NovelToon NovelToon

Setelah Tunangan Dan Kakakku Mengkhianatiku

1

Malam pukul 23.45 WIB.

Seorang wanita terbangun dari tidurnya, matanya terbuka lebar dalam kegelapan malam. Dia merasa haus, seperti ada yang mengeringkan tenggorokannya. Dia menggeliatkan tubuhnya yang lelah, mencoba untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih membalutnya.

Dia melemparkan selimutnya ke samping, lalu berdiri dari tempat tidurnya. Kaki-kakinya yang telanjang menyentuh lantai yang dingin, membuatnya menggigil. Dia menatap botol yang berada di atas meja samping tempat tidurnya.

Biasanya dia selalu sedia air menggunakan botol tersebut. Tapi, malam ini ternyata isi botolnya kosong. Sebelum tidur dia lupa mengisinya karena saking lelah dan tak kuasa menahan kantuknya.

Bagaimana tidak? Sebelumnya, dia begitu sibuk mengurus hal-hal untuk acara yang akan digelar besok pagi.

Lalu siapa dia?

Dia adalah Ayudisa Candraningtyas (25) atau yang kerap dipanggil dengan Ayu.

Akhirnya Ayu memaksa beranjak dari tempat tidurnya dan keluar kamar membawa botol. Dia berjalan ke arah dapur, langkah-langkahnya yang lembut tidak membuat suara yang berarti.

Di dapur, Ayu menyalakan lampu, lalu menuju ke kulkas untuk mengambil air. Dia minum air itu dengan lahap, merasa lega setelah meredakan rasa hausnya. Dia juga tidak lupa mengisi air dalam botol yang telah dia bawa. Setelah itu, dia kembali menuju ke kamarnya.

Saat Ayu hendak masuk ke dalam kamarnya, sayup-sayup dia mendengar suara yang membuatnya bergidik ngeri. Lolongan desahan yang panjang dan mengerikan berasal kamar kakaknya, membuatnya merasa seperti ada yang sedang menghantui rumahnya.

Dia merasa bulu kuduknya berdiri, dan jantungnya berdegup kencang. Dia mencoba untuk tidak memperhatikan suara itu, namun tidak bisa. Suara itu terus mengganggunya, membuatnya merasa tidak nyaman dan takut. Dia berjalan ke arah pintu kamar kakaknya, mencoba untuk mendengar suara itu lebih jelas.

Ayu begitu penasaran dan yang lebih membuatnya penasaran ketika ada suara laki-laki dalam kamar kakaknya tersebut.

"Ih, Kakak sama siapa itu? Mendengarnya aku menjadi merinding. Atau jangan-jangan itu hanya suara dari ponselnya ya?" Gumam Ayu penuh dengan pertanyaan.

"Tapi, kenapa aku merasa familiar sekali dengan suara tadi. Atau jangan-jangan?" Sambungnya setelah menajamkan pendengarnya.

Ayu yang berdiri di luar kamar kakaknya semakin merasa penasaran. Tidak mau salah mengira atau berprasangka yang tidak-tidak, dia menempelkan telinganya di pintu kayu yang tebal.

"Yah, Doni. Terus."

Sekali lagi dia mendengar suara-suara yang tidak pantas dari dalam kamar kakaknya. Suara-suara itu membuatnya merasa seperti telah ditampar dengan kuat. Tangan kanannya menyentuh dadanya yang kini mendadak terasa sesak. Tubuhnya bergetar hebat. Sedang tangan kirinya saat ini mengepal dengan sempurna.

Dia bisa mendengar suara kekasihnya dan kakak kandungnya, yang berbicara dengan nada yang pelan dan intim.

Ayu merasa seperti ada yang sedang menghancurkan hatinya. Dia merasa seperti tidak bisa bernapas, dan seperti tidak bisa berpikir dengan jernih. Suara-suara itu terus mengganggunya, membuatnya merasa semakin sakit dan semakin kecewa.

Ayu memejamkan kedua matanya untuk menguatkan hatinya dan memberanikan diri untuk membuka pintu kamar kakaknya dengan pelan agar tidak mengganggu kedua manusia yang tidak tahu malu itu.

Ayu berdiri di pintu kamar. Di dalam sana dia melihat kekasihnya dan kakak kandungnya dalam posisi yang tidak pantas. Kamar itu gelap, namun cahaya bulan yang masuk membuatnya bisa melihat keadaan di dalam kamar dengan jelas.

Dengan wajah-wajah yang merah padam dan mata-mata yang bersinar dengan nafsu. Mereka berdua terlihat seperti telah terjebak dalam suasana yang penuh gairah dan nafsu, tanpa mempedulikan konsekuensi dari tindakan mereka.

