"Kak, kak Luna, pacaran yuk!" teriak seorang anak laki-laki berseragam merah putih, dengan ingus meler kehijauan dan ada bekas yang mengering di pipinya.
Matanya berbinar menatap Luna dengan memelas.
"Lo siapa sih? mana orang tua lo?" tanya Luna dengan tatapan jijik krena anak itu terus mengusap ingus yang seolah tak berhenti keluar dari lubang hidungnya.
"Jadi pacar aku yuk Kak!" Anak kecil itu mengapai ujung kemeja Aluna tapi dengan cepat Aluna menepisnya, Namun dengan cepat pula tangan kecil kotor itu kembali mencengkeram ujung kemejanya.
"Lo tuh siapa? Bocil gila ya, dateng-datang ngajak gue pacaran!" sentak Aluna tidak sabar, bukan dia bermaksud kasar tapi sedari tadi anak ini selalu mengikuti kemana Aluna berjalan, meski Aluna
sudah mengusirnya secara halus tetap saja dia mengekor dan mengatakan hal yang sama.
Demi Tuhan Aluna sangat frustasi dengan Bocah ingusan ini.
"Aku pacar kak Aluna, aku pacar kak Aluna!Aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!"
Aluna berlari menjauh, tapi bocil ingusan seperti magnet yang menempel.
"Pergi! lepasin baju gue!"
"Aku pacar kak Aluna, aku pacar kak Aluna!Aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!"
Aluna terus berlari dengan cepat sampai.
Brugh
Aluna tersandung dan terjatuh. Melihat itu, anak dengan ingus berwarna hijau yang belepotan itu menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke wajah Aluna.
"Aku pacar kak Aluna, aku pacar kak Aluna!Aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!"
Tiba-tiba ribuan bocil datang dari segala penjuru mengerubungi Aluna dengan mengumamkan hal yang sama.
"Hua ...! diem, berisik!" Aluna menutup kedua telinga.
tok
tok
"Luna ... Luna ... kenapa kok teriak-teriak? Ada apa Lun? Luna?!"
Aluna terjingkat, matanya seketika terbuka, keringat dingin membasahi kening gadis berusia sembilan belas tahun itu. Nafasnya memburu seperti di kejar singa di padang sahara.
"Astaga untung cuma mimpi," gumam Aluna dengan tangan memegangi jantungnya yang berdegup sangat kencang gara-gara mimpi sialan itu.
"Luna ...Aluna...!"
"Aluna nggak apa-apa Bu, ada cicak aja tadi luna jadi kaget!" teriak Aluna yang masih belum bergerak sama sekali dari tempat tidur.
"Ya sudah, kamu udah mandi kan? udah siang lho, katanya ada kelas pagi."
"Iya!" sahut Aluna lagi.
"Sial gara-gara bocil sialan gue telat bangun, lagian bocil siapa sih itu. Hobi banget gangguin mimpi gue."
Gadis berpiyama warna pink pucat berbahan satin itu mengeliatkan tubuhnya,sedikit merenggangkan otot setelah tidur yang tidak begitu lama. Aluna harus begadang menyiapkan materi untuk simulasi sidangnya siang ini, dan sialnya tidur yang hanya beberapa jam itu malah diganggu bocah ingusan.
Dengan langkah yang masih sedikit gontai Aluna berjalan ke arah kamar mandi. Tidak butuh waktu lama untuk gadis bermayang panjang berwarna coklat terang itu untuk membersihkan dirinya. Setelah memakai blazer warna hitam dengan kemeja warna putih tulang, rok midi pendek, scarft warna biru tua yang dia ikatkan di kerah kemeja, dan heels yang tidak begitu tinggi menjadi pilihan Aluna. Gambut yang tadinya tergerai ia gelung rapi tapi tetap menyisakan helaian yang membingkai wajahnya.
Setelah semua siap Aluna pun turun dengan menenteng tasnya.
"Selamat pagi!" ucap Aluna sedikit keras.
