NovelToon NovelToon

7 Lantai 49 Rahasia

Apartemen Sky Haven Residence

Raka Pradipta, 22 tahun, seorang mahasiswa jurusan Ilmu Administrasi Perkantoran, baru saja diterima sebagai resepsionis shift malam di apartemen Sky Haven Residence.

Pekerjaan ini adalah pilihan terbaik yang bisa ia dapatkan untuk menyesuaikan jadwal kuliahnya. Lagipula, apa susahnya menjadi resepsionis di apartemen mewah? Hanya duduk, mengawasi CCTV, dan sesekali membantu penghuni yang datang larut malam.

Raka tak pernah menyangka bahwa pekerjaannya akan membawanya ke dalam teror yang tak bisa dijelaskan. Bukan hanya sekadar apartemen mewah, gedung ini juga menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar dinding dan koridor sepi.

Baru seminggu bekerja, ia sudah merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tempat ini.

Malam itu, langit menekan gedung Sky Haven Residence dengan kesunyian yang menyesakkan. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, bahkan lebih dingin dari Malam-malam sebelumnya.

"Kenapa tiba-tiba dingin. Perasaan tadi biasa saja. Tau begitu aku membawa jaket tebalku. Hm." ucap Raka sambil menurunkan suhu AC sedikit, berharap itu akan membuatnya lebih nyaman.

Tatapannya beralih ke layar CCTV di depannya, ia hanya melihatnya sekilas.

Hanya saja…

Matanya tertuju pada satu layar. Lantai tiga.

Dan entah mengapa, Raka merasakan jika di lantai tiga selalu memberikan aura yang berbeda. Terutama saat memasuki pukul dua dini hari, waktu di mana keheningan terasa lebih menyeramkan daripada suara apa pun.

Ia menatap keluar ruangan dari jendela, dan menyeruput kopi kalengnya yang sudah dingin. Waktu terasa berjalan lambat. Malam ini begitu sunyi, bahkan suara jarum jam pun terdengar begitu jelas.

“Hanya beberapa jam lagi,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri bahwa malam ini akan berjalan biasa saja seperti malam-malam sebelumnya.

Sesaat kemudian Raka menatap layar monitor CCTV kembali, lebih lama. Di layar, sedang memperlihatkan berbagai sudut apartemen, matanya mulai lelah menatap gambar-gambar statis yang tak banyak berubah.

Pandangannya hampir kosong, seperti robot yang hanya menatap gambar-gambar didepannya tanpa ekspresi.

Setiap sudut gedung tampak biasa saja. Lorong sepi, lift tak bergerak, dan pintu-pintu tertutup rapat. Tidak ada yang aneh.

"Sangat membosankan." desah Raka panjang.

Hingga sebuah pergerakan di salah satu layar membuatnya menegakkan punggung.

"Apa itu?" gumamnya pelan yang kaget akan sesuatu yang muncul di layar CCTV.

Di koridor lantai tiga, seorang gadis kecil berdiri diam. Rambut panjang menutupi wajahnya, gaunnya putih, dan tubuhnya tidak bergerak sedikit pun.

Raka mengerjapkan mata, berharap itu hanya ilusi akibat kantuk. Namun, gadis itu tetap di sana. Berdiri dengan tubuh kaku di tengah koridor.

“Gadis kecil? Siapa anak ini? Apa mungkin anak penghuni apartemen? Kenapa dini hari masih berada disana, bukannya tidur.” ucapnya bertanya tanya keheranan.

Tidak mungkin ada anak kecil yang masih berkeliaran sepagi ini. Apalagi ia hanya berdiri sendirian di lorong. Pikirannya mulai dipenuhi banyak kemungkinan.

"Apakah ia punya penyakit yang tidur sambil berjalan? Apa namanya ya... Ah Sleepwalking." ucapnya ketika baru mengingat penyakit itu.

