Sore hari yang cerah di taman kota, terlihat satu keluarga kecil yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan Anak perempuannya, mereka terlihat tengah menikmati waktu bersama. Sang Ayah yang sedang bermain dengan putrinya dengan cara menggendongnya tengkurap di lengannya seakan sang putri menjadi pesawat
"Ibu,,, lihat aku terbang,,,," teriak sang anak kepada sang Ibu dengan senyum lebarnya, Ibu yang sedang merapikan tempat mereka duduk pun menoleh dan tersenyum kepada sang putri. Ayah pun melihat kearah ibu dan berjalan mendekat kepada Ibu.
"Aku ingin bersama ibu,,," Seru sang anak, ia pun merenggangkan tangannya dan memeluk leher sang Ibu, Ibu membalas pelukan sang anak dan memangkunya. Ayah pun duduk bersebelahan dengan sang Ibu dan mencium pipinya, ibu terlihat menahan malu dan pipinya mulai memerah
"Cie,,, Ayah cie,," Goda anaknya yang melihat tingkah kedua orang tuanya. Ibu yang malu pun terkejut dengan ucapan sang anak pun berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Aduh siapa sih yang ngajarin anak ayah ini?" Ayah pun mencium pipi anaknya dan mengusap kepalanya.
Saat mereka bersantai menatap langit dan makan bersama, terlihat ada sebuah pesawat yang melewati mereka.
"Saat aku besar, aku akan menjadi pilot dan terbang ke seluruh dunia bersama Ayah dan Ibu!!" Seru anaknya, Ayah yang mendengarnya pun mengusap kepala sang anak dan tersenyum lembut.
"Jika begitu belajar lah dengan benar dan jadilah pilot" ucap sang Ayah tersenyum dan mencium pipi putrinya "Ayah akan selalu menjaga dan menemani putri ayah yang cantik ini hingga menjadi seorang pilot yang hebat" lanjutnya sembari mencubit pelan pipi sang anak
"Ibu juga akan menjaga putri cantik ibu agar tumbuh menjadi anak yang pintar dan baik hati." Ucap sang Ibu sembari merapikan rambut sang anak
Langit mulai berubah menjadi jingga, keluarga kecil yang sedari tadi bermain pun berjalan pulang ke rumah untuk beristirahat. Dalam perjalanan pulang, terdengar suara kebahagiaan dari keluarga kecil sederhana tersebut, dengan sang anak yang melompat-lompat ceria sembari berjalan mundur melihat kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya tersenyum mendengarkan cerita sang anak yang tampak sangat bahagia dan menikmati hari ini.
Namun saat di perjalan tanpa mereka sadari, di sisi lain, terlihat dua mata merah yang sedang mengintai mereka di dalam kegelapan dengan mata yang dipenuhi amarah dan seolah siap menerkam kapan saja.
"Gggrrrr...." Terdengar suara erangan dari kegelapan, mata yang sedari tadi mengintai tiba-tiba melompat dan menerkam sang anak dari samping. Anjing itu menggigit tangan sang putri
"Ibu!" teriak sang anak, membuat ibunya berteriak dan panik "Tari!!"
Sang ayah, yang melihat kejadian itu, segera menendang anjing tersebut dengan kencang sehingga anjing itu terpental jatuh dan dengan cepat berlari menghilang di dalam kegelapan gang sempit.
Sang ibu dengan panik mendekat kearah sang anak dan menggendongnya dan menenangkan sang anak. Terlihat bekas gigitan tadi terbuka lebar dan membuat darah sang anak terus menetes.
"Tari sayang, gak apa-apa, Ibu di sini sayang." Ucap Ibu berusaha tenang dan mengelus pipi sang anak. Sang ayah yang tadinya akan mengejar anjing tersebut mengurungkan niatnya dan menatap ke arah tangan anaknya, dengan cepat Ayah berlari kejalan raya dan menghentikan taksi.
