"Pokoknya kamu harus mondok di tempat itu, Raya! Papa nggak mau tahu kamu kali ini harus nurut sama kami sebagai orang tua!" ucapnya keras dengan nada tegas papa dari Raya, namanya Burhan.
Raya yang sedang dibuat kesal oleh papanya tidak tahu harus bagaimana karena memang keputusan finalnya seperti ini. Mamanya hanya bisa menghela napasnya, ia menghampiri Raya yang duduk diatas ranjangnya. Mengelus-elus punggung Raya, mencoba menenangkan sang putri semata wayangnya.
"Raya sayang, anak mama yang paling cantik sendiri. Kali ini nurut ya nanti pasti kami sambang sebulan sekali kok, jadi kamu nggak perlu khawatir," Raya membelikan, sebulan sekali? Tidak. Sepertinya Raya tidak suka akan hal itu.
"Kenapa hanya sebulan sekali? Kenapa bukan seminggu sekali saja, Ma!"
"Ya sudah, nanti papa sama mama akan sering-sering ke sana buat jenguk. Sekarang barang-barang kamu sudah siap kan tidak ada yang tertinggal?" Raya hanya jawab dengan anggukan saja.
"Kamu nggak pakai hijab, Ray?" tanya mama Raya, namanya Diana.
"Ma, Raya nggak mau pakai. Titik!" Mama dan papa Raya hanya diam saja membiarkan putrinya begitu, karena kalau dipaksa lagi entah apa yang akan putri mereka buat.
"Ya sudah nggak papa. Ayo turun biar papa bantuin bawa koper kamu."
Akhirnya setelah drama yang dibuat Raya selesai dan dia dengan berat hati menurut kepada kedua orangtuanya, lalu mereka masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju ponpes Darussalam. Sesampainya di sana mereka turun dan di sambut hangat oleh pak kyai dan Bu nyai.
"Mari Burhan, silakan masuk ke dalam," mereka berjabat tangan lalu masuk ke ruang tamu, tenyata anak-anak kyai sedang berkumpul juga.
"Mari duduk," Bu nyai Sofiyah mempersilakan Diana dan Burhan duduk di sofa. Mereka mengobrol sebentar untuk memperkenalkan puteri yang akan dititipkan disini, sebelumnya kyai yang bernama Umar sudah diberitahu oleh Burhan lewat telepon.
Papanya Raya sudah mengenal siapa itu kyai Umar karena dulu berteman dengan papanya Burhan, kakek dari Raya. Akibat dari kenakalan masa remaja Raya yang diluar batas, mau tak mau mereka menitipkan putrinya ke ponpes itu.
Pak kyai Umar dan Bu nyai Sofiyah punya dua anak, mereka semua laki-laki, anak pertama sudah berumur 45 tahun bernama Malik dan istrinya Inayah dikaruniai dua anak perempuan semua, anak pertamanya baru saja menikah dua bulan yang lalu. Sedangkan yang kedua berumur 40 tahun, dan dia adalah Arsyad, istrinya bernama Sarah.
Tak lama, menantu pertama, Ning Inayah datang membawa nampan berisi minuman untuk diletakkan di atas meja. Tak lupa membawa makanan ringan.
"Silakan diminum, dicoba juga makanannya itu saya yang buat sendiri," katanya sambil tersenyum hangat, Diana menanggapinya dengan senyum balik dan meminum sedikit teh hangat yang tersaji.
Pak kyai tak lupa memperkenalkan anak dan juga menantu mereka. Semuanya tak terlewatkan. Raya yang bosan pun menguap dan tertidur, namun tak lama ditegur oleh papanya.
"Raya! Astaga anak itu. Mohon maaf atas sikap anak saya yang kurang sopan," katanya sambil menahan malu. Baik pak kyai maupun Bu nyai tak masalah, karena mereka sudah tahu bagaimana Raya sebenarnya telah diceritakan oleh Burhan.
"Nggak papa, maklum mungkin semalam tidurnya telat pak Burhan," sahut Bu nyai dengan tutur kata yang halus.
Raya yang mendapat cubitan pelan dari mamanya pun melebarkan mata langsung. Dia melihat kearah semua orang dan nyengir memperlihatkan gigi rapihnya.
"Aduh maaf banget ya gue ngantuk soalnya, nggak ada bantal ya? Gue pengen tidur sebentar saja," ucapan Raya sontak membuat orangtuanya melotot tak percaya.
Bu nyai dampak kyai terkekeh melihatnya, Ning Inayah tersenyum dan membawa bantal sofa untuk Raya.
"Jangan Ning, kenapa malah nurutin permintaan Raya, biarkan saja suruh siapa malam-malam begadang nonton film," ucap Diana.
"Nggak papa biar ditaruh di pangkuannya,"
"Tujuan kami kesini mau menitipkan putri kami supaya menjadi anak yang penurut dan bertingkah laku yang baik. Dia baru saja lulus SMA, umurnya mau menginjak 19 tahun bulan depan. Jadi harap maklum jika nanti anak saya berbuat onar atau kelakuan buruk, harap di bimbing dengan baik," ucap panjang lebar Burhan menatap kepada pak Umar dan Bu Sofiyah.
