Setelah lulus Madrasah Aliyah(SMA), Sari memutuskan tidak melanjutkan untuk kuliah.
Dirinya lebih memilih kerja nyadap karet di kebun milik orang tua nya.
Keluarga nya bukanlah keluarga yang berkekurangan, bahkan ayah nya punya beberapa kebun dan rumah mereka tergolong bagus dari rumah tetangga.
Walaupun dia anak perempuan satu-satunya, karena saudara laki-laki nya tiga, tidak menjadikan Ia gadis yang manja. Ia sangat rajin membantu orang tua nya.
Di sekolah, sari termasuk gadis idola.
Selain karena keramahannya, Ia juga memiliki kecantikan melebihi teman-teman sekelasnya. Barkulit putih, mungil , hidung Bangir dan rambut bergulung berwarna Golden Brown.
Beberapa lelaki berusaha mendekatinya, tapi tidak pernah di respon olehnya. Dirinya adalah wanita yang tegas.
.
.
.
.
Tahun 2016, Dirinya di persunting oleh seorang pria yang lebih matang dari nya. Sari lahir tahun 1995 dan Suami nya tahun 1983. Tapi ia begitu mencintai sang pria, usia bukanlah ukuran cinta menurutnya.
Meskipun perjalanan cinta mereka banyak rintangan. Beberapa dari anggota keluarga sang pria tidak menyukai Sari, tapi mereka bisa melalui bersama dan akhirnya di tahun yang sama mereka menikah.
Berharap setelah menikah Ia akan di terima dengan baik, justru Ia salah. Sang mertua yang bernama sarimah itu tidak pernah berubah. Jika berkata lidahnya bak belati. Menganggap setiap ucapan nya wajar, karena memang bawaannya dari dulu, ia jadi menormalkan ucapan tajamnya.
Sari hanya diam saat ibu mertua nya mengomel sepanjang hari. Terkadang, memilih jalan-jalan kerumah tetangga sekitarnya demi menghindari mulut pedas sang mertua.
Sari juga di karuniai dua putri yang lucu. Merekalah sumber kekuatan sari selama ini.
Ramadhan atau biasa di panggil Ramdan, Di kampungnya, dirinya bekerja serabutan.
Dulu, sebelum menikah ia memilih merantau di seberang dan setelah menikah ia sempat beberapa kali merantau. Tetapi akhir-akhir ini, ia memutuskan kerja menyadap karet getah milik orang tua nya, terkadang juga ambil upah sebagai tukang batu-bata.
.
.
.
🌿Sore hari
"Memang sialan betullah!, Siapa ini yang telah membuat sapu ku patah?" Omelnya. Dia segera beranjak dan menuju sang cucu yang sedang bermain di halaman rumah.
"Ehh Selfi!, Pasti kau kan yang mematahkan sapu Mak wo ni?!" Tanya menuduh sang cucu.
"Wo ni, asal tuduh saja. Mana Selfi tau nya sapu wo patah!" jawab bocah itu juga meninggikan suaranya.
"Kau ni, kurang ajar betul ku tengok mulutmu. Pasti Mak kau tak pernah mengajarimu sopan pada orang tua." Timpalnya tersenyum sinis.
"Ada-ada saja lah Mak wo ni, Kan Mak wo yang marah-marah dulu ke Selfi, malah menyalahkan pula dia." Jawab bocah itu lugas.
"Ahhhh!!, makin pusing aku menghadapi makhluk macam kau ni, sama saja kau dengan Mak mu tu". Dirinya berlalu meninggalkan sang cucu, tetapi mulutnya terus mengumpat.
Selfi sebenarnya anak yang baik, hanya perkataannya saja terkadang di luar kendali, tetapi dirinya akan tetap sopan kepada orang yang baik padanya. Sedangkan sang adik nya Atika hanya diam dan terus bermain.
Di jendela Sari meremas tangannya. Ada rasa kesal di hatinya. Bukan dirinya takut dan tidak mau melawan, hanya saja Ia nya malas. Percuma membela diri, ujung-ujungnya dialah yang akan di salahkan.
Ya! Tadi Sari sedang melipat pakaian, tiba-tiba dirinya mendengar keributan di luar rumah. Ia pun beranjak dan menuju jendela kamarnya.