"Pagi, cantik banget putri Ayah," puji Evan yang sudah duduk di meja makan sambil menikmati kopinya.
"Iya dong, kan bibitnya jug cantik. Iya kan Bu," sahut Aluna sambil menarik kursi untuk bergabung di meja makan.
Calista hanya mengangguk, ia sibuk mengoles selai di roti tawar untuk sarapan kedua anaknya.
"Luga mau yang coklat Bu," ujar Luga yang duduk di samping sang ayah.
"Iya, ini udah kok." Calista meletakan dua lembar roti yang sudah beroleskan selai coklat untuk putranya.
"Kok cuma Luga, Ayah juga mau," ujar Evan dengan nada manja.
"Dih Ayah, udah tua juga manja," sindir Luga sambil mengigit roti miliknya.
"Wajar ayah manja sama istri," Evan berkata sambil melirik tajam anak laki-lakinya yang sudah remaja itu.
"Ya kan tapi sekarang Ibunya, Luga. Jadi ya harus lebih manjain luga," sahut Luga dengan senyum tengilnya.
"Tidak bisa begitu, Ayah kenal lebih dulu dari pada kamu, kamu itu nggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama ayah."
"Ayah itu harus ngalah sama anaknya..."
"Kenapa harus ngalah, Ayah kan belahan jiwanya Ibu, patner senang susahnya Ibu, kalau kamu mah apa," potong Evan dengan senyum mengejek.
"Luga tuh...
Calista mengerutkan kening, memijit pelipisnya dengan kuat.
"Udah-udah, Ibu pusing kalau kalian ribut kayak gini!" potong calista yang sudah jengah dengan pedebatan yang tidak berujung itu.
"Sekarang cepat habiskan sarapannya!"
"Iya Bu."
"Siap Sayang," jawab Evan dengan senyum menggoda, Calista hanya merespon dengan helaan nafas panjang. Bapak dua anak ini benar-benar tidak mau mengalah sedikitpun.
Luga dan Evan akhirnya diam dan menikmati sarapan mereka masing-masing dengan tenang. Dan sejak tadi Aluna malah sibuk dengan ponselnya sambil sesekali mengigit roti tawar berselai stoberi sama seperti sang Ibu.
"Luna, ponselnya di taruh dulu. Habiskan dulu rotinya," tegur Calista dengan lembut.
"Aluna," ulang Evan karena anak gadisnya itu tidak merespon saat Ibunya menegur.
"Emh iya, Maaf ayah." Aluna menghentikan sejenak jari yang sedari tadi terus bergerak mengulir materi di layar ponsel.
"Nanggung Bu, luna sambil hafalin materi soalnya," jawa Aluna tanpa mengalihkan pandangannya pada benda pipih dengan casing kucing itu.
Calista tidak mengatakan apa-apa lagi, dia sudah sangat hafal dengan sifat Aluna yang entah kenapa lebih mirip Papa Adrian daripada Evan. Aluna sangat perfecsionis dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Dengan cepat Aluna memasukan roti yang tersisa separuh ke mulut saat mendengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah mereka.
"Luna, berangkat dulu ya." Aluna bangkit mencium pipi sang ayah dan ibunya secara bergantian dan saat giliran luga, Aluna memberikan sentilan kecil di kening adik tampannya itu.
"Makan mulu kayak kambing," goda Aluna.
"Emang kambing, kan Lo kakaknya kambing!" sahut Luga kesal.
"Aluna cepat berangkat gih, jangan godain adiknya terus," tegur Calista yang disambut gelak tawa oleh gadis itu.
"ALUNA REYNATA!" teriak Luga kakaknya dengan sengaja mengacak-acak rambut yang sudah ia tata rapi dengan pomade.
Aluna hanya tertawa sambil berlari keluar menghindari amukan Luga. Gadis itu segera menghampiri mobil berwarna merah yang terparkir di halamannya.
"Buset, lo apain si Luga sampe teriak-teriak begitu?" tanya seorang pria yang sepantaran dengan Aluna.
"Gue acak-acak rambutnya," jawab Aluna dengan tawa lebar.
