Aira Harus menelan pil pahit, ketika kekasih yang dicintainya dengan tulus selama ini harus mengakhiri hubungan mereka, karena terhalang oleh perbedaan keyakinan, yang menjadi polemik hubungan mereka selama ini, bukan hanya karena perbedaan saja, tapi karena orang tua yang tidak memperbolehkan salah satu diantara mereka harus memilih untuk mengikuti keyakinan yang Mana, padahal semuanya tahu jika Aira sekarang sedang mengandung.
"Maafkan aku Aira, mungkin kita tidak bisa bersama lagi, aku tidak bisa mengecewakan orang tuaku, dengan memilih bersamamu, maafkan aku jika aku membuatmu kecewa dengan keputusanku".
"Kenapa?. Kenapa harus kita akhiri, jika kita masih bisa bersatu. Bagaimana dengan anak yang aku kandung?." Ingat mas, dulu kamu yang selalu meyakinkanku untuk selalu percaya kepadamu, tapi nyatanya apa!, kau malah yang menjadi racun dalam hatiku," sahut Amira dengan perasaan yang terluka.
" Aira, mungkin dulu aku begitu menyayangimu, mencintaimu dengan sepenuh hatiku, bahkan sampai sekarang masih sangat-sangat mencintaimu, tapi apa yang bisa kau perbuat jika kedua orang tua kita tidak bisa mencapai mufakat."
" Kau jahat mas, kau sangat jahat, kenapa kau tidak bisa mengambil keputusan, kenapa kau tidak bisa memilih kami?, kenapa kau tidak bisa ikut bersama aku dan bayi kita?."
" Sekali lagi maafkan aku Aira, aku takut seandainya aku memilih bersamamu, aku takut nanti aku mati dengan cepat tapi belum bisa menjadi ayah dan suami yang baik."
Sedangkan Aira sudah tidak bisa berkata kata lagi dia tidak tahu harus berkata apalagi untuk meyakinkan andra,
sedangkan dia tidak ingin menggenggam tangan yang sudah tidak ingin digenggam.
" Kamu yakin mas dengan keputusan itu?." tanya amira, mencoba untuk tidak mengeluarkan air mata setetes pun.
"Aku yakin Aira," jawab Andra dengan tatapan nanar.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi jauh dari kehidupanmu, agar aku bisa menyembuhkan luka yang sudah kamu torehkan padaku, aku hanya bisa memberikanmu ini", ucap Aira dengan memberikan kado kepada Andi.
"Apa ini Aira?" tanya Andra.
"Sebuah kenangan yang sangat berharga yang tak mungkin bisa kamu lupakan. Dan tolong untuk dijaga baik-baik kado pemberianku ini, dan bukalah kalau sudah sampai dirumah."
"Baiklah Aira, aku akan menjaga pemberianmu ini dengan baik. Maafkan aku jika keputusanku membuatmu terluka."
"Sudahlah mas, aku terima keputusanmu walau sangat sakit, tapi apalah dayaku harus memilih." kata Aira sambil meneteskan air matanya, karena sudah tidak sanggup untuk menahan sesak didada nya
"Maaf," ucap Andra sambil menundukkan kepalanya.
"Bolehkah aku memulukmu untuk terakhir kalinya mas," pinta Aira.
"Boleh" jawab Andra.
Dan akhirnya mereka berpelukan dengan erat sambil menangis.
"Maaf mas, baju mas jadi basah. Selamat tinggal mas semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Dan doakan aku semoga aku kuat menjalani keputusanku untuk tidak memilih siapa siapa diantara mas atau orang tuaku. Selamat tinggal," ucap Aira.
setelah itu Aira berbalik dan pergi meninggalkan Andra tanpa menoleh kebelakang.
Andra menatap nanar kepergian Aira, dia hanya bisa melihat bagaimana Aira berusaha untuk tetap tegar dengan kenyataan dan pilihan yang harus mereka pilih.
Mereka tidak bisa memilih antara cinta orang tua dan kepercayaan masing masing.
dan Andra akhirnya ambruk dan terduduk lesu setelah kepergian Aira. dia hanya bisa berdiam ditempat dan tidak bisa berbuat apa apa sampai dia bangkit dan pulang.
...****************...
Setelah sampai kamar kos, Aira menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan rasa sesak yang ada. menangis seorang diri hingga akhirnya tertidur.