Raka merasa tidak tenang. Dengan cepat, ia meraih walkie-talkie dan mencoba memanggil petugas keamanan melalui walkie-talkie yang memang selalu berpatroli.

“Pak Anton, ada anak kecil di lantai tiga. Bisa dicek?”

Hening

Raka menunggu. Tidak ada suara balasan.

“Halo Pak Anton, ada anak kecil di lantai tiga. Bisa dicek Pak?” kata Raka sekali lagi.

Satu detik

Dua detik

Lima detik

Sepuluh detik

Tak ada jawaban

"Kenapa Pak Anton tidak menjawab? Biasanya dia selalu merespons dengan cepat…"

Raka sangat cemas terhadap gadis kecil yang dilihatnya, bagaimana jika memang mempunyai penyakit tidur sambil berjalan dan tiba tiba terjatuh dari jendela atau tangga?

"Bagaimana kalau gadis kecil itu benar-benar dalam bahaya?" ucap Raka dengan cemas.

Merasa tidak enak, Raka berdiri mencoba meninggalkan meja resepsionis. Kalau petugas keamanan tak merespons, ia harus mengeceknya sendiri. Daripada ia penasaran dan selalu cemas akan gadis kecil itu, takut kenapa-kenapa.

Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh pegangan pintu menuju tangga darurat. Tangga darurat berderit pelan saat ia menaikinya ke lantai tiga.

Saat sampai di lorong, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu di langit-langit redup, berkedip sesekali seperti kehilangan daya. Setiap langkah yang ia ambil terdengar bergema, menciptakan kesan sunyi yang lebih menekan.

Udara di lantai tiga terasa lebih dingin dibandingkan di bawah. Raka bisa merasakan hawa aneh yang menyelimuti tempat ini. Ia melangkah pelan, mencoba mencari keberadaan gadis kecil itu.

Raka menajamkan pendengarannya. Tak ada suara langkah kaki kecil, tak ada suara siapa pun.

Ia berjalan perlahan ke tengah lorong.

“Dek? Kamu di sini?” panggilnya.

Tapi tak ada jawaban.

"Aneh…"

Perlahan, ia mengarahkan pandanganya ke ujung lorong. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Tapi Raka tahu betul apa yang ia lihat di layar CCTV barusan, seorang gadis kecil berdiri di sini.

Bulu kuduknya mulai meremang. Ia menelan ludah, berusaha menenangkan diri.

“Mungkin aku salah melihat, Atau dia sudah kembali ke kamarnya? ” bisiknya.

Kemudian ia berbalik untuk kembali ke bawah, ke tempatnya kembali.

Ketika Raka sudah ada di meja resepsionis ia kembali menatap layar CCTV itu, Tapi gadis itu ternyata masih ada disana.

Tapi kali ini, ada yang berbeda.

Gadis itu mengubah posisinya dan kepalanya sedikit miring ke samping, seolah menyadari bahwa ia sedang diperhatikan.

Sesaat kemudian, layar CCTV mulai redup dengan sendirinya, gambarnya berubah menjadi statis, lalu gelap total.

Seketika, lampu-lampu di lobby meredup. Raka merasakan ada yang aneh di malam itu, Hawa dingin menjalar dari ujung jari hingga tengkuknya.

Dan kemudian…

Terdengar suara tawa kecil dari belakangnya.

Jantung Raka hampir berhenti. Suara itu pelan, seperti anak kecil yang sedang bermain.

Dengan napas tertahan, Raka berbalik dengan cepat.

Saat itu lobby dalam keadaan kosong. Hanya ada meja resepsionis, kursi-kursi kulit, dan lampu gantung yang berayun pelan, seolah ada sesuatu yang baru saja melewatinya.

Ia menelan ludah. Kakinya hampir melangkah ke luar, meninggalkan meja resepsionis, tapi layar CCTV tiba-tiba menyala kembali. Kali ini hanya menampilkan satu tampilan : lorong lantai tiga.

