan barang kembali dilakukan, hingga akhirnya semua barang Alin sudah dipindahkan dengan sempurna ke rumah Nenek.
Bersambung..
Alin diusianya yang sudah menginjak tujuh tahun baru memasuki kelas satu SD Negri, usia maksimal dan usia yang matang untuk memulai belajar.
Kebetulan sekolah Alin tidak terlalu jauh dari rumah tempat tinggalnya sekarang, jadi setiap berangkat dan pulang sekolah selalu jalan kaki, karena pada saat itu Alin juga belum punya kendaraan seperti sepeda, alhasil jalan kaki sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Ini adalah hari dimana Alin mulai berangkat sekolah setelah insiden sebelumnya (Ibunya meninggal), seperti biasa menjelang Matahari mulai menampakan sinarnya, Alin bergegas mandi, memakai pakaian seragam sekolah dan mengecek buku pelajaran dihari itu, setelah selesai Alin pun sarapan dengan Nek Wati.
Nek, Nenek masak apa hari ini?, Nenek pun menjawab, ini masak tumis kangkung sama ikan asin, sini makan sama Nenek, semuanya sudah matang, Alin pun mengambil piring, kemudian menyendokan Nasi dan Lauk Pauk kedalam piring tersebut.
Sambil Makan, Nenek berkata, Alin ngga papa ya kalo Nenek masak sederhana kaya gini, Alin menjawab iya ngga papa Nek, Alin bersyukur masih bisa makan, lagipula walaupun sederhana masakan Nenek enak bangetttt kok Alin suka, mendengar jawaban dari mulut cucunya yang mungil itu senyuman Nek Wati pun mengembang.
Setelah Alin selesai makan, Alin menyuci piring bekas makannya juga menyuci piring bekas Nenek pakai juga, sedari kecil memang Alin sudah dididik oleh Ibunya dengan kemandirian, jadi perihal cuci mencuci perabot rumah Alin sudah terbiasa dan tidak keberatan sedikitpun.
Nenek makasih ya untuk makanan hari ini, Alin berangkat sekolah dulu, lalu Alin mencium punggung tangan milik Neneknya itu, ia, hati-hati dijalan, jalannya ngga usah terburu-buru, jangan sambil lari-larian, Alin menjawab siap Nenek. Assalamualaikum, Wa'alaikum salam, pamit Alin.
10-15 menit Alin berjalan, akhirnya sampai juga ditempat tujuan, Sekolah Dasar Negri Lu wu ng Gede 03 tempat Alin belajar mengenal Angka, Huruf dan Mata Pelajaran lainnya.
Jika teman yang lain ada yang sekolah TK sebelum mulai sekolah Dasar, Alin berbeda, sebelum sekolah Dasar, Alin tidak pernah sekalipun menginjakan kaki di sekolah TK, bahkan untuk belajar menghitung atau pun menulis tidak pernah, jadi di sekolah Dasar lah Alin bener-bener untuk pertama kalinya mulai mengenal apa itu Angka dan Huruf, mulai belajar membaca, berhitung, dan sebagainya.
Sebelum sekolah yang Alin lakukan hanyalah main, makan dan tidur, tidak ada yang mengajari cara membaca, menulis ataupun berhitung, karena Ibu Alin juga sudah sangat sibuk bekerja untuk menghidupi Anak semata wayangnya.
Ibu Alin bekerja sebagai Petani, jadi berangkat pagi, pulang sore, begitu setiap hari yang Ibunya lakukan, sedangkan Alin yang masih kecil selalu tidur dengan cepat diawal menjelang malam, jadi sangat jarang ada waktu untuk mereka berdua saling bercengkeraman, sangat disayangkan, terlebih Ibu Alin pergi meninggalkan Alin begitu cepat, malang sekali nasibmu Alin.
Ya, sebelum Alin sekolah, dikarenakan Ibunya jarang ada dirumah saat siang hari, yang dilakukan Alin adalah bermain bersama teman-temannya, Alin pulang hanya ketika lapar dan menjelang Magrib.
Semua permainan Alin lakukan, dari mulai sepak bola, main kartu, main petak umpet, main layang-layang, main karet, main kejar-kejaran, main kena-kenaan, main batu-bata yang ditumpuk-tumpuk lalu dirubuhkan memakai bola tenis, main gelatikan (kayu yang dilempar memakai kayu juga lalu ditangkap), dan lain sebagainya, bahkan Alin juga sering main kesawah bersama teman-temannya, mandi disungai, nyari singkong disawah milik Nenek temannya, nyari udang disungai setelah dapat lalu dibakar dan dimakan.
