Pengenalan tokoh dan karakter.
Namanya adalah Nabila Erika ( 24 tahun).
Seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan besar yang paling bergengsi saat ini sebagai staf karyawan biasa.
Nabila bekerja untuk membiayai sekolah kedua adiknya.
Felisa Rahma (21 tahun), yang saat ini berada di bangku kuliah semester 5.
Si bungsu Kania Kenza(17 tahun) yang masih duduk di bangku SMA.
Selain berjuang membiayai adik adiknya, Nabila juga harus berjuang melawan penyakit jantung bawaan yang dia derita.
Pagi itu Nabila mulai aktivitas paginya dengan olah raga kaki, tangan dan mulut. Bagaimana tidak di saat kakaknya sudah berkeringat memasak untuk membuat sarapan, kedua adiknya masih terlelap.
"Felisa! Kania!"
Teng teng teng
Nabila memukul panci untuk membangunkan mereka.
Felisa menggeliat dan menimpuk nimpuk pundak Kania.
" Kaina, ayo bangun nanti kak Nabila marah marah lagi bisa bisa gak dapat uang jajan kita".
" Ehmchhhh aduh masih ngantuk kak, bentar lagi dong".
"Eh eh eh ayo buruan bangun! Sudah jam berapa ini! Felisa, Kania kalau gak buru buru bangun kakak siram pakai air seember! Ayo buruan! " Teriak Nabila sambil bersungut-sungut.
Felisa dan Kania terkesiap kemudian berlari untuk berebut ke kamar mandi membuat sang kakak geleng kepala sambil berkacak pinggang " Aduh kalian nih gak bisa apa gantian, kayak anak kecil saja semua pakai berebut. Kania kamu mandi di kamar kakak!".
" Baik kak " Jawab Kania sambil memanyunkan bibirnya dan berjalan keluar dari kamar nya menuju kamar sang kakak pertama.
Begitulah kegiatan pagi (rutinitas pagi) di keluarga kecil yang bahagia dan hangat itu.
Nabila sebagai pengganti ayah dan ibu bagi kedua adiknya sangat bertanggungjawab dan memastikan masa depan untuk adik adiknya, bahkan masa depannya sendiri saja tak pernah dia pikirkan.
Setelah semua beres dan berdandan rapi, mereka pun melanjutkan aktivitasnya di meja makan.
Nabila menyiapkan bekal untuk adik adiknya kemudian menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri. Baru kemudian ikut duduk bersama kedua adiknya dan menyantap sarapan pagi yang sangat sederhana ( Mie instan rasa soto ayam ) .
"Kak, hari ini Felisa ke kampus jalan kaki saja ya, jadi kak Nabila gak perlu kasih uang transport" Ucap Felisa yang merasa kasihan terhadap kakaknya yang sudah bekerja keras hingga tak memikirkan dirinya sendiri.
Kania mendengus kesal dan meletakkan kembali sendoknya di atas meja dengan wajah masam dan cemberut " Kak, aku tuh pengennya makan soto beneran bukan mie instan rasa soto! "
Nabila tersenyum sambil menyeka air matanya karena sebenarnya uangnya juga sudah habis untuk membayar tagihan air dan listrik.
" Kaina, maafkan kakak ya uang kakak habis untuk membayar tagihan listrik dan air bersih. Kakak janji nanti kalau sudah gajian kakak akan masakin soto ayam beneran yang enaaak banget" Nabila mencoba untuk bersabar dengan sikap adiknya yang memang keterlaluan.
" Kania! Apa begitu cara ngomong sama orang yang lebih tua! Dia itu kakak kita sudah seperti ibu bagi kita. Tak pantas kamu bersikap seperti itu!" Gertak Felisa pada adiknya.
Kania menunduk dan mengangguk.
Nabila mengusap matanya kemudian tersenyum menatap kedua adiknya terutama si bungsu yang akhirnya mau menelan sarapannya" Kalau sudah selesai sarapan, sekarang sudah siang lo sana berangkat! awas telat! ".