"Tengil banget Lo jadi kakak," sahut seorang gadis dengan wajah yang hampir sama dengan pria yng sedang menyetir.
"Heheee .. lumayan buat naikin mood gue pagi ini."
"Serah Lo dah Lun."
William mulai menyalakan mesin mobil kesayangannya. Kuda besi beroda empat itu mulai melaju meninggalkan halaman keluarga Wijaya, membawa mereka ke Nolite university.
Sepanjang perjalanan Aluna memilih fokus untuk mempelajari materinya, sementara dua temannya yang notabenya kakak beradik itu juga sibuk dengan dunia mereka sendiri. Wiliam fokus memperhatikan jalanan Kota KertaKarta yang sibuk dan cukup macet di pagi hari, sementara Wilona melakukan hal yang sama dengan Aluna, sibuk dengan benda elekronik pipih mereka.
Tak butuh waktu lama andai jalan tidak begitu macet. Namun, mereka beruntung bisa sampai tepat sebelum kelas mereka dimulai. Wiliam memarkirkan mobilnya dengan sempurna sebelum mereka turun.
"Pulang nanti Lo nebeng lagi atau gimana?" Tanya Wiliam saat Aluna turun dari mobilnya.
"Liat ntar deh Will, gue nggak tau sidangnya kelar jam berapa nanti," sahut Aluna cepat.
"Oke, ntar hubungi gue. Jangan sampai lupa, kalau nggak mau gue tinggal."
Aluna hanya mengacungkan jempol sebelum berjalan cepat ke arah gedung FH. Begitu pula William dan Willona, mereka segera ke kelas mereka masing-masing.
Aluna menghela nafasnya panjang, menarik scraftnya dengan kasar. Rambut yang tadinya tergelung rapi kini ia gerai bebas. Telihat jelas raut wajah kesal dan kecewa. Tangan gadis itu terlipat di dada, mengedarkan tatapan tajam dan dingin pada anggota timnya.
"Gue nggak nyangka, sumpah," Gadis berkardigan berkacak pinggang dengan mata nyalang menatap teman satu timnya.
"Kita udah diskusiin semua dari kemarin, tapi kenapa tadi jauh banget dari hasil dikusi kita!"tegas Aluna dengan nada bergetar menahan marah, sunggu Aluna berusaha untuk tidak berkata lebih kasar dari ini.
Irene menunduk, meremas tepi cardigan berwarna biru tua yang ia pakai.
"Ma-maaf Lun, gue beneran nggak sengaja lupa bagian gue," lirihnya menyesal.
"Lupa? ITU INTI ARGUMEN KITA, Iren!" Teriak Aluna yang seketika membuat gadis berambut sebahu itu menegang takut.
"Dari awal gue udah bilang masa lo untuk hafalin bagian lo dengan baik. Lo sendiri yng ngeyel mau jadi first speaker kan. Gue udah berusaha percaya meski gue ragu, tapi lo malah ngecewain gue. Dan sekarang malah dengan entengnya lo bilang maaf," tutur Aluna menggebu, dia sudah tidak perduli Irene akan menangis atau tidak, karena dia memang salah dan sangat salah menurut Aluna.
"Lun ud-
"Diem!" Aluna mengarahkan lima jemarinya pada Raka yang hendak bersuara.
"Dan apa maksud lo diem aja pas ditanya dosen! Kenapa? Kenapa lo malah ngeliatin meja kayak orang bego!" sarkas Aluna yang sudah sangat emosi.
Irene meremas ujung kardigannya semakin kuat.
"Gu-e lagi nggak enak badan Lun…" kilah Irene, suara gadis itu nyaris tenggelam di antara hiruk-pikuk mahasiswa lain yang baru keluar dari ruang sidang.
Aluna tersenyum miring.
"Nggak enak badan lo bilang? Nggak enak badan tapi semalam lo masih bisa nongkrong sama pacar lo di billiard," tukas Aluna yang membuat semua terkejut dan menatap irene dengan tak percaya.