Paginya Aira bangun seperti biasa dengan mata sembab karena menangis semaleman.
Setelah menenangkan diri Aira mengambil handphonenya, mengingat bahwa orangtuanya berpesan untuk memberi kabar kalau sudah bertemu dengan Andra.
"assalamualaikum bapak, Aira semalem sudah bertemu dengan mas Andi, sekarang Aira sudah dikos. Bapak jadi mau jemput Aira kapan?. Biar Aira bisa beres beres dari sekarang. "
"waalaikum salam ndok, iya nanti siang bapak jemput. Sudah makan kamu ndok?."
"Udah pak, ya sudah pak Aira mau beres-beres dari sekarang, agar nanti bapak sampai bisa langsung pulang. Assalamualaikum."
"Walaikum salam," jawab bapak.
Lama sekali Aira menatap ponselnya. memegang erat ponselnya. Menahan sesak yang dia rasa.
"hikss hikss hiiksss," akhirnya tumpah juga tangisnya.
Puas sudah Aira menumpahkan tangisnya. Dia mulai melihat sekeliling kamar kosnya, dia menjadi bingung , mana dulu yang akan dia kerjakan. Akhirnya Aira lebih memilih tidur, tidak melanjutkan kegiatannya.
.
.
.
Bersambung........
keesokan harinya keluarga Aira datang menjemput Aira dan untuk berpamitan kepada penghuni kos. Mereka semua tidak tau kalau Aira pergi karena ada rahasia besar yang dia simpan. Yang mereka tau Aira pergi untuk mengikuti orang tuanya yang pindah keluar pulau. Begitupun ditempat kerja Aira, semuanya tau kalau Aira pergi mengikuti orang tuanya.
Dalam perjalanan ke rumah, Aira terus diam berpikir dan melamun. dalam pikirannya Aira berpikir seandainya, seandainya dan seandainya ia tidak terbuai dengan kata kata itu, tidak terbujuk dengan kekasihnya. tapi Aira sangat tulus dengan kekasihnya tapi apa daya semua hanya kamuflase kekasihnya saja. Dalam diamnya Aira terus menangis tanpa air mata agar keluarganya tidak mengetahuinya, tapi mau ditutupin seperti apapun pasti keluarganya mengetahui apa yang Aira rasakan. Aira masih sangat bersyukur dalam keadaan begini Aira tidak ditinggalkan atau di usir oleh keluarganya. malah mereka setuju jika Aira berpisah dengan kekasihnya. Keluarga Aira tidak mengizinkan Aira berpindah kepercayaan seperti keluarga kekasihnya. Keluarga Aira merangkul dan mendukung Aira, mereka tidak menghujat bahkan siap menanggung malu akibat perbuatan Aira.
Maka dari itu Aira memutuskan untuk milih berpisah daripada membuat keluarganya kecewa untuk kedua kalinya.
Sedangkan keluarga Aira yang meliat Aira melamun sepanjang perjalanan, hanya bisa menghela nafas dan mendiamkannnya, mereka paham akan yang Aira rasakan. Bagaiman rasanya menanggung beban berat, menanggung malu, tapi mau bagaimana itu yang mereka sepakati bersama. Agar anak mereka tidak melakukan kesalahan fatal untuk kedua kalinya.
...****************...
Sesampainya dirumah sederhana mereka, Aira masih tetap berdiam dan melamun.
"Aira, ini udah sampai rumah ndok, cepat turun ndok, gak usah melamun terus, sudah sana masuk rumah, makan terus istirahat, Mamakmu pasti sudah masak masakan kesukaanmu," kata bapak.
" Iya pak, maaf," ucap Aira. Kemudian Aira turun dari mobil tanpa banyak kata meninggalkan semua orang dalam diamnya.
Sesampai dikamar Aira menumpahkan kesedihannya dengan menangis, Aira menutup mukanya dengan bantal agar suara tangisnya tidak terdengar oleh semua orang dirumah.
Tanpa Aira sadari bahwa kedua orang tua Aira mendengar tangis anaknya.
" pak, piye iki, aku gak tegel ndelok anakku kyok ngene ( pak, bagaimana ini, aku gak tega melihat anakku kayak begini)," kata ibu Aira sambil menangis.