.
.
.
Malam harinya, sang suami baru pulang dari menyaring(mencari ikan menggunakan jaring). sari segera beranjak menuju meja, membuat kopi untuk sang suami.
"Dapat banyak tadi ikannya bang?" Tanya sari, Dia meletakkan gelas kopi di atas meja.
"Tak banyak seperti kemarin, Tapi bisalah untuk makan malam ni dan besok". Ucap ramadhan, ia meminum kopi nya.
"Alhamdulillah, tolong Abang tengokkan sekejap anak maen tu. Tadi baru selesai kelai berdua tu." timpal Sari. Diri nya langsung mengambil pisau dan menuju kamar mandi untuk memotong ikan.
Sementara sang mertua sedang menonton channel ikan terbang kesukaannya. Suara nya marah-marah terdengar hingga ke kamar mandi. Sari hanya geleng-geleng kepala saja.
Setengah jam kemudian ikan yang sari masak telah matang. Ikan nya ia masak asam pedas, sisa nya di masukkan ke lemari pendingin.
Ia segera menata piring dan lainnya peralatan makan. Setelah selesai, ia menyusul mertua nya untuk mengajak makan malam.
"Bu, yuk kita makan. Makanan dah siap."
"Mak, Selfi mau ikan saja, jangan kuahnya lagi, Pedas." Ucap Selfi. Iya mencuci tangannya.
Sedang sang adik menunggu ibu nya, untuk di suapkan. Sang mertua mulai menyuapkan makanan kemulutnya.
"Lain kali kalau masak tu di kurangkan lada keringnya sari, pantas saja anak kau tak tahan, aku yang tua Bangka saja kepedasan macam gini." Ujar sang mertua memulai drama nya.
"Rupanya sadar diri jika dirimu tua Bu, tapi kenapa mulutmu itu dari dulu tidak ada ku tengok perubahannya." Batin Sari menggerutu.
Yalah bu, besok Sari akan buat sesuai selera ibu saja." jawab sari tak ingin memanjangkan masalah kecil, tetapi dia salah!
"Apa maksud kau, menyindirku pula kau rupanya!." suara Sarimah mulai meninggi.
"Sudahlah Mak, di depan makanan tidak usahlah kalian berkelahi!." Ramadhan menengahi. Ia tidak membela siapapun. posisinya seperti makan buah simalakama.
Sarimah menghentikan makannya dan beranjak kembali melanjutkan tontonan nya.
"Lanjutkan makannya!, jangan hiraukan ucapakan Mak tu, nama pun orang tua." Ujar ramadhan serba salah.
"Karena dia orang tua, seharusnya banyak beramal dan berdzikir. Jangan hanya merepet saban hari. Abang tu, nasihatilah mak mu tu". balas sari berbicara pelan tapi tegas.
Ramadhan hanya memilih diam. Dirinya pun ingin membela sang istri, tapi sebagai anak Ia nya juga tidak mungkin melawan wanita yang melahirkannya.
Setelah makan selesai, Sari membereskan bekas piring makanan mereka dan segera mencuci nya. Walaupun lelah ia paksakan, karena tak ingin sang mertua kembali membuat ulah.
Selesai urusan dapur Sari memutuskan masuk ke kamarnya, dengan alasan menidurkan anak yang paling kecil. Sedangkan Selfi, ia menonton film kartun dua anak gundul kesukaannya ponsel.
"Kurang ajar betul menantu satu itu, tak mau Ia mengobrol dengan ku di sini,.masuk kamar pula ia". Umpatnya.
Begitulah setiap hari, ada saja yang salah di matanya.
Visual Mirna Sari
Hallo🤗
Semoga kalian readers noveltoon selalu di beri kesehatan🤲
Ini cerita kedua Author🙏🙏🙏
Jangan lupa like dan komentar🤗
Pagi hari🌿
Seperti hari biasa nya, setelah sholat subuh, melihat kedua anaknya belum bangun, Ia lanjut mencuci pakaian dan menjemurnya.
Setelahnya, Mirna Sari Safitri atau Sari sedang menyiapkan sang anak untuk ke sekolah. Sedang sang suami sudah berangkat menyadap karet.