Kekasihnya dan kakak kandungnya berada di atas tempat tidur, dalam pelukan yang erat. Ayu bisa melihat bayangan mereka berdua, dan bisa mendengar suara-suara yang tidak pantas.

"Haahh, iya sa-yang, begitu. Ak-u hampir sam-pai" Suara Dina terdengar tersengal.

Dina Rahmawati (27) adalah kakak kandung Ayu. Dia seorang janda. Dia bercerai karna sifat Dina yang tak pernah bisa menghargai laki-laki.

Merasa posisi mereka sekarang kurang nyaman, keduanya berganti posisi.

Blush!!

Doni terlihat merem melek ketika pusakanya dia masukkan dengan gerakan lambat.

"Ini sempit sekali, sayang. Rasanya seperti diurut-urut, benar-benar membuatku nagih. Huahhh,,,"

Doni yang sudah dimabuk kepayang tak memikirkan hal lain kecuali yang dirasakan saat ini, dia begitu menikmati kegiatannya dengan Dina.

Doni Rahmanto atau yang kerap di panggil Doni (28) adalah laki-laki yang besok pagi akan menikah dengan Ayu.

"Jelas dong, sayang. Aku pastikan kamu akan selalu c4ndu denganku." Dina menarik nafasnya yang sedikit tersengal.

"Aku sebenarnya ragu. Apa kamu benar-benar akan menikah dengan adikku yang kurang pergaulan itu? Aku merasa tidak rela kalau kamu menikah dengannya." Imbuh Dina.

"Ya mau gimana lagi? Besok pagi aku harus menikahinya. Tenang saja sayang, walaupun aku menikah dengannya, aku pastikan hatiku tidak akan berpaling darimu dan aku jamin aku akan lebih banyak menghabiskan waktu denganmu." Sahut Doni tanpa menghentikan gerakannya dan terus melakukan kegiatannya sambil merem melek.

'Ck, benar-benar sepasang manusia yang tidak tahu malu.' Ayu berdecak dalam hati sambil melipat kedua tangan didepan dada. Kini dia merasa jijik melihat calon suaminya.

"Tentu dan itu harus. Aku yakin kamu tidak akan bisa pu4s jika bersamanya. Apalagi katamu aku sudah membuatmu nagih. Aku tidak bisa membayangkan jika kamu sedang melakukan hal ini dengannya, yang ada kamu akan bekerja sendiri dan dia hanya akan diam seperti batang pisang."

Jelas Dina akan berkata seperti itu, karena dia sudah begitu mahir dalam melakukan berbagai gaya dalam bertempur.

"Benar sayang, dia aku sentuh saja tidak mau apalagi aku c1-um. Menyebalkan sekali. Tidak seperti kamu yang bisa mengerti aku. Kamu tahu caranya menyenangkan hatiku. Ohh, aku mau keluar sayang." Doni pun lebih mempercepat gerakannya.

'Gila-gila, benar-benar sepasang manusia menjijikkan.' Gumam Ayu dalam hati.

"Aku juga sayang, kita keluar sama-sama."

"Aarghhhhh,,,, " Dengan hentakan yang kuat, Doni mencapai puncak dan menyemburkan mayonesnya kedalam sangkar Dina, begitupun dengan Dina, dia begitu puas dengan servis Doni.

Mereka berdua pun terkulai lemas setelah bertempur. Doni pun memeluk dan memberikan kecupan di kening Dina.

"Rasanya lemas dan lelah sekali, kamu sangat bersemangat dan kuat sayang." Ucap Dina memuji Doni.

Suasana di kamar itu terasa sangat tidak nyaman, dengan udara yang terasa panas dan berat. Kekasihnya dan kakak kandungnya terlihat seperti telah melupakan semua norma dan nilai yang berlaku, dan hanya terfokus pada keinginan mereka sendiri.

Dia merasa ditampar, dan seperti dunianya telah runtuh.

Ayu merasa sakit, marah, dan kecewa. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, atau apa yang harus dia katakan. Dia hanya bisa berdiri di sana, memandang kekasihnya dan kakak kandungnya dengan perasaan yang campur aduk. Malam itu, yang seharusnya menjadi malam yang indah, kini telah menjadi malam yang paling mengerikan dalam hidupnya.

Ayu terus menggelengkan kepalanya. Laki-laki yang dia sayang dengan segenap hati dan jiwa ternyata tega mengkhianatinya.

Plok! Plok! Plok!

"Wah, sepertinya pertempuran kalian ini begitu menyenangkan ya?" Lontar Ayu sambil bertepuk tangan.