Pak Umar mengangguk dia menatap istrinya sebentar lalu menatap Burhan kembali,"Pasti kami akan membuat Raya menjadi pribadi lebih baik lagi secara perlahan, kami juga tidak punya anak perempuan jadi pasti kami akan senang akan kedatangan nak Raya kemari, dan kami janji akan menjaga dan merawat dengan baik, Burhan," kedua orangtua Raya bernapas lega. Mereka akan sangat beruntung jikalau Raya disini benar-benar merubah sikapnya yang semula nakal menjadi baik walau tidak secara cepat.
"Oh iya bagaimana kabarnya Ardi?" Ardi adalah kakeknya Raya, ayah dari Burhan, papanya.
Dulu berteman dekat dari masa sekolah tingkat akhir, lalu berpisah karena Umar mengenyam pendidikan di Mesir, sedangkan Ardi di Australia. Sama-sama mempunyai mimpi untuk cita-citanya yang ternyata terwujud. Pak Umar bisa meneruskan abahnya untuk pesantren ini, sedangkan pak Ardi meneruskan bisnis keluarga.
"Alhamdulillah ayah saya baik. Beliau masih di desa bersama ibu, katanya betah disana karena membuatnya nyaman. Sudah dua bulan mereka menetap, kemungkinan balik masih bulan depan ke rumahnya,"
Pak Umar manggut-manggut, rasanya ingin sekali bertemu dengan sahabat lamanya, berpelukan menyalurkan rasa rindu. "Kapan-kapan ajaklah kesini, sudah lama kami tidak bertemu," katanya sambil terkekeh.
"Iya pak Umar, nanti akan saya sampaikan."
Mereka semua asyik mendengar obrolan yang berlangsung itu. Raya hanya menatap dengan rasa penat karena hanya diam saja dari tadi hingga beberapa kali menguap.
"Ya sudah kalau begitu, silakan dulu dinikmati lagi suguhannya. Ini ada kurma dari Arab, minggu lalu putraku Malik baru saja umroh," pak Umar mendekatkan piring berisi beberapa buah kurma yang tersaji. Burhan pun mengambil satu dan memakannya begitu juga dengan Diana.
"Bareng sama istrinya, pak Umar?" Tanya Diana.
"Tidak karena dia mendampingi jamaah disuruh sama ustadz Furqon untuk ikut sekalian karena mumpung Malik sudah berpengalaman," mereka mengangguk.
"Gue kebelet nih boleh tunjukkin toiletnya?" Tiba-tiba raya berkata hal tersebut membuat orang tuanya menegur secara halus.
"Bicara yang halus Raya, jangan pakai bahasa kayak ke temen-temen kamu!" Tegur Burhan sedangkan Diana hanya bisa menahan malu.
"Tidak apa-apa, jangan begitu nak Burhan. Biar diantar sama Inayah ke belakang," ucap Bu Sofiyah, lalu Ning Inayah langsung saja mengantar Raya ke belakang.
"Maafkan kata-kata kurang sopan tadi ya Pak Umar Bu Sofiyah," Diana berkata dengan pelan.
Sedangkan mereka berdua hanya tersenyum memaklumi saja karena memang remaja seusia Raya sedang mencari jati diri mereka yang sebenarnya dan harus dibimbing juga supaya jalannya benar.
"Permisi boleh saya bicara?" Sarah memecah obrolan mereka.
Atensi mereka menuju ke Sarah yang sedang duduk disamping Inayah tadi.
"Iya, ada apa Sarah?" Tanya Bu Sofiyah.
"Begini, sebelumnya pernah kami bicarakan terkait suami saya Arsyad yang akan menikah lagi, dia setuju-setuju saja, kita juga pernah berdiskusi kan umi abi?" Bu Sofiyah hanya diam begitu juga dengan pak Umar. Sedangkan Burhan dan Diana bingung kemana arah pembicaraan ini?
"Minggu lalu juga sempat kita semua bicarakan disini terkait Gus Arsyad yang mau menikah kembali supaya punya anak. Dan saya sekarang punya jawaban yang tepat dengan menjadikan Raya sebagai istri kedua Gus Arsyad," ucapan Sarah membuat kedua orangtua Raya kaget, baru saja mau berkata namun cepat disela oleh Raya yang baru dari toilet.
"Maksud lo gue?!"
Mereka semua menatap sumber suara berasal. Raya sudah balik bersama Inayah. Raya langsung mendekat ke arah Sarah dan melakukan hal yang tak terduga. Tiba-tiba dia menarik kerudung yang dipakainya.
"Raya!" Teriak Diana. Burhan kaget dengan aksi anaknya itu, tidak! Bukan hanya Burhan tapi semua yang ada di sana langsung berdiri.
