"Kamu mau pulang sekarang?"
"Ya. Rasanya lelah sekali." Kinara memakai helm yang diberikan oleh Danu—sahabatnya.
Lelaki itu hanya mengangguk dan melakukan motor matic itu menuju ke rumah Kinara. Berteman sejak kecil membuat keduanya begitu akrab. Bahkan, ke mana pun Kinara hendak pergi, Danu selalu mengantar karena gadis tersebut tidak berani mengendarai motor sendiri. Ia masih trauma karena pernah mengalami kecelakaan.
Selama dalam perjalanan, keduanya pun tak henti mengobrol hingga tanpa terasa mereka telah sampai di depan sebuah rumah yang tergolong cukup mewah. Kinara segera turun dan Danu membantu gadis tersebut melepas helm itu.
"Makasih banyak, Nu." Kinara tersenyum simpul. Membuat Danu ikut mengulas senyumnya. "Eh, kamu tidak masuk dulu?"
"Tidak. Aku habis ini masuk kerja." Danu menolak halus. Lalu berpamitan pergi. Kinara hanya mengiyakan dan membiarkan lelaki itu pergi.
Setelah bayangan Danu tidak terlihat, Kinara segera masuk ke rumah. Namun, ketika membuka pintu, ia tersentak melihat kedua orang tuanya sedang duduk bersama tamu. Kinara pun menyalami kedua mama papanya terlebih dahulu. Saat hendak pergi, Mama Yayuk—mamanya Kinara, meminta gadis tersebut untuk duduk di sebelahnya.
"Ara ... Perkenalkan ini Pak Abas dan Ibu Ratmi, dia adalah calon mertua kamu," ujar Mama Yayuk.
Bola mata Kinara seketika membuat penuh. Terdiam dalam beberapa saat sebelum akhirnya ia menatap semua yang berada di sana dengan kebingungan.
"Maksudnya apa, Ma?" tanya Kinara gugup.
"Nanti mama akan jelaskan padamu. Sekarang lebih baik kamu masuk kamar dulu karena kami belum selesai mengobrol."
Kinara terpaku di tempatnya. Raganya terasa sulit untuk digerakkan. Bahkan, debaran jantung yang begitu kencang membuat kakinya serasa lemah. Ia masih belum paham tentang 'calon ibu mertua' yang dimaksud oleh sang mama. Senggolan lengan dari Mama Yayuk seketika membuat Kinara tersadar. Dengan berat, ia berpamitan ke kamar.
***
Gadis itu terus menunggu kedatangan sang mama dengan perasaan yang teramat gelisah. Terus menatap jam dinding yang seolah berjalan lama. Ingin sekali menyusul ke luar dan meminta penjelasan, tetapi dirinya tidak memiliki keberanian.
Helaan napas panjang berkali-kali seolah memecah keheningan di kamar itu. Sejak masuk ke dalam ruangan tersebut, Kinara terus saja duduk di atas kasur. Bahkan, ia yang biasanya sepulang kerja langsung membersihkan diri, rasanya sekarang tidak memiliki kekuatan apa pun lagi.
Ceklek!
Pintu kamar dibuka. Orang tua Kinara berjalan masuk dan duduk di samping gadis tersebut. Kinara menatap orang tuanya dengan penuh tanya. Seolah menuntut penjelasan dari keduanya.
"Ma ... Pa ..."
"Maafkan kami, Kinara. Semua sudah diputuskan dan pernikahan kalian akan dilaksanakan dua Minggu lagi," ujar Papa Soni.
"Kenapa?" Hanya satu kata itu yang berhasil terlontar keluar dari mulut Kinara. Gadis tersebut benar-benar tidak menyangka dengan semua ini. Tidak ada angin ataupun hujan, tiba-tiba dirinya akan dinikahkan dalam waktu dekat dan yang membuat Kinara kecewa adalah mereka yang tidak meminta persetujuan dirinya terlebih dahulu.
"Ini adalah keputusan yang sudah tidak bisa diganggu gugat. Kamu akan menikah dengan Rico," ujar Mama Yayuk dengan begitu santai.
"Kenapa harus aku, Ma? Kenapa bukan Kak Kinan saja?"
"Bukankah kamu tahu? Kak Kinan masih belum selesai dengan kuliah di luar negeri. Papa dan mama tidak ingin semua usaha yang dilakukan sia-sia hanya karena perjodohan ini."