Doni dan Dina sontak kaget dengan asal suara tersebut.

"A-ayu, sejak kapan kamu disitu?" Tanya Doni gugup.

Ayu hanya menaikkan kedua bahunya.

Doni terlihat sangat gugup dan panik ketika terkejut oleh kehadiran orang lain di kamar tersebut yang tak lain adalah Ayu calon istrinya. Doni terlihat seperti telah ketakutan, wajahnya pucat dan matanya lebar dengan rasa takut.

Doni terlihat seperti ingin melarikan diri, dengan kaki-kakinya yang gemetar dan tangan-tangannya yang mencari sesuatu untuk dipegang.

"Ak-ak-."

"Ak, ak apa? Kamu mendadak gagap ya?"

"It-itu sayang. Anu."

"Apa? Kamu mau bilang apa?"

Sesaat Doni tersadar.

"Sayang, semua ini hanya salah paham." Doni langsung bangun dan beranjak dari tempat tidur, Ia memunguti semua pakaiannya dengan sangat susah karena saking gugupnya.

Ayu spontan langsung mengalihkan pandangannya dari sana.

'Laki-laki tidakk tahu malu.' Batin Ayu.

Dina yang sedari awal memang tidak menyukai hubungan Doni dan Ayu sengaja diam ditempat tidur dan melengkungkan bibirnya tersenyum puas.

Doni buru-buru mengenakan pakaiannya. Dia berjalan mendekati Ayu.

"Sa-sayang, dengarkan aku dulu, tadi itu ak-." Belum juga menyelesaikan kalimatnya, Ayu sudah memotongnya.

"Stop, jangan melangkah lagi. Kamu tidak perlu menjelaskan apapun lagi, semua sudah jelas. Teruskan saja kalau masih kurang. Sana jauh-jauh jangan dekat-dekat, aku mendadak jijik sama kamu."

"Eng-enggak sayang. Bukan begitu."

Doni yang merasa khawatir hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia benar-benar merasa bingung sekarang.

"Hebat sekali ya kamu, berani main dibelakang aku. Dan apa? Ternyata kalian berdua sebelumnya sudah sering melakukannya. Sejak kapan? Ternyata aku selama ini bodoh. Beruntung malam ini aku mengetahui semua." Imbuh Ayu.

"Halah, berlebihan sekali kamu. Asal kamu tahu ya, Doni itu sebenarnya terpaksa untuk menikahi mu. Lagian Doni itu cintanya sama aku bukan sama kamu. Jadi, wajar dong kalau kita melakukannya, kita kan saling cinta. Iya kan, Don?" Dina mengatakannya dengan begitu santai.

Ayu menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang dia dengar, dia tak habis fikir dengan kakaknya. Kakaknya begitu tega melakukan hal itu dengan calon suaminya.

"Apa benar itu, Mas?" Ayu ingin memastikan jawaban Doni.

"Em, anu, a-aku memang menyukai Dina, tap-tapi, ak-ku juga mencintai kamu, Yu."

Plaakkk.

Ayu mengangkat tangan dan melayangkan sebuah tamparan keras tepat di pipi kiri Doni.

Doni pun meringis dan mengelus pipinya yang terasa panas dan kebas.

"Ada apa ini kok ribut-ribut?"

2

"Ada apa ini kok ribut-ribut?"

Seketika ketiga manusia yang berada di dalam kamar menoleh kearah asal suara.

"Ini sudah larut malam, besok kalian akan melakukan akad, kenapa belum juga istirahat?" Ucap Rudi yang tiba-tiba datang dan menghampiri Ayu dan Doni di depan pintu kamar.

Rudianto adalah ayah dari Dina dan Ayu.

Rudi tidak sadar jika kamar yang dia hampiri adalah kamar anak pertamanya. Yang Rudi lihat hanya kedua calon pengantin yang besok akan segera menikah.

"Lihatlah, Pak. Kak Dina dan dia sudah mengkhianati aku. Aku tadinya bangun karena merasa haus. Setelah aku dari dapur dan melewati kamar Kak Dina, aku malah mendengar suara orang yang tengah melakukan hubungan suami istri. Ternyata benar, dengan tidak tahu malunya mereka melakukan perbuatan zina. Bahkan, mereka sangat menikmatinya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Aku mau bapak membatalkan pernikahanku dengan dia. Aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak memiliki pendirian dan tidak setia seperti dia." Ayu mengatakan semuanya kepada bapaknya dengan mata yang berapi-api dan nafas yang tersengal.

"Hah, apa?" Seketika Rudi terkejut.