Ucap Nabila sambil memegangi dadanya yang mulai berdetak cepat.
Keduanya mengangguk dan beranjak.
Setelah beberapa saat mereka semua pun berangkat.
Nabila juga bersiap untuk segera berangkat bekerja.Dia bekerja sebagai staf di perusahaan Mondelez group yang dipimpin oleh Erlando Mondelez, seorang pemuda tampan yang masih lajang di usianya 32 tahun.
Seperti biasa Nabila berangkat bekerja menggunakan taksi atau ojek langganannya.
Setibanya di depan gerbang, dia pun berjalan bersama karyawan lainnya.
Tiba tiba seseorang memanggilnya dan mengagetkan semua orang yang ada di sana. Karena yang memanggil bukanlah orang sembarangan melainkan pemilik perusahaan itu sendiri.
Semua karyawan yang melihatnya hanya berbisik dan tak berani mengatakan apapun.
" Nabila! "
Nabila pun berhenti melangkah dan menoleh ke arah sumber suara " Pak Erlan ada apa bapak memanggil saya?".
" Bil, kamu ada waktu siang ini? ".
Nabila tersenyum tipis " Memangnya kenapa ya pak? ".
"Aku ingin mengajakmu makan siang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu".
Sejenak Nabila terkesiap dan kembali tersenyum tipis " Em memangnya penting banget ya pak, kenapa saya? "
Erlan ikut tersenyum dan memasukkan kedua tangannya di kedua saku celananya " Aku rasa hanya kamu yang mampu melaksanakan tugas ini".
Nabila nampak berpikir sejenak " Ya udah pak saya bersedia asalkan tugasnya gak macam macam".
Erlan terkekeh " Astaga Nabila, aneh aneh bagaimana? Ya enggak lah. Apakah aku terlihat sejahat itu? ".
Nabila tersenyum tipis sambil menggeleng.
Dret
Tiba tiba sebuah panggilan masuk ke ponsel Erlan.
Erlan menjawabnya dan seketika raut mukanya berubah suram membuat Nabila ikut penasaran apa yang terjadi dengan bosnya.
" Pak, anda baik baik saja? " Tanya Nabila sedikit ragu ragu.
Erlan tersenyum tipis " Bil, maaf ya sepertinya kita gak jadi makan siang karena ada urusan yang sangat mendesak, kamu gak apa apa kan? ".
Nabila pun mengangguk kemudian pamit untuk segera masuk kerja.
Erlan mendengus dengan kasar dan bergegas masuk ke dalam ruangannya.
tok tok tok
Seorang sekertaris cantik dan seksi membuka pintu ruangan Erland.
" Pak, boleh aku masuk? "
" Sejak kapan kamu minta ijin dulu sebelum masuk, sini" Jawab Erland sambil merentangkan kedua tangannya.
Revi melangkah sambil tersenyum dan menjatuhkan dirinya di dalam pelukan bosnya" Sayang, aku kangen sama kamu? Kapan kamu ada waktu untuk kita berdua? ".
Erland mengedarkan pelukannya dan mencubit hidung mancung kekasihnya itu yang juga sekertarisnya di kantor " Memangnya sudah kangen banget ya? ".
Revi mengangguk manja sambil memanyunkan bibirnya.
Cup
Tiba tiba Erland mendaratkan ciumannya di bibir kekasihnya. Dan mereka pun saling berpagutan, saling menyesap dan bertukar saliva.
Erland terus menekan dan memperdalam ciumannya hingga tanpa sadar mengangkat tubuh Revi ke dalam gendongannya sambil terus memagutnya.
Revi pun reflek melingkarkan kedua kakinya di pinggang Erlan tanpa melepaskan pagutannya.
Erlan meletakkan tubuh kekasihnya di atas meja kerjanya kemudian melepaskan kancing baju milik kekasihnya agar lebih mudah menjelajahi leher jenjang dan putihnya, dan sedikit memberikan tanda merah di sana.
Revi pun tak keberatan justru membuka lagi kancing bajunya agar lebih mudah menjangkau dada putih dan mulus miliknya untuk dihisap oleh sang kekasih.