"Lalu aku? Pa ... Ma .... aku seperti Kak Kinan yang juga memiliki cita-cita." Kinara berbicara penuh penekanan.
"Maafkan kami, Sayang. Kalau kami punya biaya berlebih, sudah pasti kamu akan kami kuliahkan dan kamu akan menjadi guru seperti impian kamu. Tapi ...."
"Sudah cukup, Ma. Jangan memberi alasan apa pun lagi. Aku sadar dari dulu aku memang tidak ada istimewanya di mata kalian. Walaupun aku dan Kak Kinan adalah saudara kembar, tapi kalian selalu lebih mengistimewakan Kak Kinan sejak dulu," ujar Kinara kecewa.
Ini bukanlah pertama kalinya kedua orang Kinara mengecewakan gadis itu. Selama ini Kinara lebih memilih diam meski perlakuan mereka berbeda. Ia dan Kinan lahir hanya selisih lima menit saja. Namun, baik Papa Soni maupun Mama Yayuk selalu memperlakukan kakaknya dengan sangat istimewa. Apa pun yang diinginkan Kinanti selalu dituruti termasuk kuliah di luar negeri seperti sekarang ini.
Sementara dirinya? Harus mengubur semua impian dalam-dalam karena orang tuanya berdalih tidak mampu jika menguliahkan dua anak sekaligus. Itulah kenapa sekarang Kinara bekerja di sebuah butik.
"Bukankah kami sudah meminta maaf padamu? Lebih baik sekarang kamu beristirahat dan papa harap kamu tidak membuat masalah atau papa tidak akan segan-segan mengusirmu dari rumah." Nada bicara Papa Soni mulai terdengar ketus. Menandakan bahwa setiap keputusan lelaki itu tidak bisa dibantah sama sekali.
Setelahnya, mereka pergi begitu saja meninggalkan Kinara sendirian. Selepas pintu kamar tertutup rapat. Isakan lirih mulai terdengar. Semakin lama semakin mengeras. Kinara sudah berusaha menghentikan. Akan tetapi, semua percuma. Rasa sakit dan kecewa itu bercampur menjadi satu. Menjadikan luka baru di dalam hatinya.
"Ma ... Ara mau boneka seperti Kak Kinan."
"Nanti ya, Sayang. Kalau kami sudah punya uang. Untuk sekarang, kamu mainan boneka lama kamu dulu ya."
"Pa ... Ara mau kuliah."
"Maaf, Ara. Kuliah kamu ditunda dulu, ya. Kak Kinan mau sudah diterima di luar negeri. Kamu tahu 'kan biaya kuliah di sana tidak murah. Jika menguliahkan kalian berdua, Papa khawatir tidak sanggup dan sayang sekali kalau harus putus di tengah jalan."
"Kenapa Kak Kinan tidak kuliah di sini saja? Bukankah biayanya lebih murah. Supaya Ara dan Kak Kinan bisa kuliah bersama."
"Tidak, Sayang. Kak Kinan tidak mau kuliah di sini."
Sungguh, itu hanyalah sebagian hal yang membuat Kinara kecewa. Setiap kali ia mengingat semua kejadian itu, rasanya ingin sekali marah dan mengamuk. Namun, ia tidak mungkin melakukan itu. Jika sampai itu semua terjadi, sudah pasti ia justru akan mendapat amukan dari kedua orang tuanya.
Ia mengusap air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya. Lalu mengambil ponsel yang tergeletak di sampingnya. Dengan segera, Kinara menghubungi Danu. Hanya lelaki itulah tempat ia mengadu dan mengeluh.
Tiga kali melakukan panggilan, tidak ada satu pun yang diangkat. Ahh, mungkin Danu sedang sibuk bekerja. Kinara hendak mematikan panggilan terakhir, tetapi panggilan itu ternyata sudah terhubung.
"Hallo, Ara. Maaf, aku barusan sedang mandi."
Kinara hanya diam. Ia bingung harus mulai berbicara dari mana dulu. Hanya isakan yang terdengar.
"Ara ... apakah kamu sedang menangis?" Suara Danu terdengar cemas. Lelaki itu bahkan meminta panggilan video, tetapi Kinara menolak. "Katakan padaku, kamu kenapa?"