Doni yang sudah ketangkap basah mendadak kaku diam seperti patung.

Rudi sendiri baru sadar jika dia berada di depan kamar Dina. Lalu Rudi masuk ke dalam kamar dan melihat anak sulungnya itu sedang berbaring santai dengan menutupi tubuh polosnya itu menggunakan selimut.

"Dina, apa yang kamu lakukan?" Rudi seketika naik darah dan berteriak dengan keras.

"Bapak berisik. Sudahlah, Pak. Bapak tidur saja sana, lagian untuk apa hal begini diributkan?" Sahut Dina dengan enteng dan santai. Padahal Rudi saat ini sedang bersungut-sungut.

Rudi pun menarik selimut yang menutupi tubuh polos Dina.

"Astaghfirullah, dosa apa bapak ini? Sampai hati kamu melakukan hal itu dan menyakiti saudaramu." Ucap Rudi sambil mengelus dadanya.

Dina yang merasa kesal langsung beranjak dari tempat tidurnya dan memakai pakaiannya tanpa merasa malu.

"Kamu." Rudi menunjuk Doni dengan sorot mata yang tajam.

"Bapak batalkan pernikahanmu dengan Ayu dan kamu nikahi Dina. Bapak tidak mau kalian terus-terusan melakukan zina. Apalagi status Dina yang seorang janda. Kalian sudah melakukan dosa besar. Bapak tidak mau menanggung dosa kalian." Ucap Pak Danu yang seakan mulai pasrah dengan situasi ini.

Dina menyinggung kan senyum, dalam hatinya bersorak-sorai tanda kemenangan telah dia dapat.

"Pak, lalu bagaimana nanti kita menjelaskan masalah ini kepada ibu?" Ayu khawatir dengan ibunya, takutnya ibunya terkejut dan membuatnya kepikiran.

Ibunya saat ini sudah tidur, karena tadi sempat mengeluh kelelahan.

"Sudah, itu nanti akan menjadi urusan bapak. Kalian sekarang bubar, masuk kedalam kamar kalian masing-masing. Doni, awas kalau kamu macam-macam dan kabur, akan aku penggal kepalamu." Ucap Rudi memberi ancaman pada Doni.

Yah, seharusnya besok adalah acara sakral antara Ayu dan Doni. Kenapa Doni saat ini sudah berada di kediaman sang wanita? Itu karena di Kampung tempat tinggal Ayu, setiap akan melakukan akad, hari sebelum akad si laki-laki sudah diantarkan ke kediaman si wanita. Jadi, kalau Doni sudah berada di rumah Ayu itu karena memang sudah tradisinya begitu. Nanti tinggal keluarga mempelai pria yang datang ke rumah mempelai wanita dihari akad akan berlangsung.

Mereka pun akhirnya bubar. Doni kembali ke kamar tamu dan akan tidur di sana.

Doni tengah mondar-mandir di dalam kamar tersebut.

"S1al, bagaimana bisa aku besok menikah dengan Dina? Mana dia seorang janda, aku kan hanya menyukai goyangannya. Ah, kenapa semuanya gagal dan berantakan seperti ini? Tapi, jangan panggil aku Doni kalau tak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Besok aku akan menikahi Dina dan setelah itu aku akan merayu Ayu, kalau tidak aku bisa kehilangan sumber keuanganku." Gumam Doni dengan segala rencananya.

Doni sebenarnya tidak pernah mencintai Ayu, dia hanya menyukai uangnya. Bagaimana tidak? Ayu sudah bekerja dengan mapan, apalagi jabatannya yang sudah menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan terbesar di Kota M. Ayu juga selalu royal dengannya sehingga membuat Doni menjadi sering memanfaatkannya.

*****

Malam semakin gelap dan sunyi, namun Ayu tidak merasa sedih atau kecewa. Dia duduk di jendela, memandang ke luar dengan mata yang tenang dan percaya diri. Bulan yang tergantung di langit membuatnya terlihat seperti memiliki aura yang lembut dan damai.

Wajahnya yang cantik terlihat lebih cerah dan bercahaya, dengan senyum yang lembut dan puas meskipun malam itu gelap. Dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan atau kekecewaan maupun kehilangan. Bahkan dia sama sekali tidak mengeluarkan air mata sedikitpun. Melainkan sebaliknya, dia terlihat seperti telah dibebaskan dari beban yang berat.

Ayu terlihat seperti telah membuat keputusan yang tepat, dan tidak perlu menyesali apa yang telah dia lakukan. Dia telah memilih untuk membatalkan pernikahannya dengan Doni yang berselingkuh, dan kini dia terlihat seperti telah dibebaskan dari hubungan yang tidak sehat dan tidak bahagia. Malam ini, dia terlihat seperti telah menemukan kebahagiaan dan kebebasan yang sebenarnya.