Setelah menyiapkan kedua anaknya, Sari menuju ke arah dapur untuk menyiapkan makanan Selfi untuk di bawa bekal. Sekitar Pukul 07.15 Sari mengantar sang anak ke Sekolahnya.
Setelah dari mengantar anaknya Sari menghentikan hondanya.
(Di daerah sini kalau menyebut motor ialah Honda😁)
Sari membuka-buka tutup box ikan, Dirinya hanya melihat-lihat saja dan tidak berniat membeli, karena di rumah masih ada ikan hasil tangkapan sang suami.
"Kak, timbanglah bawang merahnya 1 ons dan kicap manis yang botolan satu." ucap sari pada pemilik warung.
"Ok!. Oh ya, tak jadikah kau beli ikan tu Sari?, tadi ku tengok kau melihat ikan-ikan tu?!" Tanya intan si pemilik warung.
"Hehe, taklah kak, Sari hanya melihat saja tadi, dirumah masih ada ikan hasil tangkapan Abang semalam" Sari membuka dompetnya. "Jadi sepuluh ribu kan kak?."Lanjutnya.
"Iya. Banyak hasil Jaringnya Ramdan kemarin? Kalau banyak jual lah sama akak saja, sedikit pun Tak apalah." Ujar intan.
"Tak banyak pula Kak kemarin dapatnya. Maaf ya kak!?." Ucap tulus sari tidak enak hati.
"Oh... Tidak apa lah Sar, kenapa pula kau minta maaf? Kan kakak cuma tanya saja, siapa tau ikan nya banyak. Kalau tak ada ya tidak apa-apa." Balas intan geleng-geleng kepala.
Sari hanya nyengir. "Oh iya kak, Ini berapa?". tunjuk Sari ke jajan anak-anak.
"Ini satunya Lima ratus rupiah satuannya." jawab intan.
"Ni kak Uangnya, Sari ambil 10 kak." Sari mengulur uang 5000 "kalau gitu Sari pamit dulu kak". Dirinya menjalankan motornya.
.
.
Sesampainya di rumah, Sari segera menuju kulkas dan mengeluarkan ikan yang telah di Bumbui nya tadi malam. Ia menuju dapur dan menyalakan kompor. Ikannya rencana akan Ia bikin sambal, sebagiannya di goreng untuk anak-anaknya.
Setelah sambal nya matang, Dirinya lanjut menumis kangkung dan menggoreng tempe. Kebetulan di kulkas juga ada kangkung dan tempe kemarin. Nasi sudah di masak Sebelum sholat subuh.
"Alhamdulillah Akhirnya selesai juga masakan aku hari ini, HM ibu kemana perginya, dari tadi pagi aku tidak melihatnya." gumam Sari.
Bagaimana pun sang mertua memperlakukan nya, Ia tetap khawatir juga jika ibu mertuanya sampai kenapa-kenapa.
Sari menuju ke kamar Sarimah dan mengetuk pintu.
"Bu, ibu baik-baik sajakah? Apa ibu demam?." Ucap sari tapi tidak ada tanggapan dari dalam.
"Sepertinya, tak ada orang tua ni dirumah, apa ikut Abang nyadap getah?." Sari pun menuju tempat biasa mertuanya menggantung pakaian kerja dan pisau pahatan nya.
Benar dugaan sari bahwa sang mertua ikut menyadap getah, terbukti dari pakaian dan alat nyadapnya juga tidak ada.
Ia pun memutuskan untuk menidurkan sang anak dan Ia berbaring sebentar. Sebelum ibu mertua pulang, Ia dapat Istirahat. Bukan berarti Dirinya tidak pernah di izinkan istirahat, Ia hanya tahu diri karena bukan tinggal di rumah sendiri.
.
.
Pukul 11.10 Siang, Ramdan dan sarimah pulang.
"Lama pula Abang hari ini pulangnya." Ucap sari, Ia sedang menyuapi sang anak makan.
"Kau ni, suami dan mertua baru pulang bekerja, bukannya di sambut dan di bikinkan kopi malah sibuk bertanya pula. Sudah untung kau di rumah tidak bekerja." Tuding sarimah.