"Danu ... maukah kamu membawa aku kabur dari rumah?"
Permintaan itu, terlontar begitu saja dari Kinara.
"Ara ... aku sudah di depan rumahmu." Danu menghubungi saat sudah sampai di rumah Kinara.
Setelah gadis itu memintanya untuk menunggu sebentar, Danu pun langsung mematikan panggilan itu. Menunggu Kinara dengan perasaan cemas dan gelisah. Jika orang tua Kinara mengetahui, apa yang akan ia jelaskan.
Hampir sepuluh menit menunggu, Kinara tidak kunjung datang. Justru Papa Soni yang keluar dari rumah itu dan mendekati Danu. Raut wajahnya tampak datar. Tidak ramah seperti biasa. Danu pun bisa menebak bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres terjadi.
"Om," panggil Danu pelan. Ia setengah menunduk melihat Papa Soni yang menatapnya tajam.
"Kamu mau membawa Ara ke mana? Dia sudah selesai bekerja dan tidak diperbolehkan untuk keluar dari rumah lagi."
"Saya dan Ara ada urusan, Om," jawab Danu gugup.
"Urusan? Urusan apa? Jangan bilang kamu mau membawa Ara kabur dari rumah," tukas Papa Soni.
Danu tertegun. Merasa bingung. Bagaimana Papa Soni bisa tahu kalau Kinara hendak kabur dari rumah. Memang Kinara mengajak kabur, tetapi Danu tidak ada niatan untuk mengiyakan. Ia datang ke sini untuk menjemput Kinara, membawa ke tempat yang nyaman dan akan mendengar penjelasan dari gadis tersebut.
"Danu ... aku tahu kamu sudah bersahabat baik dengan Ara. Tapi membawanya kabur dari perjodohan bukanlah hal yang dibenarkan. Bagaimanapun juga, kamu tidak berhak ikut campur urusan keluarga kami," ujar Papa Soni.
Danu membisu. Ia masih belum paham atas apa yang terjadi. Juga tadi Papa Soni menyebut kata perjodohan. Apakah ini maksudnya Kinara dijodohkan? Kalau memang benar, pantas saja gadis itu mengajaknya kabur.
"Maaf, Om. Saya tidak tahu ada permasalahan apa. Saya hanya datang ke sini karena Ara mengajak saya pergi jalan-jalan. Saya bahkan tidak tahu soal perjodohan itu," sahut Danu.
Papa Soni menghela napas panjang. "Dua Minggu lagi Ara akan menikah."
"Me-menikah?" Bola mata Danu membulat penuh.
"Ya. Semua sudah dibahas secara matang dan tidak ada lagi penolakan. Itulah kenapa kalau sampai pernikahan ini batal atau keluarga kami akan menanggung malu." Kalimat Papa Soni terdengar tegas dan penuh ancaman.
Danu pun hanya bisa diam dan masih berusaha menelaah kalimat demi kalimat yang terlontar dari Papa Soni. Jika memang Kinara harus menikah dan tidak bahagia, sungguh Danu merasa sangat tidak ikhlas.
"Lebih baik sekarang kamu pulang. Ara sudah tidur." Papa Soni berlalu pergi meninggalkan Danu begitu saja.
Sementara Danu masih bergeming di atas motor dan menatap ke lantai atas di mana kamar Kinara berada. Lampu kamar itu tampak menyala dan ia melihat bayangan wanita berdiri di balik tirai. Danu yakin kalau Kinara melihatnya dari atas sana. Namun, untuk sekarang ini, ia belum bisa melakukan apa pun.
***
"Ara ...." Suara Danu terdengar lirih. Ia merasa terluka saat melihat kedua mata Kinara yang tampak sembab. Meskipun mereka hanya melakukan panggilan video, tetapi bekas tangisan itu masih nampak jelas.
Kinara tidak menyahut. Hanya terisak lirih sambil mengusap air mata yang masih saja mengalir. Gadis itu benar-benar terluka dan tidak bisa sekalipun kabur. Sepertinya sang papa mengetahui niat buruknya hingga dirinya dikurung di kamar. Bahkan, ia sudah tidak diperbolehkan untuk bekerja.
"Jangan bersedih seperti ini lagi. Aku akan memikirkan cara agar kamu bisa lepas dari perjodohan ini," ujar Danu. Tidak sekalipun melepaskan pandangan dari layar ponsel.