"Gue emang salah Lun, tapi lo nggak bisa nuduh gue sembarangan kayak gini," sahut Irene dengan mata berkaca-kaca.
"Gue nggak akan pernah asal nuduh orang dan gue nggak akan bicara kalau nggak liat pake mata kepala gue sendiri. Lo di billiard sama pacar lo kn Ren, gue liat sendiri lo di sana," tutur Aluna dengan menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Gu-gue bisa jelasin itu," Irene mencoba membela diri meski dengan tergagap.
Aluna hanya diam, menatap drama Irene dengan mata malas. Raka yang tidak tega dengan Irene yang hampir menangis akhirnya bersuara.
"Udah, udah… ini cuma masalah kecil, jangan gede-gedein. Ini cuma simulasi awal kan, kita bisa perbaiki di simulasi ke dua nanti.," Raka mencoba menengahi.
Aluna berbalik cepat ke arah Raka.
"Justru karena ini simulasi awal, seharusnya kita bisa kasih kesan yang baik dan kuat. Kita harusnya bisa maksimal, kalau anggota tim kita solid dan tahu diri?"
"Maksud lo apa ngomong apa ngomong kayak gitu?!" Raka menatap Aluna tidak terima.
"Lo yang maksa gue nerima dia di tim ini, lo seharusnya punya tangung jawab atas orang yang lo rekomendasikan, Raka.
"Gue udah melakuin yang gue bisa Aluna. Gue udah berusaha nimpali pas Irene lupa poinnya," tukas Raka membela diri.
Aluna terkekeh geli dengan ucapan Raka.
"Improf yang ngasal itu maksud lo?"
"Gue cuma adaptasiin sama keadaan tadi," kilah Raka tidak ingin kalah.
"Adaptasi sih boleh, tapi nggak asal!" Aluna semakin kesal.
"Tadi lo malah masukin teori yang kita nggak bahas sama sekali. Ngasal banget lo, nggak ada bedanya sama Irene!"
Raka membuang wajahnya tak bisa lagi berkilah.
Irene hanya diam, mukanya makin cemberut. Dia memang salah tapi kenapa Aluna tidak berhenti menyudutkan dan memarahinya. Irene malu pada mahasiswa lain yang berlalu lalang di koridor, hampir setiap mahasiswa yang lewat melihat ke arah mereka tapi tidak berani bersuara, tentu saja mereka tidak ingin ikut di semprot Aluna. Sang Nemesis Nolite.
Dion yang menyandarkan dirinya di dinding akhirnya bersuara.
"Kalau gue aman kan Lun ya, aman dong," celetuk Dion berusaha memecah suasana yang tegang
Aluna melotot. "Nah itu dia masalahnya, NYET! LO DIEM AJA! Harusnya lo bantu Raka nimpalin argumen, bukan malah ngetawain lawan kita dari bangku belakang!"
Dion terkekeh.
"Ya abis lawannya cupu sih, gue nggak bisa nahan…"
Aluna memutar matanya jengah. Ia lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan, menghirup napas dalam-dalam.
"Gue capek. Udah lah, bodo amat."
Lalu ia mengambil tasnya dan berjalan pergi, meninggalkan mereka.
"Gue juga bodo amat, Gue ingetin lo berdua. Sekali lagi kesalahan gue nggak segan-segan bua coret nama kalian dari tim," ujar Dion sebelum menyusul langkah Aluna.
Aluna mengibaskan rambut coklatnya yang tergeri, gadis cantik itu berjalan menuruni tangga menuju lantai dasar. Setiap mata lelaki menatapnya dengan mata memuja, meski sebagian besar tidak memiliki keberanian untuk dekat dengan sang Nemesis hukum.
Tapi jujur saja siapa yang tidak terpesona denga Aluna Reynata. Meskipun terkenal galak dan jutek tapi sang Dewi Nemesis ini punya wajah yang cantik dan tubuh yang proposional, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, gerak laku yang anggun dan selalu harum. Membuat Aluna menjadi primadona tak tersentuh.