"Coba lah ibu lihat rumah dan halaman nya, dan lihat bawah tudung saji itu!, Makanan telah siap, halaman bersih, rumah bersih, pakaian semua sudah Sari cuci, Jadi kerja yang bagaimana baru di anggap bekerja?!... Kerja yang menghasilkan uang?!." Balas Sari.
Geram juga lama-lama Sari menghadapi si mulut pedas ini, belum lagi Sarimah menuding jari telunjuknya ke wajah Sari, makin menyalalah hati nya.
Sarimah terdiam, Dia menuju ke kamar mandi. Selesai mandi ia menuju kamarnya untuk istirahat, Dengan alasan capek sehabis pulang nyadap karet. Sebenarnya agak ketar-ketir juga diri nya terhadap sang menantu, masih tidak menyangka sang menantu seberani ini. Sebelumnya bagaimanapun ia mencaci, Sari tidak pernah peduli, tapi kali ini Ia di buat terkejut oleh ulti dari Sari.
"Kurang ajar betul menantu satu ini, berani nya melawan orang tua. Awas aja kau nanti!, kalau tau begini, takkan ku beri restu mereka." gumam sarimah pelan.
Sedangkan di dapur, setelah membuat dan menyuguhkan sang suami kopi, Sari membuat cemilan untuk anak-anaknya.
Hanya keheningan saja, Ramdan pun jadi canggung untuk mengajak Sari mengobrol.
"Mak masak apa?" tanya Selfi.
"Ini cuma buat bakwan udang, kalau Selfi mau pergilah cuci tangan dulu, ajak adik sekalian." Ucap Sari.
Ia mengangkat bakwan yang telah matang, setelahnya kembali memasukkan adonan baru ke dalam minyak panas.
Setelah semua masak, Sari masuk kamar.
Mendengar pintu kamar sang menantu tertutup, sarimah segera keluar dari kamarnya menuju sang anak.
"Ehh Ramdan, perempuan macam apa yang kau nikahi itu? Muncung nya itu aku tengok kurang ajar betul." Sinis sarimah.
"Sudahlah tu Mak, kenapa saban hari Mak dengan istriku selalu ada saja yang Mak ributkan? Selalu saja Sari salah di mata Mak. Sari tu takkan macam tu kalau Mak tak memulai." Jawab Ramdan.
Sudah lelah pulang bekerja, malah mendengar sang istri dan ibu nya adu mulut, makin emosi lah Dirinya.
"Jadi kau menyalahkan aku Ramdan? Anak durhaka kau ni, berani nya kau menyalahkan Mak ni, jelas-jelas istri kau yang melawanku. Kau ni memang bod*h, mau saja di setir istrimu!." ujar sarimah. Dada nya naik turun karena terlampau emosi, setelahnya Ia menuju keluar rumah.
Ramdan hanya mengelus dada, berharap selalu di beri kesabaran.
.
.
Di kamar
"Mak, kenapa wo hanya merepet saja saban hari nya? Sakit telinga salfi ni lama-lama." keluh Selfi.
"Hust!!, tak baik cakap macam tu.
bagaimana pun sifatnya, Mak wa itu nenek Selfi , orangtuanya ayah, dan kita wajib menghormatinya." Sari menasihati sang anak.
"Tapi macam manalah Mak, Mak Wa tu selalu marah-marah di depan kawan-kawan, malu Selfi." ucap Selfi memanyunkan bibirnya.
Sari tersenyum, ia membelai kepala sang anak.
"Mungkin Selfi buat salah, makanya Mak wa marah. Sudah ya, tak baik macam tu lagi dengan Mak wa." Jawab Sari menenangkan anaknya.
"Mak, yuklah pindah kita. Tak mau Selfi tinggal di sini lagi." Selfi mode manja.
"Ya! Nanti Mak Cuba bicara sama ayah ya. Tapi kalau keinginan Selfi belum terpenuhi, Selfi harus sabar dulu. Ok!." tempatnya.
Bingung juga Sari jika sudah begini. Dirinya juga sudah jenuh sebenarnya tinggal serumah, tapi mau bagaimana lagi, ekonomi mereka belum stabil apalagi sekarang serba mahal.
.
.
.
.
Hallo!!