Dan di saat Erland sudah mulai menyesap dada Revi dengan penuh gairah, tiba tiba pintu dibuka dari luar.
Ceklekkk
" Hahhh " Tentu saja Revi dan Erland terperanjat dan segera merapikan baju masing masing.
" Oh sial, apa sih yang kalian lakukan! " Gumam seorang pemuda (27 tahun) yang tidak kalah tampan tapi lebih muda dari Erland sambil mengusap kasar wajahnya.
Erlan merapikan kembali Jaz kerjanya kemudian mengacak rambutnya " Heh anak bandel, apa gak bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk! ".
Erick terkekeh dan berjalan mendekati kakaknya yang mukanya sudah merah padam menahan amarah dan gejolak birahinya.
" Ye salahnya sendiri kenapa gak kunci pintu" Jawab Erick terkekeh.
Erland menghela nafasnya " Hh kapan kamu pulang dari luar negeri?".
" Baru saja kak, aduh papa gak asik masa aku disuruh kerja di sini tapi gak dikasih fasilitas apa apa".
Erlan membuka pesan dari papanya di layar ponselnya kemudian tersenyum tipis " Hmm, besok saja kamu bekerja, aku akan carikan posisi yang pas untukmu".
" Oke kalau begitu aku pergi dulu" Ucap Erick sambil memainkan matanya pada Revi.
Erlan yang melihatnya memicingkan matanya kemudian meraih kalender duduk dan melemparkannya ke punggung adiknya.
Bruaks
Erick terkekeh tanpa menoleh.
"Buruan sana pergi anak gak tau diri!" Gertak Erlan pada adiknya yang membuat Revi semakin menunduk karena sangat malu.
Frederick Erlando Mondelez.
Ericko Frederick Mondelez.

Revi
( Ini hanyalah visual versi author ya)
🌺🌺🌺
Keesokan harinya Erick diminta datang ke kantor oleh Erland (kakaknya).
Erick pun datang ke perusahaan sesuai permintaan sang kakak.
"Aduh ribet banget sih, ah mana panas lagi. Dah jam segini tapi tak ada satupun taksi yang lewat" Erick mondar-mandir di depan rumahnya.
" Ya kalau di sini mana ada taksi yang lewat, lagi pula sudah siang lebih baik kamu naik bus di sono " Ucap om Reno sambil menunjuk pada jalan raya yang berada di ujung perumahan ini.
Erick memicingkan matanya " Apa! Jadi Erick harus jalan ke sana, om jangan bercanda dong".
Reno terkekeh " Makanya jadi anak jangan bandel begini nih akibatnya ".
Reno adalah adik iparnya Frederick William Mondelez , jadi dia merupakan adik dari nyonya Rima Frederick wanita cantik yang tetap memiliki pesona di usianya yang tidak lagi muda.
Sebenarnya melihat keponakannya seperti itu hatinya tidak tega. Tapi bagaimana lagi, di mata William, Erick sudah melakukan kesalahan fatal yang mencoreng nama baik keluarga jadi dia harus bertanggungjawab dan menerima konsekuensinya.
Reno turun dari mobilnya dan melihat ke belakang " Sepertinya kak William belum keluar dari dalam rumah" Batin Reno. Kemudian segera menarik tangan Erick dan memintanya untuk masuk ke dalam mobilnya.
" Au, om Reno ini ada apa? " Tanya Erick penasaran.
" Sttt diam kamu sebelum papa kamu tahu, aku akan mengantarmu ke tempatnya Erland " Potong Reno kemudian melajukan mobilnya.
Erick pun tersenyum tipis kemudian merebahkan tubuhnya di sandaran jok mobil
" Gitu dong punya om yang bisa diandalkan "
" Sialan kamu, dan om yang sial punya keponakan kayak kamu"
" Brengsek " Erick pun terkekeh.
" Sebenarnya kamu benar benar terlibat skandal itu atau tidak sih Rick? " Tanya Reno tanpa menoleh yang membuat Erick mengernyitkan keningnya.