"Enak aja lo sesuka hati ngomong begitu. Lo mikir nggak sih sebelum ngomong, hah?" Dengan emosi Raya kembali menarik kerudung Sarah hingga Diana langsung memeluk putrinya supaya berhenti.
"Maaf, tapi saya mohon bersedia lah," Sarah masih tetap kekeuh dengan pendiriannya. Ia yakin karena menilai Raya gadis yang tak seperti lainnya, nanti juga Raya tidak betah dan akan meminta cerai juga setelah mengandung pikirnya Sarah.
"Nak Burhan anda tenang dulu, duduk dan ini minumlah," pak Umar memberikan minum dalam gelas.
"Bagaimana bisa tenang begini pak Umar? Putri saya mau saya titipkan supaya dapat pendidikan dengan baik disini malah disuruh jadi istri kedua bahkan yang menyuruh pun istrinya sendiri!" Dia memijit kepalanya yang terasa pusing dan syok akibat perkataan Sarah.
"Heh lo awas aja ya lo gue beri peringatan! Ingat urusan kita belum selesai!" Ucap Raya sambil menunjuk ke muka Sarah yang sedikit ketakutan akibat ulahnya.
Arsyad hanya bisa menghela napasnya ketika melihat ini semua, sesuai dugaannya bakal terjadi sesuatu. Melihat Sarah tadi yang diamuk Raya, dia hanya bisa berdiam diri mematung. Malik menepuk pelan pundak adiknya itu agar tenang sedikit.
"Tapi putri saya masih terlalu muda untuk menikah apalagi tujuan kami kesini untuk menitipkan putri semata wayang untuk dididik agar berubah jadi lebih baik. Sejujurnya saya sebagai mamanya sangat menolak karena belum waktunya," kata Diana dengan mata berkaca-kaca.
"Saya tidak tahu pak Umar. Menantu anda sangat tidak tahu diri, apa dia habis minum obat hingga berkata ngelantur seperti tadi? Bagaimana bisa kami tiba kesini dengan tujuan baik malah dikasih kejutan tak terduga dengan menjadikan anak saya istri kedua? Saya tidak rela. Putri saya satu-satunya menjadi yang kedua!" Ucap Burhan menggebu-gebu.
"Saya tahu nak, saya juga terkejut. Sebelumnya memang sudah diskusi sekeluarga namun saya juga tidak tahu kalau dia memilih secara langsung orangnya dan ternyata pada Raya pilihannya," yang dimaksud pak Umar disini adalah Sarah, dia sendiri yang memilih secara tiba-tiba.
"Maafkan kami nak Burhan Diana. Saya beneran tidak tahu akan terjadi hal demikian," Bu Sofiyah turut sedih dan hampir menangis.
"Pa mending kita bawa balik pulang Raya. Rasanya tidak tenang kalau begini," Diana menyentuh tangan suaminya.
"Kalau begitu kami pamit, pak Umar Bu Sofiyah." Kepergian kedua orangtua Raya membuat pak Umar dan Bu Sofiyah tak tega, ia lantas memanggil kembali namun tak dipedulikan.
Namun ucapan lantang membuat mereka berhenti sejenak.
"Oke Raya terima! Raya bakal jadi istri Gus Arsyad!"
"RAYA!"
"RAYA!"
Mereka semua terkaget dengan jawaban yang dilontarkan oleh Raya, tak terkecuali orangtuanya yang sangat syok bahkan Diana hampir pingsan.
Inayah dengan gerak cepatnya menuju ke Raya memeluk dan mengelus punggung gadis cantik itu. Bu Sofiyah dan pak Umar mematung ditempat akibat perkataan tadi.
"Kalian nggak salah denger kok! Gue Raya terima jadi istrinya Arsyad." Burhan menggeleng pelan ingin menyadarkan putrinya bahwa dia bukan satu-satunya melainkan jadi yang kedua.
"Nak, kamu... Coba kamu tenangkan dulu pikiranmu. Bagaimana bisa kamu memutuskan lebih cepat hal ini, ini tidak mudah Raya," Burhan mencoba berkata hal demikian karena Raya masih kecil menurutnya belum mengerti apa-apa.
"Sayang tolong kamu jangan begini, mending kita balik ke rumah ya, mama akan turuti kamu kalau mau kuliah ke luar negeri," Diana sudah berlinang air mata.
"Nggak ma, lagian kalian sendiri yang antar Raya kesini. Raya sudah nurut sama kalian,"
"Mari kita duduk dulu sebentar, kita selesaikan semuanya," ucapan Malik membuat mereka terduduk kembali di sofa, termasuk Burhan dan Diana yang urung melanjutkan langkahnya keluar.
"Maafkan kami semua nak Burhan dan Diana. Sungguh kami juga terkejut akan permintaan Sarah. Jadi memang Minggu lalu ada pembicaraan di keluarga kami terkait Arsyad akan kami nikahkan kembali supaya mempunyai keturunan, tapi saya juga tak menyangka bahwa Sarah menunjuk Raya sebagai istri kedua dari Arsyad," pak Umar mencoba menjelaskan secara perlahan.