Kosong

Gadis itu menghilang

Raka menatap layar itu tanpa berkedip. Hatinya berdebar lebih kencang, dan pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan.

"Ke mana gadis itu pergi?"

"Apa aku hanya berhalusinasi karena kantuk?"

Ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran-pikiran itu. Namun, tubuhnya masih terasa kaku. Matanya tetap terpaku pada layar monitor, seolah menunggu sesuatu muncul kembali.

Detik berlalu. Layar tetap kosong.

"Sial. Mungkin aku terlalu paranoid."

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Tangannya meraih kopi kaleng yang tadi ia letakkan di meja.

Raka kemudian menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya.

Ia hendak menyeruput kopinya—

Krakk…

Suara kecil namun tajam terdengar dari belakangnya. Seperti suara sesuatu yang terinjak atau pecah.

Raka langsung berhenti bergerak. Matanya melebar. Kopi di tangannya terasa dingin, tapi telapak tangannya justru mulai berkeringat.

Pelan, ia menoleh ke belakang.

Lobby masih kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Tidak ada yang berubah.

Tapi perasaannya berkata lain.

Udara di sekitarnya terasa lebih dingin. Tidak wajar. Seperti ada sesuatu yang diam-diam mengintainya.

Ia kembali menatap layar CCTV, berharap menemukan sesuatu di sana. Namun, yang terlihat hanya lorong-lorong sepi di dalam apartemen.

Ia menghela napas.

“Mungkin hanya tikus,” gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri.

Ya, mungkin hanya tikus…

Namun, saat ia hendak kembali duduk—

TAP. TAP. TAP.

Suara langkah kaki terdengar dari lorong sebelah kanan lobby.

Raka membeku.

Langkah itu terdengar pelan, tetapi cukup jelas di keheningan malam. Seperti seseorang berjalan tanpa alas kaki di atas lantai marmer dingin.

Ia menoleh ke arah sumber suara.

Lorong itu remang-remang, hanya diterangi lampu-lampu kecil di sepanjang dinding. Tidak ada siapa-siapa.

Namun, langkah itu masih terdengar.

Lebih dekat.

Dan lebih dekat.

Raka bisa merasakan jantungnya berdebar semakin kencang.

Ia ingin berteriak, ingin lari, ingin melakukan sesuatu. Tapi tubuhnya terasa terkunci di tempat.

Lalu, langkah itu berhenti.

Tepat di tikungan lorong.

Di luar jangkauan pandangnya.

Raka menelan ludah.

"Haruskah aku mendekat?"

"Tidak, itu ide buruk."

"Tapi bagaimana kalau itu seseorang? Bagaimana kalau ada tamu apartemen yang butuh bantuan?"

Dengan perasaan ragu-ragu, ia mengulurkan tangan ke walkie-talkie.

“Pak Anton?” suaranya sedikit gemetar. “Bisa dengar saya?”

Hening.

Tidak ada respons.

Raka mengerutkan kening. Ia mencoba lagi.

“Pak Anton? Kalau bisa mendengar, tolong jawab.”

Masih hening.

Namun kali ini, ada sesuatu yang lain.

Bukan suara, melainkan sensasi.

Seperti ada seseorang berdiri tepat di belakangnya.

Raka tidak berani menoleh. Lehernya terasa kaku, seolah ditahan oleh ketakutan yang menyesakkan.

"Bukan. Tidak mungkin ada siapa-siapa di sini. Aku sendirian."

Tapi nalurinya berkata lain.

Udara di belakangnya terasa lebih berat, lebih dingin.

Dan lalu—

Hhhh…

Sebuah napas dingin menyentuh tengkuknya.

Jantung Raka hampir berhenti.

Dalam sepersekian detik, ia langsung berbalik.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa di sana.

Tapi ia yakin. SANGAT YAKIN.

Ada sesuatu di sini.