Ayu sangat beruntung karena dia mengetahui penghianatan itu sebelum dia sah menjadi istri dari Doni.

Ayu memiliki perawakan yang terbilang mungil karena tinggi badannya hanya 150 cm, tidak pendek juga tidak tinggi. Dia memiliki lesung si pipinya dan ketika dia tersenyum akan membuatnya terlihat semakin manis. Kulitnya khas orang Indonesia sawo matang, dia juga terbilang masih muda. Dia bangga dengan dirinya karena diusianya sekarang dia berhasil menjabat menjadi seorang manajer di PT MERINDU. Semua itu berkat keuletan dan kegigihannya hingga dia berhasil dititik sekarang.

Ayu yang merasa sudah cukup menatap bulan. Dia gegas melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya. Ayu memilih memejamkan matanya, dia tak sabar ingin segera melihat hari esok.

Pukul 05.00 WIB Ayu sudah bangun dari tidurnya. Dia beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih juga mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya. Karena, dia sadar bukan dia yang akan menjadi pengantin, dia mandi dengan santai.

Setelah selesai mandi dan berdandan, Ayu keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah, ternyata sudah banyak para warga yang datang untuk memasak dan sebagainya. Ayu menyapa mereka dan mereka pun membalasnya dengan senyum ramah.

Para tetangga belum tahu masalah yang telah terjadi tadi malam.

Ayu melangkahkan kakinya menuju kamar kedua orang tuanya. Sampai di depan pintu kamar kedua orang tuanya, Ayu mengetuk pintu dengan pelan.

Tok! Tok! Tok!

Tak lama pintu terbuka.

"Ayu! Ayo masuk, Nak." Ucap seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibunya Ayu, panggil saja dia Sri.

Ayu masuk setelah ibunya memintanya untuk masuk. Sri langsung menutup pintu kamarnya dan langsung memeluk Ayu, Ia merasa bersalah hingga Ia menangis dan tergugu.

Ayu paham dengan apa yang ibunya lakukan, pasti bapaknya sudah menceritakan semuanya tentang masalah tadi malam.

"Maafkan Ibu, Nak. Ibu merasa gagal menjadi orang tua." Sri mengatakannya dengan sesenggukan.

"Ibu, sudahlah, semua bukan salah Ibu. Mungkin memang Doni bukan jodoh Ayu melainkan jodoh Kak Dina. Restui mereka, Bu, Pak. Ayu sudah ikhlas dengan semuanya."

Sejak semalam, Ayu yang memang sudah memantapkan hati dan ikhlas.

"Semoga nanti kamu mendapatkan ganti jodoh yang lebih baik lagi ya, Nak." Ucap Rudi.

Rudi sebenarnya sedih dengan apa yang telah terjadi.

"Aamiin, Pak. Kalian do'akan saja yang terbaik untuk Ayu. Ayu sayang kalian berdua."

Ayu menatap mereka sendu, dia sangat bersyukur masih memiliki orang tua yang peduli dengannya.

Ayu memeluk Sri dan Rudi menyusul memeluk keduanya.

"Ya sudah, sebentar lagi MUA akan datang. Ayu, bapak minta tolong ya! Tolong kamu panggilkan Mbakmu untuk turun kebawah ya. Bapak akan membangunkan Doni dulu."

Melihat Ayu yang sepertinya baik-baik saja, Rudi merasa tidak perlu mengkhawatirkannya lagi, karena itulah dia meminta tolong Ayu untuk memanggilkan Kakaknya agar siap-siap sebelum MUA datang.

"Baiklah, Pak." Jawab Ayu singkat sambil menganggukkan kepalanya.

Ayu pun bangkit dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berada di dalam kamar. Ayu langsung naik ke atas dan menuju kamar Dina.

Tok! Tok! Tok!

"Kak, ini aku, kamu sudah bangun belum?" Ayu berbicara sedikit keras agar Dina mendengar suaranya.

Tak ada sahutan sama sekali. Ayu pun terpaksa membuka pintu kamar kakaknya tersebut. Ayu masuk ke dalam dan betapa kagetnya dia melihat kakaknya yang masih pulas diatas tempat tidur.

"Astaga. Ini orang, jam segini belum bangun juga." Gumam Ayu.

Ayu berjalan kearah tempat tidur, menghampiri kakaknya lalu membangunkannya. Sedikit ekstra untuk membangunkan kakaknya itu tapi, akhirnya Ayu berhasil membangunkan Dina.