"Tapi itu tidaklah benar pak Umar! Iya kalau Gus Arsyad tidak punya istri, lah ini sudah ada," jawab Burhan dengan nada tegas. Diana mencoba menenangkan suaminya dengan mengelus lengan dan menggenggam tangannya.
"Nak bicaralah," bisik Bu Sofiyah terhadap anak bungsunya yang ada disebelahnya.
"Maaf tapi menurut saya, saya tertarik dengan putri anda pak Burhan. Mungkin terlalu cepat tapi saya tidak menolak akan pernikahan yang terjadi nantinya,"
"Saya akan janji membuat putri anda menjadi pribadi lebih baik lagi dan saya akan menjaga serta merawat dengan sangat baik," lanjutnya.
"Jangan hanya janji, itu bisa diucapkan dengan gampang Gus! Harus kasih lihat tindakan yang sebenarnya. Saya akan ingat perkataanmu hari ini jika suatu saat anda menyakiti anak semata wayang saya! Kalau nanti tidak bisa bersikap adil atau membentak bahkan sampai main tangan, anda berurusan dengan saya," Arsyad mengangguk mantap, dia mana mungkin bersifat seperti itu yang kasar, hanya saja sikapnya yang dingin bahkan sesama keluarganya sendiri.
"Baik akan saya buktikan nanti," jawabnya lalu melihat keberadaan Raya yang sedang duduk disamping mamanya. Raya juga melihat balik, tak lama kemudian bersuara.
"Gue bakal setuju kalau nikahannya digelar mewah. Nggak mungkin dong seorang Raya nikahnya biasa dan diam-diam? Biarin semua tahu bahwa Gus Arsyad nikah lagi dan punya istri cantik, imut, dan gemesin kayak gue!"
Bu Sofiyah nampaknya tersenyum melihat celotehan Raya yang anaknya super ceria. Sepertinya kehadiran Raya disini akan membuat suasana berwarna karena Raya yang cerewet itu.
"Iya saya bakal turutin mau kamu," jawab Arsyad.
"Hm itu lebih bagus sih," Raya kemudian melirik Sarah yang menunduk, alisnya menukik kenapa dia nunduk terus? Apa sedih, kalau iya sih nggak seharusnya karena dia sendiri yang memaksa Raya masuk ke dalam rumah tangganya yang sudah bertahun-tahun dibangun.
"Emang dibawah ada uang ya?" ucap Raya menyindir membuat mereka semua kompak menatapnya lalu menunduk ke bawah.
"Ya ampun kalian semua mata duitan? Ya mana mungkin ada uang dibawah kalau nggak ada yang jatuhin. Masa nggak peka peka sih, gue lagi nyindir Tante Sarah yang nunduk terus apa nggak pegel itu leher?" ucapan Raya langsung dibekap oleh Diana.
"Nak maksudmu apa ngomong begitu pakai manggil Tante segala," ucap pelan Diana.
"Lah dia kan seumuran mama, yaudah dipanggil Tante saja lebih pantas, iya kan pak kyai dan Bu nyai?" Burhan tak tahan dengan ucapan anaknya sampai dia menepuk dahinya sendiri menahan malu. sedangkan anak dari malik dan Inayah yaitu Fira dan Farah menahan tawa sebisa mungkin.
"Iya sudah, tapi nak Raya beneran kan mau tinggal disini? Sama saya dan suami saya," ucap pelan dan hati-hati Bu Sofiyah agar Raya benar-benar mau dan menerima.
"Iya dong kan udah jawab bakal gue terima lamaran dari Gus Arsyad," Raya menjawab dengan yakin.
"Nak, kamu sungguh ingin pernikahan ini?" Burhan sekali lagi mengatakan kepada putrinya.
"Iya pa, siapa juga yang ngotot nyuruh Raya sebagai madunya," Burhan dan Diana hanya bisa mengiyakan saja mungkin dengan begini putri mereka akan berubah lebih baik walau harus menikah dadakan dan menjadi yang kedua.
"Baik kalau begitu, saya sebagai orangtuanya hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi anak kami. Tolong nanti jaga Raya dengan sebaik mungkin dan ubah sifatnya, kalau perlu dijewer juga tidak apa-apa," sontak saja ucapan papanya membuat Raya melotot tak percaya bagaimana bisa papanya menyuruh untuk menjewer telinganya jika dia bandel.
"Nggak nggak! Kalian gaboleh nyakitin gue atau gue balik nyakitin kalian," ancamnya.
"Kamu tidak usah khawatir nak, kami akan menjagamu dan menyayangi layaknya anak sendiri. Iya kan umi?" Bu Sofiyah mengangguk dan tersenyum.
"Kalau begitu kami pamit," Burhan dan Diana beranjak dari duduknya. Walau berat akan putusan dari putrinya yang menyetujui ajakan menikah. Namun apa yang bisa ia perbuat?