" Lalu menurut om Reno bagaimana? "
" Ya aku sih gak percaya kamu ikut terlibat karena om tahu keponakan om tidak mungkin melakukan hal menjijikkan seperti itu".
"Nah itu om tahu, tapi masalahnya papa tidak percaya dengan Erick om, dia lebih percaya pada pemberitaan media"
" Karena kamu berada di sana saat penggerebekan itu terjadi Rick. Sedangkan kak William orangnya tegas dan mengambil keputusan sesuai fakta " Ucap Reno sambil terus fokus menyetir.
Erick menghela nafas " Papa memang menyebalkan".
" Sudah terima saja hukumannya, kamu ikuti kemauan papa kamu. Masih mending kan kerja sama kakak kamu sendiri, nah kalau disuruh cari kerja sendiri bagaimana coba".
" Iya sih om, tapi masalahnya Erick benar benar tidak dikasih apa apa nih om, uang gak ada, handphone di sita, mobil apa lagi terus Erick harus tinggal di mana om? "
Reno menghela nafas panjang " Hhh nanti Erlan tau masalahmu ikuti saja apa diperintahkan ".
"Mudah mudahan saja kak Erland tidak sekejam papa"
Reno mengangguk sambil terus melajukan mobilnya menuju kantor Mondelez group.
"Sekarang ceritakan pada om apa yang sebenarnya terjadi Erick, kalau kamu tidak ikut terlibat di pesta miras dan seks itu kenapa kamu berada di sana saat penggerebekan itu terjadi? " Tanya Reno
Dan Erick pun menghela nafasnya dalam dalam kemudian mulai menceritakan semuanya sama pamannya.
Flashback on.
Waktu menunjukkan pukul 9:00 pm Waktu London.
Dirinya hanya dijebak untuk datang ke sana ( Sebuah rumah mewah bersama teman kencannya yang bernama Cintia)
Gadis itu memberinya sebuah minuman yang sudah dibubuhi obat perangsang, sehingga tubuhnya menjadi panas dingin menahan ledakan birahinya.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, di dalam rumah tersebut terdapat beberapa pasangan yang nyaris tak memakai pakaian utuh. Seakan sudah biasa dan tidak punya malu mereka melakukan hubungan seks dan dilihat satu sama lain.
Awalnya Erick sangat jijik dan bergidik ngeri, tapi lama kelamaan adegan demi adegan mampu membakar gairahnya.
Erick segera membawa Cintia dalam pelukannya dan mulai bercumbu hingga nyaris hilang keperjakaannya.
brusks
( Kalian semua diam di tempat!! " )
Teriak salah satu petugas kepolisian sambil menodongkan senjatanya.
Hari Erick berdegup kencang dan tidak tahu lagi apa yang terjadi pada dirinya karena kondisinya yang nyaris telanjang.
Seluruh media London dibuat heboh dengan adanya pemberitaan ini. Meskipun di sana terkenal dengan kehidupan bebas, tapi tetap saja perzinahan dilarang, apalagi sampai pesta seks.
Mendengar berita penangkapan putranya, William sangat murka dan menutup semua berita tentang Erick beserta semua skandalnya meskipun harus mengeluarkan banyak dolar demi menjaga reputasi keluarganya dari semua kolega bisnisnya.
Plaks plaks plaks
Tiga kali tamparan mendarat di wajah tampannya Erick Mondelez.
Erick tertunduk malu dan pasrah di depan papa dan mamanya.
" Dasar anak kurang ajar tidak tahu diri, jauh jauh papa sekolah kan kamu di luar negeri agar bisa sukses seperti kakak kamu, tapi apa! Malah bikin malu keluarga! Mau ditaruh di mana muka papa, Erick! Apa yang mereka pikirkan tentang keluarga kita! " Gertak William sambil mencengkram kerah baju Erick kemudian melemparkannya dengan kasar.
Rima hanya bisa menangis melihat kemarahan suaminya
" Sudah pa, jangan pukuli Erick dia juga putramu, dia sudah minta maaf dan menyesalinya, hiks" Rengek Rima sambil terus menangis.