"Ayo, kita segera ke rumah sakit." Ucap sang Ayah membuka pintu taksi. "Pak tolong lebih cepat lagu." Lanjutnya menyuruh supir agar cepat-cepat menuju rumah sakit terdekat
"Dokter tolong anak saya!!" Teriak sang ayah, dengn panik ia berlari dengan menggendong sang anak. Beberapa perawat dengan cepat mendorong brankar kearah Tari dan dengan cepat sang Ayah meletakkan Tari ke brankar, di bantu oleh salah satu perawat.
Dengan panik kedua orang tua Tari ikut berlari menemani sang anak dan menenangkannya
"Tari, Tari anak hebat kok sayang, Tari anak kuat yah, Ibu sama Ayah selalu temenin Tari sayang" ucap sang ibu menahan tangis dengan senyuman dan mengusap rambut sang anak.
Saat mendekati UGD, Ibu dan Ayah di larang memasuki ruangan dan disuruh menunggu di ruang tunggu. Dokter mulai memasuki ruang UGD dan mulai melakukan prosedur penjahitan
"Permisi, apakah anda berdua adalah orang tua dari nak Tari?" Tanya dokter memastikan, mendengar pertanyaan dokter Ibu dan ayah langsung berdiri dan mengangguk cepat dengan raut wajah khawatir
"Benar, kami orang tua Tari. Bagaimana keadaan anak kita dok?" Ucap sang ayah
"Baik. Jahitannya sudah berhasil, dan kami juga telah memberikan vaksin rabies untuk anak Anda. Seharusnya, Nak Tari akan baik-baik saja dan bisa segera pulih. Tapi, untuk berjaga-jaga saya sarankan untuk nak Tari agar dirawat semalam di sini" Jawab dokter
Ibu yang merasa lega pun mengangguk dengan cepat dan ayah juga mengangguk "Baik Dok." Ucap sang Ayah, dokter yang mendengar persetujuan dari Ibu dan Ayah tari pun menyuruh perawat untuk memindahkan Tari.
Ibu pun mengikuti perawat keruang rawat inap umum, Ayah pergi menuju ke administrasi untuk menanyakan biaya rumah sakit
Saat berada di ruang rawat inap terdengar suara tv yang menyiarkan berita tentang anjing yang kabur dari penangkaran dan saat ini sedang di cari oleh para petugas
"Terlihat di sekitar jembatan menuju arah xxx anjing dengan tubuh besar dan memiliki mata berah berwarna hitam. Di kabarkan dari petugas penangkaran bahwa anjing tersebut terkena rabies dan melarikan karena kelalaian petugas saat itu. Di kabarkan bahwa di mulut anjing terdapat bercak merah, kemungkinan bahwa anjing tersebut telah menyerang seseorang ataupun hewan." Ucap pembawa berita. Ibu Tari yang mendengarnya pun sedikit khawatir namun juga merasa lega, khawatir karena anjing tersebut belum juga tertangkap, tetapi ia lega karena sang putri telah mendapatkan suntik rabies
Setelah mendengar berita itu, mata Ibu seakan sudah tak kuat dan merasa lelah karena kejadian tadi. Ibu menggenggam tangan Tari dan tertidur di bangku sebelah ranjang Tari.
Berita pun beralih ke tempat di mana anjing tersebut terlihat "Di mohon untuk pera warga tetap berhati-hati karena anjing tersebut belum di temukan dan masih di masa pencarian, jika dari anda melihat anjing bermata merah, terlihat mencurigakan dan berwarna hitam harap berhati-hati" ucap sang pembawa berita yang berada di TKP dan kembali pada pembawa acara di kantor
"Di mohon untuk para warga yang pernah melihat anjing tersebut untuk segera menelepon nomor di bawah ini" ucap pembawa berita. Saat berita sudah berada di penghujung, tiba-tiba terdapat imbuhan "maaf sebelumnya kami baru saja mendapatkan informasi bahwasanya anjing tersebut adalah anjing yang kabur dari laboratorium yang telah lama tidak di gunakan, dan baru saja di tangkap pada siang tadi. Sekian dari berita yang saya bawakan, dan tetap berhati-hati"
Berita pun berakhir dan beberapa saat kemudian Ayah memasuki ruangan, ia tersenyum menatap keadaan sang anak yang mulai membaik dan menatap sang istri yang tertidur di sebelah ranjang anak mereka
Bersambung....