"Iya hati-hati dan jangan khawatir nak Raya akan kami rawat disini sampai hari pernikahan itu tiba." mereka bersalaman dan mulai kembali ke masing-masing.
Raya menatap sendu kepergian kedua orangtuanya. Baru kali ini dia merasakan ditinggal seperti diasingkan ke tempat yang menurutnya sangat jauh berbeda dengan bayangannya. Tapi masih untung Raya akan tinggal bersama pak Umar dan Bu Sofiyah, bukan di asrama khusus para santriwati.
Kini mereka semua sudah balik ke rumah masing-masing. Raya masih duduk di sofa ruang tamu bersamaan dengan Bu Sofiyah yang mendekatinya.
"Barang-barang kamu sudah dimasukkan kedalam kamar atas, mau tidur dulu? Barangkali kamu capek nak," Raya mendengar perkataan yang halus dalam telinganya, suara yang berbeda dengan mamanya walau kadang juga berbicara halus tapi karena seringnya berbuat ulah jadi mamanya selalu mengeluarkan suara teriakannya yang menurut Raya cempreng.
"Iya Bu nyai. Raya ngantuk banget,"
"Panggil saja umi nak, panggil juga sebutan abi," Raya hanya mengangguk saja.
"Yasudah ayo umi antarkan." Raya mengikuti langkah Bu Sofiyah ke dalam kamar yang sudah ditata rapi, bersih, dan tentunya wangi supaya dia nyaman dan betah.
Di sisi lain, Arsyad habis bertengkar dengan istrinya yaitu Sarah. Bagaimana tidak dia berbuat ulah lagi dengan menumpahkan kopi diatas laptop Arsyad itu.
"Sudah aku bilangi berapa kali Sarah kalau mengerjakan sesuatu harus hati-hati dan jangan ceroboh. Memang pikiranmu kemana sampai-sampai tidak fokus begitu? Tadi pagi tidak masak dan aku harus pergi ke rumah umi untuk sarapan! Sudah lama kita berumah tangga tapi kenapa malah tidak berbenah sama sekali?" ucapnya dengan nada tegas namun diawal sedikit meninggi.
"Maaf Gus," lirihnya dengan menundukkan kepala.
"Itu terus yang kau ucapkan. Saya harus bagaimana lagi, selalu menuruti keinginanmu apalagi awal nikah harus dipaksa begini. Saya capek!" dia lalu melenggang pergi dengan membawa laptopnya dengan tujuan memperbaiki sebelum semuanya terlambat jangan sampai rusak parah.
Sarah hanya berdiam diri melihat suaminya pergi begitu saja. Dia juga salah tapi mau bagaimana lagi, pikirannya tertuju pada Raya yang menurutnya sangatlah cantik walau sikapnya bar-bar. Ada ketakutan sendiri dalam benaknya, tapi itu semua ia tepis bahwa akan berakhir baik-baik saja.
"Aku yakin walau pernikahan mereka resmi tapi Raya sudah pasti tak tahan dengan ini semua. Dia juga pasti berpikir bahwa masih muda dan tidak ingin terkekang oleh ikatan pernikahan. Tapi kalau nanti malah...Tumbu rasa cinta diantara mereka bagaimana? Ah sudahlah."
Raya masih asyik tertidur pulas diatas kasur yang sangat empuk membuatnya nyaman. Sampai-sampai dia bermimpi menjadi tuan putri di kerajaan.
Waktu menunjukkan pukul empat yang artinya sudah memasuki sore hari. Bu Sofiyah gegas membangunkan Raya dari tidurnya. Menepuk pelan hingga dia terbangun.
"Umi?"
"Bangun nak, sudah sore. Mandi dan sholat asar nanti umi tunggu di bawah." Raya yang masih mengantuk pun menguap. lalu dia bangun dan langsung masuk ke kamar mandi.
Selang beberapa menit, dibawah sana Bu Sofiyah mendapati anak bungsunya yang sudah duduk di ruang tamu. Ia menelisik wajah putranya yang nampak kusut.
"Ada apa nak?"
"Nggak umi," namun Bu Sofiyah tak gencar untuk memberikan pertanyaan kembali.
"Kalau ada masalah harusnya cerita saja daripada dipendam tapi malah bikin sakit. Umi tahu tidak semua masalah harus bercerita ke orang, tapi kalau menurutmu harus diutarakan tidak masalah, cerita saja ke umi,"
"Kalau waktu bisa diputar kembali, Arsyad pasti akan memilih perempuan sendiri umi. Kalau begini malah membuatku terkekang, harus menuruti semua permintaan," Bu Sofiyah tahu kemana arah bicaranya.
"Nak, semua sudah takdir. Kamu akan menikah kembali juga karena takdir. Umi yakin yang kedua ini tidaklah membuatmu merasa seperti dulu. Percayalah di pernikahan keduamu pasti akan menumbuhkan rasa cinta dan sayang,"
"Arsyad juga berpikir demikian, umi. Tapi yang dulu Arsyad sangat tidak menyukainya bahkan membenci umi. Setiap hari bahkan selalu meminta ampunan karena Arsyad tahu Arsyad juga salah," Bu Sofiyah lalu memeluk putranya.