"Sepertinya semua akan percuma, Nu. Setiap keputusan papa sudah tidak bisa diganggu gugat. Bahkan, sekarang papa mengurungku di kamar seperti seorang sandera." Suara Kinara terdengar begitu parau.
"Pasti ada cara, Ra. Kamu masih memiliki waktu dua minggu. Em ...." Danu terdiam. Menggantungkan ucapannya. Sepertinya pria tersebut tampak ragu. Namun, berusaha untuk melanjutkan ucapannya. "Bagaimana kalau aku datang melamarmu. Aku akan bilang pada Om Soni kalau aku akan menikahimu."
Kinara terdiam. Isakannya tidak lagi terdengar. Sepertinya ide dari Danu tidak terlalu buruk juga. Lebih baik menikah dengan Danu yang sudah ia pahami sifatnya, daripada harus menikah dengan pria yang tidak dikenal meskipun kaya raya.
"Ara ... bagaimana? Aku sungguh serius. Aku tidak mau melihat kamu terluka dan bersedih jika sudah menikah nanti. Apalagi kalau kamu menikah dengan pria yang salah. Jika kamu mau, besok aku akan datang menemui orang tuamu." Danu berbicara dengan tegas dan tanpa keraguan sedikit pun. Kinara pun pada akhirnya memilih setuju dan berharap sang papa akan menerima Danu.
Benar saja, Danu datang ke rumah Kinara untuk menemui kedua orang tua gadis tersebut. Kinara hendak keluar untuk menemui, tetapi sang papa tidak memperbolehkan sama sekali. Sungguh, Kinara hanya bisa duduk cemas di kamar sambil menunggu Danu dan orang tuanya selesai mengobrol.
Sementara itu, di ruang tamu. Danu harus menelan rasa kecewa karena Kinara tidak diperbolehkan untuk duduk bersama dengan dirinya. Namun, hal itu tidak membuat Danu mengurungkan niat untuk meminang gadis tersebut. Membuatnya terlepas dari belenggu perjodohan.
"Diminum dulu, Nu," suruh Mama Yayuk.
"Makasih, Tante." Danu mengambil secangkir teh hangat itu dan meminumnya sedikit. Setelahnya, ia pun berdeham untuk menetralkan suasana. Tatapan mata yang tajam dari Papa Soni tidak sekalipun membuat nyali pria itu menciut.
"Ada perlu apalagi kamu datang ke sini? Ara sudah tidak bekerja lagi," kata Papa Soni tegas dan penuh penekanan.
"Om Soni ... Tante Yayuk ... Sebelumnya saya minta maaf kalau kedatangan saya ke mari mengganggu kalian. Saya ke sini karena ada sesuatu hal yang ...."
"Jangan banyak basa-basi. Katakan saja langsung pada intinya," sela Papa Soni.
Danu terdiam. Menghela napas panjang terlebih dahulu. Yang ia tahu, Papa Soni itu memang orangnya keras kepala dan susah dibantah. Berbeda dengan Mama Yayuk yang masih memiliki sedikit hati nurani.
"Om ... saya ke sini mau melamar Ara. Saya tahu Ara sudah dijodohkan, tapi mereka tidak saling cinta. Saya tidak mau jika nantinya Ara akan disakiti."
"Memangnya kamu pikir, kamu tidak mungkin menyakiti Ara?" Papa Soni menyunggingkan bibir. Tersenyum meledek ke arah pria di depannya.
"Saya akan berusaha untuk membuat Ara selalu merasa bahagia, Om. Saya akan melimpahi Ara dengan kasih sayang. Jujur, saya sudah cinta sama Ara, Om."
Pada akhirnya, apa yang dipendam oleh Danu selama ini terungkap sudah. Soal perasaan, ia memang sudah mencintai Kinara sejak lama. Namun, ia tidak sekalipun memiliki keberanian untuk mengungkapkan. Khawatir akan merusak persahabatan mereka. Itulah kenapa, Danu memilih memendam dan menjaga Kinara secara diam.
"Cinta? Baguslah. Tapi apa kamu pikir, kamu bisa menghidupi putriku hanya bermodalkan cinta? Memang apa yang bisa diharapkan dari karyawan restoran biasa seperti kamu?" Papa Soni tersenyum licik.