" huf... lah meh piye meneh Mak, aku kiyo ora tegel tapi wes piye meneh, mungkin dalane yo kudu kyok ngene ndisek ( huf... La mau bagaimana Mak, aku juga gak tega, tapi mau bagaimana lagi, mungkin jalannya harus seperti ini dulu)," jawab bapak dengan suara lirih.
" yoweslah Mak, dungokke wae mugo anakke kuat, iklas lan sabar ( ya sudahlah Mak doakan saja semoga anaknya kuat, iklas dan sabar )," sambung bapak Aira.
...****************...
Malamnya mamak Aira memanggil untuk makan.
"Aira, ndok maem sek yo, ben perute gak sakit, kuwe durung maem Ket tekan omah mau, ( Aira, makan dulu yuk, biar perutnya gak sakit, kamu belum makan dari tadi ketika sampai rumah)," kata mamak.
" iya Mak," jawab Aira.
Aira keluar mengikuti mamak menuju ruang makan untuk makan malam. Disana sudah berkumpul keluarga Aira untuk makan, ada bapak, mamak dan kedua adik Aira menunggu Aira untuk makan malam.
"mbak, maem yang banyak ya" kata adik Aira yang perempuan bernama Dina.
" iya mbak, biar gak sakit lagi," sambung adiknya yang bungsu bernama Damar.
"em... ," jawab singkat Aira.
Seluruh keluarga hanya bisa saling memandang dan melirik atas jawaban singkat Aira.
Mereka kemudian makan dalam keadaan hening dan diam, padahal sebelum kejadian ini terjadi keluarga Aira selalu dalam suasana hangat, mereka saling canda tawa walaupun dalam kegiatan makan.
"Aku sudah selesai," ucap Aira. Aira berdiri kemudian pergi menuju kamar.
Mereka hanya bisa saling pandang dengan.
"Huf... lanjutkan makannya," ucap bapak.
Mereka melanjutkan makannya.
Selesai makan mamak membawa piring kedapur untuk dicuci, sedangkan Dian membersihkan dapur. bapak dan damar menuju ke kamar masing masing.
Mereka merenung memikirkan anak dan kakak mereka, memikirkan kedepannya bagaimana, apa yang harus mereka lakukan agar anak dan kakak mereka kembali seperti semula, ceria dan periang, tidak seperti sekarang yang hanya bisa diam dan melamun.
Sedangkan mamak dan Dina masih didapur membersihkan piring kotor.
"Mak, mbak kenapa?, mbak masih sakit?," tanya Dina kepada mamak.
Mamak mendesah panjang, kemudian menjawab dengan pelan. "hah... mbakmu sedang ada masalah, masalah yang mungkin akan membuat kita semua akan ikut merasakan dampaknya, tapi mamak harap kalian semua tidak menyalahkan mbak ataupun meninggalkan mbak dalam keterpurukan, kita saling menguatkan."
"Iya Mak, aku tidak akan menyalahkan mbak atau meninggalkan mbak, mungkin kalau aku yang di posisi mbak pasti tidak akan kuat," jawab Dina.
" Ya sudah, kalau sudah selesai cuci piringnya kamu masuk kamar, kerjakan tugasnya, besok kan masih sekolah," Kata mamak.
"Iya Mak, aku duluan Mak," Jawab Dina.
"Iya," kata mamak.
Sedangkan dikamar yang lain Aira selalu melamun dan melamun. tiada waktu tanpa melamun.
"Mas Andra, kenapa kamu begitu tega sama aku, kamu jahat mas, jahat jahat jahat," Sambil menangis Aira terus memaki Andara.
"Aku sayang banget sama kamu, tapi kenapa rasa sayangku ini tak ada artinya, aku sakit mas, sakit, hiiks... hiks... hiks... Bagaimana aku bisa hidup tanpamu, bagaiman caranya aku membesarkan anak ini, aku gak bisa mas, hiks... hiks... hiks... ," sepanjang malam Aira hanya menangis menangis dan menangis, menangisi keputusan yang harus dia ambil, dia bingung apa yang harus dia perbuat.
Setiap malam, tepat tengah malam orang tua Aira selalu berdoa dan memohon untuk anaknya agar bisa menerima dengan ikhlas cobaan yang mereka hadapi.
Aira pun tidak lupa dibangunkan oleh orang tuanya untuk melakukan sholat taubat dan sholat malam, agar menebus dosa yang dia perbuat. Meminta kepada yang maha kuasa agar segala diampuni karena telah lalai dalam menjalankan perintahnya dan diberi ketenangan dalam batinnya.