Namun obrolan mereka ternyata diketahui oleh Raya. Dia malah dibuat penasaran dengan semuanya. Sesuatu yang hanya diketahui oleh keluarga saja, dia harus menyelidiki ini semua.
'Apa aku tanya aja ya sama umi? Tapi apa sopan tiba-tiba nanyain apa yang habis gue kuping sendiri. Nanti ajalah nunggu waktu yang tepat, gue selidiki sendiri aja dulu.' batin Raya.
Keesokannya Raya sedang beberes kamarnya yang nampak berantakan. Tak seperti saat dirumahnya yang ada bibi pembantu untuk merapikan semuanya, kali ini Raya melakukannya sendiri. perubahan kecil seperti ini kalau diketahui orangtuanya pasti akan senang.
Suara dering dari hp Raya tertera nama mamanya.
"Mama!"
"Anak mama, bagaimana sayang apa kabarmu?"
"Raya baik kok ma. Kapan kesini?" mereka sedang melakukan video call. Diana menatap wajah suaminya sesaat setelah Raya menanyakan kapan mengunjunginya kembali.
"Baru saja kemarin loh kami antar kamu masak sekarang harus kesana lagi Ray? Kamu harus betah disana biasanya juga cepat dapat teman loh," kata Diana.
"Iya kamu siapa saja diajak teman, bahkan kambingnya pak RT komplek kita saja kamu jadiin teman," sahut Burhan membuat Raya cemberut.
"Ih papa mah gitu sukanya! Kalian emang nggak kangen sama Raya yang cantiknya pake banget?" baik Burhan maupun Diana tergelak atas ucapan anaknya itu.
"Nanti kita datang pas lamaran kamu sama nikahan,"
"Masih lama pa!"
"Apanya yang lama, lamaran kamu seminggu lagi loh. Kalau nikah kan masih belum tahu tanggalnya dibahas pas lamaran nanti,"
"Yaudah deh pokoknya sering-sering datang kesini!"
"Mana bisa sayang, kan nanti kamu udah ada suami masak iya udah gede masih kekanak-kanakan, iya kalau umur kamu belum belasan rewel nggak papa. Sekarang kamu besar Raya, belajar mandiri yang baik, yang paling penting nanti nurut sama suamimu," pesan Diana pada Raya.
"Iya-iya mamaku yang cantik. Udah ya ma, Raya harus turun nih kalau nggak nanti disamperin lagi kesini, kasian umi naik turun tangga mulu,"
"Oh jadi udah mulai manggil umi dan abi sama calon mertua ya," goda Burhan yang langsung mendapat cubitan dari dang istri.
"Kenapa sih ma!"
"Kenapa-kenapa nanti Raya ngambek kamu godain gitu, yang pasti Bu Sofiyah yang nyuruh Pa,"
"Iya... Sudah dulu ya nak,"
"Hm iya pa ma." panggilan pun berakhir.
"Dasar ya papa sama mama sukanya gitu mulu!" ia pun gegas turun ke bawah.
Saya dibawah Raya dikejutkan dengan beberapa paperbag dari yang besar hingga kecil. Disana juga ada Malik dan Inayah. Tak lupa anaknya Fira beserta suaminya Bilal, Farah sedang sekolah.
"Loh kok..." Raya melangkah menuju beberapa barang berjejer.
"Iya dek ini untuk lamaran nanti, kalau yang ini seserahan khusus nikahan," Inayah menjelaskan apa saja yang berjejer dilantai itu.
"Ternyata udah beli secepat ini?" Raya bertanya. Mereka semua saling pandang.
"Iya baru saja kami habis pergi untuk membantu membeli beberapa keperluan, lamaran kamu seminggu lagi, kalau nggak salah pernikahan kalian juga dipercepat tapi belum tahu tanggalnya," jawabnya.
"Ya ampun... Ini barang branded semua kan?" Raya menelisik beberapa belanjaan didepannya itu.
"Semuanya bagus kok Ray, meski ada yang bukan barang branded tapi dari lokal juga enggak kalah kualitasnya." Raya manggut-manggut mendengar perkataan Malik.
"Syukur deh soalnya semua yang ada dirumah gue tuh bagus-bagus semuanya. Kalau nggak percaya lihat aja kesana coba bandingin sama rumah kalian,"
"Raya memangnya kenapa? meski rumah sederhana tapi kan keluarga tetap rukun dan bahagia," tiba-tiba Sara menyahutinya dia datang bersama Arsyad.
"Bener nih bahagia? Emang rumahtangga kalian bahagia?" ucapan Raya membuatnya mati kutu. Sarah langsung berhenti dan terdiam begitupun dengan semuanya yang ada disitu.