Sesuatu yang tidak bisa ia lihat.

Dan sesuatu itu… tahu bahwa ia menyadarinya.

Tangan Raka mengepal. Napasnya memburu. Ia tidak bisa tetap di sini.

Tanpa berpikir panjang, ia meraih walkie-talkie lagi dan langsung berlari keluar dari meja resepsionis.

Langkahnya cepat, hampir tersandung saat melewati lorong. Ia tidak tahu ke mana harus pergi, tapi satu hal yang ia tahu, ia harus keluar dari sini.

Saat ia hampir mencapai pintu keluar lobby...

BLAM!

Semua lampu mati. Gelap total.

Raka berhenti. Napasnya tercekat.

Hanya ada keheningan yang menusuk.

Sampai…

Di tengah kegelapan, ia mendengar sesuatu.

Suara kecil.

Pelan.

Menyeramkan.

Tawa anak kecil.

Tepat di telinganya.

Raka menjerit.

Ia tidak bisa lagi menahan ketakutannya. Dengan panik, ia meraba-raba di dalam kegelapan, mencari jalan keluar.

Namun, sebelum ia sempat bergerak lebih jauh...

Sebuah tangan kecil, dingin, dan lembab mencengkeram pergelangan tangannya.

Raka kemudian terbangun dari tidurnya. Dan kopi di tangannya hampir saja terjatuh.

"Ah ternyata hanya mimpi, untung saja kopi nya tidak jatuh." ucapnya.

Raka meminum kopi itu dan melanjutkan pekerjaannya.

Luka Yang Tak Termaafkan

Hari-hari berlalu, tapi rasa penasaran Raka belum juga hilang dan membuatnya ingin mencari tahu lebih dalam tentang kejadian malam itu.

Sosok gadis kecil yang dilihatnya di layar CCTV terus menghantui pikirannya. Meskipun ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanya ilusi akibat kelelahan bekerja, perasaan tidak nyaman itu tetap ada.

Saat suasana Sky Haven cukup lengang, Raka akhirnya memberanikan diri untuk bercerita dan bertanya kepada Pak Jono, salah satu petugas kebersihan yang sudah bekerja di apartemen Sky Haven itu sejak pertama kali dibangun.

Pak Jono, pria tua dengan wajah penuh keriput dan tubuh agak membungkuk.

Pak Jono ternyata mengetahui tentang gadis kecil yang dilihat oleh Raka pada malam itu.

Awalnya Pak Jono tak mau bercerita. Namun, ketika melihat ekspresi serius Raka, ia tampak berubah pikiran. Ada sorot iba dalam matanya dan Pak Jono akhirnya mau bercerita

“Alya,” ujar Pak Jono dengan suara berat. “Dia yang kamu lihat.”

Raka menegang. "Siapa dia?"

Pak Jono menghela napas panjang sebelum Menjawab, "Dulu tinggal di sini. Anak baik, tapi..." Ia menghentikan ucapannya, menunduk seolah sedang mengenang sesuatu. Pak Jono mengusap wajahnya.

"Lalu di mana dia sekarang?" tanya Raka, semakin penasaran.

Pak Jono menatapnya lurus. "Dia sudah tidak ada di sini."

Raka menelan ludah. "Maksud Bapak...?"

"Dia sudah meninggal," lanjut Pak Jono dengan suara lirih.

Raka terkejut dan merasa tidak percaya. Raka merasa tubuhnya membeku seketika. Jantungnya berdebar, dan bulu kuduknya meremang. Meskipun sejak awal ia sudah menduga, mendengar kebenaran itu langsung dari Pak Jono membuat semuanya terasa lebih nyata dan lebih menyeramkan.

“Lalu, kenapa dia masih ada di sini?” tanya Raka.

Pak Jono menatapnya, tatapannya seperti memberi peringatan. “Karena dia belum selesai.”