Heels yang Aluna pakai membuat ritme tersendiri saat ia berjalan. Dan akhirnya primadona Nolite ini sampai di kantin Fakultas teknik.
Aluna menghempaskan tasnya di meja dengan keras, membuat cilok yang baru mau masuk ke mulut william meleset dan malah jatuh mengenai rok panjang Wilona.
"Astaga, Willi. ceroboh banget deh, rok gue kotor!" pekik Willona marah.
"Kali ini bukan gue yang salah, noh sahabat lo. dateng-dateng banting tas, Emosi bu haji," seloroh William yang mendapatkan lirikan tajam dari Aluna.
"Duh, lagi bad mood beneran kayaknya," gumam William sambil menghindari mata tajam Aluna.
Willona menyodorkan jus stoberi yang sengaja ia pesankan untuk Aluna mendekat ke arah gadis itu. Aluna pun langsung menyedot habis minuman berwarna pink itu dan hanya menyisakan bongkahan es batu di dalamnya, seolah menyalurkan sisa amarah yang tersisa.
"Udah?" tanya Willona setelah beberapa saat diam.
Aluna mengangguk kecil setelah mengambil nafas dalam, wajahnya sudah tidak setegang awal dia datang.
"Kenapa, sidang lo nggak lancar? atau lo emang lagi badmood aja?" cerca Willona, sementara Wiliam tidak berani bicara, takut salah ngomong.
Aluna menarik mangkok cilok milik William,. Tangan William hendak terulur mengikuti mangkok cilok yang perlahan LDR darinya, tapi tangannya terhenti di tengah jalan tidak berani melanjutkan.
"Gue tuh kesel banget tau nggak ...." Aluna menusuk satu cilok lalu memakannya.
"Gue udah bilang biar Dion aja yang jadi first speaker buat buka argumen, Eh tapi tuh si Irene-Irene kekeh pengen dia yang maju."
Aluna menjeda ucapannya, lalu memakan cilok lagi.
"Dan akhirnya ginikan, semua kacau, trus gimana nilai gue sama anak-anak nanti kalau simulasi awal aja udah kacau kayak gini ..."
Mata Aluna mulai sedikit berkaca-kaca tapi segera ia usap kasar. Gadis itu pun tak lagi bersuara, dia sibuk menghabiskan cilok William yang tersisa, sementara yang empunya asli hanya bisa menopang dagu melihat makanannya menjadi tumbal.
"Gue paham sih kenapa lo sampai kesel kayak gini, tapi sidang juga nggak bisa diulangkan Lun. Yang bisa itu lo sama Tim lo, kudu lebih solid lagi aja, tapi kalau masih ada yang rese mending lo cut aja deh," usul Willona setengah jengkel setelah mendengar cerita Aluna keseluruhan.
Aluna menghela nafas panjang, lalu meletakkan gelas jus stroberi kedua yang ia minum.
"Pengennya sih gitu, tapi nggak semudah itu kan buat cut anggota. Yang gue cut nggak mungkin bisa langsung bikin kelompok baru dengan jumlah orang yang kurang, paling juga gua bisa coret doang dari tim dan berakhir mereka nggak akan dapat nilai, mana tega," lirih Aluna dengan wajah di tekuk.
Aluna mungkin jutek, judes dan keras kalau melihat seseorang melakukan kesalahan atau lalai. Namun, di sisi lain Aluna juga punya sifat lembut yang selalu tidak tega melihat orang lain kesusahan. Sisi lain Aluna ini hanya diperlihatkan pada orang-orang terdekatnya saja, seperti William dan Willona anak dari sahabat orang tuanya yang tumbuh bersama sejak kecil.
"Hem, susah kalau udah gini mah, tapi kan lo ngelakuin itu juga karena kesalahan mereka Lun. Lo berhak kok mencoret mereka kalau emang mereka nggak bisa memperbaiki diri," sahut William yang mengorek-ngorek sisa sambal cilok di mangkok yang isinya sudah dihabiskan Aluna.