"Yaudah Raya, kalau dirasa masih belum lengkap coba kamu ngomong sama saya," Arsyad mencoba mengalihkan pembicaraan tadi.
"Padahal gue ngomong belum dijawab deh, emang gini ya kalau ada yang tanya terus dialihkan begitu saja?" Raya yang keburu kesal pun tak sengaja menyenggol gelas kaca yang bertuliskan nama Sarah dan Arsyad, itu adalah gelas pemberian temannya Sarah saat pernikahannya dulu namun diletakkan dirumah mertuanya.
"UPS sorry gue nggak sengaja!" dia inisiatif mengambil pecahan gelas kaca tersebut namun dilarang oleh Bu Sofiyah yang tiba hadir.
"Jangan nak, mending panggil bi Surti saja daripada tanganmu terluka," dia pun menurut.
"Bi Surti! Tolong dibereskan yah, pecahan gelasnya lalu buang saja,"
"Raya itukan gelas berharga kami, ada namaku dan suami. itu pemberian dari temanku,"
"Udah tahu dikasih temen bukannya dijaga dengan benar taruh dirumah sendiri! Kenapa malah di taruh disini?"
"Ehem, udah ya... Raya katanya mau ngecek isiannya barangkali ada yang nggak sesuai bisa kamu ngomong sama kami supaya membeli lagi," Inayah mencoba meredamkan suasana.
"Iya Ray, ini tadi aku yang milih loh," Malik memperlihatkan sebuah mukenah dengan bentuk unik dan indah.
"Iya kah?" Malik dan Inayah mengangguk barengan.
"Iya dek, saya juga pilihkan gamis warnanya kalem cocok banget untuk kulitmu yang putih," Inayah mengeluarkan gamis dalam paperbag dan melebarkannya supaya Raya tahu bagaimana bentukannya.
"Bagus Ning! Wah..." mata Raya berbinar.
"Harusnya tadi aku ikut aja ya," lanjutnya.
"Tadi siapa ya... Bangun kesiangan," kata Fira.
Raya tersenyum memperlihatkan giginya, "Iya juga sih tapi sholat subuh loh cuman setelahnya ketiduran." mereka tergelak atas penuturan Raya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum,"
Mereka kompak menoleh kearah pintu diketuk, terdapat dua orang laki-laki, lalu Bu Sofiyah menyuruh mereka untuk masuk.
"Permisi, ini saya tadi habis dari rumahnya Gus Arsyad ternyata tutupan, jadi kami inisiatif kesini barangkali beliau ada dan ternyata memang sedang berkumpul semua," dia lalu menyenggol tangan teman yang disampingnya yang sedang membawa benda untuk melanjutkan bicaranya.
"Begini Gus ini laptopnya kemarin sudah baik tidak parah kok," dia menyerahkan laptop warna hitam kepada pemiliknya.
"Oh iya terimakasih banyak ya," dia lalu mengambil beberapa lembar dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada tukang service.
"Kebanyakan Gus,"
"Tidak apa-apa. Ambil saja tak perlu sungkan," mereka berdua tersenyum lebar.
"Terimakasih banyak Gus Arsyad!" Arsyad tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
Tukang service itupun langsung pergi. Malik bertanya-tanya ada apa dengan laptop adiknya. Perasaan baru kemarin dipakai kok masuk ke tukang service.
"Kenapa dengan laptop mu?"
"Insiden kecil, mas," jawabnya kepada Malik.
"Oh iya Nak, nanti umi mau bikinin kamu cookies, mau ikut buat?" sebenarnya Raya malas sekali ikut acara memasak karena bagiannya memang makan saja. Tapi sepertinya tertarik untuk bikin cookies, dia teringat mamanya yang suka membuat adonan kue maupun camilan ringan.
"Boleh umi," Bu Sofiyah senang.
"Kak Fira nama suaminya siapa?" tiba-tiba Raya menanyakan hal tersebut.
"Loh memang kemarin belum tahu Ray?" Raya menggeleng pasalnya kemarin dirinya mengantuk dan tidaklah fokus mendengar apapun.
"Namaku Bilal, Raya. Salam kenal ya,"
"Oh... Iya salam kenal gue Raya istrinya Arsyad, oh salah masih calon iya kan Gus?" Raya mencoba menggoda Arsyad dengan mengedipkan sebelah matanya membuat mereka tertawa melihatnya tak terkecuali Arsyad sendiri namun dia masih menyembunyikan, hanya melipat bibirnya menandakan dia ada rasa salting.
"Kayaknya Arsyad tambah makin muda kalau sama Raya begini, iya kan umi?" Malik bertanya kepada uminya.
"Iya benar juga kalau dilihat-lihat Raya sangatlah ceria dan aktif berbeda dengan adikmu yang seperti robot, kaku sekali,"
"Bukan robot umi, kulkas juga kan dia dingin banget sama orang. Iya kalau wanita, lah sama laki-laki lain masih jutek. Datar banget sih wajahnya, perasaan punya duit banyak nggak ada utang kan Gus? Biasanya orang yang ada utang tuh cemberut terus soalnya mikir darimana duitnya," Pak Umar datang dengan ketawa kerasnya karena mendengar ucapan Raya tentang anak keduanya. Dia baru saja datang dari luar, masuk-masuk eh malah dengar Raya mengoceh, nge roasting Arsyad.