Raka yang penasaran mencecar Pak Jono dengan pertanyaan kembali. "Bagaimana dia bisa meninggal?"

Pak Jono kembali terdiam. Sepertinya ia sedang mempertimbangkan apakah akan menceritakan semuanya atau tidak. Setelah beberapa saat, ia mulai bicara.

“Dia sering diganggu di sekolah. Suatu malam, ia naik ke balkon dan…” Pak Jono terhenti.

Raka mencoba mendengarkan cerita Pak Jono, tapi masih tidak bisa percaya sepenuhnya.

Raka menahan napas. Mengingat potongan-potongan gambar yang ia lihat di CCTV pada malam itu, dan mulai menyadari bahwa yang ia lihat mulai semakin nyata.

“Sejak saat itu, banyak yang bilang kalau dia masih ada di sini. Cuma bisa dilihat di kamera, nggak bisa dilihat langsung.” Pak Jono menatap Raka dengan serius.

“Kamu beruntung cuma melihatnya. Beberapa orang yang pernah melihatnya merasakan lebih dari itu…”

Raka menahan napas, menunggu kelanjutan cerita itu.

"Alya adalah anak yang baik, pendiam, dan sering membantu para pekerja disini. Tapi nasibnya malang. Dia bukan berasal dari keluarga kaya, hanya karena Alya anak seorang penjual roti tetapi dia dan orangtuanya bisa tinggal di apartemen mewah ini."

Pak Jono melanjutkan, "Di sekolah, ada anak bernama Dita dan gengnya, mereka melihat Alya sebagai target empuk untuk dijadikan bahan ejekan."

"Alya dan keluarganya sebenarnya hanya menempati apartemen milik pamanya, yang adalah kakak ibunya."

"Pamanya sudah pindah ke luar negeri karena pekerjaan, yang akhirnya memberikan apartemen tersebut ke keluarga Alya."

Pak Jono melanjutkan, "Dita dan gengnya rata-rata adalah anak orang kaya yang sombong dan suka semena-mena kepada orang lain. Terutama kepada Alya, mereka mulai menganggu Alya dari hal-hal kecil seperti sering mencuri bekalnya, menuliskan hinaan di mejanya, bahkan pernah mengurungnya di kamar mandi sekolah selama berjam-jam."

Raka mengepalkan tangannya mendengar itu.

"Namun... Yang paling kejam," lanjut Pak Jono.

"Adalah saat mereka mempermalukan Alya di lapangan sekolah saat pelajaran olahraga.

"Mereka juga pernah merobek bukunya dan membuang tasnya ke tempat sampah, dan bahkan menuduhnya mencuri uang milik teman sekelasnya. Semua orang percaya, karena mereka anak-anak orang kaya, sementara Alya hanya anak dari seorang penjual roti."

Raka menelan ludah.

"Sudah lama Alya mengalami perundungan ini, dan entah berapa kali Alya harus menahan rasa sakitnya. Ia sudah beberapa kali mengadu dan bercerita kepada kedua orangtuanya, tetapi mereka hanya bisa menenangkan dan menguatkannya. Mereka bilang selama yang dikatakan teman-temannya tidak benar, Alya tidak boleh takut. Namun, kata-kata itu tidak cukup untuk menghentikan penderitaannya."

"Bagaimana dengan guru-gurunya?" tanya Raka.

Pak Jono tersenyum miris. "Begitupun juga disekolah, Alya sering mengadu ke wali kelasnya, Bu Rini, tapi bukannya dibela, aduan Alya bahkan tidak didengarkan sama sekali, Bu Rini lebih memilih membela Dita dan gengnya hanya karena mereka anak orang kaya."

"Bahkan Alya juga pernah dipermalukan oleh Bu Rini sendiri, yang menghardiknya di depan semua orang tanpa membiarkannya berbicara."

Raka merasa marah mendengarnya.