Pukul 8 malam, terlihat salah satu rumah yang terlihat bersinar di tengah kegelapan rumah lainnya. Di dalamnya terdapat ruang tamu dan terlihat sebuah bingkai foto kecil dengan foto berisi empat orang.
"Tari jangan lompat-lompat di sofa sayang." ucap Ibu membawakan segelas susu untuk putrinya, Tari dengan cepat duduk dan terlihat tatapan matanya yang sangat senang, Tari mengulurkan satu tangannya untuk meminta susu, tapi Ibu tak memberikannya dan meletakkan susu itu di meja.
"Tangan Tari kan belum sembuh, jadi susunya di taroh meja aja ya." Ucap sang ibu lembut dengan senyuman terukir di bibirnya.
"Ibu,,,," Panggil Tari yang sekarang duduk di sofa.
"Kenapa sayang?" Ibu yang baru duduk di sofa menoleh ke Tari.
"Tari kangen Abang" Tari mendekat pada Ibu dan memeluknya manja.
"Masih kangen? Tadi kan baru selesai telpon abang." Ibu mengusap wajah sang anak yang berada di pundaknya, Tari seketika cemberut dan sedih, ibu mengangkat Tari dan memindahkan Tari ke pangkuannya.
"Tari kan tau abang sibuk, abang kalo di telpon susah banget, nunggu abang dulu yang telpon sayang." Jelas ibu pada Tari, Tari menunduk dan lesu.
"Tari tadi ngobrol apa sama abang? Kok kayaknya seru banget." Ucap Ibu mengalihkan topik pembicaraan agar sang putri tak sedih lagi, Tari langsung menatap ibunya dengan semangat.
"Tadi abang kasih lihat gambar baru lagi bu,,,," Terlihat Tari sangat senang saat mengingat gambar yang di perlihatkan kakaknya.
"Memang abang gambar apa?" Ibu menatap Tari dengan perasaan lega, karena Tari tidak bersedih lagi
"Abang gambar Doraemon buat adek!! Terus katanya abang mau gambar Ibu sama Ayah!!" Seru Tari sembari mengangkat tangannya. "Tadi Tari juga bilang kalo mau jadi pilot, biar bisa terbang bareng nganterin abang,,,," ibu hanya diam dan mendengarkan cerita Tari dengan seksama. Anak pertama nya memang sangat menyayangi sang adik, tetapi karena pekerjaannya ia jadi sangat sulit untuk pulang kerumah.
Tak lama terdengar ketukan di pintu depan, Ibu melihat dari jendela dan nampak seorang pria yang bukan lain adalah suaminya. Ia segera membuka pintu dan membantu sang suami.
"Yey ayah pulang!!" Tari pun berlari dan memeluk sang Ayah, Ayah dengan segera mengangkat Tari dan menggendongnya.
"Apa ayah tau? Tadi abang telpon, terus tadi Tari sama abang cerita banyak,,,, banget." Ucap tari sembari merenggangkan kedua tangannya dan bercerita tentang obrolannya dengan sang kakak. Ibu yang berada di dapur tersenyum mendengar ucapan Tari, ia pun segera keluar membawa piring berisi dengan donat.
"Donat!! Tari mau donat!!" Teriak Tari menunjuk donat yang sudah berada di meja ruang tamu. Ayah hanya diam di tempat dan tersenyum.
"Ayah,,,, Tari mau donat,,,," Tari memberontak dan mulai menangis, karena ayahnya hanya diam dan tersenyum melihatnya. Ibu pun meraih Tari dari gendongan ayah.
"Udh jangan nangis ya, ibu ambilin buat Tari." Ibu mendekat ke meja dan duduk sembari mengambil donat coklat di meja. Ayah mendekat dan duduk di sofa, ia tertawa melihat Tari yang menangis sembari memakan donat yang di berikan oleh ibu.