Jangan lupa like, subscribe dan komenannya☺️
5 hari telah berlalu
"Sari, kalau Ramdan kedai nanti tolong kau suruh dia beli Racun ya!, aku nak cari orang untuk mengait pinang dulu." ucap Sarimah. Ia sedang menyiapkan arit untuk mengambil pinang.
"Yalah bu, ibu hati-hati. Selepas ini pun Sari mau antar Selfi undangan ulang tahun kawannya." balas sari
"Ha kalau gitu biarlah ibu saja yang nemankan Selfi, kau pergilah ke rumah Rahmah, bilang saja, aku suruh dia mengait pinang!." Ucapnya lagi.
Tanpa menunggu jawaban sang menantu, dirinya beranjak menuju kamar, untuk ganti pakaian.
Sari hanya menghembuskan nafas. Padahal dengan menemani sang anak, ia bisa ngumpul bersama ibu-ibu sekitarnya, sekalian jalan-jalan. Tapi apalah daya, menolak juga tidak mungkin.
Teringat ketika Ia masih single, dirinya bebas kemana pun bersama teman-temannya. Hangout, setiap sore jalan-jalan. Bukan dirinya menyesali menikah, hanya saja terkadang setelah kegiatan di rumah sebagai wanita, ia juga ingin bersosialisasi dan jalan-jalan alakadarnya sebagai pengobat rasa lelah setelah seharian kerja di rumah.
Lamunan Sari buyar ketika suara sang mertua menggelegar.
"Hm, baru saja aku hendak jadi mertua lemah lembut, tapi dirimu nampak nya sengaja memancing emosi ku. Tengok ni, bukannya tadi ku suruh kau ke rumah Rahmah, rupanya duduk santai pula dia ini!." Ucap Sarimah emosi.
"Maaf Bu, Sari lupa." jawab Sari.
Ia segera beranjak menuju kamar menemui sang anak. Terlalu malas dirinya selalu beradu mulut dengan sang mertua. Jika saja Sarimah seumuran Sari, ingin sekali Ia meremas mulut sang mertua, tapi ia masih sopan. Karna tidak baik baginya melawan orang tua.
"Selfi udah siap nak?." Sari bertanya pada anak nya.
"Udah Mak, yuk!." Ajak Selfi menggandeng tangan ibunya.
"Maaf ya nak, kali ini Mak tak bisa ikut, Selfi pergi sama Mak wa dulu ya?!, Mak ada pekerjaan sedikit, adik sama mamak saja." ujar Sari hati-hati.
"Ok!, tak apalah, lagian rumah Ina juga dekat ini." jawab Selfi antusias.
Dia memang suka jika ada pesta ulang tahun seperti ini. Karena keluarga mereka tidak pernah bikin pesta, hanya makan-makan sekeluarga saja.
"Iya, disana jangan nakal ya, dengar cakap Mak wa." pesan Sari. Agak ketar-ketir juga Sari takut anaknya menolak untuk pergi bersama neneknya.
"Iya Mak, Selfi janji." ujar Selfi sambil memberi jari kelingkingnya sebagai tanda janji.
Setelah melihat sang anak pergi, Sari membawa si bungsu ke rumah tetangga nya untuk dimintai tolong.
"Assalamu'alaikum..." Sari mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam, siapa? Maaf lagi cuci piring di belakang, Masuk saja". Jawab seseorang berteriak terdengar sayup-sayup.
Sari langsung berjalan menuju arah dapur rumah tetangga nya. Ia juga sudah biasa, karena Rahmah sangat baik pada nya.
"Oalah, cuci piring rupa nya kak, Sari kira cuci baju, biasa nya kan sepulang anak kakak sekolah, akak langsung mencuci pakaian mereka." Ucap Sari. Sedikit banyak Ia tau kebiasaan tetangganya ini.
"Taklah Sar, Besok hari minggu, jadi besok saja kakak nyuci sekalian. Ha ada apa gerangan kau kerumah siang begini?." Tanya Rahmah. Karena biasanya Sari jalan kerumahnya saat sore.
"Ibu minta tolong akak ambil pinang." jawab sari.