Tapi William sudah dilanda amarah yang besar melihat kelakuan putra yang dibanggakannya malah mencoreng arang di mukanya " Diam Rima, ini akibatnya kamu selalu membela dan memanjakannya. Tidak bisa menjaga kehormatan keluarga malah bikin malu saja! ".
" Maafkan Erick pa. Erick dijebak pa"
" Dijebak? Alasan apa lagi itu "
" Tapi pa"
William mulai mengatur nafasnya dan menatap tajam pada Erick yang sudah lebam lebam akibat tamparannya " Papa berikan kamu satu kesempatan lagi, tapi untuk sementara kamu hilangkan identitas kamu sebagai keluarga Frederick Mondelez. Kamu hidup sebagai pemuda biasa yang bekerja untuk makan sehari hari. Black card, mobil dan apartemen papa sita, kamu harus tahu bagaimana rasanya berjuang, tidak hanya berfoya foya dan bermain wanita ".
Erick melotot tajam " Tapi pa! "
" Tidak ada tapi tapian atau kamu selamanya hilang dari catatan keluarga Frederick Mondelez! " William benar-benar dibuat marah kali ini karena kesalahan Erick yang fatal.
Erick pun pasrah dan menurut saja apapun hukuman yang papanya berikan. Dan hari ini juga Erick bertolak dari London ke Indonesia untuk menemui kakaknya.
Kebetulan juga ada proyek baru di Jakarta jadi William dan Rima juga ikut pulang ke Jakarta. Sekaligus mengawasi perkembangan putra bungsunya itu di dalam menjalani hukumannya.
Flashback off.
Reno menghela nafas panjang kemudian menghentikan laju mobilnya karena sudah tiba di depan gedung Mondelez Gorup yang di pimpin oleh Frederick Erlando Mondelez, putra pertama William Mondelez.
Reno meminta keponakannya untuk turun dan segera masuk untuk menemui kakaknya.
Mendengar cerita adiknya, bukannya iba, Erland malah terkekeh " Kamu memang brengsek Rick hahaha.
Erick mengernyitkan keningnya " Sialan ".
" Oke oke Rick, kamu bekerja di gudang saja ya? ''
Erick mendengus kesal " Hah di gudang? Tega banget sih kak? ".
" Ya gak apa apa di sana kamu tidak perlu banyak berpikir, kamu hanya membantu mereka saja. Lagi pula kuliah kamu di perbankan pasti capek mikirin saham dan bursa efek. Jadi ya cari pengalaman baru lah? Oke? " Jawab Erland sambil tersenyum tipis.
Bruaks
Erick bertabrakan dengan seorang gadis yang sedang membawa semangkok bakso tepat di jalan kecil belakang kantin karena saat itu Erick ditugaskan untuk mengecek barang di gudang belakang.
" Hei punya mata gak sih! au huff panas" Ketus Nabila karena bakso yang dia bawa tumpah mengenai bajunya dan kuahnya yang panas membuat tangannya sedikit terbakar.
Deg
Deg
Deg
Dadanya kembali berdetak hebat setelah kaget karena bertabrakan dengan Erick hingga tangannya terkena kuah bakso panas.
Nabila pun terdiam sambil menggigit bibirnya menahan perih di tangan dan sesak di dadanya.
Erick hanya tersenyum miring " Hei nona, bukannya kamu yang menabrakku kenapa kamu yang marah marah, hhh aneh" Ucap Erick dengan lagaknya yang sok kemudian melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Nabila yang kesakitan menahan nyeri dan sesak di dadanya.
" Hahh dasar brengsek kamu, au au au" Nabila mencoba menahan sesak yang hampir saja membuatnya tak bisa bernafas dan hanya bisa meringis kesakitan sambil memegangi dadanya
" Bil Bil kamu gak apa apa kan? " Teriak Emma dari kejauhan ketika melihat Nabila yang menunduk sambil memegangi dadanya serta mangkok bakso yang pecah berserakan di bawahnya.