"Aira ayo bangun, sholat taubat, ayo bangun bertaubatlah minta ampunan kepada yang maha kuasa, agar segala perbuatanmu dapat diampuni, digugurkan segala dosa dosamu," kata bapak.
" hem... ," jawab Aira. kemudian Aira bangun dan pergi untuk mengambil wudhu dan sholat
Aira berdoa dan meminta ampun atas kesalahannya dan dosanya.
" ya Allah, ampunilah segala dosa dosa hamba, dosa dosa yang selama ini hamba perbuat. Ampunilah hamba atas kelalaian hamba, ampunilah hamba karena melupakanmu, tunjukkan hamba menuju jalanmu, kuatkan hamba atas ujian ini, ampuni hamba ya Allah, tunjukkanlah hamba menuju jalanmu, hiks... hiks... Hiks...,"
"ya Allah kabulkan lah doa hamba, hanya kepadamu hamba memohon dan meminta," ucap Aira dalam doanya sambil menangis, Aira berdoa dengan sungguh sungguh karena selama ini melupakan Tuhannya.
.
.
.
.
Bersambung..........
...***************...
salam hangat kakak kakak semua, semoga suka dengan tulisan pertama aku, maaf kalau masih ada salah kata.
Orang tua Aira melihat Aira yang terus murung dan melamun akhirnya membuat keputusan untuk membawa Aira ketempat adiknya, mungkin dengan Aira tinggal dengan omnya Aira bisa kembali seperti semula, ceria dan periang tidak murung seperti sekarang, mereka juga takut kalau berdampak terhadap janinnya.
"Aira, bagaimna kalau kamu tinggal ikut om, kalau Aira mau nanti bapak antarkan ke tempat om," kata bapak.
"Terserah Aira mau ikut om atau ikut pakde, mereka semua mau menerima jika Aira ikut tinggal dengan mereka untuk sementara, " sambung bapak lagi.
Aira masih tetap diam tanpa mau menjawab pertanyaan bapaknya.
"Aira disana tidak usah memikirkan biaya, nanti biar bapak yang kirim uang buat Aira, Aira hanya makan yang teratur jaga kesehatan Aira dan si dedek, " lanjut si bapak.
"Aira tidak tahu pak," Jawab aira dengan lirih.
"tidak usah terburu-buru dijawab, dipikirkan dulu Aira mau dimana, bapak gak akan maksa Aira," lanjut bapak.
"Iya Aira, dipikir dulu tidak usah terburu-buru mamak sama bapak tidak akan melarang Aira ingin tinggal dimana, atau mau dirumah juga tidak masalah," sambung mamak.
"Bapak cuma takut, kalau Aira dirumah, nanti Aira malu jika tetangga nanya Aira yang tidak tidak, kalau bapak sih tidak masalah, yang penting anak bapak sehat senang bapak gak peduli apa kata orang," kata bapak.
Dengan suara lirih Aira menjawab. " Aku tidak tahu pak, aku bingung mau kemana, aku takut, aku malu, apa nanti kalau aku ikut om mereka akan menerima Aira"
"Justru malah mereka yang menyarankan agar Aira ikut tinggal dengan salah satu dari mereka, agar Aira tidak merasa sedih, mungkin dengan suasana yang baru Aira bisa ceria kembali," jawab bapak.
"Akan Aira pikirkan pak, Aira masih bimbang, Aira tidak mau jauh dari bapak dan mamak," jawab Aira.
"Ya sudah, pikirkan terlebih dahulu, mamak akan selalu mendukung kamu," ucap mamak Aira sambil memeluk Aira agar tenang.
Saat sedang asyik mengobrol ada tetangga yang datang.
"Assalamualaikum," ucap Mak Saroh dan Mak Piah.
"Waalaikum salam," jawab semuanya.
"Masuk Mak, mari silahkan Mak," ucap bapak.
Setelah mempersilahkan tamu yang datang untuk masuk dan duduk mamak bertanya, ada apakah gerangan kedua tetangga depan rumahnya ini datang, mereka takut kalau kedatangannya akan menanyakan yang tidak tidak.
" Gini Mak, apakah Aira sakit Mak?, Kok tidak pernah keluar rumah setelah pulang dari kota?" tanya Mak Piah.