Ayu menyuruh Dina untuk segera mandi dan bersiap-siap untuk turun ke bawah. Setelah melihat Dina masuk ke dalam kamar mandi, Ayu gegas keluar dari kamar kakaknya tersebut.

Tak lama MUA datang dan kamar Dina lah yang dijadikan tempat untuk merias.

Dina dirias dengan begitu cantik. Ibunya yang melihat anak sulungnya itu sedikit emosi namun hanya bisa Ia tahan. Dia mencoba untuk menerima. Yang bisa dilakukan Sri hanya menangis didalam hati sambil sesekali beristighfar. Ayu yang melihat raut wajah Ibunya pun mendekati dan mengelus punggungnya sebagai bentuk menguatkan. Ayu tidak mau dengan masalah seperti ini Ibunya nantinya akan jatuh sakit.

Dina akhirnya selesai dirias. Sedang Doni sudah berada di bawah bersama penghulu dan keluarga dari masing-masing mempelai serta para tamu undangan.

Acara pun dimulai, ijab kabul dilangsungkan. Namun, keluarga Doni dan para tamu undangan yang kebanyakan adalah tetangga dari Rudi sedikit heran dengan nama mempelai wanita yang disebutkan oleh Doni.

"Bagaimana para saksi, sah?"

Sah.

Sah.

Sah.

Alhamdulillah.

Meskipun sempat heran namun mereka sah sah saja.

Setelah sah mempelai wanita pun disuruh untuk turun.

Dina turun dengan dituntun oleh Ayu, membuat para tamu semakin heran.

"Lohh, bukannya Ayu yang mau menikah? Kok yang dandan Dina bukan Ayu?"

"Kenapa jadi Dina kakaknya yang menikah? Pantas saja tadi namanya bukan Ayu yang disebut melainkan si Dina."

"Kenapa bisa berubah mempelainya?"

"Apa sebenarnya yang telah terjadi?"

"Apa tidak nyesel ya dia, malah menikah sama janda bukan sama perawannya?"

Berbagai bisikan yang mereka lontarkan. Namun, Ayu dan keluarga hanya bersikap acuh saja, mereka seolah menebalkan telinga. Sementara dari keluarga Doni meskipun dalam hati mengganjal tapi, mereka lebih memilih tetap diam. Mereka akan meminta penjelasan nanti ketika acara sudah selesai.

Setelah acara sakral selesai. Para tamu undangan bergantian bersalaman dan memberikan ucapan selamat kepada sang pengantin baru. Lalu mereka menikmati jamuan yang sudah disiapkan sebelumnya. Acara pun berjalan dengan lancar.

Sore hari semua sudah bubar. Hanya tinggal kedua orang tua Doni yang masih singgah. Mereka meminta penjelasan tentang mempelai wanita yang telah berganti. Dan Rudi pun menjelaskan tragedi yang terjadi tanpa mengurangi maupun mengimbuhkan. Keluarga Doni begitu terkejut, mereka menjadi malu karena kelakuan anaknya tersebut. Apalagi saat mengetahui status Dina sebelumnya namun karena semua sudah terlanjur akhirnya mereka mau tidak mau menyetujuinya, menurut mereka, mau Ayu atau Dina akan sama saja.

Ah, mereka tidak tahu saja bagaimana sifat dan sikap Dina.

3

Hari pun berganti. Pagi ini kedua orang tua Doni berpamitan untuk pulang ke Kota karena memang mereka asli dari Kota. Sementara Doni dan Dina akan berangkat nanti bersamaan dengan Ayu ketika Ayu balik ke Kota.

Enak bener ya manusia tidak tahu malu itu mau nebeng? Sama sekali tidak merasa bersalah gitu?

Ayu diberi cuti seminggu untuk acara pernikahannya. Namun, karena kini keadaan telah berubah dan bukannya dirinya yang menikah melainkan kakaknya si Dina. Ayu berencana akan balik ke Kota besok siang. Ayu sedikit santai karena dirinya membawa mobil sendiri. Mobil tersebut dia beli menggunakan tabungannya selama dia bekerja di PT MERINDU.

Ayu kini berkumpul dengan kedua orang tuanya. Mereka ngobrol sambil menikmati secangkir teh dan beberapa kue brownies buatan Sri.

"Nak, kamu yakin akan kembali ke Kota besok?" Sri meyakinkan akan keputusan Ayu yang akan kembali ke Kota besok siang.

"Iya, Bu. Ayu tidak bisa lama-lama libur, masalahnya kan sekarang yang menikah bukan Ayu, nanti kalau ketahuan bukan Ayu yang menikah, bisa-bisa Ayu mendapat SP1 karena dikira membohongi tempat Ayu bekerja." Sahut Ayu dengan tenang.