" Kamu gak apa apa kan Nabila? Aku antar kamu ke rumah sakit ya? ".
" Tidak perlu kak, huff hufff sudah lebih mendingan" Jawab Nabila dengan wajah sedikit pucat.
Emma menuntun Nabila untuk duduk di salah satu bangku yang berada di belakang kantin tersebut.
" Lagi pula ngapain sih makan kok di belakang kantin Bil " Tanya Emma yang merupakan kepala bagian gudang lebih tepatnya atasannya.
" Di depan rame kak, aku gak dapat tempat duduk"
Emma menghela nafas " Tapi beneran kamu sudah mendingan atau aku pesankan bakso lagi ya? Pasti kamu belum makan "
"Gak usah kak terimakasih sudah hilang selera makanku gara gara cowok brengsek itu"
Emma mengulas senyum di wajahnya yang bersih dan nampak dewasa " Siapa sih Nabila? oh itu( Emma melihat punggung Erick yang berjalan dari arah belakang)Jangan ketus gitu dong ntar kamu suka lo? ".
" Ih najis suka sama dia!".
" Eh beneran lo benci dan cinta itu jaraknya tipis banget setipis tisu, eh tahu kan tisu lama lama bukannya tambah benci tapi jadi semakin rindu dan cinta pun tumbuh hahaha" Goda Emma sambil tertawa lepas.
Nabila tersenyum tipis sambil menggeleng perlahan " Kak Emma bisa saja, kali ini beda kak, aku tidak akan semudah itu untuk jatuh cinta karena aku belum kepikiran ke arah sana. Ada dua adikku yang masih butuh banyak biaya jadi aku harus fokus dulu ke pekerjaan kak ". Jawabnya sambil menunduk sejenak kemudian tersenyum tipis untuk menguatkan hatinya.
" Sampai kapan Bil? "
Nabila menggeleng " Gak tahu kak, karena sebagai seorang kakak aku harus bisa menjadi pengganti posisi orang tuaku yang sudah berpulang, aku harus bisa menjamin masa depan mereka".
" Tapi kamu melupakan masa depanmu sendiri Bil. Ini tidak adil Bil kamu juga harus memikirkan masa depanmu. Ingat Bil, kalau kamu sukses kedua, adikmu akan mudah meraih mimpinya "
Ternyata ucapan Emma mampu merasuk ke dalam dadanya meskipun pada akhirnya Nabila menipisnya karena untuk memikirkan masa depannya sendiri berarti dia harus kembali melanjutkan kuliahnya, dan untuk masuk kuliah lagi membutuhkan biaya besar rasanya itu tidak mungkin dia capai.
"Aku tahu kak, tapi hanya pekerjaan ini yang bisa aku andalkan.Karena untuk mencapai mimpiku itu butuh biaya besar, belum lagi untuk pengobatan jantungku. Aku hanya takut tiba tiba jantungku berhenti berdetak di saat kedua adikku belum mencapai impiannya" Ucapnya mulai menitikkan air mata dan menunduk menahan sesak di dadanya.
Emma menghela nafasnya dalam dalam dan mengusap lembut bahu Nabila " Aku tahu perasaanmu Bil. Aku bisa mengerti dan sungguh aku salut dengan ketegaranmu dan rasa sayangmu kepada adik adikmu. Aku do'akan semoga mimimu segera terwujud Bil dan adik adikmu sukses semua. Oke kamu harus semangat ya, kita akan berjuang bersama sama aku akan selalu membantumu "
" Terimakasih kak, kak Emma sudah terlalu banyak membantuku, aku tidak bisa membalasnya, justru selalu merepotkan mu''
" Eh ngomong apa sih Nabila. Apa yang bisa aku berikan kepadamu untuk membalas kebaikanmu belum lah cukup Bil. Seandainya malam itu kamu tidak datang kembali ke pabrik mungkin aku sudah stress karena para penjahat itu. Untung kamu datang dan dengan berani memukul mereka yang hendak melecehkan aku " Jawab Emma kemudian menggenggam lembut tangan Nabila yang juga ikut tersenyum.