"Iya lo Mak sari, kok tidak keliatan keluar rumah kalau dirumah, biasanya itu kalau nak Aira pulang kerumah pasti paling rajin nyapu teras dan depan rumah," lanjut Mak Saroh.
"Bener loh kata Mak Saroh. Mak sari, pasti kalau nak Aira dirumah pasti rumah bersih, tapi kok saya lihat Aira tidak pernah keluar, takutnya Aira sakit, atau sedang kenapa gitu!, makanya kami datang kerumah," jawab Mak Piah.
Benarkan apa yang dipikirkan orang tua Aira, kalau tetangganya ini datang untuk menanyakan anaknya. Mereka bingung harus menjawab apa.
"Aira memang sedang sakit Mak," jawab Mak sari.
"Sakit hati," dalam hati Aira menjawab.
Kemudian Mak Piah berjalan mendekati Aira. Mak Piah merangkul dan mengusap usap tangan Aira dengan penuh kasih sayang.
"Aira sakit apa ndok?, apa nya yang sakit?, sudah minum obat, sudah periksa belom ?," tanya Mak Piah dengan penuh kasih sayang, karena memang Mak Piah orangnya lembut dan penyayang, apalagi dengan Aira, Mak Piah sudah menganggap Aira sebagai anaknya.
"sudah Mak," jawab Aira dengan lirih.
Dengan rasa khawatir dan cemas Mak Saroh juga ikut menanyakan. " beneran ndok, sudah dibawa ke dokter belum?. Tidak biasanya ndok kamu sakit seperti ini, biasanya walaupun sakit kamu masih tetap ceria loh ndok"
Setelah berbincang bincang dan mengobrol lumayan lama, mak Piah dan Mak Saroh pulang kerumah dengan masih ada yang mengganjal dihati mereka. Mereka masih mengkhawatirkan Aira, mereka masih mengira-ngira dengan apa yang terjadi kepada Aira, karena mereka yakin tidak mungkin hanya sakit biasa pasti ada sesuatu yang disembunyikan.
...****************...
Akhirnya Aira mulai mempertimbangkan saran dari orang tuanya, Aira yakin orang tuanya tidak mungkin akan menjerumuskan Aira ke jalan yang salah. Aira mulai berfikir untuk ikut tinggal dengan siapa, karena dia tau kedua omnya pasti akan senang hati menerima Aira, tapi tidak dengan istri istri mereka. Jadi Aira benar benar memikirkan dengan tenang dan tidak gegabah.
Aira terus melamun dan berbicara sendiri dengan lirih. " Ya Allah aku harus bagaimana!, apa dengan aku ikut om semuanya akan berjalan dengan baik, apa aku sanggup jauh dari bapak ibu, tapi kalau aku tidak pergi pasti bapak ibu akan malu karena aibku."
Tapi dalam hati Aira, Aira terus memaki Andra, "Andra brengsek, Andra jahat, Andra keterlaluan, hanya mau untungnya saja."
karena sudah sangat kesalnya Aira akhirnya akhirat berteriak dengan sangat kencangnya melepaskan rasa penatnya itu,
"aahhkk... sialan , brengsek," akhirnya keluar juga kata kata yang tidak sepantasnya Aira ucapakan.
"Apa aku salah selama ini jatuh cinta kepadanya, semua orang mengatakan untuk tidak jatuh cinta kepadanya terlalu dalam, agar aku tidak terlalu jauh menjalin hubungan dengan Dia, tapi semua itu Aku hiraukan karena rasa cinta buta ku ini...," ucap Aira dengan suara lirihnya
Masih dengan berkata lirih Aira berbicara sendiri, "apa aku ini, hanya dengan bermodalkan janji manis bisa dirayu olehnya, Aira, Aira bodoh kali kau ini, sampai mengorbankan dirimu sendiri."
"Ah sudahlah capek aku, tidur ajalah, bodoh amat sama kata orang," dengan gerakan kasar Aira menarik selimut dan kemudian menuju alam mimpi karena tengah malam nanti pasti orang tuanya akan datang lagi untuk membangunkan Aira supaya berdoa dan sembahyang yang kesekian kalinya, tidak mungkin Aira tidak bangun, walaupun sudah menolak pasti tetap akan dipaksa bangun oleh orang tuanya bagaimanapun caranya.
.
.
.
Bersambung........
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!