Ucapan Papa Soni terdengar begitu meremehkan Danu. Sebegitu rendahkah seorang karyawan restoran biasa. Padahal Danu bisa menghidupi Kinara tanpa meminta bantuan mereka. Memang terkesan sombong, tetapi apa yang ia yakini adalah sebuah kenyataan.
"Om, saya tahu. Saya memang bukan orang yang kaya raya. Tapi saya akan selalu berusaha membuat Ara bahagia. Bukankah kebahagiaan itu lebih berharga nilainya daripada harta yang melimpah ruah," ujar Danu. Masih berusaha pria paruh baya di depannya.
"Kamu itu anak kemarin sore, tahu apa? Jangan beranggapan bahwa hidup ini mudah dan kamu bisa melewati hanya dengan bermodalkan cinta." Papa Soni tetap bersikukuh.
"Danu, kami meminta maaf sudah menolak keinginanmu untuk melamar Ara. Keputusan kami sudah bulat untuk menjodohkan Ara dengan anak sahabat baik kami. Jadi, kami sangat memohon padamu untuk tidak ikut campur urusan kami," kata Mama Yayuk dengan lembut. Sudah mengenal baik membuat Mama Yayuk tidak bisa berbicara kasar kepada sahabat putrinya tersebut.
"Kenapa Om dan Tante sangat egois. Kalian menggadaikan kebahagiaan Ara hanya demi harta."
"Jangan menuduh yang tidak-tidak. Kamu tidak tahu alasan apa yang membuat kami terpaksa menjodohkan Ara. Lebih baik kamu diam," timpal Papa Soni. Wajahnya tampak semakin kesal kepada Danu.
"Memang apa alasannya, Om?" Danu benar-benar ingin tahu. Ia sama sekali tidak takut meski tatapan Papa Soni terlihat menyeramkan.
"Lebih baik kamu pulang saja, Anak Muda. Jangan pernah memancing emosiku." Papa Soni mengusir. Danu hendak mendebat lagi, tetapi pada akhirnya ia memilih pamit. Namun, ia tidak akan tinggal diam. Akan memikirkan cara lagi untuk membuat pernikahan itu batal.
***
Lelah terus menangis membuat Kinara akhirnya tertidur lelap. Dua jam kemudian, gadis itu terpaksa membuka mata karena ada panggilan masuk. Ia melihat ada namanya Kinanti tertera di layar. Dengan segera, Kinara menerima panggilan itu.
"Ara ... kamu masih menangis?" tanya Kinanti cemas. Tidak ada jawaban. Hanya isakan lirih yang terdengar begitu memilukan. "Maafkan kakak, Ara. Sudah membuat hidup kamu menderita."
"Tidak, Kak. Semua memang sudah garis takdir Ara. Kakak tidak bersalah apa pun. " Gadis itu menjawab sambil sesegukan. Itu memang sudah takdir, tetapi Kinara sungguh tidak ingin. Ia belum ingin menikah apalagi dengan pria yang bahkan ia belum pernah mengenalnya. Jangankan mengenal, melihat saja ia belum pernah. Rupanya seperti apa pun, Kinara tidak tahu.
"Berjanjilah untuk selalu bahagia, Ara. Saran kakak, mending kamu ikuti aja permintaan papa. Kamu tahu 'kan papa seperti apa. Kalau kamu tidak bahagia maka kakak akan membantu kamu cerai dari suamimu," ujar Kinanti dengan penuh ketegasan.
Kinara diam. Berusaha untuk memikirkan. Sepertinya saran Kinanti tidak terlalu buruk. Untuk waktu sekarang, ia harus pasrah saja pada perintah orang tuanya. Setelah pernikahan itu terjadi, mungkin dua bulan kemudian Kinara akan mengajukan cerai. Namun, Kinara yakin bahwa semua tidak akan semudah yang dibayangkan.
"Tapi, Kak ...."
"Sudah, Ara. Lebih kamu ikut saran kakak saja. Walaupun jauh, kakak akan selalu melindungimu. Kakak juga minta maaf, tidak bisa pulang saat pernikahanmu. Lagi pula, kalian hanya ijab-kabul secara diam-diam bukan?"
"Kak ...."
"Kalau kakak sudah libur, kakak janji akan segera pulang. Sekarang kakak matikan dulu karena kakak masih ada urusan. Teruslah bahagia, Sayang."