Emma yang awalnya wanita angkuh dan kejam akhirnya bisa luluh dengan keberanian Nabila yang menolongnya dari tindak percobaan pelecehan beberapa minggu yang lalu. Awalnya Emma sangat membenci Nabila karena wajah cantiknya yang selalu menarik perhatian kaum adam termasuk pak Erland yang sepertinya menaruh perhatian khusus padanya.
#
#
#
Erlan duduk di kursi kebesarannya dengan laptop di depannya. Wajahnya yang datar selalu menunjukkan aura dingin dan keseriusan tapi sebenarnya sangatlah berbeda apabila sedang bersama dengan pujaan hatinya.
Tok tok tok
Ceklek
" Ehm, sayang kok serius amat? Ada yang bisa saya bantu gak? " Ucap Revi yang mengulas senyum manis semanis madu di depan pemuda tampan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Erlan, melirik sebentar kemudian menutup laptopnya dan mengakhiri pekerjaannya. Senyum manis sang kekasih tentu tidak ingin dia lewatkan begitu saja.
" Sini sayang, kamu bisa membantuku melemaskan semua otot otot di otakku yang mulai menegang " Jawab Erlan kemudian melepaskan kecamatannya dan merentangkan kedua tangannya agar Revi segera duduk di pangkuannya.
Revi pun dengan senang hati segera menyambutnya dan duduk di pangkuan pria dingin yang menakutkan bagi beberapa orang.
" Erlan, sampai kapan kita begini terus " Ucap Revi manja sambil memanyunkan bibirnya dan memainkan rambut sang kekasih.
Erlan tersenyum tipis kemudian mengusap lembut rambut Revi dan menarik dagunya
" Kenapa? Apakah kamu sudah tidak sabar ingin segera menjadi nyonya Frederick Erlando Mondelez? ".
Revi mengangguk perlahan yang membuat Erlan semakin gemas kemudian mendaratkan ciuman di bibir sang kekasih. Revi menyambutnya dengan senang hati dan mereka pun saling berpagutan.
Tiba tiba saja Revi menjambak rambut Erlan dan menghentikan kegiatan mereka membuat Erlan keheranan dan memicingkan matanya
" Ada apa Revi? "
" Erland, aku baru ingat kejadian kemarin setelah adik kamu pergi dari sini aku bertemu dengan nyonya Rima Frederick di bawah "
Erlan menegakkan posisi duduknya dan menatap tajam wajah kekasihnya yang nampak tegang " Kamu bertemu dengan ibuku? "
Revi pun mengangguk.
Erlan menghela nafas panjang kemudian meminta Revi untuk turun dari pangkuannya dan menarik tangannya untuk duduk bersebelahan di sofa " Vi, apa yang dikatakan oleh ibuku? Apakah dia menyakitimu? ".
Revi terdiam dan menunduk seakan memberikan jawaban yang pasti sudah dipahami oleh Erlan.
Erlan pun segera meraih tubuh Revi dan memeluknya untuk menenangkan hatinya yang terluka karena kata kata kasar ibunya tempo hari yang memang dari awal tidak menyukainya apalagi menjadi pasangan untuk putra pertamanya.
Sedangkan Revi yang sejak tadi menahan air matanya, akhirnya dia pun menangis di dalam dekapan Erlan yang hangat dan penuh kasih.
" Tenangkan dirimu sayang? " Bisik Erlan sambil mengusap punggung Revi.
" Aku sungguh tidak mengerti Erlan kenapa ibu kamu begitu tidak menyukaiku. Apa karena aku orang biasa sedangkan kamu kaya raya"
Erlan terus mengusap lembut punggung sang kekasih " Husss ngomong apa sih sayang, mamaku bukanlah orang seperti itu. Dia sangat menghargai orang lain bukan karena status sosial. Tapi entahlah kenapa dia tidak menyukaimu , aku pernah menanyakan padanya tapi dia tidak mau mengatakannya ".
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!