3 bulan berlalu, Tari akhir-akhir ini terlihat berbeda. Dia yang dulunya ceria, semangat, selalu tersenyum dan tertawa seakan sudah tak ada lagi Tari yang mereka kenal. Beberapa hari sebelum perubahan sikap Tari, ia mengeluh bahwa kepalanya sakit kepada sang Ibu.
"Ibu,,," Panggil Tari. Ibu yang sedang memasak pun tak melihat kearah Tari dan tetap fokus memotong bahan masakan
"Kenapa sayang?" Tanya ibu
"Kepala Tari sakit bu." Ibu yang mendengarnya pun langsung mencuci tangan nya dan menatap sang putri. Ia berjongkok dan menyentuh kening Tari untuk memastikan suhu tubuhnya.
"Nggak panas." Bisik Ibu pelan dan terlihat raut bingung di wajahnya, Ibu segera menggelengkan kepala menyadarkan dirinya. "Nanti Ibu buatkan bubur untuk Tari dan setelah itu Tari minum obat okay?" Lanjut sang Ibu dengan senyum lembut di wajahnya, Ibu mengelus pipi Tari.
Setalah hari itu tiba-tiba Tari menjadi sangat pemarah dan selalu membanting barang-barang rumah, kejadian ini sudah berlangsung selama seminggu lebih. Ibu yang awalnya berfikir ini hanyalah sakit demam biasa mulai khawatir kepada Tari, karena 2 hari lalu Tari pulang ke rumah dengan berantakan dan ada sedikit bercak darah pada baju nya, keesokan harinya Ibu di panggil ke taman kanak-kanak karena Tari yang bertengkar hingga membuat temannya terluka.
"Tari belum membaik bu?" Tanya Ayah sembari menonton televisi, Ibu menunduk dan menghela nafas
"Belum yah, apa tidak sebaiknya kita bawa Tari ke rumah sakit aja?" Mendengar pertanyaan Ibu Ayah hanya terdiam dan menghela nafas panjang.
"Besok kita bawa Tari kerumah sakit." Ayah menatap ibu dengan tersenyum dan mengusap punggung tangan Ibu.
"Bagaimana jika menggunakan tabungan Tari dulu?" Ucap Ibu menatap Ayah. Ayah terlihat terkejut mendengarnya.
"Jangan, itu kan buat sekolah Tari. Ayah akan usahakan Bu, Ibu tidak perlu khawatir"
Keesokan paginya Ayah mengantar Tari ke rumah sakit bersama dengan Ibu.
"Di lihat dari keadaan nak Tari yang buruk, saya sarankan untuk inap." Ucap dokter. Terlihat ekspresi sedih Ibu mendengar ucapan dokter, ia tau bahwa biaya nya akan mahal.
"Baik dokter." Ucap ayah yang membuat Ibu menatap Ayah dengan terkejut. Saat Tari memasuki ruang rawat inap Ayah segera pergi menuju ke administrasi untuk membayar biaya.
Ibu yang menemani Tari di ruang inap pun keluar menemui Ayah.
"Ayah" panggil Ibu saat Ayah hendak keluar dari rumah sakit setelah membayar administrasi. Ayah pun memutar badan melihat Ibu yang berlari mendekat ke arahnya
"Ada apa Bu?" Tanya Ayah, Ibu pun menunduk dan menarik nafas.
"Ayah, maaf Ibu gak bisa bantu Ayah." Ayah yang sadar dengan keadaan Ibu pun mengusap kepala sang istri.
"Gak apa-apa Bu, ini sudah jadi kewajiban Ayah. Dari awal pernikahan pun kita sudah membicarakan hal ini." Ayah tersenyum lembut kepada Ibu, berusaha menenangkannya
"Surya." Panggil seorang pria paruh baya yang berada di teras.
"Iya pak, ada apa?" Tanya Surya, karena canggung Surya pun mengambil rokok dan menyodorkannya kepada pria paruh baya tadi. "Rokok pak."
"Tidak, istri dan anak saya tidak suka itu." Ucap pria itu menolak, Surya pun mengangguk dan menyalakan rokok. "Surya, saya percaya kamu bisa menjaga anak saya. Tolong jadikan dia ratu layaknya saya yang membesarkan dia seperti seorang putri." Lanjutnya menatap langit malam, Surya pun menghembuskan nafasnya, terlihat asap tebal yang berasal dari rokok yang ia hisap.