Alin benar-benar menikmati masa kecilnya dengan bebas dan bahagia, itulah meskipun sering ditinggal Ibunya bekerja Alin tidak pernah merasa sendiri, karena ada teman-temannya yang selalu menemaninya bermain setiap hari.
Kembali ke sekolah, Alin sangat senang bersekolah, setiap mau berangkat sekolah Alin selalu bersemangat, tidak ada hari dimana Alin murung atau males kesekolah, Alin benar-benar menyukai sekolah, bagi Alin sekolah adalah hal baru yang baru pertama kali dia rasakan.
Saat pertama kali kesekolah Alin ditemani Ibunya, begitupun dengan Anak-Anak yang lain, dikelas Alin ada sekitar 30an murid, dihari kedua dan seterusnya Alin selalu berangkat sekolah sendiri atau seringkali bersama teman baiknya yang bernama Neli. Neli adalah teman terdekat Alin, teman yang hampir setiap hari bermain dengan Alin, Alin dan Neli adalah dua sahabat yang tidak terpisahkan, dimana ada Alin disitu ada Neli, pun sebaliknya dimana ada Neli disitu ada Alin.
Dikelas pun Alin dan Neli duduk satu Meja berdampingan, bagi Alin Neli adalah satu satunya teman yang paling paham akan dirinya.
Jika Alin mempunyai warna kulit yang putih, cantik, memiliki hidung mancung, mirip orang Arab, Neli mempunyai kulit yang gelap, dengan hidung pesek namun tetap manis, keduanya benar-benar saling melengkapi, dan tidak terpisahkan.
Meskipun Alin tidak pernah belajar menulis, membaca dan berhitung sebelumnya, Alin dengan begitu cepat bisa memahami pelajaran yang disampaikan Gurunya. Alin cepat mengingat apa yang diajarkan oleh gurunya, perlahan Alin pun mulai bisa menghitung, membaca dan menulis.
Karena untuk pertama kalinya Alin mengenal apa itu belajar, Alin sangat bersemangat dan menyukainya, belajar menjadi hobi baru bagi Alin, Alin sangat menyukainya.
Pernah ada satu kejadian, saat awal-awal Alin mulai sekolah dan saat itu Ibu Alin masih hidup, ketika malem saat semua orang sudah tidur lelap, Alin tiba-tiba terbangun, tau apa yang Alin katakan ketika terbangun ditengah malam?.
Alin menangis sambil berkata kepada Ibunya, Ibu ayo siap-siap Aku mau berangkat sekolah, nanti telat, ditengah malam buta, Alin menangis meminta untuk sekolah, Ibu Alin yang melihat Anaknya begitu bersemangat sekolah pun tersenyum geli, sambil berkata Alin sekarang masih malam, belum waktunya sekolah, Alin pun menjawab ayo Ibu sekolah nanti telat, Ibu ayo siap-siap aku mau sekolah sambil menangis dengan air mata yang berura in dipipinya.
Melihat Alin yang terus menangis dan meminta untuk berangkat kesekolah, akhirnya jurus terakhir Ibu Alin dikeluarkan juga, ya udah Alin kalo ngga percaya sama Ibu, kalo sekarang masih malem ayo kita keluar dulu, liat diluar langit masih gelap, belum waktunya sekolah, Mereka lalu berjalan menuju halaman depan di luar rumah, sambil mengucek-ngu cek mata, Alin mulai membuka matanya lebar-lebar untuk melihat kondisi langit yang ada diluar rumah.
Saat penglihatan Alin sudah mulai jelas, Alin mulai tersenyum geli dan dilanjutkan dengan gelak tawa dan tersipu malu (pipinya memerah), lalu berkata pada Ibunya, eh iya Bu langitnya masih gelap, masih sepi juga, ya udah ayo Bu masuk kerumah, Alin mau tidur lagi, melihat kelakuan Anak satu-satunya, Ibu Alin hanya bisa senyum-senyum karena merasa lucu, Alin-Alin, wkwkwk. Ya udah ayo masuk, Ibu juga masih ngantuk.
Ada-ada aja nih kelakuan kocak Alin.
Bersambung..
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!