Bagaimana tidak? Jelas Ayu tidak akan mengambil kesempatan karena memang bukan Ayu yang menikah.

"Yang penting kamu hati-hati ya, Nak. Apalagi besok kakakmu sama suaminya mau ikut sama kamu."

"Iya, Pak." Sahut Ayu singkat.

"Lihatlah, kakakmu jam segini saja masih di dalam kamar bersama suaminya. Apa tidak bosan gitu loh di dalam kamar terus?"

Sri merasa heran dengan anak sulung dan mantunya yang betah berada di dalam kamar.

"Namanya juga pengantin baru, Bu. Biarkan saja. Mungkin mereka kelelahan. Seperti Ibu tidak pernah muda saja sih. Hihi." Goda Ayu meledek Sri.

"Hm, dasar kamu ini malah meledek Ibu. Kamu ini terlalu mengalah, Nak. Dina sudah menikah, mulai sekarang kamu jangan lagi memanjakan kakakmu lagi, Nak. Biarkan dia mandiri dan mengurus keluarga barunya sendiri. Jangan terus-terusan memberi hati. Kakakmu itu seharusnya bisa berubah dan belajar dari pengalaman sebelumnya tapi, nyatanya sampai sekarang sama sekali tidak ada perubahan. Eh sekarang malah membuat ulah baru. Ingat, Nak. Kamu juga berhak bahagia." Rudi yang sangat menyayangi Ayu memberi pesan kepada Ayu.

"Iya, Pak. Do'akan Ayu selalu ya, Pak, Bu." Ayu meminta doa restu kepada bapak ibunya.

"Selalu, Nak." Sahut Sri.

Sementara di dalam kamar. Sepasang pengantin baru itu terlihat begitu pulas. Mereka semalam lembur dan entah selesai jam berapa.

Tiba-tiba terdengar suara Handphone bergetar. Doni yang merasa tidurnya terganggu, tangannya meraba di atas meja kecil samping tempat tidur dimana ponselnya berada. Terlihat panggilan tak terjawab dari seseorang. Doni yang menyadarinya langsung membuka matanya dengan lebar dan bangkit dari tempat tidur.

Dengan cepat Doni mengirim pesan kepada seseorang tersebut agar tidak menghubunginya dahulu dalam waktu dekat ini. Setelah itu Doni menghapus jejak panggilan maupun pesan dari seseorang yang telah menghubunginya tadi.

Dengan cepat Doni meletakkan ponselnya kembali agar istrinya tidak mengetahuinya. Setelah itu dia membangunkan istrinya.

"Din, Dina, bangun, aku laper nih." Doni menepuk bahu wanita yang sudah sah menjadi istrinya tersebut.

Tapi, Dina tak bereaksi apa-apa.

"Astaga, ini orang seperti kebo, ah tidak ralat, lebih tepatnya seperti orang mati? Dibangunkan susah sekali." Heran Doni.

"Dina, Din. Dina. Bangun." Sekali lagi Doni mencoba membangunkan Dina. Kali ini Doni bukan menepuk bahu melainkan dengan menggoyangkan tubuh Dina.

Akhirnya Dina sedikit ada pergerakan.

"Emhh. Ada apa sih, Don? Aku masih mengantuk, kamu jangan mengganggu deh." Sahut Dina acuh karena masih mengantuk.

"Aku lapar Dina. Ayo bangun, terus buatkan aku makanan."

Doni yang sejak tadi mengusap perutnya merasa kesal kepada Dina karena Dina tidak melayani dirinya seperti seorang istri pada umumnya.

"Apa sih, Don? Aku masih mengantuk, sudah jangan mengganggu. Lagian aku saja tidak pernah masak, mending kamu turun saja sana minta sama Ayu, aku masih mengantuk sekali, aku mau lanjut tidur." Dina sama sekali tidak peduli dengan Doni.

Doni mendengar jawaban dari Dina seketika semakin kesal.

"Apa-apaan baru semalam jadi istri sudah ketahuan jeleknya, bukannya suaminya dilayani malah menyuruh orang lain. Kalau hanya melayani di ranjang, Tya tidak kalah ganas dari Dina. Hah, kenapa jadi apes begini sih? Bukannya dapat yang lebih malah zonk. Setelah ini aku harus mendekati dan membujuk Ayu kembali." Gumam Doni.