"Hari itu, Alya pulang hanya diam saja. Sambil merenung dan berharap siksaan ini akan segera berakhir, tetapi malamnya, tanpa pikir panjang ia memutuskan untuk melompat dari balkon kamar apartemennya di lantai tiga..."

Raka membelalak.

"Tepat sehari sebelum ujian akhir sekolah dilaksanakan," lanjut Pak Jono dengan suara bergetar.

Suasana menjadi hening.

Raka merasa dadanya sesak.

Ia membayangkan seorang gadis kecil berdiri di tepi balkon, dengan air mata yang mengalir di pipinya, menatap ke bawah dengan putus asa sebelum akhirnya melepaskan dirinya ke dalam kehampaan.

"Setelah Alya meninggal," lanjut Pak Jono, "hal-hal aneh mulai terjadi di Sky Haven. Banyak orang melaporkan mendengar suara langkah kaki di lorong-lorong pada tengah malam, suara anak kecil menangis, dan beberapa bahkan mengaku melihat sosok gadis kecil berbaju putih berdiri di balkon lantai tiga."

Raka menggigit bibirnya. Semua ini mulai masuk akal.

"Kamu beruntung cuma melihatnya lewat CCTV," kata Pak Jono. "Karena orang yang pernah melihatnya langsung biasanya mengalami hal yang lebih buruk."

"Apa maksudnya?"

Pak Jono menatap Raka dalam-dalam. "Mereka yang melihatnya langsung… akan dihantui. Sampai mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alya."

Raka merinding.

"Jadi," lanjut Pak Jono, "kalau kamu sudah melihatnya, itu artinya dia ingin sesuatu darimu."

Raka menegang.

"Mungkin dia ingin kamu menemukan kebenaran." ucap Pak Jono yang yakin.

Dalam pikiran Raka,

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Alya malam itu?"

"Apa benar gadis itu melompat karena putus asa?"

"Atau ada sesuatu yang lebih dari itu yang tidak kita ketahui?"

Raka menghela napas panjang.

"Apakah aku harus mencari tahu?"

"Mungkin, jika ia bisa mengungkap kebenaran, Alya akhirnya bisa pergi dengan tenang."

Tapi, semakin ia ingin mencari jawaban…

Semakin ia merasa ada sesuatu yang mengawasinya, entah siapa itu. Yang pasti, tak jauh dengan dirinya berada.

Jeritan Dari Kegelapan

Sejak kematian Alya, Sky Haven Residence tidak lagi sama. Apartemen yang sebelumnya tampak megah dan nyaman kini menyimpan atmosfer yang berbeda. Suasana sunyi yang dulu terasa damai, kini berubah menjadi mencekam.

Beberapa penghuni apartemen itu sering kali mendengar suara-suara aneh, suara langkah kaki kecil berlarian di lorong, suara bisikan samar yang mengambang di udara, dan sesekali, suara tangisan lirih yang entah berasal dari mana. Tetapi saat di lihat tidak ada siapa-siapa disana. Dan kejadian itu selalu terjadi tepat pada dini hari.

Banyak penghuni mulai merasa tidak nyaman, terutama mereka yang tinggal di lantai tiga. Lantai tempat Alya tinggal sebelum tragedi itu terjadi.

Nadya, seorang wanita muda yang tinggal di lantai tiga, adalah salah satu orang pertama yang menyadari perubahan ini.

Malam itu, ia sedang bersiap tidur ketika telinganya menangkap suara langkah kaki kecil berlari di lorong setiap malam. Awalnya, ia mengira itu hanya anak tetangga yang masih terjaga. Namun, suara itu terus berulang setiap malam, selalu pada waktu yang sama, pukul dua dini hari.

Penasaran, Nadya akhirnya memberanikan diri membuka pintu. Tetapi, saat ia membuka pintu untuk memastikan, kepalanya menyembul keluar, lorong di hadapannya tampak kosong.