"Udah selesai bi?"
"Iya, Alhamdulillah kelar acara!" sambil membawa bingkisan ditaruh diatas meja. Raya dengan tanpa malunya membuka dan mengorek apa saja isinya. Seketika wajah Raya berbinar tatkala melihat makanan, langsung saja dia makan tanpa peduli orang sekitarnya yang menatapnya penuh heran.
'Astaga ini bocah... Yang benar saja saya akan menikah dengannya? Semoga memang benar jodoh saya, tapi katanya jodoh cerminan diri? Perasaan kelakuan saya tidak seperti itu deh,' Arsyad membatin demikian hingga kepalanya reflek menggeleng-geleng.
"Kenapa Syad?" tanya Malik.
"Ha oh em gapapa,"
"Gapapa tapi geleng-geleng, pusing? Pusing karena mau nikah keluar banyak duit?"
Arsyad sangat muak dengan saudara tertuanya itu selalu saja berbuat usil bahkan dihadapan keluarga.
Uhuk uhuk
Arsyad inisiatif memberikan segelas air minum kepada Raya yang sedang terbatuk-batuk.
"Pelan-pelan," ujarnya berbisik.
'Buset gitu aja bikin gue meremang, hiiiiih serem amat dah kulkas berjalan ini!'
"Dek itu airnya diminum," Inayah mengingatkan Raya agar tidak melamun.
"Iya Ning," dia tersenyum canggung.
"Yasudah kalau begitu, kami pamit dulu," Inayah dan Malik berpamitan untuk balik kerumah mereka sambil mencium telapak tangan mertuanya. Fira dan Bilal juga ikut.
"Loh kak Fira sama kak Bilal ngapain ikut balik? Padahal pengen Raya ajakin main game bareng loh... Bosen banget nggak ada temennya,"
"Kami habis ini ada kunjungan ke rumah mertuaku Raya. Main game? Kak Fira nggak tahu game apa soalnya jarang banget bahkan hampir nggak pernah jadi kak Fira nggak bisa,"
"Iya nanti kapan-kapan Mabar bareng aku," Bilal menyahuti ucapan Raya yang membuatnya senang.
"Beneran nih, emang jago?"
"Jago banget malah, aku sampai bingung loh Ray lihat dia kalau sedang main hp pasti lagi game an." wajah Fira langsung cemberut membuat Bilal tersenyum canggung.
"Ya nanti mainnya sebentar aja kok nggak lama, yaudah balik aja." Mereka langsung pergi meninggalkan rumah itu.
"Ehem, Raya..." Arsyad memanggilnya.
Raya mengernyitkan dahi, "Ada apa?"
"Tidak jadi tiba-tiba saya lupa," Raya melotot dengan wajah mendekat.
"Ah yang bener?" Arsyad mengangguk sambil matanya melihat sana sini.
"Yaudah deh mending gue ajakin umi bikin cookies nya sekarang aja! Udah sana ngapain masih disini?"
"Kamu ngusir saya?"
"Terus? Itu istrimu nganggur mending balikin ke rumahnya biar tidur siang, kayaknya ngantuk banget matanya sampai merah begitu,"
"Tapi saya masih ingin disini. Sepertinya saya menunggu cookies sampai jadi,"
"Umi...! Umi buat cookies sekarang aja! Daripada nanti sore emang umi nggak ada kesibukan lain?"
Bu Sofiyah menggeleng, "Tidak ada, makanya mumpung free jadi umi pengen ajakin kamu bikin camilan ringan. Katanya dirumah kamu suka banget ya sama cookies coklat?" Raya mengangguk pasalnya tiap kali mamanya membuatkan selalu Raya habiskan dalam sekejap, sampai-sampai mamanya menyembunyikan stoples untuk suaminya supaya bisa merasakannya.
"Iya suka banget umi. Sekarang aja ya, lagipula biar Raya nggak tidur, kalau tidur kan biasanya malam susah tidur," Bu Sofiyah tersenyum lalu mengajaknya ke arah dapur.
"Loh Arsyad kamu kok ikut kami?"
Arsyad kikuk sendiri, dia yang malu.
"Nggak umi, Arsyad hanya mau ambil air dingin," dia lalu membuka pintu kulkas dan mengambil botol berisi air.
Bu Sofiyah menghela napas, dia tahu maksud kedatangan anaknya ikut ke dapur. Tapi dia hanya diam saja ingin melihat bagaimana wajah anaknya yang nampak gugup, mungkin memang benar dugaannya untuk ikut serta membuat cookies supaya bisa bersama dengan Raya. Maksudnya mendekatkan diri. Cie elah gus-gus.....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!