Gadis manis itu hanya mengangguk-angguk kecil dengan bibir yang masih manyun. Tangannya sibuk mengaduk jus stroberi yang ada di hadapannya, sementara Willona melihat kakaknya dengan alis menukik dan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan.
"Sekalian mangkoknya aja lo telen, Will," sindir Willona pada William yang mengorek sisa sambel cilok mengunakan jarinya. Wiliam hanya menyengir kuda dengan ujung jari yang di emut.
"Kebiasaan banget, beli lagi sana kalau masih mau makan," ucap Willona lagi.
"Males gerak Ona, kakakmu ini sedang lelah," keluh William dengan tangan dan kepala yang diselonjorkan di meja.
"Capek ngapain si Will?" tanya Aluna sambil menyedot jusnya.
"Paling juga Capek caper sama MaBa," sahut Willona cepat.
Wiliam mendelik tajam kearah adiknya. Meski pun itu benar tapi, tidak seharusnya Willona mengatakan itu secara terang-terangan, kan William malu. Kesannya nggak laku banget, padahal memang iya. Aluna tertawa melihat wajah memelas william, yang mau marah tapi tidak bisa menyangkal juga.
"Selain capek caper gue juga capek badan , capek hati, capek otak. Mana Laporan Akusisi dan sengketa suruh revisi, sama Pak Hakim. Kenapa sih semua perusahaan tuh nggak bisa akur-akur aja gitu. Pada kayak bocah Tk, heran banget gue. Belum lagi lo Lun ...
"Kenapa tiba-tiba bawa-bawa gue," sela Aluna tidak terima.
"Ya jelas bawa-bawa lo lah, orang lo yang ngabisin cilok gue. Dateng-dateng langsung prengat-prengut, mana cilok gue abis buat tumbal emosi lo, kan lambung gue ngambek. Baru juga gue comot dua, yang sembilan belas biji lo makan semua," tutur William dengan nada kesal.
"Iya-iya maaf, gue ganti deh." Aluna menumpukan kedua tangan di lalu perlahan bangkit, tapi baru saja pantatnya berpisah lima centimeter dari kursi suara wiliam membuatnya terhenti.
"Ganti pake corndog aja Lun, gue udah trauma sama cilok," pinta Willian dengan raut wajah khas orang kelaparan.
"Gue juga mau kalau corndog, yang isi sosis sapi ya empat!" seru Willona bersemangat saat mendengar William ingin memesan makana kesukaannya.
Kening Aluna berkerut, menatap ragu pada gadis dengan mata sipit itu.
"Lo yakin mau empat? lo baru aja ngabisin mie ayam Ona, mau ditaruh dimana corndog lo nanti?" Aluna menggeleng pelan sembari melanjutkan gerakannya yang sempat terhenti.
"Ada tempat khsusus buat corndog di lambung gue, oke Aluna cantik. Okelah, pasti oke dong, nanti gue kenalin Maba teknik deh," bujuk Willona dengan mata berbinar memohon.
"Iya gue beliin, nggak usah pake kenalin gue sama bocil-bocil itu, bukan selera gue," tukas Aluna sambil mengibaskan rambut coklat panjangnya.
"Corndog gue enam ya Lun, Sosis ayamnya tiga, sosis sapi dua sama yang kentang satu, pake saos komplit pedes, nggak pake lama."
"Sekalian es jeruknya lagi please," Willona menimpali cepat pesanan William biar semakin komplit.
Aluna hanya bisa menghela nafas dan mengangguk. Dia tahu, dia tidak akan pernah bisa menolak keinginan kedua sahabatnya itu masalah corndog, dasar kembar maniak corndog. Aluna melangkahkan kakinya cepat menuju stand corndog yang ada di pojok kiri kantin, cukup jauh dari meja tempatnya nongkrong tadi. Sesampainya di stand warna ungu, Aluna pun mengambil antrian. Stand corndog itu cukup ramai, hingga membuat Aluna harus mengantri setidaknya lima orang lagi.