Lampu-lampu redup menerangi jalanan sempit, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Namun, udara di sekelilingnya menjadi dingin. Terlalu dingin untuk sebuah malam di musim panas.

Bulu kuduknya meremang.

Ia menelan ludah, hendak menutup pintu, namun sebuah suara pelan membuatnya membeku.

"Kak Nadya..."

Nadya tersentak, jantungnya hampir melompat keluar. Dengan napas tersengal, ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa-siapa.

Namun, saat ia melangkah mundur, sesuatu menarik perhatiannya. Di ujung lorong, di bawah lampu yang berkedip-kedip, terlihat bayangan kecil berdiri diam. Sosok seorang anak perempuan.

Nadya tercekat. Gadis itu tidak bergerak, hanya berdiri dengan kepala tertunduk. Rambut panjangnya menutupi wajahnya.

Tubuh Nadya kaku, ketakutan merayapi setiap inci tubuhnya. Ia ingin menutup pintu dan mengabaikan apa yang ia lihat, tetapi tubuhnya tidak mau menurut.

Tiba-tiba, lampu lorong padam.

Dan dalam kegelapan itu, suara langkah kaki mendekat.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Nadya menutup pintu dengan keras dan mengunci dirinya di dalam apartemen. Ia bersandar di pintu, dadanya naik turun dengan cepat.

Sebuah suara berbisik tepat di belakangnya.

"Kakak, kamu melihatku..."

Nadya menjerit dan berlari ke ruang tamu. Namun, di sanalah ia melihat sesuatu yang lebih buruk.

Di cermin besar yang menggantung di dinding ruang tamunya, ada bayangan gadis kecil. Gadis itu berdiri diam, dengan kepala tertunduk, tangan kecilnya yang pucat menempel di permukaan kaca. Rambut panjang menutupi wajahnya, tetapi sesuatu yang mengerikan muncul dari sela-sela rambut itu, seulas senyum yang bengkok.

Dengan napas tersengal, Nadya berbalik untuk melihat langsung, tapi sosok itu tidak ada di sana.

Tetapi Saat ia kembali menatap cermin, sosok itu sudah berada lebih dekat. Tangan kecilnya menempel di permukaan kaca, seakan berusaha keluar.

Nadya menjerit ketakutan dan berlari keluar apartemen tanpa berani menoleh.

Tidak hanya Nadya yang mengalami kejadian aneh. Pak Surya, seorang paruh baya yang sudah bekerja di Sky Haven selama lima tahun, juga mengalami sesuatu yang tidak bisa ia lupakan.

Ia bekerja sebagai satpam dan bertugas memeriksa lorong-lorong apartemen setiap malam.

Malam itu, ketika ia sedang berpatroli di sekitar lorong lantai tiga. Gedung tampak sunyi seperti biasanya, hanya suara langkah kakinya yang menggema di antara dinding-dinding dingin.

Saat ia melewati sebuah persimpangan lorong, ia melihat sesuatu di kejauhan, tepatnya di ujung lorong.

Sosok seorang anak kecil, berjongkok di pojokan dengan punggung menghadap ke arahnya.

Pak Surya mengernyit.

“Dek? Kamu siapa? Sedang apa di sini?” tanya Pak Surya dengan suara sedikit gemetar.

Tidak ada jawaban.

Ia melangkah lebih dekat, berusaha melihat lebih jelas. Dari seragam lusuh yang dikenakan anak itu, ia tahu bahwa ini bukan anak dari penghuni apartemen.

"Sudah malam, kamu harus pulang," katanya lagi, mencoba bersikap ramah.

Tetap tidak ada jawaban.

Pak Surya akhirnya berjongkok dan mencoba menyentuh bahu gadis itu, tetapi tiba-tiba, gadis itu berbalik dengan gerakan cepat yang tidak wajar.