Doni gegas turun kebawah untuk mencari makanan, siapa tahu ada makanan yang bisa dia makan. Doni menuju meja makan. Dia membuka tudung saji yang berada di meja makan. Terlihat beberapa lauk yang tersaji diatas meja dan hal itu berhasil membuat Doni bertambah lapar. Gegas Doni menuju dapur untuk mengambil piring. Saat dia akan kembali ke meja makan, Sri yang ingin ke dapur pun menegurnya.

"Doni, kamu sudah bangun? Kamu mau apa?" Tanya Sri pura-pura tak tahu dengan apa yang dilakukan oleh Doni.

"Em, ini, Bu. Doni mau mengambil piring, mau makan, Bu. Lapar. Hehe." Sahut Doni tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Terus dimana istrimu?" Tanya Sri.

"Dina masih tidur, Bu. Tadi ku bangunkan tidak mau bangun, padahal aku lapar sekali." Sahut Doni jujur.

"Kamu sebagai suaminya, sharusnya menegurnya. Kamu harus bisa membimbingnya. Bagaimana bisa suaminya lapar istrinya malah masih enak-enakan tidur di kamar. Ini sudah siang loh. Ya sudah, kamu makan dulu sana. Setelah itu kamu bangunkan Dina." Ucap Sri menasehati Doni.

"I-iya, Bu." Sahut Doni merasa tidak enak hati.

Lalu Sri pergi meninggalkan Doni, tadinya Doni ingin mengambil cemilan juga, namun dia urung karena merasa nyalinya sudah menciut.

Doni pun gegas melahap makanannya karena cacing yang berada di dalam perutnya sudah pada berdemo.

Sri yang tadi urung pun balik lagi berkumpul dengan suami dan anak keduanya.

"Bu, mana kuenya, katanya mau mengambil kue lagi?" Tanya Ayu yang heran dengan Ibunya karena hanya membawa piring kosong.

"Ibu tidak jadi mengambilnya. Tadi ada Doni terus Ibu balik lagi. Dia sekarang sedang makan." Sahut Sri.

"Baru bangun dia?" Tanya Rudi.

"Iya, Pak. Kelihatan sekali, masalahnya rambutnya masih acak-acakan begitu. Mana anakmu masih tidur katanya." Ucap Sri menjelaskan.

"Hm, kapan anak itu akan berubah. Sudah menjadi istri orang saja masih seperti itu. Padahal ini sudah yang kedua kalinya dia menikah."

Rudi sampai heran dengan anak sulungnya tersebut.

Ayu dan Sri pun hanya diam. Yang jelas mereka tidak mau ambil pusing dengan masalah sepasang pengantin baru Dina dan Doni.

Singkat waktu hari sudah sore. Sri dan Ayu saat ini disibukkan dengan memasak di dapur untuk acara makan malam nantinya. Ayu yang merasa sudah lama sekali tak memasak bareng bersama ibunya kini mengulas senyum. Rasanya begitu rindu untuk masak berdua seperti saat ini.

"Bu, ternyata sudah lama ya aku tidak pulang, masak berdua begini yang selalu Ayu rindukan di sana, Bu. Di Kota, Ayu masak kalau hanya mau saja, kalau tidak ya jajan." Ucap Ayu mengungkapkan perihal rasa rindunya.

"Iya, Nak. Ibu juga begitu. Kadang Ibu hanya berdua sama bapak, rasanya sepi. Rindu disaat-saat seperti ini. Karena itulah Ibu sedikit sedih karena besok kamu sudah balik. Kalau Dina kadang ya pulang kadang tidak, selalu saja banyak alasan, lagian Ibu tidak tahu kakakmu itu kerja apa dan dimana. Hanya yang ibu herankan, bagaimana bisa kakakmu bisa kenal dengan Doni?" Pikir Sri.

Ayu menggeleng. Ayu sendiri tidak tahu menahu tentang masalah itu.

"Iya, Bu. Maaf ya kalau besok Bapak sama Ibu, Ayu tinggal lagi. Mau bagaimana lagi, Bu. Ayu kerja hanya ikut orang, Bu." Sahut Ayu hanya menjawab perihal dirinya saja. Dia tidak mau menyinggung masalah kakaknya maupun mantan calon suaminya.

"Asal kamu jaga diri dan selalu hati-hati ya, Nak. Jangan lupa shalat 5 waktunya." Ucap Sri memberi pesan pada Ayu.

"Iya, Bu. Pasti." Sahut Ayu mengangguk tersenyum.

Lalu mereka melanjutkan acara memasaknya. Mereka memasak capcay, udang asam manis sama sayur daun ijo.

Setelah semua selesai. Sri dan Ayu menatanya di meja makan. Lalu Ayu pamit keatas untuk mandi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!