Panggilan itu langsung terputus begitu saja. Kinara menghela napas panjang. Walaupun kembar, tetapi hubungannya dengan sang kakak tidaklah sangat dekat. Mereka bahkan sering berselisih paham. Namun, jika terjadi apa-apa maka Kinanti akan melindungi Kinara. Entah mengapa, untuk sekarang ini justru Kinanti menyuruh Kinara untuk menerima bukan menggagalkan perjodohan ini.
Kinara tidak akan berburuk sangka. Bagaimana juga, hanya Kinanti saudara yang ia miliki.
***
Tanpa terasa waktu terus berlalu. Besok pernikahan itu akan digelar. Kinara benar-benar terkurung. Ia tidak bisa pergi sama sekali. Danu sudah beberapa kali datang ke rumah, tetapi lelaki itu diusir oleh Papa Soni. Yang lebih membuat terasa mengenaskan adalah ponsel Kinara yang entah menghilang ke mana. Sejak bangun tidur, gadis itu tidak melihat ponselnya padahal ia ingat kalau benda pipih itu tidak pernah jauh dari tempatnya.
Sekarang, ia tidak bisa lagi menghubungi Danu. Saat bertanya kepada orang tuanya, mereka hanya menjawab tidak tahu. Jawaban yang penuh dengan kebohongan menurut Kinara.
"Sayang, walaupun hanya ijab, kamu tetap harus berdandan. Untuk jadi kenang-kenangan nanti. Pesta pernikahan kalian akan digelar nanti, kalau Kak Kinan sudah libur," kata Mama Yayuk lembut. Mengusap puncak kepala Kinara dengan penuh kasih sayang. Namun, Kinara langsung menepisnya.
"Tidak perlu, Ma. Aku mau tampil apa adanya." Kinara menjawab ketus. Ia sudah terlalu lelah dan marah kepada orang tuanya. Walaupun mereka berbicara dengan lembut, tetapi keputusan mereka untuk menjodohkan bukanlah hal yang baik.
"Sudahlah, mama tidak akan memaksa. Ingat, besok jam delapan ijab kabul akan dilaksanakan. Mama harap kamu tidak membuat masalah," ancam Mama Yayuk.
Kinara hanya menatap kepergian wanita itu dengan perasaan sedih. Sepertinya memang sudah tidak ada lagi cara untuk kabur. Ia memang harus mengikuti alur.
Keesokan paginya, saat Kinara membuka mata, ia sudah langsung disambut oleh beberapa perias. Gadis itu pun segera membersihkan diri dan membiarkan wajahnya dirias. Namun, Kinara meminta cukup dirias sederhana dan tampak natural.
Setelah selesai, Kinara pun segera keluar ketika namanya dipanggil. Ia duduk di ruang tamu bersama dengan kedua orang tuanya dan pak penghulu juga beberapa kerabat. Mempelai lelaki belum datang karena masih terjebak macet. Selama menunggu, Kinara berusaha agar tidak menangis. Siap tidak siap, ia harus menyiapkan diri. Menjadi istri orang setelah ini.
"Maaf, kami terlambat."
Suara dari arah pintu mengalihkan perhatian mereka. Begitu juga dengan Kinara. Ia mengamati satu persatu para tamu yang datang. Tiba-tiba ia terpaku saat melihat seorang pria tampan. Berkulit putih dengan tinggi sekitar seratus delapan puluh lima, ikut bersama mereka.
Pria itu memakai jas putih, dan Kinara yakin bahwa pria itu adalah calon suaminya. Mereka pun bersalaman. Kinara tampak gugup apalagi saat ia bersalaman dengan pria itu. Gadis itu terus saja menunduk.
"Kenapa kamu terus menunduk seperti ini? Apakah aku terlihat menyeramkan?" tanyanya. Suara bariton itu terdengar begitu tegas. Kinara hanya menggeleng lemah. "Tataplah mataku. Aku tidak akan menerkammu."
Dengan memberanikan diri, Kinara mendongak dan tatapan keduanya pun saling beradu. Kinara merasa ada aliran aneh yang menyusup masuk ke tubuhnya. Sebuah perasaan yang susah dijelaskan.
Tatapan mata itu .... kenapa aku merasa pernah melihatnya?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!