"Oh iya, lupa pula kakak ni. Kamarin memang ada mertua kau bilang, untung saja kau ingatkan kakak" Rahmah membuka kulkas dan mengeluarkan cemilan dan ice cream dan di berikan ke anak bungsu Sari.
"Mana kakak nya? Tumben tidak ikut." Ucap nya lagi.
"Selfi pergi undangan pesta ulang tahun Ina kak." jawab Sari seraya membuka tutup ice cream.
"Oh... Pantesan sibuk ku tengok rumah Badriah, Ulang tahun Ina rupa nya. Oh iya Sar, apa nggak mau kau pindah saja?." Tanya Rahmah. Dia kasihan melihat tetangga nya ini.
"Sebetulnya ingin kali aku tu kak, Ada juga rencananya mengajak Abang tinggal di kota saja, tapi belum sempat untuk ngobrol." Balas Sari.
"Baguslah kalau begitu, kesian kali ku tengok kau di perlakukan buruk oleh mereka. Tapi, jika pindah jadi jauh pula kita." Ucap Rahmah agak sedih juga.
"Ah kakak ni, belum tau nya Sari pindah, kan baru rencana. Kalau memang benar nanti kan bisa sekali-kali Sari pulang atau kakak yang main ke kota." Timpal Sari.
Ya, Sari memang berniat untuk pindah ke kota. Soal rumah dia tidak khawatir, kebetulan saat SMA dulu orang tua nya membelikan rumah kecil untuk Sari, supaya dirinya tidak jauh pergi sekolah. Di kampung pun mereka tidak punya pekerjaan tetap, Sari ingin mencoba mengais rezeki di kota.
Setelah tidak ada lagi yang di bicarakan Sari pamit pulang, baru saja kaki nya melangkah..
"Oh iya Sar!, Besok bisa tidak kau temankan kakak cari rame-rame(makohe)?." Ajak Rahmah. Ia ahli dalam mencari makohe.
"Besok?, Insyaallah ya kak, Besokkan Minggu, Selfi juga libur, bisa menjaga adiknya. jika Abang tidak nyadap getah, besok bisa kita pergi. Sudah lama juga Sari tak makan rame-rame." jawab Sari.
"Ya sudah, Wa saja nanti."
"Iya kak."
Sari pulang menggendong si bungsu.
Rumah Rahmah tidak jauh dari kediaman sari, hanya berjarak tiga rumah. Saat akan tiba di rumah sebuah suara menghentikan langkah kaki Sari.
"Pantas saja Mak ku selalu sakit kepala, begini rupanya kerjaan menantu nya, hanya jalan-jalan, sedangkan Mak ku disuruhnya jadi baby sitter." Ucap Yati. Ia tersenyum miring.
Sedangkan Sari hanya diam, tidak kuasa menanggapi ucapan yang menurutnya tidak penting. Ia kembali melangkahkan kakinya. Yati yang tidak di ladeni ucapannya makin emosi hatinya.
"Hei wanita kurang ajar, dasar murah*n, tidak tahu malu!, sudah tidak di terima keluargaku masih saja kau menikahi Abang ku." maki sari berapi-api. Dia sengaja mencari gara-gara.
Sari mengepalkan tangannya, jika saja dirinya yang dulu tentu sudah di tabok mulut adik ipar nya ini. Lagipula ada si bungsu. Dirinya hanya menghela nafas supaya di beri ketenangan sebelum berucap.
"Hufffft.. Wahai adik ipar ku, bukan aku yang murahan tapi abangmu yang mengejar ku. Diriku ini mahal, cantik, putih dan serba bisa, siapa pula yang tidak tergila-gila. Itukan penyebab iri dan dengkimu tu?!." Balas Sari menekan setiap katanya.
Skakmat!
Yati terdiam, tidak mampu menangkis ucapan Kak iparnya. Memang benar, ia iri dengan sang ipar, selain karena sari cantik dan serba bisa, dulu Yati satu sekolah dengan Sari, tetapi dia 2 tingkat di bawah Sari. Dia menyukai seorang pria ,tetapi si pria malah menyukai Sari. Semenjak saat itu Yati membenci Sari, apalagi sang musuh malah menjadi iparnya, makin menyala dirinya.
.
.
.
jangan lupa like, subscribe dan komentar🤗
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!