"Baik pak." Ucap surya mengangguk mengerti
"Bagus, saya pegang ucapan kamu." Pria itu menepuk pundak Surya yang bukan lain adalah menantunya.
Saat Surya masuk ke kamar, ia melihat sang istri yang sedang duduk di meja rias. Terlihat bahwa wanita itu sedang memikirkan sesuatu. Surya berjalan mendekati sang istri dan mengelus pundak istrinya.
"Kenapa dek? Ada yang mengganggu pikiran kamu?" Ucap Surya memandang wajah sang istri dari pantulan kaca. Terlihat dari mata istrinya berkaca-kaca menahan air mata.
"Maaf." Ucap Shofi yang mulai menangis. Surya pun menghembuskan nafasnya dan tersenyum.
"Gak papa sayang, itu kan kecelakaan." Surya memeluk leher Shofi dari belakang dan mencium pipinya.
"Maaf mas, harusnya aku dengerin bapak." Tangisnya mulai terdengar menyakitkan. Surya dengan lembut memutar tubuh sang istri dan menatap matanya.
"Itu kecelakaan, anak di kandungan kamu ini sekarang anak mas juga." Surya mengelus perut istrinya dan tersenyum manis. Surya memegang tangan sang istri dengan lembut.
"Mas janji, apapun yang terjadi, kamu dan anak-anak kita akan mas jaga. Kamu sudah di titipkan oleh bapak ke mas, mas mau kamu hanya fokus ke keluarga kita." Satu tangan Surya mengusap pipi sang istri dan mencium keningnya.
"Ayah janji, apapun yang terjadi, Ibu dan anak-anak kita akan Ayah jaga. Ibu sudah di titipkan oleh bapak ke Ayah, dan ayah cuma mau kamu hanya fokus ke keluarga kita. Apapun yang terjadi percaya sama Ayah." Ayah memeluk ibu dan mengusap kepalanya, Ibu yang merasakan pelukan ayah pun akhirnya menangis.
Bersambung,,,,,
Hari semakin gelap, pukul 10 malam di rumah sakit kota Purwodara. Salah satu kamar terdengar tangisan yang sangat menyayat hati dari keluarga pasien, terlihat para perawat berlari terburu-buru menuju ke ruangan tersebut untuk melihat keadaan pasien. Ibu yang tengah duduk di samping ranjang Tari dengan tangan yang mengusap lengan Tari, terlihat khawatir saat mendengar tangisan dari ruang sebelah.
"Tari akan baik-baik saja kan yah?" Tanya Ibu menatap ayah dengan tatapan khawatir. Ayah yang sedang duduk di sofa dan bermain ponsel pun menatap ibu sekilas dan menoleh ke arah Tari yang sedang tertidur pulas di atas ranjang.
"Gak apa-apa, Tari kan anak yang kuat Bu, kan nanti Tari juga mau jadi pilot." Ucap ayah tersenyum dan mendekat berjalan kearah ranjang Tari, dan mengelus kepala Tari yang sedang tertidur. "Iya kan nak? Kan mau ketemu abang juga." Ucap ayah, Ibu yang mendengarnya pun menghela nafas dan tersenyum sembari menatap kembali ke arah Tari.
Pukul 12 malam, malam semakin gelap, udara semakin dingin dan aktivitas di rumah sakit mulai mereda, hanya ada beberapa perawat yang masih tinggal untuk berjaga malam dan beberapa penjaga keamanan yang berada di luar rumah sakit.
Tari yang tertidur pulas tiba-tiba melebarkan matanya dan mencengkram kasur dengan kuat. Tiba-tiba Tari terduduk di atas kasur, melihat kearah ibu dan ayahnya, seakan sedang melihat situasi disekitarnya. Ibu yang tengah tertidur pun terbangun karena merasakan sesuatu gerakan di kasur, bersamaan dengan rasa sakit pada tangannya, ibu mulai terbangun dari tidurnya dan melihat Tari yang menggigit tangannya, disaat yang sama Tari melepaskan gigitannya dengan daging tangan sang ibu yang berada di mulut nya dengan darah yang memenuhi mulut Tari.