Sepuluh menit berlalu, antrian di depan Aluna tinggal satu orang lagi. Namun, tba-tiba ada makhluk kurang ajar yang entah datang dari mana berkari kedepan stand begitu saja , menyerobot Aluna.
Tanpa pikir panjang, Luna langsung memukul bahu si tukang serobot dengan cukup keras, membuat laki-laki berkemeja maroon itu menoleh.
"Lo buta aturan atau emang nggak punya sopan santun?" Ketus Aluna dengan mata tajam menatap mahasiswa yang kemungkinan adalah mahasiswa baru.
"Laah, gue buru-buru Mbak, udah laper banget soalnya," sahutnya tanpa rasa bersalah.
"Terus menurut Lo , gue nggak? Lo dong gitu yang punya perut!"
"Apaan sih Mbak lebay amat, cuma crondog doang, jangan nyolot gitulah," tukas pria itu yang berusaha menahan malu karena hampir seluruh kantin melihat arahnya gara-gara suara cewek sok disiplin ini.
Aluna mendengus dengan senyum miring melihat mahasiswa yang menurutnya sangat tidak tahu malu. Sisa-sisa rasa kesal yang berusaha Aluna redam tadi kembali naik dengan cepat.
"Gue nggak tau lo terlalu nggak bisa mikir atau emang nggak punya otak! Dengerin gue baik-baik. Lo tau nggak kenapa ada yang namanya antrian? Biar semua orang dapat haknya secara adil. Lo mahasiswa, kan? Masa segitu aja nggak ngerti?"
Si mahasiswa berkemeja maroon mendelik tajam, tak berkutik.
"Dan satu lagi, gue nggak nyolot. Ini namanya edukasi buat orang-orang kayak lo!"imbuh Aluna yang membuat mahasiswa itu merasa semakin terpojok.
Sekeliling mulai tertawa kecil. Beberapa orang di antrian belakang bahkan ada yang manggut-manggut setuju, tentu saja mereka juga merasa kesal dengan si penyerobot antrian itu.
"Udah deh, Mas, balik ke belakang aja. Sebelum lo makin malu sendiri," kata seseorang dari belakang, yang disusul dengan tawa kecil dari beberapa mahasiswa lain.
Si mahasiswa maroon mendengus kesal tapi akhirnya melangkah mundur dengan muka merah padam.
Aluna tersenyum puas. Ia lalu segera melangkah maju untuk memesan, setelah gilirannya.
"Mas cornog-nya dua belas, ayam sosis ayam 3, sosis sapi 6, kentang 3. saosnya dipisah aja," tutur Aluna.
"Keren banget Mbak Aluna," puji sang penjual Corndog.
"Mana ada,biasa aja tuh," kilah Aluna menutupi rasa malu, Aluna paling tidak bisa di puji seperti ini.
"Beneran keren lho Mbak, nggak semua orang tuh mau speak up kayak Mbak Aluna tadi," lanjut si penjual, sambil mengoreng pesanan Aluna.
"Udah, Masnya cepet buatin pesenan saya, udah ngantri tuh yang beli," tukas Aluna menutupi salah tingkahnya.
Setelah sepuluh menit akhirnya pesanan Aluna selesai. Dia juga tak lupa mampir ke stand es jeruk sebelum kembali ke mejanya. Aluna berjalan cepat menuju meja dimana William dan Willona sudah menungu dengan tidak sabar, kembar kelaparan itu bahkan menyepamnya dengan chat.
Brugh.
Seorang mahasiswa berlari dari arah belakang,dan tanpa sengaja menyenggol bahu Aluna, hampir saja ia jatuh kedepan andai tidak di tahan oleh seseorang.
"Ati-ati lo kalau jalan!" Pekik pria yang menolong Aluna.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya pria itu pada Aluna.
"Gue ok, makasih." Aluna perlahan menegakkan tubuhnya.
Mata pria itu membeliak saat melihat siapa gadis yang ada dihadapannya.
"LHA PACAR!" teriaknya dengan sangat keras seperti toa masjid.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!