Wajahnya pucat, dengan mata hitam pekat yang kosong menatapnya. Bibirnya terbuka lebar, mengeluarkan suara-suara bisikan yang menyeramkan, seperti bisikan ribuan suara orang berbicara dalam satu waktu.

Pak Surya mundur ketakutan, jatuh terduduk, Dengan tangan gemetar, ia meraih senter di pinggangnya.

Saat ia menyorotkan cahaya ke arah gadis itu, sosoknya menghilang.

Hanya meninggalkan suara tawa kecil yang bergaung di lorong yang sepi.

Namun, tidak ada yang mengalami teror lebih buruk daripada Dita. Ia mengalami sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Dita adalah pemimpin geng yang dulu sering menyiksa Alya. Ia adalah orang yang paling bertanggung jawab atas penderitaan gadis itu.

Dan kini, sepertinya Alya ingin menuntut balas.

Beberapa malam terakhir, Dita tidak bisa tidur, sangat sulit. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, suara bisikan aneh terdengar di sekelilingnya.

"Dita..."

Suaranya lemah, hampir seperti hembusan angin, tetapi cukup untuk membuat Dita bergidik.

Malam itu, ia terbangun karena merasa ada sesuatu yang bergerak di kamarnya.

Ia menajamkan telinga.

Suara itu berasal dari bawah ranjangnya.

Dengan tangan gemetar, Dita perlahan mengintip dengan menundukkan kepalanya ke bawah ranjang untuk melihat apakah benar ada sesuatu di sana.

Di sana, dalam kegelapan, ada sepasang mata yang menatap balik ke arahnya.

Dita menjerit dan mundur ke dinding. Namun, saat ia hendak melarikan diri, sosok Alya muncul di ujung tempat tidurnya.

"Kenapa kamu lakukan itu padaku?" bisik suara itu.

Cahaya lampu kamar mulai meredup. Dita merangkak ke sudut kamar, tubuhnya gemetar ketakutan. Saat ia mencoba keluar dari kamarnya, Dita melihat Alya berdiri di ujung tempat tidurnya.

Gaunnya putih dan kotor, rambut panjang menutupi sebagian wajahnya. Namun, yang paling mengerikan adalah senyumnya yang menyeramkan dari balik helaian rambut itu.

"Apa aku terlihat cukup jelas sekarang?"

Dita tidak bisa berteriak. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Tubuhnya membeku dalam ketakutan yang luar biasa.

Perlahan, Alya merangkak ke arahnya, jarinya yang kurus dan pucat bergerak ke wajah Dita.

Esok paginya, Dita ditemukan tak sadarkan diri. Dokter tidak menemukan penyebab medis yang jelas, tetapi Dita jatuh dalam kondisi tidak wajar dan dinyatakan koma.

Bu Rini, wali kelas Alya yang dulu membiarkan perundungan terjadi, juga mengalami sesuatu yang mengerikan.

Malam itu, ia berencana meninggalkan apartemen untuk sementara waktu. Ia tidak tahan dengan suara-suara aneh yang kerap mengganggunya.

Saat ia mengemudi keluar dari parkiran, hujan turun dengan deras. Wiper mobilnya bergerak lambat, dan suasana jalanan begitu sunyi.

Namun, ketika ia melihat ke kaca spion, jantungnya hampir berhenti.

Di kursi belakang, Alya duduk diam.

Bu Rini menjerit, tangannya gemetar memegang setir. Dalam kepanikannya, ia membanting setir ke kiri, membuat mobilnya menabrak pos penjaga dengan keras.

Ketika terbangun di rumah sakit, dunianya sudah gelap.

Ia telah kehilangan penglihatannya.

Namun, bisikan itu masih ada.

"Aku ingin kamu melihatku... seperti aku melihatmu dulu..."

Dan dari dalam kegelapan, Bu Rini bisa merasakan ada seseorang yang masih mengawasinya.

Seseorang yang tidak akan pernah pergi.

Seseorang yang masih menunggu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!