"Tari." Panggil ibu dengan nafas tak beraturan, menatap sang anak dengan terkejut. Ibu pun melihat tangannya yang hanya tersisa tulang, ibu mendorong dirinya yang membuat dirinya terjatuh bersama dengan kursi yang ia duduki.
"AARRGGHH!"
Ayah terbangun saat mendengar suara teriakan Ibu dan benda yang terjatuh, dengan segera ayah melihat kearah ibu yang tergeletak di lantai dengan tangan yang berlumuran darah. Melihat itu ayah dengan cepat mendekat kearah ibu dan menoleh kearah Tari, terlihat Tari tersenyum dengan mulut yang berlumuran darah dan daging segar di mulutnya, melihat anaknya yang sangat agresif, ayah pun sengan cepat menarik ibu menjauh. Tari hanya diam berada di ranjangnya sembari menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, dengan senyuman yang menyeramkan.
"Tari apa yang kamu lakukan pada ibu?" Ucap ayah, ia mengangkat tangannya setinggi dada bersiap menahan serangan dari Tari. Ayah menelan ludahnya dan menarik ibu perlahan. "Ikuti ayah pelan-pelan, kita panggil perawat buat kamu dan Tari." Ucap ayah tanpa melihat kearah ibu, ibu yang sedari tadi hanya diam dan menunduk pun tiba-tiba menggigit leher ayah hingga darah segar mengalir, merasakan itu ayah segera memberontak dan terlepas dari gigitan ibu. "Bu?" Nafas ayah menggebu dan ia menatap ibu dengan perasaan tak percaya.
Pukul 12.23 malam terlihat seorang perawat yang baru saja selesai memeriksa pasien di kamarnya. Saat ia sedang berjalan, ia melihat siluet seseorang di tengah lorong dengan gerak-gerik yang mencurigakan
"Permisi pak." Ucap perawat yang masih berdiri di tempat, karena tak mendapatkan respon, dengan hati-hati perawat mendekat kearah pria itu, saat semakin deket terlihat bahwa tubuh sang pria bergetar dan terdengar suara nafas yang berat.
"Pak permisi? Ada yang bisa di bantu?" Tanya perawat, ia semakin mendekat dan menyadari bahwa itu adalah orng tua dari salah satu pasien.
"Pak surya bukan." Batin sang perawat, ia pun semakin mendekat dan beberapa kali memanggil nama pak Surya. Saat perawat itu semakin mendekat tiba-tiba pak Surya menyerang perawat itu, ia menggigitnya hingga baju baju perawat itu berubah menjadi merah darah.
Rumah sakit yang tadinya rumah sakit yang tadinya sunyi seketika terdengar teriakan dari para pasien, perawat, dan penjaga rumah sakit. Tak butuh waktu lama, untuk virus itu menyebar dan membuat rumah sakit itu menjadi mimpi buruk.
Di kampus ternama di kota Samayara terlihat dua mahasiswa yang sedang berbincang mengenai lomba.
"Btw, lo serius mau balik?" Tanya seseorang pria sembari membenarkan kacamata yang ia gunakan.
"Iya lah, toh udah lama juga gue gak balik" jawab seorang wanita yang menjadi lawan bicara pria berkacamata.
"Iya sih. Tapi kan bentar lagi lo ada lomba Andini, tinggal sekali ini kan biar lo bisa jadi atlet beneran?" Tanya sang pria.
"Santai aja sih, toh gue juga butuh restu mereka kan." Jawab Andini santai, ia pun berdiri dan menatap teman prianya itu. "Fokus aja sama lomba lo, kalau bisa bulan depan gue usahain dateng dah." Lanjutnya, ia pun akhirnya berjalan menjauh dan melambaikan tangan.
Andini memulai perjalanannya menuju kota Purwadara seorang diri dengan mobilnya, dengan di temani oleh lagu favoritnya. Dalam perjalanan menuju kota tempat orang tuanya tinggal, Andini menyadari bahwa tak ada 1 pun kendaraan yang melewati jalan tersebut.
'Biasanya satu atau dua kendaraan lewat deh, apa gak pada ambil libur ya orang-orang.' Batinnya, Andini melihat ke sekeliling dan tak terlihat satupun orang yang melintas, saat Andini tidak fokus pada jalan di depannya, tanpa sengaja ia menabrak seekor rusa yang membuat Andini terkejut dan turun dari mobil menuju ke bagian belakang mobilnya, ia melihat keadaan rusa yang terlihat kejang dan darah segar yang mengalir, Andini merasa sangat aneh saat melihat rusa yang di tabrak nya terlihat tumbuh kristal di tubuhnya.
"Eh? Paan nih? Kok kayak gini."Andini dengan ragu mengulurkan tangannya ingin melihat keadaan rusa itu.
"Kiiiiiaaakkkhhhrrrkkkk!!"
Tiba-tiba rusa itu mengeluarkan suara seperti decitan pintu tua yang berkarat, yang dipaksa terbuka, dan pada saat bersamaan terdengar jeritan seakan rusa tersebut merasakan rasa sakit yang amat sakit.
Andini yang terkejut pun terjatuh dan menutup kedua telinganya saat mendengar suara tersebut, dengan cepat ia bangkit dan masuk mobilnya, ia pun melaju pergi menjauh dari daerah tersebut dengan kecepatan tinggi. "Gila, apa-apa tadi? Parasit? Atau virus?" Tanya Andini pada diri sendiri, nafasnya terlihat tak beraturan dan tangannya gemetar di atas setir karena melihat hal tersebut.
Tak lama Andini memasuki jalan perumahan yang menuju rumahnya, terlihat keadaan jalan di perumahan itu yang sangat sunyi, dengan dedaunan yang berserakan, di ikuti dengan suara gesekan dedaunan dan ranting pohon yang berada di sepanjang jalan.
"Sepi banget, biasanya rame deh." Batin Andini, ia pun mengecilkan suara dari musik yang di putarnya, dan benar saja tak ada satu pun suara tawa dari anak².
Andini pun mempercepat laju mobilnya hingga memasuki pekarangan rumahnya. Terlihat rumah itu seperti telah di tinggalkan, membuat Andini khawatir dengan keadaan orang tuanya
'Tok, tok'
Tak ada yang merespon ketukan itu yang membuat Andini semakin khawatir, dengan perasaan khawatir ia mengintip dari jendel. Terlihat bahwa di dalam rumah sangat berantakan dan ada banyak bercak darah di lantai.
"Darah?! Darah siapa?!" Ucap andini terkejut dan melebarkan mata saat melihat kedalam rumah, ia segera mengambil batu dan memukul lever handle dengan kuat, hingga batu itu terpental jatuh. Andini pun mengambil batu tadi dan memukul kembali hingga lever handle itu rusak, Andini yang melihat hal itu pun mencoba untuk mendorong pintu, tetapi pintu tak terbuka, Andini yang mulai frustasi pun memutar-mutar tubuhnya, menutup mata dan memegang kepalanya.
Ia pun melihat kearah kaca dan mengambil batu yang lebih besar untuk memecahkan kaca. Saat kata itu pecah Andini dengan segera ia memasuki rumah, Andini dengan berhati-hati berjalan menuju kearah darah yang terlihat terdapat jejak darah yang terseret. Ia pun mengikuti jejak darah itu yang menuju ke kamar orang tua nya.
"Ma? Mama, Andini pulang." Panggil Andini, ia perlahan mendekati kamar orang tuanya yang tertutup separuh, ia perlahan membuka pintu itu, saat pintu terbuka lebar tak ada apapun di dalam sana, yang ad hanyalah kesunyian dan udara yang mencekam.
Saat Andini keluar dari kamar, tiba-tiba ada seseorang yang melompat dan menyerangnya dari sebelah kanan, dengan cepat Andini menahan serangan itu menggunakan balok kayu yang ia peroleh dari kamar orang tuanya
Bersambung,,,,,,
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!